Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2025

Merefleksikan Indonesia Kini dan di Sini: Tantangan Demokrasi, Ekonomi, dan Ruang Sipil

 


@patris_allegro

Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang 2025 menjadi ruang yang subur untuk merenungkan arah perjalanan bangsa. Yanuar Nugroho mengajak kita untuk menengok realitas Indonesia dengan kacamata kritis, sekaligus penuh tanggung jawab moral. Ia menegaskan bahwa Gereja tidak boleh puas hanya dengan melihat apa yang tampak di permukaan, melainkan harus menembus ke akar persoalan, membaca tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil. Konsili Vatikan II sudah mengingatkan: “Gereja wajib senantiasa menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil, sehingga dengan cara yang sesuai dengan tiap generasi, ia dapat menjawab pertanyaan manusia mengenai arti hidup sekarang ini dan kehidupan yang akan datang” (GS 4).

 

Melanjutkan Refleksi Prof. Yanuar Nugroho dalam Muspas KAK 2025

Tulisan ini melanjutkan butir-butir refleksi yang dibawakan oleh Prof. Yanuar Nugroho dalam Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang 2025. Gagasan-gagasannya bukan sekadar paparan akademis, melainkan undangan moral untuk membaca realitas bangsa secara jujur, mengkritisi manipulasi kekuasaan, dan menimbang panggilan Gereja sebagai suara profetis. Maka setiap bagian berikut hendak menelusuri lebih jauh arah pemikirannya, sambil memperkaya dengan rujukan ajaran sosial Gereja, sehingga menjadi bahan refleksi bersama bagi umat.

Membaca Realitas sebagai Gunung Es

Sering kali yang kita lihat hanyalah permukaan: aksi unjuk rasa, tuntutan terhadap DPR, atau kerusuhan kecil di berbagai kota. Itu semua ibarat puncak gunung es. Namun yang lebih menentukan justru yang tersembunyi di bawah permukaan: ketidakadilan struktural yang memelihara jurang antara kaya dan miskin, arogansi elit yang makin jauh dari aspirasi rakyat, dan konflik kepentingan yang menjadi benang kusut politik kita. Inilah lapisan realitas yang jarang disentuh media, sebab berita lebih banyak menyorot gejala, bukan akar masalah. Gereja dipanggil untuk berani mengungkap bagian yang tersembunyi ini, sebab di sanalah martabat manusia paling sering dilukai.

Distorsi Data: Statistik versus Kehidupan Nyata

Indonesia tampak indah dalam angka, tetapi rapuh dalam kenyataan. Pemerintah mengklaim angka kemiskinan historis terendah, tetapi hal itu hanya karena garis kemiskinan diturunkan hingga di bawah standar internasional, bahkan lebih rendah daripada Timor Leste. Di atas kertas, jumlah pengangguran tampak menurun, padahal seseorang yang bekerja satu jam seminggu pun sudah dihitung “tidak menganggur.” Kelas menengah, yang selama ini menjadi penyangga stabilitas sosial, perlahan tergerus: tabungan habis, daya beli merosot, dan banyak keluarga mulai “makan tabungan” untuk bertahan hidup. Klaim pertumbuhan ekonomi 5% pun, menurut Nugroho, sebagian besar lahir dari akrobat akuntansi dan belanja militer, bukan dari produktivitas riil masyarakat. Ensiklik Caritas in Veritate mengingatkan bahwa pembangunan sejati hanya mungkin “apabila berpusat pada martabat manusia, bukan pada manipulasi angka atau keuntungan sesaat” (CV 21). Maka tugas Gereja ialah menimbang data bukan hanya dari grafik, tetapi juga dari kesaksian umat di paroki-paroki: apakah mereka mampu membeli beras, apakah pendapatan cukup untuk sekolah anak, apakah ada pekerjaan yang layak. Di situlah kebenaran sesungguhnya.

Kemunduran Demokrasi: Dari Substansi ke Prosedur

Di balik narasi resmi tentang demokrasi, ada gejala erosi yang mengkhawatirkan. Pilar negara hukum melemah, kritik sering dijawab dengan represi, sementara masyarakat sipil yang dahulu menjadi motor perubahan kini tercerai-berai. Perbandingan dengan 1998 terasa jelas: jika dahulu mahasiswa, buruh, dan aktivis bersatu membawa agenda reformasi, kini protes terpecah tanpa tuntutan bersama. Demokrasi masih ada, tetapi hanya sebatas prosedur—pemilu tetap digelar, konsultasi publik diadakan—namun substansi keadilan dan akuntabilitas hilang. Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti mengingatkan, “Tanpa kebenaran, emosi dapat menjadi landasan yang memudarkan institusi demokratis. Apa yang disebut konsensus bisa menjadi manipulasi opini publik yang dibuat oleh kekuatan yang paling berkuasa” (FT 157). Kata-kata ini menegaskan bahwa demokrasi tanpa kebenaran hanyalah ilusi yang menutupi autoritarianisme.

Penyempitan Ruang Sipil

Salah satu tanda zaman paling serius ialah menyempitnya ruang sipil. Pemerintah menjadi makin antikritik, media ditekan dengan cara halus, akademisi dan aktivis sering dibungkam lewat kooptasi atau ancaman, dan meritokrasi birokrasi digantikan oleh politik balas jasa. Situasi ini membuat keberanian bersuara menjadi langka, terutama di kalangan muda. Gaudium et Spes (73) menekankan pentingnya kebebasan: “Kebebasan dan tanggung jawab harus dipelihara dalam kehidupan sosial. Hak-hak pribadi dan kelompok harus dilindungi dari segala bentuk penindasan.” Karena itu, Gereja tidak boleh diam ketika ruang sipil dipersempit. Diam berarti menyerahkan nasib bangsa kepada mekanisme kuasa yang tidak lagi menghormati martabat manusia.

Masa Depan: Skenario yang Suram

Nugroho menawarkan peta skenario: demokrasi bisa kuat atau lemah, negara bisa kapabel atau gagal. Jika keempat kemungkinan digabung, ada empat jalan: A (demokrasi kuat, negara kapabel), B (demokrasi kuat, negara lemah), C (demokrasi lemah, negara kapabel), D (demokrasi lemah, negara lemah). Sayangnya, realitas Indonesia pasca-2024 hampir pasti jatuh ke C atau D. Kabinet yang gemuk, birokrasi yang dipenuhi konflik kepentingan, serta melemahnya kepercayaan publik adalah tanda-tanda bahwa demokrasi hanya tersisa kulitnya. Dalam terang iman, ini berarti risiko besar bagi martabat manusia, karena kekuasaan tanpa kontrol akan dengan mudah menindas yang lemah.

