Tampilkan postingan dengan label Kitab Suci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Suci. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Agustus 2025

Mitos Vulgata: Konsili Trente, Calvin, dan Kesalahpahaman Protestan

 



Pendahuluan

Salah satu tuduhan paling klasik yang diwarisi banyak kalangan Protestan terhadap Gereja Katolik adalah bahwa Konsili Trente (1545–1563) “menutup pintu Kitab Suci.” Ceritanya begini: ketika para Reformator menggelorakan semangat kembali ke Kitab Suci dalam bahasa aslinya, Gereja justru panik. Sebagai reaksi, Trente—demikian narasi itu berbunyi—menetapkan Vulgata Latin karya St. Hieronimus sebagai satu-satunya Alkitab resmi. Akibatnya, Gereja dianggap menolak Ibrani dan Yunani, melarang penerjemahan ke bahasa rakyat, dan menjerumuskan umat dalam kegelapan.

Cerita ini begitu kuat sehingga banyak mahasiswa teologi Protestan mengulanginya tanpa pernah membaca dokumen Trente itu sendiri. Bahkan beberapa Katolik yang goyah imannya kerap menganggapnya sebagai bukti bahwa Gereja Katolik pernah “menentang Firman Tuhan.” Ironisnya, kisah ini lahir dari pena John Calvin dalam Antidote to the Council of Trent (1547), lalu diwariskan turun-temurun sebagai sebuah “fakta.”

Namun, benarkah demikian? Apakah Trente memang menutup jalan ke bahasa asli Kitab Suci? Ataukah ini hanyalah mitos yang dibentuk oleh polemik Reformasi?

Artikel ini bermaksud menelusuri pertanyaan tersebut secara sistematis. Pertama, kita akan melihat bagaimana Calvin merumuskan tuduhan itu. Kedua, kita akan membuka langsung teks dekret Trente Sesi IV (8 April 1546) untuk melihat apa yang sebenarnya diputuskan. Ketiga, kita akan menimbang tradisi Katolik yang justru mendorong studi bahasa asli baik sebelum maupun sesudah Trente. Akhirnya, kita akan menunjukkan bahwa tuduhan tersebut lebih merupakan propaganda polemik daripada fakta sejarah, dan bahwa Gereja Katolik tidak pernah meninggalkan Kitab Suci, melainkan menjaga sekaligus memperdalam warisan iman.

 

Bagian I – Calvin dan Mitos Trente

Ketika Konsili Trente bersidang di tengah gelombang Reformasi, John Calvin segera menulis tanggapan keras. Dalam Antidote to the Council of Trent (1547), ia menuduh para Bapa Konsili dengan sengaja “mengubur” Kitab Suci di bawah otoritas Vulgata.

 

Calvin menulis dalam Tracts and Treatises in Defence of the Reformed Faith (Volume 3

“But as the Hebrew or Greek original often serves to expose their ignorance in quoting Scripture, to check their presumption, and so keep down their transonic boasting, they ingeniously meet this difficulty also by determining that the Vulgate translation only is to be held authentic. Farewell, then, to those who have spent much time and labor in the study of languages… In condemning all translations except the Vulgate, as the error is more gross, so the edict is more barbarous.”

 

"Namun, karena terjemahan asli Ibrani atau Yunani sering kali digunakan untuk menyingkap ketidaktahuan mereka dalam mengutip Kitab Suci, untuk meredam keangkuhan mereka, dan dengan demikian meredam kesombongan mereka yang berlebihan, mereka dengan cerdik mengatasi kesulitan ini juga dengan menetapkan bahwa hanya terjemahan Vulgata yang dianggap autentik. Selamat tinggal, bagi mereka yang telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam studi bahasa... Dengan mengutuk semua terjemahan kecuali Vulgata, sebagaimana kesalahannya lebih parah, maka dekrit tersebut lebih biadab."

 

Bagi Calvin, keputusan Trente adalah bukti kebodohan, kesombongan, bahkan kemalasan intelektual Gereja Katolik. Ia menggambarkan seolah-olah para Bapa Konsili melarang siapa pun membaca Kitab Suci dalam Ibrani atau Yunani, lalu memaksa umat “menyembah” Vulgata layaknya kitab yang turun dari surga. Dengan retorika pedas, ia menyimpulkan:

 

“They not only order us to be contented with a most defective translation, but insist on our worshipping it, just as if it had come down from heaven; and while the blemishes are conspicuous to all, they prohibit us from desiring any improvement.”

 

Retorika ini sangat efektif bagi generasi Reformasi. Ia menegaskan sebuah gambaran: Gereja Katolik takut terhadap cahaya kebenaran, menutup telinga terhadap ilmu, dan mengikat umat dalam kegelapan.

Namun, masalah utamanya adalah bahwa tuduhan Calvin ini tidak sesuai dengan teks asli Konsili Trente. Ia melakukan eisegesis—membaca isi kepalanya sendiri ke dalam dokumen Gereja. Faktanya, Trente tidak pernah melarang studi Kitab Suci dalam bahasa asli, tidak pernah menolak penerjemahan, dan tidak pernah mengklaim bahwa Vulgata turun langsung dari surga.

Apologetik Katolik perlu menyoroti hal ini: Calvin, dengan segala kehebatannya dalam bahasa dan logika, di sini tergelincir dalam propaganda. Tuduhannya lebih banyak berbicara tentang ketakutannya terhadap otoritas Gereja, daripada realitas isi dekret Trente.

 

Bagian II – Teks Trente yang Sesungguhnya

Untuk menimbang tuduhan Calvin, kita perlu membaca langsung teks Konsili Trente Sesi IV (8 April 1546). Dalam dekret pertama, para Bapa Konsili menetapkan kanon Kitab Suci dan menegaskan peran Vulgata.

Berikut teks Latin yang paling sering dipelintir oleh para kritikus:

 

“… ut hæc ipsa vetus et vulgata editio, quæ longo tot sæculorum usu in ipsa Ecclesia probata est, in publicis lectionibus, disputationibus, prædicationibus, expositionibus pro authentica habeatur; et ut nemo illam rejicere quovis prætextu audeat vel præsumat.”

Terjemahan:
“... supaya edisi Vulgata kuno yang sudah teruji dalam Gereja melalui penggunaan selama berabad-abad ini diakui sebagai autentik dalam bacaan publik, dalam perdebatan, khotbah, dan penjelasan; dan supaya tidak seorang pun berani atau berusaha menolaknya dengan dalih apa pun.”

Ada tiga hal penting yang sering diabaikan oleh pembaca Reformasi:

1.    Kata kunci: “pro authentica habeatur”
Vulgata dipandang autentik untuk penggunaan publik (liturgi, khotbah, debat), bukan sebagai satu-satunya teks yang sah secara absolut. “Autentik” di sini berarti memiliki otoritas hukum dan pastoral bagi Gereja Latin, bukan berarti sempurna secara filologis atau meniadakan bahasa asli.

2.    Tidak ada larangan studi bahasa asli
Dekret tidak mengatakan “jangan pakai Ibrani dan Yunani.” Faktanya, St. Hieronimus sendiri menerjemahkan dari bahasa asli, dan para teolog Katolik pra-Trente (misalnya Erasmus dan Ximenes) sudah mengedit teks Yunani dan Ibrani. Jika Trente bermaksud melarang, tentu akan ditulis eksplisit, sebagaimana larangan-larangan lain dinyatakan keras dalam kanon-kanon dogmatis.

3.    Dekret kedua justru memerintahkan revisi Vulgata
Konsili memerintahkan supaya Vulgata direvisi secara teliti:

“… sacrosancta Synodus statuit et decernit, ut hæc ipsa vetus et vulgata editio, postquam emendata fuerit, quam emendatissime imprimi curetur.”
(“Konsili yang kudus ini menetapkan bahwa edisi Vulgata ini, setelah diperbaiki, hendaknya dicetak seakurat mungkin.”)

Artinya, Trente mengakui adanya kesalahan dalam transmisi naskah Latin, dan membuka pintu bagi kritik teks. Vulgata bukan “berhala” yang tak boleh disentuh, melainkan standar yang harus disempurnakan.

 

Analisis Apologetik

Dengan membaca teks aslinya, jelaslah tuduhan Calvin tidak berdasar. Ia menuduh seolah-olah Trente “menutup mulut” para Reformator, padahal dokumen itu tidak menyinggung larangan studi bahasa asli sama sekali. Justru Trente berfokus pada:

  • Reformasi internal: menyatukan teks liturgi di tengah banyaknya edisi Latin yang kacau.
  • Kebijakan pastoral: memastikan umat mendapat bacaan yang konsisten, bukan campur aduk dari naskah yang korup.
  • Keterbukaan filologis: memerintahkan revisi yang jelas-jelas membutuhkan perbandingan dengan bahasa asli.

Dengan demikian, mitos bahwa Trente “mengubur Alkitab” runtuh oleh teks dokumen itu sendiri.

 

Bagian III – Tradisi Katolik dalam Studi Bahasa Asli

Jika benar Konsili Trente menutup pintu terhadap bahasa asli Kitab Suci, maka seharusnya kita tidak menemukan tradisi Katolik yang serius dalam studi Ibrani dan Yunani, baik sebelum maupun sesudah Konsili. Faktanya justru sebaliknya: para sarjana Katolik berada di garis depan kebangkitan ad fontes (kembali ke sumber) yang menjadi semboyan humanisme Kristen.

1. Sebelum Trente: Complutensian Polyglot dan Erasmus

  • Complutensian Polyglot (1516)
    Di bawah patronase Kardinal Francisco Ximenes de Cisneros, Universitas Alcalá di Spanyol menyelesaikan karya raksasa: edisi Kitab Suci yang memuat teks Ibrani, Yunani, Latin, dan Aram berdampingan. Dalam kata pengantar, Ximenes menulis:

“…ut omnis sacrae Scripturae studiosus fontes ipsos, ex quibus rivuli emanant, semper ad manum habeat; ac potius ad ipsas aquas vitae aeternam rigantes accedat, quam ex rivulis biberet.”
(“…supaya setiap pelajar Kitab Suci selalu memiliki akses ke sumber asli, dari mana sungai-sungai itu mengalir; dan supaya ia lebih memilih minum langsung dari air kehidupan itu sendiri daripada hanya dari anak sungainya.”)

Sulit dibayangkan kalimat yang lebih “Protestan” daripada itu—namun lahir dari seorang Kardinal Katolik, sebelum Luther menempelkan 95 tesisnya.

  • Erasmus dari Rotterdam (1466–1536)
    Erasmus, seorang imam dan humanis Katolik, menerbitkan edisi kritis Perjanjian Baru Yunani (1516), lengkap dengan terjemahan Latin dan catatan filologis. Ia menjadi dasar bagi Textus Receptus yang dipakai oleh banyak Reformator, termasuk dalam Alkitab King James. Ironisnya, Reformasi justru berdiri di atas pondasi filologi Katolik.

2. Sesudah Trente: Cornelius a Lapide dan Para Jesuit

  • Cornelius a Lapide (1567–1637), imam Jesuit, menulis komentar Alkitab multi-volume yang luas, dengan penguasaan mendalam atas Ibrani dan Yunani. Ia menggunakan sumber-sumber rabinik dan patristik, menunjukkan bahwa Gereja Katolik bukan saja tidak menolak bahasa asli, tetapi terus mendorong studinya demi memperkaya tafsir Kitab Suci.
  • Para Jesuit mendirikan sekolah-sekolah dan universitas yang mengajarkan bahasa Ibrani, Yunani, bahkan Arab, bukan hanya untuk kebutuhan akademis, tetapi juga misi dan apologetika.

