Minggu, 03 Mei 2026

Expo Panggilan di Kupang: Ketika Tuhan Dipamerkan di Tengah Dunia yang Terlalu Bising



Di sebuah sudut Kupang yang panas, kering, dan jujur, Gereja mencoba melakukan sesuatu yang tampak sederhana, tapi sebenarnya penuh ketegangan: memamerkan panggilan. Expo Panggilan 2026 yang berlangsung di Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua menghadirkan berbagai komunitas hidup bakti, memperlihatkan wajah-wajah yang memilih jalan sunyi di tengah dunia yang makin riuh. Di balik bentuk lahiriahnya yang terkesan sebagai kegiatan tahunan biasa, expo ini memuat dinamika teologis yang lebih mendalam. Ketegangan antara keheningan panggilan dan keramaian dunia, misalnya, dapat dibaca sebagai wujud 'kesaksian yang melawan arus' (countercultural witness) yang menjadi ciri khas Gereja: menghadirkan alternatif nilai di tengah arus utama. Bahkan, dalam memilih untuk menampilkan sesuatu yang sangat batiniah di ruang publik, expo ini secara diam-diam mengikuti jalan kenosis, semangat pengosongan diri Kristus, dengan merendahkan keagungan panggilan supaya bisa dijangkau oleh banyak orang. Jadi, jika dipandang lebih jauh, ini bukan sekadar tanda zaman, tetapi juga usaha untuk menahan arus yang sudah lama melampaui kendali tanpa kehilangan akar teologisnya.

Tema yang diangkat tidak main-main: mendengar suara Tuhan di tengah arus media digital. Kalimat ini bukan sekadar slogan rohani. Ia adalah diagnosis. Dunia hari ini bukan kekurangan suara, melainkan kelebihan kebisingan. Informasi berlimpah, tapi makna mengering. Orang tahu banyak hal, tetapi kehilangan arah. Dalam kondisi seperti ini, panggilan tidak lagi terdengar sebagai bisikan yang mengundang, melainkan tenggelam sebagai gema yang kalah oleh notifikasi.

Lalu, bagaimana mungkin seseorang bisa mendengar suara Tuhan di tengah kebisingan zaman? Mungkin langkah pertama adalah berani berhenti sejenak. Menyisihkan lima menit tiap hari tanpa layar, menahan diri untuk tidak langsung merespon setiap notifikasi, atau memulai pagi dengan satu doa singkat yang didaraskan dalam keheningan. Bisa juga dengan mencari tempat sunyi: duduk di pojok kamar, mengunci ponsel, lalu belajar mendengarkan apa yang tersisa setelah suara dunia diredam. Praktik sederhana seperti ini, jika dilakukan secara rutin, perlahan-lahan melatih telinga batin kita supaya peka terhadap suara lembut yang sering terabaikan.

Di titik ini, Expo Panggilan berdiri sebagai semacam perlawanan, meski dalam bentuk yang paradoks. Sebab bagaimana mungkin sesuatu yang hakikatnya lahir dari keheningan justru diperkenalkan melalui sebuah “expo”? Ada ketegangan yang tidak bisa dihindari: panggilan itu personal, batiniah, tidak bisa diproduksi atau direkayasa. Ia bukan produk yang bisa dipasarkan, bukan pilihan hidup yang bisa dibandingkan seperti katalog karier. Panggilan adalah peristiwa yang menimpa seseorang, bukan sesuatu yang ia pilih seperti memilih pekerjaan. 

Dalam konteks ini, kritik teologis dan filosofis terhadap komodifikasi hal-hal sakral layak untuk direnungkan. Banyak pemikir, seperti Karl Rahner, telah menyoroti bahaya jika pengalaman religius direduksi menjadi sekadar tontonan atau konsumsi massa, yang pada akhirnya mengikis keotentikan dan kekuatan transformatif dari pengalaman itu sendiri. Sementara Jean Baudrillard berbicara tentang bagaimana simbol-simbol spiritual dalam masyarakat konsumsi dapat kehilangan maknanya dan menjadi sekadar “simulacra”—salinan tanpa rujukan pada kenyataan asli. Risiko Expo Panggilan terletak di sini: menghadirkan misteri batin dalam kemasan yang mudah dicerna, yang tanpa sadar dapat menjauhkan orang dari kedalaman pengalaman itu sendiri. Dengan demikian, expo ini mengajak kita untuk tetap waspada agar bentuk-bentuk eksternal tidak mengubah panggilan menjadi sekadar barang pajangan, melainkan tetap dijaga sebagai misteri yang menuntut sikap hormat dan keterbukaan batin.

