Kenaikan Tuhan bukan sekadar “Yesus naik ke atas langit” seolah-olah surga adalah lokasi kosmis di balik awan. Itu imajinasi spasial yang terlalu miskin. Dalam iman Katolik, Kenaikan Tuhan adalah peristiwa ontologis: kemanusiaan Kristus, yang sungguh tubuh dan jiwa manusiawi, masuk ke dalam kemuliaan ilahi tanpa dihancurkan, tanpa dilarutkan, tanpa menjadi simbol kosong.
Di sinilah metafisika realis penting. Metafisika adalah
cabang filsafat yang membahas tentang hakikat realitas dan tatanan keberadaan
yang paling mendasar: apa yang sungguh ada, dan bagaimana sesuatu itu ada dalam
dirinya sendiri. Realisme metafisik berkata, realitas tidak bergantung pada
tafsir subjektif kita. Ada tatanan keberadaan yang objektif. Misalnya, ada
kodrat, yaitu inti atau hakikat dari sesuatu yang membuatnya menjadi dirinya
sendiri. Ada substansi, yakni sesuatu yang sungguh-sungguh ada dan menjadi
penopang sifat-sifatnya. Ada aktus, yaitu keteraktualan atau perwujudan
keberadaan, bukan sekadar potensi. Ada partisipasi, yaitu cara makhluk-makhluk
ikut serta dalam keberadaan atau kebaikan yang berasal dari Yang Tak Tercipta.
Juga ada relasi antara yang tercipta dan Yang Tak Tercipta.
Kerangka ini menantang banyak pandangan metafisika
kontemporer, seperti konstruktivisme, relativisme, atau anti-realisme yang
berkembang dalam filsafat modern dan postmodern. Banyak filsuf modern, sejak
Kant hingga Derrida, menganggap bahwa realitas akhirnya adalah hasil konstruksi
bahasa, persepsi, atau struktur epistemik manusia, sehingga tidak ada jaminan
tatanan objektif di luar pikiran kita. Pemikiran Jacques Derrida, misalnya,
lewat konsep "dekonstruksi" menyoroti bagaimana makna selalu tertunda
dan tidak pernah stabil dalam bahasa. Ia akan berkata bahwa peristiwa seperti
Kenaikan Tuhan hanya dapat dimaknai lewat jaringan tanda-tanda, bukan sebagai
realitas objektif yang bisa dijangkau secara langsung. Sementara Michel
Foucault menyoroti bahwa seluruh "kebenaran" adalah hasil permainan
kuasa dan wacana yang diproduksi oleh masyarakat tertentu, sehingga pengalaman
iman pun mudah dianggap sebagai produk sejarah dan relasi kekuasaan, bukan
perjumpaan dengan realitas transenden.
Metafisika realis menanggapi kritik-kritik ini dengan
menegaskan bahwa di balik keragaman interpretasi dan permainan bahasa itu,
tetap ada tatanan realitas objektif dan kodrat yang tidak dapat direduksi
menjadi sekadar konstruksi sosial atau produk wacana. Kebenaran iman, seperti
Kenaikan Tuhan, tidak hanya berlangsung dalam ruang diskursus atau dalam
horizon tafsir tak berujung, tetapi sungguh berdiri sendiri dan memiliki efek
ontologis yang nyata atas keberadaan manusia dan sejarah. Dengan demikian, realisme
metafisik memberi dasar untuk menegaskan bahwa Kenaikan Tuhan bukan sekadar
gejala psikologis atau narasi komunitas, melainkan peristiwa nyata dengan bobot
ontologis. Pandangan ini sekaligus menawarkan kritik terhadap skeptisisme dan
reduksionisme modern yang cenderung mencairkan misteri iman menjadi simbol
saja.
Maka Kenaikan Tuhan bukan drama psikologis para murid, bukan
mitos rohani, bukan bahasa puitis belaka. Ia adalah peristiwa nyata dalam
sejarah keselamatan, tetapi maknanya melampaui sejarah biasa.
1. Kristus naik bukan dengan meninggalkan tubuh, tetapi
dengan memuliakan tubuh
Kesalahan modern sering begini: keselamatan dianggap urusan
“jiwa” saja. Tubuh dianggap beban, materi dianggap rendah, dunia dianggap
panggung sementara. Itu bukan iman Katolik. Itu bau gnostik.
