Kategese ini berangkat dari tesis penting dalam artikel Educide
and the Protestant Reformation: Applying Michael Cunningham’s Theory to the
Development of the Protestant Church. Penulis artikel tersebut membaca
Reformasi Protestan bukan hanya sebagai peristiwa teologis, melainkan juga
sebagai operasi pembentukan ingatan religius melalui apa yang disebut educide:
penghancuran pendidikan dan kebenaran historis melalui kontrol narasi. Dengan
memakai teori Michael Cunningham, artikel itu menyoroti bagaimana Reformasi
membentuk identitas Protestan melalui tiga tindakan besar: penurunan status
kitab-kitab Deuterokanonika, terutama Makabe; pelembagaan sola scriptura
berdasarkan kanon yang telah dipersempit; dan pengaburan akar Timur serta
Yahudi dari Kekristenan.
Dari titik inilah artikel ini ditulis. Persoalannya bukan
sekadar apakah Protestan menerima atau menolak beberapa kitab tertentu.
Persoalannya jauh lebih dalam: siapa yang berhak menentukan memori Gereja?
Siapa yang berhak mengatakan kitab mana yang boleh membentuk iman umat, sejarah
mana yang boleh diajarkan, dan tradisi mana yang harus dicurigai? Bila
Reformasi lebih dahulu menggunting kanon, menggeser pusat sejarah, dan
menyingkirkan suara-suara yang tidak nyaman bagi sistemnya, maka klaim “kembali
kepada Alkitab” harus diperiksa dengan curiga. Sebab mungkin yang terjadi bukan
kembali kepada Alkitab, melainkan kembali kepada Alkitab yang sudah dipangkas
menurut agenda Reformasi.
Dengan demikian, tulisan ini hendak membaca Protestantisme
dari sudut yang lebih tajam: bukan sebagai gerakan murni yang sekadar menemukan
kembali Injil, melainkan sebagai proyek naratif yang membentuk ulang kesadaran
Kristen. Di balik slogan sola scriptura, ada pertanyaan yang tidak boleh
dibiarkan tidur: Scriptura yang mana, ditentukan oleh siapa, diwariskan oleh
Gereja yang mana, dan dipisahkan dari memori historis apa? Di situlah
kritik Katolik harus mulai bekerja—bukan dengan panik membela diri, tetapi
dengan membongkar ruang kelas tempat Protestantisme telah lama mengajar umatnya
untuk lupa.
Ketika Protestantisme Menggunting
Ingatan Gereja dan Menyebutnya Kembali ke Alkitab
Ada jenis kekerasan yang tidak selalu memakai pedang. Ia
tidak membakar kota, tidak merobohkan altar, tidak menyeret korban ke lapangan
eksekusi. Ia bekerja lebih halus, lebih dingin, lebih rapi: ia mengubah buku
pelajaran, menghapus bab tertentu dari memori kolektif, mengganti peta sejarah,
lalu mendidik generasi berikutnya untuk percaya bahwa dunia memang sejak awal
seperti itu.
Inilah yang disebut educide: pembunuhan atas
pendidikan, pemusnahan atas ingatan, dan pembentukan kesadaran melalui kontrol
narasi. Dalam educide, yang dihancurkan bukan hanya tubuh manusia, melainkan
juga kemampuan suatu komunitas untuk mengenali asal-usulnya sendiri. Yang
dibunuh bukan hanya orang, tetapi memori. Yang disingkirkan bukan hanya teks,
tetapi horizon pemahaman. Yang dimusnahkan bukan hanya arsip, tetapi cara
membaca sejarah.
Dalam terang konsep ini, Reformasi Protestan tidak cukup
dibaca sebagai gerakan “kembali kepada Kitab Suci”. Itu terlalu polos. Terlalu
ramah. Terlalu banyak parfum di atas luka. Reformasi juga harus dibaca sebagai
proyek pembentukan ulang memori Kristen: suatu usaha besar untuk mengontrol apa
yang boleh disebut Kitab Suci, apa yang boleh disebut tradisi manusia, sejarah
mana yang boleh diingat, dan akar mana yang harus dilupakan.
