Masalahnya: Injil Mengatakan
Kristus Menderita, Teologi Mengatakan Allah Impassible
Injil tidak berbicara samar-samar
tentang penderitaan Yesus. Ia lapar, haus, letih, menangis, merasa gentar,
ditolak, dikhianati, disalibkan, dan mati. Yesus sendiri menubuatkan
penderitaan-Nya:
“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua,
imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari
ketiga.”
— Lukas 9:22
Tetapi di sinilah muncul persoalan klasik dalam teologi Kristen: Gereja juga
mengajarkan bahwa Allah itu tidak berubah, tidak dapat rusak, tidak dapat mati,
dan tidak dapat menderita. Inilah yang disebut divine impassibility, atau
impassibilitas ilahi.
Maka problemnya dapat dirumuskan begini:
1.
Yesus adalah Allah.
2.
Allah tidak dapat menderita.
3.
Yesus sungguh menderita.
Sepintas, tiga pernyataan ini
tampak saling bertabrakan. Jika Yesus adalah Allah, dan Allah tidak dapat
menderita, bagaimana mungkin Yesus sungguh menderita? Apakah penderitaan
Kristus hanya sandiwara? Tidak. Apakah keilahian-Nya ikut luka, berubah, dan mati?
Juga tidak.
Jawaban Katolik bukan dengan melemahkan salah satu pernyataan itu, melainkan
dengan menjernihkan metafisikanya: siapa yang menderita, dan menurut natur apa
Ia menderita.
Di titik inilah banyak kekacauan
muncul. Tidak sedikit orang modern—termasuk sebagian teolog dan umat
Kristen—yang berpikir bahwa jika dikatakan "Allah menderita," itu
berarti hakikat ilahi berubah menjadi rapuh, terbuka bagi luka, atau bergolak
oleh emosi seperti manusia. Pandangan ini terus bertahan, sebagian karena
pengaruh budaya yang menekankan pengalaman emosional sebagai tanda keaslian
kasih, dan juga karena sulitnya memahami istilah metafisik klasik dalam konteks
zaman sekarang.
Namun, pemahaman demikian adalah
keliru dan tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Sebaliknya, ada juga
kesalahpahaman lain yang tidak kalah kuat hari ini, yaitu menganggap "yang
menderita hanya manusia Yesus, bukan Logos"—seolah penderitaan Kristus
sepenuhnya terpisah dari Pribadi ilahi. Bahaya ini justru jatuh ke arah
Nestorianisme, ajaran yang memisahkan Kristus menjadi dua pribadi, seolah-olah
ada dua subjek dalam Kristus. Kedua pandangan keliru ini terus hidup hingga
sekarang karena muncul dari kebingungan antara natur dan pribadi serta
keterbatasan bahasa manusia dalam menghadapi misteri ilahi.
Argumen dalam katekese ini
bertujuan untuk menanggapi kesalahpahaman tersebut secara langsung, dengan
menjelaskan pembedaan metafisik yang diajarkan Gereja dan menegaskan bagaimana
iman Katolik justru menghindari dua ekstrim tersebut.
Gereja Katolik menjaga keduanya:
Allah Putra sungguh menderita, tetapi Ia menderita menurut natur manusia-Nya,
bukan menurut natur ilahi-Nya.
Inilah jantung persoalannya.
Apa Itu Divine Impassibility?
Divine impassibility berarti
Allah tidak dapat dikenai penderitaan, perubahan pasif, kerusakan, luka, atau
kematian dalam hakikat ilahi-Nya.
Ini bukan berarti Allah dingin,
kaku, jauh, atau tidak peduli. Impassibilitas bukan ketidakpedulian. Justru
sebaliknya: Allah tidak dikuasai penderitaan karena Ia adalah kepenuhan Ada,
kepenuhan hidup, dan kepenuhan kasih. Pemahaman ini memberi penghiburan besar
kepada orang beriman: Allah yang tidak menderita secara pasif bukan berarti Ia
tidak memahami atau tidak peduli terhadap penderitaan kita. Justru, karena
kasih-Nya sempurna dan tidak berubah, kita dapat percaya bahwa Dia selalu hadir
dan setia, apapun keadaan yang kita alami. Ketika manusia menderita, ia tidak
berjumpa dengan Allah yang tertutup atau tak tersentuh, melainkan dengan Allah
yang kasih-Nya tidak terguncang oleh apapun yang terjadi di dunia. Inilah
sumber kekuatan dan penghiburan di tengah penderitaan.
