Tampilkan postingan dengan label Ekaristi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekaristi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2025

Ekaristi Bukan Penghinaan, Melainkan Kenyataan

 


Bantahan Sistematis terhadap Patris Smith: 

Pendahuluan: Metode yang Cacat dan Kesaksian yang Menyesatkan

Patri Smith, dalam serangannya terhadap iman Katolik, berusaha mengguncang keyakinan umat dengan dua senjata utama: kesaksian personal dan klaim kesetiaan pada Sola Scriptura. Ia mengangkat testimoni mantan imam dan suster sebagai “bukti” bahwa doktrin Ekaristi dan Transubstansiasi adalah keliru. Namun, sejak awal, argumentasinya dibangun di atas fondasi yang rapuh. Menggunakan pengalaman subjektif untuk menyangkal sebuah doktrin yang telah dipegang selama dua milenium bukanlah metode teologis, melainkan sebuah fallacy of anecdotal evidence.

Jika ada seorang dokter yang malpraktik, apakah itu membuktikan bahwa ilmu kedokteran itu salah? Tentu tidak. Itu hanya membuktikan bahwa dokter tersebut tidak kompeten. Begitu pula dengan kesaksian mereka yang meninggalkan imannya; itu tidak membatalkan kebenaran iman tersebut, hanya menunjukkan ketidaktahuan atau ketidaksetiaan individu.

Bagian I: “Sekali untuk Selamanya” vs “Kehadiran Sakramental” – Menembak Jubah, Bukan Sasaran

Smith bersandar pada ayat-ayat seperti Ibrani 10:18 dan Yohanes 19:30 (“It is finished”) untuk menuduh Gereja Katolik “mengulang” korban Kristus. Ini adalah straw man fallacy klasik. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Kristus disalibkan kembali di setiap Misa.

Yang diajarkan Gereja adalah re-presentasi (penghadiran kembali) yang bersifat sakramental, bukan repetition (pengulangan) yang bersifat historis. Konsili Trente dengan tegas menyatakan: “Korban yang dipersembahkan dalam Misa adalah korban Salib yang satu dan sama.” Misa adalah pintu yang melaluinya kita dibawa secara mistik ke kaki Salib, bukan panggung untuk memaku Kristus untuk kedua kalinya.

Pertanyaan retorik untuk Patris Smith: Anda berkata korban Kristus sudah selesai dan kita hanya perlu percaya. Lalu, bagaimana caranya darah Kristus yang tertumpah di Kayu Salib dua ribu tahun lalu itu terhubung dan menyucikan Anda, Patris Smith, pada hari ini? Apakah cukup dengan Sola Fide (iman saja) dan menganggapnya sebagai simbol? Jika iya, bukankah itu justru menjadikan kuasa salib sebagai sebuah konsep abstrak, sebuah memori tanpa daya ubah yang nyata? Apakah mekanismenya? Apakah melalui halusinasi imajinasi?

Bagi Katolik, jawabannya nyata dan konkret: melalui sakramen Ekaristi yang diperintahkan-Nya sendiri. “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk 22:19) adalah perintah untuk menghadirkan korban yang satu itu, bukan sekadar mengenangnya.

Bagian II: Transubstansiasi: Ketika Filsafat Melayani Iman

Smith menolak Transubstansiasi dengan argumen indrawi yang naif: “Roti tetap kelihatan, berbau, dan terasa seperti roti.” Argumen ini adalah category mistake. Ia mencoba mengukur realitas metafisik (hakikat terdalam) dengan alat ukur empiris (panca indera).

Filsafat, yang digunakan Gereja, membedakan antara substansi (substance - hakikat sesuatu) dan aksiden (accidents - penampakan luarnya). Dalam Mukjizat Kana, Yesus mengubah air menjadi anggur; aksidennya (warna, bentuk) tetap air, tetapi substansinya telah berubah. Tidak ada ilmuwan yang bisa membuktikan perubahan itu secara empiris, tetapi itu tidak membuat mukjizat itu tidak nyata. Transubstansiasi adalah mukjizat yang sama-sama nyata tetapi terjadi pada tingkat ontologis yang lebih dalam.

Menuntut bukti empiris untuk Transubstansiasi sama konyolnya dengan menuntut bukti cinta dengan meminta seseorang menunjukkan “cinta” itu dalam tabung reaksi.

Bagian III: Sola Scriptura – Lingkaran Setan yang Tak Terbuktikan

Klaim Smith bahwa “tidak ada ajaran Transubstansiasi dalam Alkitab” adalah argumen yang circular. Ia sudah lebih dulu berasumsi bahwa hanya apa yang tertulis secara eksplisit dalam Alkitab saja yang sahih (prinsip Sola Scriptura), lalu menggunakan asumsi yang tak terbukti itu untuk menolak segala sesuatu yang tidak ia temukan.

Padahal, iman akan Kehadiran Nyata telah dipegang sejak abad pertama, jauh sebelum kanon Alkitab ditutup:

  • St. Ignatius dari Antiokhia (murid Rasul Yohanes): “Ekaristi adalah daging Juruselamat kita Yesus Kristus.”
  • St. Yustinus Martir (abad ke-2): “Bukan sebagai roti biasa atau minuman biasa kita menerimanya... melainkan sebagai daging dan darah Yesus yang telah menjadi manusia.

Jadi, yang perlu dibuktikan Smith bukanlah ketiadaan Transubstansiasi dalam Alkitab, melainkan keabsahan prinsip Sola Scriptura-nya sendiri, yang juga tidak ada dalam Alkitab!

Bagian IV: Konsekuensi Logis dari Teologi Smith – Kristus yang Gagal dan Iman yang Hampa

Mengikuti logika Smith hingga ke ujungnya akan membawa kita pada konsekuensi yang mengerikan:

1.     Perjamuan Tuhan hanyalah simbol belaka. Kristus hadir hanya dalam imajinasi, bukan dalam realitas.

2.     Iman Kristen menjadi terputus dari masa lalu. Umat hanya bisa memandang Salib dari kejauhan seperti memandang sebuah monumen, tanpa bisa sungguh-sungguh mengambil bagian di dalamnya.

3.     Kristus dianggap gagal menjaga Gereja-Nya. Gereja yang didirikan-Nya di atas Petrus dianggap telah tersesat dalam kesalahan fatal yang fundamental selama 1500 tahun sebelum akhirnya “dikoreksi” oleh para reformator. Ini adalah penghinaan terhadap janji Kristus: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).

Kesimpulan: Siapa yang Sesungguhnya Menghina?

Argumen Patris Smith runtuh oleh kekurangan internalnya sendiri: dibangun di atas kesaksian yang lemah, kesalahpahaman akan doktrin, pencampuran domain ilmu, dan penalaran yang melingkar.

Sebaliknya, Gereja Katolik berdiri di atas dasar yang kokoh: Kitab Suci, Tradisi Apostolik, dan akal budi yang sehat. Ekaristi bukanlah penghinaan terhadap korban Kristus. Justru, penghinaan yang sesungguhnya adalah dengan mereduksi korban-Nya yang mahal itu menjadi sekadar simbol, kenangan, atau sebuah konsep imajinatif belaka.

Yang menghina adalah menolak karunia kehadiran-Nya yang nyata yang Ia tinggalkan bagi kita, sambil berteriak “It is finished!” tanpa memahami bahwa “selesai” itu justru berarti korban yang satu dan sempurna itu kini terbuka dan dapat dihadirkan untuk semua orang, di segala tempat, hingga akhir zaman.

Jadi, Patri Smith, sebelum Anda menuduh Gereja menghina Kristus, jawablah pertanyaan ini: Bagaimana darah-Nya yang kudus itu sampai kepada Anda? Jika hanya melalui iman di dalam hati, bukankah itu membuat salib menjadi sebuah peristiwa yang terkurung dalam sejarah, dan bukan kekuatan yang mengubah hidup yang nyata dan hadir hari ini?

