Kamis, 26 Februari 2026

Dari Luther ke Nietzsche: Jalan Panjang Protestanisme Menuju Ateisme Modern

 



Saat ini, kita hidup di dunia di mana nama Tuhan semakin jarang terdengar, baik di ruang publik maupun dalam hati banyak orang. Banyak orang tidak lagi berdebat tentang Tuhan atau membenci-Nya; mereka hanya berhenti memikirkannya. Krisis makna, kekosongan nilai, dan nihilisme terasa di sekitar kita: dalam kesepian digital, ketergantungan pada algoritma, dan pencarian identitas yang tak pernah selesai. Bagaimana kita bisa sampai di titik ini? Mengapa keyakinan yang selama berabad-abad membentuk peradaban Barat kini seperti lumut di dinding tua—awalnya hampir tak terlihat, tapi perlahan menutupi seluruh permukaan hidup modern hingga akar spiritual kita hampir terlupakan? Dalam sejarah pemikiran Barat, ateisme tidak muncul begitu saja. Ia bukan hasil ledakan tiba-tiba dari pikiran yang "membenci Tuhan". Ia tumbuh perlahan, seperti lumut di dinding: mulai tipis, hampir tak terlihat, lalu menutupi seluruh permukaan. Salah satu jalur pertumbuhannya yang paling penting adalah hubungan antara Reformasi Protestan dan filsafat modern. Dari Martin Luther hingga Friedrich Nietzsche, kita bisa melihat kisah panjang tentang bagaimana iman perlahan berpindah dari realitas objektif ke ranah subjektif, lalu dianggap ilusi, dan akhirnya ditinggalkan.
Kisah ini bukanlah tuduhan moral. Ini adalah analisis tentang struktur ide. Kita sedang mencoba memahami logika di balik perkembangan peradaban.

Luther dan Pemindahan Iman ke Dalam Diri

Reformasi Luther muncul dari kegelisahan yang tulus. Ia melihat Gereja yang korup, praktik keagamaan yang dangkal, dan iman yang terjebak dalam rutinitas. Namun, kegelisahan ini juga tumbuh di tengah perubahan sosial dan ekonomi besar: munculnya kelas menengah di kota, berkembangnya teknologi cetak, dan kebangkitan negara-bangsa yang mulai menantang otoritas Gereja. Keinginan Luther untuk memurnikan Kekristenan bertemu dengan suara banyak orang yang merasa terasing dari praktik keagamaan lama, dan didukung oleh kepentingan politik serta motif ekonomi para penguasa lokal yang ingin lepas dari Roma. Pilihan yang ia ambil membawa dampak jangka panjang yang jauh melampaui niat pribadinya.
Dengan prinsip sola scriptura dan sola fide, Luther memusatkan iman pada Kitab Suci dan keyakinan pribadi. Otoritas Gereja dan Tradisi menjadi berkurang. Sakramen pun kehilangan makna ontologisnya: dalam tradisi Katolik, misalnya, Ekaristi dipandang sebagai perubahan nyata roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, dan pengakuan dosa diyakini sebagai sarana pengampunan yang dilakukan Kristus melalui imam. Setelah Reformasi, sakramen-sakramen ini lebih dipahami sebagai simbol atau tanda iman dan ketaatan pribadi, bukan lagi sebagai peristiwa ilahi yang benar-benar menghadirkan rahmat secara objektif. Keselamatan pun lebih dipahami sebagai keyakinan dalam hati bahwa “aku diselamatkan.”
Di titik ini, terjadi pergeseran besar: iman tidak lagi terutama dipahami sebagai partisipasi manusia dalam realitas ilahi, tetapi sebagai pengalaman interior. Tuhan masih diyakini, tetapi makin “tinggal” di ruang kesadaran subjektif.
Agama mulai berpindah dari urusan kosmos menjadi urusan psikologi.
Ini belum menjadi ateisme. Ini masih iman, tetapi dasar metafisisnya mulai melemah.