Dalam teologi klasik, terutama
dalam garis St. Agustinus, St. Anselmus, dan St. Thomas Aquinas, Allah dipahami
sebagai ipsum esse subsistens, Ada itu sendiri yang subsisten. Allah bukan satu
makhluk besar di antara makhluk lain. Allah bukan “objek paling kuat” dalam
semesta. Allah adalah sumber segala keberadaan.
Karena Allah adalah Ada murni, Ia tidak memiliki potensi pasif yang perlu
disempurnakan. Semua makhluk berubah karena mereka belum penuh. Mereka bergerak
dari potensi menuju aktualitas. Benih menjadi pohon. Anak menjadi dewasa. Orang
lapar menjadi kenyang. Orang bodoh menjadi tahu. Semua perubahan menunjukkan
bahwa sesuatu belum memiliki kesempurnaan tertentu lalu menerimanya.
Tetapi Allah bukan makhluk yang
sedang menuju kesempurnaan. Allah adalah kesempurnaan itu sendiri. Ia tidak
menjadi lebih baik, lebih bijak, lebih hidup, lebih kasih, atau lebih Allah. Ia
adalah Dia yang “Ada” secara penuh.
Karena itu Allah tidak berubah. St. Thomas Aquinas membahas hal ini dalam Summa
Theologiae I, q.9: Allah tidak berubah karena Ia adalah aktus murni, tanpa
potensi pasif. Dalam Allah tidak ada komposisi antara apa yang sudah aktual dan
apa yang masih menunggu untuk diaktualkan.
Dari sini impassibilitas dapat
dipahami.
Menderita berarti mengalami suatu
bentuk perubahan pasif: sesuatu menimpa diri, melukai, mengurangi, menekan,
atau merampas keadaan normal subjek yang mengalaminya. Dalam penderitaan ada
unsur “dipengaruhi dari luar”. Ada sesuatu yang terjadi pada seseorang sehingga
ia mengalami rasa sakit, kehilangan, luka, atau kematian.
Tetapi Allah, sebagai Ada murni,
tidak dapat dikenai perubahan pasif seperti itu. Tidak ada sesuatu di luar
Allah yang dapat menyerbu Allah, melukai Allah, mengurangi Allah, atau membuat
Allah kehilangan sesuatu. Allah bukan bagian dari jaringan sebab-akibat dunia.
Ia adalah sebab pertama dari seluruh keberadaan.
Maka, ketika Gereja berkata “Allah impassible”, maksudnya bukan: Allah tidak
mengasihi. Maksudnya: Allah tidak dapat dirusak oleh apa pun, tidak dapat
dikalahkan oleh penderitaan, dan tidak dapat mengalami kematian dalam hakikat
ilahi-Nya.
Allah bukan rapuh. Allah bukan
makhluk tragis. Allah bukan dewa pagan yang bisa terluka oleh nasib. Allah
adalah Tuhan.
Mengapa Impassibilitas Justru
Membela Kesempurnaan Kasih Allah?
Banyak orang modern merasa
terganggu dengan impassibilitas. Mereka membayangkan: kalau Allah tidak
menderita, berarti Allah tidak berbelas kasih.
Kalau Allah tidak terluka,
berarti Ia tidak mencintai. Ini kesalahan sentimental zaman modern: mengira
kasih harus berarti rapuh secara emosional. Padahal kasih Allah lebih dalam
daripada emosi yang naik turun. Pada manusia, kasih sering bercampur dengan
kegelisahan, kebutuhan, ketakutan kehilangan, dan luka batin. Kita mencintai
sambil gemetar karena kita terbatas. Tetapi Allah mencintai bukan karena
kekurangan. Allah mencintai karena Ia adalah Kasih.
Kasih Allah tidak reaktif,
melainkan kreatif. Ia tidak mengasihi karena digerakkan oleh sesuatu di luar
diri-Nya, seolah-olah ciptaan memancing emosi Allah. Ia mengasihi karena
kebaikan-Nya sendiri meluap secara bebas. Maka impassibilitas bukan lawan kasih.
Impassibilitas adalah kemurnian kasih Allah.
Allah tidak perlu dilukai supaya dapat mengasihi. Allah tidak perlu menjadi
korban perubahan batin supaya dapat berbelas kasih. Dalam bahasa klasik: belas
kasih Allah bukan perubahan emosional dalam Allah, tetapi tindakan Allah yang
mengangkat makhluk keluar dari kesengsaraannya.