Agenda Harapan dan Perlawanan

Meski demikian, jalan harapan tetap terbuka. Tugas pertama adalah menjaga momentum masyarakat sipil: menyambungkan suara rakyat kecil dengan percakapan elit, menghubungkan kenyataan sehari-hari dengan wacana kebijakan. Tugas kedua ialah melawan normalisasi keadaan darurat yang dijadikan pola pemerintahan. Gereja dapat mengambil peran besar di sini, bukan dengan menjadi partai politik, melainkan dengan menghadirkan suara moral yang tidak bisa dibungkam. Evangelii Gaudium menegaskan: “Gereja menghargai peran masyarakat sipil, yang tidak dapat diganti, karena di dalamnya lahir bentuk-bentuk partisipasi yang menjaga kebebasan dan martabat manusia” (EG 183). Maka Gereja harus berjalan bersama rakyat, bukan di atas mereka.

Peran Gereja Katolik: Suara Profetis dan Sahabat Kaum Kecil

Gereja memiliki posisi yang unik. Ia tidak mengejar kekuasaan politik, tetapi punya tanggung jawab moral untuk menyalakan nurani bangsa. Pertama, Gereja harus berani membaca tanda-tanda zaman, meski pahit, dan menafsirkannya dalam terang Injil. Kedua, Gereja dipanggil untuk membentuk nurani kritis umat, agar orang Katolik tidak mudah tertipu statistik dan propaganda. Ketiga, Gereja perlu menjadi suara profetis yang tidak takut berbicara melawan ketidakadilan, meski risiko sosial dan politik tinggi. Keempat, Gereja harus tetap berpihak kepada kaum kecil, sebab “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang miskin adalah juga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus” (GS 1). Akhirnya, Gereja mesti menjaga harapan eskatologis: hanya Allah yang berdaulat, dan karena itu tidak ada rezim manusia yang kekal. Harapan ini bukan sekadar penghiburan, melainkan energi yang mendorong kita untuk bertahan dan terus melawan.

Penutup

Refleksi ini adalah alarm moral: Indonesia berada dalam ancaman serius, baik dari sisi demokrasi yang tergerus, ekonomi yang dimanipulasi, maupun ruang sipil yang makin menyempit. Namun Gereja dipanggil untuk tidak berdiam diri. Dengan membaca tanda-tanda zaman, membina nurani kritis, dan berdiri bersama mereka yang miskin, Gereja dapat menjaga martabat bangsa. Jika umat beriman berani terlibat, maka kita tidak akan menyerahkan Indonesia kepada mereka yang mengorbankan kebenaran demi kuasa. Seperti Yohanes Pembaptis yang menyiapkan jalan bagi Tuhan, Gereja pun dipanggil untuk menyiapkan jalan bagi kebenaran di tengah bangsa ini.

 


Minggu, 07 September 2025

KETIKA GEREJA MENJADI RUMAH: PASTOR, KEPALA DESA, DAN ORANG MUDA DI TANAH FLORES

 




Pendahuluan: Perjalanan Sebagai Ikon Iman

Perjalanan saya dari Kupang menuju Nagekeo lewat Ende awalnya terasa seperti rutinitas pastoral biasa. Namun, semakin jauh roda kendaraan berputar, semakin saya sadari bahwa perjalanan ini adalah ikon kecil tentang Gereja Katolik yang hidup di bumi NTT—sebuah Gereja yang bukan hanya institusi, melainkan denyut nadi masyarakat. Dari Bandara Ende hingga jalan-jalan Nagekeo, saya melihat Gereja hadir sebagai rahim iman, sebagai ruang perjumpaan, sekaligus sebagai terang yang menuntun di tengah kegelapan zaman.

Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13–14). Sabda Yesus itu bukan sekadar hiasan liturgi; ia benar-benar terasa dalam setiap percakapan, senyum, bahkan luka yang saya jumpai selama perjalanan ini.

 

1. Dijemput oleh Pastor, Diantar oleh Kepala Desa

Ketika saya tiba di Bandara Ende, dijemput langsung oleh Pastor Paroki Maunori, RM Ino, saya merasa disambut oleh Gereja sebagai ibu yang setia menunggu anaknya pulang. Kami sempat singgah di Katedral Ende, sebuah jeda singkat yang sarat makna. Gedung itu berdiri sebagai saksi sejarah pewartaan iman Katolik di Flores—sebuah iman yang tidak pernah padam meski badai zaman silih berganti.

Namun yang paling mengena justru cara saya pulang: diantar oleh Kepala Desa Pautola bersama ibunya yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Di sini saya melihat wajah lain dari Gereja: bukan hanya imam di altar, tetapi juga pemimpin masyarakat yang berjuang menjaga kehidupan sehari-hari. Kepala desa berbicara tentang dinamika sosial-politik, sementara sang ibu tentang tantangan pelayanan kesehatan di desa. Saya mendengar dan merasakan, di tanah Flores, Gereja dan masyarakat tidak terpisah. Pastor dan kepala desa, altar dan rumah adat, misa dan musyawarah desa—semuanya saling mengisi.

Refleksi apologetik di sini sederhana: Gereja Katolik bukan enclave eksklusif yang bersembunyi di balik tembok. Ia berjalan bersama umat, sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II: “Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang… adalah juga sukacita dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus” (Gaudium et Spes 1).

 

2. OMK, Relativisme, dan Luka Generasi Digital

Mbay Youth Day menampilkan sukacita orang muda: nyanyian, sorak, dan semangat pelayanan. Namun di balik gegap gempita itu, saya mendengar kabar yang mengiris hati: seorang anggota OMK yang selama ini sangat aktif ditemukan meninggal, dengan dugaan bunuh diri.

Saya terdiam. Bagaimana mungkin seorang muda yang begitu terlibat dalam kegiatan Gereja bisa berakhir dengan jalan segetir itu? Peristiwa ini memperlihatkan wajah ganda generasi digital: enerjik dan kreatif, tetapi sekaligus rapuh dan rentan terhadap relativisme, sekularisme, bahkan nihilisme.

Yohanes Paulus II dalam Christifideles Laici menulis bahwa orang muda sering kali “menjadi korban disorientasi yang ditawarkan dunia modern.” Sementara Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (CV 72) menegaskan: “Kaum muda tidak takut akan tuntutan iman; mereka takut akan hidup tanpa makna.”

Apologetika Katolik hari ini harus mampu menjawab kegelisahan itu. Bukan sekadar membantah Protestantisme atau ateisme, melainkan memperlihatkan bahwa iman Katolik adalah jangkar eksistensial. Bahwa dalam Kristus, hidup manusia bukan kebetulan, melainkan panggilan menuju keselamatan.

Tragedi OMK ini mengingatkan saya bahwa Gereja harus lebih dari sekadar penyelenggara acara. Ia harus menjadi rumah yang memeluk luka, tempat orang muda menemukan makna sejati, bukan sekadar hiburan rohani.

 

3. Kompol Cosmas Ria Pay: Luka Sosial Sebagai Tanda Zaman

Di saat pertemuan OMK berlangsung, berita lain viral di media: Kompol Cosmas Ria Pay, putra Ngada, seorang kembar dari Pater Dami Ria Pay yang juga pernah saya kenal di Seminari, tiba-tiba menjadi sorotan karena kasus hukum dan jabatan.

