Tampilkan postingan dengan label katekese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katekese. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 September 2025

Kajian Kasus Kompol Cosmas: Perspektif Personalisme Thomistik vs. Tanggung Jawab Institusi

 


Pendahuluan

Kasus pemecatan Kompol Cosmas baru-baru ini menimbulkan perdebatan publik yang tidak sederhana. Banyak yang melihatnya sekadar sebagai persoalan disiplin aparat, sebuah tindakan tegas dari Polri untuk menjaga integritas lembaganya. Namun, jika ditelaah lebih dalam, kasus ini sesungguhnya menyentuh persoalan filosofis dan etis yang jauh lebih mendasar: benturan antara martabat manusia sebagai pribadi dan tanggung jawab institusi untuk menjaga keadilan sosial.

Di satu sisi, Kompol Cosmas adalah seorang individu dengan sejarah pengabdian panjang, seorang suami, dan seorang ayah. Menguranginya hanya menjadi “pelanggar disiplin” berisiko meniadakan nilai personal yang melekat padanya. Personalisme thomistik, yang berakar pada filsafat Thomas Aquinas dan diteguhkan oleh ajaran magisterial Gereja, menegaskan bahwa manusia adalah imago Dei—gambar Allah—yang martabatnya tidak dapat dikurangi, bahkan ketika ia bersalah. Perspektif ini menuntut agar kebijakan hukum maupun institusional tetap menghormati pribadi manusia secara utuh.

Namun di sisi lain, Polri sebagai institusi tidak bisa semata-mata mempertimbangkan sisi personal. Legitimasi moral dan sosialnya bergantung pada kemampuannya menegakkan hukum secara konsisten, adil, dan transparan. Kontrak sosial dengan publik mengikat Polri untuk menjaga integritas internal dan memastikan disiplin berlaku bagi semua anggotanya tanpa pandang bulu. Dalam kerangka thomistik, ini adalah wujud nyata dari bonum commune—kebaikan bersama—yang hanya bisa dicapai jika hukum ditegakkan secara tegas.

Tulisan ini berusaha membaca kasus Cosmas dengan kerangka personalisme thomistik, yang memadukan penghargaan terhadap martabat manusia dengan tuntutan keadilan sosial. Pendekatan ini bukan saja memberi kedalaman analisis etis, tetapi juga membuka kemungkinan solusi yang lebih transparan dan manusiawi bagi institusi modern. Dengan menempatkan kasus ini sebagai “laboratorium etika”, kita dapat memahami bahwa dilema antara personalisme dan tanggung jawab institusi bukanlah kontradiksi mutlak, melainkan tegangan kreatif yang dapat disatukan melalui kebijaksanaan praktis (prudentia) dan keadilan (iustitia).

Kerangka Teoretis

1. Personalisme Thomistik: Martabat sebagai Inti

Personalisme lahir sebagai kritik terhadap reduksionisme modern yang cenderung melihat manusia hanya dari fungsi biologis, sosial, atau ekonomis. Dalam perspektif personalisme thomistik, yang berakar pada pemikiran Thomas Aquinas, manusia dipahami sebagai substantia completa—kesatuan tubuh dan jiwa yang dijiwai akal budi (ratio) dan kehendak bebas (voluntas).

Martabat manusia tidak berasal dari status sosial, jabatan, atau perannya dalam institusi, melainkan dari kenyataan ontologis bahwa ia adalah imago Dei—gambar Allah. Katekismus Gereja Katolik menegaskan: “Being in the image of God the human individual possesses the dignity of a person, who is not just something, but someone.” (CCC 357). Pandangan ini menolak perlakuan manusia sebagai objek atau sekadar alat untuk kepentingan institusional.

Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (1965) meneguhkan arah ini: “Martabat manusia adalah sesuatu yang sangat disadari oleh Gereja. Sebab manusia diciptakan menurut gambar Allah.” (GS 12). Dengan demikian, setiap kebijakan publik, termasuk pemecatan anggota institusi, tidak boleh menghapus martabat pribadi yang melekat pada manusia.

Paus Yohanes Paulus II dalam Redemptor Hominis (1979) menegaskan bahwa manusia adalah jalan utama Gereja: “Man is the primary and fundamental way for the Church.” (RH 14). Prinsip ini menuntut agar dalam setiap tindakan politik maupun institusional, manusia tetap diperlakukan sebagai tujuan, bukan sarana.

Kerangka ini membawa konsekuensi etis dalam kasus Cosmas: ia tidak bisa direduksi hanya sebagai pelanggar, tetapi harus dipandang sebagai pribadi dengan riwayat pengabdian, keluarga, dan jasa. Personalisme thomistik menegaskan dimensi relasional manusia—bahwa tindakan terhadap individu memiliki dampak pada keluarganya, yang martabatnya juga harus dihormati.

2. Tanggung Jawab Institusi: Bonum Commune sebagai Tujuan

Jika personalisme menekankan martabat pribadi, maka institusionalisme dalam kerangka thomistik menegaskan pentingnya bonum commune (kebaikan bersama). Aquinas memandang masyarakat dan institusi sebagai corpus morale (tubuh moral) yang keberadaannya ditujukan untuk memungkinkan individu mencapai kebaikan bersama secara lebih utuh.

Gaudium et Spes pasal 26 mendefinisikan bonum commune sebagai “jumlah dari semua kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan individu, keluarga, dan kelompok-kelompok mencapai pemenuhan diri mereka secara lebih penuh dan lebih mudah.” Maka, lembaga seperti Polri tidak hanya mengurus anggotanya, tetapi juga memikul tanggung jawab menjaga kepercayaan publik, integritas hukum, dan disiplin internal.