Dalam Kenaikan, Kristus tidak membuang tubuh-Nya. Ia membawa
tubuh-Nya yang telah bangkit ke dalam kemuliaan Bapa. Artinya, materi manusiawi
tidak ditolak oleh Allah. Tubuh manusia bukan sampah kosmis. Tubuh adalah
bagian dari pribadi manusia.
Secara metafisika Thomistik, manusia bukan jiwa yang memakai
tubuh seperti orang memakai jas. Analogi jas menggambarkan jiwa dan tubuh
sebagai dua hal terpisah yang dapat dilepas-pasang, padahal itu tidaklah tepat.
Hubungan tubuh dan jiwa lebih seperti hubungan nada dan alat musik: piano dan
nadanya tidak dapat dipisahkan; nada hanya ada jika alat musiknya sungguh
berfungsi, dan alat musik memenuhi maknanya melalui nada. Demikian pula, jiwa
sebagai forma corporis adalah prinsip yang membentuk dan menghidupkan tubuh.
Manusia adalah kesatuan substansial tubuh dan jiwa, bukan sekadar dua bagian
yang berdampingan. Maka ketika Kristus naik dalam tubuh kemuliaan, Ia
menegaskan bahwa keselamatan manusia bukan pelarian dari tubuh, melainkan
pemenuhan seluruh keberadaan manusia.
Ini sangat Katolik: Inkarnasi, Ekaristi, Kebangkitan,
Kenaikan — semuanya mengatakan satu hal yang sama: Allah menyelamatkan
realitas, bukan sekadar memberi ide religius.
2. Kenaikan adalah pemuliaan kodrat manusia dalam Pribadi
Sabda
Dalam Kristus ada satu Pribadi ilahi, yaitu Sang Sabda,
dengan dua kodrat: ilahi dan manusiawi. Kenaikan bukan berarti kodrat manusia
Kristus berubah menjadi kodrat ilahi. Itu keliru. Kodrat manusia tetap manusia.
Tubuh tetap tubuh. Jiwa manusiawi tetap jiwa manusiawi. Tetapi kodrat manusia
itu dipersatukan secara hipostatik dengan Pribadi ilahi Sang Sabda. Pemahaman
tentang persatuan hipostatik ini sendiri berkembang secara bertahap dalam
sejarah teologi Gereja. Pada abad-abad awal, terjadi berbagai perdebatan untuk
merumuskan relasi antara keilahian dan kemanusiaan Kristus, yang menghasilkan
kontroversi Kristologis seperti ajaran Arianisme (menyangkal keilahian
Kristus), Apollinarianisme (mengurangi kemanusiaan Kristus), Nestorianisme
(memisahkan dua Pribadi, ilahi dan manusiawi dalam Kristus), dan Monofisitisme
(menggabungkan kodrat hingga hanya tinggal kodrat ilahi). Gereja secara
berangsur-angsur menegaskan kebenaran iman melalui konsili-konsili ekumenis,
sampai akhirnya istilah 'persatuan hipostatik' (unio hypostatica, dalam bahasa
Latin) dirumuskan secara resmi pada Konsili Kalsedon (451 M). Konsili ini
menetapkan bahwa Kristus adalah satu Pribadi (persona) dengan dua kodrat
(natura), ilahi dan manusiawi, yang bersatu tanpa tercampur, tanpa berubah, tanpa
terbagi, dan tanpa terpisah.
Dengan kata lain, dalam Yesus Kristus, keilahian dan
kemanusiaan tetap utuh, tidak kehilangan atau melebur kodrat satu sama lain.
Pribadi Kristus adalah satu, yaitu Sang Sabda, bukan 'setengah Allah, setengah
manusia,' melainkan benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Ajakan untuk
memahami 'persatuan hipostatik' ini penting agar tidak terjatuh ke dalam
kekeliruan-kekeliruan lama seperti monofisitisme (yang meniadakan kodrat
manusia) atau Nestorianisme (yang memisahkan atau menggandakan Pribadi Kristus).
