Ketika Ikatan Darah Tidak Cukup untuk Menjadi Keluarga:
Sebuah Refleksi tentang Horor, Komunikasi, dan Rahmat
Review film — mengandung spoiler
Film horor tidak selalu meninggalkan kesan karena setannya.
Kadang-kadang yang paling membekas justru manusia-manusia yang berada di tengah
teror itu: seorang ayah yang takut kehilangan anaknya, seorang anak yang tidak
berani mengungkapkan keinginannya, seorang suster yang memahami arti
pengasuhan, atau seorang nenek yang dalam keputusasaan mengambil keputusan
keliru dengan akibat yang panjang.
Kesan semacam itulah yang saya peroleh setelah menonton Kuasa
Gelap: Perjanjian Darah (2026), film horor religius garapan Rizal
Mantovani.
Sebagai film horor, karya berdurasi 117 menit ini cukup
berhasil. Aktingnya kuat, atmosfer supernaturalnya efektif, penggambaran
sejumlah unsur kehidupan Gereja Katolik relatif meyakinkan, dan kehadiran motif
pesugihan membuatnya memiliki identitas lokal yang menarik.
Namun, kekuatan yang paling membekas bagi saya bukanlah
adegan eksorsismenya.
Saya justru menemukan satu tema yang lebih sederhana tetapi
mendalam: komunikasi antarpribadi, terutama dalam hubungan orang tua, anak, dan
mereka yang dipercayakan untuk mengasuh sesamanya.
Film ini memperlihatkan bahwa mencintai seseorang tidak
selalu berarti memahami dirinya. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki
hubungan darah justru dapat menghadirkan cinta yang lebih mampu mendengarkan,
menerima, dan membebaskan.
1. Sebuah Perjanjian Lama yang Menghantui Generasi Baru
Secara garis besar, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mengikuti
Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia) yang menghadapi
kasus kerasukan dengan akar persoalan pada perjanjian darah dalam sejarah
sebuah keluarga.
Teror tersebut berpusat pada Daniel (Venly Arauna), seorang
pemuda yang kehidupan dan relasi keluarganya terganggu oleh kekuatan jahat
bernama Rephaim.
Di balik peristiwa supernatural itu tersimpan rahasia masa
lalu. Setelah kematian suaminya, nenek Daniel menghadapi kesulitan
mempertahankan bisnis perikanan keluarga. Dalam keputusasaan, ketika ia merasa
tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia memilih jalan pesugihan: membuat
perjanjian dengan kekuatan gelap untuk menyelamatkan usahanya.
Perjanjian tersebut menjanjikan keuntungan, tetapi menuntut
tumbal.
Akibatnya tidak berhenti pada generasi yang membuat
perjanjian. Generasi berikutnya harus menghadapi konsekuensi dari keputusan
tersebut.
Di tengah konflik supernatural ini, film mengembangkan
hubungan Daniel dengan ayahnya, Halim (Ferry Salim), serta memperkenalkan peran
Suster Aloysia (Lydia Kandou), seorang pengasuh yang turut memperjuangkan
pertolongan eksorsisme.
Dengan demikian, cerita bergerak melalui dua jalur yang
saling berhubungan: teror akibat perjanjian darah dan persoalan relasi manusia
yang terbentuk oleh cinta, kehilangan, ketakutan, serta kesalahan masa lalu.
Justru jalur kedua itulah yang menurut saya memberikan bobot
emosional kepada film.
2. Daniel dan Halim: Ketika Cinta Orang Tua Kehilangan
Kemampuan Mendengarkan
Salah satu rangkaian adegan yang paling menarik bagi saya
adalah peralihan kehidupan Daniel dari masa kanak-kanak menuju masa remaja.
Pada masa kecil, Daniel tampil sebagai anak yang sangat
membanggakan ayahnya. Kebanggaan Halim memperlihatkan sebuah hubungan keluarga
yang hangat dan mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ketika Daniel beranjak remaja, ketegangan mulai
muncul.
Halim menghendaki Daniel meneruskan bisnis perikanan
keluarga. Baginya, keinginan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk tanggung
jawab sekaligus harapan akan keberlanjutan usaha yang telah dibangun.
Tetapi Daniel mempunyai keinginan lain.
Ia tertarik pada bidang yang berbeda, sementara keinginannya
sendiri tidak cukup berani ia komunikasikan kepada ayahnya.