St. Thomas Aquinas mengatakan
bahwa belas kasih secara paling sempurna ada pada Allah, bukan sebagai
penderitaan emosional, melainkan sebagai tindakan yang menghapus kekurangan
makhluk (Summa Theologiae I, q.21, a.3). Dengan kata lain: pada manusia, belas
kasih sering terasa sebagai luka batin; pada Allah, belas kasih adalah kuasa
penyelamatan.
Allah tidak menjadi lebih penuh
kasih setelah melihat manusia jatuh. Allah sejak kekal adalah kasih. Dosa tidak
mengubah Allah. Dosa mengubah relasi manusia terhadap Allah. Keselamatan bukan
Allah yang tiba-tiba belajar mengasihi, melainkan manusia yang ditarik kembali
ke dalam kasih yang sejak kekal telah ada.
Di sini teologi klasik jauh lebih kokoh daripada sentimentalitas modern. Allah
yang dapat berubah karena penderitaan bukan Allah yang lebih dekat. Ia justru
Allah yang lebih lemah. Kalau Allah dapat dilukai dalam hakikat-Nya, maka Allah
membutuhkan perlindungan dari ciptaan. Itu bukan Allah Kitab Suci. Itu dewa
mitologi.
Apakah Yesus Sungguh Allah?
Masalah impassibilitas hanya
muncul karena Gereja dengan tegas mengakui bahwa Yesus bukan sekadar nabi, guru
moral, atau manusia religius yang luar biasa. Yesus adalah Allah Putra yang
menjadi manusia.
Kesaksian Kitab Suci amat kuat.
Prolog Injil Yohanes berkata:
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman
itu adalah Allah.”
— Yohanes 1:1
Lalu Yohanes melanjutkan:
“Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita.”
— Yohanes 1:14
Di sini Kristus disebut Logos. Dalam bahasa Yunani, Logos berarti Firman,
Rasio, Prinsip makna, Sabda kreatif Allah. Tetapi Yohanes tidak sedang
berbicara tentang konsep abstrak. Logos itu “menjadi daging”. Artinya: Pribadi
ilahi yang kekal sungguh mengambil natur manusia.
Maka inkarnasi bukan Allah
berubah menjadi manusia. Inkarnasi bukan keilahian berubah menjadi daging.
Inkarnasi adalah Allah Putra mengambil natur manusia ke dalam kesatuan
Pribadi-Nya.
Injil Matius juga mencatat
pengakuan Petrus:
“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”
— Matius 16:16
Yesus tidak menolak pengakuan itu. Sebaliknya, Ia menyatakan bahwa pengakuan
tersebut berasal dari Bapa.
Dalam Markus 14:61–64, ketika Imam Besar bertanya apakah Yesus adalah Mesias,
Anak dari Yang Terpuji, Yesus menjawab:
“Akulah Dia. Dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang
Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
Jawaban ini menggabungkan gambaran dari Daniel 7 dan Mazmur 110: figur Anak
Manusia yang menerima kuasa ilahi dan duduk di sebelah kanan Allah. Karena itu
Mahkamah Agama menuduh-Nya menghujat. Mereka mengerti implikasi klaim-Nya.
Yohanes 10:30 lebih tajam lagi:
“Aku dan Bapa adalah satu.”
Orang-orang Yahudi segera mengambil batu untuk melempari Dia karena mereka
mengerti klaim itu sebagai penyamaan diri dengan Allah.
Maka Gereja tidak menciptakan keilahian Kristus dari udara kosong. Gereja
mengakui, menjaga, dan merumuskan apa yang sudah terkandung dalam kesaksian
apostolik: Yesus Kristus adalah Tuhan.
Konsili Nicea I tahun 325
menegaskan bahwa Putra adalah “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah
benar dari Allah benar, sehakikat dengan Bapa” (homoousios tō Patri). Dalam
syahadatnya, Konsili Nicea menulis: "Kita percaya... kepada satu Tuhan
Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal... yang dilahirkan, bukan diciptakan,
sehakikat dengan Bapa." Kemudian, Konsili Kalsedon tahun 451 merumuskan
secara eksplisit, "Mengakui satu dan sama Kristus, Tuhan, Anak Tunggal,
dikenal dalam dua natur, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian,
tanpa pemisahan... Perbedaan kedua natur itu tidak dihapuskan oleh persatuan,
melainkan sifat masing-masing tetap terpelihara dan bertemu dalam satu Pribadi
dan satu Hypostasis."