Persatuan hipostatik menjadi dasar teologis bahwa Kristus benar-benar Allah dan
benar-benar manusia dalam satu Pribadi yang sama.
Di sinilah prinsip realis menjaga kita dari dua jurang.
Pertama, dari reduksi liberal: Kenaikan hanya simbol
kemenangan rohani. Salah. Kristus sungguh dimuliakan.
Kedua, dari fantasi kasar: Yesus seperti roket naik ke
lapisan atmosfer. Juga salah. Kenaikan bukan perpindahan fisik biasa, melainkan
masuknya kemanusiaan Kristus ke dalam modus eksistensi yang dimuliakan.
Jadi, Kenaikan adalah elevasi kodrat manusia, bukan
penghapusan kodrat manusia. Manusia dalam Kristus tidak diserap seperti tetes
air hilang dalam laut. Manusia dalam Kristus disempurnakan, diberi partisipasi
dalam kemuliaan Allah.
Bahasa sederhananya: dalam Kristus, kemanusiaan kita sudah
duduk di sebelah kanan Bapa.
3. “Duduk di sebelah kanan Bapa” adalah bahasa metafisik
tentang kuasa dan partisipasi
Allah Bapa tidak punya kursi di sebelah kanan secara
material. “Sebelah kanan Bapa” adalah bahasa analogis. Dalam Kitab Suci,
sebelah kanan melambangkan kuasa, kehormatan, otoritas, dan pemerintahan.
Namun analogis bukan berarti palsu. Ini penting. Bahasa
analogis bukan bahasa kosong. Ia menunjuk realitas yang sungguh ada, tetapi
melampaui cara bahasa manusia biasa.
Maka ketika Gereja berkata Kristus duduk di sebelah kanan
Bapa, maknanya: Kristus yang bangkit dan naik kini memerintah sebagai Tuhan,
Imam Agung, dan Kepala Gereja. Kemanusiaan-Nya ikut ambil bagian dalam
kemuliaan dan otoritas Pribadi ilahi-Nya.
Dalam bahasa metafisika: kodrat manusia Kristus
berpartisipasi secara sempurna dalam kemuliaan Sang Sabda, bukan sebagai sumber
ilahi itu sendiri, tetapi sebagai kemanusiaan yang dipersatukan dengan Pribadi
ilahi.
4. Kenaikan bukan absennya Kristus, tetapi perubahan
modus kehadiran-Nya
Orang sering berpikir: kalau Yesus naik, berarti Ia pergi.
Ini logika dangkal. Kenaikan bukan kehilangan Kristus. Kenaikan adalah
perubahan cara kehadiran Kristus.
Sebelum Kenaikan, kehadiran Kristus terbatas secara lokal:
di Galilea, di Yerusalem, di jalan Emaus. Sesudah Kenaikan, Kristus hadir
secara sakramental, eklesial, pneumatologis, dan kosmik. Ia tidak kurang hadir;
Ia hadir dengan cara yang lebih dalam.
Di sinilah Ekaristi menemukan fondasinya. Karena Kristus
yang naik ke surga bukan Kristus yang “jauh”, melainkan Kristus yang
dimuliakan. Tubuh-Nya bukan lagi tunduk pada batas-batas tubuh fana. Maka
kehadiran-Nya dalam Ekaristi bukan mustahil. Justru Kenaikan membuka pemahaman
bahwa tubuh Kristus yang dimuliakan berada dalam tatanan keberadaan yang
melampaui batas spasial biasa.
Orang yang menolak Ekaristi karena berkata, “Bagaimana
mungkin tubuh Kristus hadir di banyak tempat?” biasanya masih memakai
metafisika tubuh biasa, bukan tubuh yang telah bangkit dan dimuliakan. Mereka
membaca misteri dengan kacamata fisika kasar. Padahal, menurut St. Thomas
Aquinas, tubuh Kristus yang telah bangkit tidak lagi tunduk pada hukum-hukum
fisika dan ruang seperti tubuh biasa. Tubuh yang dimuliakan itu berada dalam
kondisi eksistensi baru, yang disebut status gloriae, di mana ia tidak terbatas
oleh ruang dan waktu sebagaimana tubuh material biasa.
