Katekese Apologetik-Filosofis atas Asal-Usul Kepausan
Ada cara membaca sejarah Gereja yang tampak akademik, tetapi
diam-diam melemahkan tesis utama: karena kepausan berkembang dalam sejarah,
maka kepausan dianggap tidak berasal dari Kristus. Ini keliru sejak pintu
pertama. Dalam iman Katolik, kepausan bukan meteor administratif yang jatuh
lengkap dari langit, melainkan benih apostolik yang ditanam Kristus dalam diri
Petrus, lalu bertumbuh dalam tubuh historis Gereja. Misalnya, pada awalnya
pemilihan paus dilakukan secara sederhana oleh umat dan klerus setempat di Roma
(lihat Epistola S. Clementis ad Corinthios, ca. 96 M). Seiring waktu, proses
ini berkembang menjadi sistem konklaf, sebagaimana diatur secara resmi dalam
Konstitusi Apostolik "Universi Dominici Gregis" (1996), dan akar-akar
hukumnya dapat dilacak hingga Dekret Konsili Lateran III (1179) yang mengatur
pemilihan paus oleh kardinal. Contoh lain adalah peran Konsili Ekumenis yang
semakin menegaskan posisi dan fungsi paus dalam Gereja, khususnya Konsili
Lateran IV (1215) dan Konsili Vatikan I (Pastor Aeternus, 1870), di mana dogma
primasi dan infalibilitas paus dinyatakan secara tegas. Contoh-contoh ini
menunjukkan bahwa kepausan mengalami pertumbuhan organik mengikuti kebutuhan
dan tantangan zaman, bukan konstruksi artifisial belaka.
Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa pada hari Pentakosta
sudah ada Vatikan, konklaf, Kuria Roma, negara kepausan, protokol diplomatik,
dan asap putih. Itu karikatur. Yang diajarkan Gereja adalah bahwa Kristus
memberikan kepada Petrus suatu fungsi yang unik: menjadi batu karang, pemegang
kunci, penguat saudara-saudaranya, dan gembala kawanan. Dari sini tesisnya
jelas: struktur historisnya berkembang; prinsip teologisnya sudah ditetapkan.
Kajian historis justru memberikan data penting bagi tesis
ini. Ia mengakui bahwa kepausan adalah institusi berusia hampir dua ribu tahun;
bahwa ia bermula dari Uskup Roma; bahwa para Uskup Roma berhasil menegaskan
primasi atas takhta-takhta lain; bahwa sejak awal terdapat klaim Roma sebagai first
among equals; bahwa Klemens dari Roma sudah menulis kepada Gereja Korintus
untuk menyelesaikan konflik internal; dan bahwa Viktor I pada abad kedua sudah
berani mengancam dengan ekskomunikasi terhadap para uskup di Timur. Dengan kata
lain, bahkan pembacaan historis yang kritis pun tidak sanggup menghapus fakta
bahwa Roma sejak awal bertindak melampaui status “gereja lokal biasa.”
1. Dari Petrus ke Roma: Benih, Bukan Birokrasi
Persoalan utamanya bukan apakah pada abad pertama sudah ada
“bagan organisasi” dengan Paus di puncak. Pertanyaan itu sendiri terlalu
modern, terlalu administratif, dan terlalu miskin imajinasi historis. Gereja
purba bukan perusahaan multinasional. Ia bukan Kementerian Agama. Ia bukan
organisasi sosial dengan AD/ART yang dicetak rapi.
Gereja adalah tubuh hidup.
Dalam tubuh hidup, struktur bertumbuh dari prinsip batin.
Tulang bayi belum seperti tulang orang dewasa, tetapi bayi bukan makhluk tanpa
tulang. Demikian pula kepausan. Bentuk historisnya belum sematang abad
pertengahan, tetapi prinsip petrin sudah ada dalam kesadaran Gereja.
Matius 16 menjadi pusat: “Engkau adalah Petrus, dan di atas
batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Lalu Kristus memberikan “kunci
Kerajaan Surga” dan kuasa “mengikat serta melepaskan.” Dalam menafsirkan ayat
ini, Gereja Katolik menggunakan pendekatan historis-biblis dan hermeneutik
tradisi: teks tidak hanya dibaca secara literal, tetapi juga dalam konteks
peran Petrus di antara para rasul serta perkembangan pemahaman iman sejak
Gereja mula-mula. Jadi, ayat ini tidak dipahami sebagai pujian rohani semata
kepada Simon, melainkan sebagai penetapan fungsi dan peran otoritatif dalam
Gereja. Pemegang kunci bukan satpam surga. Ia adalah pelayan utama di rumah
Sang Raja.