Di sinilah film memperlihatkan persoalan yang lebih dekat
daripada kerasukan setan: kegagalan komunikasi antara orang tua dan anak.
Saya tidak melihat Halim terutama sebagai seorang ayah yang
egois. Ia lebih tepat dipahami sebagai seorang ayah yang takut kehilangan
anaknya.
Ia begitu mencintai Daniel sehingga tanpa sadar hampir
menjadikan cinta sebagai alasan untuk menentukan seluruh masa depan anaknya.
Ada paradoks dalam cinta semacam ini.
Seseorang ingin melindungi orang yang dicintainya, tetapi
perlindungan itu perlahan berubah menjadi penguasaan.
Ia ingin memberikan yang terbaik, tetapi lupa menanyakan apa
yang sesungguhnya dibutuhkan orang lain.
Cinta yang kehilangan kemampuan mendengarkan dapat berubah
menjadi cara halus untuk menguasai.
Film ini cukup berhasil menghadirkan persoalan tersebut
tanpa mengubahnya menjadi ceramah tentang pendidikan keluarga.
3. Suster Aloysia: Ketika Pengasuhan Tidak Ditentukan oleh
Hubungan Darah
Di sinilah tokoh Suster Aloysia, yang diperankan Lydia
Kandou, menjadi sangat penting.
Bagi saya, ia bukan sekadar tokoh pendamping dalam sebuah
film tentang dua imam dan eksorsisme.
Suster Aloysia menghadirkan sebuah pembanding terhadap
hubungan Halim dan Daniel.
Ia bukan orang tua kandung anak-anak yang diasuhnya, tetapi
memperlihatkan bahwa pengasuhan yang berhasil membutuhkan kehadiran,
kepedulian, komunikasi, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Lebih penting lagi, ia bukan karakter pasif.
Ketika menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan, ia
ikut memperjuangkan agar tindakan eksorsisme dapat dilakukan.
Kepeduliannya bergerak dari perhatian menuju tindakan.
Di tengah orang-orang yang masih terikat oleh ketakutan,
konflik masa lalu, dan pertimbangan masing-masing, Suster Aloysia
memperlihatkan bahwa cinta tidak cukup hanya dirasakan. Cinta juga harus
sanggup mengenali kebutuhan orang lain dan bertindak secara bertanggung jawab.
Perbandingannya dengan Halim cukup menarik.
Halim adalah ayah kandung yang sangat mencintai Daniel,
tetapi mengalami kesulitan mendengarkan keinginan anaknya sendiri.
Suster Aloysia, tanpa hubungan biologis dengan anak-anak
asuhannya, justru mampu menghadirkan relasi pengasuhan yang dibangun melalui
perhatian dan komunikasi.
Tentu situasi keduanya berbeda. Namun, kontras itu
memperlihatkan bahwa hubungan darah tidak otomatis menjamin kualitas relasi.
Hubungan biologis melahirkan tanggung jawab, tetapi
komunikasi dan penerimaanlah yang memungkinkan tanggung jawab tersebut menjadi
hubungan yang sungguh manusiawi.
Di sini pula penampilan Lydia Kandou patut diapresiasi.
Aktingnya matang dan meyakinkan. Ia tidak memerlukan
ekspresi berlebihan untuk menghadirkan kewibawaan, kepedulian, dan keteguhan.
Dalam film yang cukup banyak mengandalkan ekspresi ekstrem
karena kerasukan dan teror, penampilan yang terkendali semacam ini justru
memberikan keseimbangan.
Menurut saya, Lydia Kandou merupakan salah satu kekuatan
akting film ini.
4. Ritme Cerita dan Kepuasan Emosional: Antara Teror dan
Rekonsiliasi
Dengan durasi hampir dua jam, film ini berusaha
menyeimbangkan pengembangan hubungan keluarga, pengungkapan rahasia masa lalu,
dan eskalasi ancaman supernatural.
Secara umum, ritmenya cukup efektif.
Film tidak hanya mengandalkan kejutan visual yang datang
bertubi-tubi. Ia memberikan ruang bagi hubungan antartokoh untuk berkembang,
sehingga penonton mempunyai alasan emosional untuk peduli terhadap keselamatan
mereka.
Adegan masa kecil Daniel, ketegangan ketika ia mulai
mempunyai keinginan berbeda dari ayahnya, dan pengungkapan sejarah perjanjian
darah merupakan bagian dari pembangunan konflik tersebut.
Namun, keseimbangan ini belum sepenuhnya berhasil pada
seluruh jalur cerita.
