Tampilkan postingan dengan label Liturgi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liturgi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2025

Senhor morto- Tuhan sudah Mati

Sabtu Suci adalah hari dalam tahun di mana kita tidak dapat tidak memikirkan ironi teologis mendalam yang terlibat dalam frasa terkenal Nietzsche. “Tuhan telah mati” adalah sesuatu yang dapat kita, umat Katolik yang beriman, ucapkan pada hari sabtu suci dengan devosi yang mendalam.

Tuhan kita Yesus Kristus, Pribadi Kedua Tritunggal Mahakudus, benar-benar mengalami kematian manusia. Pada hari itu, Tuhan telah mati. Benar-benar harfiah begitu. Dan kita memperingati hari itu setiap tahun pada Sabtu Suci, jadi setidaknya secara liturgis kita dapat mengatakan pada hari Sabtu Suci, bersama Nietzsche: Tuhan telah mati. (Nietzsche tentu saja tidak bermaksud seperti itu, tetapi ironisnya kata-katanya membantu kita, pada hari Sabtu Suci, untuk menyatakan iman kita dan merenungkan kedalamannya.)

Anda mungkin berpikir: "Tunggu, Tuhan tidak mati; hanya Yesus yang mati." Prinsip teologis communicatio idiomatum, "komunikasi idiom" menyatakan bahwa atribut dari masing-masing kedua kodrat Yesus dapat diatribusikan kepada pribadi tersebut. Maka kita mengaitkan Pribadi Sang Sabda, yang kita sebut "Allah," dengan sifat-sifat manusiawi dan ilahi. Di antara sifat-sifat manusiawi-Nya, kita sertakan kefanaan-Nya, dan fakta kematian-Nya. Memang benar bahwa Sifat Ilahi tidak mati: Sifat Ilahi itu abadi, dan dalam pengertian ini masing-masing dari ketiga Pribadi Ilahi itu abadi melalui Sifat Ilahi mereka. Tetapi Pribadi Kedua, Pribadi Sabda, "Allah," juga memiliki natur manusia, yang fana ketika berada di bumi ini. Dan melalui kodrat manusia ini, Pribadi Sabda benar-benar mati. Dan fakta inilah yang terutama kita ingat hari Sabtu Suci.


Atau mungkin Anda berpikir: "Yesus tidak mati; hanya tubuhnya yang mati." Kalau Anda berpikir seperti ini, Anda mungkin berpikir tentang kebenaran dasar iman bahwa Pribadi Kedua Tritunggal adalah kekal, dan tidak pernah berhenti, bahkan selama tiga hari dari Jumat Agung sampai Minggu Paskah. Dan memang benar dia tidak pernah berhenti ada. Bahkan bagian-bagian penyusun hakikat manusiawi-Nya (tubuh dan jiwa) pun tidak pernah berhenti ada, sekalipun terpisah-pisah. Dengan kata lain, sepanjang triharisuci, Pribadi Kedua Tritunggal melanjutkan eksistensi ilahi-Nya, dan terus bersatu secara hipostatis tidak hanya dengan jiwa manusiawi-Nya, yang "turun ke neraka," tetapi juga dengan tubuh-Nya, yang terbaring di dalam makam (lih., Summa theologiae IIIa, q. 50). Tetapi tetap benar jika dikatakan bahwa Dia wafat, atau Dia mengalami kematian, sebab kematian tidak berarti berhentinya keberadaan, melainkan berarti terpisahnya jiwa dan raga. Dia benar-benar menderita pemisahan tubuh dan jiwa, yang kita sebut kematian manusia.

Prinsip yang mendasarinya di sini pada akhirnya adalah: acta sunt suppositorum, tindakan dilakukan oleh pribadi (supposits). Kita tidak mengatakan bahwa tubuhku mengendarai mobilku; kita katakan: Saya, orangnya, yang mengendarai mobil, meski melalui tubuh sayalah saya melakukannya. Jadi tindakan dan hasrat Kristus dapat dilakukan melalui tubuhNya, tetapi Dialah yang melakukannya melalui tubuhNya. Maka tidak salah kalau dikatakan jasadnya telah mati, sepanjang kita tidak bermaksud mengingkari bahwa orang tersebut telah mati. Bagaimanapun juga, lebih tepat untuk mengatakan bahwa Pribadi ("Allah," "Yesus," "Firman") mati.

Itulah yang sangat mengagumkan tentang hari Sabtu Suci: Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus benar-benar menjalani kematian manusia -- pemisahan tubuh dan jiwa-Nya -- demi keselamatan kita. O senhor morto, God is Dead, benar kata Niestzche.

Sabtu, 15 Februari 2025

Makna "Marilah mengarahkan Hati kepada Tuhan" dalam Misa


Misa dipenuhi dengan momen-momen yang mendalam dan sakral, namun beberapa bagian terkadang diabaikan atau dianggap sebagai rutinitas. Salah satu momen tersebut adalah ketika imam berseru, "Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan," dan umat menjawab, "Sudah kami arahkan." Meskipun kata-kata ini diucapkan sebagai bagian dari liturgi, kata-kata ini mengandung makna yang lebih dalam yang layak untuk direnungkan.


Pertukaran ini merupakan undangan—dorongan dari imam bagi setiap orang yang hadir untuk mengalihkan fokus mereka dari kekhawatiran sehari-hari kepada Tuhan, meskipun hanya selama Misa. Hidup ini penuh dengan kekhawatiran—stres, ketidakpastian, pergumulan pribadi—tetapi momen ini adalah pengingat untuk mengesampingkannya dan mengarahkan hati kita kepada yang ilahi. Ini tidak berarti mengabaikan masalah kita sepenuhnya, tetapi mendedikasikan waktu ini untuk hadir sepenuhnya bersama Tuhan.

St. Cyril dari Yerusalem menggambarkan momen ini sebagai panggilan untuk mengesampingkan gangguan duniawi dan mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan yang penuh belas kasihan. Meskipun wajar jika pikiran kita melayang pada masalah sehari-hari, bagian Misa ini merupakan kesempatan untuk secara sadar mengangkat pikiran dan hati kita menuju rasa syukur dan persekutuan dengan Tuhan. Imam kemudian melanjutkan, "Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita," menekankan bahwa kita memiliki banyak alasan untuk bersyukur—entah atas rahmat yang kita terima, pengampunan yang diberikan kepada kita, atau kasih yang menyambut kita sebagai anak-anak Tuhan.

Setiap orang datang ke Misa dengan membawa beban—pergumulan keluarga, tekanan finansial, kehilangan pribadi, atau tantangan lainnya. Namun, ketika imam mengundang kita untuk "mengangkat hati kita," itu merupakan kesempatan untuk mempercayakan kekhawatiran tersebut kepada Tuhan, meskipun hanya untuk saat itu. Dengan melakukannya, kita membuka diri terhadap kehadiran-Nya, kedamaian-Nya, dan kemungkinan transformasi. Tuhan mendengarkan, dan membiarkan diri kita hadir sepenuhnya pada saat itu dapat mengubah perspektif kita, membawa pembaruan dan harapan.

#misa #ekaristi #gerejakatolik #imankatolik

Senin, 27 Januari 2025

Tahun Liturgi: Perjalanan Iman Sepanjang Tahun

Tahun Liturgi dalam Gereja Katolik adalah siklus perayaan sepanjang tahun yang mengikuti kehidupan Yesus Kristus. Ini bukan sekadar kalender biasa, melainkan sebuah perjalanan iman yang mengajak umat untuk merenungkan misteri inkarnasi, sengsara, kematian, dan kebangkitan Kristus.
Tujuan Tahun Liturgi
* Menghayati Misteri Kristus: Tahun Liturgi membantu umat untuk lebih mendalam menghayati misteri Kristus dalam seluruh dimensi kehidupannya.
* Memperkuat Iman: Dengan mengikuti ritme Tahun Liturgi, iman umat semakin bertumbuh dan diperdalam.
* Membentuk Karakter Kristiani: Melalui perayaan-perayaan liturgi, umat dibentuk menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.
* Menyatu dengan Gereja Universal: Tahun Liturgi menyatukan umat Katolik di seluruh dunia dalam satu ritme perayaan, memperkuat rasa persaudaraan.
Struktur Tahun Liturgi
Tahun Liturgi dibagi menjadi beberapa masa, di antaranya:
* Adven: Masa persiapan menyambut kelahiran Kristus.
* Natal: Merayakan kelahiran Yesus Kristus.
* Masa Biasa: Masa antara Natal dan Prapaskah.
* Prapaskah: Masa pertobatan dan persiapan menyambut Paskah.
* Triduum Paschal: Puncak perayaan liturgi, meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.
* Paskah: Merayakan kebangkitan Yesus Kristus.
* Masa Paskah: Masa 50 hari setelah Paskah, merayakan kemenangan Kristus atas maut.
Tahun A, B, dan C
Untuk memperdalam pemahaman akan Injil, Gereja Katolik membagi pembacaan Injil dalam siklus tiga tahun, yaitu Tahun A, B, dan C. Setiap tahun, bacaan Injil difokuskan pada salah satu Injil Sinoptik (Matius, Markus, atau Lukas).
Arti Warna Liturgi
Warna-warna liturgi juga memiliki makna simbolis yang mendalam:
* Putih: Simbol kemurnian, sukacita, dan kemuliaan.
* Merah: Simbol darah Kristus, cinta kasih, dan Roh Kudus.
* Ungu: Simbol pertobatan, penyesalan, dan persiapan.
* Hijau: Simbol kehidupan baru dan pertumbuhan dalam iman.
* Hitam: Simbol dukacita dan kematian.
* Roda: Simbol kemartiran.
Mengapa Tahun Liturgi Penting?
Tahun Liturgi memberikan struktur dan arah bagi kehidupan liturgi Gereja. Dengan mengikuti ritme Tahun Liturgi, umat dapat mengalami perjalanan iman yang kaya dan bermakna. Selain itu, Tahun Liturgi juga membantu umat untuk lebih memahami Kitab Suci dan ajaran Gereja.
Pertanyaan?
Apakah Anda ingin tahu lebih lanjut tentang aspek tertentu dari Tahun Liturgi, seperti perayaan-perayaan khusus, makna simbol-simbol liturgi, atau hubungan antara Tahun Liturgi dengan kehidupan sehari-hari? Jangan ragu untuk bertanya!