Di sini letak kekeliruan pembacaan anti-papal: mereka
memperlakukan teks Petrus sebagai dekorasi, sementara Gereja membacanya sebagai
struktur. Kristus tidak sekadar memberi Petrus julukan yang manis. Ia memberi
Petrus fungsi eklesial.
2. Roma Bukan Sekadar Ibu Kota Kekaisaran
Memang benar bahwa Roma memiliki bobot politik karena
merupakan pusat kekaisaran. Namun, mengatakan bahwa primasi Roma hanya lahir
dari politik adalah reduksi yang terlalu kasar. Kalau politik adalah
satu-satunya dasar, maka Konstantinopel seharusnya bisa dengan mudah
menggantikan Roma. Ia menjadi “Roma Baru”, tempat kaisar tinggal, pusat
administrasi, kota strategis, dan simbol kekuasaan Timur. Tetapi sejarah tidak
sesederhana itu.
Roma bukan hanya kota kekaisaran. Roma adalah kota darah
Petrus dan Paulus.
Kekaisaran memberi panggung. Martir memberi altar. Politik
memberi jalan. Kesaksian apostolik memberi legitimasi.
Itulah sebabnya Roma tetap memiliki bobot yang tidak dapat
dipindahkan begitu saja oleh dekrit kaisar. Konstantinopel memiliki istana.
Roma memiliki makam para rasul. Konstantinopel memiliki tembok. Roma memiliki
memori apostolik. Konstantinopel memiliki kaisar. Roma memiliki Petrus.
Dan dalam logika Katolik, suksesi apostolik bukan sekadar
kesinambungan administratif, melainkan kesinambungan sakramental, doktrinal,
dan eklesial. Gereja tidak berdiri di atas ingatan sentimental, melainkan atas
otoritas yang diturunkan.
3. Perkembangan Doktrin Tidak Sama dengan Pemalsuan
Argumen yang sering dipakai begini: kepausan Abad
Pertengahan berbeda dari pelayanan Petrus pada abad pertama; maka kepausan itu
palsu.
Argumen ini dangkal.
Dengan logika yang sama, doktrin Trinitas juga harus
dibuang. Sebab istilah homoousios, rumusan teknis konsili, dan bahasa
metafisis tentang pribadi dan kodrat semuanya tidak muncul dalam bentuk manual
yang sistematis pada abad pertama. Tetapi Kekristenan ortodoks menerimanya
karena tahu membedakan antara wahyu sebagai benih dan dogma sebagai formulasi
matang.
Maka prinsipnya sederhana: perkembangan yang tidak otomatis
berarti penyimpangan.
Agar jelas: perkembangan organik terjadi ketika sesuatu
tumbuh sesuai kodratnya. Biji menjadi pohon. Anak menjadi dewasa. Syahadat
berkembang menjadi formula konsili. Demikian pula, pelayanan Petrus berkembang
menjadi struktur kepausan.
Yang perlu dibuktikan bukan apakah kepausan telah berubah
secara historis. Tentu berubah. Yang perlu ditanyakan adalah: apakah perubahan
itu tetap setia pada prinsip awalnya? Dalam pembacaan Katolik, jawabannya ya.
Kepausan merupakan perkembangan organik dari mandat Petrus.
4. Mengapa Secara Filosofis Perlu Ada Paus?
Di sini kita masuk ke lapisan terdalam tesis ini. Kepausan
bukan hanya soal kutipan ayat. Ia menyentuh metafisika Gereja.
Gereja Katolik memahami Gereja bukan sebagai federasi opini
religius, melainkan sebagai satu tubuh yang kelihatan. Kalau Gereja adalah
tubuh, maka kesatuan tidak cukup bersifat abstrak. Tubuh membutuhkan prinsip
kesatuan yang tampak. Jiwa menyatukan tubuh dari dalam; struktur menyatakan
kesatuan itu dari luar. Tanpa prinsip kesatuan yang jelas, Gereja berubah
menjadi kumpulan komunitas yang kebetulan memakai Kitab Suci yang sama, tetapi
hidup dalam kesimpulan yang saling bertabrakan.