Konsili Trente juga menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam
Ekaristi sungguh nyata dan substansial: "Corpus et sanguis eius vere sunt
praesentia sub speciebus panis et vini," yakni tubuh dan darah-Nya sungguh
hadir di bawah rupa roti dan anggur, tidak secara lokal, melainkan secara
sakramental. Karena itu, tubuh Kristus dapat benar-benar hadir secara multipel
di banyak tempat secara bersamaan tanpa membelah atau mengurangi kodrat
tubuhnya. Ini hanya mungkin karena tubuh yang dimuliakan sudah partisipasi dalam
tatanan keberadaan ilahi yang tidak terikat ruang dan waktu. Misteri ini bukan
ilusi, bukan trik, melainkan logika iman berdasarkan kenyataan Kenaikan dan
pemuliaan tubuh Kristus.
Konsep ini berbeda tajam dengan pandangan teologi Protestan
tertentu, misalnya pemahaman "memorialisme" Zwingli, yang melihat
kehadiran Kristus dalam Ekaristi hanya secara simbolis dan menolak kehadiran
nyata dalam substansi, justru karena keberatan terhadap kemungkinan kehadiran
multipel tubuh Kristus. Dalam pendekatan Lutheran, ada ajaran
"konsubstansiasi" yang menegaskan kehadiran Kristus bersama unsur
roti dan anggur, tetapi tanpa perubahan substansi seperti yang diyakini dalam ajaran
Katolik tentang transubstansiasi.
Dari sisi metafisika modern yang dipengaruhi nominalisme
atau empirisme, misteri seperti kehadiran real dalam Ekaristi sering kali
dianggap mustahil karena hanya mengakui realitas material atau hukum fisika
sebagai ukuran utama. Sebaliknya, dalam realisme metafisik yang dipegang oleh
tradisi Katolik, realitas ilahi dikatakan sungguh dapat berpartisipasi dan
hadir secara nyata di dalam tatanan benda ciptaan, bahkan bila cara kehadiran
itu melampaui jangkauan pemahaman fisika alamiah. Dengan menyoroti perbedaan
ini, kita melihat bahwa penegasan real kehadiran Kristus dalam Ekaristi
berpijak pada kerangka ontologis yang lebih luas dari sekadar metafisika
materialisme atau simbolisme teologis.
Namun pandangan metafisika realis juga dapat membuka ruang
dialog yang lebih konstruktif dengan tradisi lain. Dalam tradisi Lutheran,
misalnya, meskipun menghindari istilah transubstansiasi, tetap diakui
keberadaan misteri nyata kehadiran Kristus yang melampaui sekadar simbolisme,
sehingga ada kesadaran akan dimensi sakramental yang tidak dapat dijelaskan
seluruhnya oleh akal budi manusia. Di lingkungan Ortodoks, bahasa
"perubahan" dalam Ekaristi juga dirayakan, walau tanpa penjelasan
filosofis yang sama, tetap menegaskan bahwa rahmat Allah dapat mentransformasi
ciptaan.
Dengan demikian, dialog ekumenis dapat diperkaya dengan
mendiskusikan bagaimana setiap tradisi mengakui keterbatasan bahasa manusia dan
pentingnya keterbukaan terhadap realitas ilahi yang sungguh hadir. Metafisika
realis menawarkan kerangka ontologis untuk membuka pemahaman akan kemungkinan
transendensi yang sungguh-sungguh masuk ke dalam ciptaan, tetapi juga dapat
menjadi titik pijak bersama dalam menyelidiki dan mengagumi misteri yang
dihayati oleh seluruh umat Kristen. Upaya saling mendengarkan pengalaman iman
dan penafsiran teologis dari masing-masing tradisi pun dapat membantu
memperluas wawasan dan memperdalam hormat pada misteri Ekaristi itu sendiri.
5. Kenaikan adalah dasar martabat manusia
Kenaikan Tuhan juga memiliki implikasi antropologis yang
besar. Dalam Kristus, manusia tidak hanya diampuni. Manusia diangkat. Bukan
sekadar dibersihkan dari dosa, tetapi dipanggil masuk ke dalam hidup ilahi.