Motif pesugihan, misalnya, lebih banyak memperoleh
penjelasan melalui penceritaan kembali masa lalu. Keputusan nenek Daniel
setelah kehilangan suaminya mempunyai potensi dramatik yang besar, tetapi tidak
memperoleh pengembangan yang sebanding dengan konflik Daniel dan Halim.
Akibatnya, pengungkapan asal-usul perjanjian darah terasa
lebih sebagai penjelasan mengapa teror terjadi daripada sebagai konflik manusia
yang berkembang secara mandiri.
Persoalan lain muncul pada bagian penyelesaian cerita.
Adegan ketika Halim memberikan tiket kepada Daniel untuk
menempuh pendidikan Arts and Humanities di Jerman merupakan salah satu
momen yang paling bermakna.
Tiket tersebut menjadi simbol perubahan sikap Halim.
Seorang ayah yang semula menginginkan anaknya meneruskan
bisnis keluarga akhirnya bersedia menerima pilihan hidup Daniel.
Namun, secara dramaturgis, penyelesaian ini dapat
diperdebatkan.
Setelah ketegangan supernatural yang besar, rekonsiliasi
berlangsung melalui tindakan yang relatif sederhana. Bagi sebagian penonton,
hal ini mungkin terasa sebagai antiklimaks.
Saya sendiri menganggapnya cukup meyakinkan secara
emosional.
Sebab, keberhasilan sebuah klimaks tidak selalu bergantung
pada ledakan dramatik yang semakin besar. Kadang-kadang, kepuasan emosional
justru datang ketika seorang tokoh akhirnya mampu melakukan sesuatu yang
sebelumnya tidak sanggup dilakukannya.
Halim tidak berhenti mencintai Daniel. Ia belajar mencintai
dengan cara yang lebih dewasa.
Di sinilah film menghasilkan emotional payoff yang
menurut saya cukup berhasil.
Namun, menarik untuk membedakan dua bentuk penyelesaian
tersebut.
Sebagai horor supernatural, klimaksnya masih dapat
dipersoalkan. Sebagai drama rekonsiliasi keluarga, penyelesaiannya justru
memiliki daya emosional yang cukup kuat.
Perbedaan ini sekaligus menjelaskan mengapa film tersebut
mungkin meninggalkan kesan yang berlainan pada penonton yang semata-mata
mencari teror dan penonton yang tertarik pada persoalan manusiawi di baliknya.
5. Pesugihan Nusantara: Ketika Keputusasaan Mengambil Jalan
Pintas
Salah satu kekhasan film ini adalah pertemuan antara tradisi
eksorsisme Katolik dengan motif pesugihan yang telah lama hadir dalam imajinasi
budaya Nusantara.
Kisah manusia yang mencari kekayaan melalui perjanjian
dengan kekuatan gaib bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Dalam film ini, motif tersebut memperoleh latar belakang
yang cukup masuk akal.
Nenek Daniel kehilangan suaminya. Bisnis keluarga mengalami
kesulitan. Dalam keadaan tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia memilih jalan
yang menjanjikan jalan keluar cepat.
Perlu diperhatikan bahwa motivasinya bukan sekadar keinginan
menjadi kaya.
Ada kehilangan, ketidakpastian, dan keputusasaan.
Justru karena itu, tindakannya memperoleh bobot moral yang
lebih rumit.
Manusia tidak selalu memilih kejahatan karena menginginkan
kejahatan itu sendiri. Kadang-kadang, manusia memilih sarana yang buruk demi
mempertahankan sesuatu yang dianggapnya baik.
Dalam bahasa filsafat moral klasik, manusia bertindak menuju
sesuatu yang dipandang sebagai bonum, suatu kebaikan yang hendak
dicapai.
Kesejahteraan keluarga merupakan suatu kebaikan.
Keberlanjutan usaha juga dapat menjadi tujuan yang sah.
Tetapi tujuan yang baik tidak membenarkan setiap sarana
untuk memperolehnya.
Film menggunakan tumbal sebagai gambaran konsekuensi
perjanjian tersebut.
Namun, kritiknya terhadap mentalitas pesugihan belum
sepenuhnya tajam.
Dalam berbagai cerita pesugihan Nusantara, masyarakat sudah
mengenal motif bahwa keuntungan supernatural dapat menuntut korban, termasuk
orang-orang terdekat.
Karena itu, sekadar memperlihatkan bahwa pesugihan
membutuhkan tumbal belum menghasilkan kritik yang sangat baru.