3. Konsekuensi Apologetik

  • Protestan sering menuduh Katolik sebagai “musuh Kitab Suci.” Fakta sejarah membuktikan sebaliknya:
    • Sebelum Luther: Katolik sudah menerbitkan edisi Ibrani-Yunani-Latin.
    • Sesudah Trente: Katolik terus melahirkan komentator besar dengan basis filologis.
  • Sementara itu, Reformator sendiri masih menulis teologi dalam bahasa Latin—bahasa yang sama yang dipertahankan Gereja. Jadi, tuduhan bahwa Katolik “mengabaikan bahasa asli” adalah serangan balik yang gagal.

 

Dengan demikian, Trente bukanlah tembok penghalang, melainkan pagar penjaga kesatuan teks liturgi. Tradisi Katolik tidak pernah menolak Ibrani dan Yunani, bahkan sejak awal sudah ada kesadaran bahwa studi bahasa asli adalah bagian dari kesetiaan pada Kitab Suci.

 

Bagian IV – Kesalahpahaman Protestan dan Realitas Katolik

Setelah menimbang tuduhan Calvin dan membaca teks Konsili Trente sendiri, jelaslah ada jurang lebar antara narasi Reformasi dan kenyataan historis. Narasi Reformasi menuduh: Gereja menolak bahasa asli, mengubur Kitab Suci, dan menjadikan Vulgata berhala. Namun kenyataannya: Gereja Katolik meneguhkan Vulgata sebagai edisi autentik untuk penggunaan publik, sambil tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi studi kritis atas bahasa asli.

1. Vulgata sebagai “Authentica”

Kata authentica yang dipakai Trente sering disalahpahami. Calvin menafsirkannya sebagai “satu-satunya versi yang boleh dipakai.” Padahal, dalam tradisi hukum Gereja, authentica berarti memiliki otoritas hukum dan liturgis, bukan berarti sempurna secara filologis atau meniadakan teks asli. Gereja ingin keseragaman dalam liturgi, khotbah, dan pengajaran, bukan menutup akses ke sumber-sumber asli.

2. Penegasan Pius XII (Divino afflante Spiritu, 1943)

Empat abad setelah Trente, Paus Pius XII menegaskan maksud sebenarnya dari dekret itu:

“And if the Tridentine Synod wished ‘that all should use as authentic’ the Vulgate Latin version, this, as all know, applies only to the Latin Church and to the public use of the same Scriptures; nor does it, doubtless, in any way diminish the authority and value of the original texts.”

(Paus Pius XII, Divino afflante Spiritu, 1943)

Dengan kata lain, otoritas Vulgata bersifat yuridis, bukan kritik filologis. Vulgata dijaga sebagai warisan Gereja Latin, tetapi tidak ada sedikit pun pengurangan nilai terhadap teks asli Ibrani, Aram, dan Yunani.

Pius XII bahkan melanjutkan:

“…this authority of the Vulgate in matters of doctrine by no means prevents—nay rather today it almost demands—either the corroboration and confirmation of this same doctrine by the original texts or the having recourse on any and every occasion to the aid of these same texts…”

Studi bahasa asli bukan hanya diperbolehkan, melainkan dianjurkan untuk memperdalam pemahaman iman.

3. Yohanes Paulus II dan Nova Vulgata (Scripturarum Thesaurus, 1979)

Paus Yohanes Paulus II, melalui konstitusi apostolik Scripturarum Thesaurus (1979), meneguhkan Nova Vulgata sebagai edisi resmi liturgis Latin yang baru, hasil dari kritik teks modern dan revisi panjang. Namun Paus juga menegaskan bahwa semua terjemahan modern dibuat langsung dari bahasa asli Ibrani dan Yunani. Dengan demikian, Gereja menggabungkan dua hal:

  • Kesetiaan tradisi: menjaga teks Latin yang sudah membentuk liturgi dan teologi selama berabad-abad.
  • Keterbukaan ilmiah: mengoreksi dan memperbarui teks berdasarkan naskah asli yang lebih baik.

4. Ironi Textus Receptus

Sementara itu, Reformasi sendiri justru terikat pada Textus Receptus, edisi Yunani Perjanjian Baru yang dipakai dalam Alkitab Geneva dan King James. Hari ini, Textus Receptus dianggap kurang memadai dibandingkan edisi kritis modern seperti Nestle-Aland Novum Testamentum Graece. Ironisnya, Gereja Katolik lebih konsisten dalam menjaga kesatuan teks sembari tetap memperbaruinya dengan penelitian naskah baru.

 

Analisis Apologetik

Tuduhan bahwa Gereja Katolik “mematikan Alkitab” runtuh oleh fakta-fakta ini. Gereja tidak pernah menolak bahasa asli; sebaliknya, Gereja memadukan otoritas tradisi dengan keterbukaan akademik. Protestantisme membangun mitos untuk menjustifikasi perpecahan, tetapi sejarah menunjukkan: Katolik justru lebih stabil dan seimbang dalam menggabungkan iman, teks, dan tradisi.

Bagian V – Implikasi Apologetik

Dari uraian sebelumnya, kita melihat bahwa apa yang dikisahkan Calvin dan diwariskan dalam tradisi Reformed hanyalah mitos polemik, bukan realitas sejarah. Fakta sejarah dan dokumen Gereja menunjukkan hal sebaliknya: Konsili Trente bukan menutup pintu Kitab Suci, melainkan memperkokoh fondasi bagi pemahaman yang lebih benar dan seragam. Dari sini muncul beberapa implikasi apologetik penting.

1. Katolik Menjaga, Bukan Membunuh Kitab Suci

Dengan menetapkan Vulgata sebagai edisi authentica untuk liturgi dan pengajaran, Gereja Katolik justru melindungi umat dari kekacauan teks akibat banyaknya manuskrip Latin yang tidak konsisten. Trente menyatukan standar bacaan, sama seperti Gereja perdana memakai Septuaginta Yunani sebagai teks otoritatif di dunia Mediterania.

Dengan kata lain, Vulgata adalah payung kesatuan, bukan penjara kebodohan.

2. Protestantisme dan Inkonsistensi Textus Receptus

Ironi besar muncul di pihak Reformasi. Alkitab Geneva dan King James Version berakar pada Textus Receptus, teks Yunani yang terbatas, bahkan bermasalah dibandingkan bukti naskah yang kini kita miliki. Sementara Calvin menuduh Katolik menyembah Vulgata, justru Reformasi yang lama bergantung pada sebuah edisi Yunani yang kini sudah ditinggalkan oleh para sarjana modern.

Siapa yang sebenarnya “mengurung” umat dalam teks sempit?

3. Katolik: Iman Dijaga oleh Teks, Tradisi, dan Magisterium

Kekristenan tidak berdiri hanya di atas teks (sola scriptura), tetapi pada tiga pilar: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium. Konsili Trente meneguhkan hal ini dengan sangat jelas. Maka iman Katolik tidak bergantung pada fluktuasi penemuan naskah atau pada kritisisme filologis semata. Tradisi dan Magisterium menjamin kesatuan tafsir dan kontinuitas iman.

Inilah keunggulan epistemologis Katolik: iman tidak ditentukan oleh manuskrip yang kebetulan ditemukan di gua Qumran, atau oleh preferensi pribadi seorang profesor filologi, melainkan oleh Gereja yang sama yang menyusun kanon Kitab Suci di abad-abad awal.

4. Protestan Membutuhkan Katolik

Tanpa sadar, Protestan sendiri bergantung pada karya filolog Katolik: Erasmus, Ximenes, para Jesuit, bahkan modern seperti Cornelius a Lapide. Jika mereka jujur, banyak “kemajuan” studi Kitab Suci Protestan berakar pada fondasi Katolik. Maka tuduhan bahwa Katolik membenci Kitab Suci justru tampak sebagai proyeksi retoris belaka.

 

Analisis Akhir

Kesimpulannya jelas: Konsili Trente tidak menutup Kitab Suci, tetapi meneguhkan otoritas teks Latin yang sudah membentuk jiwa Gereja Barat selama berabad-abad, sambil tetap menghargai studi bahasa asli. Calvin, meski jenius, di sini terperangkap dalam propaganda dan eisegesis. Mitos itu terus diwariskan karena nyaman dipakai sebagai senjata anti-Katolik.

Namun kenyataan sejarah dan kesaksian Magisterium menyingkapkan sebaliknya: Gereja Katolik adalah penjaga Kitab Suci, bukan musuhnya.

 

Bagian VI – Kesimpulan

Narasi Reformasi yang diwariskan Calvin tentang Konsili Trente ternyata hanyalah sebuah mitos. Ia menuduh Gereja Katolik menutup mulut para Reformator dengan “mengangkat Vulgata sebagai berhala.” Namun, teks asli Konsili menunjukkan hal berbeda: Gereja hanya meneguhkan Vulgata sebagai edisi autentik untuk penggunaan publik dalam liturgi dan pengajaran, sembari memerintahkan revisi kritis agar lebih setia kepada bahasa asli.

Sejarah juga membantah tuduhan itu. Jauh sebelum Luther, Kardinal Ximenes telah menerbitkan Complutensian Polyglot, sementara Erasmus Katolik menyunting Perjanjian Baru Yunani yang justru menjadi basis Alkitab Reformasi. Sesudah Trente, Gereja melahirkan komentator agung seperti Cornelius a Lapide, menegaskan tradisi filologis Katolik yang tak pernah mati.

Magisterium Gereja, dari Divino afflante Spiritu (Pius XII) hingga Scripturarum Thesaurus (Yohanes Paulus II), menegaskan bahwa Vulgata adalah warisan otoritatif Gereja Latin, tetapi studi bahasa asli tetap perlu dan bahkan dituntut. Dengan demikian, Katolik memadukan kesetiaan tradisi dengan keterbukaan ilmiah—sesuatu yang gagal dipahami oleh polemik Calvin.

Implikasi apologetiknya jelas: Protestantisme sejak awal berdiri di atas mitos tentang “Katolik melawan Kitab Suci,” padahal faktanya justru Gereja Katoliklah yang menjaga kesatuan teks, melahirkan studi bahasa asli, dan memelihara tafsir Kitab Suci dalam terang Tradisi. Protestan bergantung pada fondasi Katolik, tetapi menutupinya dengan retorika polemik.

Maka, tuduhan bahwa Trente mengubur Kitab Suci runtuh oleh dokumen sejarah. Gereja Katolik tidak pernah menolak Firman Allah, melainkan menjaga dan menafsirkannya setia pada Roh Kudus yang membimbing Gereja sepanjang zaman.

 

Doa Penutup

Allah yang Mahakuasa, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, Engkau telah memberi Gereja-Mu Kitab Suci dan Tradisi yang hidup. Singkirkanlah dari hati kami mitos dan prasangka, dan teguhkanlah kami dalam kebenaran-Mu. Semoga Katolik dan Protestan dipersatukan kembali dalam satu pengakuan iman, agar dunia percaya kepada Putra-Mu, Sang Sabda yang hidup.

St. Hieronimus, pelindung para penerjemah Kitab Suci, doakanlah kami.

 

Senin, 18 Agustus 2025

Katolik dan Kitab Suci: Dari Penjaga Tradisi ke Penuduhan Propaganda Reformasi

Pendahuluan

Sejarah adalah guru yang keras kepala: ia tidak tunduk pada propaganda, meskipun sering dipaksa. Selama hampir enam abad sebelum mesin cetak Gutenberg, Kitab Suci tidak berada di rak-rak rumah jemaat, melainkan di jantung Gereja—dilantunkan dalam liturgi, diukir dalam ikon, dinyanyikan dalam mazmur, dan diwartakan dalam homili. Umat awam, yang sebagian besar buta huruf, tidak pernah “dibiarkan lapar” akan Sabda Allah. Mereka memakannya dalam bentuk yang paling murni: sakramental, komunal, dan liturgis.

