Suatu
Pendalaman Filosofis
Apologetika pada dasarnya adalah tindakan rasional untuk
mempertanggungjawabkan kebenaran iman. Namun setiap tindakan membela
kebenaran mengandung bahaya tersembunyi: pembela dapat secara perlahan
menempatkan dirinya di pusat, sehingga kebenaran yang semula dibela berubah
menjadi alat untuk membesarkan ego. Karena itu, persoalan apologetika bukan hanya
soal apakah argumen kita benar, melainkan juga tentang siapakah diri kita
ketika menyampaikan kebenaran itu.
Di sinilah refleksi filosofis menjadi penting.
Kesombongan apologetis bukan sekadar masalah sopan santun. Ia merupakan
kekacauan dalam hubungan antara subjek yang mengetahui dan kebenaran yang
diketahui.
1. Kebenaran Melampaui Orang yang
Membelanya
Secara metafisis, kebenaran tidak bergantung pada
kecakapan seseorang dalam mempertahankannya. Sesuatu tidak menjadi benar karena
kita menang berdebat. Sebaliknya, kita dapat berdebat dengan sangat buruk
tentang sesuatu yang tetap benar.
Dalam tradisi realisme klasik, kebenaran dipahami
sebagai kesesuaian antara intelek dan realitas: adaequatio intellectus et
rei. Pikiran disebut benar ketika ia menyesuaikan diri dengan kenyataan.
Maka tugas intelek bukan menciptakan kebenaran, melainkan menerimanya,
mengenalinya, dan mengungkapkannya.
Dari sini tampak bahwa sikap dasar seorang apologet
seharusnya bukan penguasaan, melainkan penerimaan. Ia tidak berdiri sebagai
pemilik kebenaran, tetapi sebagai orang yang terlebih dahulu dituntut untuk
tunduk kepadanya.
Kesombongan muncul ketika urutan ini dibalik.
Kebenaran tidak lagi menjadi ukuran bagi diri, melainkan dipakai untuk mengukur
dan merendahkan orang lain. Apologet kemudian merasa bahwa karena ia berada di
pihak yang benar, seluruh dirinya otomatis benar.
Padahal seseorang dapat membela ajaran yang benar
dengan motivasi yang salah, cara yang tidak adil, dan jiwa yang tidak tertib.
Kebenaran yang dibela tidak secara otomatis menyucikan
cara pembelaannya.
2. Kesombongan sebagai Kekacauan Ontologis
Dalam filsafat klasik, kejahatan bukanlah realitas
positif yang berdiri sendiri, melainkan kekurangan atau penyimpangan dari suatu
kebaikan yang seharusnya ada. Kesombongan dapat dipahami sebagai
ketidakteraturan cinta terhadap diri sendiri.
Mencintai diri bukanlah sesuatu yang salah. Manusia
memang memiliki martabat, akal budi, kehendak, dan kemampuan untuk mencari
kebenaran. Namun cinta diri menjadi kacau ketika seseorang menghendaki
keunggulan yang tidak sesuai dengan tempatnya sebagai makhluk terbatas.
Kesombongan apologetis terjadi ketika seseorang secara
implisit menempatkan dirinya seolah-olah menjadi sumber kebenaran, hakim
tertinggi atas semua orang, atau pembela yang tanpanya iman akan runtuh.
Ia lupa bahwa dirinya bersifat kontingen: pernah tidak
ada, dapat salah, dapat lupa, dapat salah membaca sumber, dan suatu hari akan
mati. Kebenaran yang ia bela tidak berasal dari dirinya dan tidak akan berakhir
bersama dirinya.
Kesadaran akan keterbatasan ini bukan alasan untuk
menjadi relativis. Justru sebaliknya. Karena kebenaran melampaui diri, manusia
dapat tunduk kepadanya dengan penuh keyakinan sekaligus rendah hati.
Kerendahan hati bukan menyangkal bahwa kita mengetahui
sesuatu. Kerendahan hati adalah mengetahui sesuatu tanpa melupakan siapa diri
kita.