Film sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi
lebih dalam mengapa seseorang tetap memilih jalan tersebut ketika mengetahui
risikonya.
Apakah karena keputusasaan? Ketakutan menghadapi kemiskinan?
Ketidakmampuan menerima kehilangan? Atau keyakinan bahwa kekuatan gaib dapat
mengatasi tanggung jawab yang seharusnya ditanggung manusia sendiri?
Pertanyaan semacam ini akan membuat konflik pesugihan lebih
kuat secara psikologis sekaligus moral.
6. Dalam Tradisi Film Eksorsisme: Antara The Exorcist, The
Conjuring, dan Horor Nusantara
Sebagai film eksorsisme, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
tentu dapat ditempatkan dalam tradisi sinema yang lebih luas.
Film The Exorcist (1973), misalnya, menjadikan
kerasukan sebagai pengalaman horor yang sekaligus mengguncang relasi keluarga
dan keyakinan religius. Hubungan ibu dan anak menjadi salah satu sumber
ketegangan emosionalnya.
Sementara itu, sejumlah film dalam dunia The Conjuring
mengandalkan perpaduan ancaman supernatural, perlindungan keluarga, dan
penggunaan simbol-simbol Kristiani untuk membangun konflik.
Kedua tradisi tersebut menunjukkan bahwa horor religius
sering bekerja paling baik ketika ancaman supernatural berkaitan dengan
hubungan manusia yang dipertaruhkan.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah bergerak dalam wilayah
serupa, tetapi mempunyai identitas yang berbeda.
Ia tidak sekadar menghadirkan imam, doa Latin, salib, dan
adegan eksorsisme dalam suasana Indonesia.
Film ini berusaha menghubungkan eksorsisme Katolik dengan
pesugihan dan kepercayaan mengenai perjanjian antargenerasi yang dikenal dalam
kebudayaan lokal.
Perbandingan dengan film Kuasa Gelap pertama (2024)
juga menarik.
Jika film pertama memperkenalkan dunia eksorsisme Katolik
kepada penonton Indonesia melalui konflik yang lebih terpusat, sekuelnya
berusaha memperbesar cakupan ancaman dan memperluas hubungan antara horor
supernatural dengan sejarah keluarga.
Dari segi ambisi produksi dan perluasan cerita, langkah
tersebut patut dihargai.
Namun, skala yang lebih besar tidak otomatis menghasilkan
kedalaman dramatik yang lebih besar.
Menurut saya, kekuatan sekuel ini tetap muncul ketika cerita
kembali kepada konflik yang paling sederhana: hubungan Daniel dengan Halim
serta kepedulian Suster Aloysia.
Dalam hal itulah film ini mempunyai peluang untuk berdiri
dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar menjadi versi Indonesia dari formula
eksorsisme Hollywood.
7. Visual, Sinematografi, dan Tata Suara: Antara Teror
Supernatural dan Simbolisme Rekonsiliasi
Dari segi teknis, kualitas produksi film ini cukup baik.
Penggunaan efek digital atau CGI pada umumnya berhasil
mendukung kehadiran ancaman supernatural. Tata rias juga memainkan peran
penting, terutama dalam menggambarkan perubahan Daniel dari seorang anak muda
yang rapuh menjadi sosok yang mengalami kerasukan.
Di sini, kualitas akting Venly Arauna sangat membantu. Ia
mampu membedakan Daniel sebagai pribadi yang membutuhkan pertolongan dengan
perubahan ekspresi dan gestur ketika berada dalam keadaan kerasukan.
Transformasi tersebut terasa cukup meyakinkan karena tidak semata-mata
bergantung pada efek visual.
Sinematografi film juga cukup efektif dalam membangun
atmosfer gelap melalui pengaturan ruang, pencahayaan, dan komposisi gambar.
Namun, saya mempunyai catatan khusus mengenai penggunaan
sudut pandang subjektif atau point-of-view shot (POV).
Dalam beberapa adegan, kamera seolah memaksa penonton
melihat sesuatu persis melalui perspektif tokoh atau entitas tertentu. Secara
sinematik, teknik tersebut sah dan dapat menghasilkan pengalaman imersif.
Namun, penggunaannya terkadang terasa terlalu demonstratif.
Ada momen ketika saya justru tersadar bahwa kamera sedang
mengarahkan perhatian saya secara sengaja, seakan-akan sutradara sedang
mengatakan, "Sekarang lihatlah apa yang dilihat tokoh ini."
