Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2025

Kebebasan Sejati, Demokrasi, dan Kearifan Kuno dari Kitab Kejadian

Aaron Schuck | 11 November 2024

Di dunia modern, demokrasi sering dianggap sebagai simbol tertinggi dari kebebasan—sebuah sistem yang menjunjung tinggi otonomi individu, hak asasi manusia, serta pemerintahan "dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat." Namun, pertanyaannya adalah: apakah pemahaman kita tentang kebebasan telah bergeser dari sesuatu yang berorientasi pada kebaikan bersama menjadi sekadar pengejaran kepentingan pribadi yang malah memecah belah kita?

Kisah Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian menyajikan sebuah pelajaran abadi. Ketika mereka memakan buah dari Pohon Pengetahuan, mereka tidak sekadar melanggar aturan, tetapi mengambil keputusan untuk mendefinisikan kebaikan dan keburukan menurut kehendak mereka sendiri, menolak bimbingan dari luar, bahkan dari Tuhan. Keputusan ini merusak hubungan mereka dengan Tuhan, satu sama lain, dan dengan dunia di sekitar mereka. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kebebasan yang tidak diiringi tanggung jawab justru menjauhkan, bukan menyatukan.

Saat ini, demokrasi dipandang sebagai cerminan dari nilai-nilai luhur kemanusiaan: otonomi, kesetaraan, dan martabat setiap individu. Namun, jika kebebasan hanya dipahami sebagai "melakukan apa pun yang saya inginkan," maka kita telah kehilangan makna sejatinya. Kebebasan bukan hanya soal kemandirian, tetapi juga tanggung jawab terhadap sesama. Seperti lentera tanpa arah yang hanya menghasilkan cahaya berkelap-kelip tanpa tujuan, kebebasan tanpa landasan moral dapat membawa kebingungan, konflik, dan perpecahan.

Demokrasi adalah anugerah, sebuah eksperimen berharga dalam sejarah yang selalu menghadapi ancaman dari ambisi dan kepentingan pribadi. Demokrasi hanya dapat berjalan dengan baik ketika kebebasan dipahami sebagai “kebebasan untuk” mencapai kebaikan bersama, bukan sekadar “kebebasan dari” segala batasan. Demokrasi yang ideal adalah panggilan untuk membangun masyarakat di mana martabat setiap individu dihormati dan setiap orang memiliki peran yang bermakna.

Namun, ada satu hal yang perlu ditegaskan: otonomi individu saja tidak cukup untuk menopang sebuah masyarakat. Jika otonomi dijadikan nilai tertinggi, maka masyarakat hanyalah selubung indah yang menyembunyikan retakan mendalam. Dalam pola pikir ini, kebebasan menjadi perjalanan tanpa akhir menuju kepuasan diri, sebuah kebebasan yang tidak menuntut apa pun dari kita dan tidak memberikan apa pun kembali kepada sesama.

Gejala kehancuran ini sudah terlihat di dunia kita saat ini. Ketika kebebasan terlepas dari tatanan moral, maka yang terjadi adalah polarisasi. Manusia saling berselisih tentang apa yang dianggap “benar” tanpa adanya landasan bersama. Di ruang publik, kebenaran moral objektif sering kali dikalahkan oleh keinginan sesaat atau kehendak mayoritas. Jika kebebasan hanya dimaknai sebagai pemenuhan kepuasan pribadi, maka jaringan sosial yang membentuk komunitas akan perlahan-lahan terurai.

Tetapi kebijaksanaan yang diajarkan dalam Kitab Kejadian menawarkan jalan yang lebih baik. Kebebasan sejati bukanlah tentang berjalan sendiri tanpa arah, melainkan tentang hidup selaras dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Sebagaimana mosaik yang membutuhkan setiap kepingannya untuk membentuk sebuah gambar yang utuh, masyarakat akan berkembang ketika kebebasan setiap individu berakar pada tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan diri sendiri. Kebebasan sejati adalah anugerah yang membawa martabat dan harus digunakan untuk membangun serta memperkuat komunitas.