Senin, 17 April 2023

MINGGU KERAHIMAN DI KAPEL ST PETRUS OEPAHA

Waktu menunjukkan pukul 7.30 ketika saya mengendarai sepeda motor ke arah Baumata menuju kapel Kecil di Oepaha. Kapel Oepaha merupakan bagian dari Paroki St Yosep Pekerja Penfui tempat di mana saya bertugas setiap minggu memimpin perayaan Ekaristi. Hari ini hari Minggu Kerahiman Ilahi dan saya akan Kembali bertemu dengan umat di Kapela Oepaha.

Jalan menuju Oepaha berkerikil dan tidak mulus, membuat sepeda motor terus berguncang. Perjalanan memakan waktu setengah jam. Jam delapan tepat akan dimulai dengan perayaan Ekaristi.

Saya tiba di depan kapel disambut oleh Ketua Stasi dan Frater serta Bruder yang bertugas mingguan di sana. Pak Ketua Stasi memberitahu kalau hari ini umat akan berkurang karena Sebagian besar OMK sedang mengikuti kegiatan THS-THM di Taman Ziarah Oebelo. Umat yang hadir sekitar limapuluh orang. Saya memeriksa tabernakel dan menemukan masih banyak sakramen sehingga tidak perlu lagi menyiapkan bahan persembahan berupa roti.

Pak Ketua Stasi di dalam Kapel


Perayaan berlangsung dengan meriah. Beberapa OMK yang tidak ke Oebelo bertindak sebagai koor sponsor diiringi dengan organis dari Bruder Keluarga Nazareth. Dalam khotbah saya menjelaskan tentang Riwayat ditetapkannya Hari Minggu Kerahiman Ilahi, berupa penampakan Tuhan Kita Yesus Kristus kepada Sr Faustina di Krakow Polandia. Dan juga tentang tanggapan Yesus terhadap iman Thomas, “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”. Iman model seperti inilah yang ditujukan bagi kita sekarang yang hidup duaribu tahun sesudah kehidupan Tuhan kita Yesus Kristus.

Usai misa seseorang datang menemui saya di Sakristi. Ternyata dia adalah anak tetangga di kampung halaman saya, Oekiu. Dia rupanya beristrikan orang Oepaha dan menetap di Oepaha. Kami bertiga dengan calon istrinya berfoto Bersama di depan altar. Lalu Ketua Stasi mengundang saya dan Frater serta Bruder ke rumah salah satu umat untuk beristirahat sambal minum di sana.

Bapak Ketua Stasi banyak bercerita tentang asal muasa berdirinya kapel St petrus Oepaha. Bermula dari kesulitan umat untuk selalu bergabung dengan umat dari Oeltua, yang berjarak sekitar 7 km dari Oepaha, membuat mereka menginginkan satu kapela untuk beribadat di kampung mereka. Sekitar Tahun 2014 Bapak Uskup dalam kunjungan ke Oepaha mengijinkan mereka untuk membangun kapel sederhana, beratap seng dan berdinding bebak. Beberapa tahun kemudian mereka mendapat bantuan dari PIKAT Kupang, organisasi para pengusaha Katolik yang bersedia membantu mereka untuk mendirikan kapel baru yang lebih layak. Kapel itu kemudian diresmikan pada tahun 2018 dan kini setiap hari Minggu mereka dapat beribadat di tempat yang tidak jauh dari kediaman masing-masing.

Sekitar jam 10 karena hari sudah mendung saya pamit pulang. Semoga umat di Kapel St Petrus Oepaha terus berkembang dalam iman dan kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Salve!

Minggu, 16 April 2023

KISAH SEMINGGU DI SABU RAIJUA

Paskah tahun 2023, saya mendapat kesempatan untuk melayani Perayaan Paskah di Sabu Raijua. Senang sekali setelah sekian lama akhirnya bisa Kembali ke Pulau Sabu.

Hari Rabu, 5 April 2023, saya berangkat menuju Pelabuhan Tenau Kupang dengan niat menunggu Kapal yang akan ke Sabu. Tepat jam 5 saya sudah berada di Pelabuhan dan langsung membeli tiket Kapal Cantika Lestari 9C. Kapal akan berangkat jam 9 malam. Masih ada waktu 4 jam. Saya duduk menunggu sambil membayangkan keadaan Pulau Sabu, yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Pasti sudah ada banyak perubahan karena percepatan pembangunan di daerah otonomi yang relatif baru ini.

Ternyata baru jam 10 lewat kapal berangkat. Ini juga pengalaman pertama menumpang kapal laut. Ternyata menyenangkan. Saya berusaha tidur tapi tidak bisa karena bunyi mesin terlalu bising. Ombak tenang, saya mondar-mandir ke ruang duduk dan ke kamar, hingga akhirnya benar-benar mengantuk dan tertidur.

Pukul 5 pagi saya bangun dengan niat menikmati sunrise pagi ini. Langit sedikit berawan, sunrisenya dapat dinikmati sebentar karena keburu tertutup awan. Daratan Sabu sudah terlihat dan sebentar lagi kapal akan bersandar.

Ternyata ini di dermaga Pelabuhan Sabu Timur, sebagaimana diumumkan petugas kapal malam tadi, berarti saya masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam ke Seba. Rm Yopi sudah siap menjemput dengan mobil pick-up, selamat datang (Kembali) ke Pulau Sabu.

Kami tiba di Pastoran Seba, bertemu dengan Rm Kanis dan Frater, lalu beristirahat sebentar. Rencananya siang ini saya akan melanjutkan perjalanan ke Mehona, sebelah selatan Sabu. Di sanalah saya akan tinggal Bersama umat untuk merayakan Trihari Suci dan Paskah.

Jam 2 siang saya diantar di Mehona, kenangan sepuluh tahun lalu Kembali terlintas, bagaimana keramahan orang Mehona menyambut saya pada waktu itu, dan kini dengan keramahan yang sama mereka menyambut untuk berada Bersama mereka. Banyak yang sudah tidak lagi ingat akan kedatangan saya yang lalu, ada yang katanya masih di Kupang, ada yang masih kecil sekali, lagi pula tidak ada foto foto kenangan (foto-fotonya lenyap karena hardisk computer saya sudah rusak dimakan usia).

Jam 4 sore saya di antar ke Perema Mesara untuk merayakan misa Kamis Putih di sana. Nanti dari sana baru dilanjutkan dengan Misa di Mehona. Tiba di Perema, umat sudah siap merayakan misa. Dengan basa-basi sejenak kami mempersiapkan perayaan sederhana Kamis Putih. Jumlah umat yang hadir sekitar 20 orang, mereka datang dari tempat yang berjauhan di wilayah kecamatan Mesara. Saya mengingatkan mereka kalau saya pernah merayakan Jumat Agung Bersama mereka. Beberapa masih terkenang terutama Bapak Ketua Stasi karena saya menginap dirumahnya yang ada tepat di depan kapel. Di sini saya bertemu dengan mahasiswa KKN Stipas Kupang yang ternyata berasal dari Paroki kampung halaman saya di Timor.

Sesudah perayaan, kami pulang dengan sepeda motor menyusuri jalan tak rata dan berlumpur Kembali ke Mehona. Di sana umat sudah siap untuk Misa Kamis Putih. Misa dimulai jam 8 malam setelah saya mengambil waktu beristirahat sejenak. Misa diiringi dengan koor yang meriah dari anak-anak OMK.  Perarakan Sakramen Mahakudus berlangsung sederhana, dan tidak ada doa bergilir di depan sakramen Mahakudus. Dua orang Ibu mendatangi saya saat usai misa, dan mengingatkan saya kalau dulu mereka yang menjadi misdinar dalam perayaan Kamis Putih itu.

Hari Jumat Agung, diawali dengan Ibadat Jumat Agung jam 9 di Perema. DI Mehona baru akan dilaksanakan jam tiga sore. Di Perema perayaan berlangsung sederhana, dengan Kisah Sengsara didaraskan oleh petugas dan penyembahan salib yang berlangsung khidmat, Salib diletakkan dengan alas kain adat Sabu, dan tiap umat maju mencium salib. Perayaan berlangsung sekitar satu setengah jam, dan kemudian saya langsung pulang ke Mehona.

Perayaan di Mehona lebih meriah. Kisah sengsara dinyanyikan, meski kurang maksimal karena terjadi banyak kesalahan nada. Mungkin latihannya kurang tapi liturgi berjalan lancar. Di sini banyak sekali anak-anak yang duduk di depan dan dengan setia mengikuti setiap acara liturgi.

Hari Sabtu pagi kesempatan untuk sedikit beristirahat dan menghirup segarnya udara perbukitan Mehona. Misa pertama di Perema baru akan mulai jam 5. Di Perema mereka telah menyiapkan liturgi dengan baik, bahan bakar api unggun tersedia. Kami mulai dengan pemberkatan api, dan perarakan lilin paskah, dalam situasi remang-remang, belum gelap sama sekali namun sudah sulit untuk membaca teks. Jadi lampu senter hp dipakai sebagai alat bantu membaca, lampu kapel di padamkan, jadi meski baru senja hari, suasana sudah terasa malam.