Nama Cosmas bukan asing bagi banyak orang di Flores. Ia dikenal sebagai anak daerah, seorang aparat, seorang saudara. Tetapi kini ia menjadi headline karena persoalan disiplin institusi. Bagi saya, peristiwa ini lebih dari sekadar isu personal; ia menyingkap luka sosial masyarakat kita. Martabat manusia begitu mudah dipertaruhkan di ruang publik yang keras, di mana hukum, politik, dan gosip bercampur.

Di sinilah Gereja harus berdiri. Apologetika kita tidak bisa hanya berkutat pada dogma abstrak; ia harus berbicara tentang martabat manusia. Fratelli Tutti (FT 11) menegaskan: “Kebenaran tanpa belas kasih menjadi kekerasan; belas kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi murahan.” Kasus Cosmas menjadi kairos: sebuah panggilan bagi Gereja untuk menjadi saksi kebenaran sekaligus rumah belas kasih.

Saya melihat, sebagaimana Gereja menemani keluarga korban bunuh diri dengan penghiburan, demikian pula Gereja harus berani mendampingi mereka yang terpuruk dalam stigma publik.

 

4. Gereja Katolik di NTT: Garam dan Terang yang Tetap Asin dan Menyala

Dari pengalaman dijemput pastor hingga diantar kepala desa, dari sorak OMK hingga kabar duka, dari altar Katedral hingga ruang gosip politik, saya menyadari: inilah wajah Gereja Katolik di NTT. Sebuah Gereja yang asin dan menyala.

Flores, khususnya Nagekeo, dikenal karena “rasa Katoliknya” yang kuat. Tetapi rasa ini bukan sekadar statistik umat atau kemeriahan pesta iman. Rasa ini hadir dalam kehidupan sehari-hari: dalam kesetiaan imam dan suster, dalam kepedulian masyarakat, dalam solidaritas menghadapi tragedi, dan dalam keberanian Gereja berdiri di ruang publik.

Apologetika kita di Indonesia harus menekankan hal ini: kekuatan Katolik bukan hanya pada argumen rasional, melainkan pada kesaksian historis dan sosial. Bahwa Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik benar-benar hidup, menyentuh masyarakat, dan bertahan melampaui ideologi zaman.

 

Penutup: Perjalanan Sebagai Doa

Perjalanan saya ke Nagekeo dan kembali ke Kupang bukan hanya catatan logistik pastoral. Ia adalah doa panjang yang ditulis dengan roda mobil, tawa OMK, air mata duka, dan percakapan sederhana dengan kepala desa.

Saya percaya: Gereja Katolik akan tetap berdiri tegak di bumi NTT dan Indonesia. Ia akan terus melahirkan, memeluk, dan menuntun. Ia akan tetap menjadi rahim yang memberi hidup, rumah yang memberi teduh, dan terang yang tak pernah padam.

Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Sabda ini bukan janji kosong. Saya merasakannya sendiri di tanah Flores: janji itu hidup di altar, di jalan desa, di hati umat, dan dalam kisah-kisah getir sekalipun.

 

Senin, 25 Agustus 2025

Semua Jalan Berujung di Roma: Defisit Protestan dan Orthodox dalam Sejarah Keselamatan

 


(Respon Apologetika Katolik terhadap Video Inyo Manis: Rekonsiliasi Kristologi Sudah Final)

Pendahuluan

John Henry Newman pernah melempar kalimat yang jadi petir bagi mereka yang berani membaca sejarah: “To be deep in history is to cease to be Protestant.” Kalimat ini tak lahir dari amarah, tapi dari kesadaran: siapa pun yang menyelam cukup dalam ke samudera sejarah Gereja akan melihat satu karang yang tak tergoyahkan—Roma. Bukan Roma sebagai kota wisata, tapi Roma sebagai rahim iman, tempat Petrus memegang kunci dan darah para rasul menjadi semen bagi batu karang itu.

Lihatlah medan sejarah: Konsili Kalsedon tahun 451 memecah Gereja bukan karena Kristus pecah, tapi karena manusia berbeda lidah. Ortodoks Timur dan Oriental tersandung bukan pada iman, melainkan pada frasa; pada “miafisit” dan “diokefalit,” pada syair bahasa yang sulit dicerna lintas budaya. Lima belas abad kemudian, para patriark akhirnya mengakui—kita sama-sama percaya pada Kristus yang satu, kodrat ilahi dan insani, tak bercampur, tak terpisah. Hebat, bukan? Tetapi mari jujur: kesatuan yang hanya berdiri di atas kata-kata tanpa satu pusat otoritas selalu rapuh.

Sementara itu, Protestanisme lahir dari rahim Katolik namun memproklamasikan revolusi. Bukan sekadar memprotes penyalahgunaan, tetapi memprotes tubuh itu sendiri. Hasilnya? Sola ini, sola itu—dan akhirnya ribuan denominasi yang masing-masing menjadi paus bagi dirinya. Sementara dunia Ortodoks menjaga liturgi agungnya, dunia Protestan memecah-mecah warisan itu menjadi potongan-potongan tafsir.

Roma, di sisi lain, tetap berdiri. Ia bukan museum, ia adalah tubuh yang hidup, tempat liturgi Timur dan Barat bertemu dalam satu jantung. Katolik Koptik, Armenia Katolik, Siria Katolik, Melkit, Maronit, Syro-Malabar, hingga Bizantin Katolik—semuanya adalah bukti bahwa Roma memelihara, bukan memusnahkan; memeluk bahasa yang berbeda tanpa kehilangan nada yang sama.

Pendahuluan ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi sebuah undangan keras: jika dua keluarga Ortodoks bisa berkata, “kami satu iman hanya beda kata,” mengapa tidak melangkah lebih jauh? Mengapa berhenti di pintu saat rumah terbuka lebar? Roma menunggu, bukan dengan cambuk, tapi dengan kunci yang sama yang Yesus titipkan pada Petrus.

 

Bagian I – Luka dan Bahasa: Sejarah yang Membelah

Tidak ada luka yang lebih menyakitkan bagi tubuh Kristus selain luka yang disebabkan oleh kata-kata. Konsili Kalsedon (451) bukanlah pertempuran iman melawan iman; ia adalah benturan lidah, budaya, dan politik. Timur dan Barat sama-sama mencintai Kristus, tetapi mereka berbeda cara berbicara. Gereja Ortodoks Timur berkata “dua kodrat yang tak bercampur,” Gereja Ortodoks Oriental berkata “satu kodrat dari Sang Sabda yang menjadi manusia.” Kata-kata berbeda, iman sama—namun luka itu membuka jurang selama lima belas abad.

Mari kita sebut ini seperti tragedi keluarga: kakak dan adik berselisih bukan karena benci, tapi karena gagal memahami aksen satu sama lain. Rumusan teologi berubah menjadi pedang, konsili menjadi medan pertempuran. Politik Kekaisaran Bizantium dan kekuasaan patriark menambah bara. Gereja Timur dan Gereja Oriental memisahkan diri, membangun tembok yang keras kepala, menganggap pihak lain sesat. Mereka lupa, yang diperdebatkan bukan Kristus yang berbeda, melainkan cara menjahit kata pada misteri yang sama.