Dalam kerangka ini, ada tiga dimensi penting:

  1. Kontrak Sosial dengan Publik – Polri memiliki legitimasi karena diberi wewenang oleh masyarakat. Untuk menjaga kepercayaan, ia harus bertindak tegas dan transparan.
  2. Integritas Internal – Sebagai tubuh moral, Polri hanya bisa berfungsi jika standar disiplin ditegakkan secara konsisten.
  3. Keadilan terhadap Anggota Lain – Jika pelanggaran besar tidak ditindak, maka anggota lain yang setia akan merasa dirugikan. Ini melanggar prinsip keadilan distributif.

Dengan demikian, tanggung jawab institusi tidak sekadar administratif, tetapi moral. Setiap pelanggaran besar yang dibiarkan tanpa sanksi akan merusak bonum commune dan pada akhirnya merugikan masyarakat luas.

Bagian kerangka teoretis ini menyiapkan landasan konseptual untuk membaca kasus Cosmas: sebuah ketegangan antara dignitas personae (martabat pribadi) dan bonum commune (kebaikan bersama).

Analisis Kasus Kompol Cosmas

1. Perspektif Personalisme

Dalam kacamata personalisme thomistik, tindakan pemecatan terhadap Kompol Cosmas tidak bisa hanya dilihat sebagai penerapan aturan formal. Ada dimensi manusiawi yang harus diakui.

Pertama, Cosmas sebagai pribadi utuh. Ia bukan sekadar aparat yang melakukan pelanggaran, melainkan seorang manusia dengan riwayat panjang pengabdian, seorang ayah, dan seorang suami. Menguranginya hanya pada kesalahan terakhirnya berarti melakukan reduksionisme moral—meniadakan martabat yang lebih dalam sebagai imago Dei.

Kedua, tanggung jawab relasional terhadap keluarga. Aquinas menekankan bahwa manusia selalu hidup dalam jaringan relasi. Ketika Cosmas diberhentikan, dampaknya menjalar pada keluarganya, yang tidak bersalah tetapi ikut menanggung konsekuensi. Personalisme menuntut adanya mekanisme perlindungan agar martabat keluarga tetap dihormati—misalnya melalui jaminan pendidikan anak atau perlindungan dasar.

Ketiga, loyalitas timbal balik. Cosmas pernah mengabdi bagi negara, bahkan mungkin dalam situasi penuh risiko. Personalisme memandang hubungan individu dan institusi sebagai relasi etis yang ditopang keadilan distributif: pengabdian dan loyalitas seorang anggota semestinya memperoleh bentuk pengakuan, bahkan ketika ia jatuh dalam pelanggaran. Pemutusan total, tanpa pengakuan atas jasa sebelumnya, berpotensi melanggar ikatan moral tersebut.

Dari perspektif ini, pemecatan yang hanya menonjolkan aspek hukuman dianggap kurang manusiawi. Personalisme menuntut agar setiap hukuman tetap memperhitungkan narasi hidup, jasa, dan relasi sosial seorang pribadi.

2. Perspektif Tanggung Jawab Institusi

Di sisi lain, Polri sebagai institusi memiliki tugas menjaga bonum commune—kebaikan bersama. Tanggung jawab ini menuntut disiplin yang jelas, konsisten, dan transparan.

Pertama, tanggung jawab kepada publik. Kepercayaan masyarakat pada Polri hanya akan terjaga jika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Pemecatan yang diumumkan secara terbuka adalah wujud akuntabilitas moral kepada publik, sesuai kontrak sosial yang mengikat lembaga dengan masyarakat.

Kedua, menjaga integritas internal. Institusi adalah corpus morale. Jika pelanggaran besar dibiarkan, disiplin internal akan runtuh. Dalam kerangka thomistik, hal ini merusak keadilan legalis, yang menuntut agar aturan ditegakkan secara konsisten.

Ketiga, keadilan bagi anggota lain. Ribuan polisi lain yang setia pada aturan akan kehilangan motivasi jika pelanggaran besar tidak ditindak. Ini melanggar prinsip keadilan distributif, karena beban moral tidak terbagi adil.

Dengan demikian, pemecatan bukan hanya langkah administratif, tetapi sebuah sinyal moral bahwa integritas institusi dijaga. Namun, di sini muncul ketegangan dengan personalisme, sebab sanksi yang terlalu keras tanpa dimensi kemanusiaan bisa dipersepsikan sebagai pengabaian martabat pribadi.

3. Benturan dan Risiko

Kasus Cosmas menyingkap tegangan etis antara dua nilai fundamental: martabat manusia (dignitas personae) dan kebaikan bersama (bonum commune).

  • Personalisme berkata: “Hormati narasi hidup, pengabdian, dan keluarganya.”
  • Institusi berkata: “Tegakkan hukum demi disiplin dan kepercayaan publik.”

Dalam praktiknya, sering muncul solusi kompromistis berupa “kompensasi sunyi” yang diberikan kepada keluarga. Namun, mekanisme tersembunyi seperti ini menimbulkan risiko besar: jika terbongkar, publik akan melihat adanya “dua wajah” hukum—tegas di depan umum, tetapi lunak di balik layar. Ini bisa merusak legitimasi lebih dalam daripada jika institusi tidak bertindak sama sekali.

Analisis ini menunjukkan bahwa kasus Cosmas bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan panggilan untuk mencari bentuk keadilan yang lebih utuh—yang tidak mengorbankan martabat pribadi sekaligus tidak melemahkan integritas institusi.