Selain kedua konsili tersebut,
Konsili Efesus tahun 431 juga sangat penting karena menolak pemisahan pribadi
dalam Kristus dan menegaskan Maria sebagai Theotokos, Bunda Allah, untuk
menegaskan kesatuan Pribadi ilahi dalam Kristus. St. Cyril dari Alexandria
menyatakan: "Kita tidak mengatakan bahwa Logos sendiri berubah menjadi
daging atau diubah menjadi manusia seutuhnya, melainkan bahwa Firman, dengan
menyatukan secara tak terpisahkan daging yang berjiwa rasional kepada diri-Nya
sendiri, menjadi manusia..." (St. Cyril, "Second letter to
Nestorius"). Para Bapa Gereja seperti St. Athanasius dan khususnya St.
Cyril dari Alexandria juga membela ajaran ini melalui tulisan-tulisan mereka
yang menekankan bahwa Firman yang satu menjadi manusia sungguh-sungguh tanpa
kehilangan keilahian, dan bahwa pengalaman manusia Kristus sungguh layak
dipredikasikan kepada Putra Allah.
Ini penting: Kristus bukan
setengah Allah setengah manusia. Ia bukan manusia yang ditempeli keilahian. Ia
bukan Allah yang pura-pura menjadi manusia. Ia adalah satu Pribadi ilahi, Allah
Putra, yang memiliki dua natur: ilahi dan manusiawi.
Apakah Yesus Sungguh Menderita?
Ya. Gereja tidak pernah
mengajarkan bahwa penderitaan Yesus hanya tampak seolah-olah terjadi. Itu
ajaran sesat lama bernama doketisme: Kristus hanya “kelihatan” manusia, hanya
“kelihatan” menderita.
Iman Katolik menolak itu.
Yesus sungguh memiliki tubuh
manusia, jiwa manusia, kehendak manusia, akal budi manusia, afeksi manusia, dan
kapasitas manusiawi untuk menderita. Ia bukan mengenakan kemanusiaan seperti
orang mengenakan kostum panggung. Ia sungguh menjadi manusia.
Katekismus Gereja Katolik
menegaskan bahwa Putra Allah bekerja dengan tangan manusia, berpikir dengan
akal budi manusia, bertindak dengan kehendak manusia, dan mengasihi dengan hati
manusia. Ini sejalan dengan ajaran Gaudium et Spes 22.
Maka ketika Yesus lapar, itu
lapar sungguhan. Ketika Ia haus di salib, itu haus sungguhan. Ketika Ia
menangis di makam Lazarus, itu duka manusiawi yang nyata. Ketika Ia berkata,
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, itu bukan sandiwara liturgis.
Itu jeritan manusiawi dari Sang Putra yang memikul kedalaman dosa dunia, tanpa
pernah terpisah dari Bapa dalam keilahian-Nya.
Yesus tidak berpura-pura sakit. Salib bukan drama simbolik. Darah-Nya bukan
metafora. Kematian-Nya bukan ilusi. Ia sungguh mati menurut kemanusiaan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik 626 berkata bahwa dalam kematian Kristus, jiwa-Nya
terpisah dari tubuh-Nya, tetapi Pribadi ilahi Putra tetap mempersatukan diri
dengan jiwa dan tubuh yang terpisah itu. Ini sangat penting. Kematian Kristus
sungguh terjadi, tetapi kematian itu tidak membubarkan Pribadi Kristus.
Pribadi-Nya tetap Logos.
Dengan kata lain: yang mati
adalah Kristus. Tetapi Ia mati menurut natur manusia-Nya. Keilahian-Nya tidak
mati. Pribadi-Nya tidak lenyap. Natur ilahi-Nya tidak rusak.
Kunci Jawaban: Persatuan
Hipostatik
Jawaban Gereja terhadap problem
impassibilitas terletak dalam doktrin persatuan hipostatik.
Istilah “hipostatik” berasal dari
kata Yunani hypostasis, yang dalam konteks Kristologi menunjuk pada pribadi
atau subjek subsisten. Persatuan hipostatik berarti bahwa dalam Yesus Kristus
terdapat dua natur, ilahi dan manusiawi, yang bersatu dalam satu Pribadi, yaitu
Pribadi ilahi Sang Logos.
Konsili Kalsedon merumuskannya
dengan sangat hati-hati: Kristus adalah satu dan sama Putra, Tuhan, Anak
Tunggal, dikenal dalam dua natur, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa
pembagian, tanpa pemisahan.
Empat pagar Kalsedon ini penting:
1.
Tanpa percampuran: natur ilahi dan natur manusia
tidak melebur menjadi natur ketiga.
2.
Tanpa perubahan: keilahian tidak berubah menjadi
kemanusiaan, dan kemanusiaan tidak berubah menjadi keilahian.
3.