Dari Subjektivitas ke Psikologi Agama

Setelah Luther, tradisi Protestan berkembang menjadi semakin berfokus pada pengalaman batin: muncul pietisme, revivalisme, dan spiritualitas yang menekankan emosi. Iman semakin dipahami sebagai “pengalaman pribadi dengan Tuhan”. Tapi apa sebenarnya “pengalaman pribadi” itu? Charles Taylor membaginya menjadi tiga tingkatan: pengalaman langsung (apa yang benar-benar dirasakan seseorang, seperti momen haru atau damai di hadapan Tuhan), penafsiran atas pengalaman itu (bagaimana seseorang mengartikan perasaan atau kejadian spiritual dalam kerangka kepercayaan), dan 'social imaginary' atau gambaran bersama (cara masyarakat membayangkan hidup religius dan maknanya). Dalam pietisme, pengalaman langsung menjadi pusat; penafsirannya sangat personal, bahkan bisa berbeda-beda antar individu; sedangkan gambaran sosialnya bergeser dari komunitas besar ke ruang keintiman pribadi. Dengan membedakan tiga lapisan ini, kita bisa melihat bagaimana subjektivitas agama bergerak dari urusan kosmik ke psikologi, lalu ke tingkat sosial yang baru, di mana pengalaman batin semakin dianggap sah sebagai sumber kebenaran. Di sinilah peluang sekularitas terbuka: semakin pengalaman spiritual menjadi urusan pribadi, semakin mudah ia dianggap sebagai fenomena manusia saja, bukan sebagai hubungan dengan realitas adikodrati. Ukuran kebenaran agama bukan lagi realitas objektif, melainkan perasaan dan keyakinan.
DalamDalam situasi ini, agama menjadi semakin mudah dipahami sebagai fenomena batin. Agama bisa dipelajari, diklasifikasi, dan dijelaskan secara psikologis.ika iman sudah ditempatkan di dalam jiwa, ia siap untuk dibongkar dari dalam jiwa. Tapi apa yang tersisa dari kehidupan bersama dan ritual religius, begitu iman dipindahkan sepenuhnya ke ranah batin? Komunitas, liturgi, dan simbol bersama perlahan kehilangan makna ketika spiritualitas menjadi soal pengalaman privat semata. Retakan antara ruang publik dan keyakinan personal melebar, menciptakan jarak yang semakin dalam sebelum akhirnya hubungan sosial dan makna bersama terkikis habis.
Di sinilah Ludwig Feuerbach masuk.

Feuerbach: Tuhan sebagai Cermin Manusia

Feuerbach hidup di masa ketika agama sudah sangat subjektif. Ia tidak lagi melihat Kekristenan sebagai struktur kosmis yang sakramental, melainkan sebagai sisteKemudian ia mengajukan sebuah tesis yang sederhana namun mengguncang:ligus menghancurkan:
Tuhan adalah proyeksi manusia. Jika sebelumnya, seperti dalam realisme Athanasius, Tuhan dianggap sebagai realitas objektif yang dahulunya justru menentukan dan menopang seluruh eksistensi manusia, maka gagasan Feuerbach membalik ranah itu: bukan manusia yang hidup dalam Tuhan, tetapi sebaliknya, Tuhan yang lahir dalam batin manusia. Perubahan ini sungguh menandai keberpalingan besar dari keyakinan atas fondasi metafisis ke konstruksi psikologis.
Menurutnya, semua sifat ilahi seperti mahaadil, mahabaik, dan mahakuasa adalah cita-cita manusia sendiri yang diproyeksikan keluar. Manusia menciptakan Tuhan sebagai bayangan dari kerinduannya akan kesempurnaan.
Teologi dibalik menjadi antropologi.
Kalau Luther berkata: “Iman adalah relasi batin,”
Feuerbach menjawab: “Kalau begitu, Tuhan hanyalah produk batin.”
Pada tahap ini, Tuhan belum "dibunuh". Ia hanya direduksi menjadi konstruksi psikologis. Ia tidak disangkal, tetapi dijelaskan secara tuntas. Namun, pandangan ini tidak diterima semua orang. Banyak teolog dan pemikir kontemporer menolak posisi Feuerbach dan tetap berpendapat bahwa pengalaman spiritual menunjuk pada sesuatu yang transenden dan nyata secara objektif, bukan hanya cermin batin manusia. Perdebatan ini masih berlangsung, menunjukkan bahwa reduksi agama menjadi psikologi tetap bisa diperdebatkan, sehingga jalan menuju ateisme modern tidak pernah benar-benar tunggal atau final.
Dan sesuatu yang bisa dijelaskan sepenuhnya, lama-lama tidak lagi dibutuhkan.