Benturan dan Titik Temu

1. Benturan Nilai

Kasus Kompol Cosmas memperlihatkan bagaimana dua nilai fundamental dapat saling menegangkan. Dari sisi personalisme, pemecatan yang keras berisiko melukai martabat pribadi dan merusak kehidupan keluarganya. Pandangan ini mengingatkan bahwa individu bukan sekadar fungsi institusi, tetapi seorang pribadi dengan sejarah, jasa, dan jaringan relasi.

Sebaliknya, dari sisi institusional, pembiaran atau toleransi terhadap pelanggaran akan menghancurkan kepercayaan publik dan melemahkan disiplin internal. Polri sebagai corpus morale memiliki kewajiban menjaga bonum commune, yang menuntut adanya sanksi yang jelas, konsisten, dan dapat dilihat publik.

Tegangan ini tidak bisa dihindari. Personalisme menekankan perlindungan individu, sementara institusi menekankan disiplin kolektif. Pada titik ini, seakan-akan keduanya tidak dapat dipertemukan: menjaga martabat pribadi berarti melemahkan institusi, sementara menjaga institusi berarti mengorbankan martabat individu.

2. Potensi Rekonsiliasi

Dalam filsafat Thomistik, benturan nilai tidak harus berakhir pada pilihan “salah satu.” Aquinas menekankan prinsip prudentia (kebijaksanaan praktis) yang memungkinkan penyeimbangan nilai dalam situasi konkret. Prudentia berfungsi sebagai akal budi praktis yang menuntun tindakan manusia agar tetap selaras dengan kebaikan moral.

Rekonsiliasi dimungkinkan melalui langkah-langkah berikut:

  • Disiplin yang Tegas dan Transparan

Pemecatan tetap dilakukan dan diumumkan secara terbuka sebagai wujud akuntabilitas publik. Ini menjaga legitimasi institusi dan mengafirmasi keadilan legalis.

  • Mekanisme Perlindungan Kemanusiaan yang Formal

Alih-alih “kompensasi sunyi”, institusi perlu memiliki regulasi terbuka yang memastikan keluarga anggota yang diberhentikan tidak kehilangan hak dasar. Misalnya, dukungan pendidikan anak atau akses kesehatan terbatas. Hal ini menghormati dignitas personae tanpa melanggar prinsip akuntabilitas.

  • Komunikasi Publik yang Jernih

Institusi harus menjelaskan bahwa tindakan disiplin tidak menghapus pengakuan atas jasa masa lalu. Dengan transparansi, publik tidak melihat adanya “hukum dua wajah”, melainkan keseimbangan antara keadilan dan belas kasih.

3. Prinsip Etis: Iustitia dan Misericordia

Dalam tradisi Thomistik, keadilan (iustitia) dan belas kasih (misericordia) bukanlah lawan, tetapi dua aspek yang harus berjalan bersama. Keadilan menuntut sanksi demi keteraturan sosial, sementara belas kasih menuntut perlindungan martabat individu.

Titik temu hanya dapat dicapai jika kedua prinsip ini diintegrasikan dalam kebijakan publik yang transparan. Dengan begitu, tindakan Polri tidak lagi tampak sebagai paradoks antara “drama publik” dan “proteksi internal”, melainkan sebagai praktik etis yang menyatukan tuntutan personalisme dan tanggung jawab institusi.

Solusi Normatif

1. Disiplin yang Tegas dan Transparan

Langkah pertama yang harus ditegakkan adalah disiplin hukum yang tidak pandang bulu. Dalam kerangka Thomistik, ini sejalan dengan keadilan legalis—kewajiban institusi untuk menegakkan aturan demi bonum commune. Pemecatan Kompol Cosmas, jika memang sudah melalui proses hukum yang sah, tetap harus dilaksanakan secara terbuka dan diumumkan kepada publik. Dengan cara ini, Polri menunjukkan bahwa integritas internalnya dijaga dan kepercayaan publik dipelihara.

Namun, ketegasan ini tidak boleh dijalankan dalam kerangka punitif semata. Transparansi memberi nilai moral tambahan, karena publik tidak hanya melihat efek disiplin, tetapi juga proses keadilan yang jernih.

2. Mekanisme Perlindungan Kemanusiaan yang Formal

Dalam tradisi personalisme thomistik, martabat manusia tidak pernah hilang, bahkan dalam kondisi bersalah. Karena itu, sanksi terhadap Cosmas seharusnya tidak menyeret keluarganya dalam penderitaan tanpa perlindungan.

Alih-alih “kompensasi sunyi” yang rawan menimbulkan persepsi hipokrisi, Polri dapat merumuskan mekanisme formal yang dilembagakan. Misalnya:

  • Hak Pendidikan Anak – Mantan anggota yang diberhentikan dengan catatan pengabdian panjang tetap memperoleh akses pendidikan untuk anak-anaknya.
  • Jaminan Kesehatan Terbatas – Keluarga masih mendapat perlindungan kesehatan dasar.
  • Pengakuan Pengabdian Masa Lalu – Pencatatan resmi mengenai jasa dan loyalitas yang telah diberikan sebelum pelanggaran terjadi.

Dengan mekanisme ini, martabat keluarga tetap dihormati, sementara publik melihat aturan yang konsisten dan bukan privilese tersembunyi.