Inilah yang dapat ditawarkan oleh demokrasi dalam bentuk terbaiknya: sebuah visi tentang kebebasan yang menghormati hak individu sekaligus menekankan tanggung jawab bersama. Demokrasi yang sejati bukan hanya tentang kemerdekaan, tetapi juga tentang pengelolaan yang bijaksana. Di tengah dunia yang terpecah-belah, perspektif ini memberikan kejelasan dan harapan: kebebasan yang berakar pada saling menghormati dan berorientasi pada kebaikan bersama.

Maka, saat kita menatap masa depan, kita harus bertanya: jenis masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun? Apakah kita akan membiarkan kebebasan menjadi alat pemecah-belah, atau kita akan memilih kebebasan yang menyatukan—kebebasan yang menghormati martabat individu dan tanggung jawab bersama, serta menerangi jalan bagi generasi mendatang?

Pilihan ada di tangan kita.

Sumber:

  • The Drama of Atheist Humanism – Henri de Lubac
  • Democracy in America – Alexis de Tocqueville
  • Veritatis Splendor – Paus Yohanes Paulus II

Minggu, 16 April 2023

KISAH SEMINGGU DI SABU RAIJUA

Paskah tahun 2023, saya mendapat kesempatan untuk melayani Perayaan Paskah di Sabu Raijua. Senang sekali setelah sekian lama akhirnya bisa Kembali ke Pulau Sabu.

Hari Rabu, 5 April 2023, saya berangkat menuju Pelabuhan Tenau Kupang dengan niat menunggu Kapal yang akan ke Sabu. Tepat jam 5 saya sudah berada di Pelabuhan dan langsung membeli tiket Kapal Cantika Lestari 9C. Kapal akan berangkat jam 9 malam. Masih ada waktu 4 jam. Saya duduk menunggu sambil membayangkan keadaan Pulau Sabu, yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Pasti sudah ada banyak perubahan karena percepatan pembangunan di daerah otonomi yang relatif baru ini.

Ternyata baru jam 10 lewat kapal berangkat. Ini juga pengalaman pertama menumpang kapal laut. Ternyata menyenangkan. Saya berusaha tidur tapi tidak bisa karena bunyi mesin terlalu bising. Ombak tenang, saya mondar-mandir ke ruang duduk dan ke kamar, hingga akhirnya benar-benar mengantuk dan tertidur.

Pukul 5 pagi saya bangun dengan niat menikmati sunrise pagi ini. Langit sedikit berawan, sunrisenya dapat dinikmati sebentar karena keburu tertutup awan. Daratan Sabu sudah terlihat dan sebentar lagi kapal akan bersandar.

Ternyata ini di dermaga Pelabuhan Sabu Timur, sebagaimana diumumkan petugas kapal malam tadi, berarti saya masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam ke Seba. Rm Yopi sudah siap menjemput dengan mobil pick-up, selamat datang (Kembali) ke Pulau Sabu.

Kami tiba di Pastoran Seba, bertemu dengan Rm Kanis dan Frater, lalu beristirahat sebentar. Rencananya siang ini saya akan melanjutkan perjalanan ke Mehona, sebelah selatan Sabu. Di sanalah saya akan tinggal Bersama umat untuk merayakan Trihari Suci dan Paskah.

Jam 2 siang saya diantar di Mehona, kenangan sepuluh tahun lalu Kembali terlintas, bagaimana keramahan orang Mehona menyambut saya pada waktu itu, dan kini dengan keramahan yang sama mereka menyambut untuk berada Bersama mereka. Banyak yang sudah tidak lagi ingat akan kedatangan saya yang lalu, ada yang katanya masih di Kupang, ada yang masih kecil sekali, lagi pula tidak ada foto foto kenangan (foto-fotonya lenyap karena hardisk computer saya sudah rusak dimakan usia).