Tanpa pembagian: Kristus bukan dua pribadi yang
berjalan berdampingan.
4.
Tanpa pemisahan: kemanusiaan Kristus tidak berdiri
sendiri terpisah dari Logos.
Dengan kerangka ini, problem
impassibilitas menjadi jernih.
Kristus adalah satu Pribadi ilahi. Pribadi itulah subjek dari seluruh tindakan
dan pengalaman Kristus. Maka kita dapat berkata secara benar: Allah lahir dari
Perawan Maria; Allah lapar; Allah menangis; Allah menderita; Allah mati di
salib.
Tetapi semua predikat itu harus dimengerti menurut natur manusia yang diambil
oleh Sang Logos. Allah tidak lahir menurut keilahian-Nya. Allah tidak lapar
menurut keilahian-Nya. Allah tidak mati menurut keilahian-Nya. Allah Putra
mengalami semua itu menurut kemanusiaan-Nya.
Inilah prinsip communicatio
idiomatum, komunikasi sifat-sifat: communicatio idiomatum adalah prinsip bahwa
sifat-sifat dari kedua natur dapat dikatakan tentang satu Pribadi, yakni
Kristus sendiri. Karena subjeknya satu, apa yang dialami oleh natur manusia
Kristus dapat dipredikasikan kepada Pribadi ilahi Kristus. Tetapi sifat-sifat
dari satu natur tidak boleh dicampuradukkan dengan sifat-sifat natur lain.
Maka rumusan yang paling tepat adalah:
Satu dari Tritunggal menderita dalam daging.
Formula ini dikenal dalam tradisi
Gereja dan ditegaskan dalam horizon Konsili Konstantinopel II tahun 553: bukan
keilahian yang menderita sebagai keilahian, tetapi Pribadi ilahi Putra sungguh
menderita dalam kemanusiaan yang Ia asumsi.
Kalimat itu menjaga dua kebenaran sekaligus: melawan Nestorianisme dan melawan
Patripassianisme.
Melawan Nestorianisme, Gereja
berkata: yang menderita bukan “manusia Yesus” sebagai subjek terpisah dari
Logos. Yang menderita adalah Sang Putra sendiri.
Melawan Patripassianisme atau
bentuk-bentuk teologi yang mengacaukan Pribadi ilahi, Gereja berkata: Bapa
tidak disalibkan, dan natur ilahi tidak berubah menjadi penderitaan. Yang
menderita adalah Putra, menurut daging.
Kesalahan Umum: Memisahkan Natur
dan Pribadi
Banyak orang berkata: “Yang mati
hanya natur manusia Yesus, bukan Pribadi Logos.”
Kalimat ini perlu dibedah
hati-hati. Kalau maksudnya adalah bahwa keilahian Kristus tidak mati, itu
benar. Tetapi kalau maksudnya adalah bahwa penderitaan dan kematian itu tidak
sungguh dipredikasikan kepada Pribadi Logos, itu keliru.
Natur tidak bertindak sebagai subjek otonom. Natur adalah “apa”-nya sesuatu;
pribadi adalah “siapa”-nya. Dalam Kristus, “apa”-Nya ada dua: Allah dan
manusia. Tetapi “siapa”-Nya satu: Logos, Putra Allah.
Yang lapar bukan “natur manusia”
sebagai subjek mandiri. Yang lapar adalah Kristus menurut natur manusia-Nya.
Yang menangis bukan “natur manusia” sebagai persona kecil di samping Logos.
Yang menangis adalah Sang Putra menurut kemanusiaan-Nya. Yang mati bukan natur
abstrak. Yang mati adalah Yesus Kristus, Sang Putra Allah, menurut tubuh dan
jiwa manusiawi-Nya.
Di sini metafisika menjadi
penjaga iman. Tanpa pembedaan antara natur dan pribadi, orang akan jatuh ke
salah satu jurang.
Jika semua penderitaan Kristus
ditempelkan langsung pada natur ilahi, maka Allah berubah, rusak, dan mati. Ini
mustahil.
Tetapi jika penderitaan Kristus
dijauhkan dari Pribadi Logos, maka salib hanya menjadi penderitaan seorang
manusia yang terhubung secara moral dengan Allah. Ini bukan iman Katolik. Ini
merusak nilai penebusan, sebab yang menebus kita bukan manusia biasa, melainkan
Putra Allah yang menjadi manusia.
Karena itu Gereja berkata dengan presisi:
Kristus menderita sebagai
manusia, tetapi Dia yang menderita adalah Allah Putra.