Kami pulang kehujanan dan terpaksa berteduh sebentar. Umat Mehona telah menunggu, dan untung saja hujan segera mereda, walau tak berhenti samasekali. Kami terus menerobos gerimis malam untuk sampai ke Mehona. Misa baru dimulai jam 9 setelah saya mengeringkan tubuh yang basah kehujanan. Hujan deras tiba tiba turun, bunyi gemuruh di atas seng, volume pengeras suara dinaikkan, dan upacara Vigili Paskah terus berlangsung dengan khidmat. Sampai selesai Misa hujan masih terus mengguyur. Beberapa tidak sempat pulang dan tidur di pelataran Gereja sampai keesokan harinya.

Minggu Paskah, misa pertama ke Perema, Bersama OMK yang siap bernyanyi sebagai koor sponsor. Kali ini kami berangkat dengan mobil pickup, sedikit lebih santai karena terhindar dari guncangan sepedamotor. Misa di Perema berlangsung meriah oleh koor dari OMK Mehona. Kami keburu pulang setelah misa karena takut hujan yang akan memperparah licinnya jalan keluar dari Kapel Perema.

Hujan terus turun dengan deras. Jam 12 siang ditengah guyuran hujan kami merayakan Misa Minggu Paskah di Mehona. Masih banyak umat yang hadir tak terhalang oleh hujan.

Rencananya Misa Paskah kedua akan dirayakan di Wadumedi, sebuah kapel baru dekat Perema. Tempat ini dekat dengan tempat Wisata KelabbaMadja. Perayaan misa masih dimeriahkan oleh Koor dari OMK Mehona. Misa berlangsung di kapel darurat di halaman rumah tradisional milik salah seorang umat di sana. Umat di Waddumedi berjumlah 5 KK. Kami pun Kembali ke Mehona. Saatnya saya berbenah untuk Kembali ke Sabu dan seterusnya ke Kupang.

Penyembahan Salib di Perema

Kamis Putih di Mehona

Paskah ke-2 di Wadumedi


Sambil menanti jemputan dari Seba, kami duduk bersantai sambal berkaraoke di pelataran rumah. Sampai jam 8 malam Rm Yopi dan beberapa pengurus DPP tiba dari Seba. Acara dilanjutkan dengan pidato perpisahan dan pemberian kenang-kenangan dari umat. Saya mendapat beberapa lembar kain tenun Sabu. Terimakasih. Kami masih lanjut menari Bersama hingga jam duabelas malam Ketika kami beranjak meninggalkan desa Mehona.

Hari Selasa pagi. Perayaan Paskah telah usai. Saya baru akan ke Kupang hari Rabu malam dengan Kapal. Maka kesempatan yang ada adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar Seba. Kami mulai dengan mengunjungi kampung adat Namata, tidak jauh jaraknya dari Kota Seba. Di Kampung ini kami bertemu dengan Ina penjaga yang ramah, saya menyewa pakaian adat Sabu yang lengkap, dan mulailah sesi foto-foto di sekitar tempat pemujaan. Di desa ini terlihat beberapa kuburan berbentuk lingkaran kecil, katanya ini kuburan khas jintiu, terdapat pula kuburan berbentuk modern tanda sudah memeluk Kristen.

Dari Namata, sorenya kami ke taman doa Skyber. Sayang sekali, gerbang taman doa ini tertutup. Kami tak bisa masuk ke dalam. Rm Yopi sudah berusaha menghubungi orang-orang yang kiranya bisa membantu. Hasilnya nihil. Tak apa, yang penting bisa melihat salah satu geliat pembangunan di Kota Seba, taman Skyber ini salah satu contohnya.

Hari Rabu. Masih ada kesempatan mengelilingi Pulau Sabu. Paginya kami ke Gua Mabala di desa Eimau Sabu Tengah. Gua Mabala konon merupakan tempat persembunyian para gerilyawan perang melawan Belanda dulu. Gua ini terdapat di bawah pohon beringin besar yang sejuk. Masuk ke dalam melalui tangga dari kayu sekitar 10 meter, setelah melewati gang yang sempit dan gelap kami masuk ke goa yang besar dan benderang akibat cahaya sinar matahari yang masuk melalui dua lubang terbuka tepat di atas gua ini.

Dari Mabala, Eimau kami menuju ke KelabbaMadja, satu jam perjalanan ke arah barat. Kelabba madja adalah bentang alam berupa longsoran tanah membentuk ngarai dengan tebing berwarna warni: putih, merah-muda dan coklat kekuningan. Yang menjadi daya tariknya adalah beberapa tiang tanah runcing yang memuat bebatuan besar. Ternyata batu-batu tersebut tetap mencengkeram diujung tiang. Rupanya kalau hujan terus menerus, lama kelamaan tiang tanah tersebut habis tergerus dan batunya pasti terguling ke bawah. Tapi itu nanti, untuk sementara nikmati dulu fenomena batu di atas tiang tanah. Kami datang dengan siang hari, dan sepi pengunjung, hanya ada dua pengunjung lain selain saya dan Rm Yopi. Ada satu penjaga, setia menerima dan mencatat kedatangan para wisatawan di sebuah pondok kecil dekat pintu masuk. Katanya pengunjung biasanya meningkat di hari Sabtu dan Hari Minggu. Suasana hitsnya Kelabbamadja memang sudah lewat sejak viral beberapa tahun lalu. Tahun 2013 sewaktu saya ke sini, Kelabbamaja dan gua Mabala belum begitu ramai dikenal orang.

Sore harinya kami mengadakan acara perpisahan di pelataran Gereja Seba, acara pelepasan DPP Bersama Pastor yang bertugas Paskah di Sabu; Saya, Pater John Balan SVD dari Ende dan Rm Jega yang sudah Kembali ke Kupang Selasa malam kemarin. Di sini kesempatan saya bertemu dengan the Legendnya Orang Sabu, Pater Franz Lackner SVD. Saya mengingatkan beliau kalau sudah pernah bertemu sebelumnya. Misionaris berusia 83 tahun ini mengambil buku catatan kecilnya menulis nama dan nomor telpon saya. Rupanya beliau rajin mencatat siapa saja yang mengunjungi beliau. Saya dan Pater berbicara banyak hal, setelah mengenali dan mengingat saya kembali beliau memilih berbicara dalam Bahasa Inggris . Banyak sekali curhatan orang tua ini, mulai dari perkembangan Gereja yang semakin sekular, gaya kepemimpinan Paus Fransiskus, psikologi dan Politik orang Sabu dan masih banyak lagi, dengan gaya humornya yang saya sukai, kami terus mengobrol hingga saatnya saya harus ke kapal untuk Kembali ke Kupang. Selamat tinggal Pater Franz, semoga sehat selalu di usia senja ini, dan semoga kita berjumpa lagi.

Saya bergegas menuju Pelabuhan, beberapa meter saja dari Pastoran. Saya diantar RM Yopi dan Frater. Sebentar lagi kapal akan berangkat menuju Kupang. Selamat tinggal Pulau Sabu. Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi.

Perjalanan pulang ternyata lebih tidak nyaman daripada perjalanan datang. Gelombang laut menyebabkan kapal sangat oleng berayun-ayun. Sulit berjalan-jalan di atas kapal. Saya terus tidur hingga pagi terang, Ketika kapal sudah tiba di samping pulau Semau. Sebentar lagi kapal akan mendarat di Pelabuhan Tenau. Selamat datang Kembali ke kota Kupang.

 

Jumat, 08 November 2013

Cara Melaksanakan Tugas Liturgi sebagai Organis Gereja

Menjadi Organis di Gereja berarti menjadi petugas liturgi. Kita menjalankan tugas pertama-tama untuk melayani Tuhan dan umat-Nya, demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan. Saya sangat tidak setuju dengan kasus di mana ada anggota koor yang menyewa organis yang bukan beragama Katolik untuk mengiringi Misa/Ibadat devosi lainnya.

Catatan ini berasal dari pengalaman saya sebagai organis. Saya sharingkan di sini untuk mengingatkan kembali kita semua, terutama bagi para organis pemula,  tentang bagaimana menjadi organis Gereja yang baik, dan yang tidak bertentangan dengan pedoman Liturgi Gereja.

1. Datang lebih dahulu sebelum misa/ibadat dimulai. Akan sangat mengganggu kalau umat sudah memulai dengan ibadat dan petugasnya muncul dengan tergopoh-gopoh, langsung mengejar nyanyian umat dengan iringan organ. Sambil menunggu waktu mulainya ibadat, Anda bisa memainkan lagu-lagu instrumental.

2. Berdoa sebelum memainkan organ. Tak perlu panjang-panjang. Saya suka menyapa St Caecilia, pelindung koor dan Organis Gereja.  

3. Kenali tema dan corak ibadat yang mau dirayakan. Misa  atau ibadat devosional (Rosario, jalan Salib)? Masa Adven dan Prapaskah tentu berbeda dengan Natal dan Paskah. Demikian juga, misa/ibadat syukur dengan misa/ibadat arwah. Hal ini akan membantu dalam pemilihan register dan lagu-lagu. Menurut pengalaman saya, kadang-kadang kita juga harus menjadi dirigen sekaligus. Dalam hal ini, aba-abanya berdasar pada tekhnik memainkan organ.

3. Selalu ingat bahwa tugas kita adalah mengiringi nyanyian umat dan nyanyian koor. Usahakan agar bunyi organ tidak menutupi suara umat atau koor. Waktu memberi intro, volumenya bisa lebih keras namun setelah umat ikut bernyanyi, segera turunkan volume suara organ. Dalam hal ini, organ dengan pedal volume akan lebih efektif daripada organ dengan pengaturan volume manual.

4. Memberikan nada dasar yang tepat untuk pemimpin ibadat. Dalam kegiatan ibadat beberapa bagian dinyanyikan oleh pemimpin ibadat: misalnya Tanda Salib, Ajakan Berdoa, Prefasi Misa, dsb. Berikan intro singkat dengan nada dasar yang sesuai. Untuk pemimpin/ imam, nada dasar biasanya berkisar pada E – G. Untuk itu bila dirasa perlu hubungi pemimpin ibadat sebelum ibadat dimulai.