3. Komunikasi Publik yang Jernih

Kebijakan yang baik dapat kehilangan nilainya bila komunikasi publik lemah. Polri harus berani menyampaikan pesan ganda yang seimbang:

  • “Kami tegas menegakkan hukum, karena hukum adalah pilar keadilan sosial.”
  • “Kami juga tidak menelantarkan keluarga yang tidak bersalah, karena martabat manusia tetap kami junjung.”

Komunikasi seperti ini bukan bentuk kompromi moral, melainkan integrasi nilai keadilan dan belas kasih. Transparansi ini justru menguatkan legitimasi institusi, karena publik melihat adanya keseimbangan antara disiplin dan kemanusiaan.

4. Menyatukan Iustitia dan Misericordia

Dalam kerangka Thomistik, solusi normatif selalu menuntut kesatuan antara iustitia (keadilan) dan misericordia (belas kasih). Keadilan tanpa belas kasih akan menjadi kaku dan dehumanis. Sebaliknya, belas kasih tanpa keadilan akan melahirkan ketidakadilan struktural.

Kasus Cosmas menunjukkan bahwa solusi ideal bukanlah memilih salah satu, melainkan merumuskan mekanisme di mana keduanya berjalan bersama. Pemecatan adalah keadilan, perlindungan keluarga adalah belas kasih, dan transparansi adalah jembatan yang menyatukan keduanya.

Apabila Polri mampu mewujudkan mekanisme ini, maka kasus Cosmas dapat menjadi preseden etis yang kuat: bahwa institusi modern bisa tetap disiplin sekaligus manusiawi, tegas sekaligus penuh belas kasih.

Kesimpulan

Kasus Kompol Cosmas bukan sekadar peristiwa disiplin internal kepolisian, melainkan sebuah laboratorium etis yang memperlihatkan ketegangan mendasar antara martabat pribadi (dignitas personae) dan tanggung jawab institusi untuk menjaga bonum commune. Dari perspektif personalisme thomistik, setiap manusia adalah imago Dei, pribadi utuh yang tidak boleh direduksi hanya pada kesalahannya. Sementara itu, dari perspektif institusional, Polri sebagai corpus morale wajib menegakkan hukum secara konsisten, demi menjaga kepercayaan publik dan integritas internal.

Benturan antara dua nilai ini tidak harus berakhir pada pilihan biner—memihak individu dengan mengorbankan institusi, atau sebaliknya. Jalan tengah yang lebih berintegritas dapat ditemukan dalam prinsip prudentia (kebijaksanaan praktis) dan integrasi antara iustitia (keadilan) dan misericordia (belas kasih). Dengan pemecatan yang tegas dan transparan, mekanisme perlindungan formal bagi keluarga, serta komunikasi publik yang jernih, Polri dapat sekaligus menjaga integritasnya dan menghormati martabat manusia.

Di era keterbukaan, pendekatan “dua wajah”—tegas di depan publik tetapi lunak di balik layar—semakin kehilangan relevansi. Solusi yang berakar pada personalisme thomistik menawarkan paradigma baru: bahwa disiplin hukum dan penghormatan martabat manusia bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu komitmen etis. Dengan menegakkan keadilan tanpa menghapus belas kasih, institusi dapat tampil bukan hanya sebagai pelindung hukum, tetapi juga sebagai penjaga kemanusiaan.

 

Selasa, 04 Maret 2025

MENGAPA UMAT KATOLIK MENERIMA ABU DI AWAL PRAPASKAH?

 

Niech bedze….

Salve fratres,

Di sebuah pagi yang tenang, di awal masa Prapaskah, diringi kicau burung dan kokok ayam pagi yang merdu, umat Katolik dari berbagai penjuru dunia berkumpul di gereja. Hari itu adalah Rabu Abu, sebuah tradisi tua yang sarat makna, menandai dimulainya perjalanan rohani selama 40 hari menuju Paskah. Satu per satu, mereka maju ke depan altar, dan seorang imam dengan lembut menorehkan abu di dahi mereka, sambil mengucapkan, "Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan kepada debu engkau akan kembali."

 

Ternyata, Ada Jejak Sejarah dalam Debu dan Abu

Tradisi ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum kekristenan berkembang, abu telah lama menjadi simbol pertobatan dan kerendahan hati dalam tradisi Yahudi. Kitab Suci mencatat bagaimana tokoh-tokoh besar seperti Ayub duduk di atas abu dalam penderitaan dan doa (Ayub 2:8), dan bagaimana Daniel mengenakan kain kabung serta menaburkan abu sebagai tanda permohonan kepada Tuhan (Daniel 9:3).

Ketika agama Kristen mulai berkembang, praktik ini diadopsi sebagai tanda penyesalan atas dosa. Bahkan dalam Kitab Yehezkiel (Yehezkiel 9:4), Tuhan memerintahkan agar tanda khusus—huruf "Thau" yang menyerupai salib—dibuat di dahi mereka yang berduka atas dosa. Kemudian, dalam Wahyu 7:3, para hamba Tuhan disebut menerima tanda di dahi mereka, sebuah gambaran yang oleh Gereja dipahami sebagai pemenuhan janji keselamatan dalam baptisan.

Seiring berjalannya waktu, sekitar abad ke-10 atau ke-11, kebiasaan menerima abu pada Rabu Abu berkembang menjadi tradisi universal bagi seluruh umat Katolik, bukan hanya bagi mereka yang melakukan penitensi publik. Konsili Benevento tahun 1091 menjadi salah satu momen penting yang memperkuat praktik ini di Gereja Barat.