Marx: Dari Ilusi ke Ideologi

Feuerbach masih humanis. Ia ingin membebaskan manusia dari ilusi religius demi kemanusiaan. Tetapi murid intelektualnya, Karl Marx, melangkah lebih jauh.
Marx menerima gagasan bahwa Tuhan adalah proyeksi. Tetapi ia menambahkan dimensi sosial-politik: agama bukan hanya ilusi, melainkan alat kekuasaan.
Bagi Marx, agama menenangkan orang miskin, membuat mereka menerima penderitaan, dan menjaga sistem yang tidak adil. Dalam pandangannya, agama digunakan oleh kelas penguasa dan elit sosial seperti negara, kaum borjuis, maupun institusi keagamaan sendiri untuk mempertahankan tatanan yang ada dan menahan perubahan. Tuhan berfungsi sebagai “obat bius” sosial.
Maka, ateisme bagi Marx bukan soal spekulasi metafisis. Ia adalah strategi pembebasan.
Tuhan tidak hanya salah. Ia berbahaya.
Di sini, ateisme berubah menjadi proyek ideologis.

Nietzsche: Kematian Tuhan dan Kekosongan Nilai

Lalu datang Nietzsche, sang diagnostikus peradaban.
Nietzsche melihat bahwa Eropa modern sudah kehilangan iman, tetapi masih hidup dengan nilai-nilai Kristen. Menurut Nietzsche, sisa-sisa moralitas seperti keyakinan pada kasih terhadap sesama, penghargaan terhadap martabat manusia, dan keharusan untuk jujur atau mencari kebenaran mutlak masih dianggap sakral, meskipun fondasi agamanya sudah runtuh. Nilai-nilai ini tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sosial dan etika, padahal sumber aslinya, yaitu keyakinan pada Tuhan, sudah tidak dipegang. Di sinilah letak kontradiksi besar menurut Nietzsche: Eropa secara intelektual telah meninggalkan iman, tetapi secara praktis masih bergantung pada warisan moral dari Kekristenan.
Maka ia berkata: “Tuhan telah mati.”
Ini bukan perayaan. Ini peringatan.
Artinya: fondasi metafisis nilai-nilai Barat telah runtuh. Tidak ada lagi dasar objektif bagi makna hidup. Yang tersisa hanyalah kehendak, kekuasaan, dan interpretasi. Penting dibedakan: nihilisme yang didiagnosis Nietzsche bukan sekadar relativisme atau pluralisme nilai, di mana banyak makna hidup bisa tetap tumbuh berdampingan. Nihilisme adalah keyakinan bahwa tidak ada makna kosmis atau nilai yang sungguh berdasar—bahkan makna itu sendiri dipandang kosong. Jika relativisme masih mengakui keberagaman tujuan, nihilisme menandai kehampaan total, di mana bahkan pencarian makna pun kehilangan pijakan.
Kalau Tuhan mati, maka:
  • Tidak ada tujuan final manusia
  • Tidak ada hukum moral absolut
  • Tidak ada makna kosmis
  • Tidak ada kebenaran terakhir
Manusia harus menciptakan nilai sendiri.
Inilah lahirnya nihilisme.
Nietzsche tidak menawarkan ateisme yang nyaman. Ia menawarkan ateisme yang tragis.