Protestantisme datang dengan teriakan megah: sola
scriptura. Hanya Kitab Suci. Kedengarannya saleh. Bahkan suci. Tetapi
pertanyaan yang lebih tua dan lebih keras segera berdiri di depan pintu: Kitab
Suci yang mana?
Sebab sebelum Protestantisme berkata, “Kami hanya tunduk
kepada Kitab Suci,” mereka telah lebih dahulu menerima sebuah kanon yang sudah
dipangkas. Deuterokanonika disingkirkan dari posisi kanonik penuh. Tobit,
Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, serta 1 dan 2 Makabe diturunkan
martabatnya. Kitab-kitab yang selama berabad-abad hidup dalam tradisi liturgis
dan kesadaran Gereja kini diberi label yang lebih rendah, diletakkan di
pinggir, lalu perlahan-lahan dikeluarkan dari ingatan umat.
Di sinilah kebohongan halus itu bekerja. Protestantisme
seolah-olah berkata, “Kami tidak menolak apa pun selain yang tidak alkitabiah.”
Tetapi sistemnya sendiri telah terlebih dahulu menentukan mana yang boleh
disebut Alkitab. Ini bukan sekadar tunduk kepada Kitab Suci. Ini adalah operasi
pendahuluan atas Kitab Suci. Raknya diatur ulang, beberapa kitab dipindahkan ke
gudang, lalu anak-anak diajar bahwa rak yang tersisa itulah bentuk asli
perpustakaan Kristen.
Maka ketika seorang Protestan berkata, “Dogma Katolik tidak
ada dalam Alkitab,” orang Katolik tidak perlu buru-buru gugup. Pertanyaan
pertama justru harus begini: Alkitab menurut siapa? Menurut Gereja kuno yang
menjaga kanon dalam liturgi dan tradisi, atau menurut keputusan pasca-Reformasi
yang sudah datang terlambat lima belas abad?
Sebab jika kanon sudah direduksi, jangan heran bila doktrin
tertentu tampak tidak ada. Kalau seseorang menggunting halaman peta, ia tidak
boleh berlagak heran ketika jalan menuju kota tertentu hilang. Itu bukan bukti
bahwa kota itu tidak ada. Itu hanya bukti bahwa petanya telah dirusak.
Di sini educide Protestan bekerja dalam bentuk pertama: kontrol
narasi kanonik. Dengan mengontrol daftar kitab, Protestantisme mengontrol
batas imajinasi teologis umatnya. Apa yang tidak masuk dalam kanon Protestan
perlahan-lahan tidak lagi masuk dalam khotbah, tidak lagi masuk dalam katekese,
tidak lagi masuk dalam kesadaran iman, dan akhirnya dianggap asing. Setelah
beberapa generasi, umat tidak lagi berkata, “Kami kehilangan kitab-kitab ini.”
Mereka berkata, “Kitab-kitab itu memang bukan milik kami.” Educide berhasil
ketika korban tidak lagi merasa kehilangan.
Masalahnya, kitab-kitab yang disingkirkan itu bukan benda
mati. Mereka membawa ingatan. Mereka membawa darah. Mereka membawa
kebijaksanaan Israel. Mereka membawa jejak pergulatan iman Yahudi menjelang
kedatangan Kristus. Terutama Kitab Makabe.
Penghapusan Makabe dari kesadaran Protestan adalah salah
satu amputasi paling serius terhadap memori Kristen. Kitab Makabe bukan sekadar
cerita tambahan. Ia adalah jembatan historis antara dunia Perjanjian Lama dan
dunia Perjanjian Baru. Ia mengisahkan bagaimana orang Yahudi melawan tekanan
Helenisasi, mempertahankan Taurat, memurnikan Bait Allah, dan menjaga identitas
religius mereka dari pembubaran budaya.