Abu yang digunakan pun memiliki makna yang mendalam. Ia berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, yang kemudian dibakar dan kadang dicampur dengan air suci atau minyak. Dengan demikian, abu itu menghubungkan kemuliaan kemenangan Yesus saat memasuki Yerusalem dengan kerendahan hati pertobatan di masa Prapaskah.

Kita juga bisa menyimak Makna Simbolik pada perayaan pagi yang hening terebut: Abu, Salib, dan Kehidupan yang Sementara

Ketika abu ditorehkan di dahi dalam bentuk salib, ia membawa dua pesan penting: kesementaraan hidup manusia dan ajakan untuk bertobat. Kata-kata yang diucapkan imam mengingatkan bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu (Kejadian 3:19). Ini adalah realitas yang tak terelakkan—hidup di dunia ini bersifat fana, namun ada harapan akan kehidupan kekal.

Prapaskah sendiri adalah perjalanan spiritual yang mengikuti jejak Yesus saat berpuasa selama 40 hari di padang gurun (Matius 4:1-11). Abu di dahi adalah tanda dimulainya perjalanan ini—sebuah undangan untuk kembali kepada Tuhan, meninggalkan dosa, dan mempersiapkan hati bagi kebangkitan Kristus di Paskah. Selain itu, abu yang tampak jelas di dahi menjadi bentuk kesaksian iman, meski tidak dimaksudkan untuk dipamerkan secara berlebihan (Matius 6:1).

Bertolak lebih ke dalam mari kita menangkap Dimensi Teologisnya: Dosa, Kasih Karunia, dan Keselamatan

Dalam pandangan teologi Katolik, Rabu Abu berkaitan erat dengan realitas dosa, kasih karunia, dan keselamatan. Abu melambangkan dampak Kejatuhan Manusia setelah dosa Adam dan Hawa (Kejadian 3), tetapi bentuk salib di dahi mengingatkan pada kemenangan Kristus atas dosa melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Ini adalah paradoks: manusia memang rapuh dan berdosa, tetapi juga ditebus dan dipanggil menuju kekudusan.

Penerimaan abu bukanlah sakramen yang menghapus dosa seperti Sakramen Tobat, tetapi ia adalah sakramentali—sebuah tanda lahiriah yang membantu membuka hati untuk pertobatan sejati. Dalam semangat Prapaskah, praktik ini sejalan dengan tiga pilar utama: doa, puasa, dan amal kasih. Semua ini bukan sekadar ritual, tetapi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama.

Dan demikianlah, di hari itu, dengan abu di dahi dan hati yang merenung, umat Katolik melangkah pulang. Mereka memasuki Prapaskah bukan hanya dengan tanda di wajah, tetapi juga dengan tekad di hati—untuk berubah, bertumbuh, dan kembali kepada Tuhan.

 

 

 

Senin, 03 Juni 2024

Mengapa Maria digambarkan Berdiri di atas Ular?

Tradisi ini didasarkan pada sebuah ayat dari Kitab Kejadian, di mana kejatuhan Setan diprediksi.

Salah satu penggambaran Perawan Maria yang paling umum adalah dia berdiri di atas ular. Mengapa demikian?

Tradisi ini berakar pada ayat Alkitab yang diterjemahkan dalam Vulgata Latin (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam Alkitab Douay-Rheims). Dalam Kitab Kejadian, tak lama setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman, Allah mengutuk ular yang menipu mereka dan menubuatkan kehancuran terakhirnya.

I will put enmities between thee and the woman, and thy seed and her seed: she shall crush thy head, and thou shalt lie in wait for her heel. (Genesis 3:15)

Awalnya ini diambil oleh Gereja untuk merujuk pada Maria, wanita yang akan melahirkan Mesias. Melalui "Ya" dia, Setan akan dikalahkan dan kutukan Hawa diangkat.

St Ireneus mengatakannya dengan fasih, "Ketaatan [Yesus] pada pohon salib membalikkan ketidaktaatan pada pohon di Eden; kabar baik tentang kebenaran yang diumumkan oleh seorang malaikat kepada Maria, seorang perawan yang tunduk pada seorang suami, membatalkan kebohongan jahat yang menggoda Hawa, seorang perawan yang dimiliki espoused oleh seorang suami. Ketika Hawa tergoda oleh perkataan seorang malaikat dan dengan demikian melarikan diri dari Allah setelah tidak menaati firman-Nya, Maria pada gilirannya diberi kabar baik oleh perkataan seorang malaikat, dan melahirkan Allah dalam ketaatan pada firman-Nya.

Pada saat yang sama, Septuaginta Yunani menerjemahkannya sebagai “he shall crush your head,” alih-alih merujuk kepada Yesus Kristus. Hal ini diperdebatkan sepanjang sejarah Gereja, seperti yang diceritakan St. Alfonsus Liguori dalam bukunya The Glories of Mary.

Maria, kemudian, adalah wanita yang hebat dan gagah berani ini, yang menaklukkan iblis dan meremukkan kepalanya dengan menurunkan kesombongannya, seperti yang dinubuatkan oleh Allah sendiri: "she shall crush your head." Beberapa orang meragukan apakah kata-kata ini merujuk pada Maria, atau apakah kata-kata itu bukannya merujuk pada Yesus Kristus; karena Septuaginta menerjemahkannya, "He shall crush your head." Tetapi dalam Vulgata ... kita menemukan "She," dan bukan "He;" dan dengan demikian itulah yang dipahami oleh Santo Ambrosius, Santo Hieronimus, Santo Agustinus, dan banyak lainnya.

St Alfonsus mengakui bahwa, bagaimanapun juga, itu adalah melalui kemenangan yang dimenangkan oleh Yesus.