 

Kamis, 13 Februari 2025

Empat (4) Mukjizat Ekaristi yang Disetujui dari Abad ke-21


Dalam tulisan-tulisannya tentang Ekaristi, Fr. Spitzer mengingatkan kita bahwa mukjizat Ekaristi terjadi setiap hari, pada setiap Misa Kudus di seluruh dunia, ketika substansi roti dan anggur diubah menjadi substansi tubuh dan darah Yesus.

Namun, istilah "mukjizat Ekaristi" juga dapat merujuk pada tanda-tanda empiris yang luar biasa dari kehadiran Yesus dalam Ekaristi, seperti inang yang berdarah atau transmutasi inang yang ditahbiskan menjadi sepotong jaringan otot jantung.

"Bagi kami orang-orang percaya, apa yang telah kami lihat adalah sesuatu yang selalu kami percayai. . . . Jika Tuhan kita berbicara kepada kita dengan memberi kita tanda ini, itu pasti membutuhkan tanggapan dari kita." —Uskup Cyril Mar Baselice, Uskup Agung Keuskupan Trivandrum tentang Mukjizat Ekaristi di Chirattakonam, India

Beberapa mukjizat Ekaristi yang terkenal terjadi bertahun-tahun yang lalu (yaitu, Mukjizat Ekaristi Lanciano, Italia, pada abad ke-8 dan Mukjizat Ekaristi Santarem, Portugal, pada abad ke-13). Yang lain telah terjadi dalam sejarah yang lebih baru, seperti mukjizat Ekaristi yang terbukti secara ilmiah di Buenos Aires pada tahun 1992-1996. Namun, ada beberapa yang telah terjadi hanya dalam dua puluh tahun terakhir. Di bawah ini adalah empat cerita tentang mukjizat Ekaristi yang disetujui dan baru-baru ini:
Legnica, Polandia, 2013
Chirattakonam, India, 2001
Tixtla, Meksiko, 2006
Sokolka, Polandia, 2008

Mukjizat Ekaristi di Legnica: Hosti yang Berdarah

Pada Hari Natal 2013, di Gereja Santo Hyacinth di Legnica, Polandia, seorang pembawa acara yang ditahbiskan jatuh ke lantai. Hosti dimasukkan ke dalam wadah berisi air sehingga larut. Sebaliknya, itu membentuk noda merah. Pada Februari 2014, hosti diperiksa oleh berbagai lembaga penelitian, termasuk Departemen Kedokteran Forensik di Szczecin, menyatakan:

"Dalam gambar histopatologis, fragmen ditemukan mengandung bagian yang terfragmentasi dari otot lurik silang. Ini paling mirip dengan otot jantung."

Selain itu, dan mirip dengan temuan mukjizat Ekaristi Lanciano, Italia, penelitian menemukan bahwa jaringan memiliki perubahan yang akan muncul selama kesusahan besar.

Hosti yang berdarah di Polandia disetujui untuk dihormati pada April 2016 oleh Uskup Zbigniew Kiernikowski dari Legnica, yang mengatakan bahwa itu "memiliki ciri khas mukjizat Ekaristi."

Mukjizat Ekaristi di Tixtla, Meksiko

Pada bulan Oktober 2006, sebuah paroki di Keuskupan Chilpancingo-Chilapa Meksiko mengadakan retret. Selama misa, dua imam dan seorang suster religius sedang membagikan komuni ketika suster religius itu memandang selebran dengan air mata berlinang. Hosti yang dipegangnya mulai mengeluarkan zat kemerahan.

Untuk menentukan keabsahan acara tersebut, Uskup Alejo Zavala Castro meminta Dr. Ricardo Castañón Gómez (yang meneliti mukjizat Ekaristi di Buenos Aires) dan timnya untuk melakukan penelitian ilmiah.

Pada tahun 2013, penelitian menyimpulkan bahwa:

"Zat kemerahan yang dianalisis sesuai dengan darah di mana terdapat hemoglobin dan DNA yang berasal dari manusia. . . Golongan darahnya adalah AB, mirip dengan yang ditemukan di Hosti Lanciano dan di Kain Kafan Suci Turin."

Mukjizat Ekaristi di Chirattakonam, India, 2001

Meskipun sebagian besar mukjizat Ekaristi melibatkan inang yang berdarah, yang di Chirattakonam, India, sedikit berbeda. Pada suatu pagi April tahun 2001, Pastor Johnson Karoor, pastor di paroki St. Mary di Chirattakonam, India, mengungkapkan Sakramen Mahakudus untuk adorasi. Segera, Fr. Karoor memperhatikan tiga titik pada hosti dan membagikan apa yang dia lihat dengan orang-orang, yang juga melihat titik-titik itu.

Pendeta kemudian pergi selama seminggu dan kembali untuk menemukan bahwa hosti telah mengembangkan gambar wajah manusia. Dia bertanya kepada server alternatif apakah dia melihat sesuatu di host untuk memastikan itu bukan imajinasinya. "Saya melihat sosok seorang pria," jawab pelayan altar. Setelah Misa, Fr. Karoor meminta seorang fotografer lokal menangkap gambar pembawa acara

Mukjizat Ekaristi di Sokolka, Polandia

Sebelum hosti yang berdarah di Legnica, ada mukjizat Ekaristi lain di Polandia yang terjadi di kota Sokolka.

Mukjizat itu terjadi pada tahun 2008 di gereja St. Antonius. Pagi itu selama Misa, seorang imam secara tidak sengaja menjatuhkan pembawa acara saat membagikan Komuni. Hosti kemudian dimasukkan ke dalam wadah kecil berisi air. Pendeta, Fr. Stanislaw Gniedziejko, meminta sacristan, Suster Julia Dubowska dari Kongregasi Suster-suster Ekaristi, untuk menempatkan wadah di brankas di sakristi. Setelah seminggu, Suster Julia memeriksa hosti. Ketika dia membuka brankas, dia mencium sesuatu seperti roti tidak beragi, dan hosti memiliki noda darah merah di atasnya.

Segera, Suster Julia dan Fr. Gniedziejko memberi tahu uskup agung Bialystok, Uskup Edward Ozorowski, tentang hosti. Uskup meminta hosti yang bernoda dikeluarkan dari wadah dan ditempatkan di atas kopral, di mana ia tinggal di tabernakel selama tiga tahun. Selama waktu ini, fragmen inang yang ternoda mengering (tampak lebih seperti noda darah atau gumpalan), dan beberapa penelitian ditugaskan pada inang. Studi menemukan bahwa fragmen inang yang diubah identik dengan jaringan miokard (jantung) seseorang yang mendekati kematian. Selain itu, struktur serat otot dan roti terjalin dengan cara yang tidak mungkin dihasilkan oleh manusia.

Juga, terus belajar di volume kedua Trilogi Called Out of Darkness, baca buku Fr. Spitzer, Escape from Evil's Darkness. Buku ini menyajikan bukti bahwa Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dengan Petrus sebagai kepalanya. Fr. Spitzer menunjukkan bahwa Gereja Katolik—dengan beragam sakramen, ajaran, tradisi doa, dan teladan kekudusan yang hidup—terus menjadi lahan subur bagi pertobatan Kristen yang mendalam. Dan lanjutkan perjalanan Anda dengan Fr. Spitzer judul terbaru tahun 2024, Kristus, Sains, dan Akal: Apa yang Dapat Kita Ketahui Tentang Yesus, Maria, dan Mukjizat, yang mengeksplorasi Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus dari tiga mukjizat Ekaristi yang diselidiki secara ilmiah baru-baru ini.

*Tulisan diterbitkan pada 31 Agustus 2020 di Magiscenter[dot]com

Rabu, 29 Januari 2025

Keheningan (Silentium) terhadap Ekaristi

Berikut ini adalah beberapa bagian yang dipilih dari meditasi biarawan Prancis Daniel Ange, pendiri sekolah doa "Jeunesselumière", yang diberikan di hadapan orang-orang muda keuskupan Roma yang berkumpul di Basilika St. Yohanes Lateran.

