Ada satu hal yang selalu mencurigakan dalam sejarah iman: ketika bahasa berubah, biasanya isi sudah lama bergeser. Kita hanya terlambat menyadarinya.
Di Kupang, di bawah matahari yang sama yang dahulu menyinari para nelayan Galilea yang asli—bukan yang direkonstruksi—lahirlah sebuah “inovasi iman.” Kata itu terdengar manis. Seolah Roh Kudus kini bekerja seperti konsultan kreatif: brainstorming, eksekusi, lalu evaluasi dampak sosial-ekonomi.
Dan kita semua bertepuk tangan.
Karena memang begitu cara zaman ini bekerja: sesuatu dianggap bernilai bukan karena benar, tetapi karena berhasil. Berapa orang datang, berapa UMKM bergerak, berapa foto diambil, berapa toleransi dipamerkan. Jika semua indikator terpenuhi, maka—tentu saja—Tuhan pasti hadir. Bukankah demikian logika liturgi versi modern?
Padahal, iman Kristen tidak pernah berdiri di atas metrik.
Ia berdiri di atas satu peristiwa yang keras kepala: Kristus bangkit. Bukan sebagai ide. Bukan sebagai tema tahunan. Bukan sebagai festival yang bisa di-upgrade setiap tahun dengan konsep baru. Ia bangkit sebagai realitas yang tidak membutuhkan panggung, tidak meminta dekorasi, dan tidak tunduk pada proposal kegiatan.
Namun kita, dengan semangat zaman yang progresif, merasa perlu “membantu” Tuhan agar tetap relevan.
Maka lahirlah Prosesi Galilea.
Sebuah usaha yang, jika ditelusuri secara jujur, lebih dekat kepada industri pengalaman daripada tindakan iman. Galilea direplikasi. Perjalanan disusun. Laut dijadikan panggung. Roti dan ikan dihidangkan, bukan sebagai misteri yang menggetarkan ontologi manusia, tetapi sebagai properti simbolik yang hangat untuk difoto.
Dan kita menyebutnya: pendalaman iman.
Padahal yang terjadi lebih sederhana—dan lebih menyedihkan.
Misteri telah diganti dengan pengalaman.
Realitas diganti dengan representasi.
Kehadiran diganti dengan suasana.
Kita tidak lagi masuk ke dalam peristiwa ilahi. Kita menciptakan ulang versi yang terasa cukup religius untuk dikonsumsi bersama.
Seolah-olah kebangkitan Kristus bisa diproduksi ulang seperti drama kolosal.
Dan di titik ini, iman mulai kehilangan gravitasi ontologisnya. Ia menjadi ringan. Terlalu ringan. Begitu ringan sampai bisa diangkat oleh siapa saja, dipakai untuk apa saja, bahkan dihias sesuai kebutuhan acara.
Lihat saja adegan yang dielu-elukan itu: perahu nelayan Muslim dihiasi salib. Indah, kata mereka. Toleran, kata mereka. Harmoni, kata mereka.
Ya, indah—jika kita lupa satu hal kecil: salib bukan simbol netral.
Salib bukan aksesori lintas iman. Ia bukan motif dekoratif yang bisa dipinjam untuk memperkuat narasi kebersamaan. Salib adalah tanda keselamatan yang konkret, lahir dari darah, penderitaan, dan pengorbanan yang spesifik—bukan universal dalam arti sentimental, tetapi universal karena kebenarannya.
Ketika simbol ini dilepas dari realitasnya, ia memang menjadi ramah. Tetapi juga menjadi kosong.
Dan kita menyebut kekosongan itu sebagai toleransi.
Di sinilah ironi modern mencapai puncaknya: kita merayakan harmoni dengan cara mengosongkan makna.
Semua orang tersenyum. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang eksklusif. Semua menjadi inklusif—karena tidak ada lagi yang sungguh-sungguh dipertahankan.
Kebenaran? Terlalu tajam.
Dogma? Terlalu kaku.
Misteri? Terlalu dalam.
Lebih baik kita punya festival.
Dan pemerintah, dengan naluri pragmatisnya, melihat peluang itu dengan sangat jernih. Mereka tidak berbicara tentang keselamatan. Mereka berbicara tentang potensi wisata. Tentang ekonomi. Tentang identitas budaya.
Dan jujur saja—mereka tidak salah.
Jika iman telah direduksi menjadi peristiwa sosial, maka tentu ia bisa dikelola seperti festival lainnya. Bisa dikembangkan, dipromosikan, bahkan di-branding. Tahun ini Prosesi Galilea. Tahun depan mungkin paket wisata “Jejak Kebangkitan Experience 3 Hari 2 Malam.”
Semua sah. Semua mungkin.
Karena pada titik itu, iman sudah tidak lagi menjadi wahyu. Ia telah menjadi produk.
Dan gereja—atau apa pun yang tersisa darinya—berubah menjadi penyelenggara acara.
Namun pertanyaannya sederhana, dan tidak bisa dihindari:
Apakah Kristus sungguh hadir di dalam semua ini?
Atau kita hanya menghadirkan sesuatu yang terasa seperti Kristus?
Karena keduanya tidak sama.
Yang satu adalah realitas yang mengubah keberadaan manusia sampai ke akarnya.
Yang lain adalah pengalaman yang menyenangkan, menghangatkan, lalu selesai ketika acara ditutup.
Dan jika kita jujur, kita tahu mana yang sedang kita pilih.
Bukan karena kita jahat.
Bukan karena kita tidak beriman.
Tetapi karena kita mulai percaya—secara diam-diam—bahwa kebenaran itu terlalu berat untuk zaman ini.
Maka kita menggantinya dengan sesuatu yang lebih ringan. Lebih fleksibel. Lebih bisa dirayakan bersama tanpa gesekan.
Dan di situlah, tanpa banyak suara, iman Kristen mulai bergeser.
Bukan diserang dari luar.
Tetapi dilunakkan dari dalam.
Pelan-pelan. Halus. Hampir tidak terasa.
Sampai suatu hari, kita masih menyebutnya Paskah—
tetapi yang kita rayakan bukan lagi Kebangkitan,
melainkan keberhasilan acara.
0 komentar:
Posting Komentar