Sejarah kemudian membuktikan—setelah debu zaman mereda, para patriark, teolog, dan sinode memutuskan untuk duduk kembali. Hasilnya? Dokumen demi dokumen, dari Konstantinopel hingga Kairo, dari Antiokhia hingga Jenewa, menyatakan satu nada: kita selalu percaya pada satu Yesus Kristus, sepenuhnya Allah, sepenuhnya manusia, tak bercampur, tak terpisah. Kata-kata yang memecah akhirnya dijinakkan; luka itu bisa sembuh.

Namun, mari kita jujur: inilah defisit terbesar dunia Ortodoks. Mereka menjaga liturgi seperti menjaga pusaka, tetapi tanpa pusat otoritas, luka-luka ini sembuh pelan, seperti kapal tanpa kemudi tunggal. Mereka bisa berkata, “kami satu iman,” tetapi siapa yang menjamin kesatuan ini ketika gelombang baru datang? Dokumen bersama itu baik, tetapi tanpa “primus” yang diakui—tanpa Petrus—mereka tetap rentan pada perpecahan berikutnya.

Roma melihat ini tanpa kebencian, tetapi dengan mata seorang ibu yang tahu anaknya belum pulang sepenuhnya. Gereja Katolik memiliki kembarannya untuk setiap tradisi Timur—Koptik Katolik, Armenia Katolik, Siria Katolik, Melkit, Maronit—yang tetap memelihara bahasa, musik, dan liturgi, namun menyandarkan kepalanya pada satu rumah. Luka akibat kata tidak akan benar-benar sembuh sampai keluarga ini kembali memanggil rumah itu dengan nama yang sama: Roma.

 

Bagian II – Ilusi dan Fragmentasi: Krisis Protestan

Jika luka Ortodoks adalah luka bahasa, maka luka Protestan adalah luka ego. Reformasi abad ke-16 memulai dengan teriakan yang sah: melawan penyalahgunaan, memanggil Gereja untuk bertobat. Luther, Calvin, Zwingli—mereka berdiri dengan Alkitab di tangan dan hati yang mendidih. Tetapi sejarah punya selera humor yang pahit: protes terhadap penyalahgunaan berubah menjadi protes terhadap tubuh itu sendiri. Sola Scriptura—kitab saja, tanpa magisterium—terdengar gagah, tapi begitu pedang itu diayunkan, ia memotong cabang dari pohon yang memberinya akar.

Hasilnya? Satu pohon yang rimbun berubah menjadi hutan serpihan. Ribuan denominasi, setiap gembala menjadi paus bagi dirinya. Sola fide, sola gratia, sola ini, sola itu—slogan yang memikat tetapi tak bisa menjamin kesatuan. Bagi Katolik, ini bukan hanya perbedaan pendapat; ini adalah drama keluarga yang meninggalkan rumah, lalu membangun rumah-rumah kecil di seberang jalan, masing-masing dengan cat yang berbeda tapi tanpa fondasi yang sama.

Defisit Protestan itu jelas: tanpa otoritas yang dapat berkata “ini benar, ini tidak,” iman berubah menjadi opini. Alkitab di tangan setiap orang menjadi anugerah sekaligus risiko; tafsir tak berujung melahirkan gereja tanpa tubuh, sakramen tanpa rahim, komunitas tanpa ibu. Pertanyaannya sederhana: jika sejarah adalah sungai yang mengalir, mengapa mereka memilih mendirikan bendungan kecil di setiap tikungan?

Roma memandang ini bukan dengan amarah, tapi dengan rasa iba bercampur harapan. Di mana Ortodoks setia pada liturgi, Protestan cepat dan kreatif tetapi rapuh. Mereka menolak tradisi, tetapi membentuk tradisi baru setiap dekade. Mereka berbicara tentang Injil murni, tapi bahkan murni menurut siapa? Yang satu berkata baptisan bayi benar, yang lain berkata tidak. Yang satu berkata Ekaristi hanya simbol, yang lain berkata Kristus hadir rohani, yang lain berkata tak penting sama sekali.

Di tengah hiruk pikuk ini, suara Roma tetap sama: una fides, unus Dominus, una Ecclesia—satu iman, satu Tuhan, satu Gereja. Bagi Katolik, Alkitab bukan lepas di angkasa; ia dibaca dalam rumah, di bawah cahaya yang dijaga. Sejarah Protestan membuktikan: potongan yang tercerai-berai tidak akan menjadi tubuh. Mereka butuh pusat, butuh ibu, butuh rumah. Dan rumah itu masih sama sejak abad pertama: Roma.

 

Bagian III – Roma Sebagai Poros: Gereja yang Menyeluruh

Setelah luka bahasa di Timur dan badai ego di Barat, mari kita bicara tentang rumah yang tetap berdiri ketika yang lain terombang-ambing: Roma. Takhta Petrus bukan sekadar kursi tua di Vatikan; ia adalah poros sejarah iman. Di sanalah sabda Yesus kepada Simon menggaung, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Ini bukan klaim kekuasaan; ini fondasi kesatuan.

Roma bukan kolektor artefak, melainkan pemelihara kehidupan. Lihatlah mosaiknya: Katolik tidak menelan tradisi, ia memeluknya. Ada Koptik Katolik di Mesir yang berdoa dalam bahasa Koptik kuno; Armenia Katolik yang bernyanyi dengan melodi Timur; Siria Katolik dan Syro-Malabar yang membawa aroma Persia dan India; Melkit yang memadukan Bizantium dan Arab; Maronit yang bertahan bahkan di lembah-lembah Libanon; dan Bizantin Katolik—Ukraina, Yunani, Rumania, Rusia, Bulgaria—yang menjaga ikon dan liturgi sama persis dengan saudara Ortodoksnya, tapi berdiri di bawah satu kepala. Ini bukan seragam; ini orkestra.

Inilah daya tarik Roma: ia memahami bahwa kesatuan bukanlah keseragaman. Tradisi yang berbeda tidak dipaksa untuk memutih; ia dirawat, dijaga, disatukan oleh tali yang sama—iman yang tak berubah dan gembala yang satu. Roma berkata, “Tetaplah bernyanyi dalam bahasamu, tetaplah melukis ikonmu, tetaplah mencium tanahmu. Tapi jangan lepaskan tangan ini.”

Di sinilah defisit Protestan dan Ortodoks tampak telanjang. Protestan kehilangan tubuh; mereka memegang Kitab tapi kehilangan rumah. Ortodoks menjaga rumah tapi memilih tidak mendengarkan suara primus di pintu. Roma berdiri di tengah, bukan sebagai penjaga museum, tetapi sebagai ibu yang menunggu anak-anaknya. Bukti? Setiap kali ada rekonsiliasi teologi, entah Timur dan Oriental saling merangkul atau dialog Protestan mulai mencair, Roma sudah lebih dulu membuka pintu dan berkata, “Kami punya ruang untukmu.”