Bagaimana berbicara tentang Ekaristi tanpa gemetar? Kata-kata kita dapat mendistorsi banyak dari apa yang merupakan misteri terbesar dari misteri Tuhan. Kita seperti Musa yang, di depan semak yang terbakar, harus bersujud di tanah. Api Roh, api kasih, menyala di dalam Hosti. Ketika saya menerima Tubuh ini dalam cinta yang bersemangat, itu adalah keajaiban bahwa daging saya tidak terbakar! […]

Sekarang mari selami keheningan. Mengapa keheningan? Karena itu adalah lagu pemujaan yang paling indah. Ekaristi adalah Natal: di Betlehem segala sesuatu dikelilingi oleh keheningan. Bagian musik surgawi dari para malaikat, Maria, Yusuf, para gembala, orang Majus, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kejutannya begitu besar dengan kecantikan anak laki-laki itu sehingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dan dia hanya berbicara dengan senyum dan matanya. Di matanya bersinar cahaya surga, dan cahaya itu sunyi.

Ekaristi adalah Sengsara Yesus. Dan selama Sengsara, Yesus diam. Dia hanya mengucapkan beberapa kata, terutama tujuh kata di kayu salib: masa lalu, kehendak-Nya. Tetapi itu bukan isyarat yang lebih kuat dari semua kata, itu adalah tanda tangan di akhir semua yang lain, di akhir Injil: kata keheningan, sebuah gerakan: hatinya tertusuk oleh tombak. Jeritan besar, tapi diam.

Maria dan Yohanes tidak berbicara satu sama lain: saksi diam, semua diserap oleh misteri ... Dan Bapa Suci kita benar-benar telah menjadi seruan keheningan, besar, berteriak kepada dunia, seperti Fransiskus: "Cinta tidak dicintai!" Dan Thérèse [dari Anak Yesus]: "Mengasihi berarti mencintai Kasih." Cintai agar setiap orang bisa mencintai, cinta, dan dicintai.

Ekaristi adalah Kebangkitan. Pada Hari Paskah, Yesus mengundang kita untuk merenungkan keheningan: Maria Magdalena, murid-murid Emaus, Tomas... dari beberapa kata-katanya muncul keheningan yang tertegun, teriakan kegembiraan untuk Guru tercinta! Tetap bersama kami! Tuhanku dan Tuhanku! Inilah yang harus kita katakan hari ini, dengan Fransiskus: "Tuhanku dan segalanya."

Dan sekarang, Yesus, di surga, berjalan bersama kita dan berbicara dengan kita. Bagaimana? Terutama untuk Ekaristi. Dan Ekaristi adalah misteri keheningan. Yesus menunggu kita. Kami mendengarkan. Dia mengasihi kita. Bukankah diam adalah bahasa cinta yang terkuat? Bahasa hati yang terlalu penuh dan terlalu terluka [...].

Keheningan ibadah adalah keheningan yang penuh kasih dari mereka yang mengasihi dan mendengarkan. Kita mendengarkan karena Dia mengasihi. Tentunya kita harus mengakui, memuji, bernyanyi, seperti yang muda. Yesus sangat senang ketika mereka berseru: jika mereka diam, batu-batu itu akan berseru. Tetapi setelah bernyanyi dan menangis sebelum menerima berkatnya, seseorang harus mendengarkan, mendengarkan keheningan, mungkin dia memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ayo tinggalkan mikrofon. Dia tidak meminta, karena dia pemalu, Tuhan... Suaranya tidak pernah memaksakan dirinya pada desibel kita. Dia bijaksana. Dia berbisik dan kami tidak mendengar [...]. Ayo tinggal di sini. Mari kita mendengarkan.

 

Rabu, 07 Juni 2023

Memahami Transubstansiasi: Ajaran Aquinas tentang Ekaristi

Tulisan Aquinas tentang transubstansiasi dalam Summa Theologica memiliki dampak yang kuat pada ajaran Gereja Katolik. Konsep transubstansiasi, yang menyatakan bahwa roti dan anggur dalam Misa benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus, merupakan keyakinan mendasar bagi umat Katolik. Secara singkat kita akan menyelami analisis Aquinas tentang Ekaristi dan menjelajahi maknanya.

Aquinas memulai dengan menyoroti bahwa Kristus sendiri mengajarkan dalam Kitab Suci bahwa Ekaristi adalah tubuh dan darah-Nya yang sejati. Pemahaman ini telah tetap dipegang teguh oleh Gereja Katolik sepanjang sejarah. Dalam kisah institusi, Kristus dengan tegas menyatakan, "Ini adalah tubuh-Ku." Aquinas juga mencatat bahwa Bapa Gereja, seperti Santo Ambrosius dari Milan dan Santo Cyril dari Alexandria, mengakui perubahan Ekaristi dari roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus.

Aquinas berargumen bahwa kehadiran sejati Kristus dalam Ekaristi bukan hanya masalah keyakinan, tetapi juga kebenaran. Kehadiran ini memungkinkan Gereja untuk mengalami hubungan yang nyata dan konkret dengan Kristus sepanjang sejarahnya. Ekaristi berfungsi sebagai sumber anugerah yang memungkinkan umat berpartisipasi dalam kasih karunia Kristus dan misteri pengorbanan salib.

Aquinas menjelaskan sifat kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Ia membedakan antara perubahan tempat dan perubahan substansi. Ini bukan soal Kristus secara fisik meninggalkan surga dan memasuki tempat khusus, melainkan perubahan substansi, mirip dengan bagaimana api hadir ketika api dinyalakan di tempat yang sebelumnya tidak ada.

Ekaristi berfungsi sebagai sumber anugerah yang memungkinkan umat berpartisipasi dalam kasih karunia Kristus dan misteri pengorbanan salib.

Transubstansiasi

Transubstansiasi mengacu pada perubahan total roti menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristus selama kata-kata konsekrasi dalam Misa. Aquinas membandingkan transubstansiasi dengan generasi alami dan penciptaan ex nihilo, menyoroti persamaan dan perbedaan.

Aquinas membahas kontradiksi yang tampak antara sifat fisik roti dan anggur dengan perubahan substansi mereka menjadi tubuh dan darah Kristus. Ia menjelaskan bahwa substansi dan sifat adalah hal yang berbeda, dan Allah, dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, dapat mengubah substansi roti sambil tetap mempertahankan sifat fisiknya yang utuh.

Kehadiran Kristus dalam Ekaristi muncul tersembunyi di balik sifat fisik roti dan anggur. Aquinas menjelaskan bahwa ini memungkinkan kita untuk menemukan kehadiran-Nya melalui iman dan penghayatan kasih karunia, sambil tetap menjaga kebebasan kita untuk menghadapi-Nya dengan sukarela.

Kesimpulan

Ekaristi adalah misteri yang dalam dan penuh makna dalam iman Katolik. Melalui transubstansiasi, roti dan anggur dalam Misa benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus. Kehadiran sejati Kristus dalam Ekaristi memungkinkan kita untuk memiliki hubungan yang nyata dengan-Nya dan memperoleh anugerah kasih karunia-Nya. Meskipun Ekaristi muncul dalam sifat fisik roti dan anggur, kita dapat menemukan kehadiran Kristus dalam kehidupan rohani kita. Dalam iman dan penghayatan kasih karunia, kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang menguatkan dan memberi makan Gereja-Nya.

Senin, 17 April 2023

MINGGU KERAHIMAN DI KAPEL ST PETRUS OEPAHA

Waktu menunjukkan pukul 7.30 ketika saya mengendarai sepeda motor ke arah Baumata menuju kapel Kecil di Oepaha. Kapel Oepaha merupakan bagian dari Paroki St Yosep Pekerja Penfui tempat di mana saya bertugas setiap minggu memimpin perayaan Ekaristi. Hari ini hari Minggu Kerahiman Ilahi dan saya akan Kembali bertemu dengan umat di Kapela Oepaha.

Jalan menuju Oepaha berkerikil dan tidak mulus, membuat sepeda motor terus berguncang. Perjalanan memakan waktu setengah jam. Jam delapan tepat akan dimulai dengan perayaan Ekaristi.