Namun datanglah abad ke-16, ketika sekelompok reformator menuduh Gereja Katolik “menyembunyikan” Alkitab. Ironi pahitnya: tanpa Gereja Katolik yang menjaga, menyalin, dan menetapkan kanon Kitab Suci, tidak akan ada Alkitab yang bisa mereka genggam untuk berkoar-koar. Tuduhan ini bagaikan anak tiri yang menuduh ibu kandungnya tidak pernah memberinya makan, padahal selama berabad-abad hidupnya hanya bertahan karena air susu ibunya.

Inilah mitos Protestan yang terus diwariskan hingga kini: bahwa Katolik memenjarakan Firman Allah demi kekuasaan. Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Gereja justru melindungi Sabda Allah dari disalahgunakan oleh tafsir liar dan nafsu pribadi. Protestan suka berteriak Sola Scriptura, tetapi kenyataan yang dihasilkan adalah Sola Interpretatio—segala tafsir sesuai selera pendeta lokal atau “ilham Roh” yang entah mengapa selalu cocok dengan opini pribadi.

Pendahuluan ini bertolak dari ironi tersebut: bahwa yang dituduh sebagai “penyembunyi Alkitab” adalah justru sang penjaga Kitab, sementara yang mengaku “membebaskan Alkitab” justru melahirkan Babel baru—puluhan ribu denominasi yang saling menuding salah tafsir. Sejarah sudah cukup memberi bukti: di tangan Gereja, Firman Allah adalah roti hidup; di tangan tafsir liar, Firman Allah bisa berubah jadi racun yang memecah belah.

 



Bagian I. Realitas Historis

Sebelum Gutenberg, tidak ada Bible shop di setiap sudut kota, apalagi aplikasi Alkitab dalam genggaman ponsel. Kitab Suci adalah manuskrip mahal, ditulis tangan di atas perkamen oleh para biarawan yang bekerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk menyalin satu naskah. Butuh waktu, tenaga, dan dana besar—sebuah barang mewah yang hanya bisa dimiliki biara, katedral, atau bangsawan.

Artinya, ketidakhadiran “Alkitab pribadi” di rumah jemaat bukan karena Gereja melarang, melainkan karena kondisi sejarah yang objektif. Menuduh Gereja Katolik “menyembunyikan Alkitab” sama konyolnya dengan menuduh nenek moyang kita “anti-listrik” karena mereka hidup di zaman sebelum Thomas Edison.

Namun, kendati Alkitab fisik jarang dimiliki umat awam, Firman Allah tidak pernah absen dari kehidupan mereka. Justru sebaliknya, seluruh hidup mereka diresapi oleh Sabda:

  • Dalam liturgi: Kitab Suci dibacakan setiap hari Minggu, dilagukan dalam mazmur, diproklamasikan dalam Injil, dijelaskan dalam homili.
  • Dalam seni: Dinding katedral penuh mosaik dan lukisan yang menarasikan Injil bagi mereka yang tak bisa membaca huruf.
  • Dalam doa: Doa harian, Rosario, antifon, dan himne adalah “Alkitab yang dinyanyikan” oleh umat sepanjang tahun liturgi.

Sementara umat Protestan modern suka berlagak seolah-olah tanpa Alkitab pribadi iman mustahil hidup, umat Katolik abad pertengahan sudah hidup dari Sabda Allah yang dibacakan, dinyanyikan, diukir, dan dihidupi. Firman Allah bukan benda koleksi di meja kerja, tetapi napas komunitas.

Ironi berikutnya: para reformator yang berkoar menuduh Katolik “mencegah umat membaca Kitab Suci” justru tidak menyadari bahwa kanon Alkitab yang mereka pakai adalah warisan Katolik. Butuh waktu berabad-abad konsili Gereja (Hippo 393, Kartago 397, Trente 1546) untuk menetapkan apa yang disebut “Kitab Suci.” Protestan tinggal datang belakangan, mengambil Alkitab itu, membuang tujuh kitab (Deuterokanonika), lalu dengan enteng menuduh Gereja sebagai “penyembunyi.”

Sejarah di sini bicara jelas: Gereja Katolik adalah arkivaris yang menjaga Firman Allah tetap utuh, sementara Reformasi adalah editor amatiran yang datang belakangan, mencoret-coret teks lalu mengaku lebih murni. Katolik berabad-abad menyajikan roti, sementara Protestan tiba-tiba mengklaim roti itu basi, padahal mereka sendiri yang memotongnya jadi serpihan-serpihan tafsir pribadi.

 

Bagian II. Propaganda Reformasi

Narasi bahwa Gereja Katolik “menyembunyikan Kitab Suci” lahir bukan dari data sejarah, melainkan dari propaganda Reformasi. Luther, Calvin, dan kawan-kawan mereka membutuhkan musuh imajiner: Gereja Katolik sebagai institusi jahat yang menahan Firman Allah demi mempertahankan kuasa. Narasi ini ampuh, sebab siapa pun yang lapar pasti marah jika dituduh sengaja tidak diberi makan.

Tetapi mari kita buka topengnya. Apa fakta sesungguhnya?

  1. Alkitab ada justru karena Gereja.
    Tanpa konsili, tanpa kerja keras biarawan penyalin, tanpa pengorbanan Gereja menjaga manuskrip di biara dan katedral, tidak akan ada Alkitab yang bisa diangkat-angkat di mimbar Protestan. Dengan kata lain, Reformasi mewarisi roti dari Katolik, lalu menuduh Katolik tidak pernah memberi makan. Logika yang setara dengan anak ingrat yang menuduh ibunya pelit, padahal selama ini dialah yang diberi makan sampai kenyang.
  2. Yang mereka sebut “kebebasan Kitab Suci” justru melahirkan perbudakan tafsir.
    Slogan Sola Scriptura tampak manis di telinga, tetapi realitasnya segera menunjukkan bencana: fragmentasi denominasi, ribuan tafsir kontradiktif, dan perselisihan yang tiada habisnya. Apakah itu kebebasan? Atau justru Babel baru? Gereja Katolik menekankan tafsir dalam komunitas dan tradisi agar umat tidak tersesat, sementara Reformasi menyerahkan Alkitab ke masing-masing individu tanpa kompas. Hasilnya jelas: kekacauan eklesiologis.
  3. Tuduhan “Katolik melarang baca Alkitab” adalah manipulasi.
    Ya, ada masa ketika Gereja melarang edisi-edisi palsu atau tafsir yang menyesatkan, misalnya versi Vernakular yang dipelintir oleh kelompok sesat. Itu tindakan pastoral melindungi umat, bukan menutup akses. Sama halnya dokter melarang pasien minum obat palsu: itu bukan anti-obat, itu justru melindungi kesehatan. Tapi Reformasi membalik fakta ini jadi propaganda “Katolik menutup Firman Allah.”

Ironinya, propaganda ini masih dipertahankan hingga abad 21. Kaum Protestan modern sering mengulang mantra itu tanpa menyadari betapa ahistorisnya tuduhan tersebut. Mereka tak pernah bertanya: “Kalau benar Katolik menyembunyikan Alkitab, bagaimana mungkin Alkitab masih ada untuk kami pakai?” Seperti orang yang memaki petani rakus, sambil mengunyah nasi dari sawah petani itu.

Dengan demikian, jelaslah bahwa narasi Reformasi bukanlah sejarah, melainkan retorika. Protestan butuh identitas, dan cara paling cepat mendapatkannya adalah dengan menciptakan musuh imajiner: Roma si ‘penyekap Alkitab.’ Padahal, tanpa Roma, mereka takkan punya Alkitab sama sekali.

 

Bagian III. Bahaya Membaca Terisolasi

Reformasi mengumandangkan semboyan Sola Scriptura seolah-olah Kitab Suci adalah manual ajaib yang cukup dibaca sendirian di kamar, lalu otomatis Roh Kudus akan “memberi terang” tafsir yang benar. Kedengarannya rohani. Faktanya, inilah pintu masuk ke bencana tafsir: setiap orang merasa dirinya nabi baru dengan hak mutlak mengartikan Firman Allah.

Gereja Katolik sejak awal sadar bahaya ini. Membaca Kitab Suci tanpa tradisi sama seperti orang awam mencoba membedah organ tubuh tanpa ilmu kedokteran—hasilnya bukan penyembuhan, melainkan mayat di meja. Itulah sebabnya Gereja selalu menekankan konteks komunitas, tradisi, dan Magisterium sebagai pagar yang menjaga agar teks tidak dipelintir seenaknya.

Sejarah membuktikan betapa cepatnya tafsir pribadi bisa berubah jadi racun. Arius di abad ke-4 cukup dengan satu ayat (“Bapa lebih besar daripada Aku”) untuk membangun bidat yang hampir melumpuhkan seluruh Kekristenan. Luther cukup dengan kata “iman” untuk menolak hampir seluruh sakramen. Calvin cukup dengan logika dingin predestinasi untuk melahirkan teologi yang menampilkan Allah sebagai tiran kosmik.

Dan lihatlah hasil Reformasi hari ini:

  • Ribuan denominasi saling berseberangan.
  • Ayat yang sama menghasilkan puluhan tafsir.
  • Roh Kudus yang sama, katanya, justru “membisikkan” hal berbeda pada tiap pendeta.

Apakah ini bukti kebebasan? Tidak. Ini adalah bukti chaos hermeneutis.

Sindiran pahitnya: Protestan berkoar “Alkitab cukup!”, tetapi mereka sendiri tidak pernah bisa sepakat apa arti “cukup” itu. Baptis, Pentakosta, Advent, Karismatik—semua membaca Alkitab yang sama, semua mengaku dipimpin Roh yang sama, tapi hasilnya adalah Babel baru: 40.000 lebih denominasi yang saling menuding sesat.

Gereja Katolik tidak menutup akses pada Kitab Suci, tetapi memastikan bahwa Firman Allah tetap jadi roti, bukan racun. Umat Katolik tidak dibiarkan makan sendiri di dapur, melainkan dijamu dalam pesta liturgi, dengan makanan yang sama, bergizi, dan dijamin keasliannya. Protestan, sebaliknya, membiarkan tiap orang jadi juru masak, sehingga dapurnya penuh makanan gosong, asin berlebihan, atau bahkan beracun.

Inilah inti bahaya membaca terisolasi: Firman Allah, bila diputus dari komunitas dan tradisi, akan kehilangan rasanya yang asli, diganti bumbu tafsir pribadi yang menyesatkan.

 

Bagian IV. Cara Katolik Membaca Kitab Suci

Gereja Katolik tidak pernah membaca Kitab Suci dengan cara datar, serampangan, atau emosional. Ada empat jalan utama yang membentuk tradisi pembacaan Katolik—sebuah metode yang bukan sekadar “membaca”, tetapi mengunyah, mencerna, dan menghidupi Firman Allah.

1. Liturgis

Alkitab pertama-tama adalah buku Gereja, bukan buku pribadi. Ia bernapas dalam liturgi. Injil tidak sekadar “dibacakan”, tetapi diproklamasikan di tengah umat, diterangi homili, disertai nyanyian dan doa. Pada Malam Paskah, misalnya, kisah kebangkitan bukan sekadar informasi sejarah, tetapi peristiwa yang dihadirkan kembali dalam sakramen. Umat tidak hanya mendengar, tetapi masuk ke dalam peristiwa.

Bandingkan dengan kebiasaan Protestan: ayat dibaca sepotong, lalu pendeta mengoceh panjang-lebar sesuai tafsir pribadi. Firman Allah jadi bahan pidato, bukan sakramen hidup.