Ini bukan humanisme sentimental. Ini ontologi rahmat.
Rahmat tidak menghancurkan kodrat, tetapi menyempurnakannya.
Gratia non tollit naturam, sed perficit. Dalam Kenaikan, prinsip ini mencapai
bentuk megahnya: kodrat manusia dalam Kristus tidak dihapus, tetapi dimuliakan.
Maka martabat manusia tidak berdiri pertama-tama pada opini
sosial, status politik, produktivitas ekonomi, atau algoritma digital. Martabat
manusia berakar dalam panggilan ontologisnya: manusia diciptakan untuk bersatu
dengan Allah. Dan dalam Kristus yang naik, panggilan itu sudah memiliki jaminan
real.
Tubuh manusia, sejarah manusia, luka manusia, kerja manusia,
air mata manusia — semua dapat dibawa masuk ke dalam kemuliaan, kalau
dipersatukan dengan Kristus.
6. Kenaikan dan Gereja: Kristus Kepala, Gereja Tubuh
Kenaikan tidak memutus Kristus dari Gereja. Sebaliknya,
Kenaikan menegaskan struktur Gereja sebagai Tubuh Kristus. Kristus adalah
Kepala yang dimuliakan; Gereja adalah Tubuh-Nya yang masih berziarah dalam
sejarah.
Maka Gereja bukan sekadar organisasi religius. Gereja
memiliki dasar ontologis dalam Kristus. Ia bukan klub orang saleh, bukan
komunitas tafsir bebas, bukan kumpulan individu yang kebetulan suka ayat yang
sama. Gereja adalah perpanjangan sakramental kehadiran Kristus dalam sejarah.
Karena Kepala telah naik, Tubuh diarahkan ke tujuan yang
sama. Liturgi, sakramen, ajaran, dan hidup moral Gereja semuanya bergerak
menuju pemuliaan manusia dalam Kristus.
Di sini terlihat perbedaan Katolik dan spiritualisme modern.
Katolik tidak berkata: “Yesus naik, jadi sekarang terserah setiap orang tafsir
sendiri.” Tidak. Kristus yang naik tetap memerintah Gereja-Nya melalui Roh
Kudus, sakramen, apostolic succession, dan Magisterium. Apostolic succession
adalah rantai penerus rasul secara sah dan historis, di mana para uskup
menerima tugas dan wewenangnya secara langsung dari para rasul melalui
penumpangan tangan, sehingga menjaga kesinambungan dan keaslian ajaran Gereja.
Magisterium adalah otoritas mengajar Gereja, yaitu tugas yang dijalankan oleh
para uskup dan Paus untuk menafsirkan dan menjaga ajaran iman secara otentik,
agar Gereja tetap setia pada Kristus.
Namun penting untuk diingat bahwa tradisi Kristen lain juga
menafsirkan makna Kenaikan Tuhan dan otoritas Gereja dalam terang iman mereka
sendiri. Misalnya, banyak komunitas Protestan menekankan otoritas Kitab Suci
dan kebebasan penafsiran personal atau komunitas lokal, serta melihat Kenaikan
sebagai tanda Kristus yang memimpin Gereja secara spiritual dari surga tanpa
struktur hierarkis yang sama. Dalam teologi Protestan yang lebih bersifat
simbolis atau memorialis, Kenaikan sering dipahami sebagai penegasan kehadiran
spiritual Kristus yang bukan terikat pada satu tempat atau institusi, melainkan
sejalan dengan gagasan universalitas Injil; secara metafisika, pendekatan
Protestan modern cenderung lebih berhati-hati terhadap premis realisme
ontologis karena warisan reformasi dan pengaruh filsafat modern. Di sisi lain,
arus Lutheran tetap mempertahankan misteri kehadiran nyata Kristus, terutama
dalam Ekaristi, walau dengan istilah metafisika yang berbeda dari Katolik, dan
justru membuka ruang dialog tentang dimensi objektif dan partisipatif rahmat
dalam tubuh Kristus yang bangkit.