Tanpa Makabe, sejarah keselamatan tampak seperti meloncat
dari Maleakhi langsung ke Matius, seolah-olah empat abad di antaranya hanyalah
ruang tunggu kosong. Padahal di sana ada perang, martir, pengkhianatan,
kesetiaan, krisis identitas, dan pemurnian iman. Di sana ada pergulatan besar
yang menjaga agar dunia Yahudi tetap menjadi dunia Yahudi, sehingga ketika
Kristus lahir, Ia sungguh lahir di dalam rahim Israel yang masih mengenali
Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
Membuang Makabe berarti memotong salah satu urat nadi yang
menghubungkan Kekristenan dengan akar Yahudinya. Dan inilah ironi Protestan
yang pahit: mereka ingin berbicara tentang Yesus sebagai Mesias Israel, tetapi
membuang salah satu arsip besar tentang bagaimana Israel bertahan menjelang
kedatangan Mesias. Mereka ingin Injil yang murni, tetapi menyingkirkan salah
satu latar historis yang membuat Injil dapat dimengerti. Mereka ingin Yesus
yang Yahudi, tetapi tidak terlalu suka dengan memori Yahudi yang tidak cocok
dengan sistem mereka.
Mengapa Makabe mengganggu? Karena Makabe tidak tunduk kepada
selera Reformasi. Di sana ada doa bagi orang mati. Di sana ada martir. Di sana
ada gagasan tentang solidaritas umat yang melampaui kematian. Di sana ada dunia
religius yang lebih Katolik daripada yang nyaman diterima oleh bangunan
Protestan. Maka kitab itu disingkirkan. Bukan karena tidak bermakna. Justru
karena terlalu bermakna.
Di sinilah educide bekerja dalam bentuk kedua: penghapusan
suara alternatif. Suara Makabe tidak dibantah secara memadai; ia
dikeluarkan dari ruang kelas. Ia tidak selalu dikalahkan dalam debat; ia dibuat
tidak hadir. Dan ketika sebuah suara tidak lagi diajarkan, generasi berikutnya
tidak perlu menolaknya. Mereka cukup tidak mengenalnya. Ini strategi paling
bersih dari pemiskinan intelektual: jangan bunuh argumen di depan umum;
hilangkan saja dari kurikulum.
Tetapi masalahnya tidak berhenti pada kanon dan Makabe. Ada
pemutusan yang lebih luas: pemutusan Kekristenan dari akarnya sebagai agama
Timur.
Kekristenan tidak lahir di Wittenberg. Tidak lahir di
Jenewa. Tidak lahir di London. Tidak lahir di ruang kuliah para teolog Eropa
abad ke-16. Kekristenan lahir di Timur: di tanah Yahudi, dalam bahasa Aram,
dalam liturgi Israel, dalam debu Yerusalem, dalam jalan-jalan Galilea, dalam
komunitas Antiokhia, Aleksandria, Siria, Mesir, dan Asia Kecil. Sebelum Eropa
Barat merasa dirinya pusat dunia Kristen, Gereja sudah bernapas dengan
paru-paru Timur.
Yesus bukan profesor Jerman. Para rasul bukan presbiterian
Skotlandia. Maria bukan perempuan Swiss. Petrus tidak membawa Westminster
Confession di sakunya. Paulus tidak mengajar di seminari Reformed. Gereja
perdana tidak membuka ibadat dengan “mari kita kembali ke 66 kitab.” Itu semua
anak kandung abad kemudian, dan sebagian besar baru muncul setelah Reformasi
mulai mendandani dirinya sebagai koreksi besar atas seluruh sejarah Gereja.
Namun narasi Protestan sering membuat Kekristenan
seolah-olah menemukan kemurniannya justru ketika Eropa Barat memberontak
terhadap Roma. Lima belas abad sebelumnya diperlakukan seperti lorong gelap:
ada sedikit Bapa Gereja bila berguna, ada konsili bila mendukung Trinitas, ada
Agustinus bila bisa dibaca sebagai proto-Calvinis, tetapi seluruh tubuh Gereja
kuno dicurigai bila terlalu Katolik.