Saya tiba di depan kapel disambut oleh Ketua Stasi dan Frater serta Bruder yang bertugas mingguan di sana. Pak Ketua Stasi memberitahu kalau hari ini umat akan berkurang karena Sebagian besar OMK sedang mengikuti kegiatan THS-THM di Taman Ziarah Oebelo. Umat yang hadir sekitar limapuluh orang. Saya memeriksa tabernakel dan menemukan masih banyak sakramen sehingga tidak perlu lagi menyiapkan bahan persembahan berupa roti.

Pak Ketua Stasi di dalam Kapel


Perayaan berlangsung dengan meriah. Beberapa OMK yang tidak ke Oebelo bertindak sebagai koor sponsor diiringi dengan organis dari Bruder Keluarga Nazareth. Dalam khotbah saya menjelaskan tentang Riwayat ditetapkannya Hari Minggu Kerahiman Ilahi, berupa penampakan Tuhan Kita Yesus Kristus kepada Sr Faustina di Krakow Polandia. Dan juga tentang tanggapan Yesus terhadap iman Thomas, “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”. Iman model seperti inilah yang ditujukan bagi kita sekarang yang hidup duaribu tahun sesudah kehidupan Tuhan kita Yesus Kristus.

Usai misa seseorang datang menemui saya di Sakristi. Ternyata dia adalah anak tetangga di kampung halaman saya, Oekiu. Dia rupanya beristrikan orang Oepaha dan menetap di Oepaha. Kami bertiga dengan calon istrinya berfoto Bersama di depan altar. Lalu Ketua Stasi mengundang saya dan Frater serta Bruder ke rumah salah satu umat untuk beristirahat sambal minum di sana.

Bapak Ketua Stasi banyak bercerita tentang asal muasa berdirinya kapel St petrus Oepaha. Bermula dari kesulitan umat untuk selalu bergabung dengan umat dari Oeltua, yang berjarak sekitar 7 km dari Oepaha, membuat mereka menginginkan satu kapela untuk beribadat di kampung mereka. Sekitar Tahun 2014 Bapak Uskup dalam kunjungan ke Oepaha mengijinkan mereka untuk membangun kapel sederhana, beratap seng dan berdinding bebak. Beberapa tahun kemudian mereka mendapat bantuan dari PIKAT Kupang, organisasi para pengusaha Katolik yang bersedia membantu mereka untuk mendirikan kapel baru yang lebih layak. Kapel itu kemudian diresmikan pada tahun 2018 dan kini setiap hari Minggu mereka dapat beribadat di tempat yang tidak jauh dari kediaman masing-masing.

Sekitar jam 10 karena hari sudah mendung saya pamit pulang. Semoga umat di Kapel St Petrus Oepaha terus berkembang dalam iman dan kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Salve!

Minggu, 16 April 2023

KISAH SEMINGGU DI SABU RAIJUA

Paskah tahun 2023, saya mendapat kesempatan untuk melayani Perayaan Paskah di Sabu Raijua. Senang sekali setelah sekian lama akhirnya bisa Kembali ke Pulau Sabu.

Hari Rabu, 5 April 2023, saya berangkat menuju Pelabuhan Tenau Kupang dengan niat menunggu Kapal yang akan ke Sabu. Tepat jam 5 saya sudah berada di Pelabuhan dan langsung membeli tiket Kapal Cantika Lestari 9C. Kapal akan berangkat jam 9 malam. Masih ada waktu 4 jam. Saya duduk menunggu sambil membayangkan keadaan Pulau Sabu, yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Pasti sudah ada banyak perubahan karena percepatan pembangunan di daerah otonomi yang relatif baru ini.

Ternyata baru jam 10 lewat kapal berangkat. Ini juga pengalaman pertama menumpang kapal laut. Ternyata menyenangkan. Saya berusaha tidur tapi tidak bisa karena bunyi mesin terlalu bising. Ombak tenang, saya mondar-mandir ke ruang duduk dan ke kamar, hingga akhirnya benar-benar mengantuk dan tertidur.

Pukul 5 pagi saya bangun dengan niat menikmati sunrise pagi ini. Langit sedikit berawan, sunrisenya dapat dinikmati sebentar karena keburu tertutup awan. Daratan Sabu sudah terlihat dan sebentar lagi kapal akan bersandar.

Ternyata ini di dermaga Pelabuhan Sabu Timur, sebagaimana diumumkan petugas kapal malam tadi, berarti saya masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam ke Seba. Rm Yopi sudah siap menjemput dengan mobil pick-up, selamat datang (Kembali) ke Pulau Sabu.

Kami tiba di Pastoran Seba, bertemu dengan Rm Kanis dan Frater, lalu beristirahat sebentar. Rencananya siang ini saya akan melanjutkan perjalanan ke Mehona, sebelah selatan Sabu. Di sanalah saya akan tinggal Bersama umat untuk merayakan Trihari Suci dan Paskah.

Jam 2 siang saya diantar di Mehona, kenangan sepuluh tahun lalu Kembali terlintas, bagaimana keramahan orang Mehona menyambut saya pada waktu itu, dan kini dengan keramahan yang sama mereka menyambut untuk berada Bersama mereka. Banyak yang sudah tidak lagi ingat akan kedatangan saya yang lalu, ada yang katanya masih di Kupang, ada yang masih kecil sekali, lagi pula tidak ada foto foto kenangan (foto-fotonya lenyap karena hardisk computer saya sudah rusak dimakan usia).

Jam 4 sore saya di antar ke Perema Mesara untuk merayakan misa Kamis Putih di sana. Nanti dari sana baru dilanjutkan dengan Misa di Mehona. Tiba di Perema, umat sudah siap merayakan misa. Dengan basa-basi sejenak kami mempersiapkan perayaan sederhana Kamis Putih. Jumlah umat yang hadir sekitar 20 orang, mereka datang dari tempat yang berjauhan di wilayah kecamatan Mesara. Saya mengingatkan mereka kalau saya pernah merayakan Jumat Agung Bersama mereka. Beberapa masih terkenang terutama Bapak Ketua Stasi karena saya menginap dirumahnya yang ada tepat di depan kapel. Di sini saya bertemu dengan mahasiswa KKN Stipas Kupang yang ternyata berasal dari Paroki kampung halaman saya di Timor.

Sesudah perayaan, kami pulang dengan sepeda motor menyusuri jalan tak rata dan berlumpur Kembali ke Mehona. Di sana umat sudah siap untuk Misa Kamis Putih. Misa dimulai jam 8 malam setelah saya mengambil waktu beristirahat sejenak. Misa diiringi dengan koor yang meriah dari anak-anak OMK.  Perarakan Sakramen Mahakudus berlangsung sederhana, dan tidak ada doa bergilir di depan sakramen Mahakudus. Dua orang Ibu mendatangi saya saat usai misa, dan mengingatkan saya kalau dulu mereka yang menjadi misdinar dalam perayaan Kamis Putih itu.

Hari Jumat Agung, diawali dengan Ibadat Jumat Agung jam 9 di Perema. DI Mehona baru akan dilaksanakan jam tiga sore. Di Perema perayaan berlangsung sederhana, dengan Kisah Sengsara didaraskan oleh petugas dan penyembahan salib yang berlangsung khidmat, Salib diletakkan dengan alas kain adat Sabu, dan tiap umat maju mencium salib. Perayaan berlangsung sekitar satu setengah jam, dan kemudian saya langsung pulang ke Mehona.

Perayaan di Mehona lebih meriah. Kisah sengsara dinyanyikan, meski kurang maksimal karena terjadi banyak kesalahan nada. Mungkin latihannya kurang tapi liturgi berjalan lancar. Di sini banyak sekali anak-anak yang duduk di depan dan dengan setia mengikuti setiap acara liturgi.