2. Kanonik

Tidak ada ayat berdiri sendiri. Katolik membaca Kitab Suci dalam kesatuan seluruh kanon. Kisah manna di padang gurun (Kel 16) menemukan makna penuhnya dalam Yohanes 6 ketika Yesus menyatakan diri sebagai roti hidup. Tradisi Katolik melihat Kitab Suci sebagai satu simfoni: tiap bagian saling melengkapi, bukan saling dipisahkan.

Protestan, sebaliknya, sering mengutip ayat lepas sebagai slogan: “Hanya iman!” (Rom 3:28, versi Luther), sambil menutup mata pada Yakobus 2:24 yang secara gamblang menyebut “manusia dibenarkan bukan hanya oleh iman.” Tafsir tambal-sulam ini bukan kanonik, melainkan fragmentaris.

3. Kristologis

Segala sesuatu dalam Kitab Suci menunjuk kepada Kristus. Hamba yang menderita dalam Yesaya 53, Daud melawan Goliat, bahkan kisah Yunus di perut ikan—semuanya berakar dan berpuncak pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya Gereja Katolik membaca Alkitab dengan kunci Kristologis: bukan siapa pun, bukan pendapat subjektif, melainkan Kristus yang tersalib dan bangkit.

Protestan sering mengklaim “Kristus pusat Alkitab”, tetapi praktiknya banyak gereja justru menjadikan emosi pribadi, mujizat instan, atau kemakmuran duniawi sebagai pusat khotbah. Kristus disingkirkan, diganti motivasi.

4. Doktrinal

Gereja membaca Kitab Suci dalam terang ajaran yang lahir darinya. Doktrin bukan dipaksakan ke atas teks, melainkan distilasi murni dari Kitab Suci. Istilah “Trinitas” mungkin tidak tertulis, tetapi seluruh Kitab Suci memancarkannya. Maka, Gereja mengartikulasikan kebenaran itu dalam Konsili, menjaga agar tafsir tidak liar.

Protestan menolak tradisi doktrinal dengan alasan “hanya Alkitab”, tetapi pada akhirnya mereka sendiri membuat “doktrin” baru: sola fide, sola scriptura, rapture, predestinasi, prosperity gospel—semuanya hasil tafsir pribadi yang kemudian diperlakukan seperti dogma. Ironisnya, mereka mencemooh doktrin Katolik sambil menciptakan doktrin buatan sendiri di setiap denominasi baru.

 

Kesimpulan Sementara

Cara Katolik membaca Kitab Suci adalah cara yang menyeluruh: liturgis, kanonik, Kristologis, dan doktrinal. Inilah yang menjaga agar Firman Allah tetap menjadi roti kehidupan, bukan serpihan tafsir kontradiktif.

Protestan suka berkata, “Kami punya Alkitab!” Betul. Tapi Katolik punya cara membaca yang konsisten dua milenium. Apa gunanya punya peta kalau setiap orang menafsirkannya berbeda, lalu semua orang tersesat ke jurang yang berbeda?

 

Bagian V. Mengapa Umat Awam Tidak Membaca Sendiri?

Protestan sering mengangkat satu tuduhan klise: “Gereja Katolik melarang umat membaca Alkitab!” Mereka membayangkan Gereja abad pertengahan seperti seorang tiran yang menyimpan Kitab Suci di lemari besi, kuncinya digantung di leher Paus, sementara umat kecil dibiarkan kelaparan rohani. Gambaran ini laku dijual dalam khotbah-khotbah anti-Katolik, tapi sayangnya, tidak ada hubungannya dengan kenyataan sejarah.

1. Faktor Praktis

Sebelum mesin cetak ditemukan, satu salinan Kitab Suci bisa menelan biaya setara rumah sederhana. Alkitab ditulis tangan di atas perkamen, disalin oleh biarawan selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin setiap petani di desa terpencil bisa punya Alkitab pribadi? Jadi, ketiadaan Alkitab pribadi bukan karena Gereja melarang, melainkan karena kondisi material zaman itu.

Bandingkan dengan zaman sekarang: setiap orang bisa mengunduh aplikasi Alkitab gratis di ponsel. Namun, apakah keadaan iman umat Kristen lebih sehat? Justru yang kita saksikan adalah kebingungan, perpecahan, dan ribuan tafsir liar. Jadi masalahnya bukan ada-tidaknya Kitab Suci pribadi, melainkan bagaimana Kitab Suci dipahami.

2. Faktor Pendidikan

Mayoritas umat abad pertengahan buta huruf. Membaca Alkitab pribadi jelas mustahil bagi mereka. Gereja menjawab kebutuhan itu bukan dengan menyerah, melainkan dengan mewartakan Firman dalam bentuk yang bisa diakses: bacaan liturgi, homili, lagu, ikon, patung, bahkan arsitektur katedral yang penuh dengan kisah Kitab Suci. Bagi umat sederhana, tembok gereja adalah “Alkitab bergambar” yang lebih fasih daripada seribu terjemahan.

Sementara itu, propaganda Reformasi menafsirkan kondisi ini sebagai “penyekapan.” Padahal, yang disebut “penyekapan” itulah yang membuat Injil tetap sampai ke telinga dan hati umat sederhana.

3. Faktor Teologis

Alkitab bukan novel pribadi yang bisa dibaca dengan bebas sesuai selera. Ia adalah Sabda Allah yang butuh kerangka penafsiran otentik: tradisi apostolik dan Magisterium. Gereja tahu bahaya kalau setiap orang mengutip ayat seenaknya tanpa bimbingan. Yang lahir bukan kesatuan iman, tetapi kebingungan massal.

Bukti? Reformasi. Begitu Alkitab “dibebaskan,” maka lahirlah 40.000 denominasi, semua mengaku “setia pada Alkitab.” Sungguh ironis: mereka menuduh Katolik mengurung Alkitab, padahal setelah Alkitab mereka “bebaskan,” justru mereka memenjarakan diri dalam tafsir masing-masing.

4. Sindiran Tajam

Protestan sering berkoar, “Kami mengembalikan Alkitab ke tangan umat!” Faktanya, yang mereka lakukan adalah mengembalikan tafsir ke tangan masing-masing pendeta. Alkitab memang dibagikan, tapi kunci tafsir tetap digenggam oleh khotbah subjektif. Umat tidak benar-benar merdeka, mereka hanya berpindah dari bimbingan Magisterium yang konsisten ke dalam tirani tafsir pribadi yang kontradiktif.

 

Kesimpulan Sementara

Alasan umat awam dahulu tidak membaca Alkitab sendiri bukan karena Gereja kejam, melainkan karena realitas sejarah dan kesadaran pastoral. Gereja tidak mau Sabda Allah berubah jadi mainan tafsir liar. Katolik tidak anti-Alkitab, justru Gereja Katoliklah yang membuat Alkitab tetap utuh, bisa dibacakan, dipahami, dan dihidupi.

Sementara itu, slogan Reformasi tentang “membebaskan Alkitab” hanyalah ilusi. Yang mereka bebaskan bukan Firman Allah, melainkan nafsu tafsir.

Bagian VI. Katolik: Penjaga, Bukan Penyekap

Protestan senang membangun narasi dramatis: Katolik menutup rapat Alkitab agar umat awam tetap bodoh dan tunduk pada otoritas Roma. Kisah ini enak dikhotbahkan, mudah dijual di mimbar, tetapi rapuh di hadapan sejarah. Fakta yang tak bisa dibantah: tanpa Gereja Katolik, tidak akan ada Alkitab.

1. Penjaga Kanon

Kanon Kitab Suci tidak jatuh dari langit lengkap 73 kitab dengan indeks rapi. Ia dibentuk dalam rahim Gereja, ditetapkan dalam konsili—Hippo (393), Kartago (397), dan ditegaskan kembali di Trente (1546) sebagai respons terhadap mutilasi Luther. Jadi, siapa yang menyusun daftar kitab yang hari ini dibaca Protestan maupun Katolik? Gereja Katolik.
Mereka yang menuduh Katolik menyembunyikan Alkitab justru membaca dari kanon yang ditentukan Katolik. Ironi tingkat tinggi: menuduh ibu tidak pernah melahirkan anak, padahal dirinya ada karena rahim sang ibu.

2. Penyalin dan Penjaga Manuskrip

Biarawan-biarawan Katolik menghabiskan hidup menyalin Kitab Suci dengan tangan, menyelamatkannya dari kehancuran perang, kebakaran, dan invasi. Biara-biara Eropa adalah “bank data” Sabda Allah, jauh sebelum ada USB, Google Drive, atau aplikasi Alkitab digital. Kalau Gereja memang ingin menyembunyikan Kitab Suci, mengapa biarawan-biarawan ini mengorbankan hidup hanya untuk menyalinnya berulang kali?

Bandingkan dengan Reformasi: Luther cukup duduk manis, mengambil hasil kerja berabad-abad itu, lalu dengan seenaknya mencoret tujuh kitab Deuterokanonika karena “tidak sesuai teologinya.” Siapa sebenarnya yang menyembunyikan Firman Allah?

3. Penjaga Tafsir

Katolik tidak hanya menjaga teks, tetapi juga tafsir. Alkitab tidak ditafsirkan liar, tetapi dibaca dalam terang tradisi apostolik dan ajaran konsili. Doktrin-doktrin besar—Trinitas, Inkarnasi, Ekaristi—bukan tambahan, melainkan distilasi murni dari Kitab Suci yang dijaga Gereja. Tanpa penjagaan ini, Alkitab akan ditarik ke sana kemari sesuai kepentingan pribadi, seperti yang terjadi dalam ribuan denominasi Protestan.

4. Sindiran yang Tak Terelakkan

Protestan sering menuduh Katolik menutup Alkitab dari umat. Faktanya, Protestanlah yang merobek Alkitab dari tubuh Gereja. Mereka bukan membebaskan Firman Allah, tetapi memenggalnya, lalu menjual potongannya dengan merek dagang masing-masing. Katolik menjaga Alkitab tetap utuh, Protestan menjadikannya franchise.

 

Kesimpulan

Gereja Katolik tidak pernah menjadi penyekap Firman, melainkan ibu yang melahirkan, menyusui, dan menjaga Sabda Allah agar tetap hidup dalam Gereja. Kalau umat Protestan hari ini bisa mengutip Mazmur, Injil Yohanes, atau Surat Paulus, itu karena Gereja Katolik setia menyalin, menjaga, dan mewariskan.

Singkatnya: Katolik adalah penjaga Alkitab; Protestan hanyalah penyewa warisan.

 

Penutup

Sejarah telah memberi kesaksian yang keras dan tidak bisa dipalsukan oleh retorika. Selama berabad-abad, Gereja Katolik menjaga Kitab Suci—menyalin dengan darah dan tinta, melantunkannya dalam liturgi, memahatnya dalam seni, dan menafsirnya dalam terang tradisi apostolik. Tanpa rahim Gereja, tidak ada kanon, tidak ada manuskrip, tidak ada Injil yang bisa diangkat-angkat hari ini.

Maka, tuduhan bahwa Katolik “menyembunyikan Alkitab” tidak lebih dari mitos Reformasi: propaganda murahan untuk menjustifikasi pemberontakan. Kenyataannya, yang disebut “membebaskan Alkitab” oleh Protestan justru melahirkan kekacauan tafsir, ribuan denominasi, dan Babel rohani yang masih berlangsung hingga kini.