Akibatnya, kesinambungan pengalaman visual sedikit
terganggu.
Masalahnya bukan terutama pada kualitas CGI, melainkan pada
teknik perpindahan perspektif yang belum selalu berlangsung secara organik.
Sementara itu, musik dan tata suara bekerja cukup efektif
dalam membangun atmosfer horor. Pengaturan intensitas suara, ketegangan, dan
jeda membantu penonton mengantisipasi ancaman supernatural.
Tetapi ada satu unsur visual religius yang menurut saya
perlu diperhatikan secara khusus: adegan penerimaan Komuni Kudus menjelang
penyelesaian cerita.
Sekilas, adegan ini mungkin terlihat sebagai bagian kecil
dari keseluruhan narasi. Namun, dalam pembacaan saya, ia mempunyai signifikansi
kateketis.
Saya tidak melihat adegan penerimaan Komuni tersebut
terutama sebagai pernyataan sinematik mengenai keunggulan kuasa Allah atas
setan. Film tidak sedang memperlihatkan Ekaristi sebagai senjata supernatural
yang digunakan untuk mengalahkan kekuatan jahat.
Sebaliknya, adegan tersebut lebih tepat dibaca dalam
hubungan dengan proses rekonsiliasi yang telah dilalui para tokoh.
Setelah menghadapi dosa, kesalahan masa lalu, penderitaan,
dan konflik dalam hubungan mereka, para tokoh akhirnya digambarkan menyambut
Tubuh Kristus.
Bagi penonton yang memahami iman Katolik, adegan tersebut
mempunyai makna yang melampaui tindakan religius biasa.
Ekaristi bukan sekadar simbol kebersamaan. Dalam iman
Katolik, Komuni Kudus adalah penerimaan Tubuh Kristus sendiri, yang menuntut
disposisi batin yang layak.
Karena itu, adegan tersebut dapat ditafsirkan sebagai
penegasan bahwa perjalanan para tokoh tidak berhenti pada terbebasnya mereka
dari teror supernatural, tetapi bergerak menuju pemulihan hubungan dengan Allah
dan sesama.
Tentu, secara teologis, kelayakan menyambut Komuni tidak
dapat disimpulkan hanya dari rekonsiliasi interpersonal. Seseorang yang sadar
berada dalam keadaan dosa berat tetap memerlukan pertobatan dan, dalam keadaan
biasa, Sakramen Rekonsiliasi sebelum menyambut Komuni.
Namun, dalam bahasa naratif film, adegan tersebut dapat
dibaca sebagai simbol bahwa para tokoh telah bergerak dari keterpecahan menuju
perdamaian dan kehidupan sakramental.
Dalam pengertian itulah adegan penerimaan Komuni mempunyai
fungsi edukatif yang menarik.
Eksorsisme menggambarkan pembebasan dari kuasa jahat,
sedangkan adegan Komuni mengarahkan perhatian kepada kehidupan yang telah
dipulihkan dan persekutuan dengan Kristus.
Keduanya tidak identik dan tidak dapat dipertukarkan.
Justru pembedaan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan
iman Katolik tidak berpusat pada pengusiran setan. Pusat kehidupan sakramental
Gereja adalah Ekaristi.
Saya menganggap kehadiran adegan singkat ini sebagai pilihan
yang cukup bermakna. Ia memberikan penutup religius yang tenang setelah
rangkaian visual dan suara yang didominasi teror.
Terlepas dari apakah simbolisme tersebut sepenuhnya
dimaksudkan oleh pembuat film, bagi saya adegan itu menghadirkan kemungkinan
pembacaan yang lebih kaya: setelah manusia berdamai dengan masa lalunya,
mengakui kerapuhannya, dan memperbaiki hubungan dengan sesama, ia kembali
diarahkan kepada sumber kehidupan Kristiani.
Dengan demikian, kekuatan visual film ini tidak seluruhnya
terletak pada penampakan setan dan adegan kerasukan.
Ada pula kekuatan dalam gambar yang lebih sederhana: manusia
yang telah melalui pergumulan berat akhirnya berdiri kembali sebagai pribadi
yang terbuka terhadap perdamaian dan rahmat.
Teror membutuhkan kegaduhan. Rekonsiliasi justru dapat
memperoleh ungkapannya melalui keheningan.