5. Ketika Misa/ibadat selesai, bisa dimainkan lagu-lagu intrumental mengiringi keluarnya umat dari Gereja. Ini sangat membantu untuk menutupi kebisingan atau crowd noise. Yah, lagu instrumentalia gerejawi/rohani, bukan yang dari Gun’s Roses.

Selain itu kita juga perlu berlatih secara tetap dan teratur. Jangan merasa semuanya sudah selesai setelah kita dipercaya untuk mengiringi dalam ibadat. Di luar jam ibadat, sediakan waktu luang untuk berlatih. Asah dan kembangkan terus kemampuan yang kita miliki. Bukankah ketrampilan bermain organ itu suatu talenta? Sebenarnya ketika kita berhenti memainkan organ, saat itu kita BUKAN organis.

Nah, saya pikir cukup dulu beberapa hal ini. Bagaimana menurut Anda?

Sabtu, 07 April 2012

Simbolisme Cahaya dan Lilin Paskah

by SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA on Saturday, April 23, 2011 at 8:37pm ·

Kristus dahulu dan sekarang,
awal dan akhir, alpha dan omega.
MilikNyalah segala masa dan segala abad,
kepadaNyalah kemuliaan dan kekuasaan
untuk selama-lamanya.

Pada Malam Paskah ini ada suatu kebutuhan dari setiap kita yang merayakan Malam Vigili Paskah adalah lilin. Mungkin setiap kita sibuk mencari lilin. Toko-toko penjual lilin laris manis. Kelompok Mudika atau Legio Maria, Putra Altar dan Putri Sakristi pada sibuk menyiapkan lilin bagi umat beriman yang datang merayakan Hari raya Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Memang dalam tradisi Liturgi Gereja Katolik perayaan Malam Paskah diawali dengan upacara cahaya. Tuhan Yesus yang bangkit dari kuburNya merupakan cahaya yang menerangi kegelapan dan kekelaman dunia ; maut dan dosa dikalahkan, dunia dilimpahi kasih dan keselamatan Allah. Dunia bergema dengan sorak sorai :« Kristus Cahaya Dunia », « Syukur Kepada Allah ».

Simbol Kebangkitan Kristus

Gereja dalam tradisi liturginya telah menggunakan Lilin sejak abad IV, terutama lilin putih besar yang dihiasi dengan goresan salib berwarna merah.

Lilin Paskah merupakan symbol cahaya Kristus yang bangkit. Hal ini terutama dalam kata-kata imam ketika menyalakan lilin Paskah dengan mengucapkan : « Semoga Cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalau kegelapan hati dan budi kita ». Ketika Lilin Paskah diarak masuk ke dalam gereja, Gereja dalam keadaan gelap, dan cahaya lilin Paskah ini mulai memberi terang dalam kegelapan. Memang, sesungguhnya terang kebangkitan Kristus memberi cahaya untuk menerangi kegelapan hidup kita, bahkan mencerahkan dan mengubah hidup yang suram.

Cahaya Lilin Paskah ini kemudian diedarkan ke tengah umat beriman dengan saling menyalakan lilin-lilinnya di tangan, sebagai simbol saling berbagi terang kebangkitan Kristus dan  cinta kasih Allah yang menyelamatkan.

Tulisan atau goresan pada Lilin Paskah

Ketika upacara pemberkatan Lilin Paskah, imam mengoreskan tanda-tanda pada Lilin Paskah :
  • Imam mengoreskan (menulis) tanda salib, dari atas ke bawah – kiri ke kanan; kemudian dia mengoreskan abjad yunani Alpha di bagian atas dan abjad Omega di bagian bawah, seraya mengucapkan : “Kristus dahulu dan sekarang; Awal dan Akhir – Alpha dan Omega”.Jadi ada tindakan yang disertai kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus adalah awal dan akhir dari segala sesuatu. Kita ingat dalam prolog Injil Yohanes, di situ dikatakan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1, 1). Dan sungguh, Firman Allah itu adalah Yesus Kristus. Dan masih tetap menurut St. Yohanes dalam Kitab Wahyu, di situ dikatakan : « Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus! » (Why 22, 20), yang merupakan kalimat terakhir dari Alkitab, dan yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus kita nantikan kedatanganNya pada akhir jaman, sebagaimana kita ucapkan dalam credo atau pengakuan iman kita. 
  • Di ke empat sudut dari salib itu digoreskan angka tahun yang menunjukkan bahwa  Yesus Kristus adalah Tuhan atas waktu dan sejarah. « MilikNyalah segala masa dan segala abad. KepadaNyalah kemuliaan dan kekuasaan sepanjang segala masa. »
  • Pada bagian tengah dan keempat ujung dari tanda salib itu, imam menancapkan biji-biji dupa sebagai tanda dari 5 luka-luka Yesus, seraya berkata : « Demi luka-lukaNya yang kudus dan mulia, semoga kitapun dilindungi dan dipelihara oleh Kristus Tuhan. Amin. »
Exultet

Setelah uapacara pemberkatan api baru, pemberkatan dan penyalaan Lilin Paskah, menyusul perarakan  masuk ke dalam gereja dengan tiga kali aklamasi « Kristus Cahaya Dunia » - « Syukur kepada Allah ». Pada aklamasi kedua, lilin-lilin misdinar dinyalakan dari nyala Lilin Paskah ; dan pada aklamasi ketiga nyala Lilin Paskah diteruskan ke umat oleh misdinar dan umatpun saling berbagi nayala api Lilin Paskah Kristus. Kemudian menyusul Exultet atau Pujian Paskah, yang  merupakan pemakluman Paskah Kristus secara meriah, sekaligus menyimpulkan bagian pertama  perayaan Malam Paskah, perayaan cahaya Kristus yang bangkit jaya.

Cahaya sejati adalah Tuhan

Istilah « terang » atau « cahaya » banyak terdapat dalam ayat-ayat Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, seperti  dalam kisah penciptaan, pada saat dimana Allah menuntun umat pilihanNya dari perbudakan Mesir dalam terang tiang awan, juga ada dalam kitab mazmur, dsb.

Perjanjian Baru menjelaskan makna cahaya menunjuk kepada Yesus sebagai Terang Dunia.
  • Pada kelahiran Yesus : « Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang » (Mat 4, 16).
  • Pada saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah : Simeon berseru bahwa Yesus adalah terang bagi bangsa-bangsa : « Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. » (Luk 2, 29 – 32) 
  • Pada peristiwa transfigurasi di Gunung Tabor : « Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. » (Mat 17, 2) 
  • Yesus disebut sebagai terang sejati: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yoh 1, 4-9) 
  • Yesus berkata bahwa Dia adalah terang yang sesungguhnya : "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yoh 8, 12) 
  • Dan kita yang telah mengikuti Yesus menjadi terang dunia : “Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang.” (Mat 5, 14. 16) 
Terang dalam Liturgi

Konon pada jaman Romawi kuno, para kaisar dikelilingi oleh orang yang membawa obor untuk menunjukkan kehadirannya di tengah rakyat. Kekristenan awal mengadopsi ide ini bukan untuk menunjukkan dan menghormati kaisar tetapi menunjukkan Raja segala raja, Raja alam semesta adalah Tuhan Yesus Kristus.

Dalam kumpulan catatan liturgi kuno ditemukan sebuah ungkapan ini : « Kita tidak perna merayakan Misa tanpa cahaya (lilin) ; hal ini bukan bukan untuk mengusir kegelapan tetapi untuk memuliakan Sang Cahaya sejati, yakni Kristus Yesus, Sakramen keselamatan yang hadir di altar, tanpa Dia, kita berada dalam kegelapan malam » (Bernold Konstanz dalam Micrologue, tahun 1085).

Fungsi cahaya dalam liturgi :

Secara historis : untuk menunjukkan benda atau obyek yang bersangkutan :
  • Altar dalam katakombe dan dalam Basilika pada awal kekristenan.
  • Salib perarakan (dalam prosesi salib diapiti lilin bernyala)
Secara simbolik :  menghormati tanda-tanda kehadiran Yesus Kristus, Terang Dunia, yang hadir dan tinggal di tengah-tengah umat beriman. Dengan demikian, cahaya lilin atau lampu menjadi tanda kehadiran Kristus dalam GerejaNya, yakni :
  • Yesus hadir dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrir
  • Altar yang menghadirkan pengorbanan diri Yesus Kristus di altar salib
  • Salib perarakan
  • Perarakan Evangeliarium (menjelang pembacaan Injil) dan saat bacaan Injil, karena Yesus adalah Sabda Allah.
Mengapa menyalakan lilin?

Lilin adalah simbol terang / cahaya. Dalam ritual keagamaan, lilin banyak digunakan untuk mengingatkan setiap orang akan cahaya ; dan cahaya itu merupakan  sesuatu yang berguna untuk menerangi kegelapan dan sekaligus cahaya itu bisa menjadi hal yang riskan dan rapuh, maka perlu diberi perhatian terus menerus.
Selama nyala dari suatu lilin dapat diedarkan dan diperbanyak, ia dapat digunakan sebagai simbol memberi semangat, maka dari itu juga dalam iman cahaya itu adalah simbol iman.
Di tabernakel, lampu (lilin) merupakan simbol kehadiran Allah. Selain itu, ketika kita menyalakan lilin di gereja, atau di depan patung, atau di tempat-tempat ziarah ataupun di kuburan dari keluarga yang telah meninggal, cahaya lilin merupakan simbol doa.