Katolik menjaga Alkitab tetap menjadi roti kehidupan; Protestan menjadikannya serpihan tafsir yang saling bertabrakan. Katolik menghidupi Sabda Allah dalam liturgi, sakramen, dan tradisi; Protestan menjadikannya slogan khotbah yang bisa berubah sesuai tren teologi pasar. Katolik membacanya dengan akal, hati, dan tubuh Gereja; Protestan sering kali membacanya dengan perasaan, ego, dan ambisi pendeta lokal.

Inilah ironinya: mereka menuduh Katolik sebagai penyekap Firman, padahal justru Katoliklah yang setia menjadi penjaga. Mereka berkoar Sola Scriptura, padahal yang nyata adalah Sola Interpretatio—segala tafsir menurut selera masing-masing.

Maka mari kita katakan apa adanya: tanpa Gereja Katolik, tidak akan ada Alkitab. Protestan hidup dari roti yang dipanggang Katolik, lalu menuduh dapurnya kotor. Itu bukan fakta sejarah, itu hanya halusinasi teologis.

Firman Allah tidak pernah dikurung. Ia selalu diwartakan, diproklamasikan, dan dihidupi dalam Gereja. Justru di luar Gereja-lah Firman itu terpecah belah. Katolik bukan penyekap Alkitab, Katolik adalah mater et magistra—ibu dan guru yang melahirkan, menjaga, dan membagikan Sabda Allah kepada dunia.

Punchline terakhir: Protestan mengklaim Alkitab, tapi Katoliklah yang memeliharanya. Protestan ribut soal “otoritas Firman”, tapi Katoliklah yang membuat Firman itu tetap terdengar. Jadi siapa sebenarnya penjaga Alkitab? Jawabannya jelas: Roma.

 

Kamis, 13 Maret 2025

Mengapa Clementine Vulgata Dikritik oleh Protestan?

 


Biblia Sacra Vulgata Sixti V et Clementis VIII (1592), yang dikenal sebagai Clementine Vulgate, adalah Alkitab resmi Gereja Katolik hingga tahun 1979. Namun, teks ini mendapat banyak kritik dari kalangan Protestan, terutama sejak Reformasi. Kritik-kritik tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:


1. Dasar Teks: Bahasa Latin vs. Bahasa Asli

Kritik Protestan

  • Clementine Vulgate adalah terjemahan bahasa Latin, bukan teks asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani.
  • Para Reformator menekankan penggunaan Ibrani untuk Perjanjian Lama dan Yunani untuk Perjanjian Baru, dengan alasan bahwa penerjemahan dapat menyebabkan kesalahan.
  • Beberapa perbedaan ditemukan antara Vulgata dan Teks Masoret (Masoretic Text - MT) dalam Perjanjian Lama atau Textus Receptus (TR) dalam Perjanjian Baru, yang lebih disukai oleh para Reformator.

Pembelaan Katolik

  • Gereja memiliki otoritas untuk memastikan transmisi Kitab Suci yang benar, dan Kitab Suci dijaga melalui Tradisi Suci, bukan hanya melalui keakuratan linguistik.
  • Septuaginta (LXX), yang digunakan oleh Yesus dan para Rasul, berbeda dari Teks Masoret, menunjukkan bahwa teks Ibrani juga mengalami variasi di zaman kuno. Vulgata sering kali mengikuti Septuaginta, yang banyak digunakan oleh orang Kristen awal.
  • Konsili Trente (1546) menyatakan bahwa Vulgata adalah teks yang "autentik", artinya teks ini dapat diandalkan dalam hal ajaran, meskipun bukan rekonstruksi filologis yang sempurna dari teks asli.

2. Penyertaan Kitab Deuterokanonika ("Apokrif")

Kritik Protestan

  • Clementine Vulgate mencakup kitab-kitab Deuterokanonika (Kebijaksanaan, Sirakh, Tobit, Yudit, Barukh, 1 & 2 Makabe, serta tambahan dalam Ester dan Daniel), yang ditolak oleh Protestan sebagai tidak kanonik karena tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani.
  • Para Reformator, mengikuti tradisi rabi Yahudi, hanya menerima kitab-kitab yang terdapat dalam Teks Masoret dan menghapus kitab-kitab Deuterokanonika dari terjemahan mereka (misalnya, King James Version awalnya mencantumkan kitab-kitab ini dalam bagian terpisah, tetapi kemudian menghilangkannya).
  • Beberapa ajaran dalam kitab Deuterokanonika dianggap bertentangan dengan teologi Protestan, misalnya doa untuk orang mati (2 Makabe 12:46) yang mendukung doktrin api penyucian (Purgatorium).

Pembelaan Katolik

  • Septuaginta (LXX) yang banyak digunakan dalam Kekristenan awal mencakup kitab-kitab Deuterokanonika. Bahkan Perjanjian Baru mengutip gagasan dan istilah dari kitab-kitab ini (misalnya, Ibrani 11:35 yang merujuk pada 2 Makabe 7).
  • Konsili Gereja sebelum Reformasi (Roma 382, Hippo 393, Kartago 397 & 419, Florence 1442) telah menegaskan kitab-kitab ini sebagai bagian dari kanon, menunjukkan penerimaan universal dalam Gereja awal.
  • Martin Luther menolak kitab-kitab Deuterokanonika bukan karena alasan historis, tetapi karena kitab-kitab ini mendukung ajaran Katolik yang ia tolak.

3. Posisi St. Hieronimus tentang Kanon

Kritik Protestan

  • St. Hieronimus, penerjemah Vulgata asli, awalnya meragukan kitab-kitab Deuterokanonika karena tidak termasuk dalam Alkitab Ibrani.
  • Protestan berargumen bahwa jika Hieronimus sendiri skeptis, maka Gereja Katolik seharusnya tidak memasukkan kitab-kitab ini.

Pembelaan Katolik

  • Hieronimus akhirnya tunduk pada otoritas Gereja dan memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika ke dalam Vulgata karena Gereja mengakuinya sebagai Kitab Suci.
  • Santo Agustinus, sezaman dengan Hieronimus, secara tegas membela kitab-kitab Deuterokanonika, dan pandangan inilah yang akhirnya diakui oleh Gereja.
  • Keputusan akhir tentang kanon ditentukan oleh Gereja, bukan oleh pendapat pribadi seorang sarjana.

4. Variasi Teks & Perbedaan Teologis

Kritik Protestan

  • Beberapa bagian penting berbeda antara Vulgata dan terjemahan Protestan, yang mempengaruhi interpretasi teologi.
  • Contohnya:
    • Kejadian 3:15 dalam Vulgata berbunyi "Ipsa conteret caput tuum" ("Ia [Maria] akan menginjak kepalamu""), yang mendukung peran Maria dalam mengalahkan Iblis. Sebaliknya, terjemahan Protestan biasanya berbunyi "He" (dia, yaitu Kristus) akan menginjak kepalamu".
    • Lukas 1:28: Vulgata menerjemahkan salam malaikat kepada Maria sebagai "gratia plena" (penuh rahmat), yang mendukung doktrin Maria dikandung tanpa noda dosa (Immaculata Conception). Protestan lebih memilih terjemahan "highly favored one" (yang sangat dikasihi) untuk melemahkan makna teologisnya.

Pembelaan Katolik

  • Vulgata mencerminkan interpretasi Gereja yang sudah lama diterima, yang didasarkan pada Tradisi Suci.
  • Interpretasi Marian dalam Kejadian 3:15 telah diakui oleh banyak Bapa Gereja dan berkembang dalam teologi Katolik.
  • "Gratia plena" (Lukas 1:28) adalah istilah yang digunakan oleh para Bapa Gereja dan menjadi dasar penting bagi mariologi Katolik.

5. Status Vulgata sebagai Alkitab Resmi Gereja Katolik

Kritik Protestan

  • Konsili Trente (1546) menetapkan Vulgata sebagai Alkitab resmi Gereja Katolik, yang dianggap oleh Protestan sebagai usaha untuk mengontrol Kitab Suci.
  • Protestan menolak gagasan "satu versi resmi" dan percaya bahwa hanya teks asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani yang berhak menjadi dasar utama.

Pembelaan Katolik

  • Keputusan Konsili Trente tidak berarti Vulgata lebih unggul dari teks asli, tetapi bahwa teks ini dapat diandalkan untuk ajaran iman dan moral.
  • Protestan sendiri bergantung pada pilihan teks yang dibuat manusia, seperti Textus Receptus atau edisi kritis Nestle-Aland, sehingga argumen mereka terhadap Vulgata juga dapat diarahkan kepada mereka sendiri.
  • Gereja Katolik, yang menyusun dan menjaga Kitab Suci selama berabad-abad, memiliki otoritas untuk menentukan versi resmi yang dapat dipercaya.

Kesimpulan: Akar Kritik Protestan terhadap Vulgata Clementina

Isu utama di balik kritik Protestan terhadap Vulgata bukan sekadar perbedaan teks, tetapi soal otoritas:

  1. Gereja Katolik mengajarkan bahwa kanon Kitab Suci dan interpretasinya ditentukan oleh Tradisi Suci dan otoritas Gereja.
  2. Protestan, dengan prinsip sola Scriptura, menolak otoritas Gereja dan mengandalkan kritik teks serta interpretasi pribadi.

Dengan demikian, penolakan Protestan terhadap Clementine Vulgate bukan hanya karena alasan filologis, tetapi karena ketidaksetujuan teologis terhadap otoritas Gereja Katolik dalam menentukan Kitab Suci.

Minggu, 06 Agustus 2023

MENGAPA DOA BAPA KAMI KATOLIK DAN PROTESTAN BERBEDA?

Mengapa orang Kristen mendoakan Bapa Kami ("Doa Bapa Kami") dengan sedikit perbedaan? Yang paling jelas adalah karena ada perbedaan terjemahan Kitab Suci. Tapi ada hal yang perlu diperhatikan di sini.

Umat ​​Katolik menutup dengan "bebaskanlah kami dari segala yang jahat," sedangkan kebanyakan Protestan, mengikuti Matius 6:13 dalam Versi King James, melanjutkan dengan mengatakan sesuatu seperti, "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa Dan kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin.

Apakah umat Katolik menghilangkan frasa ini dari doa Yesus, atau apakah umat Protestan menambahkannya?

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa doanya berbeda bahkan di antara Injil itu sendiri. Meskipun bentuk dalam Matius adalah bentuk yang digunakan oleh hampir semua orang Kristen saat ini, versi yang lebih pendek dicatat dalam Lukas pasal 11, yang diakhiri dengan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (ay.4). Jadi secara teknis, seseorang akan sepenuhnya dibenarkan secara alkitabiah hanya dengan mengakhiri doa di sana.

Hal kedua yang menarik adalah bahwa ayat tersebut tidak termasuk dalam manuskrip alkitabiah “tertua dan terbaik”, dan karena itu tidak dianggap oleh mayoritas ahli alkitab saat ini, baik Katolik maupun Protestan, sebagai bagian dari teks alkitabiah asli. Alkitab Versi King James didasarkan pada Textus Receptus, yang tidak didasarkan pada manuskrip tertua yang kita miliki saat ini. Baik Codex Sinaiticus maupun Vaticanus tidak memuat ayat tersebut—sebenarnya, kesaksian paling awal yang kita miliki tentang akhir yang lebih panjang dari Our Father adalah sebuah perkamen akhir abad keempat atau awal abad kelima yang disebut Codex Washingtonensis.

Kata bahasa Inggris dari Our Father yang digunakan orang Protestan saat ini mencerminkan versi yang didasarkan pada Alkitab versi bahasa Inggris yang diproduksi oleh Tyndale pada tahun 1525. Versi Tyndale tidak ditemukan dalam tradisi liturgi Kristen barat sampai Scottish Book of Common Prayer tahun 1637. Dan meskipun akhiran yang lebih panjang tetap populer saat ini, ada banyak Alkitab yang tidak mencantumkannya. Terjemahan Alkitab Katolik (misalnya, Vulgata, Douay-Rheims, atau New American) tidak pernah memasukkannya, dan sebagian besar Alkitab Protestan juga tidak memasukkannya.[1] Bahkan King James versi modern menyertakan catatan kaki yang menyatakan bahwa frasa tersebut dihilangkan dalam manuskrip yang lebih tua.