Dan dalam konteks film ini, adegan penerimaan Komuni
memberikan dimensi religius yang lebih dalam kepada penyelesaian cerita, tanpa
harus diubah menjadi pertunjukan kemenangan supernatural.
8. Pastor Paroki: Humor Subtil yang Sekaligus Mengajarkan
Hukum Gereja
Salah satu bagian yang cukup menghibur adalah dialog tokoh
pastor paroki.
Pada mulanya, ia tampil agak kaku dalam memahami aturan dan
wewenang gerejawi. Ia menegaskan otoritasnya untuk melarang pelaksanaan
eksorsisme.
Namun, ketika keadaan menjadi semakin mendesak, ia akhirnya
memberikan izin dengan mengutip prinsip terkenal dalam hukum Gereja:
Salus animarum suprema lex.
Keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum tertinggi.
Adegan ini mengundang tawa, termasuk dari para seminaris
yang menonton bersama saya.
Humornya tidak hadir sebagai lelucon terpisah, tetapi muncul
secara alami dari karakter seorang pastor yang semula sangat menekankan
wewenangnya, kemudian menggunakan prinsip hukum Gereja untuk mengambil
keputusan pastoral.
Di sini, humor dan edukasi bertemu.
Penonton yang tidak mengenal hukum Gereja mungkin hanya
menangkap kelucuan perubahan sikap tokoh tersebut.
Sementara mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan
gerejawi dapat menangkap ironi yang lebih khusus.
Secara kanonik, salus animarum suprema lex memang
merupakan prinsip yang disebut dalam kanon 1752 Kitab Hukum Kanonik.
Namun, prinsip itu tidak boleh dipahami sebagai izin untuk
mengabaikan seluruh ketentuan hukum. Eksorsisme besar tetap memerlukan
kewenangan dan izin khusus sebagaimana diatur dalam kanon 1172.
Dengan demikian, adegan tersebut menarik sebagai humor
gerejawi dan ilustrasi tentang hubungan antara norma dan kebutuhan pastoral,
bukan sebagai penjelasan prosedural yang sepenuhnya lengkap.
Saya menganggapnya salah satu contoh bahwa film religius
dapat mengajarkan sesuatu tanpa selalu menggunakan dialog yang serius.
9. Nilai Edukatif bagi Penonton Katolik dan Non-Katolik
Sebagai seorang imam, saya menilai film ini cukup berhasil
memperkenalkan sejumlah unsur kehidupan Gereja Katolik.
Pelayanan Romo Rendra dan Romo Thomas ditampilkan dengan
cukup positif. Ritus eksorsisme memperoleh representasi yang relatif meyakinkan
dalam batas kebutuhan dramatik sebuah film.
Tentu film horor tidak dapat diperlakukan sebagai
dokumentasi resmi mengenai eksorsisme Gereja.
Namun, hal itu tidak berarti kita harus meniadakan seluruh
nilai pendidikannya.
Bagi penonton Katolik, film ini dapat membuka refleksi
mengenai dosa, pertobatan, pengampunan, rahmat, dan pelayanan pastoral.
Kisah kerasukan dapat menjadi titik tolak untuk membicarakan
keterikatan manusia kepada kejahatan.
Tentu perlu dibedakan secara teologis antara kerasukan setan
dalam pengertian khusus dengan keadaan manusia yang terbelenggu dosa. Keduanya
bukan kenyataan yang identik.
Namun, secara analogis, manusia yang membiarkan dirinya
dikuasai kebencian, ketamakan, ketakutan, atau keinginan menguasai orang lain
dapat kehilangan kebebasan moralnya.
Dalam hal ini, film menyediakan bahan refleksi yang cukup
kaya.
Lalu, bagaimana dengan penonton non-Katolik?
Menurut saya, daya tarik film ini tidak bergantung pada
penerimaan terhadap seluruh ajaran Katolik mengenai setan dan eksorsisme.
Penonton non-Katolik tetap dapat menikmati film ini sebagai
horor supernatural yang mempunyai ciri lokal, kualitas akting yang baik, serta
konflik keluarga yang mudah dikenali.
Tema pesugihan mempunyai kedekatan dengan cerita-cerita
rakyat dan imajinasi budaya masyarakat Indonesia yang melintasi batas agama.
Lebih jauh lagi, persoalan Daniel dan Halim merupakan
pengalaman manusiawi yang universal.
Seorang ayah yang terlalu mengatur masa depan anaknya bukan
persoalan eksklusif keluarga Katolik.