Sementara itu, banyak tradisi Kristen lain—terutama dalam
eklesiologi Protestan—memahami Gereja sebagai persekutuan spiritual yang
esensial, bersatu oleh iman kepada Kristus, tanpa memerlukan otoritas
institusional tunggal yang tampak. Bagi mereka, kesatuan terutama ada pada Roh
Kudus dan Kitab Suci, sehingga struktur otoritatif seperti kepausan sering
dianggap tidak diperlukan dan bahkan berpotensi mengekang kebebasan rohani atau
nalar kritis jemaat. Ada juga yang berpendapat bahwa keberagaman tafsir dan ekspresi
iman merupakan kekayaan Gereja yang tidak harus diatasi melalui sistem
sentralisasi.
Dalam pengalaman konkret umat Katolik, prinsip kesatuan ini
tampak nyata dalam liturgi yang sama dirayakan di seluruh dunia, dalam ajaran
iman yang seragam, serta dalam kepatuhan terhadap otoritas moral Gereja.
Misalnya, umat Katolik di Indonesia, Afrika, maupun Eropa menerima Ekaristi
yang sama, mendoakan Syahadat yang sama, dan merujuk pada ajaran sosial serta
moral yang sama, sehingga iman tidak menjadi urusan pribadi yang terlepas dari
tubuh Gereja melainkan sungguh mengalir dari sumber yang satu. Kesatuan yang
kelihatan ini memastikan umat tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan.
Secara filosofis, pluralitas membutuhkan prinsip unifikasi.
Banyak anggota membutuhkan bentuk. Banyak suara membutuhkan harmoni. Banyak
tafsir membutuhkan ukuran. Tanpa prinsip pengikat, pluralitas menjadi
fragmentasi.
Inilah problem mendasar model eklesiologi anti-papal: ia
ingin kesatuan Gereja, tetapi menolak prinsip kelihatan yang menjaga kesatuan
tersebut. Ia ingin ortodoksi, tetapi menyerahkan keputusan akhir kepada tafsir
lokal. Ia ingin Gereja universal, tetapi hidup dalam logika denominasi.
Paus diperlukan bukan karena umat Katolik menyukai monarki,
melainkan karena Gereja sebagai realitas yang kelihatan membutuhkan prinsip
kelihatan demi kesatuan. Itulah inti pertanyaannya.
Dalam metafisika klasik, setiap kesatuan majemuk membutuhkan
prinsip formal. Tanpa forma, materi tercerai-berai. Gereja terdiri dari banyak
bangsa, bahasa, ritus, budaya, teolog, uskup, imam, dan umat. Kalau semuanya
hanya dibiarkan berjalan berdasarkan tafsir masing-masing, maka yang muncul
bukan Katolik, melainkan Babel yang memakai nama Yesus.
Paus adalah prinsip formal kesatuan Gereja pada tingkat yang
tampak. Bukan menggantikan Kristus, melainkan melayani Kristus. Bukan sumber
wahyu baru, melainkan penjaga deposit iman. Bukan pemilik gereja, melainkan
hamba para hamba Allah. Karena itu, Kepausan menjawab kebutuhan akan kesatuan
Gereja yang tampak.
5. Paus sebagai Jawaban atas Krisis Tafsir
Dalam Protestantisme, masalah utamanya bukan kurangnya
Alkitab. Justru Alkitab ada. Masalahnya adalah tidak adanya otoritas final yang
terlihat untuk menentukan tafsir yang mengikat bagi seluruh Gereja.
Akibatnya, setiap komunitas dapat berkata: “Kami hanya
mengikuti Alkitab.” Tetapi hasilnya berbeda-beda: baptisan bayi diterima atau
ditolak; Ekaristi real presence atau simbol; keselamatan bisa hilang atau
tidak; episkopasi perlu atau tidak; perempuan boleh ditahbiskan atau tidak;
moral seksual berubah atau tetap; liturgi sakramental atau panggung konser.
Semua mengaku kembali kepada Kitab Suci. Namun, “Kitab Suci
saja” ternyata tidak pernah berjalan sendiri. Ia selalu dibaca melalui tradisi
tertentu, metode tertentu, otoritas tertentu, dan asumsi metafisis tertentu.
Di sinilah paus menjadi simbol kontradiksi. Ia mengganggu
ego tafsir privat. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa iman Kristen bukan proyek
individu cerdas yang membaca teks sendirian di kamar, melainkan iman Gereja
yang diterima, dijaga, dan diteruskan.
Tanpa Petrus, gereja mudah berubah menjadi republik tafsir.
Setiap orang membawa Alkitab, tetapi diam-diam duduk di takhta kecilnya
sendiri.