3. Perbedaan antara Kepastian Objektif dan
Kesombongan Subjektif
Sering kali kerendahan hati disalahartikan sebagai
ketidakpastian. Seolah-olah orang yang rendah hati harus selalu berkata,
“Mungkin saya salah,” bahkan ketika berbicara tentang prinsip-prinsip yang
secara rasional pasti atau tentang ajaran iman yang telah ditetapkan.
Anggapan ini keliru. Kepastian objektif dan sikap
subjektif adalah dua hal berbeda.
Seseorang dapat memiliki kepastian objektif mengenai
suatu kebenaran, tetapi tetap rendah hati dalam cara menyampaikannya.
Sebaliknya, orang dapat sangat ragu terhadap isi argumennya, tetapi tetap
sombong dalam gaya dan sikapnya.
Karena itu, kerendahan hati bukan sikap melemahkan
kebenaran. Ia adalah penempatan diri secara tepat di hadapan kebenaran.
Seorang apologet dapat berkata dengan tegas:
“Argumen ini keliru.”
“Kesimpulan itu tidak mengikuti premisnya.”
“Penafsiran tersebut bertentangan dengan fakta
sejarah.”
Namun ia tidak perlu berkata atau mengisyaratkan:
“Karena argumenmu salah, engkau tidak layak
dihormati.”
Di sini diperlukan pembedaan filosofis antara
kesalahan intelektual dan nilai ontologis pribadi. Seorang manusia dapat salah
secara serius, tetapi ia tidak kehilangan martabatnya sebagai pribadi.
Kesalahan harus dikoreksi; pribadi tidak boleh diperlakukan sebagai benda yang
dapat dihancurkan.
4. Pribadi sebagai Tujuan, Bukan Instrumen
Filsafat personalisme menekankan bahwa pribadi tidak
boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana. Dalam apologetika, prinsip ini
berarti lawan bicara bukan sekadar objek yang harus dikalahkan demi membuktikan
kehebatan kita atau menghibur kelompok pendukung kita.
Ia adalah pribadi: makhluk berakal, bebas, memiliki
sejarah, luka, ketakutan, prasangka, dan kerinduan akan kebenaran, meskipun
kerinduan itu mungkin tertutup oleh sikap defensif.
Ketika seseorang diperlakukan hanya sebagai bahan
konten, sasaran ejekan, atau contoh kebodohan publik, apologetika telah
kehilangan orientasi personalnya. Manusia dikorbankan demi kemenangan retoris.
Padahal tujuan terdalam komunikasi bukan penghancuran
lawan, melainkan perjumpaan dalam kebenaran.
Hal ini tidak berarti semua perdebatan harus lembut
atau tanpa ironi. Ada argumen yang memang pantas dibongkar dengan tajam. Ada
manipulasi yang perlu dipermalukan secara intelektual. Ada kepura-puraan yang
harus disingkapkan.
Namun bahkan ketajaman harus mempertahankan orientasi
pada kebaikan. Teguran yang benar menghendaki agar orang keluar dari
kekeliruannya. Penghinaan menghendaki agar orang tetap berada di bawah kita.
Perbedaannya terletak pada tujuan kehendak.
5. Apologetika dan Etika Keutamaan
Filsafat moral klasik tidak hanya bertanya, “Apa yang
harus saya lakukan?” tetapi juga, “Manusia seperti apakah yang sedang saya
bentuk melalui tindakan ini?”
Setiap perdebatan membentuk karakter. Orang yang
terus-menerus berdebat dengan sinisme dapat menjadi sinis. Orang yang terbiasa
mempermalukan lawan dapat kehilangan kemampuan untuk mendengarkan. Orang yang
terus menerima tepuk tangan karena kekerasan retoris dapat menjadi tergantung
pada konflik.
Dengan demikian, apologetika bukan kegiatan netral. Ia
dapat membentuk keutamaan, tetapi juga dapat memelihara kebiasaan buruk.
Beberapa keutamaan utama yang diperlukan dalam
apologetika ialah:
Kebijaksanaan
Kebijaksanaan menilai bukan hanya apa yang benar,
tetapi juga kapan, bagaimana, kepada siapa, dan dengan cara apa kebenaran itu
harus disampaikan.
Tidak semua kesalahan perlu dijawab dengan intensitas
yang sama. Tidak semua orang membutuhkan bantahan publik. Tidak setiap
provokasi layak diberi panggung.