Seorang anak yang takut mengecewakan orang tuanya juga bukan
persoalan agama tertentu.
Demikian pula figur Suster Aloysia yang memperlihatkan
pengasuhan melalui perhatian, kesediaan mendengarkan, dan tindakan nyata.
Penonton tidak harus memahami teologi eksorsisme untuk
mengapresiasi nilai relasi yang dihadirkan tokoh tersebut.
Dengan demikian, film ini dapat dinikmati pada beberapa
tingkatan.
Sebagai horor, ia menawarkan teror supernatural dengan
identitas religius dan budaya yang khas.
Sebagai drama keluarga, ia mengangkat komunikasi yang gagal,
cinta yang posesif, dan rekonsiliasi.
Sebagai refleksi moral, ia mengajak manusia mempertanyakan
cara-cara yang digunakan untuk memperoleh sesuatu yang dianggap baik.
Dan bagi penonton yang mempunyai minat teologis, film ini
membuka diskusi tentang dosa, rahmat, kebebasan, serta pertobatan.
Justru karena lapisan-lapisan itulah film ini layak
diperbincangkan melampaui lingkungan internal Gereja Katolik.
10. Perjanjian Darah: Sebuah Ironi tentang Transaksi dan
Anugerah
Dari motif pesugihan dalam film, saya menangkap sebuah ironi
teologis yang menarik.
Setan menawarkan sesuatu yang diinginkan manusia, tetapi
dengan syarat tertentu.
Ada keuntungan yang dijanjikan dan korban yang harus
diserahkan.
Sebaliknya, iman Kristiani memahami rahmat Allah sebagai
anugerah yang tidak dapat dibeli.
Gratia gratis data.
Rahmat diberikan secara cuma-cuma.
Kontras ini bukan tesis yang diuraikan secara eksplisit oleh
film, melainkan refleksi saya atas narasinya.
Dalam gambaran transaksi demonis, pemberian digunakan untuk
mengikat dan menguasai penerimanya.
Dalam teologi Kristiani, rahmat Allah justru membebaskan
manusia dan membuka kemungkinan hidup baru.
Tentu rahmat mengundang tanggapan berupa iman, pertobatan,
dan kehidupan moral. Namun, tanggapan tersebut bukan harga yang dibayarkan agar
Allah bersedia mengasihi.
Kasih Allah mendahului tanggapan manusia.
Di sini terdapat perbedaan antara transaksi dan anugerah,
antara penguasaan dan pembebasan.
Ironisnya, manusia kadang lebih mudah menerima keuntungan
yang menjanjikan hasil cepat dengan harga mengerikan daripada belajar menerima
kehidupan sebagai anugerah yang menuntut tanggung jawab.
Namun, sebagaimana telah saya kemukakan, kontras tersebut
sebenarnya belum ditampilkan secara maksimal dalam film.
Kuasa jahat memperoleh perwujudan visual yang spektakuler.
Sementara superioritas kuasa Allah lebih banyak dikemukakan melalui pernyataan
verbal para imam.
Saya melihat ini sebagai ruang pengembangan bagi film-film
eksorsisme Indonesia berikutnya: bagaimana menggambarkan rahmat bukan sekadar
melalui deklarasi kemenangan atas setan, melainkan melalui transformasi
kehidupan manusia.
Dan justru dalam film ini, transformasi itu mulai terlihat
melalui perubahan hubungan Halim dan Daniel.
11. Penutup: Perjanjian Darah, Kuasa Gelap, dan Cinta yang
Belajar Membebaskan
Pada akhirnya, saya ingin membaca kembali judul Kuasa
Gelap: Perjanjian Darah bukan semata-mata dalam pengertian supernatural,
tetapi juga sebagai metafora mengenai komunikasi dan relasi antarmanusia.
Darah biasanya melambangkan kehidupan, keturunan, dan ikatan
keluarga.
Namun, film ini memperlihatkan ironi yang menarik: ikatan
darah tidak selalu menjamin hubungan yang sehat. Bahkan, ikatan tersebut dapat
menjadi jalan pewarisan luka yang belum diselesaikan.
Nenek Daniel membuat perjanjian ketika tidak sanggup
menghadapi kehilangan dan ketidakpastian masa depan.
Halim, yang begitu mencintai Daniel, hampir menjadikan cinta
sebagai alasan menentukan kehidupan anaknya.
Keduanya memperlihatkan satu persoalan yang serupa: ketika
manusia tidak mampu berdamai dengan ketakutannya sendiri, ia dapat membebankan
ketakutan tersebut kepada orang-orang yang dicintainya.