Ateisme Digital: Tuhan yang Dilupakan

Di zaman kita, cerita ini mencapai tahap yang paling sunyi.
Di pagi hari, sebelum suara hati terdengar, tangan kita langsung meraih ponsel. Ibadah pertama bukan lagi doa pagi, melainkan membuka notifikasi. Timeline berita, email kerja, dan deretan gambar konsumsi menjadi liturgi baru. Dalam rutinitas harian yang hampir otomatis ini, keheningan tersingkir, dan ruang untuk mengingat yang transenden pun menghilang begitu saja.
Banyak orang modern bukan ateis dalam arti filosofis. Mereka tidak membaca Feuerbach, Marx, atau Nietzsche. Mereka tidak membantah Tuhan.
Mereka… tidak memikirkan Tuhan.
Hidup mereka dipenuhi algoritma, notifikasi, platform, dan data. Google menggantikan maha-tahu. Media sosial menggantikan pengakuan. AI menggantikan refleksi moral. Namun, ruang digital tidak hanya menghadirkan kekosongan; ia juga melahirkan sumber-sumber transendensi baru, meskipun samar. Fandom musik atau film menyatukan jutaan orang dalam kisah, harapan, dan ritual bersama yang terasa nyaris sakral. Komunitas wellness di aplikasi kesehatan, grup meditasi daring, dan pelacakan kebiasaan membentuk tata nilai hidup modern yang sering dihayati dengan kedalaman religius. Hashtag aktivisme, seperti #MeToo atau #ClimateAction, jadi locus bersama bagi harapan, pengorbanan, dan solidaritas. Semua ini menjadi pengganti prosesi dan komunitas spiritual lama—menawarkan makna, identitas, dan bahkan pengorbanan, namun tanpa fondasi adikodrati.
Tuhan tidak disangkal. Ia tenggelam.
Ini ateisme praktis.
Dan justru karena sunyi, ia paling berbahaya.

Rantai Logis Peradaban

Jika diringkas, jalurnya tampak jelas:
Luther memindahkan iman ke subjektivita, sehingga iman tidak lagi menjadi realitas eksternal, melainkan pengalaman pribadi.
Karena itu, Feuerbach mengubahnya menjadi proyeksi, sebab jika iman hanya bertempat di batin, mudah baginya untuk dilihat sekadar sebagai produk psikologis.
Selanjutnya, Marx menjadikannya ideologi, karena melihat proyeksi itu digunakan sebagai alat kekuasaan dalam masyarakat.
Kemudian, Nietzsche mengumumkan kematiannya, sebab nilai-nilai lama kehilangan dasar setelah Tuhan dianggap ilusi.
Akhirnya, zaman digital melupakannya, karena setelah fondasinya runtuh, keberadaan Tuhan tak lagi relevan dalam kehidupan sehari-haria.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah konsekuensi logis dari iman yang dilepaskan dari fondasi ontologisnya, kecuali pada beberapa tradisi Protestan tertentu yang masih berusaha mempertahankan akar ontologis atau dimensi sakramental dalam iman mereka. Namun, arus utama pemikiran modern berjalan seperti yang telah dijelaskan di atas.
Begitu iman kehilangan akar dalam realitas, iKetika iman kehilangan akar dalam realitas, ia berubah menjadi psikologi. Psikologi lalu menjadi ideologi. Ideologi berubah menjadi ilusi. Ilusi menjadi gangguan. Dan akhirnya, gangguan itu diabaikan.emurnikan iman.
Hasil akhirnya adalah peradaban yang tidak lagi membutuhkan iman.
Ini ironi sejarah.
Ateisme modern bukan lahir dari kebencian pada Tuhan, tetapi dari iman yang terlalu lama dipersempit, diprivatisasi, dan dilepaskan dari struktur realitas.
Ketika Tuhan hanya tinggal di dalam perasaan, Ia akhirnya hilang bersama perasaan itu.
Di sinilah manusia modern berdiri hari ini: bebas, cerdas, produktif, tetapi sering merasa kehilangan rumah metafisisnya sendiri.kita gali adalah: mengapa tradisi Katolik klasik dengan metafisika dan sakramentalitasnya justru menjadi salah satu benteng terakhir melawan nihilisme ini. Di situ pertarungannya bukan soal denominasi, tetapi soal masa depan makna manusia.

0 komentar:

Posting Komentar