6. Konsili dan Paus: Bukan Musuh, Melainkan Struktur
Komuni
Transkrip itu menyinggung Konsili Nicea, Konstantinus, dan
pembentukan struktur gerejawi. Ini penting. Namun, kesimpulan yang harus
ditarik bukan bahwa Gereja diciptakan oleh kaisar. Konstantinus memang memberi
kondisi politik bagi konsili, tetapi ia bukan sumber iman. Kaisar dapat
memanggil uskup untuk berkumpul; ia tidak dapat menciptakan kebenaran Trinitas.
Konsili adalah tindakan Gereja. Paus adalah prinsip kesatuan
Gereja. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Tanpa konsili, paus bisa disalahpahami sebagai monarki
individual. Tanpa paus, konsili dapat jatuh menjadi parlemen teologis. Dalam
Katolik, kebenaran dijaga dalam relasi antara kepala dan tubuh, antara Petrus
dan para rasul, serta antara Uskup Roma dan kolegium para uskup.
Di sini tampak keindahan arsitektur Katolik: bukan demokrasi
tafsir, bukan absolutisme individual, melainkan komunitas yang hierarkis.
Gereja bukan kerumunan. Gereja juga bukan tirani. Gereja adalah tubuh yang
memiliki struktur.
7. Skandal Sejarah Tidak Membatalkan Hakikat
Bagaimana dengan Avignon? Bagaimana dengan paus-paus buruk?
Bagaimana dengan intrik politik, negara kepausan, Donatio Constantini, skisma
Barat, korupsi, indulgensi, dan segala lumpur sejarah? Gereja tidak menyangkal
realitas skandal ini, tetapi secara resmi menanggapinya melalui reformasi,
konsili, pembaruan hukum kanonik, dan tindakan disipliner. Misalnya, Konsili
Trente menegaskan kembali ajaran dan memperbarui disiplin Gereja setelah krisis
Reformasi, dengan mengatur ulang pendidikan seminari, memperketat disiplin
rohani para imam, serta membatasi penyalahgunaan indulgensi yang sempat memicu
kritik keras dari dalam maupun luar Gereja. Dalam peristiwa Skisma Barat,
setelah puluhan tahun kepemimpinan ganda dan klaim paus tandingan, Gereja
memanggil Konsili Konstanz (1414-1418) yang secara nyata mengakhiri perpecahan
dengan memilih satu paus yang sah dan membangun kembali persatuan Gereja.
Selain itu, reformasi internal juga tampak dalam tindakan paus-paus pembaru
seperti Paus Gregorius VII yang pada abad ke-11 memulai reformasi besar-besaran
melawan simoni dan praktik nikah klerus, serta menegaskan kembali kemurnian
hidup dalam Gereja. Tindakan-tindakan ini memberi bukti konkret bahwa Gereja
tidak tinggal diam dalam menghadapi skandal, melainkan selalu mencari pemurnian
agar tetap setia pada Injil.
Jawabannya tegas: semua itu skandal, tetapi bukan
pembatalan.
Kelemahan pemegang jabatan tidak otomatis membatalkan
jabatan. Petrus menyangkal Kristus, tetapi mandatnya tidak dicabut. Yudas
mengkhianati, tetapi kerasulan tidak menjadi palsu. Imam bisa berdosa, tetapi
sakramen tidak kehilangan hakikatnya karena dosa pribadi pelayannya.
Gereja Katolik tidak membangun apologetika dengan
berpura-pura bahwa semua paus suci. Tidak. Itu apologetika anak kecil. Ada paus
agung, ada paus lemah, ada paus politis, ada paus yang menjadi luka bagi
Gereja. Tetapi justru di situlah paradoks Katolik: Gereja tetap hidup bukan
karena manusia-manusianya selalu baik, melainkan karena Kristus setia pada
janji-Nya.
Perahu Petrus sering retak. Tetapi tidak karam.
8. Kepausan dan Realisme Katolik
Pada tingkat terdalam, penolakan terhadap paus sering lahir
dari metafisika yang keliru: Gereja dipandang terutama sebagai komunitas
spiritual yang tak kelihatan, bukan sebagai tubuh historis-sakramental. Kalau
Gereja hanya realitas batin, maka otoritas yang tampak memang mengganggu.
Tetapi kalau Gereja adalah sakramen keselamatan, yaitu realitas ilahi yang
hadir dalam tanda historis, maka otoritas yang kelihatan bukan tambahan yang
asing. Ia adalah bagian dari logika inkarnasi.