Selain itu, meskipun para Bapa Gereja mula-mula seperti Jerome, Gregorius Agung, Ambrosius, dan Agustinus menulis tentang pentingnya dan keindahan doa “Bapa Kami”, tidak satu pun dari mereka yang mencantumkan frasa tersebut ketika merujuknya. Komentar tentang doa oleh Tertullian, Origen, dan Cyprian juga tidak memasukkannya. John Chrysostom memang membahas frasa tersebut dalam homili abad keempatnya tentang Matius (19:10).

Ketika kita beralih dari komentar Kitab Suci ke Tradisi Gereja, kita menemukan frasa ini (yang menyerupai 1 Tawarikh 29:11) dalam penggunaan liturgi kuno sebagai doksologi singkat (tanggapan pujian) untuk Doa Bapa Kami. Pedoman Kristen yang dikenal sebagai Didache (c. A.D. 95) memiliki versi singkat dari doksologi setelah Bapa Kami dalam bab 8, dan bacaan yang lebih panjang ditemukan dalam Konstitusi Apostolik abad keempat (7.24). Dari sana itu dimasukkan ke dalam Liturgi St. John Chrysostom juga. Dengan demikian, tampaknya ungkapan ini sangat mungkin merupakan sebuah doksologi—suatu kesimpulan dari doa asli yang Yesus perintahkan untuk diucapkan oleh murid-muridnya.

Bukti kitab suci dan tradisional menunjuk pada penambahan frasa abad keempat pada doa aslinya. Kemungkinan sekitar waktu ini, seorang juru tulis yang akrab dengan liturgi menambahkan doksologi ke dalam Kitab Suci sambil menyalin bagian Bapa Kami, dan itu menemukan jalannya ke dalam terjemahan-terjemahan selanjutnya dari Alkitab itu sendiri. Salinan ini akhirnya melebihi jumlah dokumen yang lebih kuno, dan frase tersebut dimasukkan dalam Injil di sebagian besar manuskrip Alkitab kuno sejak saat itu.

Ketika kaum Protestan mula-mula menghasilkan terjemahan Alkitab mereka sendiri pada abad keenam belas, mereka menggunakan teks mayoritas sebagai sumbernya. Hasilnya adalah terjemahan mereka memasukkan frasa tersebut seolah-olah itu adalah bagian dari tulisan asli Injil. Di Inggris, terjemahan Tyndale memasukkannya, dan ketika Henry VIII memisahkan diri dari Gereja Katolik, dia memutuskan untuk memasukkannya ke dalam ibadah. Akhirnya, Ratu Elizabeth yang sangat anti-Katolik memasukkannya ke dalam Anglican Book of Common Prayer. Setelah dibawa ke Amerika oleh kaum Puritan, penambahan frasa tersebut semakin diperkuat.

Jadi, sebagai kesimpulan, tampaknya orang Protestan Inggris menambahkan doa Katolik tradisional ke dalam Alkitab untuk menjauhkan diri dari apa yang mereka anggap sebagai tradisi Katolik yang tidak alkitabiah. Meskipun orang Protestan telah mengoreksi banyak terjemahan Alkitab modern mereka, tampaknya tradisi(!) mereka menambahkan doksologi Katolik ke Doa Bapa Kami yang alkitabiah mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk diatasi.


NB: diterjemahkan dari catholic answer.com

Jumat, 25 Februari 2011

TUGAS PELAYANAN AKOLIT DAN LEKTOR

Akolit dan Lektor merupakan dua petugas pelayanan penting dalam perayaan liturgi Gereja. Akolit dan lektor mengambil bagian secara aktif dalam tugas pelayanan dan pewartaan Sabda Allah selama perayaan liturgi. Akolit berkaitan dengan pelayanan umumnya sedangkan lektor berhubungan dengan pelayanan bacaan atau lebih tepatnya pewartaan sabda.

Tugas pelayanan sebagai akolit dan lektor memiliki dasar hukum dalam perikehidupan Gereja. Kitab Hukum Kanonik (pasal 1035, ayat 1 dan 2) menerangkan hal-hal tentang lektor dan akolit sebagai berikut:

1. Sebelum seseorang diangkat untuk jabatan diakonat, baik yang bersifat tetap maupun yang bersifat sementara, haruslah ia telah menerima pelayanan lektor dan akolit, serta telah melaksanakannya selama waktu yang layak.
2. Antara pelantikan akolit dan pemberian diakonat haruslah ada jarak waktu sekurang-kurangnya enam bulan.

Dari ketentuan di atas, dapat dikatakan bahwa tugas pelayanan dan pewartaan yang diemban oleh akolit dan lektor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari urusan pelayanan liturgi pada umumnya. Kedua tugas pelayanan ini mendasari tugas pelayanan liturgi tertahbis. Gereja mensyaratkan bahwa sebelum tahbisan diakon, seorang calon sudah menjalani tugas pelayanan dan perwartaan selama kurang lebih enam bulan. Ini merupakan salah satu prasyarat untuk menerima tugas kewajiban yang lebih berat lagi sebagai diakon dan imam.

Karena pentingnya tugas-tugas pelayanan ini, para akolit dan lektor perlu memahami apa saja tugas-tugas yang harus mereka lakukan, latar belakang teologis, sejarah dan fungsinya dalam pelayanan liturgi.

Menyadari pentingnya kedudukan akolit dan lektor dalam pelayanan liturgis, para calon diakon dan calon imam yang tengah menjalani pendidikan perlu juga mengerti dan menghargai tugas ini. Agar dapat mengemban tugas ini dengan penuh perhatian dan tanggungjawab, penugasan sebagai akolit dan lektor didahului oleh sebuah perayaan pelantikan.

Seorang lektor dan akolit harus memiliki keterbukaan terhadap Sabda Allah. Sarana untuk meningkatkan keterbukaan itu antara lain mengadakan sharing Kitab Suci atau mengadakan upacara sabda komunitas (2x sebulan) yang disiapkan oleh calon imam yang sudah dilantik sebagai lektor. Resolusi menyarankan supaya pelantikan lektor dan akolit dapat dilaksanakan lebih awal. Dalam usaha mewujudkan garis kebijaksanaan ini, kiranya orang yang hendak melaksanakan tugas pelayanan liturgis ini sungguh mempersiapkan diri untuk menerima penugasan tersebut dan perlu diteguhkan secara liturgis dalam sebuah perayaan pelantikan sebagai lektor dan akolit.

Penulis yakin, tugas pelayanan dan pewartaan bukan hanya monopoli para calon diakon atau imam. Umat pun mengemban tugas yang sama karena panggilan imamat rajawi yang diterimanya berkat pembaptisan. Kami yakin buku kecil ini berguna pula bagi para pembaca umumnya, khususnya, mereka yang tertarik pada pelayanan dan pewartaan sabda sebagai lektor dan akolit .

I. AKOLIT

A. Pengertian

Secara etimologis, kata ini berasal dari kata bahasa Yunani, akolouthein yang artinya mengikuti. Dalam konteks liturgi, pengertian ini menunjuk ke posisi seseorang akolit yang selalu dekat dengan pemimpin liturgi dan bertugas membantu pemimpin liturgi dalam perayaan. Pada mulanya akolit bertugas membantu diakon dalam perayaan liturgi. Ketika Gereja berkembang pesat, para akolit sebagai pelayan khusus dalam liturgi mulai melaksanakan tugas-tugas tertentu yang secara tradisional menjadi tugas diakon.

Tugas pelayanan akolit diperkirakan muncul pada zaman Paus Victor I (189 – 199). Paus Cornelius pada tahun 251 menyebutkan, ada 42 akolit di tujuh wilayah kota Roma. Sesudah abad IV dokumen-dokumen di Roma masih sering membicarakan keberadaan para akolit. Santu Cyprianus pernah mengungkapkan bahwa kelompok ini berada di Arfika Utara. Tugas mereka terbatas pada membawa lilin bila Injil dibacakan dan membantu pemimpin pada saat korban dipersembahkan. Mereka adalah pelayan pribadi uskup.

Jabatan ini baru dikenal luas di Gereja Barat (Roma) sesudah abad ke-9. Sejak abad X tugas tugas pelayanan ini diperkenalkan secara bertahap sebagai salah satu dari empat tugas pelayanan liturgi yang sifatnya membantu imam. Ketiga tugas pelayanan lainnya adalah penjaga pintu, lektor dan pengusir setan (exorcist). Konsili Trente (1545 – 1563) juga membahas tugas pelayanan ini sebagai jawaban terhadap Protestantisme yang menolak sakramen imamat. Di Gereja Timur, walaupun disinggung juga akolit dalam Konstitusi Apostolik (Syria, abad IV), tugas pelayanan ini tidak mendapatkan penerimaan permanen. Kecuali Gereja di Armenia, Gereja-gereja Timur lainnya tidak menggunakan Akolit dalam perayaan-perayaan liturgi.

Tugas-tugas akolit beragam. Tugas mereka pertama-tama adalah mengurusi karya-karya karitatif. Di kota Roma sering mereka memperoleh suatu peran yang khusus dalam perayaan Ekaristi. Mereka mendapat kepercayaan untuk menerima bagian fermentum, yaitu, mengambil pecahan Hosti Kudus yang telah dikonsekrasi dan dibagi-bagi oleh Uskup atau Sri Paus. Lalu mereka membawa fermentum itu ke gereja-gereja stasi di kota itu dan memberikan-Nya kepada imam yang sedang memimpin Ekaristi di sana agar dimasukkan ke dalam piala dan dicampur dengan Anggur Kudus sebagai tanda persatuan-persaudaraan di antara Paus dan umat beriman serta para imam di seluruh kota. Selain itu akolit dapat mendampingi Paus untuk membawa sakramen krisma atau penguatan, dan kadang-kadang, jika jumlah katekumennya banyak, mereka diizinkan untuk melayani sakramen pembabtisan bersama dengan imam dan diakon.

Pada mulanya, akolit hanya merupakan nama untuk orang yang melaksanakan pelayanan-pelayanan di atas. Ritus pelantikan (dalam Pontifikale Romawi) sebenarnya berasal dari ritus Gaelik awal abad ke-6. Ritus ini terdiri dari pelantikan pengusir setan dan pendoa, dan calon yang membawa tangkai lilin dengan lilin yang tidak bernyala dan kantong anggur kosong, simbol pelayanan. Menurut ritus ini tugas-tugas akolit adalah menyalakan dan membawa lilin untuk penyembahan dan menyiapkan air dan anggur untuk persembahan korban. Tugas-tugas ini sekarang umumnya dilakukan oleh awam.
Pelayanan akolit dalam zaman modern ini tidak lagi fungsional kecuali sebagai ritus persiapan untuk pentahbisan. Konsili Trente sebenarnya berharap agar dihidupkan kembali pelayanan pastoral dari akolit. Namun harapan konsili Trente untuk membaharui peran kelompok akolit tak terpenuhi. Gerakan liturgi modern telah mengemukakan beberapa usulan konkret untuk menyesuaikan tugas fungsional liturgis dari akolit dengan kebutuhan pastoral.