Lilin Babtis dan Pembaharuan Janji Babtis   
      
"Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5, 14)

Selain air, lilin merupakan simbol terpenting dalam pembabtisan (inisiasi Kristen). Hal ini mengungkapkan bahwa Kristus adalah terang dunia, kini diterima oleh orang yang dibabtis dan hidup dalam cahaya Kristus. Bukan hanya itu, ia juga menjadi terang bagi sesama di sekitarnya, yang mungkin saja terkadang redup tertiup angin dan gelombang kehidupan, namun nyalanya tetap membara dan tak terpadamkan, karena sumbernya dari Kristus, Sang Terang sejati. Maka dengan nyala lilin di tangan yang diambil dari Lilin Paskah Kristus, kita membaharui janji-janji babtis untuk tetap hidup dalam Terang Kristus dan menjadi cahaya yang tak terpadamkan bagi sesama di sekitar kita.

Semoga,
Selamat Paskah, Tuhan memberkati !!

Rabu, 07 Desember 2011

Catatan tentang Doa Syukur Agung Ketiga (DSA III)

Pengantar

Mungkin DSA III adalah DSA yang paling kurang digunakan dari DSA-DSA yang ada dalam misale kita. Supaya digunakan dalam setiap perayaan publik, bukan hanya panjangnya doa yang menentukan melainkan juga isi doanya. Isinya harus disesuaikan dengan kebutuhan gereja kontemporer.

"Proyek B"

Asal usul DSA III mudah sekali diteliti dalam dokumen lebih daripada ketiga DSA lainnya (I,II,IV). Ketika konsili menghendaki pembaharuan liturgi muncullah pertanyaan tentang DSA antar para liturgis dan teolog; seorang rahib Benediktin bernama Ciprianus Vagaggini, mengemukakan satu usulan dalam sebuah buku yang disebut The Canon of the Mass and Liturgical Reform. Ahli ini kelahiran Italia tetapi merupakan anggota komunitas yang bernama “Abbey of Saint Andre di Belgia, suatu tempat yang dikenal sebagai pusat gerakan liturgi. Tulisan-tulisan C. Vagaggini terkenal di kalangan para liturgis; khususnya buku yang dimaksudkan itu mengemukakan suatu komentar bermanfaat tentang dsa. Sebagian besar teks doa kita berhubungan dengan teks yang diusulkan dalam buku itu dan disebut penulisnya dengan “Proyek B”.

Vagaggini mengatakan bahwa ia bermaksud untuk menyusun satu DSA yang kontemporer sekaligus tradisional. Ia menginginkan satu DSA yang asli, lengkap dari segi gaya literer dan liturgis khas bagi suatu anafora, yang lebih dekat dengan rasa biblis, liturgis dan pastoral; ia menganjurkan yang ideal untuk masa kini. Ia menulis bahwa ternyata harus diterima prinsip bahwa setiap DSA mempunyai hak dan kewajiban untuk merefleksikan secara khusus, pemikiran teologis gereja masa kini.

Di waktu yang sama, penulis sadar akan bagaimana DSA berasal dari waktu yang lama, karena patut diingat bahwa DSA tidak hanya merupakan doa, tetapi doa yang terrumus secara baik, dan mempunyai kharakter tradisional dan biblis. Karena aspek ini, maka Vagaggini mencari inspirasi dari liturgi-liturgi kuno di Spanyol dan Perancis, yang masih ada dalam liturgi Mozarabic di katedral Toledo. Liturgi-liturgi kuno ini bukannya liturgi Romawi. Salah satu pusat utama adalah kerajaan Visigotik di Spanyol di abad ke 7, di mana st. Isidorus sebagai figur dominan. Selama perkembangannya ada pengaruh besar liturgi Bizantin di Perancis; aspek-aspek pengaruh ini ditemukan dalam liturgi. Semua ini harus kita perhatikan di Iralndia, karena itulah tradisi dengan mana liturgi kuno kita sangat dekat.

Vagaggini menulis sebagai berikut: Pendapatku adalah bahwa salah satu tugas utama kita dalam memberikan dorongan kepada liturgi Romawi,yang kini dipakai di pelbagai regio di dunia, terletak dalam mengasimilasikan secara organik, pemikiran teologis, spiritual dan pastoral; sementara itu harus dipertahankan kesederhanaan dan keagungan dalam ungkapan, yang merupakan kehormatan tradisi autentik liturgi Romawi.

Struktur DSA III

Salah satu hal yang menarik dalam DSA III adalah strukturnya yang proporsional. Ada lima bagian pokok di dalamnya anafora-anafora Spanyol dan Perancis:

1. Prefasi (biasanya disebut Immolatio atau illatio)
2. Sanctus
3. Post sanctus
4. Konsekrasi yang biasa disebut Mysterium
5. Post mysterium.

Dalam DSA III, struktur ini telah diaplikasikan sedemikian untuk memberikan kepada setiap seksi, suatu kharakter definitif sambil menghindarkan teks yang panjang-panjang, sedemikian sehingga seluruh doa mengalir dengan baik.

Jika struktur dan beberapa ungkapannya diambil dari liturgi masa lampau, maka tema-tema dominan dalam DSA ini akan menjadi modern. Jika seseorang kehendaki satu kekhasan untuk menyatakan kharakteristik isi doa ini, maka dia dapat mendeskripsikannya sebagai DSA konsili Vatikan II. Tidaklah tepat bahwa doa ini dibentuk oleh orang-orang konsili Vatikan II sehingga keprihatinan-keprihatinan konsili dijadikan sebagai kunci DSA ini.

Tema DSA III

Tema utama DSA ini adalah kesatuan. Bahwa tema ini merupakan salah satu isu besar masa kini tidak perlu dikembangkan. Orang jarang memprihatinkan kesatuan dan komunitas sedemikian seperti masa kini, yang diintensifikasikan seperti yang dikehendaki konsili dalam Gaudium et Spes (23). Hal ini merupakan satu keprihatinan dunia modern, yang konsili jadikan sebagai keprihatinannya, seperti dalam GS no 42 ini: …..

Keprihatinan akan kesatuan diekspresikan dalam DSA dalam frase-frase berikut ini:

Semua ciptaan memuji Dikau ….. sedemikian sehingga dari Timur ke Barat suatu persembahan yang sempurna dilaksanakan ….. dan menjadi satu tubuh, satu roh dalam Kristus ….. dalam belaskasih dan kasih mempersatukan semu anakmu di mana saja mereka berada.

Dalam ungkapan-ungkapan ini, kita dapat memperhatikan secara khusus tema kesatuan yang diberikan basis teologis dalam ajaran tentang Tubuh Kristus. Pandangan ini sejalan dengan ajaran modern dari Magisterium, yang dimulai oleh ensiklik “Mystici Corporis” Pius XII dan yang diperbaharui oleh konsili Vatikan II dalam kontitusi Lumen Gentium no. 7.

Bagaimanapun, tekanan prinsipil dari DSA ini jatuh pada salah satu aspek teologis gereja, yang juga mendapat tekanan lebih besar dalam konsili, yaitu gereja umat Allah. Apresiasi atas konsep ini merupakan salah satu buah pembaharuan biblis dalam gereja. Hal ini diambil alih oleh DSA III dalam frase berikut ini:

“Kaupersatukan suatu umat bagiMu” ….. “semua umat yang PuteraMu telah peroleh bagiMu”….. umat yang mengembara di dunia”.

Gereja seturut DSA ini bukannya persekutuan para kudus dan para martir di Yerusalem surgawi yang dirayakan dalam DSA I. Umat yang dimaksudkan dalam DSA III itu adalah yang dimaksudkan dalam Lumen Gentium dan dalam dekrit tentang Ekumenisme, yakni Umat pengembara. Tema-tema kesatuan dan umat Allah merupakan alasan utama mengapa kita meninjau DSA ini secara khusus.

Kurban Ekaristi

Tema penting lainnya adalah Ekaristi itu sendiri serta tempatnya dalam hidup gereja. Dalam DSA ini, ada satu paragraf yang mengemukakan tentang persembahan gereja dalam hubungan dengan persembahan Kristus. Satu bagian dalam Epiklesis II berbunyi demikian: “Terimalah persembahan gerejaMu ini sebagai kurban sejati, yakni PuteraMu sendiri, yang telah mendamaikan kembali kami dengan Dikau berkat kematianNya”.

Tema teologis ini sudah merupakan kesulitan para teolog serta tradisi-tradisi kristiani. Sebagai frase yang diambil dari DSA Mozarabic, DSA III menyatakan kebenaran mendalam secara langsung dalam tradisi gereja perdana, yang menunjukkan bahwa sebagai kurban, misa bergantung seutuhnya kepada kurban Kristus. John Barry Ryan dalam bukunya “The Eucharistic Prayer” berkomentar demikian: ”Hal ini menghindarkan antitesis modern tentang korban salib dan korban misa sedemikian sehingga kurban satu-satunya itu tetap unik sedangkan / sementara aspek sakrifisial yang dilaksanakan tetap dipertahankan."

Jati diri Misa sebagai kurban salib menjadi pusat lewat jatidiri kurban dalam setiap kasus. Bagi generasi yang lebih tua, hal ini mengingatkan kita akan pendapat Maurice de la Taillo tentang kurban ekaristi, suatu pendekatan yang masih bermanfaat dalam berkotbah, meskipun teolog-teolog kini berpendapat bahwa hal itu belum lagi komplet.

Ada preseden baik bagi pendekatan ini. Barangkali pendapat Yohanes Krisostomus di abad pertengahan dapat menjadi teks klasik untuk tema ini: “Apakah kita punya kurban setiap hari? Sesungguhnya dengan memperingati wafatNya, kita punya satu kurban atau beberapa? Bagaimana satu dan bukan beberapa? Karena Ia telah dipersembahkan cuma satu kali, bagaikan mempersembahkan kurban yang suci. Yang pertama merupakan tipe dari yang lain, sama seperti Ekaristi juga. Kita selalu mempersembahkan kurban yang sama, bukan satu anak domba kini, dan besok yang lain tetapi selalu yang sama, dengan akibat bahwa kurban itu satu. Sama seperti argumen ini, karena korban dipersembahkan di banyak tempat, maka apakah ada banyak Kristus? Di mana-mana hanya ada satu Kristus, satu tubuh, sama utuh di satu tempat seperti tempat lainnya. Akibatnya, seperti Dia yang dipersembahkan di banyak tempat, adalah satu tubuh, dan bukan banyak, maka demikian juga kurban. Dia adalah Imam agung, yang mempersembahkan kurban yang memurnikan kita. Inilah apa yang kita kini persembahkan, adalah satu yang dulunya dikurbankan, persembahan yang tidak dapat dirusakkan oleh api. Hal ini terjadi sebagai peringatan akan apa yang pernah terjadi, “Buatlah ini sebagai peringatan akan Daku”. Kita tidak melaksanakan satu kurban yang lain, seperti imam agung biasa perbuat dulu. Kita selalu melakukan kurban yang sama, atau kita malaksanakan peringatan akan kurban yang sama”.