Namun, bagaimanapun juga, dapat dipastikan bahwa Putra melalui Bunda, atau Bunda melalui Putra, telah mengalahkan Lusifer; sehingga, seperti dikatakan St Bernardus, roh sombong ini, terlepas dari dirinya sendiri, dipukuli dan diinjak-injak oleh Perawan Terberkati ini; sehingga,  sebagai budak yang ditaklukkan dalam perang, ia dipaksa untuk selalu mematuhi perintah Ratu ini. Dipukuli dan diinjak-injak di bawah kaki Maria, ia menanggung perbudakan yang menyedihkan.

Kabar baiknya adalah bahwa Setan, "ular," telah dikalahkan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Jawaban "Ya" dari  Maria memungkinkan hal itu, dan melalui pilihan bebasnya Mesias kita datang ke dunia.

Maria tetap menjadi "Teror of Demons," dan tidak mengherankan bahwa setan sering melarikan diri atas nama Maria, takut pada wanita yang membalikkan ketidaktaatan Hawa.

 

Minggu, 06 Agustus 2023

Bukankah Semua Orang Kristen Mengajarkan tentang Kristus?

apakah semua gereja Kristen, semua orang Kristen percaya hal yang sama tentang Kristus?

Dalam arti tertentu, Iya. Sejauh seseorang dapat menggambarkan suatu komunitas gerejawi sebagai benar-benar Kristen, maka ia harus berpegang pada prinsip2 dasar tentang Kristus. (Ini tidak berarti kelompok semacam itu sepenuhnya ortodoks, hanya saja tidak begitu sesatnya sehingga kehilangan nama Kristen sepenuhnya.)

Baik Katolik maupun Protestan percaya bahwa Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Keduanya percaya bahwa Yesus adalah Pribadi Kedua dari Trinitas. Dan keduanya percaya pada Kelahiran Perawan dan Kebangkitan tubuh Kristus. Jadi, baik Katolik maupun Protestan dapat disebut Kristen, meskipun dari sudut pandang Katolik, Protestan adalah heterodoks dalam sejumlah poin kunci.

Pada saat yang sama, ada banyak kelompok yang mengatasnamakan diri Kristen sambil menyangkal prinsip-prinsip dasar kristologis.

Saksi-Saksi Yehuwa, misalnya, mengklaim bahwa Yesus bukanlah Tuhan Yang Mahakuasa, Yehuwa, tetapi Michael sang Malaikat Agung.

Mormon menyangkal Yesus dan Bapa adalah Tuhan yang sama dalam dua Pribadi yang berbeda.

Christian Scientists, dengan menolak realitas objektif dari dunia material, menolak Inkarnasi karena orang Kristen secara tradisional telah memahami doktrin ini.

Ada juga teolog "liberal" di Gereja Katolik dan di dalam denominasi Protestan yang menyangkal keilahian Kristus, Kelahiran Perawannya, dan Kebangkitan tubuhnya. Seperti yang diamati oleh Hans Urs von Balthasar tentang seorang teolog Katolik “liberal”, ketika kepercayaan dasar Kristologis seperti itu ditinggalkan, secara teologis tidak benar untuk menggambarkan orang yang menolaknya sebagai seorang Kristen.

Jadi kami /kita umat Katolik tidak dapat melarang orang heterodoks untuk menggambarkan diri mereka sebagai orang Kristen, tetapi kami/kita dapat memperjelas bahwa mereka tidak percaya apa yang Kitab Suci dan Tradisi katakan kepada kami/kita tentang Kristus.

MENGAPA DOA BAPA KAMI KATOLIK DAN PROTESTAN BERBEDA?

Mengapa orang Kristen mendoakan Bapa Kami ("Doa Bapa Kami") dengan sedikit perbedaan? Yang paling jelas adalah karena ada perbedaan terjemahan Kitab Suci. Tapi ada hal yang perlu diperhatikan di sini.

Umat ​​Katolik menutup dengan "bebaskanlah kami dari segala yang jahat," sedangkan kebanyakan Protestan, mengikuti Matius 6:13 dalam Versi King James, melanjutkan dengan mengatakan sesuatu seperti, "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa Dan kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin.

Apakah umat Katolik menghilangkan frasa ini dari doa Yesus, atau apakah umat Protestan menambahkannya?

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa doanya berbeda bahkan di antara Injil itu sendiri. Meskipun bentuk dalam Matius adalah bentuk yang digunakan oleh hampir semua orang Kristen saat ini, versi yang lebih pendek dicatat dalam Lukas pasal 11, yang diakhiri dengan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (ay.4). Jadi secara teknis, seseorang akan sepenuhnya dibenarkan secara alkitabiah hanya dengan mengakhiri doa di sana.

Hal kedua yang menarik adalah bahwa ayat tersebut tidak termasuk dalam manuskrip alkitabiah “tertua dan terbaik”, dan karena itu tidak dianggap oleh mayoritas ahli alkitab saat ini, baik Katolik maupun Protestan, sebagai bagian dari teks alkitabiah asli. Alkitab Versi King James didasarkan pada Textus Receptus, yang tidak didasarkan pada manuskrip tertua yang kita miliki saat ini. Baik Codex Sinaiticus maupun Vaticanus tidak memuat ayat tersebut—sebenarnya, kesaksian paling awal yang kita miliki tentang akhir yang lebih panjang dari Our Father adalah sebuah perkamen akhir abad keempat atau awal abad kelima yang disebut Codex Washingtonensis.