Hari Sabtu pagi kesempatan untuk sedikit beristirahat dan menghirup segarnya udara perbukitan Mehona. Misa pertama di Perema baru akan mulai jam 5. Di Perema mereka telah menyiapkan liturgi dengan baik, bahan bakar api unggun tersedia. Kami mulai dengan pemberkatan api, dan perarakan lilin paskah, dalam situasi remang-remang, belum gelap sama sekali namun sudah sulit untuk membaca teks. Jadi lampu senter hp dipakai sebagai alat bantu membaca, lampu kapel di padamkan, jadi meski baru senja hari, suasana sudah terasa malam.

Kami pulang kehujanan dan terpaksa berteduh sebentar. Umat Mehona telah menunggu, dan untung saja hujan segera mereda, walau tak berhenti samasekali. Kami terus menerobos gerimis malam untuk sampai ke Mehona. Misa baru dimulai jam 9 setelah saya mengeringkan tubuh yang basah kehujanan. Hujan deras tiba tiba turun, bunyi gemuruh di atas seng, volume pengeras suara dinaikkan, dan upacara Vigili Paskah terus berlangsung dengan khidmat. Sampai selesai Misa hujan masih terus mengguyur. Beberapa tidak sempat pulang dan tidur di pelataran Gereja sampai keesokan harinya.

Minggu Paskah, misa pertama ke Perema, Bersama OMK yang siap bernyanyi sebagai koor sponsor. Kali ini kami berangkat dengan mobil pickup, sedikit lebih santai karena terhindar dari guncangan sepedamotor. Misa di Perema berlangsung meriah oleh koor dari OMK Mehona. Kami keburu pulang setelah misa karena takut hujan yang akan memperparah licinnya jalan keluar dari Kapel Perema.

Hujan terus turun dengan deras. Jam 12 siang ditengah guyuran hujan kami merayakan Misa Minggu Paskah di Mehona. Masih banyak umat yang hadir tak terhalang oleh hujan.

Rencananya Misa Paskah kedua akan dirayakan di Wadumedi, sebuah kapel baru dekat Perema. Tempat ini dekat dengan tempat Wisata KelabbaMadja. Perayaan misa masih dimeriahkan oleh Koor dari OMK Mehona. Misa berlangsung di kapel darurat di halaman rumah tradisional milik salah seorang umat di sana. Umat di Waddumedi berjumlah 5 KK. Kami pun Kembali ke Mehona. Saatnya saya berbenah untuk Kembali ke Sabu dan seterusnya ke Kupang.

Penyembahan Salib di Perema

Kamis Putih di Mehona

Paskah ke-2 di Wadumedi


Sambil menanti jemputan dari Seba, kami duduk bersantai sambal berkaraoke di pelataran rumah. Sampai jam 8 malam Rm Yopi dan beberapa pengurus DPP tiba dari Seba. Acara dilanjutkan dengan pidato perpisahan dan pemberian kenang-kenangan dari umat. Saya mendapat beberapa lembar kain tenun Sabu. Terimakasih. Kami masih lanjut menari Bersama hingga jam duabelas malam Ketika kami beranjak meninggalkan desa Mehona.

Hari Selasa pagi. Perayaan Paskah telah usai. Saya baru akan ke Kupang hari Rabu malam dengan Kapal. Maka kesempatan yang ada adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar Seba. Kami mulai dengan mengunjungi kampung adat Namata, tidak jauh jaraknya dari Kota Seba. Di Kampung ini kami bertemu dengan Ina penjaga yang ramah, saya menyewa pakaian adat Sabu yang lengkap, dan mulailah sesi foto-foto di sekitar tempat pemujaan. Di desa ini terlihat beberapa kuburan berbentuk lingkaran kecil, katanya ini kuburan khas jintiu, terdapat pula kuburan berbentuk modern tanda sudah memeluk Kristen.

Dari Namata, sorenya kami ke taman doa Skyber. Sayang sekali, gerbang taman doa ini tertutup. Kami tak bisa masuk ke dalam. Rm Yopi sudah berusaha menghubungi orang-orang yang kiranya bisa membantu. Hasilnya nihil. Tak apa, yang penting bisa melihat salah satu geliat pembangunan di Kota Seba, taman Skyber ini salah satu contohnya.

Hari Rabu. Masih ada kesempatan mengelilingi Pulau Sabu. Paginya kami ke Gua Mabala di desa Eimau Sabu Tengah. Gua Mabala konon merupakan tempat persembunyian para gerilyawan perang melawan Belanda dulu. Gua ini terdapat di bawah pohon beringin besar yang sejuk. Masuk ke dalam melalui tangga dari kayu sekitar 10 meter, setelah melewati gang yang sempit dan gelap kami masuk ke goa yang besar dan benderang akibat cahaya sinar matahari yang masuk melalui dua lubang terbuka tepat di atas gua ini.

Dari Mabala, Eimau kami menuju ke KelabbaMadja, satu jam perjalanan ke arah barat. Kelabba madja adalah bentang alam berupa longsoran tanah membentuk ngarai dengan tebing berwarna warni: putih, merah-muda dan coklat kekuningan. Yang menjadi daya tariknya adalah beberapa tiang tanah runcing yang memuat bebatuan besar. Ternyata batu-batu tersebut tetap mencengkeram diujung tiang. Rupanya kalau hujan terus menerus, lama kelamaan tiang tanah tersebut habis tergerus dan batunya pasti terguling ke bawah. Tapi itu nanti, untuk sementara nikmati dulu fenomena batu di atas tiang tanah. Kami datang dengan siang hari, dan sepi pengunjung, hanya ada dua pengunjung lain selain saya dan Rm Yopi. Ada satu penjaga, setia menerima dan mencatat kedatangan para wisatawan di sebuah pondok kecil dekat pintu masuk. Katanya pengunjung biasanya meningkat di hari Sabtu dan Hari Minggu. Suasana hitsnya Kelabbamadja memang sudah lewat sejak viral beberapa tahun lalu. Tahun 2013 sewaktu saya ke sini, Kelabbamaja dan gua Mabala belum begitu ramai dikenal orang.

Sore harinya kami mengadakan acara perpisahan di pelataran Gereja Seba, acara pelepasan DPP Bersama Pastor yang bertugas Paskah di Sabu; Saya, Pater John Balan SVD dari Ende dan Rm Jega yang sudah Kembali ke Kupang Selasa malam kemarin. Di sini kesempatan saya bertemu dengan the Legendnya Orang Sabu, Pater Franz Lackner SVD. Saya mengingatkan beliau kalau sudah pernah bertemu sebelumnya. Misionaris berusia 83 tahun ini mengambil buku catatan kecilnya menulis nama dan nomor telpon saya. Rupanya beliau rajin mencatat siapa saja yang mengunjungi beliau. Saya dan Pater berbicara banyak hal, setelah mengenali dan mengingat saya kembali beliau memilih berbicara dalam Bahasa Inggris . Banyak sekali curhatan orang tua ini, mulai dari perkembangan Gereja yang semakin sekular, gaya kepemimpinan Paus Fransiskus, psikologi dan Politik orang Sabu dan masih banyak lagi, dengan gaya humornya yang saya sukai, kami terus mengobrol hingga saatnya saya harus ke kapal untuk Kembali ke Kupang. Selamat tinggal Pater Franz, semoga sehat selalu di usia senja ini, dan semoga kita berjumpa lagi.

Saya bergegas menuju Pelabuhan, beberapa meter saja dari Pastoran. Saya diantar RM Yopi dan Frater. Sebentar lagi kapal akan berangkat menuju Kupang. Selamat tinggal Pulau Sabu. Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi.

Perjalanan pulang ternyata lebih tidak nyaman daripada perjalanan datang. Gelombang laut menyebabkan kapal sangat oleng berayun-ayun. Sulit berjalan-jalan di atas kapal. Saya terus tidur hingga pagi terang, Ketika kapal sudah tiba di samping pulau Semau. Sebentar lagi kapal akan mendarat di Pelabuhan Tenau. Selamat datang Kembali ke kota Kupang.