Yang bertahan hingga sekarang adalah upacara pelantikan akolit sebagai satu tahap menjelang tahbisan diakon dan imam. Kini tugas akolit yang beragam itu dilaksanakan oleh para koster, pelayan-pelayan altar dan pelayan komuni tak lazim.
Dari sejarah timbulnya kaum akolit, dapat kita pahami makna tugasnya yang utama dalam liturgi yakni pelayanan demi persatuan-persaudaraan. Tindak liturgis pemecahan Hosti kudus dan mencampur sepotong hosti (yang dikirim Paus dan dihantar oleh akolit) ke dalam piala anggur di stasi yang Ekaristinya sedang dipimpin oleh seorang imam lain, merupakan tindak simbolis yang mengungkapkan persatuan-persaudaraan atau communio.

B. Akolit Sebagai Pelayan Liturgi

Akolit merupakan panggilan pelayanan. Namun pertama-tama harus disadari bahwa akolit merupakan anggota umat beriman. Dalam persekutuan liturgis tersebut ia merupakan bagian dari umat Allah. Ia harus hadir sebagai umat dengan tujuan utama merayakan peristiwa keselamatan dalam liturgi. Bersama dengan umat Allah, seorang akolit dipanggil untuk melaksanakan tugas pelayanan khusus yakni mendampingi pemimpin perayaan pada saat-saat tertentu demi memperlancar tugas pemimpin. Dengan demikian secara tak langsung akolit melayani juga umat yang datang untuk merayakan liturgi di bawah pimpinan selebran utama. Seluruh pelayanan akolit harus jadi doa, bukan semata-mata satu pelayanan teknis.

Dalam liturgi Gereja, kita mengenal macam-macam pelayan khusus. Ada pelayan yang menjalankan tugasnya berdasarkan tahbisan seperti diakon, imam, uskup, paus. Tetapi ada juga pelayan tak tertahbis. Pelayan tak tertahbis mengemban tugas khusus berdasarkan imamat rajawi yang mereka terima pada saat pembabtisan. Pelayan tak tertahbis itu antara lain pemimpin koor, pembawa bahan persembahan, akolit dan lektor.

Inti dari seluruh perayaan liturgi adalah menghadirkan misteri keselamatan. Seluruh umat Allah merayakan misteri keselamatan. Dalam perayaan tersebut, semua tugas pelayanan membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan.
Dengan pelayanan para akolit serta pelayan liturgi lainnya, diharapkan umat menghayati atau mengalami inti misteri yang dirayakan. Pusat perhatian harus diberikan kepada inti misteri. Hendaknya akolit menarik perhatian umat kepada inti misteri bukan kepada dirinya sendiri. Ia mesti berusaha agar umat dapat lebih bersatu dengan inti misteri yang sedang dirayakan.

Oleh karena itu seluruh sikap atau gerak-gerik dan perhatian dari akolit harus diarahkan atau dipusatkan kepada inti misteri itu. Seperti semua pelayan liturgi lain, seorang akolit harus ikhlas, jujur, wajar. Ia harus mampu menggungkapkan misteri Allah dengan anugerah-Nya dan keterbukaan manusia terhadap misteri itu. Penampilan yang jujur dan ikhlas perlu sekali. Ia harus memelihara dan menjaga seluruh gestikulasi yang berhubungan erat dengan mata, wajah, tangan, kaki. Dengan kata lain ia harus memelihara disiplin tubuhnya dan tentu saja disiplin hati. Tubuh dan hati yang punya disiplin akan jauh lebih mudah mengarah kepada sumber keutuhan dan disiplin itu sendiri yaitu Tuhan. Dengan cara itu ia menarik perhatian umat kepada inti misteri perayaan, kepada Tuhan dan karya-karya-Nya yang agung.

Berdasarkan pemahaman ini, dapat dilihat bahwa pelayanan seorang akolit memiliki tiga dimensi. Pertama, dengan pelayanannya seorang akolit membantu menghadirkan misteri keselamatan yang datang dari Allah. Di sini seorang akolit melayani Allah. Kedua, seorang akolit pun melayani umat dalam arti membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan. Ketiga, secara teknis seorang akolit melayani imam atau diakon, yang bersama-sama bertugas untuk melayani Allah dan umat Allah.

Pelaksanaan Tugas Akolit

Peran akolit yang mendapat perhatian kita di sini adalah fungsi teknisnya untuk membantu imam ataupun diakon. Walaupun dikatakan bahwa ini fungsi teknis, pelaksanaan fungsi inilah yang merangkum ketiga dimensi dari fungsi seorang akolit. Melalui pelayanannya kepada imam atau diakon, seorang akolit melayani kehadiran Allah dan juga melayani umat dalam memberikan tanggapan terhadap sapaan Allah. Dengan menjalankan sebaik-baiknya tugas pelayanan yang sifatnya teknis itu, ia mengarahkan seluruh perhatian kepada inti misteri yang dirayakan. Seluruh sikap gerak geriknya mesti mengarah pada inti misteri dan menarik perhatian umat ke sana. Fungsi akolit tak terlaksana bila dengan gerak geriknya ia menarik perhatian umat kepada dirinya atau kepada hal lain. Dalam hal ini akolit harus memiliki disiplin diri: disiplin hati dan budi, disiplin gerak, disiplin mata.

Akolit sesuai dengan fungsinya selalu bersama pemimpin liturgi. Ia melayani pemimpin liturgi mulai dari sakristi hingga kembali ke sakristi. Ia melayani pemimpin upacara supaya pemimpin liturgi itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan lancar.

Berikut ini diuraikan tugas-tugas akolit menurut tahap-tahap perayaan liturgi khususnya Ekaristi. Agar memudahkannya, tahapan ini dibedakan ke dalam bagian pembukaan, liturgi Sabda, persiapan persembahan, Doa Syukur Agung, komuni dan bagian penutup.

Pembukaan:
Bagian pembukaan dimulai dari sakristi dan diteruskan dengan perarakan menuju ke altar sementara koor atau umat menyanyikan lagu pembukaan.
Tugas akolit di sini adalah sebagai berikut:
1. Berjalan bersama imam, berarak bersama mendahului imam. Dengan seluruh sikapnya akolit turut membantu menyiapkan seluruh umat mengambil bagian dalam perayaan sambil mewartakan bahwa Tuhan sedang mendatangi umat-Nya dan mau tinggal di tengah mereka. Para akolit membawa serta sejumlah peralatan liturgis yang secara simbolis mengungkapkan penghormatan kepada Tuhan yang datang ke tengah umat. Peralatan peralatan itu antara lain (khususnya dalam perayaan meriah):
a. Api dalam stribul dan kemenyaan untuk pedupaan.
b. Salib yang diapiti lilin-lilin bernyala.
c. Bejana dengan air berkat dan alat percik
d. Lonceng bila perlu untuk memberi tanda bahwa perayaan akan segera dimulai.
e. Tongkat kegembalaan dan mitra uskup (dalam perayaan meriah yang dipimpin Uskup).
2. Di depan altar akolit bersama pemimpin memberi hormat kepada Allah yang hadir di dalam tempat ibadah. Sesudahnya akolit meletakkan peralatan liturgis di tempatnya yang tepat. Misalnya, lilin dapat diletakkan di dekat atau di atas altar, salib dapat dipancangkan di sebelah kiri altar. Pembawa pedupaan mendekati altar dan melayani imam untuk mendupai altar dan salib. Sementara itu akolit yang lain berdiri di tempat yang telah disediakan. Kalau pernyataan tobat dibuat dengan percikan air berkat, akolit atau ajuda membantu membawa air berkat sambil menghantar imam untuk mereciki umat.
3. Akolit dapat melayani imam dengan memegang buku misa di dekat kursi imam agar dapat dibaca oleh pemimpin dengan mudah dan dengan sikap tangan yang sesuai. Akolit dapat juga membantu imam atau diakon untuk mempersiapkan buku misa di altar.

Liturgi Bacaan:
* Pada waktu mazmur tanggapan hampir selesai dibawakan, akolit mengambil pedupaan untuk dibakar oleh imam.
* Bila ada perarakan Kitab Suci, pembawa pedupaan dan lilin mengambil bagian dalam perarakan itu. Tempat mereka ada di depan perarakan .
* Akolit pembawa lilin mendekati mimbar sabda lalu berdiri di sampingnya.
* Di depan mimbar Sabda pembawa pedupaan melayani diakon atau imam untuk mendupai buku bacaan Injil (Evangeliarium).
* Setelah bacaan Injil, para akolit meletakkan peralatan liturgi di tempatnya dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

Persiapan Persembahan dan DSA
Pada waktu persiapan persembahan dan DSA tugas dari para akolit adalah:
• Membawa lilin, menghantar wakil-wakil umat yang membawa bahan-bahan persembahan ke altar.
• Menyiapkan stribul dan kemenyaan.
• Membantu imam menyiapkan altar.
• Menyiapkan altar ( kalau tak ada diakon, dan kalau dapat persetujuan dari imam, jadi harus ada konsultasi lebih dulu dengan imam): menghamparkan kain corporale di tengah altar dan meletakkan di atas kain korporale peralatan-peralatan Ekaristi seperti piala dengan pala (penutup piala), patena dengan hosti besar, sibori dengan hosti kecil di dalamnya, kain purifikator (kain pembersih piala).
• Melayani pemimpin untuk mencuci tangan dengan membawa air dan kain lavabo (untuk mengeringkan tangan yang basah). Bila ada pendupaan, ritus cuci tangan ini dibuat sesudah pendupaan.
• Membantu imam dalam pendupaan, mendupai imam dan mendupai umat.
• Membuat pendupaan di depan altar pada saat hosti dan anggur yang kudus dihunjukkan setelah kata-kata konsekrasi, membunyikan lonceng bila perlu.

Komuni
* Akolit dapat juga menjalankan fungsi pelayanan komunio (membagi komunio).
* Bila disetujui oleh imam akolit dapat membersihkan dan merapihkan perlengkapan misa sesudah komunio di altar atau di meja Credens.
* Memberikan komuni pada orang sakit yang bisa dilakukan sesudah misa.
Penutup
* Memberikan penghormatan di depan altar.
* Mengantar imam kembali ke sakristi.

II. LEKTOR

Arti Kata
Lektor berasal dari kata benda bahasa Latin lector yang berarti pembaca. Istilah ini mengacu pada petugas khusus dalam liturgi yang membacakan secara lantang Firman Tuhan yang tertulis dalam Buku Bacaan (Lectionarium) atau dalam Kitab Suci, biasanya dari mimbar Sabda, agar dapat didengar dengan mudah dan dipahami dengan baik oleh seluruh umat yang hadir dalam perayaan liturgi.

Sedikit sejarahnya.
Sejarah lektor bisa dijejaki hingga ke periode Perjanjian Lama. Dalam liturgi sabda di sinagoga, seseorang membacakan Sabda Tuhan yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Pembaca muncul dari tengah umat dan membuka gulungan Kitab Suci lalu membacakannya dengan lantang. Sesudah pembacaan biasanya ia memberikan penjelasan tentang isi bacaan itu.

Dalam tradisi Kristen, kebiasaan membaca Kitab Suci sudah terdapat dalam Gereja. Perdana. Pada abad II membaca Firman Tuhan adalah kebiasaan khusus kaum klerus. Pada abad ke-5 kebiasaan ini hilang. Mulai dipakai anak muda yang tinggal di asrama uskup. Mereka mendapat pendidikan khusus dan belajar membaca. Kelompok mereka disebut Schola Lectorum. Pada abad ke 6 dan 7 dan selanjutnya anak muda dari Schola Lectorum mulai belajar secara khusus pengetahuan dan ketrampilan musik dan nyanyian sehingga pendidikannya disebut Schola Cantorum. Karena itu mereka tak laksanakan tugas kewajiban membaca. Maka subdiakon atau diakonlah yang membawakan bacaan dalam perayaan meriah

Kini sesudah pembaharuan Konsili Vatikan II, dalam Ministeria Quaedam, lektor sebagai pembaca Firman Tuhan merupakan satu jenjang pelayanan yang harus dilaksanakan oleh seorang calon imam sebelum menerima tahbisan diakon dan imam. Tugas pelayanan ini dapat dilaksanakan oleh orang awam setelah memenuhi persyaratan-persyaratan yang dituntut.