DSA versi Bahasa Inggris


Perlu dicatat bahwa DSA III versi Bahasa Inggris mengabaikan pokok ajaran yang dijelaskan Vagaggini dan diperhatikan dalam versi Latin DSA ini. Pokok itu adalah kharakter mendamaikan dalam / dari misa. Jika diterjemahkan secara harafiah maka terjemahannya demikian: Kami memohon kepadaMu, pandanglah persembahan umatMu dan lihatlah korban, yang mendamaikan kami kembali dengan Dikau, berkat wafatNya.

Terjemahan versi Inggeris dapat dipahami. Doktrin tentang aspek mendamaikan dengan mudah saja dapat disalahpahami oleh orang yang non kristen seperti menenangkan Allah pendendam. Di waktu yang sama, hakekat mendamaikan dari korban Kristus di salib merupakan bagian intrinsik dalam tradisi kita dari PB (Rm 3:25; Ibr 9:11ss; 1Yoh 2:2) dan dengan demikian merupakan bagian dari apa yang diambil Ekaristi, yang diberikan sebagai korban dalam misa dan di atas salib. Tobat merupakan salah satu realitas primordial, yang dialami umat tanpa mampu mengungkapkannya dalam kata-kata. Hal itu merupakan salah satu kebutuhan mendasar orang beragama, dan gereja selalu menyatakannya dalam Ekaristi sebagai sebagian pemenuhan akan kebutuhan itu.

Adalah berarti bahwa hal itu tetap dilaksanakan dalam DSA kita. Versi Jerman mempertahankan ide itu dengan mengemukakan tentang anak domba yang menghapus dosa dunia.

Peranan Roh Kudus

Dalam pembahasan tentang DSA IV telah dibicarakan tentang teologi Roh Kudus dalam liturgi baru. Peranan Roh Kudus, yang begitu penting dalam gereja kontemporer, khususnya lewat penyebaran gerakan kharismatik, merupakan salah satu tema signifikan dalam DSA III. Hal ini sebenarnya merupakan keprihatinan C. Vagaggini.

Menjelang akhir konsili, berkembang perasaan bahwa tidaklah cukup untuk bicara saja tentang Roh Kudus. Mereka yang terlibat dalam membaharui liturgi merasa cemas membereskan kekurangan itu. Mereka sadar bahwa kekurangan tidak hanya bahwa dalam konsili Vatikan II tetapi dalam seluruh tradisi liturgi Barat.

Vagaggini menulis demikian: “Di samping sejumlah pecahan dalam DSA Romawi yang mengikuti pola sebuah epiklesis, ada kekurangan lainnya seperti tidak ada teologi tentang peranan Roh Kudus dalam Ekaristi. Teologi ini sangat penting. Kebutuhan untuk merefleksikan kharakter biblis dan tradisional dari ajaran ini untuk merefleksikan secara langsung bahwa hal ini merupakan kekurangan serius. Kini kita sudah mulai semakin sadar akan penemuan kembali aspek Trinitas yang kita sebut aspek ekonomi sejarah keselamatan; suatu aspek yang digarisbawahi oleh konsili Vatikan II. Hal ini berarti memikirkan tentang pribadi-pribadi Allah Tritunggal tidak sejauh dalam term kesatuan mereka dalam hakekat ilahi seperti dalam term-term distinksi relatif, yang dikenal sebagai suatu prinsip lewat manifestasinya dalam sejarah keselamatan. Ternyata dalam revelasi selanjutnya dan ketetapan keselamatan manusia bahwa pribadi-pribadi ilahi telah wahyukan secara bertahap dan tetap mewahyukannya kepada kita”.

Seperti dalam DSA IV, Roh Kudus dirayakan pada dua pokok khusus DSA yakni epiklesis sebelum kisah institusi dan sesudahnya. Hal yang utama adalah bahwa Roh Kudus mendapat tempat dalam seluruh konteks sejarah keselamatan. Tugas yang dipercayakan kepadaNya adalah yang sudah tradisional dalam liturgi sebagai yang menguduskan semuanya dan yang mengembangkan gereja dalam kasih.

Pandangan tentang Roh Kudus demikian dalam DSA ini mungkin dapat dihubungkan dengan ajaran Vatikan II mengenai kehadiran Allah dalam gereja umumnya dan khususnya dalam liturgi. Seturut SC no. 7, misteri kehadiran Ekaristis harus ditempatkan dalam konteks berbagai jalan di mana Allah hadir dalam umatNya. Konsili nyatakan bahwa Allah sesungguhnya hadir sejak awal misa dan dengan demikian misa dapat dipandang sebagai misteri puncak dari kehadiran, yang mengarah kepada dan jauh dari kegiatan sentral Ekaristi dengan mana Kristus menyerahkan diri kepada Bapa atas nama umat.

Demikian juga halnya dengan DSA III. Dinyatakan bahwa Roh Kudus hadir, bahkan sebelum kita menghadiri misa. Ia berkarya memperdalam realitas hidup dan kekudusan yang mengalir dari Kristus. Karya Roh Kudus dalam Ekaristi, yang menyebabkan kehadiran Tubuh dan Darah Kristus, jadi dipandang sebagai suatu tahap dalam kerangka yang lebih luas. Sesudah kisah institusi, dalam epikesis II, perspektif doa mengarah kepada umat, kembali ke dalam hidup harian umat, sambil membawa kehadiran Roh Kudus yang memperbaharui sedemikian sehingga mereka semakin dapat menjadi tubuh Kristus di tengah dunia.

Perspektif ini mendapat suatu dimensi tambahan dalam doa untuk komemorasi para kudus. Tema ini ditempatkan dalam satu posisi yang tidak biasa dalam DSA. Anjurannya adalah bahwa persaudaraan dalam Roh Kudus yang berasal dari Ekaristi mengarah ke suatu kesatuan yang lebih dalam antara kita dengan seluruh tubuh mistik, dan secara khusus dalam jajaran para kudus di surga. Pikiran ini menjadi jelas dalam versi DSA Perancis, di mana Roh Kudus disebutkan secara explisit sebagai agen kita untuk menjadi korban persembahan yang kekal bagi Bapa dalam kesatuan para kudus. Patut kita sebutkan pernyataan st. Agustinus ini: Roh Kudus merupakan jiwa Tubuh Kristus yang adalah gereja.

Permohonan-permohonan


Pada akhir dari DSA, dikemukakan permohonan. Permohonan itu lebih dari sebuah daftar permohonan kepada yang ilahi. Permohonan-permohonan itu menyatakan dalam satu cara yang lain, tema yang sudah diperluas yakni komemorasi dan persatuan. Dari persatuan dengan penghuni surga kita beralih ke persatuan dengan mereka yang di dunia dan menjadi suatu persatuan dengan mereka yang kebutuhanna kita persatukan dengan kebutuhan kita dalam pengembaraan kita. Yang sungguh berharga adalah doa untuk persatuan yang ditujukan kepada Bapa yang baik. Versi DSA Jerman menambahkan nuansa yang bagus dengan menginterpretasikan doa bagi kegembiraan mengalami Allah sebagai doa agar kita dapat berpartisipasi dalam Kerajaan Allah. Itulah yang merupakan tujuan setiap Ekaristi.

Catatan tambahan:

1. Tentang teks “Sungguh kuduslah Engkau, ……. Untuk memuliakan namaMu”. Bagian ini dinamakan “post sanctus”, yang patut dikomentari. Keseluruhan alinea ini berharga sebagai satu perayaan yang layak dan bernuansa doa bagi umat yang berliturgi untuk memuja Pencipta dalam adorasi dan puji syukur.
2. “…sehingga di seluruh bumi dipersembahkan kurban yang murni untuk memuliakan namaMu”: Teks ini berhubungan dengan Mal 1:11. Patres di masa dulu mendiskusikan Ekaristi dalam hubungan dengan ramalan Maleaki ini. Bahwa dalam Ekaristi, kita mempunyai satu kurban yang murni, yang adalah pemenuhan dari / atas korban Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II menyebutkan tema ini dengan mengutip Mal 1:11 itu dalam LG 17.