Kata bahasa Inggris dari Our Father yang digunakan orang Protestan saat ini mencerminkan versi yang didasarkan pada Alkitab versi bahasa Inggris yang diproduksi oleh Tyndale pada tahun 1525. Versi Tyndale tidak ditemukan dalam tradisi liturgi Kristen barat sampai Scottish Book of Common Prayer tahun 1637. Dan meskipun akhiran yang lebih panjang tetap populer saat ini, ada banyak Alkitab yang tidak mencantumkannya. Terjemahan Alkitab Katolik (misalnya, Vulgata, Douay-Rheims, atau New American) tidak pernah memasukkannya, dan sebagian besar Alkitab Protestan juga tidak memasukkannya.[1] Bahkan King James versi modern menyertakan catatan kaki yang menyatakan bahwa frasa tersebut dihilangkan dalam manuskrip yang lebih tua.

Selain itu, meskipun para Bapa Gereja mula-mula seperti Jerome, Gregorius Agung, Ambrosius, dan Agustinus menulis tentang pentingnya dan keindahan doa “Bapa Kami”, tidak satu pun dari mereka yang mencantumkan frasa tersebut ketika merujuknya. Komentar tentang doa oleh Tertullian, Origen, dan Cyprian juga tidak memasukkannya. John Chrysostom memang membahas frasa tersebut dalam homili abad keempatnya tentang Matius (19:10).

Ketika kita beralih dari komentar Kitab Suci ke Tradisi Gereja, kita menemukan frasa ini (yang menyerupai 1 Tawarikh 29:11) dalam penggunaan liturgi kuno sebagai doksologi singkat (tanggapan pujian) untuk Doa Bapa Kami. Pedoman Kristen yang dikenal sebagai Didache (c. A.D. 95) memiliki versi singkat dari doksologi setelah Bapa Kami dalam bab 8, dan bacaan yang lebih panjang ditemukan dalam Konstitusi Apostolik abad keempat (7.24). Dari sana itu dimasukkan ke dalam Liturgi St. John Chrysostom juga. Dengan demikian, tampaknya ungkapan ini sangat mungkin merupakan sebuah doksologi—suatu kesimpulan dari doa asli yang Yesus perintahkan untuk diucapkan oleh murid-muridnya.

Bukti kitab suci dan tradisional menunjuk pada penambahan frasa abad keempat pada doa aslinya. Kemungkinan sekitar waktu ini, seorang juru tulis yang akrab dengan liturgi menambahkan doksologi ke dalam Kitab Suci sambil menyalin bagian Bapa Kami, dan itu menemukan jalannya ke dalam terjemahan-terjemahan selanjutnya dari Alkitab itu sendiri. Salinan ini akhirnya melebihi jumlah dokumen yang lebih kuno, dan frase tersebut dimasukkan dalam Injil di sebagian besar manuskrip Alkitab kuno sejak saat itu.

Ketika kaum Protestan mula-mula menghasilkan terjemahan Alkitab mereka sendiri pada abad keenam belas, mereka menggunakan teks mayoritas sebagai sumbernya. Hasilnya adalah terjemahan mereka memasukkan frasa tersebut seolah-olah itu adalah bagian dari tulisan asli Injil. Di Inggris, terjemahan Tyndale memasukkannya, dan ketika Henry VIII memisahkan diri dari Gereja Katolik, dia memutuskan untuk memasukkannya ke dalam ibadah. Akhirnya, Ratu Elizabeth yang sangat anti-Katolik memasukkannya ke dalam Anglican Book of Common Prayer. Setelah dibawa ke Amerika oleh kaum Puritan, penambahan frasa tersebut semakin diperkuat.

Jadi, sebagai kesimpulan, tampaknya orang Protestan Inggris menambahkan doa Katolik tradisional ke dalam Alkitab untuk menjauhkan diri dari apa yang mereka anggap sebagai tradisi Katolik yang tidak alkitabiah. Meskipun orang Protestan telah mengoreksi banyak terjemahan Alkitab modern mereka, tampaknya tradisi(!) mereka menambahkan doksologi Katolik ke Doa Bapa Kami yang alkitabiah mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk diatasi.


NB: diterjemahkan dari catholic answer.com

Memahami Sakramen Pengakuan Dosa

 

Yang penting untuk dipahami adalah bahwa Tuhan memberi kita pengampunan dengan cara-Nya sendiri. Dia mengampuni kita melalui seorang  manusia. Siapakah manusia itu? Putra Bapa yang menjadi salah satu dari kita. Yesus adalah orang yang menawarkan pengampunan Allah, dan Yesus adalah sepenuhnya Allah dan manusia. Tetapi bagaimana Yesus melakukannya sekarang setelah Dia naik ke Surga? Sebelum Dia naik, Dia memberikan kekuatan pengampunan ilahi-Nya kepada para imam pertama-Nya, para rasul. Mereka, pada gilirannya, mewariskan kekuatan itu kepada orang lain, yang meneruskannya kepada orang lain, selama berabad-abad, hingga zaman kita sekarang.

Para imam, terlepas dari kenyataan bahwa mereka sendiri tidak sempurna, memiliki kuasa rohani Yesus untuk benar-benar mengucapkan kata-kata pengampunan-Nya kepada orang lain. Oleh karena itu, ketika seorang imam berkata. “Ego te absolvo Aku membebaskanmu” kita harusnya mendengar Yesus sendiri, sebagai wajah manusiawi Allah, mengatakan kata-kata yang sama kepada kita.