Jalan sejarah ini jelas: setiap bahasa yang menemukan harmoni, setiap liturgi yang menemukan kedamaian, setiap kitab yang menemukan makna, semuanya menemukan ujung yang sama. Ujung itu bukan teori; ia adalah Petrus yang masih hidup dalam Gereja Katolik. Dan semakin dalam kita menggali sejarah, semakin jelas kebenaran Newman: untuk menyelam dalam sejarah, kita harus berhenti menjadi Protestan; kita harus pulang ke rumah yang satu.

 

Bagian IV – Argumen Filosofis dan Teologis

Kesatuan bukan sekadar emosi atau nostalgia; ia berdiri di atas fondasi yang dapat diuji dengan akal sehat. Di sinilah Katolik bermain di lapangan yang sering diabaikan: logika dan filsafat. Dunia modern suka bicara “pluralisme,” tapi tanpa prinsip pemersatu, pluralisme berubah jadi keributan pasar. Sama dengan Gereja: tanpa pusat, tubuh berubah menjadi kerangka berserakan.

Roma memahami ini sejak awal. Prinsip una fides, unus Dominus, una Ecclesia—satu iman, satu Tuhan, satu Gereja—bukan retorika kosong. Ia berakar pada antropologi sederhana: manusia butuh tanda yang kelihatan, bukan hanya ide di kepala. Kristus tidak menulis buku; Ia mendirikan komunitas. Ia tidak meninggalkan kumpulan kata tanpa penjaga; Ia meninggalkan saksi hidup, para rasul, dengan Petrus sebagai batu karang.

Di sinilah kekurangan dunia Ortodoks dan Protestan menjadi jelas. Ortodoks berkata, “Kami satu iman,” tetapi siapa yang menjamin? Setiap patriark bisa bertahan dalam lingkarannya, tetapi siapa yang dapat berbicara untuk seluruh dunia? Protestan berkata, “Alkitab cukup,” tetapi siapa yang menentukan tafsirnya? Hasilnya: perpecahan yang terus berkembang, seperti cermin yang retak menjadi serpihan kecil.

Secara metafisik, iman tanpa prinsip kesatuan adalah kontradiksi. Tubuh Kristus bukan teka-teki yang dibiarkan terbuka untuk setiap interpretasi. Subsistit in Ecclesia Catholica—Gereja yang Kristus dirikan tetap berdiam penuh dalam Gereja Katolik. Itu bukan klaim sombong, melainkan kesimpulan logis: hanya ada satu pusat yang terus-menerus menjaga, mengajar, dan memutuskan dalam terang Roh Kudus.

Lihatlah sejarah konsili. Konsili Yerusalem (Kisah Para Rasul 15) tidak selesai di perdebatan individu; ia berakhir pada keputusan kolektif dengan pemimpin yang diakui. Konsili Nicea, Konstantinopel, Efesus, Kalsedon—semua memiliki satu tujuan: menjaga iman tetap satu. Tanpa Roma, suara-suara ini tercerai-berai; dengan Roma, suara itu menjadi simfoni.

Roma tidak takut pada perbedaan; ia memeluknya dalam tubuh yang sama. Namun ia berkata dengan tegas: iman tidak bisa hanya jadi opini pribadi atau klaim teritorial. Ia harus diikat oleh janji Kristus: “Aku menyertai kamu senantiasa.” Itu sebabnya Newman benar—siapa pun yang mau jujur pada sejarah, siapa pun yang mau berfilsafat tanpa bias, akhirnya akan sampai pada batu yang sama: Petrus dan takhtanya di Roma.

 

Bagian V – Kesaksian Sejarah: Jalan Pulang

Sejarah adalah saksi yang keras kepala. Ia menyimpan ingatan lebih panjang daripada debat kita. Ia mengingat setiap surat, setiap konsili, setiap tanda tangan yang dibuat dalam tinta dan darah. Ketika Ortodoks Timur dan Oriental akhirnya duduk di meja yang sama, membaca kembali perpecahan abad kelima, apa yang mereka temukan? Bahwa mereka percaya pada Yesus yang sama, hanya berbeda cara mengucapkannya. Bahwa “miafisit” dan “diokefalit” tidak lain hanyalah dialek yang salah paham, bukan bidat yang lahir dari kebencian. Dokumen-dokumen resmi dari Konstantinopel, Antiokhia, Alexandria, Kairo, Jenewa, hingga Moskow menyebutkan hal yang sama: kita satu iman, perbedaan kita hanyalah bahasa.

Inilah keindahan yang ironis: butuh lima belas abad untuk mengakui bahwa luka itu seharusnya tidak pernah ada. Tapi di balik pengakuan itu, Katolik membaca satu pesan yang lebih dalam: sejarah selalu bergerak ke arah kesatuan yang kelihatan. Lihat buah-buahnya: ada Koptik Katolik, Armenia Katolik, Siria Katolik, Syro-Malabar, Syro-Malankara, Melkit, Maronit, Bizantin Katolik—semua tradisi yang sama dengan saudara Ortodoksnya, tetapi telah memutuskan untuk pulang dan berdiri di bawah naungan Takhta Petrus. Mereka membawa bahasa, ikon, nyanyian, dan liturgi mereka, tetapi mengikatnya pada batu yang sama. Roma tidak menelan mereka; Roma memberi mereka ruang untuk bernapas bersama tubuh yang lebih besar.

Apa yang kita lihat di sini adalah pola. Protestan memecah; Ortodoks memelihara tetapi berhenti di batas-batasnya; Katolik memanggil dan memeluk. Tak ada satupun dari gereja-gereja itu yang kehilangan warisan ketika bersatu dengan Roma—justru mereka diperkaya. Mereka bukan korban; mereka adalah pewaris yang kembali membawa mas kawin: liturgi kuno, bahasa suci, dan iman yang tetap.

Dan Protestan? Mereka berdiri di luar pagar, sering sibuk menghitung bidat orang lain sementara rumah yang mereka tinggalkan terus berdiri. Newman mengingatkan: “to be deep in history is to cease to be Protestant.” Sejarah bukan berpihak karena sentimen, tapi karena bukti. Siapa pun yang menggali akan melihat: garis para rasul, garis konsili, garis tradisi—semuanya bermuara ke Roma.

Maka kesaksian sejarah tidak bisa diabaikan. Ia berteriak pada kita: semua jalan yang serius mencari kebenaran, semua bahasa yang akhirnya berdamai, semua kitab yang akhirnya dimengerti—pada akhirnya menemukan rumah. Rumah itu bukan ide, bukan opini, bukan sekadar rasa. Rumah itu adalah tubuh yang kelihatan, diikat oleh janji Kristus pada Petrus. Jalan pulang selalu ada, dan Roma tidak pernah menutup pintu.

 

Bagian VI – Penutup

Akhirnya, mari kita bicara jujur. Sejarah adalah guru yang sabar tapi tidak pernah memaafkan kemalasan intelektual. Ortodoks Timur dan Oriental telah menunjukkan satu pelajaran besar: konflik yang lahir dari kata bisa diredakan, luka yang lama bisa sembuh jika ada kerendahan hati untuk membaca ulang sejarah. Namun mereka juga mengingatkan: kesatuan yang hanya berbentuk “pengakuan bersama” tanpa pusat tetap rapuh. Tanpa satu gembala yang diakui semua, domba mudah kembali tersesat.