 

Kamis, 19 Maret 2020

Tugas-tugas Diakon dalam Perayaan Ekaristi


Jika seorang diakon hadir dalam perayaan Ekaristi dia menjalankan tugasnya dengan mengenakan pakaian resmi (stola dan dalmatik). Hal-hal yang dilakukan diakon antara lain:
1. Membantu imam dan berada di samping imam selama perarakan masuk (kecuali kalau dia membawa Evangeliarium maka dia mendahului imam.
2. Melayani piala atau buku Misale pada altar
3. Membaca Injil dan, jika diminta imam selebran, memberi homili (PUMR. 55)
4. Memberikan arahan kepada umat dan membacakan intensi doa umat
5. Membantu imam selebran dalam membagikan komuni, secara khusus sebagai pelayan Darah Suci, dan membersihkan dan mengatur bejana-bejana suci
6. Jika diperlukan, melakukan tugas pelayan lainnya (lektor, akolit, dll) jika mereka tidak hadir (no. 171)

Ritus Pembuka

  • Membawa Evangeliarium dengan sedikit diangkat, diakon mendahului imam dalam perarakan menuju altar, atau berjalan di sisi imam kalau Evangeliarium sudah ditakhtakan di altar (no. 172)
  • Saat tiba di altar, jika dia membawa Evangeliarium, diakon langsung menuju altar tanpa membungkuk atau berlutut. Sesudah meletakkan evangeliarium, bersama dengan imam, diakon menghormati altar dengan ciuman.
  • Kalau diakon tidak membawa Evangeliarium, dia berlutut atau berlutut bersama imam dan kemudian mencium altar. (no. 274)
  • Akhirnya kalau digunakan ukup (pedupaan), diakon membantu imam saat membubuhkan ukup dan mengukupi salib dan altar (no. 173). Sesudah pendupaan, diakon menuju ke tempat duduk bersama imam, duduk di sampingnya, dan membantunya jika diperlukan (no. 174)

Liturgi Sabda

  • Jika digunakan pedupaan, diakon membantu imam saat menaruh ukup selama dinyanyikan Bait Pengantar Injil
  • Kemudian diakon berlutut atau membungkuk di depan imam untuk memohon berkat, dengan suara rendah: Bapa, mohon berkat…. Imam memberkati diakon: Semoga Saudara…. dan diakon membuat tanda salib dan menjawab: Amin.
  • Kemudian diakon mengambil Evangeliarium dari altar dan dengan membungkuk menghormati altar, berarak menuju ambo, dengan sedikit mengangkat Evangeliarium, didahului ajuda pembawa ukup dan ajuda pembawa lilin bernyala
  • Diakon lalu menyapa umat, dengan tangan tetap terkatup: Tuhan bersamamu, lalu, Inilah Injil Yesus Kristus’ membuat tanda salib pada Evangeliarium dan pada dahi, mulut dan dada. Diakon mengukupi Evangeliarium dan membacakan Injil.
  • Sesudah bacaan Injil, diakon menyatakan :Injil Tuhan, tanpa mengangkat Evangeliarium, dan umat menjawab Terpujilah Kristus. Kemudian diakon mencium Evangeliarium dan mendoakan :Semoga dengan pewartaan Injil ini dosa-dosaku dihapuskan. Diakon kemudian mengembalikan Evangeliarium ke suatu tempat yang pantas.
  • Jika selebran utama adalah seorang Uskup maka diakon membawa Evangeliarium kepada selebran untuk dicium. Dalam perayaan meriah, tergantung situasi, Uskup memberkati umat dengan Evangeliarium. Kemudian diakon mengembalikan Evangeliarium ke suatu tempat yang layak. (no. 175)
  • Jika tidak ada lektor, diakon juga membacakan bacaan (mengambil alih tugas lektor, no. 176). Tapi bagaimanapun juga, perlu diupayakan kehadiran lektor dalam perayaan Ekaristi.
  • Sesudah imam mengawali Doa Umat, diakon membacakan intensi-intensi doa umat dari ambo atau tempat lain yang layak (no. 177). Diakon tetap berada di ambo saat imam menutup doa umat dengan doa penutup
  • Sesudah doa penutup, diakon mengawali persiapan altar

Liturgi Ekaristi

  • Sesudah Doa Umat, ketika imam berada di tempat duduk, diakon mempersiapkan altar, dibantu oleh akolit/ajuda, namun perhatian terhadap bejana suci menjadi tugas diakon. Diakon membantu imam menerima persembahan dari umat
  • Lalu, diakon memberikan kepada imam patena berisi hosti yang akan dikonsekrasi, menuang anggur dan sedikit air ke dalam piala berkata dengan suara rendah, “Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini…, lalu menyerahkan piala kepada imam.
  • Jika digunakan pedupaan, diakon membantu imam saat mengukupi persembahan, salib dan altar; kemudian diakon atau akolit/ajuda mengukupi imam dan umat (no. 178)
  • Selama Doa Syukur Agung, diakon berdiri dekat imam sedikit agak ke belakang, sehingga jika diperlukan bisa membantu imam dengan piala atau buku Misale
  • Sebagai aturan umum, dari epiklesis sampai elevasi piala diakon tetap berlutut. Jika ada beberapa diakon yang hadir, salah satunya bertugas mengukupi saat elevasi hosti dan piala (no. 179)
  • Pada saat doxologi akhir Doa Syukur Agung, diakon berdiri di samping imam dan sesudah diberikan piala oleh imam (atau Uskup), diakon mengangkat Piala saat imam mengangkat patena berisi hosti yang dikonsekrasi, sampai umat selesai menjawab dengan aklamasi Amin (no.180)
  • Sesudah imam mendoakan Doa Damai dan memberi salam Damai Tuhan bersamamu dan umat menjawab dan bersama Rohmu, diakon boleh mengajak umat, Marilah kita saling memberikan salam damai. Diakon kemudian menerima salam damai dari imam dan memberikan kepada pelayan lain yang di dekatnya (no. 181).
  • Sesudah komuni imam, diakon menerima komuni dua rupa dari imam sendiri lalu membantu imam dalam membagikan komuni ke umat. Jika komuni diberikan dalam dua rupa, diakon melayani piala/Darah Kristus.
  • Sesudah pembagian komuni, diakon langsung menghabiskan Darah Kristus yang tersisa, bisa dibantu oleh diakon atau imam lainnya (no. 182).
  • Sesudah komuni, diakon kembali ke altar dan bersama imam mengumpulkan remah-remah Hosti kudus. Dia kemudian membersihkan piala dan mengatur kembali piala dan patena seperti biasa, sementara imam kembali ke tempat duduk. Pembersihan bejana ini bisa dilakukan sesudah pembubaran umat (no. 183)

Ritus Penutup

  • Sesudah doa Post Komuni jika ada pengumuman, dibacakan oleh diakon, kecuali kalau imam sendiri mau mengumumkan (no. 184).
  • Jika digunakan rumusan berkat meriah diakon mengajak umat, Marilah kita tunduk memohon berkat.
  • Sesudah berkat imam, diakon dengan kedua tangan terkatup dan menghadap umat, membubarkan mereka dengan berkata, Perayaan Ekaristi sudah selesai, dan Marilah pergi kita diutus, atau rumusan lain sesuai TPE
  • Bersama-sama dengan imam, diakon mencium altar, berlutut atau membungkuk dan meninggalkan panti imam sesuai deskripsi pada perarakan masuk (no. 186).
Catatan: Nomor-nomor dalam kurung mengacu pada nomor-nomor dari Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR)

Kamis, 10 Oktober 2019

MERAYAKAN MISA LATIN TRADISIONAL DI LUBLIN POLANDIA

Sejak pertama menginjakkan kaki di Kota Lublin, September 2016 lalu, saya langsung mencari informasi tentang perayaan Misa Latin Tradisional di tempat ini. Misa Latin Tradisional (di sebut juga Misa Tridentin atau Traditional Latin Mass/ TLM) memang ritual yang telah digunakan selama ribuan tahun. Misa ini merupakan aturan misa yang ditetapkan berdasarkan Konsili Trente pada tahun 1570 dan berakhir setelah Paus Paulus VI mengumumkan Misa Novus Ordo—tata cara misa yang digunakan saat ini—setelah Konsili Vatikan II (digelar 1962-1965).