Jam 4 sore saya di antar ke Perema Mesara untuk merayakan misa Kamis Putih di sana. Nanti dari sana baru dilanjutkan dengan Misa di Mehona. Tiba di Perema, umat sudah siap merayakan misa. Dengan basa-basi sejenak kami mempersiapkan perayaan sederhana Kamis Putih. Jumlah umat yang hadir sekitar 20 orang, mereka datang dari tempat yang berjauhan di wilayah kecamatan Mesara. Saya mengingatkan mereka kalau saya pernah merayakan Jumat Agung Bersama mereka. Beberapa masih terkenang terutama Bapak Ketua Stasi karena saya menginap dirumahnya yang ada tepat di depan kapel. Di sini saya bertemu dengan mahasiswa KKN Stipas Kupang yang ternyata berasal dari Paroki kampung halaman saya di Timor.

Sesudah perayaan, kami pulang dengan sepeda motor menyusuri jalan tak rata dan berlumpur Kembali ke Mehona. Di sana umat sudah siap untuk Misa Kamis Putih. Misa dimulai jam 8 malam setelah saya mengambil waktu beristirahat sejenak. Misa diiringi dengan koor yang meriah dari anak-anak OMK.  Perarakan Sakramen Mahakudus berlangsung sederhana, dan tidak ada doa bergilir di depan sakramen Mahakudus. Dua orang Ibu mendatangi saya saat usai misa, dan mengingatkan saya kalau dulu mereka yang menjadi misdinar dalam perayaan Kamis Putih itu.

Hari Jumat Agung, diawali dengan Ibadat Jumat Agung jam 9 di Perema. DI Mehona baru akan dilaksanakan jam tiga sore. Di Perema perayaan berlangsung sederhana, dengan Kisah Sengsara didaraskan oleh petugas dan penyembahan salib yang berlangsung khidmat, Salib diletakkan dengan alas kain adat Sabu, dan tiap umat maju mencium salib. Perayaan berlangsung sekitar satu setengah jam, dan kemudian saya langsung pulang ke Mehona.

Perayaan di Mehona lebih meriah. Kisah sengsara dinyanyikan, meski kurang maksimal karena terjadi banyak kesalahan nada. Mungkin latihannya kurang tapi liturgi berjalan lancar. Di sini banyak sekali anak-anak yang duduk di depan dan dengan setia mengikuti setiap acara liturgi.

Hari Sabtu pagi kesempatan untuk sedikit beristirahat dan menghirup segarnya udara perbukitan Mehona. Misa pertama di Perema baru akan mulai jam 5. Di Perema mereka telah menyiapkan liturgi dengan baik, bahan bakar api unggun tersedia. Kami mulai dengan pemberkatan api, dan perarakan lilin paskah, dalam situasi remang-remang, belum gelap sama sekali namun sudah sulit untuk membaca teks. Jadi lampu senter hp dipakai sebagai alat bantu membaca, lampu kapel di padamkan, jadi meski baru senja hari, suasana sudah terasa malam.

Kami pulang kehujanan dan terpaksa berteduh sebentar. Umat Mehona telah menunggu, dan untung saja hujan segera mereda, walau tak berhenti samasekali. Kami terus menerobos gerimis malam untuk sampai ke Mehona. Misa baru dimulai jam 9 setelah saya mengeringkan tubuh yang basah kehujanan. Hujan deras tiba tiba turun, bunyi gemuruh di atas seng, volume pengeras suara dinaikkan, dan upacara Vigili Paskah terus berlangsung dengan khidmat. Sampai selesai Misa hujan masih terus mengguyur. Beberapa tidak sempat pulang dan tidur di pelataran Gereja sampai keesokan harinya.

Minggu Paskah, misa pertama ke Perema, Bersama OMK yang siap bernyanyi sebagai koor sponsor. Kali ini kami berangkat dengan mobil pickup, sedikit lebih santai karena terhindar dari guncangan sepedamotor. Misa di Perema berlangsung meriah oleh koor dari OMK Mehona. Kami keburu pulang setelah misa karena takut hujan yang akan memperparah licinnya jalan keluar dari Kapel Perema.

Hujan terus turun dengan deras. Jam 12 siang ditengah guyuran hujan kami merayakan Misa Minggu Paskah di Mehona. Masih banyak umat yang hadir tak terhalang oleh hujan.