Protestan pun menjadi cermin lain: api Reformasi yang sah berubah menjadi kebun liar. Sola scriptura tanpa magisterium melahirkan ribuan suara yang saling bersilang, masing-masing mengklaim diri sebagai suara yang benar. Di sini Newman kembali menyapa kita: to be deep in history is to cease to be Protestant. Semakin dalam kita menyelam, semakin jelas: yang pecah tak bisa menyatu tanpa tubuh, yang terpisah tak bisa utuh tanpa rumah.

Roma tidak berdiri sebagai tiran, melainkan sebagai ibu. Ia tahu bahasa anak-anaknya beragam; ia merangkul Coptic Katolik, Armenia Katolik, Siria Katolik, Melkit, Maronit, Syro-Malabar, Bizantin Katolik, dan banyak lainnya. Roma tidak menuntut mereka menanggalkan jubah mereka; Roma hanya meminta mereka kembali di bawah naungan kunci Petrus. Dan itulah yang membedakan: Katolik mampu merawat keanekaragaman karena ia memiliki pusat yang tak berubah.

Maka pesan kita jelas: sejarah tidak akan menunggu selamanya. Jika dua keluarga besar Ortodoks sudah mulai berdamai, jika tradisi Timur telah menemukan kembarannya dalam Katolik, jika fragmen Protestan mulai lelah dengan tafsir tanpa ujung, rumah itu tetap sama—Roma. Bukan karena Roma sempurna, tetapi karena janji Kristus yang tidak pernah gagal.

Semua jalan akhirnya akan diuji oleh waktu. Dan waktu berkata dengan nada yang sederhana namun tak terbantahkan: pulanglah. Karena di ujung setiap bahasa, setiap liturgi, setiap Kitab, ada satu batu karang yang sama. Batu yang menahan badai, batu yang mempersatukan, batu yang disebut Petrus.

 

Kamis, 19 Juni 2025

Mgr. Gabriel Manek, SVD: Hamba Allah dari NTT, Tanda Harapan bagi Bangsa

 

 


Pendahuluan

Di sebuah kampung kecil bernama Lahurus, di jantung daratan Timor yang keras namun penuh iman, lahirlah seorang anak yang kelak dikenang sebagai hamba Allah — seorang uskup, rohaniwan, pendidik, dan pendiri tarekat, yang hidupnya menjadi jembatan antara bumi dan surga: Mgr. Gabriel Wilhelmus Manek, SVD.

Terlahir dari latar belakang yang unik — darah Tionghoa-Timor mengalir dalam dirinya — Gabriel kecil diangkat dan dibesarkan dalam tradisi Katolik yang kental oleh keluarga Manek. Ia bukan hanya menjadi buah manis dari misi Gereja di Nusa Tenggara, tetapi juga menjadi tanda profetik bahwa kekudusan tidak mengenal batas suku, bangsa, atau status. Dari altar sederhana di Lahurus, ia melangkah ke altar-altar dunia: ditahbiskan imam Serikat Sabda Allah (SVD), ditunjuk sebagai uskup saat usia muda, dan akhirnya dikenal sebagai pendiri Kongregasi Putri Reinha Rosari — karya pelayanan yang lahir dari kasih bagi kaum kecil dan sederhana.

Tulisan ini mengajak Anda, umat Katolik Indonesia, untuk mengenal kembali hidup dan karya Mgr. Gabriel Manek, bukan sekadar sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai saksi hidup rahmat Allah. Ia bukan hanya uskup, melainkan jiwa kontemplatif yang menyatu dalam pelayanan, pribadi mistik yang rendah hati, dan pejuang iman yang tidak meninggalkan salibnya.

Kini, di tengah proses pengakuan Gereja atas kekudusannya, kita diajak membangun devosi yang murni dan penuh harapan: berdoa melalui perantaraannya, menyimpan fotonya, mengikuti jejak spiritualitasnya, dan—yang terpenting—berani percaya bahwa Tuhan masih bekerja secara nyata melalui para hamba-Nya yang setia.

Sudah saatnya kita, anak-anak Gereja dari Timur, mengangkat terang yang muncul dari antara kita sendiri — dan Mgr. Gabriel Manek adalah terang itu. Mari kita kenali dia, berdoa bersamanya, dan membagikan kesaksian rahmat yang kita terima, agar suatu hari kelak, seluruh Gereja berseru: Santo Gabriel Manek, doakanlah kami.


Kesucian yang Berbuah Pelayanan

Tak banyak yang menyangka bahwa di balik jubah dan mitra seorang uskup, Mgr. Gabriel Manek menyembunyikan hati seorang gembala miskin yang mencintai kawanan domba paling hina. Ia tidak pernah menyukai kemewahan, dan tak pernah membiarkan jarak antara dirinya dan umat menjadi penghalang cinta kasih. Dalam dirinya, Gereja tidak tampil dalam keagungan duniawi, melainkan hadir dalam kesederhanaan yang menyentuh luka umat kecil.

Di banyak tempat, terutama di daratan Timor dan Flores, masyarakat masih mengenang Mgr. Gabriel bukan dari khotbah-khotbahnya yang panjang, tetapi dari caranya menyapa orang sederhana dengan wajah hangat, dari caranya membungkuk mendengarkan keluh kesah para janda, atau dari caranya menepuk kepala anak-anak miskin dan berdoa dalam diam untuk masa depan mereka. Ia adalah uskup, tetapi terlebih dahulu seorang bapa.

Komitmennya terhadap pendidikan tampak dalam langkah-langkah konkret. Ia meyakini bahwa masa depan Gereja dan bangsa terletak pada pencerahan hati dan budi. Maka ia tidak hanya mendorong pendirian sekolah, tetapi juga mendirikan kongregasi religius perempuan, Putri Reinha Rosari, untuk mendampingi masyarakat melalui pendidikan dan karya kasih. Ia membuka jalan bagi anak-anak perempuan dari desa-desa terpencil agar bisa menjadi guru, suster, bahkan pemimpin rohani—sesuatu yang kala itu nyaris tak terbayangkan.

Namun di balik semangat membangun itu, Mgr. Gabriel tetap seorang mistikus tersembunyi. Hari-harinya ditopang oleh hidup doa yang mendalam. Mereka yang pernah tinggal bersamanya menceritakan bahwa ia tidak pernah melewatkan meditasi pagi, adorasi sakramen Mahakudus, dan doa rosario. Ia percaya bahwa pelayanan yang tidak ditopang doa hanyalah aktivisme kosong. Dalam doa itulah ia mencurahkan kelelahan, dalam sunyi ia menimba kekuatan, dan dalam hening ia mendengarkan suara Allah yang membimbing setiap keputusan.