Tanpa kebijaksanaan, apologetika menjadi reaktif.
Apologet merasa harus menjawab segala sesuatu, seolah-olah diam selalu berarti
kalah.
Padahal terkadang diam adalah bentuk penguasaan diri,
bukan kekurangan argumen.
Keadilan
Keadilan menuntut agar kita menggambarkan pandangan
lawan secara benar. Menyerang versi terlemah dari suatu posisi adalah
ketidakadilan intelektual.
Seorang apologet yang adil harus mampu merumuskan
argumen lawan sedemikian baik sehingga lawan itu sendiri mengakuinya sebagai
representasi yang tepat.
Baru setelah itu kritik memiliki bobot moral dan
filosofis.
Kesombongan menyederhanakan lawan agar mudah
dikalahkan. Keadilan membiarkan lawan tampil dalam bentuk terkuatnya.
Keberanian
Kerendahan hati bukan pengecut. Ada saat ketika
kebenaran harus disampaikan meskipun tidak populer, meskipun mengundang
serangan, dan meskipun membuat kita kehilangan penerimaan sosial.
Namun keberanian berbeda dari agresivitas. Keberanian
bertahan karena mencintai kebenaran. Agresivitas menyerang karena mencintai
dominasi.
Penguasaan Diri
Penguasaan diri diperlukan terutama ketika seseorang
dihina, disalahpahami, atau diprovokasi. Pada saat demikian, masalah perdebatan
mudah bergeser. Kita tidak lagi membela pokok ajaran, tetapi membela harga
diri.
Ketika ego terluka, argumen sering berubah menjadi
senjata pembalasan.
Karena itu, seorang apologet perlu mampu mengenali
saat ketika tanggapannya tidak lagi digerakkan oleh cinta akan kebenaran,
melainkan oleh hasrat untuk membalas.
6. Bahaya Mengidentikkan Diri dengan
Kebenaran
Salah satu bentuk kesombongan paling halus ialah
identifikasi berlebihan antara diri dan posisi yang dibela.
Ketika seseorang terlalu melekatkan identitasnya pada
peran sebagai pembela iman, kritik terhadap argumennya terasa seperti serangan
terhadap kebenaran itu sendiri. Akibatnya, ia tidak lagi mampu membedakan tiga
hal:
- kebenaran
iman;
- pemahamannya
tentang kebenaran iman;
- cara
pribadinya menyampaikan kebenaran iman.
Ketiganya tidak identik.
Kebenaran iman dapat sempurna. Pemahaman kita
tentangnya dapat terbatas. Cara kita menjelaskannya dapat buruk.
Ketidakmampuan membedakan tiga lapisan ini melahirkan
sikap defensif yang ekstrem. Setiap koreksi dianggap pengkhianatan. Setiap
kritik terhadap gaya dianggap kebencian kepada Gereja. Setiap ketidaksepakatan
dianggap pemberontakan terhadap kebenaran.
Pada titik itu, seseorang tidak lagi membela iman. Ia
sedang melindungi citra dirinya dengan menggunakan iman sebagai tameng.
7. Dialektika antara Logos dan Eros
Apologetika membutuhkan logos: argumentasi,
konsistensi, definisi, bukti, dan ketepatan nalar. Namun logos saja
tidak cukup. Ia perlu disertai eros dalam arti klasik: gerak cinta
menuju yang baik dan yang benar.
Argumen tanpa cinta dapat menjadi dingin, mekanis, dan
kejam. Cinta tanpa argumen dapat menjadi sentimental dan tidak berdaya
menghadapi kekeliruan.
Apologetika yang matang menyatukan keduanya:
kejernihan intelektual dan kehendak yang tertuju pada kebaikan pribadi.
Kita tidak cukup bertanya, “Apakah argumen ini valid?”
Kita juga harus bertanya, “Untuk apa saya
menyampaikannya?”
Sebuah argumen dapat valid, tetapi dipakai untuk
tujuan yang tidak luhur. Seseorang dapat mengutip fakta dengan tepat, tetapi
memilih fakta itu untuk mempermalukan. Ia dapat menunjukkan kontradiksi lawan
dengan benar, tetapi menikmatinya sebagai kemenangan ego.