Salib Tidak Membatalkan
Impassibilitas; Salib Menunjukkan Cara Allah Masuk ke Dalam Penderitaan
Inkarnasi bukan perubahan pada
Allah, melainkan asumsi kemanusiaan oleh Allah Putra.
Allah tidak berubah menjadi
manusia. Allah mengambil manusia. Sang Logos tidak kehilangan keilahian-Nya
ketika mengambil kemanusiaan. Ia tidak turun derajat dalam hakikat-Nya. Ia
tidak menjadi kurang Allah. Ia menambahkan pada diri-Nya, bukan secara komposisi
yang merusak keilahian, melainkan secara pribadi, sebuah natur manusia yang
sungguh nyata.
Bahasa “menambahkan” di sini
harus dimengerti hati-hati: bukan berarti Allah kurang lalu dilengkapi oleh
manusia. Allah tidak membutuhkan kemanusiaan. Tetapi dalam kebebasan kasih-Nya,
Putra mengambil natur manusia sebagai instrumen hidup penebusan.
St. Thomas Aquinas menjelaskan
bahwa dalam inkarnasi tidak terjadi perubahan pada Allah, melainkan perubahan
pada ciptaan: natur manusia mulai berada dalam persatuan pribadi dengan Sang
Sabda (Summa Theologiae III, q.2). Allah tetap Allah. Yang baru adalah bahwa
kemanusiaan Kristus kini subsisten dalam Pribadi Logos.
Analogi sederhana: ketika
matahari menyinari air, matahari tidak berubah menjadi air. Air memperoleh
relasi baru terhadap matahari. Analogi ini terbatas, tentu saja, tetapi
membantu: inkarnasi tidak membuat Allah kehilangan keilahian. Inkarnasi membuat
kemanusiaan Kristus diangkat ke dalam persatuan pribadi dengan Putra.
Analogi lain yang sering dipakai
oleh para teolog adalah hubungan antara jiwa dan tubuh dalam diri manusia. Jiwa
dan tubuh adalah dua realitas yang berbeda, namun bersatu dalam satu pribadi
manusia. Ketika tangan terluka, yang merasakan sakit adalah pribadi manusia itu
sendiri, bukan hanya tubuh atau hanya jiwa secara terpisah. Demikian juga,
dalam Kristus, yang mengalami penderitaan adalah Pribadi ilahi melalui natur
manusia-Nya, tanpa keilahian-Nya terluka. Namun perlu diingat, analogi ini pun
memiliki keterbatasan yang signifikan: dalam manusia, jiwa dan tubuh membentuk
satu natur manusiawi, sedangkan dalam Kristus dua natur—ilahi dan
manusiawi—tetap benar-benar berbeda dan utuh dalam persatuannya. Ada risiko
salah paham jika analogi ini dianggap menyamakan keunikan misteri persatuan
hipostatik dengan kesatuan jiwa dan tubuh manusia.
Perbedaan antara cara natur-natur
Kristus bersatu dan kesatuan jiwa-tubuh dalam manusia jauh lebih besar daripada
persamaannya. Meskipun demikian, analogi ini dapat menolong kita membayangkan,
secara terbatas, bagaimana dua natur tetap bersatu dalam satu subjek, tanpa
membingungkan atau mencampurkannya.
Karena itu salib tidak berarti
Allah kalah oleh penderitaan. Salib berarti Allah, tanpa kehilangan
impassibilitas-Nya, secara bebas mengambil kodrat yang dapat menderita supaya
melalui kodrat itu Ia sungguh masuk ke dalam sejarah manusia.
Ini bukan kelemahan Allah. Ini kuasa kasih Allah.
Allah tidak dapat menderita dalam
keilahian-Nya. Maka Ia mengambil natur yang dapat menderita. Allah tidak dapat
mati dalam keilahian-Nya. Maka Ia mengambil tubuh dan jiwa manusia yang dapat
mengalami kematian. Allah tidak dapat berdarah sebagai Allah. Maka Ia mengambil
darah manusia.
Dan karena Pribadi yang memiliki
darah itu adalah Putra Allah, darah itu memiliki nilai penebusan yang tak
terhingga.
“Jesus Wept”: Air Mata Allah
dalam Daging
“Jesus wept” — “Yesus menangis” —
adalah salah satu ayat paling pendek dalam Kitab Suci, tetapi kandungan
teologisnya sangat dalam.
Di makam Lazarus, Kristus
menangis. Air mata itu bukan bukti bahwa keilahian-Nya rapuh. Air mata itu
bukti bahwa kemanusiaan-Nya nyata. Tetapi karena kemanusiaan itu adalah
kemanusiaan Sang Logos, kita boleh berkata: Allah Putra menangis dalam daging.