Banyak kesaksian mengalir dari orang-orang yang pernah dilayaninya. Seorang ibu di Larantuka mengisahkan bahwa suatu malam hujan deras, Mgr. Gabriel datang ke rumahnya hanya untuk melihat anaknya yang sakit dan mendoakannya. “Beliau uskup, tapi tidak malu basah-basahan,” kata sang ibu, matanya berkaca. Seorang suster PRR dari generasi awal berkata, “Ia bapa kami. Ia tidak hanya mendirikan kami, tapi juga membentuk hati kami.”

Kesucian Mgr. Gabriel bukanlah kilau doktrin atau pertunjukan publik. Ia suci karena ia mengasihi dengan tubuh dan darahnya, karena ia tidak menyembunyikan luka orang miskin dari pelukannya, dan karena ia menghidupi Injil bukan di mimbar, tapi di tikungan jalan dan di tangga rumah-rumah tua umat sederhana.

Ia adalah uskup bagi kaum kecil, dan justru karena itulah, ia menjadi besar di mata Allah.


Tanda-Tanda Aneh Namun Kudus

Ada hal-hal dalam hidup rohani yang tak bisa dijelaskan oleh rumus ilmu, namun mengguncang hati yang sederhana untuk percaya. Salah satunya terjadi pada sosok Mgr. Gabriel Manek. Ia telah wafat secara tenang di Steyl, Belanda, pada tanggal 30 November 1989, dan selama bertahun-tahun, jenazahnya disemayamkan di tanah asing itu. Namun kisahnya tak selesai di sana.

Tepat 17 tahun setelah wafatnya, pada tahun 2006, jenazahnya hendak dipindahkan pulang ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur. Sebuah bentuk penghormatan terakhir kepada gembala besar dari Timur. Namun, ketika peti jenazah dibuka untuk keperluan pemindahan, orang-orang yang hadir terdiam. Tubuh Mgr. Gabriel masih utuh. Tidak membusuk. Tidak hancur. Daging masih melekat pada tulang, wajah masih dikenali, bahkan jubah keuskupannya tetap terjaga dalam kondisi yang nyaris sempurna.

Bagi sebagian orang rasional, ini mungkin aneh. Tapi bagi umat yang mengenal kasih dan ketulusan hidupnya, ini bukan keanehan, melainkan tanda. Sebuah tanda dari surga, bahwa hidupnya berkenan di hadapan Tuhan. Bahwa tubuh yang telah digunakan untuk mengasihi orang miskin dan melayani Tuhan tidak dibiarkan binasa.

Sejak saat itu, kabar pun menyebar. Dan bersamaan dengan itu, muncul kesaksian-kesaksian dari umat, dari yang jauh maupun yang dekat. Ada seorang ibu di Atambua yang mengaku telah bertahun-tahun mandul, dan setelah mengikuti novena kepada Mgr. Gabriel, akhirnya mengandung. Ada seorang lansia di Kupang yang divonis tak bisa berjalan akibat stroke, namun bersaksi bisa berdiri kembali setelah anaknya mendoakan dia dengan memegang foto Mgr. Gabriel.

Ada pula kisah sederhana seorang anak muda yang hendak bunuh diri karena tekanan hidup, namun urung melakukannya setelah secara tak sengaja membaca selembar pamflet doa kepada Mgr. Gabriel yang jatuh di teras gereja. “Entah kenapa saya menangis... dan tiba-tiba saya merasa Tuhan masih peduli pada saya,” katanya.

Semua kisah ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi mukjizat Injil atau menambah keajaiban di dunia. Tidak. Tanda-tanda ini bukan sihir, dan Mgr. Gabriel bukan tukang sulap dari langit. Ini adalah cermin kemurahan Allah, yang memilih menyatakan kasih-Nya melalui pribadi yang pernah hidup di tengah kita. Melalui debu tubuh seorang hamba, Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya.

Keutuhan jenazah Mgr. Gabriel dan jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan melalui perantaraannya adalah panggilan bagi kita untuk melihat lebih dalam: bahwa kekudusan itu nyata, bahwa Tuhan tidak diam, dan bahwa Ia masih menyertai Gereja-Nya melalui orang-orang yang setia menghidupi kasih sampai akhir.


Devosi yang Membangun Iman

Di tengah dunia yang semakin bising dan serba cepat, umat beriman membutuhkan ruang hening untuk bersandar, menyandarkan harapan dan luka kepada pribadi-pribadi yang telah lebih dahulu berjalan dalam terang Tuhan. Itulah makna devosi. Devosi bukan pengganti ibadah liturgis, tetapi pelengkap rohani yang menuntun hati kembali ke sumber kasih yang sejati: Kristus.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa devosi kepada para hamba Allah—yakni mereka yang sedang dalam proses menuju pengakuan resmi kekudusan—adalah sah dan diperbolehkan, sejauh umat memahami bahwa semua permohonan akhirnya mengarah pada Allah sendiri. Maka, berdoa melalui Mgr. Gabriel Manek bukanlah pengalihan iman, melainkan pengakuan bahwa Tuhan bekerja melalui saksi-saksi-Nya.

Mengapa devosi kepada Mgr. Gabriel penting bagi kita? Karena dia bukan hanya “orang kudus dari jauh”, tetapi darah dan tanah kita sendiri. Ia memahami penderitaan orang kecil, ia pernah lapar bersama rakyatnya, ia pernah menangis dalam doa-doa sunyi di kapela kecil. Dan kini, kita percaya bahwa ia tidak berhenti menjadi bapa setelah wafat, melainkan terus berdoa bersama dan untuk kita di hadapan Allah.

Doa Perantaraan

Untuk membuka hati kepada rahmat, umat dapat mendaraskan doa ini:

Allah yang Maharahim, kami bersyukur atas hamba-Mu, Mgr. Gabriel Manek, yang telah mengabdikan hidupnya bagi kemuliaan-Mu dan keselamatan jiwa-jiwa. Melalui teladan imannya, semoga kami dikuatkan. Dan melalui perantaraannya, kami mohon...
(sebutkan permohonan pribadi).
Jika kehendak-Mu berkenan, nyatakanlah kasih-Mu melalui mukjizat ini, agar semakin banyak orang mengenal cinta-Mu yang hidup dan nyata. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Novena Singkat

Sebuah novena sembilan hari dapat dilaksanakan secara pribadi atau bersama komunitas lingkungan, dimulai tanggal 21 November hingga 30 November (hari wafatnya). Dalam novena ini, umat merenungkan satu aspek kehidupan Mgr. Gabriel setiap hari: doa, pelayanan, kerendahan hati, penderitaan, pengharapan, karya kerasulan, cinta akan Ekaristi, cinta akan Maria, dan kesetiaan sampai akhir.

Membuat Sudut Devosi

Dalam tradisi Katolik yang kaya, membuat altar kecil atau sudut doa di rumah adalah tindakan liturgis domestik yang penuh makna. Tidak perlu megah. Cukup selembar foto Mgr. Gabriel, sebuah lilin kecil, Rosario, dan salib. Di tempat itu, biarlah hati kita bersatu dalam doa-doa pagi atau sore hari, memohon bimbingannya, menyerahkan beban kita, dan merenungkan kembali hidup kudusnya.