Setelah menelusuri google, saya menemukan bahwa di kota kecil ini ada kelompok Misa Latin Tradisional yang secara rutin merayakan tiap hari Kamis sore dan Minggu pagi. Gereja tempat merayakan Misa tersebut rupanya adalah sebuah gereja tua yang terletak di downtown/pusat kota Lublin dan hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari tempat tinggal saya, Dom Fundacji Jana Pawla II.

Berlatih Merayakan TLM

Kali pertama saya mengikuti misa ini dengan bergabung bersama umat. Begitu seterusnya saya tidak melewatkan setiap perayaan ini, hingga akhirnya pada suatu saat ketika misa selesai, seorang perempuan muda mendekati saya dan menyapa saya, “Are you a priest?” Saya tidak tahu kenapa dia bisa menebak setepat itu. Saya jelaskan kalau di Indonesia ada juga kelompok TLM seperti ini di Jakarta, namun saya baru bisa merayakan TLM di sini. Oleh wanita muda tersebut saya diperkenalkan kepada ketua komunitas Pan Jerzy Miczka dan pastor Paroki ks. Paweł Jędrzejewski. Pan Jerzy sangat mengharapkan agar saya bisa ikut memimpin Misa tradisional ini. Saya menjelaskan kalau saya sama sekali belum tahu tata cara perayaan ini. Selama ini saya hanya mengikuti saja berita dan video-video di internet. “Tenang saja, Father, nanti kita latihan”, kata Pan Jerzy

Setelah dua kali dilatih dengan kesabaran yang cukup tinggi dari Pan Jerzy, saya berhasil mempelajari tatacara misa Latin tradisional. Untuk Bahasa Latin saya tidak mengalami kesulitan, yang sulit adalah mengingat-ingat, kapan menunduk, kapan berbalik ke umat, kapan membuka tangan dan lain-lain, dan kuncinya sebagian besar doa-doa mesti dihafal.

Menjadi Celebrans

Siap menjadi celebrans

Akhirnya saya memberanikan diri untuk memimpin misa. Karena doa-doa belum dihafal saya masih menggunakan teks terutama untuk Confiteor pada bagian pembukaan. Misa berlangsung dengan khidmat. Dan saya sangat senang berhasil memimpin untuk pertama kali tanpa kesalahan.  Kebiasaan misa di sini, setelah bacaan pertama, imam berbalik kepada umat dan membacakan bacaan dalam Bahasa Polandia, begitupun dengan Bacaan Injil. Tapi bagian ini saya skip saja.

Saya lalu resmi bergabung dengan komunitas Misa tradisional Lublin ini dan tercatat sebagai celebrans. Setiap kali saya dan beberapa imam lainnya bergantian memimpin misa baik itu misa harian maupun misa hari Minggu. Ada suatu pengalaman pahit ketika selesai merayakan misa di suatu sore, saya dimarahi habis-habisan oleh Pastor yang akan memimpin misa berikutnya. Pasalnya, misa kami selesainya terlambat, dan umat sudah menunggu lamaaaaa sekali. Ternyata kami terlambat 15 menit. Dan saya hanya bisa bilang, “Przepraszam, Ojcze!” Jang marah beta, Ama! maksudnya Cuma bisa minta maaf saja, karena bacaan misa tadi memang panjang, tiga sampai empat halaman, na karmana kalo son terlambat?

Selain merayakan Misa Latin Tradisional, kelompok ini juga mengadakan pertemuan rutin bersama kelompok TLM lainnya di seluruh Keuskupan, semacam seminar dan rekoleksi bersama tiap bulan Oktober, tempatnya di sebuah kota kecil ke arah utara Lublin, dekat perbatasan dengan Belarus. Di sini, di biara Suster-suster St Katarina, diadakan pertemuan, vesper meriah dan misa cantata.  Juga ada ziarah bersama ke beberapa tempat bersejarah di Polandia, termasuk biara-biara tua dimana terdapat makam orang-orang kudus dari biara tersebut. Salah satu biara yang kami kunjungi adalah Biara Karmel OCD dekat Krakow, di mana Pater yang menjadi guide kami menunjuk beberapa makam yang orangnya telah dikanonisasi, menjadi venerabilis, maupun beato.  

Trihari Suci dalam bentuk TLM

Pada perayaan Paskah tahun 2018 pertama kali saya merayakan Trihari Suci dalam bentuk Latin Tradisional lengkap dengan diakon dan subdiakon. Sebagai celebrans saya bertugas menyanyikan Peran Yesus Kristus dalam Passio dan pada Sabtu Alleluia, sebagai diakon, menyanyikan Preconium Paschale (pujian Paskah). Foto-foto Paskah 2019 bisa diintip di sini: https://introibo.pl/niedziela-palmowa/ Seturut kebiasaan Gereja Polandia, usai misa malam paskah ada perarakan Kebangkitan Kristus, patung Kristus yang bangkit diarak berkeliling Gereja, sambil menyanyikan lagu-lagu Kebangkitan, mirip seperti perarakan Sakramen Mahakudus pada Kamis Putih. Biasanya misa baru selesai jam 12 malam.

Di Lublin sendiri selain komunitas TLM (traditional Latin Mass) parokial seperti ini, ada pula komunitas SSPX. Komunitas yang saya ikuti adalah komunitas Paroki biasa, mereka terdiri dari orang-orang di Paroki yang mau merayakan Misa Latin Tradisional, dan mereka umat paroki setempat, dan mereka sendiri menegaskan kalau mereka bukan komunitas SSPX. Oh ya tentang SSPX bisa baca penjelasan dari katolisitas org di sini:

Yang saya tahu, ada juga komunitas Misa Latin Tradisional di Jakarta, yang secara rutin mengadakan misa TLM setiap bulan. Di NTT tidak ada komunitas seperti ini. Seorang dari Prancis yang menikah dengan warga Kupang pernah mengontak saya perihal TLM di Kupang, saya bilang kita lihat saja dari antusiasme orang muda. Kalau ada yang berminat kita mulai. Gas! Tapi kalau belum ada, jangan dipaksa.

TLM sudah dilarang?

Pada tahun 2021 Paus Fransiskus akhirnya kembali membatasi  perayaan TLM yang semula diijinkan oleh Paus Benedictus. Syukurlah sebelum dibatasi, bahkan dilarang, saya pernah merasakan suasana misa yang berbeda dengan suasana misa sekarang yang nyaris tidak dapat dibedakan dari ibadat Protestan. Bagaimanapun juga apa yang menyebabkan pembatasan TLM ini yang harus benar-benar diberantas, orang merasa lebih saleh, lebih focus dengan nyanyian, bau-bauan, dan Bahasa yang asing, tanpa mengerti, dan akhirnya menjadi ekslusif dan elit seperti protestan: protes dengan Gereja yang sekarang.

Akhirnya, bagi komunitas yang sedang menjalankan TLM, lanjutkan terus, hindari sikap-sikap dan perilaku sebagaimana yang dikecam pada kebanyakan kaum tradisionalis. Untuk NTT, mungkin kita tidak usah berharap ada TLM di sini, yang penting adalah bahwa tiap tahun ada banyak sekali misionaris dari NTT yang siap bekerja dan melayani di seluruh dunia. Itu saja sudah tanda bahwa iman yang kita rayakan sudah menghasilkan buah yang berlimpah. Amin!

Senin, 03 Desember 2012

Nama-nama lain dari Ekaristi


Sakaramen Ekaristi sangat kaya dan bermakna, hal ini dapat kita simak dalam banyaknya nama yang diberikan orang kepada Ekaristi.

· Ekaristi

Disebut Ekaristi karena sambil menikmati hidangan Tubuh dan Darah Kristus, ada pengucapan syukur dan pujian serta terimakasih. Hal ini diambil dari kebiasaan Yahudi yang sambil makan mereka memuliakan karya agung Allah, yakni mencipta, menebus dan menguduskan. Hal ini yang lazim orang Yahudi sebut barakhah terjemahan Yunaninya ”eucharistein” atau juga ”eulogein”.