Rencananya Misa Paskah kedua akan dirayakan di Wadumedi, sebuah kapel baru dekat Perema. Tempat ini dekat dengan tempat Wisata KelabbaMadja. Perayaan misa masih dimeriahkan oleh Koor dari OMK Mehona. Misa berlangsung di kapel darurat di halaman rumah tradisional milik salah seorang umat di sana. Umat di Waddumedi berjumlah 5 KK. Kami pun Kembali ke Mehona. Saatnya saya berbenah untuk Kembali ke Sabu dan seterusnya ke Kupang.

Penyembahan Salib di Perema

Kamis Putih di Mehona

Paskah ke-2 di Wadumedi


Sambil menanti jemputan dari Seba, kami duduk bersantai sambal berkaraoke di pelataran rumah. Sampai jam 8 malam Rm Yopi dan beberapa pengurus DPP tiba dari Seba. Acara dilanjutkan dengan pidato perpisahan dan pemberian kenang-kenangan dari umat. Saya mendapat beberapa lembar kain tenun Sabu. Terimakasih. Kami masih lanjut menari Bersama hingga jam duabelas malam Ketika kami beranjak meninggalkan desa Mehona.

Hari Selasa pagi. Perayaan Paskah telah usai. Saya baru akan ke Kupang hari Rabu malam dengan Kapal. Maka kesempatan yang ada adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar Seba. Kami mulai dengan mengunjungi kampung adat Namata, tidak jauh jaraknya dari Kota Seba. Di Kampung ini kami bertemu dengan Ina penjaga yang ramah, saya menyewa pakaian adat Sabu yang lengkap, dan mulailah sesi foto-foto di sekitar tempat pemujaan. Di desa ini terlihat beberapa kuburan berbentuk lingkaran kecil, katanya ini kuburan khas jintiu, terdapat pula kuburan berbentuk modern tanda sudah memeluk Kristen.

Dari Namata, sorenya kami ke taman doa Skyber. Sayang sekali, gerbang taman doa ini tertutup. Kami tak bisa masuk ke dalam. Rm Yopi sudah berusaha menghubungi orang-orang yang kiranya bisa membantu. Hasilnya nihil. Tak apa, yang penting bisa melihat salah satu geliat pembangunan di Kota Seba, taman Skyber ini salah satu contohnya.

Hari Rabu. Masih ada kesempatan mengelilingi Pulau Sabu. Paginya kami ke Gua Mabala di desa Eimau Sabu Tengah. Gua Mabala konon merupakan tempat persembunyian para gerilyawan perang melawan Belanda dulu. Gua ini terdapat di bawah pohon beringin besar yang sejuk. Masuk ke dalam melalui tangga dari kayu sekitar 10 meter, setelah melewati gang yang sempit dan gelap kami masuk ke goa yang besar dan benderang akibat cahaya sinar matahari yang masuk melalui dua lubang terbuka tepat di atas gua ini.

Dari Mabala, Eimau kami menuju ke KelabbaMadja, satu jam perjalanan ke arah barat. Kelabba madja adalah bentang alam berupa longsoran tanah membentuk ngarai dengan tebing berwarna warni: putih, merah-muda dan coklat kekuningan. Yang menjadi daya tariknya adalah beberapa tiang tanah runcing yang memuat bebatuan besar. Ternyata batu-batu tersebut tetap mencengkeram diujung tiang. Rupanya kalau hujan terus menerus, lama kelamaan tiang tanah tersebut habis tergerus dan batunya pasti terguling ke bawah. Tapi itu nanti, untuk sementara nikmati dulu fenomena batu di atas tiang tanah. Kami datang dengan siang hari, dan sepi pengunjung, hanya ada dua pengunjung lain selain saya dan Rm Yopi. Ada satu penjaga, setia menerima dan mencatat kedatangan para wisatawan di sebuah pondok kecil dekat pintu masuk. Katanya pengunjung biasanya meningkat di hari Sabtu dan Hari Minggu. Suasana hitsnya Kelabbamadja memang sudah lewat sejak viral beberapa tahun lalu. Tahun 2013 sewaktu saya ke sini, Kelabbamaja dan gua Mabala belum begitu ramai dikenal orang.