Gereja Ortodoks secara khusus tetap menegaskan pentingnya
sakramen dan suksesi apostolik, walaupun memiliki pendekatan sinodal dan turut
menekankan kesatuan dengan tradisi para Bapa Gereja. Dalam perspektif Ortodoks,
Kenaikan dipahami sebagai peristiwa nyata yang membawa kodrat manusia ke dalam
persekutuan ilahi, selaras dengan konsep theosis. Metafisika realis sangat
dekat dengan teologi Ortodoks dalam hal pengakuan atas perubahan nyata dan
peran ontologis sakramen, meskipun Ortodoks cenderung menolak penjelasan
filosofis skolastik Katolik yang terlalu sistematis. Di satu sisi, ada ruang
perjumpaan: keduanya menolak reduksi simbolis dan mengakui realitas misteri
dalam sakramen dan keseluruhan sejarah keselamatan; di sisi lain, dialog
mengenai formulasi dogmatis dan pendekatan metafisik tetap terbuka, terutama
pada isu-isu seperti hakikat perubahan dalam Ekaristi dan partisipasi makhluk
dalam hidup ilahi.
Dengan mengakui berbagai pendekatan ini, dialog ekumenis
menjadi mungkin, sehingga bersama-sama dapat memperdalam pemahaman tentang
misteri Kenaikan dan karya Kristus dalam Gereja. Metafisika realis dengan
demikian dapat menjadi titik temu, tetapi juga titik diskusi kritis: ia
menantang pendekatan yang terlalu simbolis atau nominalis, dan sekaligus
mendorong keterbukaan pada misteri yang sungguh nyata namun melampaui nalar
sistematis manusia.
Kenaikan tanpa Gereja akan menjadi nostalgia. Kenaikan dalam
Gereja menjadi sakramen perjalanan manusia menuju kemuliaan.
7. Kenaikan sebagai kritik terhadap nominalisme modern
Nominalisme cenderung memecah realitas menjadi label, nama,
fungsi, dan klaim verbal. Dalam teologi, hasilnya buruk: misteri menjadi
slogan, sakramen menjadi simbol psikologis, Gereja menjadi komunitas kontrak,
dan keselamatan menjadi status legal belaka. Misalnya, pada abad ke-14 dan 15,
pemikiran nominalis seperti William of Ockham mulai mempengaruhi cara memahami
sakramen. Dalam beberapa kasus di Eropa Barat, sakramen dipandang lebih sebagai
tanda eksternal atau kontrak sosial antara individu dan Allah, bukan sebagai
peristiwa nyata yang mentransformasi kodrat manusia. Penekanan pada kehendak
Allah yang arbitrer dan pengertian hukum semata di dalam Gereja pun sempat
mendorong pemahaman bahwa keanggotaan umat hanya soal status administratif,
bukan partisipasi nyata dalam Tubuh Kristus. Konsep transubstansiasi, yang
tadinya ditekankan sebagai perubahan real substansi dalam Ekaristi, mulai
disempitkan hanya menjadi perubahan dalam penamaan atau pemaknaan saja oleh
beberapa teolog yang terpengaruh nominalisme. Dampaknya, pengalaman iman
menjadi kering dan kehilangan kepercayaan pada realitas misteri suci yang
dihadirkan di dalam Gereja.
Dalam kerangka metafisika realis, partisipasi kodrat manusia
dalam kemuliaan ilahi bukan sekadar konstruksi simbolik atau pergeseran makna,
tetapi peristiwa ontologis yang sungguh terjadi dalam struktur keberadaan
manusia. Manusia, menurut realisme klasik (khususnya menurut St. Thomas
Aquinas), memiliki kodrat yang terbuka kepada Allah karena diciptakan sebagai
imago Dei—citra Allah. Kodrat manusia sungguh dapat mengambil bagian dalam
hidup ilahi melalui rahmat, sebab rahmat bukan asing atau eksternal terhadap
manusia, melainkan prinsip yang memperdalam dan menyempurnakan keberadaan
manusia. Dalam persatuan hipostatik, kemanusiaan Kristus bersatu secara real
dan substansial dengan Pribadi Ilahi, dan melalui Kenaikan, kodrat manusia
Kristus benar-benar diikutsertakan dalam kemuliaan keallahan Sang Sabda.