Namun justru karena dunia telah berubah menjadi ruang pameran raksasa, di mana identitas dibentuk oleh apa yang ditampilkan, Gereja terpaksa masuk ke dalam logika itu, meskipun dengan risiko. Seperti yang pernah disoroti oleh Charles Taylor, masyarakat modern sering terjebak dalam "budaya otentisitas" di mana ekspresi diri dan tampilan luar menjadi kunci pembentukan identitas. Begitu pula, Jean Baudrillard memperingatkan bahaya ketika realitas dan makna tenggelam dalam "simulakra" atau rangkaian representasi yang terlepas dari dasar aslinya, sehingga yang sakral pun terancam menjadi sekadar tontonan atau komoditas. Risiko terbesar bukan pada kegagalan acara, tetapi pada reduksi makna. Dalam Expo Panggilan ini, para peserta tidak hanya berjalan di antara deretan stan yang dihiasi atribut komunitas hidup bakti. Mereka bisa berbicara langsung dengan para suster, bruder, atau imam yang menjaga stan, mendengarkan pengalaman hidup mereka dari dekat, atau mengikuti sesi tanya jawab singkat yang berlangsung secara informal. Ada juga berbagai aktivitas kecil, seperti melihat-lihat benda-benda simbolik dari masing-masing komunitas, mencoba kuis reflektif, hingga menuliskan doa atau harapan di papan doa bersama. Selain itu, sesi talkshow dan sharing pengalaman hidup panggilan di panggung utama memberi ruang bagi mereka yang ingin menggali lebih dalam. Semua ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana hidup bakti dijalani sehari-hari. Namun, ketika hidup bakti dipresentasikan dalam stan, brosur, dan testimoni singkat, selalu ada bahaya bahwa yang sakral tergelincir menjadi sekadar representasi. Yang hidup berubah menjadi tampilan. Yang seharusnya dialami, cukup dilihat.

Meski demikian, menolak usaha seperti ini juga berarti menyerah pada arus zaman. Maka yang terjadi di Kolhua bukanlah kompromi, melainkan ketegangan yang harus ditanggung. Di satu sisi, Gereja berbicara dalam bahasa dunia—menggelar acara, menarik perhatian, membangun pengalaman. Di sisi lain, ia mencoba menyampaikan sesuatu yang justru tidak tunduk pada logika dunia itu sendiri: bahwa hidup manusia tidak selesai pada apa yang tampak, dan bahwa ada panggilan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dijalani.

Di balik semua stan dan wajah religius itu, sebenarnya ada satu pertanyaan yang lebih tua dari semua teknologi: untuk apa manusia hidup? Pertanyaan ini tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertimbun. Expo Panggilan tidak menciptakan pertanyaan itu. Ia hanya mencoba menggali kembali apa yang sudah lama terkubur oleh rutinitas dan distraksi.

Kupang, seperti banyak kota lain, mulai berubah. Anak muda menghadapi pilihan hidup yang semakin terbuka, tetapi juga semakin kosong. Namun, konteks lokal Kupang punya dinamika tersendiri. Tradisi komunal yang kuat, relasi keluarga yang erat, serta peranan gerejawi yang masih signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat, menjadi lanskap tempat panggilan hidup bakti diperbincangkan. Meski globalisasi membawa banyak pilihan baru, nilai-nilai lokal—seperti semangat persaudaraan dan penghargaan terhadap pelayanan—membentuk cara orang muda menanggapi panggilan ini. Banyak jalan tersedia, tetapi sedikit yang benar-benar memberi arah. Dalam lanskap seperti ini, panggilan hidup bakti bukan sekadar opsi alternatif. Ia adalah pengingat bahwa hidup tidak diukur dari banyaknya kemungkinan, tetapi dari kesetiaan pada satu suara yang benar.

Coba tanyakan pada diri sendiri: untuk apa kamu hidup? Di tengah berbagai pilihan dan kebisingan yang mengisi hari-harimu, adakah saat-saat di mana kamu benar-benar berhenti dan mendengarkan suara yang mungkin selama ini terabaikan? Mungkin suara Tuhan hadir sebagai pertanyaan sederhana, rasa gelisah, atau dorongan untuk mencari makna yang lebih dalam. Luangkan waktu sejenak untuk merenung, barangkali kamu akan menemukan panggilanmu sendiri di antara riuhnya dunia.

Masalahnya, suara itu tidak pernah berteriak. Ia tidak bersaing dengan dunia. Ia tidak viral. Ia tidak trending. Ia hadir sebagai bisikan—dan hanya bisa didengar oleh mereka yang berani berhenti.

Di situlah letak makna terdalam dari Expo Panggilan ini. Bukan pada jumlah peserta, bukan pada meriahnya acara, bukan pada seberapa menarik presentasi komunitas. Melainkan pada satu hal sederhana yang hampir dilupakan: bahwa di tengah dunia yang terus berbicara, masih ada suara yang tidak memaksa, tetapi memanggil.

Dan siapa pun yang pernah benar-benar mendengarnya tahu satu hal: itu bukan suara dari luar. Itu adalah suara yang selama ini ada tetapi tertutup oleh kebisingan yang kita ciptakan sendiri.

Bagi siapa saja yang ingin melangkah lebih jauh dalam pencarian makna dan panggilan, penting untuk diingat bahwa perjalanan ini tidak harus dijalani sendirian. Banyak komunitas, mentor, dan pembimbing rohani yang siap menemani dan mendengarkan. Di paroki, tersedia juga kelompok-kelompok pendampingan serta kesempatan untuk mengikuti pertemuan lanjutan atau konsultasi bagi mereka yang ingin terus mendalami proses discernment. Tradisi Gereja sendiri telah lama menempatkan pencarian dan peneguhan panggilan dalam kerangka kebersamaan, seperti yang tampak dalam praktik discernment Komunitas Kristiani Perdana maupun spiritualitas Ignatian, di mana refleksi, pendampingan, dan pencermatan pengalaman batin menjadi bagian integral dari menemukan kehendak Tuhan. Dalam semangat ini, jalan pencarian panggilan dipahami bukan sekadar urusan pribadi, namun juga merupakan proses bersama yang didukung oleh tradisi rohani Gereja. Melalui dukungan bersama, siapa pun dapat semakin berani menyelami dan menanggapi suara panggilan itu.

 

0 komentar:

Posting Komentar