Itulah keindahan iman Kristen.
Allah tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan seperti raja yang melempar
dekrit dari istana. Ia masuk ke dalam lumpur sejarah. Ia mengambil tubuh. Ia
punya ibu. Ia punya tangan yang bekerja, kaki yang letih, hati manusia yang
bergetar, dan tubuh yang dapat dipaku.
Tetapi Ia masuk bukan sebagai
korban nasib. Ia masuk sebagai Tuhan.
Salib bukan tragedi yang menimpa Allah. Salib adalah tindakan bebas Sang Putra
yang menyerahkan diri. Yesus berkata:
“Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya
menurut kehendak-Ku sendiri.”
— Yohanes 10:18
Di sini penderitaan Kristus bukan
pasivitas murni. Secara manusiawi Ia sungguh dikenai kekerasan. Tetapi secara
personal Ia tetap bertindak bebas. Ia bukan sekadar korban politik Romawi dan
kebencian religius. Ia adalah Imam dan Kurban sekaligus.
Mengapa Ini Penting untuk Iman?
Doktrin impassibilitas bukan
permainan akademik. Ini menyentuh inti iman.
Pertama, doktrin ini menjaga keallahan Allah. Allah bukan makhluk besar yang
bisa berubah, terluka, panik, dan kalah. Allah tetap Allah: kekal, sempurna,
tidak berubah.
Kedua, doktrin ini menjaga
realitas inkarnasi. Putra Allah sungguh menjadi manusia. Ia tidak memakai tubuh
semu. Ia sungguh masuk ke dalam kondisi manusia, kecuali dosa.
Ketiga, doktrin ini menjaga
realitas penebusan. Yang mati di salib bukan manusia biasa. Yang mati adalah
Pribadi ilahi Sang Putra menurut kemanusiaan-Nya. Karena itu salib memiliki
nilai ilahi.
Keempat, doktrin ini menjaga
penghiburan Kristen. Ketika manusia menderita, ia tidak berhadapan dengan Allah
yang jauh dan dingin. Ia berhadapan dengan Allah yang dalam Kristus telah
mengambil penderitaan manusia, bukan karena Ia dipaksa, tetapi karena Ia
mengasihi. Doktrin ini meneguhkan bahwa dalam menghadapi penderitaan, orang
Kristen dapat menemukan harapan dan penghiburan yang nyata: Allah sendiri
memahami penderitaan manusia dari dalam, sehingga umat dipanggil untuk
meneladani kasih Kristus dengan membangun solidaritas, menghibur yang luka, dan
membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Pemahaman ini mengubah cara
orang Kristen melihat dan merespons penderitaan—dalam Kristus, penderitaan
bukan hanya kenyataan tragis, tetapi juga ruang bagi kasih, harapan, dan
tindakan belas kasih yang aktif.
Allah tidak kehilangan
impassibilitas-Nya. Tetapi dalam Kristus, Allah sungguh dekat dengan
penderitaan manusia. Ia tidak menjadi rapuh dalam keilahian-Nya; Ia menjadi
manusia agar dapat memikul kerapuhan kita.
Rumusan Kateketis Singkat
Untuk katekese, problem ini dapat diringkas demikian:
1.
Allah dalam hakikat ilahi-Nya tidak dapat berubah,
menderita, rusak, atau mati.
2.
Yesus Kristus adalah Allah Putra yang sungguh
menjadi manusia.
3.
Dalam Kristus ada dua natur: ilahi dan manusiawi.
4.
Dalam Kristus hanya ada satu Pribadi: Sang Logos,
Putra Allah.
5.
Karena memiliki natur manusia, Kristus sungguh
dapat menderita dan mati.
6.
Karena Pribadi-Nya adalah Putra Allah, kita boleh
berkata: Allah Putra menderita dan mati.
7.
Tetapi Ia menderita dan mati menurut natur
manusia-Nya, bukan menurut natur ilahi-Nya.
8.
Maka tidak ada kontradiksi antara impassibilitas
Allah dan penderitaan Kristus.
Formula paling padat:
Allah tidak menderita menurut keilahian-Nya; tetapi Allah Putra sungguh
menderita menurut kemanusiaan yang Ia ambil.
Atau dalam formula klasik:
Satu dari Tritunggal menderita dalam daging.
Penutup: Allah yang Tidak Bisa
Dikalahkan oleh Derita Justru Memikul Derita Kita
Problem divine impassibility
bukan lubang dalam iman Kristen. Ia justru pintu menuju kedalaman misteri
Kristus.