Ini bukan cara membaca sejarah. Ini cara berbelanja di pasar
loak: pilih yang cocok, tawar yang mengganggu, tinggalkan yang tidak bisa
dipakai untuk membela sistem.
Protestantisme membutuhkan Gereja kuno untuk banyak hal. Ia
membutuhkan Gereja untuk kanon Kitab Suci. Ia membutuhkan Gereja untuk bahasa
Trinitas. Ia membutuhkan Gereja untuk Kristologi Kalsedon. Ia membutuhkan
Gereja untuk kesaksian martir, liturgi awal, dan tradisi penafsiran. Tetapi
ketika Gereja yang sama berbicara tentang Ekaristi, Maria, doa bagi orang mati,
suksesi apostolik, dan otoritas gerejawi, tiba-tiba Gereja itu dicurigai
sebagai telah rusak.
Inilah inkonsistensi yang tidak pernah sembuh: Gereja
cukup benar untuk memberi mereka Alkitab, tetapi terlalu salah untuk
menafsirkan Alkitab. Gereja cukup benar untuk mempertahankan Trinitas, tetapi
terlalu salah untuk mempertahankan Tradisi. Gereja cukup benar saat berguna
bagi Protestan, tetapi langsung menjadi korup saat bersaksi melawan Protestan.
Kalau ini bukan pemakaian sejarah secara oportunistik, lalu
apa namanya?
Di sinilah educide bekerja dalam bentuk ketiga: pemutusan
budaya dan geografis. Kekristenan yang Timur, Yahudi, liturgis,
sakramental, dan eklesial perlahan-lahan diganti dengan Kekristenan yang
dibayangkan terutama sebagai teks, individu, khotbah, dan pembacaan pribadi.
Komunitas yang melahirkan Kitab Suci digeser ke belakang. Gereja yang menjaga
Kitab Suci dicurigai. Tradisi yang menjadi habitat Kitab Suci dibuang. Lalu
individu modern berdiri sendiri dengan Alkitab di tangan, seolah-olah Roh Kudus
baru bekerja ketika otoritas Gereja dimatikan.
Hasilnya adalah Kekristenan yang kehilangan rumah, tetapi
bangga karena merasa bebas.
Padahal Kitab Suci tidak pernah hadir sebagai benda yatim
piatu. Ia lahir dalam umat. Ia dibaca dalam liturgi. Ia dijaga oleh para
gembala. Ia ditafsir dalam iman Gereja. Ia tidak jatuh dari langit sebagai
paket lengkap dengan indeks Protestan, catatan kaki Reformed, dan daftar 66
kitab. Sebelum ada Reformasi, Gereja sudah membaca. Sebelum ada Luther, Gereja
sudah berdoa. Sebelum ada Calvin, Gereja sudah membaptis, merayakan Ekaristi,
mengaku iman Trinitaris, menghormati para martir, dan mengenali suara Sang
Gembala dalam Kitab Suci.
Maka slogan “kembali ke Alkitab” perlu diuji dengan
pertanyaan yang lebih tajam: kembali ke Alkitab atau kembali ke Alkitab yang
sudah diputus dari rahimnya?
Sebab Alkitab tanpa Gereja mudah berubah menjadi benda
ideologis. Siapa pun bisa mengangkatnya, mengutipnya, memotongnya,
menafsirkannya, lalu mendirikan denominasi baru. Itulah tragedi Protestantisme:
otoritas tertinggi diklaim satu, tetapi hasil tafsirnya pecah seperti kaca
dilempar batu. Semua berkata tunduk kepada Kitab Suci, tetapi tidak ada
pengadilan final yang dapat mengatakan dengan otoritas mengikat: “Inilah iman
Gereja.” Akhirnya yang disebut “Kitab Suci saja” sering berubah menjadi “Kitab
Suci menurut saya, menurut sinode saya, menurut tradisi denominasi saya,
menurut guru favorit saya, menurut algoritma YouTube saya.”