Tugas umum dan khusus lektor:
# Menyiapkan bacaan
# Bisa membawa Evangeliarium (Buku Bacaan Injil) dalam perarakan masuk
# Bisa membawakan Mazmur Tanggapan
# Membacakan bacaan I dan II. Inilah tugas khususnya

Refleksi dan petunjuk praktis tentang tugas lektor
# Yang Anda lakukan adalah suatu keterlibatan dalam seluruh karya Roh Tuhan untuk membuka hati umat Allah terhadap sabda-Nya yang kudus.
# Yang anda lakukan adalah suatu tugas kewajiban untuk menceriterakan sejarah keluarga bangsa umat Allah, bukan hanya sejarah bangsa Israel. Dan sejarah itu adalah sejarah keselamatan yang sedang Anda alami dan yang akan Anda alami.
# Yang anda lakukan adalah mewartakan sabda Allah, sabda yang benar-benar menyelamatkan bukan membinasakan atau menghancurkan manusia. Maka Anda harus yakin akan bunyi sabda ini dan daya gaungnya yang kuat dan membaharui. Maka ada sabda yang bernada keras menegur tetapi bermanfaat untuk membangun rasa sesal dan tobat.
# Anda adalah utusan dari Allah untuk menegaskan bahwa Allah setia dalam cinta-Nya terhadap manusia, bahwa Allah setia memperdengarkan Sabda-Nya dan menepati janji-janji-Nya.
# Tugas Anda adalah mewartakan sabda yang menantang dan menuntut jawaban, yang menyapa dan menyentuh hati manusia.
# Anda mewartakan sabda yang menyembuhkan, yang menguatkan, dan yang menghibur.
# Yang Anda lakukan adalah suatu pelayanan di meja sabda Allah yang menghalau kelaparan hati manusia akan kebenaran.
# Yang Anda lakukan adalah menawarkan kisah tentang karya-karya agung Allah yang menyanggupkan orang beriman untuk mengambil bagian dalam perjamuan Ekaristi, yang menjadi alasan utama dan penting untuk bersyukur dan bermadah.
# Yang Anda lakukan tidak lebih juga tidak kurang daripada menjadi pelayan suara Allah sendiri yang bersabda di tengah-tengah umat-Nya. Keseluruhan sikap dan tindakanmu haruslah sedemikian meyakinkan sehingga umat dapat merasakan dan mengalami kehadiran Allah sendiri ketika sabdaNya Anda maklumkan.

Pelaksanaan Pelayanan Sabda
# Datanglah ke tempat perayaan, sambil berdoa sungguh-sungguh kepada Allah agar RohNya membuka hatimu terhadap sabda-Nya yang Anda hendak maklumkan.
# Siapkanlah bacaan Kitab Suci, pelajari isi dan pahamilah pesan teks bacaan, simpanlah semua itu dalam lubuk hatimu dan biarkanlah Sabda Allah itu meresapi seluruh dirimu lebih dahulu sebelum Anda memaklumkan-Nya kepada orang lain.
# Tampillah dengan sikap hormat dan khidmat terhadap Sang Sabda yang Anda mau maklumkan. Itu adalah sabda Tuhan sendiri.
# Datanglah ke tempat pelayanan sabda sebagai orang yang diadili dan sekaligus diselamatkan oleh Sang Sabda yang Anda wartakan. Camkanlah ini : setiap orang dapat membacakan Kitab Suci di depan umum tetapi hanyalah orang beriman yang dapat memaklumkan dan mewartakan-Nya.
# Berdirilah di Mimbar Baca, meja dari sabda Allah sendiri, seakan Anda adalah Allah sendiri, dengan sikap hormat dan khidmat;
# Boleh Anda nyatakan rasa hormat dengan menundukkan kepala di depan KS; itulah tabernakel tempat semayam Allah sendiri.
# Peganglah Buku Bacaan Kitab Suci, bukalah dan temukanlah bagian yang hendak dibacakan; tatanglah buku itu di atas kedua tanganmu dan rasakanlah kehadiran Sang Sabda itu sendiri.
# Yakinlah akan kehadiran-Nya sebelum Anda mewartakan-Nya dengan penuh keyakinan; keyakinan yang Anda punyai dapat membantu meyakinkan umat atau pendengar akan daya dampak dari kehadiran sabda-Nya dalam hidup sehari-hari.
# Lalu lepaskanlah pandanganmu ke arah persekutuan jemaat dan sadarilah bahwa mereka adalah Tubuh Tuhan sendiri yang sabda-Nya Anda wartakan. Mereka adalah Tubuh Tuhan, sabda yang telah menjelma. Hormatilah dan hargailah Tubuh Tuhan itu dengan melaksanakan tugasmu secara bertanggungjawab.
# Biarkanlah sabda Tuhan tinggal dalam hati dan suaramu sehingga apa yang Anda wartakan muncul dari suatu sumber yang penuh hikmah, mengalir dari sebuah lubuk yang dalam, terpancar keluar dari sebuah hati yang tertebus. Suara yang jelas dan meyakinkan merupakan ungkapan dari rahasia yang dalam itu.
# Biarkanlah suaramu menggemakan sabdaNya dengan keyakinan tapi penuh kelembutan, dengan kepastian tetapi penuh keramahan, dengan daya kekuatan dan kuasa tetapi mengagumkan dan menyentuh, dengan ketegaran tetapi penuh kemurahan.
# Ingatlah bahwa kisah yang Anda ceritakan bukanlah sebuah novel baru yang dibaca untuk memuaskan rasa ingin tahu. Kitab Suci merupakan sebuah kejadian, sebuah peristiwa, sebuah kisah pengalaman hidup tentang penyelamatan dirimu sendiri yang selalu Anda ingin ceritakan berulang-ulang kali dengan penuh semangat dan keyakinan.
# Bagai seorang nabi, kadang-kadang Anda mesti mewartakan sesuatu yang tak suka didengar oleh umat, yang menegur dan memperingatkan dosa-dosanya, yang menuntut tobat sempurna, dan yang menghakimi dengan adil. Kiranya Anda ingat pada saat itu bahwa sabda yang sama keras ditujukan kepadamu. Jangan pernah membayangkan bahwa fungsi pelayananmu menempatkanmu di atas tuntutan sabda yang Anda wartakan.
# Mewartakan sabda dengan jelas, tegas, keras, dan penuh keyakinan, haruslah dibarengi dengan sikap rendah hati dan ikhlas.
# Kiranya setiap lektor membina sikap dasar untuk selalu belajar (sesuatu yang membantu) agar dapat mewartakan Sabda Allah dengan berdaya guna. Kesediaan untuk memperbaiki diri dan keterbukaan terhadap segala macam kritik akan sangat menolong pembentukan diri menjadi pelayan sabda yang baik dan setia.
# Yakinlah bahwa Allah bersabda dan berkarya, mencipta dan menebus, menghibur dan menyelamatkan melalui Anda, melalui tugas yang Anda laksanakan dan melalui hidup yang Anda hayati.
# Semoga pelantikan yang Anda terima dapat menjadi suatu kesempatan penuh rahmat. Kiranya dengan demikian nama Allah semakin dipuji dan semakin banyak orang menikmati kegembiraan dan keselamatan.




Kesimpulan umum

Tugas Anda adalah satu pelayanan yang menuntut pengorbanan, tetapi hendaknya dijalankan dengan rasa gembira dan penuh tanggungjawab dan tidak dianggap sebagai “beban“ yang menindih.

Sebagai petugas liturgi :
1. Hendaknya Anda “melakukan dengan utuh hanya tugas-tugas yang seturut hakikat perayaan dan kaidah-kaidah liturgi“ (KL 28) merupakan bagian tugas khusus Anda. Janganlah merebut tugas khusus diakon atau imam kalau mereka ada dan melakukan tugas sesuai peran mereka. Singkatnya, Anda harus tahu diri dan tahu tugas serta tanggung jawab.
2. Hendaknya Anda menunaikan tugas dengan saleh (KL 29). Itu berarti Anda bersikap dan bertindak sopan, tertib dan tenang. Muka, mata, mulut, kaki, dan tangan harus tertib dan sopan.
3. Hendaknya Anda melakukan tugas dengan tulus (KL 29). Itu berarti hati Anda harus jujur dan ikhlas. Datanglah untuk melayani dengan rendah hati.
4. Hendaknya Anda melakukan tugas dengan seksama (KL 29). Itu berarti dengan teliti memperhatikan dan melaksanakan tugas; Anda harus tahu urutan perayaan, tugas, tempat dan saat yang tepat. Anda harus menguasainya sehingga tidak canggung dan kaku, atau tidak menanti petunjuk atau aba-aba dari pemimpin.
5. Berusahalah melaksanakan tugas-tugas Anda sebaik mungkin. Anda dilantik untuk tugas khusus ini. Jangan sampai Anda yang telah dilantik melaksanakan tugas khusus ini lebih buruk dari orang-orang yang tidak atau belum dilantik.

Bahan refleksi
- Bacalah perlahan-lahan teks amanat hal 5-6 dan 8-9, lalu renungkanlah anugerah yang Anda mau terima, serta tugas yang hendak Anda lakukan. Resapilah teks itu.
- Refleksikan : manakah semangat liturgi yang harus meresapi Anda dan sejauh mana Anda membina diri untuk membawakan peran liturgismu dengan tepat dan rapih (bdk KL 29).
- Anjuran bahan untuk sharing: 2 Tim 4 :1-5 atau Mat 28 :16-20
- Bahan bacaan dan refleksi tentang Lektor (pembaca) menurut PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi):
34: Menurut tradisi, pembacaan itu bukanlah tugas pemimpin upacara melainkan tugas lektor (pembaca). Injil biasanya dibacakan oleh diakon (bukan imam). Bacaan-bacaan lain dibuat oleh lektor. Kalau petugas khusus itu tidak ada, imam konselebran atau imam pemimpin perayaan bisa ganti mereka (bdk. n. 96).
66: Tugas lektor ialah membawakan bacaan-bacaan dari Kitab Suci kecuali bacaan Injil. Para lektor harus cakap membaca Sabda Allah, dan dilatih dengan baik untuk melaksanakan tugas itu. Maka lektor harus menyiapkan diri dengan seksama.
71: Lektor bisa lebih dari satu orang. Tergantung dari jumlah bacaan.
78: Lektor mendampingi imam.
82c: Lektor dapat bawakan injil dalam perarakan masuk.
89: Lektor ke mimbar untuk bacakan bacaan (I, II).
90: Yang dapat dilaksanakan juga oleh lektor ialah mendaraskan/menyanyikan mazmur tanggapan.
96: Imam dapat menganti tugas lektor untuk membacakan Sabda Tuhan.
272: Pembaca memaklumkan Kitab Suci dari mimbar baca. Lektor harus dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh kaum beriman.
313: Lektor harus mengetahui bacaan sebelum perayaan. Ia tidak hanya tahu teks mana yang akan dibacakan, tetapi juga melatih diri untuk membacacakannya dengan lancar dan meyakinkan. Jangan sampai lektor maju ke mimbar sabda tanpa persiapan. Koordinasi yang baik amat menolong.

Oleh: Bernard Boli Udjan, SVD