· Perjamuan Tuhan

Sebab sebelum menderita sengsara dengan rela, Yesus guru ilahi masih mengadakan perjamuan bersama murid-muridNya. Perjamuan malam itu menggambarkan juga perjamuan pernikahan anak doma kelak. Perjamuan ini lalu diwariskan kepada para murid dengan berpesan ”BUATLAH INI UNTUK MENGENANGKAN DAKU.

· Pemecahan Roti

Dalam tradisi Yahudi ada ritus yang disebut sebagai ”ritus pemecahan roti”. Ritus inilah yang dipakai oleh Yesus dalam malam perpisahan yang memiluhkan itu. Ia mengambil Roti, memecah-mecahkan roti itu, lalu memberikan kepada murid-muridNya. Ketika Kristus bangkit dan menampakan diri pada para murid, Dia juga mengambil roti memecahkanNya dan memberikan kepada mereka, dengan cara itu murid murid lalu sadar dan mengenal Tuhan yang bangkit. Karena itu himpunan umat Kristen perdana menanmakan pertemuan Ekaristi mereka dengan sebutan ”memecahkan roti”. Dengan makan dari satu roti yang dipecahkan itu semua orang lalu membentuk satu tubuh yaitu ”tubuh mistyc Kristus”.

· Perhimpunan Ekaristi

Ekaristi dirayakan dalam Gereja dengan himpunan umat, maka kegiatan itu disebut pula ”himpunan Ekaristi”.

· Kenangan

Saat kita merayakan ekaristi, kita mengenang misteri iman kita. Kita mengenang wafat Kristus, mengagungkan kebangkitan Kristus, dan mengharapkan kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya. (maranata = datanglah Tuhan Yesus).

· Kurban kudus

Disebut ”kurban Kudus” karena di dalam perayaan ini kita hanya mempersembahkan kurban tunggal yaitu Kristus Penebeus, dan bersama dengan kurban Kristus itu kita sebagai Gereja menyerahkan diri kepada Bapak surgawi.

· Syukur

Dalam perayaan Ekaristi kita bersyukur karena kita boleh membawahkan ”peresembahan rohani, yang murni dan kudus, sebab persembahan Tubuh dan Darah Kristus melebihi kurban kurban perjanjian lama” (Ibr.13;15).

· Liturgi Kudus dan Ilahi

Ekaristi menjadi pusat dan sentral semua liturgi Gereja, dan semua perayaan sakramen Gereja terungkap secara jelas dalam perayaan Sakramen Ekaristi. Karena itu Sakrament Ekaristi sering pula kita sebut ”SAKRAMEN MAHA KUDUS”. Dan perayaan Ekaristi juga lalu disebut sebagai perayaan misteri Kudus.



· Komuni

Dalam merayakan peryaan Ekaristi kudus kita dipersilahkan untuk mengambilbagian dalam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dan lalu membuat kita bersatu dengan Kristus. Dalam persatuan dengan Kristus kita membentuk satu tubuh. Dahulu orang menamakan juga ekaristi sebagai perayaan hal hal kudus= ta hagia sancta (cons.Lit. 8,13,12; Didache 9,5;106) ungkapan ini cocok butir syahadat para rasul ”perssekutuan para kudus”. Berkaitan dengan ini sering juga kita sebut, roti malaekat, roti surgawi, obat kebakaan (Ignatius dari Antiokia) atau bekal perjalanan via ticum (Eph.20,2).

· Misa Kudus.

Perayaan Ekaristi lebih sering kita kenal dengan Misa Kudus, karena liturgi dimana Ekaristi itu dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio). Umat bermisi untuk melaksanakan kehendak Allah dalam hidup mereka setiap hari. (ITA MISA EST).

Minggu, 06 November 2011

IBADAT SABDA DENGAN KOMUNI


Ada beberapa alasan yang dapat membenarkan pemberian komuni kepada umat yang menghadiri ibadat sabda di hari Minggu dan hari raya:

= ALASAN TEOLOGIS:
- Supaya pemberian diri Kristus lewat santapan sabda dapat dikukuhkan lewat santapan tubuh Kristus maka sebaiknya diberikan komuni dalam ibadat sabda itu.
- Tubuh dan darah Kristus adalah tanda pembaharuan perjanjian Allah dengan umatNya yang telah dimeteraikan dalam Kristus. Dengan menyambut tubuh Kristus, umat yang sudah menanggapi sabda Allah, membaharui perjanjiannya dengan Allah.
- Komuni adalah perjamuan harapan yang kelak akan terwujud secara sempurna dalam surga.

= ALASAN LITURGIS: Ibadat sabda dengan komuni itu satu perayaan liturgis di mana umat mendengar sabda Allah, menanggapinya dengan syukur pujian dan mempersatukan diri dengan sabda yang telah menjadi daging (Yesus Kristus) lewat komuni.

= ALASAN KATEKETIS: Ibadat sabda dengan komuni merupakan pewartaan tentang allah yang datang untuk mengunjungi umatNya baik lewat pembacaan kitab suci juga lewat komuni tubuh dan darah Kristus. Persatuan umat dengan Allah karena sabda Allah yang diwartakan, dapat diperdalam lewat Komuni.

= ALASAN HISTORIS: Ibadat sabda dengan komuni merupakan satu kebiasaan yang sudah ada sejak abad 16/17. Di samping itu, melaksanakan ibadat sabda dengan komuni, merupakan perwujudan gagasan Kongregasi Ibadat.

Di bawah ini akan disajikan gagasan dan petunjuk Kongregasi Ibadat tentang Ibadat sabda dengan komuni:
Dari Inter Oecumenici (26-9-1964), dapat diketahui bahwa komuni di luar perayaan Ekaristi dapat diberikan dalam konteks ibadat sabda. Hal ini diteguhkan lagi dalam/oleh Eucharisticum Mysterium (15-5-1967) dan de sacra Communione et de cultu mysterii eucharistici extra missam (21-6-1973).
Dari Liturgicae Instaurationes (5-9-1970) nomor 6 Yaitu instruksi ke 3 tentang pelaksanaan Konstitusi Liturgi dapat kita ketahui hal-hal ini:
- Di tanah-tanah misi, Ibadat sabda dengan komuni dapat dipimpin oleh seorang katekis. Dalam ibadat tersebut, hendaknya tidak dipakai Doa Syukur Agung. Kata-kata konsekrasi hendaknya tidak dipakai. Tapi kalau ada maka seharusnya dalam bacaan atau sebagai bacaan.
Gagasan-gagasan ini diwujudkan kalau ada ibadat sabda dengan komuni pada Hari Minggu dan hari Raya.

PENDAPAT PARA DELEGATUS LITURGI SE INDONESIA (LOKA KARYA 7-14/7/1988):

Walaupun ada berbagai alasan yang membenarkan komuni dalam ibadat sabda, tapi dalam loka karya yang dilangsungkan di Yogyakarta itu ditemukan kebijaksanaan lain: Sebaiknya ada ibadat sabda tanpa komuni di hari Minggu dan hari raya karena alasan-alasan ini:
- Perayaan sabda mempunyai nilai tersendiri yang harus ditonjolkan (bahwa Allah hadir dan berkarya di tengah umat yang berhimpun dan juga dalam sabdaNya yang diwartakan hari itu).
- Komuni adalah bagian utuh dari perayaan Ekaristi yang selayaknya diterima/disambut dalam konteks perayaan Ekaristi. Tetapi tiap keuskupan dapat mengambil kebijaksanaan khusus sesuai dengan sikonnya masing-masing.

Syarat yang harus dipenuhi agar ada komuni dalam ibadat sabda adalah: Pelayan khusus yang memadai harus ada; penghormatan yang pantas kepada sakramen Tubuh dan darah Kristus harus diperhatikan. Juga harus diperhatikan agar komuni yang disambut hendaknya dari hosti yang dikuduskan pada hari yang sama di tempat lain yang dapat diantar ke sana oleh diakon atau awam yang dipercayai.