Kristus sendiri tidak menyelamatkan manusia sebagai ide
abstrak. Ia menjadi daging. Ia berbicara dengan suara manusia. Ia memilih
rasul. Ia menyentuh orang sakit. Ia makan bersama murid. Ia mendirikan gereja
yang kelihatan.
Inkarnasi adalah penghinaan bagi kaum spiritualis yang
bersifat abstrak. Mereka ingin Allah tanpa tubuh, iman tanpa tradisi, Kitab
Suci tanpa Gereja, Kristus tanpa sakramen, dan kesatuan tanpa otoritas. Tetapi
Kekristenan tidak lahir sebagai ide melayang. Ia lahir sebagai tubuh yang
berdarah.
Maka paus masuk dalam logika inkarnasional. Ia bukan
pengganti Kristus dalam arti kompetitif. Paus, menurut ajaran resmi Gereja
Katolik, adalah Wakil Kristus di bumi (Vicarius Christi) yang melayani dan
memelihara Gereja atas nama Kristus, tanpa menggantikan kepemimpinan ilahi
Kristus. Sebagaimana ditegaskan dalam Lumen Gentium 22-23 dan 27, serta dalam
Katekismus Gereja Katolik (KGK 882), Paus adalah prinsip dan dasar abadi serta
kelihatan dari kesatuan para uskup maupun seluruh kaum beriman. Ia adalah tanda
yang jelas bahwa Kristus menggembalakan Gereja-Nya melalui instrumen historis.
9. Inti Apologetiknya
Maka katekese ini dapat diringkas dalam beberapa tesis:
Pertama, kepausan memang berkembang dalam sejarah, tetapi
perkembangan historis tidak membatalkan asal-usul apostoliknya.
Kedua, Roma tidak menjadi pusat hanya karena politik
kekaisaran, tetapi juga karena kesaksian Petrus dan Paulus, serta karena
tindakan awal Uskup Roma yang melampaui batas-batas lokal.
Ketiga, Gereja sebagai tubuh kelihatan membutuhkan prinsip
kesatuan kelihatan. Tanpa itu, kesatuan menjadi slogan spiritual yang tidak
berstruktur.
Keempat, paus bukan sumber wahyu, melainkan pelayan deposit
iman.
Kelima, skandal paus-paus tertentu melukai Gereja, tetapi
tidak menghancurkan hakikat jabatan Petrus.
Keenam, anti-papalisme pada akhirnya sering kali bukan
sekadar keberatan historis, melainkan keberatan metafisis terhadap Gereja
sebagai tubuh yang tampak, hierarkis, sakramental, dan apostolik.
Penutup: Batu Karang di Tengah Lumpur Sejarah
Kepausan bukan cerita tentang manusia-manusia yang sempurna.
Kepausan adalah cerita tentang janji Kristus yang melintasi manusia-manusia
yang rapuh. Maka, sekalipun sejarah Gereja penuh suka dan duka, kekuatan dan
kelemahan, janganlah kehilangan kepercayaan pada janji Kristus yang setia. Iman
kepada-Nya memampukan kita untuk tetap berharap, tetap berpegang pada
Gereja-Nya, dan tetap percaya bahwa di tengah segala keterbatasan manusiawi,
Tuhan tetap menuntun perahu Petrus menuju keselamatan. Percayalah, janji
Kristus tidak pernah gagal.
Dari Galilea ke Roma. Dari Simon nelayan ke Petrus batu
karang. Dari makam martir ke basilika. Dari Klemens yang menegur Korintus
sampai paus modern yang berbicara kepada dunia. Dari konsili, skisma, perang,
Avignon, reformasi, revolusi, sampai abad digital — satu garis tetap tampak:
Gereja membutuhkan prinsip kesatuan yang lebih kuat daripada selera zaman dan
lebih kokoh daripada tafsir pribadi.
Paus bukan hiasan Katolik. Ia bukan aksesori Roma. Ia bukan
sisa feodalisme yang kebetulan selamat.
Ia adalah tanda historis dari kebutuhan ontologis Gereja:
bahwa tubuh harus satu, iman harus terjaga, dan kawanan tidak boleh dibiarkan
tercerai-berai menjadi ribuan kandang kecil yang masing-masing mengaku paling
alkitabiah.
Batu karang memang tidak selalu bersih. Kadang tertutup
debu, lumpur, darah, dan air mata sejarah.
Tetapi batu karang tetap batu karang.
Dan gereja yang dibangun di atasnya tetap berdiri.