Karena itu, moralitas apologetika tidak hanya terletak
pada isi ucapan, tetapi juga pada maksud, konteks, dan cara.
8. Kemarahan yang Tertib dan Kemarahan
yang Kacau
Tidak semua kemarahan salah. Dalam filsafat moral
klasik, kemarahan dapat menjadi respons yang wajar terhadap ketidakadilan,
penghinaan terhadap yang suci, atau penyesatan terhadap orang kecil.
Masalahnya bukan apakah seorang apologet marah,
melainkan apakah kemarahannya diatur oleh akal budi.
Kemarahan yang tertib:
- diarahkan
pada kesalahan nyata;
- sebanding
dengan tingkat kesalahan;
- bertujuan
memulihkan ketertiban;
- tidak
menghilangkan martabat lawan;
- berhenti
ketika tujuan korektif tercapai.
Kemarahan yang kacau:
- lahir
dari ego terluka;
- melebih-lebihkan
kesalahan;
- menyerang
pribadi dan keluarganya;
- mencari
tepuk tangan;
- terus
menyala bahkan setelah pokok masalah selesai.
Kemarahan yang tertib adalah energi moral. Kemarahan
yang kacau adalah nafsu dominasi.
Seorang apologet tidak wajib menjadi orang tanpa
emosi. Namun ia wajib memastikan bahwa emosinya menjadi pelayan akal budi,
bukan penguasa tindakannya.
9. Kemenangan Retoris dan Kemenangan
Filosofis
Dalam perdebatan publik, kemenangan retoris sering
berbeda dari kemenangan filosofis.
Kemenangan retoris diperoleh ketika lawan terdiam,
penonton tertawa, atau potongan video menjadi viral. Kemenangan filosofis
terjadi ketika kekeliruan sungguh dibongkar, konsep menjadi lebih jelas, dan
orang dibawa lebih dekat kepada realitas.
Kemenangan retoris dapat dicapai melalui ejekan,
manipulasi emosi, atau penyederhanaan. Kemenangan filosofis membutuhkan
ketelitian, kesabaran, dan kejujuran.
Karena itu, seorang apologet perlu bertanya:
Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar
efek?
Apakah saya ingin lawan mengerti, atau hanya ingin
penonton menganggap saya menang?
Apakah argumentasi saya tetap kuat bila unsur ejekan
dihapus?
Pertanyaan terakhir sangat penting. Apabila sebuah
bantahan hanya terasa kuat karena lawannya dibuat tampak bodoh, mungkin yang
bekerja bukan argumentasi, melainkan dramaturgi.
10. Kerendahan Hati sebagai Realisme
tentang Diri
Kerendahan hati sering dipahami secara keliru sebagai
merendahkan diri. Padahal secara filosofis, kerendahan hati adalah realisme
mengenai diri sendiri.
Orang yang rendah hati tidak menyangkal kemampuan yang
dimilikinya. Ia tidak perlu berpura-pura bodoh, lemah, atau tidak tahu. Ia
hanya menilai dirinya menurut kenyataan.
Ia mengetahui kekuatannya tanpa menganggapnya mutlak.
Ia mengetahui kelemahannya tanpa tenggelam dalam rasa rendah diri.
Dengan demikian, kerendahan hati berdiri di antara dua
ekstrem:
- kesombongan,
yang membesarkan diri melampaui kenyataan;
- rasa
rendah diri, yang mengecilkan diri di bawah kenyataan.
Dalam apologetika, kerendahan hati berarti:
“Saya mungkin memahami persoalan ini lebih baik
daripada lawan saya, tetapi kemampuan itu bukan alasan untuk menghina.”
“Saya dapat menunjukkan kesalahan argumen ini, tetapi
saya sendiri tetap dapat salah dalam hal lain.”
“Saya berkewajiban membela kebenaran, tetapi saya
bukan sumber kebenaran.”
Inilah kerendahan hati yang kokoh: tidak lembek, tidak
minder, tidak mencari pengakuan.
11. Dimensi Eksistensial: Menjadi Apa
melalui Perdebatan?