Dan anehnya, setelah itu mereka masih menuduh Katolik
memiliki tradisi manusia. Padahal Protestantisme sendiri berdiri di atas
tradisi manusia abad ke-16: tradisi manusia yang menentukan kanon, menolak
Deuterokanonika, membentuk prinsip sola scriptura, membongkar otoritas Gereja,
lalu menyebut dirinya “alkitabiah”. Tradisi manusia tidak hilang. Ia hanya
ganti jas, ganti mimbar, dan bicara dengan nada lebih keras.
Educide Reformasi mencapai bentuk keempat ketika narasi ini
dilembagakan. Kanon 66 kitab diajarkan di sekolah minggu. Deuterokanonika
dilabeli apokrif. Makabe menghilang dari khotbah. Tradisi Gereja
dipresentasikan sebagai tambahan manusia. Sejarah abad pertama sampai abad
keenam belas disederhanakan menjadi kisah kemerosotan panjang. Luther dan para
Reformator tampil seperti pahlawan pemulihan. Umat diajar bahwa sebelum
Reformasi, Gereja tenggelam; setelah Reformasi, Injil ditemukan kembali.
Pertanyaannya: kalau Gereja benar-benar tenggelam selama
berabad-abad, siapa yang menjaga Kitab Suci? Kalau Gereja telah jatuh total,
dari tangan siapa Protestan menerima kanon? Kalau Roh Kudus gagal menjaga
Gereja, mengapa kita harus percaya bahwa Roh Kudus tiba-tiba berhasil menjaga
tafsir para Reformator? Kalau Tradisi begitu mencurigakan, mengapa tradisi
Reformasi sendiri diperlakukan seperti kacamata wajib untuk membaca Alkitab?
Protestantisme sering ingin memiliki dua hal sekaligus:
Gereja kuno cukup dapat dipercaya ketika mewariskan doktrin yang mereka
setujui, tetapi tidak dapat dipercaya ketika mewariskan doktrin yang mereka
tolak. Ini bukan prinsip. Ini selera yang diberi toga akademik.
Educide mencapai bentuk kelima ketika memori yang dipangkas
itu menjadi normal. Setelah beberapa abad, banyak orang Protestan sungguh
percaya bahwa Kekristenan asli adalah Kekristenan 66 kitab, tanpa
Deuterokanonika, tanpa otoritas Magisterium, tanpa doa bagi orang mati, tanpa
penghormatan kepada Maria, tanpa suksesi apostolik, tanpa Ekaristi sebagai
kurban sakramental. Mereka tidak merasa sedang hidup dalam hasil amputasi.
Mereka merasa sedang memegang tubuh asli. Padahal yang mereka pegang adalah
tubuh yang sudah kehilangan beberapa anggota, lalu diberi nama “pemurnian”.
Di sinilah apologet Katolik harus bicara terang.
Persoalannya bukan bahwa Protestan terlalu mencintai Kitab Suci. Tidak. Cinta
kepada Kitab Suci adalah mulia. Persoalannya ialah ketika cinta itu dipakai
untuk membenci rahim yang melahirkannya. Persoalannya bukan mereka membaca
Alkitab. Kita semua harus membaca Alkitab. Persoalannya ialah ketika Alkitab
dipisahkan dari Gereja, dipisahkan dari Tradisi, dipisahkan dari liturgi,
dipisahkan dari kanon historis, lalu dijadikan senjata untuk menyerang Gereja yang
menjaganya.
Itu bukan kesetiaan. Itu amnesia yang diberi nama kesalehan.
Gereja Katolik tidak takut kepada Kitab Suci, sebab Gereja
hidup dari Kitab Suci. Tetapi Gereja juga tahu bahwa Kitab Suci bukan benda
liar. Ia memiliki rumah. Rumah itu adalah Gereja. Ia memiliki nafas. Nafas itu
adalah Tradisi. Ia memiliki penjaga. Penjaga itu adalah Magisterium. Tanpa
rumah, teks menjadi rebutan. Tanpa Tradisi, ayat menjadi pecahan. Tanpa
Magisterium, setiap pembaca dapat menjadi paus kecil dengan Alkitab di tangan
dan tafsir pribadi di kepala.