Di sinilah saya menemukan kemungkinan makna lain dari kuasa
gelap.
Dalam pembacaan interpersonal, kegelapan juga dapat menunjuk
pada keadaan ketika komunikasi berhenti, ketika seseorang tidak lagi
mendengarkan, ketika cinta berubah menjadi penguasaan, dan ketika orang lain
diperlakukan sebagai sarana untuk memenuhi harapan diri sendiri.
Daniel tidak kekurangan cinta ayahnya. Ia membutuhkan ruang
untuk didengarkan.
Halim tidak kekurangan kasih sayang. Ia perlu belajar
menerima bahwa anaknya mempunyai masa depan yang tidak harus identik dengan
keinginannya sendiri.
Sementara Suster Aloysia memperlihatkan bahwa cinta yang
berhasil tidak selalu bergantung pada hubungan darah.
Ia menjadi pengasuh melalui kehadiran, perhatian,
komunikasi, dan keberanian memperjuangkan keselamatan mereka yang dipercayakan
kepadanya.
Di sini terdapat paradoks yang indah.
Mereka yang terikat oleh darah belum tentu mampu membangun
hubungan yang membebaskan, sementara seseorang yang tidak mempunyai hubungan
darah justru dapat menghadirkan relasi yang menyembuhkan.
Dalam perjanjian demonis sebagaimana digambarkan film,
manusia menerima keuntungan dengan menyerahkan sesuatu sebagai pembayaran.
Hubungan manusia pun dapat jatuh ke dalam logika
transaksional yang serupa ketika kasih sayang berubah menjadi tuntutan: aku
telah berkorban untukmu, maka engkau harus menjadi seperti yang kuinginkan.
Sebaliknya, cinta yang dewasa tidak memperlakukan orang lain
sebagai pembayaran atas pengorbanannya.
Cinta yang dewasa justru memungkinkan orang lain bertumbuh
tanpa kehilangan kebebasannya.
Karena itu, rekonsiliasi Halim dan Daniel menjadi begitu
bermakna.
Ketika Halim akhirnya bersedia menerima pilihan hidup
Daniel, ia tidak sedang kehilangan anaknya.
Ia sedang menemukan cara yang lebih benar untuk menjadi
seorang ayah.
Maka, setelah seluruh adegan kerasukan dan eksorsisme
berakhir, pertanyaan yang tertinggal bagi saya bukan hanya apakah kuasa setan
berhasil dikalahkan.
Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita ialah:
berapa banyak keluarga yang masih terperangkap dalam ketakutan, tuntutan, dan
ketidakmampuan mendengarkan?
Berapa banyak orang tua menganggap masa depan anak sebagai
kelanjutan ambisinya sendiri?
Berapa banyak anak memendam keinginannya karena takut
mengecewakan orang tua?
Dan berapa banyak manusia mengira telah mencintai, padahal
sesungguhnya sedang berusaha menguasai?
Itulah sebabnya saya merekomendasikan Kuasa Gelap:
Perjanjian Darah, bukan semata-mata sebagai film horor atau pengantar
terhadap praktik eksorsisme Katolik, melainkan juga sebagai bahan refleksi
tentang keluarga, pengasuhan, komunikasi, dosa, dan pengampunan.
Film ini memang belum sempurna dalam mengembangkan seluruh
konflik dan perangkat sinematiknya. Tetapi ia berhasil meninggalkan sebuah
pertanyaan manusiawi yang cukup kuat.
Darah dapat mengikat manusia sebagai keluarga. Tetapi hanya
komunikasi, pengampunan, dan cinta yang membebaskan yang memungkinkan mereka
sungguh hidup sebagai keluarga.
Dan mungkin di situlah pesan paling menarik dari film ini.
Di balik kisah tentang kuasa gelap, manusia diajak memeriksa
sesuatu yang lebih dekat: bukan hanya apakah ia sudah cukup mencintai, tetapi
apakah cara ia mencintai masih membutuhkan pertobatan.
Patris Allegro
Penilaian akhir: 7,9/10
Film horor religius yang kuat dalam akting, atmosfer, dan
nilai edukatif; cukup berhasil sebagai drama rekonsiliasi keluarga, meskipun
pengembangan motif pesugihan, penyelesaian konflik supernatural, dan beberapa
pilihan perspektif visual masih dapat diperdalam.

0 komentar:
Posting Komentar