Oleh. Emanuel Hane. Dosen Liturgi Seminari TInggi Santu Mikhael Kupang

Minggu, 28 Agustus 2011

LITURGI PERKAWINAN DALAM GEREJA KATOLIK

Pandangan umum tentang liturgi
Liturgi adalah kegiatan perayaan umat beriman, dalamnya dikenangkan dan dialami hadirnya Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan manausia. Puncak karya penyelamatan adalah misteri Paska Yesus Kristus.
Bagi umat beriman, liturgi adalah puncak dan sumber serta pusat kegiatan Gereja.
Liturgi adalah suatu kegiatan perayaan simbolis (sakramental).
Liturgi Perkawinan
Berdasarkan pemahaman umum tentang liturgi, dapatlah dikatakan satu dua pokok pikiran tentang liturgi perkawinan sebagai berikut.
1. Liturgi perkwinan bukanlah perayaan dua orang atau satu keluarga saja, tetapi merupakan perayaan/kegiatan bersama seluruh Gereja, bersama umat beriman di lingkungan/stasi/paroki.
2. Liturgi perkawinan bukanlah hanya tindakan mengenangkan kehadiran Allah yang setia menyelamatkan dan mempersatukan dengan cinta di masa lampau, tetapi juga merupakan suatu kenangan yang membuat peristiwa itu hidup dan dialami kembali. Dengan “merayakannya” diharapkan inti misteri itu dihayati dalam hidup harian selanjutnya dan akhirnya mencapai kesempurnaannya dalam surga. Hendaknya diingat bahwa di surga orang tidak mengawinkan dan tidak juga dikawinkan, tetapi akan mengalami persatuan cinta kasih yang membahagiakan dengan Allah dan semua orang kudus dalam kebadian.
3. Peristiwa utama yang dirayakan dalam liturgi perkawinan adalah misteri Paska Yesus Kristus, pada peristiwa mana kedua mempelai mengambil bagian secara khusus sebagai suami-isteri (mati dan bangkit bersama Kristus bagi satu sama lain. Dalam hal ini akan nampak inti kesatuan antara suami dan istri.
4. Liturgi perkawinan bukanlah suatu momen biasa sebagai hanya salah satu bagian dari seluruh kehidupan mempelai, tetapi merupakan “saat inti” yang dalam arti tertentu merangkum/meliputi seluruh kegiatan Gereja khususnya kegiatan kedua mempelai; di satu pihak saat ini menjadi puncak dari seluruh kegiatan sebagai pacar-tunangan, dan di pihak lain menjadi sumber rahmat dan kekuatan untuk seluruh kegiatan sebagai suami isteri nanti. “Hendaknya diusahakan agar upacara liturgi perkawinan di gereja janganlah dirasa sebagai formalitas gerejani belaka, sedangkan upacara adat yang menyusul dianggap sebagai puncak perayaan yang sesungguhnya. Umat harus dididik agar menghindarkan penyelenggaraan persta mewah yang menelan biaya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab sakramen perkawinan tidak diberikan oleh Kristus sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri serta meningkatkan gengsi keluarga yang bersangkutan, melainkan untuk memberi restu dan dukungan kepada mempelai baru yang siap sedia mengemban tugas pelayanan suci kepada Gereja dan masyarakat.”[1]
5. Liturgi perkawinan bukanlah suatu upacara sipil biasa, atau sekedar suatu perayaan demi memenuhi persyaratan hukum, tetapi merupakan suatu perayaan simbolis (sakramental) di mana para mempelai mencicipi pengalaman persatuan dan cinta surgawi bersama Allah, persatuan cinta antara Yesus Kristus dan Gereja. Suasana persatuan itu harus dirasakan sebagai pengalaman yang sungguh menyelamatkan. Kesempurnaannya akan dialami di surga yaitu kebahagiaan abadi dalam persatuan dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus bersama segala orang kudus. Sebagai suatu perayaan pengalaman iman, liturgi perkawinan tidak boleh menjadi hanya suatu kesempatan didaktik-kateketik. Dengan kata lain, dalam liturgi perkawinan tidak boleh diberikan penjelasan panjang lebar tentang arti/jalannya upacara kepada mempelai. Para mempelai sudah harus tahu sebelumnya (sudah memperoleh pendidikan dan katekese liturgi perkawinan sebelum perayaan) sehingga dalam liturgi perkawinan mereka dapat “mengalaminya” dengan lebih penuh, atau mereka dapat dengan lebih sadar merayakan dan menghayatinya. Oleh karena itu baiklah lebih dahulu dipelajari susunan upacara atau liturgi perkawinan serta arti dari bagian-bagian perayaan itu. Bila tiba waktunya sebaiknya dibuat “latihan” menjelang perayaan. Latihan seperti itu tidak hanya membantu memperlacar jalannya perayaan tetapi lebih dari itu menolong para mempelai dan pelayan-pelayan khusus lainnya untuk mulai “meresapi” dan “menghayati” makna dari liturgi perkawinan itu sendiri.
Tata liturgi perkawinan
Ada sejumlah kemungkinan tata laksana liturgi perkawinan. Dapatlah dibedakan berdasarkan tempat, pemimpin dan iman dari mempelai.
1. Upacara perkawinan di dalam Ekaristi. Ada rumus doa-doa Ekaristi yang khusus untuk perkawinan. Upacara nikah dilaksanakan sesudah liturgi sabda. Dipimpin oleh imam. Urutannya: pembukaan; liturgi sabda; upacara perkawinan (perjanjian nikah: pernyataan kesediaan/kerelaan, janji setia perkawinan; peneguhan/pemberkatan nikah; penandatanganan naskah perjanjian nikah; simbol-simbol perkawinan; doa umat); liturgi ekaristi; penutup.
2. Upacara perkawinan di luar Ekaristi. Diselenggarakan dalam liturgi sabda. Sesudah homili/kotbah diadakan upcara perkawinan. Urutannya: pembukaan; liturgi sabda; upacara nikah (perjanjian nikah: pernyataan kesediaan/kerelaan, janji setia perkawinan; peneguhan/pemberkatan nikah; penandatanganan naskah perjanjian nikah; simbol-simbol perkawinan; doa umat); penutup. Bisa dipimpin oleh imam atau diakon.
3. Upacara perkawinan di rumah. Dapat dibuat dengan pertimbangan pastoral khusus. Hendaknya diperhatikan agar “jangan sampai karena ini timbul perbedaan antara orang kaya dan orang miskin”. Bila para hadirin sebagian besar orang katolik bisa dipakai upacara perkawinan dalam Ekaristi. Bila sebagian besarnya orang bukan katolik bisa dipakai upacara perkawinan di luar Ekaristi. Upacara-upacara adat setempat dapat dimasukkan kalau tidak menyimpang dari ajaran injil. Untuk itu perlu penelitian dan kerja sama antara para pendukung adat, antropolog, pastor. Bagi umat perlu diberikan penjelasan yang memadai.[u1] [2]
4. Upacara perkawinan yang dipimpin oleh awam. Hanya dalam keadaan tertentu/khusus upacara perkawinan dapat dipimpin oleh seorang awam. Untuk itu pemimpin awam tersebut harus mendapat tugas/wewenang dari pimpinan Gereja. Rumus dan tata laksana liturginya kurang lebih sama dengan upacara perkawinan di luar Ekaristi. Urutannya: pembukaan; liturgi sabda; upacara nikah (perjanjian nikah: pernyataan kesediaan/kerelaan, janji setia perkawinan; peneguhan/pemberkatan nikah; penandatanganan naskah perjanjian nikah; simbol-simbol perkawinan; doa umat); penutup.
5. Upacara perkawinan mempelai katolik dengan mempelai kristen dari Gereja lain. Untuk penyelenggaraan perkawinan campur ini harus ada ijin dari pimpinan Gereja. Bila dilakukan, kedua belah pihak harus bebas dari “tekanan batin” dan peristiwa seperti ini tidak boleh menjadi penghalang dialog ekumenis. Lebih cocok kalau dibuat upacara perkawinan di luar Ekaristi. Bisa juga dipakai upacara perkawinan di dalam Ekaristi dengan penyesuaian seperlunya. Dapat pula dipakai upacara perkawinan campur yang diselenggarakan secara ekumenis. Tugas pimpinan liturgi perkawinan dapat dibagi antara imam dan pendeta/ketua Gereja Kristen lain dengan memperhatikan hal-hal berikut:
* Kalau tidak ada dispensasi dari “forma canonica” (= tata peneguhan yaitu perjanjian nikah ke dua mempelai sah bila dilangsungkan di hadapan ordinaris wilayah atau pastor-paroki atau imam maupun diakon yang diberi delegasi, yang meneguhkannya serta dihadapan 2 orang saksi) maka perjanjian nikah harus diterima oleh seorang imam.
* Kalau ada dispensasi dari “forma canonica” maka perjanjian nikah boleh diterima oleh pendeta dan disaksikan oleh imam.
* Tetapi tidak diperbolehkan bahwa perjanjian nikah diterima oleh pendeta/pimpinan dari pihak Gereja lain dan oleh imam dari pihak katolik. Juga tidak boleh diterima dua kali: oleh pemimpin upacara 1, lalu menyusul pemimpin 2.
* Hendaknya diadakan penyesuaian seperlunya, agar tidak menyinggung perasaan pihak yang lain, misalnya dengan menghindarkan istilah “sakramen perkawinan”.[3]
Tata laksana upacara perkawinan campur: Pembukaan; Pelayanan Firman/Liturgi Sabda; Pemberkatan Perkawinan (Perjanjian Nikah, Peresmian Perkawinan, Pemberkatan Mempelai, Simbol-simbol Perkawinan); Doa Syafaat/Doa Umat; Penutup.
6. Upacara perkawinan mempelai katolik dengan mempelai bukan kristen. Lebih baik diadakan di luar Ekaristi. Urutannya: Pembukaan, Liturgi Sabda, Upacara Perkawinan (perjanjian nikah: pernyataan kesediaan/kerelaan, janji setia perkawinan; peneguhan/pemberkatan nikah; penandatanganan naskah perjanjian nikah; simbol-simbol perkawinan; doa umat); penutup.[4]