Maka ketika Protestantisme berkata, “Kami hanya mengikuti
Alkitab,” jawaban Katolik harus tenang tetapi tajam: Anda tidak hanya
mengikuti Alkitab. Anda mengikuti Alkitab yang telah ditentukan oleh tradisi
Reformasi, ditafsir menurut asumsi Reformasi, dan diajarkan dalam memori yang
telah dibentuk oleh Reformasi.
Dengan kata lain, sola scriptura bukan kebebasan dari
tradisi. Sola scriptura adalah tradisi tertentu yang pura-pura bukan tradisi.
Itulah inti persoalannya. Reformasi bukan hanya membuang
beberapa doktrin Katolik. Ia membentuk ulang mesin pendidikan Kristen. Ia
mengatur mana teks yang boleh berbicara, mana sejarah yang boleh dikenang, mana
tradisi yang boleh dihormati, dan mana akar yang harus dipotong. Dalam bahasa
educide, ini adalah kontrol narasi, penghapusan suara alternatif, pemutusan
memori budaya, pelembagaan versi sejarah yang baru, dan manipulasi ingatan
jangka panjang.
Maka tugas apologet Katolik bukan sekadar membuktikan bahwa
dogma ini atau itu memiliki dasar Kitab Suci. Tugas yang lebih dalam adalah
membongkar ruang kelas Protestan itu sendiri: papan tulisnya, kurikulumnya,
buku pelajarannya, peta sejarahnya, dan definisi awalnya tentang “Alkitab”.
Karena selama Protestan boleh menentukan sendiri kanon,
menentukan sendiri prinsip tafsir, menentukan sendiri batas Tradisi, lalu
menuntut Katolik membuktikan diri di dalam ruang yang sudah mereka desain,
debat itu sudah dicurangi sejak awal.
Katolik tidak datang terlambat ke pesta Alkitab. Katolik
adalah rumah tempat pesta itu berlangsung.
Dan Protestantisme? Ia datang lima belas abad kemudian,
mengambil sebagian hidangan dari meja, membuang beberapa resep lama, memarahi
tuan rumah, lalu mengumumkan bahwa dialah penjaga asli tradisi keluarga.
Indah sekali. Tragis juga.
Tetapi sejarah tidak tunduk kepada slogan. Kitab Suci tidak
menjadi lebih murni karena dipotong. Gereja tidak menjadi palsu karena usianya
tua. Tradisi tidak menjadi korup hanya karena lebih tua dari Reformasi. Dan
kebenaran tidak lahir pada 1517 hanya karena seorang biarawan Jerman marah
kepada Roma.
Kekristenan lebih tua daripada Protestantisme. Kitab Suci
lebih luas daripada kanon Reformasi. Gereja lebih dalam daripada tafsir
individual. Dan memori iman tidak boleh diserahkan kepada mereka yang
menggunting arsip lalu menyebut sisa guntingan itu sebagai “satu-satunya
dokumen asli”.
Di hadapan educide Reformasi, Gereja Katolik berdiri bukan
sebagai musuh Kitab Suci, melainkan sebagai saksi tua yang masih mengingat
seluruh cerita. Ia mengingat Israel. Ia mengingat Makabe. Ia mengingat para
martir. Ia mengingat Gereja Timur. Ia mengingat konsili. Ia mengingat liturgi.
Ia mengingat bagaimana Kitab Suci dibaca sebelum Reformasi mengubah
perpustakaan menjadi ruang interogasi.
Dan karena Gereja masih mengingat, ia tidak mudah ditipu
oleh slogan.
Sebab slogan bisa keras. Tetapi memori Gereja lebih tua.
Slogan bisa memikat. Tetapi Tradisi lebih dalam.
Slogan bisa berkata “Alkitab saja.” Tetapi sejarah bertanya
kembali:
Alkitab yang mana, dari Gereja yang mana, melalui tradisi
yang mana, dan dengan otoritas siapa?
Di situlah sola scriptura mulai gemetar.