Mekanisme ontologisnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
rahmat membentuk jiwa manusia dan menyatukan manusia dengan Allah tidak dengan
meniadakan kodrat manusia, melainkan dengan mengangkat, menyempurnakan, dan
memberi partisipasi dalam keberadaan dan kebaikan Allah sendiri (participatio
divinæ naturæ). Inilah yang dimaksud oleh 2 Petrus 1:4: manusia dipanggil
"mengambil bagian dalam kodrat ilahi." Dengan kata lain, partisipasi
bukan penggantian atau peleburan kodrat manusia, tetapi suatu kebaikan tambahan
yang membuat kodrat manusia mampu hidup dalam terang kemuliaan Allah, tanpa
kehilangan identitas dan strukturnya sendiri. Karena itu, Kenaikan Tuhan
menegaskan bahwa transformasi ontologis manusia benar-benar terjadi: tubuh
manusia dimuliakan, jiwa manusia diterangi, dan seluruh keberadaan manusia
diselaraskan dengan hidup ilahi. Sakramen, sebagai instrumen rahmat, sungguh
membawa kodrat manusia kepada perjumpaan real dengan Allah dan mentransformasi
manusia secara ontologis, bukan hanya secara legal, simbolik, atau psikologis.
Dalam perkembangan mutakhir, bentuk-bentuk nominalisme juga
muncul dalam filsafat dan teologi kontemporer: misalnya dalam
pendekatan-pendekatan post-strukturalis, semangat konstruksi sosial yang
mengutamakan penamaan daripada realitas, atau dalam teologi yang sangat
menekankan narasi sebagai konstruksi komunitas tanpa rujukan pada keberadaan
objektif. Unjuk rasa modernitas terhadap 'metafisika benda' telah membuat
sebagian teolog dan filsuf menafsirkan realitas iman, sakramen, bahkan
identitas manusia hanya sebagai hasil konsensus, konvensi sosial, atau
permainan bahasa. Maka kritik terhadap nominalisme bukan hanya soal sejarah
Abad Pertengahan, tetapi sangat relevan di era ketika makna dikerdilkan menjadi
label dan tatanan realitas redup di balik interpretasi tanpa fondasi ontologis.
Kenaikan Tuhan menghantam cara berpikir itu.
Mengapa? Karena Kenaikan menegaskan bahwa keselamatan bukan
hanya “Allah menyatakan kamu benar” secara eksternal. Keselamatan adalah
transformasi real dalam keberadaan manusia. Kodrat manusia sungguh diangkat.
Tubuh sungguh dimuliakan. Sejarah sungguh dibuka menuju eskaton. Gereja sungguh
menjadi Tubuh Kristus. Sakramen sungguh menjadi instrumen rahmat.
Metafisika realis berkata: jangan puas dengan nama. Lihat
realitasnya. Jangan puas dengan slogan “Kristus menang.” Tanyakan: kemenangan
itu mengubah apa dalam struktur keberadaan manusia? Jawabannya: dalam Kenaikan,
manusia menemukan takhtanya bukan di bumi, bukan di ego, bukan di negara, bukan
di pasar, melainkan dalam Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa.
Kesimpulan
Kenaikan Tuhan adalah mahkota Inkarnasi. Sang Sabda yang
turun mengambil daging manusia kini membawa daging manusia itu masuk ke dalam
kemuliaan Allah. Yang ilahi tidak menghina yang manusiawi. Yang surgawi tidak
membuang yang duniawi. Yang kekal tidak meremehkan sejarah.
Dalam Kristus yang naik, bumi tidak ditinggalkan; bumi
diberi arah. Tubuh tidak direndahkan; tubuh dimuliakan. Gereja tidak dibiarkan
yatim; Gereja dipimpin dari kemuliaan. Manusia tidak sekadar diselamatkan dari
dosa; manusia diangkat menuju partisipasi dalam hidup Allah.
Itulah realisme Katolik: bukan agama ide, bukan agama simbol
kosong, bukan agama rasa-rasa rohani. Iman Katolik berdiri di atas realitas:
Allah sungguh menjadi manusia, manusia sungguh ditebus, tubuh sungguh bangkit,
Kristus sungguh naik, dan dalam Dia kodrat manusia sungguh telah memasuki
kemuliaan.




