Ada satu kesalahpahaman besar yang terus berulang dalam diskusi modern tentang agama. Gereja sering dipahami seperti lembaga sosial biasa: organisasi moral, komunitas diskusi, bahkan kadang hanya sebagai forum spiritual. Dalam cara pandang ini Gereja ditempatkan sejajar dengan partai politik, LSM, atau komunitas intelektual. Ia dianggap lahir dari kebutuhan manusia untuk berkumpul, berdiskusi, dan mencari makna bersama.
Pandangan seperti ini tampak rasional, tetapi secara filosofis ia keliru sejak awal. Ia mengabaikan satu fakta mendasar dalam iman Kristen: Gereja tidak lahir dari keputusan manusia. Gereja lahir dari tindakan Allah dalam sejarah.
Tulisan ini ingin menjelaskan kembali secara sederhana tetapi serius satu gagasan klasik dalam teologi Katolik: Gereja adalah institusi ilahi. Bukan sekadar institusi sosial.
Pada tingkat paling dasar, metafisika realisme—yang diwariskan Aristoteles dan diperdalam oleh Thomas Aquinas—membedakan dua jenis realitas: realitas yang berasal dari kesepakatan manusia dan realitas yang berasal dari tatanan keberadaan itu sendiri.
Beberapa lembaga jelas berada dalam kategori pertama. Negara misalnya lahir dari kontrak sosial. Universitas lahir dari kebutuhan pendidikan. Perusahaan lahir dari aktivitas ekonomi. Semua ini sah dan penting, tetapi hakikatnya tetap institusi manusia.
Gereja tidak berada dalam kategori itu.
Dalam iman Kristen, Gereja lahir dari peristiwa historis yang sangat konkret: kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Yesus tidak hanya mewartakan Kerajaan Allah; Ia juga membentuk sebuah komunitas yang memiliki struktur, otoritas, dan misi.
Ia memilih para rasul.
Ia memberi mereka kuasa mengajar dan menggembalakan.
Ia memerintahkan mereka membaptis segala bangsa.
Dengan kata lain, Gereja tidak dimulai dari diskusi teologis para murid. Gereja dimulai dari tindakan pendirian yang dilakukan oleh Kristus sendiri.
Inilah sebabnya tradisi Katolik menyebut Gereja sebagai institutio divina—institusi ilahi.
Di sini kita masuk pada dimensi metafisik yang sering dilupakan dalam diskusi modern. Gereja bukan hanya organisasi historis; ia adalah realitas yang sekaligus kelihatan dan tak kelihatan.
Thomas Aquinas menggambarkan Gereja sebagai suatu communio, persekutuan yang memiliki dua dimensi. Dimensi pertama bersifat historis dan sosial: umat, struktur, sakramen, dan otoritas. Dimensi kedua bersifat spiritual: persekutuan rahmat yang berasal dari Kristus.
Kedua dimensi ini tidak bisa dipisahkan.
Jika kita hanya melihat Gereja sebagai organisasi manusia, kita kehilangan misterinya. Tetapi jika kita hanya melihatnya sebagai realitas spiritual tanpa bentuk historis, kita jatuh pada spiritualisme yang abstrak.
Gereja selalu berada di antara dua kutub itu: ilahi dan manusiawi.
Persis seperti misteri inkarnasi.
Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Gereja adalah komunitas manusia yang menjadi alat kehadiran Kristus dalam sejarah.
Pandangan ini juga menjelaskan mengapa Gereja tidak bisa direduksi menjadi ruang diskursus seperti yang dibayangkan oleh banyak teori sosial modern.
Teori komunikasi modern sering mengatakan bahwa kebenaran moral lahir dari dialog rasional yang bebas dari dominasi. Dialog memang penting. Gereja sendiri memiliki tradisi intelektual yang sangat kaya, dari para Bapa Gereja hingga universitas-universitas abad pertengahan.
Tetapi Gereja tidak berdiri di atas konsensus diskursus.
Gereja berdiri di atas wahyu.
Dalam metafisika realisme, kebenaran tidak diciptakan oleh percakapan. Kebenaran ditemukan karena ia sudah ada dalam realitas.
Demikian pula iman Kristen. Ia tidak lahir dari perundingan manusia tentang Allah. Ia lahir dari tindakan Allah yang menyatakan diri kepada manusia.
Gereja ada karena Allah berbicara lebih dahulu.
Kesalahpahaman lain muncul ketika Gereja dikritik hanya sebagai lembaga kekuasaan religius. Kritik semacam ini sering muncul dalam diskursus modern, terutama setelah pengalaman sejarah di mana agama kadang diperalat oleh kekuasaan.
Tidak ada orang Katolik yang serius menyangkal bahwa penyalahgunaan bisa terjadi. Gereja terdiri dari manusia, dan manusia tidak sempurna.
Tetapi kesalahan manusia tidak menghapus hakikat Gereja.
Perusahaan yang korup tidak membuat ekonomi menjadi ilusi. Negara yang gagal tidak membuat politik menjadi tidak perlu. Demikian pula dosa anggota Gereja tidak membatalkan asal-usul ilahi Gereja.
Dalam metafisika klasik ada prinsip sederhana: abusus non tollit usum. Penyalahgunaan tidak menghapus penggunaan yang benar.
Justru karena Gereja berasal dari Kristus, ia selalu memiliki kemampuan untuk memperbarui dirinya.
Sepanjang sejarah kita melihat ini berulang kali. Dari reformasi monastik di abad pertengahan hingga Konsili Vatikan II, Gereja terus mengalami koreksi internal.
Kemampuan untuk terus diperbarui ini sendiri adalah tanda bahwa Gereja tidak hanya bergantung pada kekuatan manusia.
Ada satu gambaran yang sangat indah dalam teologi Katolik: Gereja sebagai sakramen keselamatan.
Sakramen adalah tanda yang tidak hanya menunjuk sesuatu, tetapi juga menghadirkan realitas yang ditunjuknya. Air baptisan bukan sekadar simbol pembersihan; ia benar-benar menjadi sarana rahmat.
Demikian pula Gereja.
Gereja bukan hanya organisasi yang mengajarkan keselamatan. Gereja adalah tanda dan sarana keselamatan itu sendiri dalam sejarah.
Melalui Gereja, manusia menerima Sabda, sakramen, dan rahmat.
Dalam arti ini Gereja adalah jembatan antara dunia manusia dan kehidupan ilahi.
Di zaman modern, ketika hampir semua institusi dilihat melalui kacamata ekonomi, politik, atau komunikasi, pemahaman ini menjadi semakin penting.
Jika Gereja direduksi menjadi organisasi sosial, maka ia akan dinilai dengan ukuran yang sama seperti lembaga lain: efisiensi, popularitas, atau pengaruh politik.
Tetapi ukuran itu tidak cukup.
Hakikat Gereja tidak terletak pada seberapa kuat ia dalam pasar ide atau seberapa besar pengaruhnya dalam politik. Hakikat Gereja terletak pada kenyataan bahwa ia berasal dari Kristus dan hidup dari rahmat-Nya.
Ia adalah komunitas yang berdiri di tengah sejarah manusia sebagai tanda bahwa realitas terakhir bukan kekuasaan, bukan pasar, dan bukan konsensus politik.
Realitas terakhir adalah Allah yang menjadi manusia.
Dan selama dua ribu tahun Gereja berdiri sebagai saksi dari kenyataan itu.
0 komentar:
Posting Komentar