Pendahuluan: Simbol yang Terlalu
Kecil bagi Inkarnasi
Zaman modern menyukai simbol. Simbol
aman. Simbol tidak menuntut terlalu banyak. Simbol bisa ditafsirkan sesuka
hati. Maka tidak mengherankan jika Ekaristi sering direduksi menjadi “lambang
peringatan”—alat bantu psikologis untuk mengenang Yesus.
Masalahnya sederhana: Injil tidak pernah
berbicara sesederhana itu.
Jika Ekaristi hanyalah simbol, maka
bahasa Yesus berlebihan. Jika Ekaristi hanya peringatan, maka Gereja perdana
tampak fanatik. Jika Ekaristi sekadar ritual, maka liturgi Kristen selama dua
ribu tahun adalah kesalahpahaman massal.
Pertanyaannya bukan: apakah simbol
itu penting?
Pertanyaannya: mengapa Allah harus berhenti pada simbol?
I. Dasar Kitab Suci: Bahasa yang
Terlalu Serius untuk Metafora
Dalam Yohanes 6, Yesus tidak berkata,
“Daging-Ku melambangkan hidup.”
Ia berkata: “Daging-Ku adalah benar-benar makanan.”
Ketika pendengar-Nya tersandung dan
pergi, Yesus tidak menarik kata-kata-Nya. Ia tidak berkata, “Kalian salah
paham.” Ia membiarkan mereka pergi. Ini penting. Dalam Injil, Yesus sering
mengoreksi kesalahpahaman. Di sini, Ia tidak.
Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus berkata:
“Inilah tubuh-Ku.”
Bukan: “Ini mewakili.”
Bukan: “Ini mengingatkan.”
Bahasa ini bersifat performatif:
kata-kata-Nya menciptakan realitas.
Rasul Paulus bahkan memperingatkan bahwa
menerima Ekaristi secara tidak layak berarti berdosa terhadap tubuh dan darah
Tuhan. Peringatan ini tidak masuk akal jika yang diterima hanyalah simbol.
Kitab Suci tidak mendukung minimalisme
sakramental. Ia mendukung realisme.
II. Tradisi Gereja: Iman yang Tidak
Pernah “Setengah-Setengah”
Sejak awal, Gereja memahami Ekaristi
sebagai kehadiran nyata Kristus. Fokus umat Kristen purba bukan “apakah ini
simbol,” melainkan “bagaimana kita menyambut-Nya dengan layak.”
Mereka rela mati demi Ekaristi. Tidak
ada orang waras yang mati demi metafora.
Sepanjang abad, pemahaman ini tidak
berubah. Yang berubah hanyalah keberanian untuk menerima misteri. Ketika
rasionalisme modern mulai mendominasi, misteri mulai dipersempit agar “aman.”
Tetapi iman Kristen tidak pernah
dibangun untuk aman.
III. Transubstansiasi: Ketika
Metafisika Menjaga Iman
Di sinilah peran besar Thomas Aquinas
menjadi jelas. Aquinas tidak menciptakan ajaran baru. Ia memberi bahasa
metafisik yang presisi bagi iman Gereja.
Ia membedakan antara:
- substansi: apa sesuatu itu pada hakikatnya
- aksiden: bagaimana sesuatu tampak
Dalam Ekaristi, yang berubah adalah
substansi, bukan aksiden. Roti tetap tampak seperti roti. Anggur tetap terasa
seperti anggur. Tetapi hakikatnya berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Ini bukan sulap. Ini bukan perubahan
kimia. Ini perubahan ontologis.
Transubstansiasi bukan pelarian dari
akal, tetapi penerapan metafisika realisme: realitas lebih dalam daripada yang
tertangkap indra.
IV. Kesalahan Modern: Menyamakan
Realitas dengan yang Terukur
Keberatan paling umum terhadap Kehadiran
Nyata adalah ini:
“Kalau tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, berarti tidak nyata.”
Ini bukan argumen ilmiah. Ini ideologi
saintistik.
Banyak realitas tidak bisa diukur:
kesadaran, cinta, makna, nilai moral. Tetapi kita tidak menyebutnya ilusi.
Mengapa? Karena realitas tidak identik dengan laboratorium.
Ekaristi tidak bertentangan dengan
sains. Ia berada di luar lingkup sains. Sains mengkaji aksiden. Ekaristi
menyentuh substansi.
Menolak Ekaristi demi “rasionalitas”
berarti mengorbankan filsafat demi positivisme sempit.
V. Inkarnasi yang Berlanjut: Logika
Sakramental
Ekaristi hanya masuk akal jika Inkarnasi
sungguh serius.
Jika Allah berani menjadi daging,
mengapa Ia tidak berani hadir dalam roti?
Jika Firman menjadi tubuh, mengapa tubuh-Nya tidak bisa hadir secara
sakramental?
Ekaristi adalah kelanjutan Inkarnasi
dalam sejarah. Allah tidak berhenti hadir setelah Kenaikan. Ia mengubah cara
kehadiran-Nya.
Kristus tidak meninggalkan Gereja dengan
kenangan, tetapi dengan diri-Nya sendiri.
VI. Mukjizat Ekaristi: Tanda, Bukan
Fondasi
Sepanjang sejarah, Gereja mengenal
mukjizat Ekaristi: hosti berdarah, perubahan menjadi jaringan hidup, dan
tanda-tanda lain.
Mukjizat ini bukan dasar iman. Iman
tidak dibangun di atas sensasi. Mukjizat adalah konfirmasi pastoral bagi mereka
yang lemah.
Mukjizat terbesar tetap terjadi setiap
hari di altar, tanpa kamera, tanpa sorotan.
VII. Implikasi Rohani: Jika Itu Dia,
Hidup Tidak Bisa Biasa-Biasa
Jika Ekaristi sungguh Kristus, maka
tidak ada ruang bagi sikap santai.
Komuni bukan hak otomatis.
Misa bukan rutinitas sosial.
Gereja bukan aula komunitas.
Ekaristi menuntut pertobatan, hormat,
dan kesiapan batin. Allah tidak hadir untuk dinikmati secara dangkal.
Banyak orang menolak Kehadiran Nyata
bukan karena tidak logis, tetapi karena terlalu menuntut.
Penutup: Allah yang Tidak Puas
Menjadi Ide
Ekaristi adalah skandal terbesar iman
Kristen setelah salib.
Allah tidak puas menjadi konsep.
Tidak puas menjadi kenangan.
Tidak puas menjadi simbol.
Ia hadir.
Dalam roti.
Dalam anggur.
Dalam Gereja-Nya.
Bukan karena kita pantas.
Tetapi karena kasih-Nya radikal.
Jika Ekaristi hanya simbol, maka
Kekristenan hanyalah filsafat moral.
Jika Ekaristi adalah Kristus, maka iman adalah perjumpaan.
Dan di situlah pilihannya selalu jatuh:
Apakah kita ingin Allah yang aman,
atau Allah yang sungguh hadir?
Iman Katolik tidak ragu menjawab:
hadir—meski mengguncang.

0 komentar:
Posting Komentar