Mengapa Tuhan memilih untuk menggunakan para imam untuk memberikan pengampunan-Nya? Sejujurnya, kita benar-benar tidak memiliki jawaban yang sempurna untuk pertanyaan itu. Tentu ada tulisan-tulisan dan refleksi-refleksi serta ajaran-ajaran yang luar biasa mengenai hal ini sepanjang sejarah Gereja. Namun, pada akhirnya, kita hanya akan memahami sepenuhnya misteri tentang bagaimana Tuhan memberikan pengampunan-Nya kepada kita ketika kita berada di Surga. Untuk saat ini, kita hanya perlu mengikuti apa yang Yesus ajarkan dan menerima pengampunan-Nya dengan cara yang kita tahu bagaimana Dia memberikannya.

Pada tingkat psikologis, saya, sebagai seorang imam, telah melihat begitu banyak orang mendapat manfaat dari benar-benar mendengar kata-kata itu diucapkan dari mulut saya. Berkali-kali saya telah melihat orang-orang datang ke ruang pengakuan ketakutan dan malu, dan berjalan keluar dengan bebas dan damai. Jadi it really works. Pastikan Anda segera mencobanya!

 

Senin, 03 Desember 2012

Nama-nama lain dari Ekaristi


Sakaramen Ekaristi sangat kaya dan bermakna, hal ini dapat kita simak dalam banyaknya nama yang diberikan orang kepada Ekaristi.

· Ekaristi

Disebut Ekaristi karena sambil menikmati hidangan Tubuh dan Darah Kristus, ada pengucapan syukur dan pujian serta terimakasih. Hal ini diambil dari kebiasaan Yahudi yang sambil makan mereka memuliakan karya agung Allah, yakni mencipta, menebus dan menguduskan. Hal ini yang lazim orang Yahudi sebut barakhah terjemahan Yunaninya ”eucharistein” atau juga ”eulogein”.

· Perjamuan Tuhan

Sebab sebelum menderita sengsara dengan rela, Yesus guru ilahi masih mengadakan perjamuan bersama murid-muridNya. Perjamuan malam itu menggambarkan juga perjamuan pernikahan anak doma kelak. Perjamuan ini lalu diwariskan kepada para murid dengan berpesan ”BUATLAH INI UNTUK MENGENANGKAN DAKU.

· Pemecahan Roti

Dalam tradisi Yahudi ada ritus yang disebut sebagai ”ritus pemecahan roti”. Ritus inilah yang dipakai oleh Yesus dalam malam perpisahan yang memiluhkan itu. Ia mengambil Roti, memecah-mecahkan roti itu, lalu memberikan kepada murid-muridNya. Ketika Kristus bangkit dan menampakan diri pada para murid, Dia juga mengambil roti memecahkanNya dan memberikan kepada mereka, dengan cara itu murid murid lalu sadar dan mengenal Tuhan yang bangkit. Karena itu himpunan umat Kristen perdana menanmakan pertemuan Ekaristi mereka dengan sebutan ”memecahkan roti”. Dengan makan dari satu roti yang dipecahkan itu semua orang lalu membentuk satu tubuh yaitu ”tubuh mistyc Kristus”.

· Perhimpunan Ekaristi

Ekaristi dirayakan dalam Gereja dengan himpunan umat, maka kegiatan itu disebut pula ”himpunan Ekaristi”.

· Kenangan

Saat kita merayakan ekaristi, kita mengenang misteri iman kita. Kita mengenang wafat Kristus, mengagungkan kebangkitan Kristus, dan mengharapkan kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya. (maranata = datanglah Tuhan Yesus).

· Kurban kudus

Disebut ”kurban Kudus” karena di dalam perayaan ini kita hanya mempersembahkan kurban tunggal yaitu Kristus Penebeus, dan bersama dengan kurban Kristus itu kita sebagai Gereja menyerahkan diri kepada Bapak surgawi.

· Syukur

Dalam perayaan Ekaristi kita bersyukur karena kita boleh membawahkan ”peresembahan rohani, yang murni dan kudus, sebab persembahan Tubuh dan Darah Kristus melebihi kurban kurban perjanjian lama” (Ibr.13;15).

· Liturgi Kudus dan Ilahi

Ekaristi menjadi pusat dan sentral semua liturgi Gereja, dan semua perayaan sakramen Gereja terungkap secara jelas dalam perayaan Sakramen Ekaristi. Karena itu Sakrament Ekaristi sering pula kita sebut ”SAKRAMEN MAHA KUDUS”. Dan perayaan Ekaristi juga lalu disebut sebagai perayaan misteri Kudus.



· Komuni

Dalam merayakan peryaan Ekaristi kudus kita dipersilahkan untuk mengambilbagian dalam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dan lalu membuat kita bersatu dengan Kristus. Dalam persatuan dengan Kristus kita membentuk satu tubuh. Dahulu orang menamakan juga ekaristi sebagai perayaan hal hal kudus= ta hagia sancta (cons.Lit. 8,13,12; Didache 9,5;106) ungkapan ini cocok butir syahadat para rasul ”perssekutuan para kudus”. Berkaitan dengan ini sering juga kita sebut, roti malaekat, roti surgawi, obat kebakaan (Ignatius dari Antiokia) atau bekal perjalanan via ticum (Eph.20,2).

· Misa Kudus.

Perayaan Ekaristi lebih sering kita kenal dengan Misa Kudus, karena liturgi dimana Ekaristi itu dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio). Umat bermisi untuk melaksanakan kehendak Allah dalam hidup mereka setiap hari. (ITA MISA EST).