Setiap kali seseorang berapologi, ia bukan hanya
menghasilkan kata-kata. Ia sedang membentuk dirinya sendiri.
Pertanyaan eksistensial yang mendalam bukan hanya:
“Apakah saya memenangkan perdebatan ini?”
Melainkan:
“Menjadi manusia seperti apakah saya sesudah
perdebatan ini?”
Apakah saya menjadi lebih sabar atau lebih kasar?
Lebih mencintai kebenaran atau lebih mencintai
kemenangan?
Lebih mampu mendengar atau semakin ketagihan
berbicara?
Lebih bebas atau semakin bergantung pada pujian
pendukung?
Perdebatan yang dimenangkan dengan kehilangan karakter
sebenarnya merupakan kekalahan.
Tidak ada gunanya membela ortodoksi sambil membiarkan
jiwa menjadi bengkok. Tidak ada gunanya menjaga rumusan iman dengan tepat
apabila tindakan kita menyangkal etos iman yang dibela.
12. Dimensi Komunal: Apologetika Bukan
Proyek Pribadi
Apologetika selalu memiliki dimensi gerejawi dan
komunal. Orang yang berbicara tentang iman tidak hanya mewakili dirinya
sendiri. Di mata publik, gaya seorang apologet dapat dianggap sebagai wajah
komunitas yang dibelanya.
Karena itu, kegagalan moral dalam apologetika memiliki
akibat yang lebih luas. Kekasaran pribadi dapat membuat orang mengira bahwa
iman itu sendiri kasar. Kesombongan pembela dapat disalahartikan sebagai
kesombongan Gereja. Ketidakjujuran dalam mengutip lawan dapat merusak
kepercayaan terhadap seluruh kesaksian iman.
Seorang apologet tidak boleh berpikir bahwa ia bebas
berkata apa saja karena yang dipertaruhkan hanya reputasinya sendiri.
Ia membawa nama yang lebih besar daripada dirinya.
Justru karena itu, disiplin intelektual dan moral
bukan pilihan tambahan. Keduanya merupakan kewajiban.
13. Ujian Terakhir: Apakah Kita
Menginginkan Kebaikan Lawan?
Ukuran paling dalam dari apologetika tanpa kesombongan
ialah pertanyaan ini:
Apakah saya masih menghendaki kebaikan orang yang
sedang saya bantah?
Kita mungkin tidak menyukai sikapnya. Kita dapat
menolak argumennya. Kita mungkin perlu menegurnya secara keras. Namun bila kita
mulai menikmati kehancurannya, menginginkan rasa malunya, atau berharap ia
tidak pernah berubah supaya tetap dapat dijadikan sasaran, maka apologetika
telah menjadi kebencian yang diberi bahasa teologis.
Cinta tidak berarti menyetujui kesalahan. Justru
karena menghendaki kebaikan seseorang, kita tidak membiarkannya tinggal dalam
kekeliruan.
Namun cinta juga tidak menjadikan koreksi sebagai
tontonan penghancuran.
Membela kebenaran dan menghendaki kebaikan lawan bukan
dua tujuan yang bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama.
Penutup
Berapologi tanpa jatuh ke dalam kesombongan berarti
menempatkan segala sesuatu dalam tatanan yang benar.
Kebenaran berada di atas pembelanya.
Pribadi lebih besar daripada kesalahannya.
Akal budi harus mengarahkan emosi.
Kasih harus memurnikan keberanian.
Kerendahan hati harus menjaga kepastian agar tidak
berubah menjadi arogansi.
Seorang apologet yang matang tidak perlu mengecilkan
kebenaran agar tampak rendah hati. Ia juga tidak perlu mengecilkan manusia agar
kebenaran tampak besar.
Kebenaran tidak menjadi agung karena lawan
direndahkan. Kebenaran menjadi agung ketika ia disampaikan secara jernih, adil,
berani, dan manusiawi.
Pada akhirnya, tugas apologet bukan menguasai
kebenaran, melainkan membiarkan dirinya dikuasai oleh kebenaran. Ia bukan
pemilik cahaya, tetapi pembawa pelita. Dan pelita yang baik tidak menarik
perhatian kepada dirinya sendiri. Ia menerangi jalan agar orang lain dapat
melihat.