7. Upacara convalidatio. Bila suami-istri mau “membereskan” perkawinan mereka di hadapan Gereja (bila terdapat halangan yang bersifat menggagalkan seperti kekurangan sehubungan dengan kesepakatan dan tata peneguhan sehingga perkawinan yang sudah diadakan menjadi tidak syah, haruslah dibereskan supaya menjadi syah). Dalam upacara convalidatio ini perjanjian nikah harus dibaharui di hadapan imam dan dua saksi. Urutannya: Pembukaan, Liturgi Sabda, Pembaharuan Janji Nikah, Penutup.[5]
8. Pemberkatan suami istri yang sudah kawin di luar Gereja. Bila ada suami istri yang menjadi katolik, dapat diselenggarakan upacara ini untuk meneguhkan perkawinan mereka yang sudah syah itu (tetapi terjadi ketika mereka belum dipermandikan). Dalam upacara ini perjanjian nikah dapat dibaharui di hadapan imam. Urutannya: Pembukaan; Liturgi Sabda; Pembaharuan Janji Nikah dan Peneguhan; Penutup.[6]
9. Upacara perkawinan sipil. Bila dua orang yang belum dibaptis (katekumen atau simpatisan) menghadap pastor/imam untuk nikah secara katolik. Pastor hanya bisa melayani mereka kalau ia mempunyai kuasa dari pemerintah setempat untuk bertindak sebagai pengantar agama dalam perkawinan. Pandangan masyarakat setempat harus diperhatikan. Nikah secara katolik ini tidak/belum merupakan sakramen. Urutannya: Pembukaan; (Liturgi Sabda); Amanat Perkawinan; Peresmian-Perjanjian Nikah; Peneguhan oleh imam; Doa atas mempelai; Penandatanganan naskah perjanjian; lambang-lambang Perkawinan; Doa umat; Penutup.[7]
Unsur-unsur Pokok Liturgi Perkawinan
1. Liturgi Sabda. Ada bacaan-bacaan, mazmur tanggapan, homili/kotbah. Dalam bagian ini kita alami hadinya Tuhan lewat pemakluman dan penjelasan sabda-nya. Tuhan sungguh-sungguh hadir dan bersabda kepada kita sebagai persekutuan beriman, khususnya kepada para calon mempelai. Tuhan bersabda untuk meyakinkan kita (khususnya para calon mempelai) bahwa Ia tetap mencintai kita, bahwa Ia setia dalam Perjanjian-Nya dengan kita, bahwa Ia tidak bosan-bosannya menegur kita bila kita mulai lupa akan janji kita kepada-Nya, bahwa Ia senantiasa menguatkan dan menghibur kita dalam setiap kesulitan dan kesusahan, bahwa Ia selalu membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan dalam cinta, bahwa Ia selalu menyelamatkan kita. Karena kesetiaan-Nya itu Ia selalu memberi kita pedoman-pedoman untuk hidup saling mencintai dan saling melayani dengan penuh rasa tanggungjawab. Dalam bagian ini kita harus menyadari pentingnya Sabda Tuhan sebagai dasar hidup perkawinan. Seluruh keluarga harus hidup sesuai dengan pedoman Sabda Allah. Secara konkrit kita diajak untuk mulai di dalam rumah menghargai kehadiran Tuhan dalam Kitab Suci dengan membaca, merenungkan dan menghayati-Nya dalam hidup harian.
2. Perjanjian Nikah. Sesudah homili, mempelai dipersilahkan berdiri, juga orang tua/wali dan saksi. Sesuai adat setempat imam boleh mengajak para mempelai untuk meminta doa restu kepada orang tua mereka. Hendaknya tindakan ini mengingatkan kita untuk berterimakasih kepada orang tua karena kerelaan dan cinta mereka, karena restu, berkat, dorongan dan pengampunan yang diberikan kepada para mempelai. Coba bayangkan kesulitan yang dialami ketika para orang tua tidak merestui sang pacar, tunangan bahkan menolak dengan tegas dan ganti memberi restu mereka menyumpah dan mengutuk. Maka restu saat ini mengungkapkan saling pengertian, kerelaan orang tua menerima para calon mempelai apa adanya, serta pengorbanan mereka demi kebahagiaan para calon mempelai. Sepantasnya restu ini diterima dan dialami dengan penuh rasa syukur.
Sesudah menerima restu dari orang tua, para calon mempelai menyatakan (dengan menjawabi pertanyaan tentang) kesediaan-kerelaan dan keikhlasan hati untuk saling menerima dan saling mencintai sebagai suami istri. Dengan suara jelas-kuat, di hadapan imam, saksi dan umat yang hadir para calon mempelai menyatakan kesediaan dan keikhlasan hati. Dengan ini mereka menyatakan kebebasan dalam pilihan mereka. Tidak ada satu paksaan pun dalam relasi para calon mempelai. Sebagai manusia bebas mereka telah saling mengundang dan memilih untuk mencintai satu sama lain.
Lalu menyusul Perjanjian Nikah. Dalam bagian ini para pihak mengucapkan Perjanjian Nikah: secara resmi mau mengikat diri pada yang lain dan demikian mengikat yang lain kepada diri sendiri sebagai suami atau istri sambil berjanji untuk mencintai yang lain dengan setia dan ikhlas hati seumur hidup, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Mereka meragakan janji setia itu dengan meletakkan tangan kiri di atas Kitab Suci yang dipegang imam dan mengangkat tangan kanan sambil mengucapkan kata-kata janji setia. Dapat pula Kitab Suci itu ditumpangkan di atas bahu para mempelai. Pada saat ini lewat kata-kata dan tindakan simbolis mereka berjanji untuk saling mencintai dengan setia seumur hidup. Dengan janji ini mereka mengikat satu sama lain secara resmi sebagai suami-istri.
3. Peneguhan dan pemberkatan perkawinan. Dalam bagian ini imam atas nama Gereja meneguhkan peresmian perkawinan para mempelai. Ia menegaskan bahwa perkawinan itu adalah perkawinan kristen yang syah, dipersatukan oleh Allah dan tidak boleh diceraikan manusia. Dan supaya perkawinan ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan, imam berdoa memohon berkat untuk para mempelai.
Imam berdoa bagi mempelai wanita: supaya hatinya penuh rahmat cinta dan damai, dan menjadi isteri yang setia serta ibu yang baik.
Imam berdoa juga bagi mempelai pria: supaya berusaha menunaikan tanggungjawab terhadap istri, anak-anak dan masyarakat.
4. Penandatanganan naskah perjanjian nikah. Dapat dibuat pada kesempatan ini atau pada bagian penutup. Ini merupakan bukti tertulis dari janji nikah. Dengan tanda tangan dari semua pihak (para mempelai, imam, para saksi) naskah tertulis dari janji nikah itu menjadi sebuah dokumen resmi menurut hukum.
5. Lalu dibuat simbol-simbol perkawinan. Ditawarkan dua simbol: a) pemberkatan dan pengenaan cincin; b) pembukaan selubung. Boleh juga dipilih simbol lain yang sesuai dengan budaya setempat. Sebagai simbol perkawinan, semuanya mengungkapkan kesetiaan dan cinta satu sama lain yang mengikat para mempelai sebagai suami istri dan menjadi sumber kebahagiaan sejati.
6. Doa Umat/Doa Syafaat. Secara khusus hari ini para mempelai harus sadar bahwa umat beriman merestui perkawinan mereka dan turut mendoakan mereka serta seluruh keluarga demi kebahagiaan dalam hidup di bumi ini maupun di akhirat nanti.
7. Bila diteruskan dengan perayaan Ekaristi maka unsur-unsur berikut ini mempunyai arti khusus.
a. Persiapan Persembahan. Dalam bagian ini para mempelai mempersiapkan segala yang perlu untuk memberi/mempersembahkan dri (keluarga) dalam persatuan dengan bahan korban syukur Yesus Kristus (roti dan anggur).
b. Doa Syukur Agung. Dalam persatuan dengan Yesus Kristus, seluruh umat beriman, khususnya para mempelai, menyampaikan korban syukur-pujian kepada Allah penuh cinta dan sumber kebahagiaan sejati. Syukur pujian atas segala anugerah (karya agung Allah) yang telah dialami selama ini oleh para mempelai, secara istimewa pada hari ini dalam persatuan cinta para mempelai sebagai suami istri.
c. Doa Damai dan Salam Damai. Kita mengungkapkan damai satu sama lain. Hendaknya para mempelai melupakan segala yang menyakitkan di masa lampau. Dan bila di masa depan akan alami kesulitan dalam keluarga, ingatlah akan damai yang Tuhan anugerhkan secara khusus pada perayaan perkawinan ini.
d. Komunio. Dibuat dalam dua rupa. Sesuai dengan kebiasaan setempat dapat dilakukan dengan saling menyuap. Hal ini mengungkapkan sikap saling memberi dan menerima serta kebahagiaan dalam persatuan di antara suami istri dan dengan Yesus Kristus. Sesudah komunio biasanya ada kesempatan berdoa secara pribadi. Bersyukurlah kepada Allah atas anugerah-anugerah-Nya teristimewa untuk rahmat perkawinan ini. Patut diingat dalam doa semua orang yang berjasa baik langsung maupun tidak langsung, khususnya bagi orang tua, teman-teman (termasuk mantan-mantan pacar kalau ada, sebab mereka juga mempunyai andil untuk membina para mempelai menjadi matang dalam mencinta).
e. Berkat dan pengutusan. Para mempelai mendapat berkat khusus hari ini. Dengan ini mau diungkapkan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka dalam hidup dan karya setiap hari, khususnya dalam melaksanakan tugas-tugas perutusan, agar menjadi saksi cinta Allah dan menjadi berkat serta kebahagiaan bagi orang lain.
Semoga liturgi perkawinan dirayakan sebagai puncak dan sumber kegiatan hidup para mempelai.
Oleh: Rm Bernardus Boli Ujan, SVD



[1] PWI-Liturgi, Upacara Perkawinan. Buku PemimpinUpacara, Ende: 1976, hlm 13. Selanjutnya dipakai singkatan UP.
[2] Bdk UP, hlm 47.
[3] Bdk UP, hlm 57-74.
[4] Bdk UP, hlm 75.
[5] Bdk UP, hlm 87.
[6] Bdk UP, hlm 91-94.
[7] Bdk UP, hlm 95-96.


[u1]Betapa sering upaya penyesuaian dilakukan tanpa mengindahkan hak umat untuk memberikan pendapat atau penilaian serta hak untuk memperoleh penjelasan yang memadai.