Jika Allah bisa menderita dalam
hakikat ilahi-Nya, maka Allah bukan lagi Allah yang sempurna. Ia menjadi bagian
dari tragedi kosmos. Ia ikut hanyut dalam sungai perubahan. Ia butuh
diselamatkan bersama kita.
Tetapi jika Kristus tidak sungguh
menderita, maka salib menjadi teater kosong. Darah menjadi simbol tanpa daging.
Penebusan menjadi puisi tanpa korban.
Iman Katolik menolak dua-duanya.
Allah tetap impassible dalam
keilahian-Nya. Namun Allah Putra sungguh mengambil kemanusiaan yang passible,
dapat menderita, dapat terluka, dapat mati. Di salib, bukan keilahian yang
hancur, melainkan kemanusiaan Kristus yang dipersembahkan oleh Pribadi ilahi
Sang Putra.
Maka salib bukan bukti bahwa
Allah berubah. Salib adalah bukti bahwa kasih Allah tidak berubah. Dari kekal
Ia mengasihi. Dalam waktu, kasih itu mengambil tubuh. Dalam tubuh itu, Ia
menangis. Dalam tubuh itu, Ia berdarah. Dalam tubuh itu, Ia mati. Dan pada hari
ketiga, tubuh itu bangkit.
Di sana misteri Kristen berdiri:
Allah yang tidak dapat mati, mengambil kemanusiaan agar dapat mati.
Allah yang tidak dapat menderita, mengambil daging agar dapat memikul derita.
Allah yang tidak dapat dikalahkan, masuk ke dalam kematian untuk menghancurkan
kematian dari dalam.
Itulah Kristus.
Bukan Allah yang kehilangan keilahian.
Bukan manusia yang berpura-pura ilahi.
Melainkan Sang Logos yang menjadi daging: impassible dalam keilahian, passible
dalam kemanusiaan, satu Pribadi, satu Tuhan, satu Penebus.
Referensi Singkat
• Kitab Suci: Yohanes 1:1–14; Yohanes 10:30; Yohanes 10:18; Markus 14:61–64;
Matius 16:16; Lukas 9:22; Ibrani 4:15.
• Konsili Nicea I, 325: pengakuan Putra sebagai homoousios dengan Bapa.
• Konsili Kalsedon, 451: Kristus satu Pribadi dalam dua natur, tanpa tercampur,
tanpa berubah, tanpa terbagi, tanpa terpisah.
• Konsili Konstantinopel II, 553: formula teologis “satu dari Tritunggal
menderita dalam daging.”
• Katekismus Gereja Katolik, khususnya 464–469, 470, 475, 626.
• St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae I, q.3; I, q.9; I, q.21; III, q.2; III,
q.46; III, q.50.
• St. Anselmus, Proslogion, terutama gagasan Allah sebagai “Dia yang lebih
besar dari-Nya tidak dapat dipikirkan.”
TUHAN ITU SEDERHANA, TAPI
PEMAHAMAN KITA TERHADAPNYA TIDAK SEDERHANA. Allah itu sederhana, karena Ia
tidak tersusun dari apa pun; tetapi memahami kesederhanaan Allah tidak pernah
sederhana, sebab akal kita memecah cahaya ilahi menjadi banyak warna konsep.
Bagi yang ingin memperdalam tema
kesederhanaan atau impassibilitas Allah, saya merekomendasikan beberapa bacaan
lebih lanjut. Untuk pemahaman klasik, St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae
bagian I, terutama q.3 tentang simplicitas dan q.9 tentang immutabilitas dan
impassibilitas, sangat fundamental. Untuk pembaca kontemporer, karya Paul Helm
berjudul 'Eternal God: A Study of God without Time' dan artikel 'Divine
Impassibility: An Essay in Philosophical Theology' oleh James F. Keating dan
Thomas Joseph White menawarkan dialog modern yang mendalam mengenai misteri
Allah yang tidak berubah dan tidak dapat menderita. Bacaan ini dapat membantu
mengatasi kerumitan konsep metafisika dan membuka wawasan baru bagi peziarah
iman.
Inti tajamnya begini: jangan
katakan “yang menderita hanya natur manusia” seolah natur itu subjek mandiri.
Yang menderita adalah Pribadi Kristus, yaitu Logos, tetapi menurut natur
manusia-Nya. Itulah pagar metafisik yang menjaga iman dari dua jurang: Allah
yang berubah, atau Kristus yang terbelah