Sore harinya kami mengadakan acara perpisahan di pelataran Gereja Seba, acara pelepasan DPP Bersama Pastor yang bertugas Paskah di Sabu; Saya, Pater John Balan SVD dari Ende dan Rm Jega yang sudah Kembali ke Kupang Selasa malam kemarin. Di sini kesempatan saya bertemu dengan the Legendnya Orang Sabu, Pater Franz Lackner SVD. Saya mengingatkan beliau kalau sudah pernah bertemu sebelumnya. Misionaris berusia 83 tahun ini mengambil buku catatan kecilnya menulis nama dan nomor telpon saya. Rupanya beliau rajin mencatat siapa saja yang mengunjungi beliau. Saya dan Pater berbicara banyak hal, setelah mengenali dan mengingat saya kembali beliau memilih berbicara dalam Bahasa Inggris . Banyak sekali curhatan orang tua ini, mulai dari perkembangan Gereja yang semakin sekular, gaya kepemimpinan Paus Fransiskus, psikologi dan Politik orang Sabu dan masih banyak lagi, dengan gaya humornya yang saya sukai, kami terus mengobrol hingga saatnya saya harus ke kapal untuk Kembali ke Kupang. Selamat tinggal Pater Franz, semoga sehat selalu di usia senja ini, dan semoga kita berjumpa lagi.

Saya bergegas menuju Pelabuhan, beberapa meter saja dari Pastoran. Saya diantar RM Yopi dan Frater. Sebentar lagi kapal akan berangkat menuju Kupang. Selamat tinggal Pulau Sabu. Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi.

Perjalanan pulang ternyata lebih tidak nyaman daripada perjalanan datang. Gelombang laut menyebabkan kapal sangat oleng berayun-ayun. Sulit berjalan-jalan di atas kapal. Saya terus tidur hingga pagi terang, Ketika kapal sudah tiba di samping pulau Semau. Sebentar lagi kapal akan mendarat di Pelabuhan Tenau. Selamat datang Kembali ke kota Kupang.

 

Sabtu, 23 Februari 2019

Jembatan Tua Noelbunu-TTS, Riwayatmu Kini!

Sesudah diterpa hujan deras terus menerus, akhirnya jembatan yang menghubungkan warga Oeekam dengan dunia luar putus. Jembatannya putus akibat tanah longsor, pada awal Januari 2019.

Jembatannya putus karena yang mengatur konstruksi tidak begitu peduli, atau mungkin tidak tahu, atau dana tidak cukup untuk mengantisipasi kondisi tanah longsor yang mungkin terjadi di tepi sungai Noelbunu.

Tapi jembatan ini putus karena memang sudah tua, tak sanggup lagi menahan beban.

Jembatan yang dibangun pada tahun 1995, saat pemerintahan Bupati Piet Tallo, menjadi satu-satunya jalan keluar masyarakat amanuban timur ke jalan raya trans timor.

Sebelumnya jembatan ini dibangun, kendaraan dari dan ke Oeekam, mencari jalan melalui tempat yang paling kurang-berbatu dan dangkal dengan aliran air yang tenang untuk menyeberang.

Namun jika terjadi banjir, maka tak ada jalan lain selain menunggu sampai banjir surut. Maka kesibukan di tepi sungai baik dari seberang Oelet maupun seberang O’bikase selalu rame dengan para penumpang yang menyeberang sendiri-sendiri (tanpa asuransi) dan menuju kendaraan lainnya yang sudah menunggu di seberang. Istilahnya over oto.

Sejak dibangun, meski cuma dengan deretan balok sebagai titian yang hanya cukup dilalui satu kendaraan sekali jalan, masyarakat Amanuban Timur sudah cukup senang.

Namun dengan kondisi yang sudah tua seperti sekarang ini, maka sedikit saja hujan, jembatan itu pasti ambruk. Mereka sudah minta ke pemerintah, sekurangnya kepada pihak yang berwajib, tapi hasilnya belum ada hasil.

Masyarakat Oeekam dan sekitarnya terus menunggu jembatan yang baru, dan mudah-mudahan penantian mereka bisa berujung dengan baik. Salam pembangunan!