Sudut kecil ini bukan hanya ornamen rumah, tapi tanda bahwa keluarga Katolik memelihara iman dalam keseharian. Bahwa Tuhan hadir, bukan hanya di altar gereja, tapi juga di dapur kita yang sederhana, di ruang tamu kita yang penuh tawa dan air mata.

Himbauan Liturgis

Jika mungkin, komunitas paroki dapat menyelenggarakan Misa atau ibadat khusus pada 30 November setiap tahun, dengan intensi memohon beatifikasi dan memperkenalkan devosi ini secara resmi. Para imam, lektor, dan pemusik liturgi dapat menyusun renungan dan lagu-lagu bertema kesetiaan dalam pelayanan dan kekudusan dari Timur.


Kini saatnya. Saat untuk tidak hanya mengenang, tetapi melibatkan diri dalam gelombang kasih karunia yang Mgr. Gabriel bawa—sebagai bapa, pendoa, dan sahabat dari surga.

Mari kita berdoa bersamanya, bukan hanya untuk mukjizat, tetapi untuk hati yang teguh, iman yang murni, dan cinta yang tetap menyala.


Dari Kesaksian Menjadi Pengakuan Gereja

Dalam Gereja Katolik, kekudusan seseorang tidak hanya menjadi buah pengakuan pribadi atau pujian umat. Gereja yang kudus dan bijak memiliki proses yang ketat dan teratur untuk mengakui seorang hamba Allah sebagai Beato atau Santo. Proses ini bukanlah pengangkatan simbolik, melainkan pengakuan publik dan resmi bahwa orang tersebut hidup dalam kasih karunia luar biasa dan kini menjadi teladan serta perantara doa bagi seluruh umat Allah.

Dari perspektif hukum kanon dan prosedur Kongregasi Penggelaran Orang Kudus (Dicastery for the Causes of Saints), beatifikasi adalah tahap kedua dari empat tahapan kanonisasi, yang dimulai dengan:

1. Tahapan Menuju Kanonisasi

  • a. Hamba Allah (Servus Dei):
    Gelar ini diberikan ketika proses kanonisasi secara resmi dimulai oleh uskup diosesan dengan penyelidikan hidup, keutamaan, dan reputasi kekudusan seseorang.

  • b. Venerabilis (Yang Terhormat):
    Setelah penyelidikan menyeluruh terhadap keutamaan-keutamaan heroik dan doktrin yang benar, Paus menyatakan bahwa orang itu telah hidup suci secara heroik.

  • c. Beato (Beatifikasi):
    Untuk tahap ini, dibutuhkan paling sedikit satu mukjizat yang terjadi melalui perantaraan orang tersebut, yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan telah diverifikasi oleh tim medis dan teolog.

  • d. Santo (Kanonisasi):
    Tahap akhir di mana orang tersebut dihormati secara universal dalam seluruh Gereja. Biasanya dibutuhkan mukjizat kedua setelah beatifikasi untuk melangkah ke sini.

Mgr. Gabriel Manek saat ini telah dikenal luas sebagai hamba Allah, dan proses penyelidikan hidupnya sedang dikumpulkan secara sistematis. Namun, tanpa keterlibatan aktif umat dalam menyumbang kesaksian dan doa, proses ini tidak dapat bergerak maju.

2. Mengapa Kesaksian Mujizat Itu Penting?

Mukjizat bukan sekadar “keajaiban” atau peristiwa luar biasa. Dalam konteks beatifikasi, mukjizat adalah tanda objektif bahwa Allah berkenan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan melalui perantaraan hamba-Nya, dan bahwa hamba itu sungguh berada dalam persekutuan penuh dengan Allah. Dalam hukum kanon, mukjizat dianggap "pembenaran ilahi" terhadap reputasi kekudusan seseorang.

Namun perlu dicatat, mukjizat harus diverifikasi dengan hati-hati, dengan melibatkan tim dokter, teolog, dan penyelidik rohani. Proses ini menuntut laporan kesaksian yang jelas, rinci, dan terstruktur.

3. Cara Menulis dan Melaporkan Pengalaman Mujizat

Sebagai umat beriman, jika Anda mengalami rahmat luar biasa yang diyakini sebagai mukjizat melalui doa kepada Mgr. Gabriel Manek, berikut ini cara yang tepat untuk membuat laporan kesaksian:

  1. Catat kronologi kejadian secara lengkap dan runtut:
    Kapan kejadian itu dimulai, siapa yang terlibat, apa yang terjadi sebelum dan sesudah.

  2. Tuliskan bentuk devosi yang Anda lakukan:
    Apakah Anda mendoakan novena, memohon dengan foto Mgr. Gabriel, atau mempersembahkan Misa dengan intensi khusus? Ini penting untuk menelusuri hubungan perantaraan.

  3. Dokumentasikan bukti medis atau fisik:
    Jika berkaitan dengan kesembuhan, lampirkan hasil diagnosis awal dan pemeriksaan lanjutan. Gereja membutuhkan bukti objektif untuk menolak kemungkinan penyembuhan alami.

  4. Tuliskan kesaksian pribadi dan spiritual:
    Bagaimana pengalaman itu mempengaruhi iman Anda? Apakah membawa pertobatan, damai batin, atau kehidupan rohani yang lebih mendalam?

  5. Laporkan ke tim postulator:
    Anda dapat menghubungi Keuskupan Agung Kupang atau Kongregasi PRR di Larantuka untuk menyerahkan dokumen Anda. Semua laporan akan diproses secara hukum, diselidiki, dan dikaji ulang.


Himbauan Terakhir

Proses ini tidak hanya milik para imam, suster, atau teolog. Gereja tidak akan pernah bisa mengangkat seorang beato tanpa kesaksian umat beriman. Devosi Anda, kesaksian Anda, dan doa-doa Anda adalah batu-batu hidup yang membangun pengakuan Gereja akan kekudusan Mgr. Gabriel Manek.

Maka jika Anda pernah mengalami sesuatu yang luar biasa setelah berdoa kepadanya—jangan diam. Tulis. Ceritakan. Kirimkan. Dengan itu, Anda sedang menjadi bagian dari sejarah kekudusan Gereja Indonesia.


Penutup

Kesucian dari Timur untuk Dunia

Dari bukit-bukit sunyi Lahurus, Timor—tempat angin mendaras doa dan kehidupan bergulat dalam kesederhanaan—Gereja Katolik menerima satu karunia besar: seorang hamba Allah yang hidupnya menjadi tangga antara langit dan bumi, seorang uskup yang tubuhnya rapuh namun jiwanya menyalakan terang keabadian—Mgr. Gabriel Manek, SVD.

Hidupnya adalah sumbangan iman dari Timur untuk dunia. Ia membuktikan bahwa kekudusan bukan milik bangsa besar atau negeri kaya, tapi bisa tumbuh dari tanah keras, dari luka sejarah, dari rakyat kecil yang tetap setia. Di dalam Mgr. Gabriel, kita tidak hanya melihat pribadi yang hebat, tapi cerminan wajah Yesus sendiri—lembut, penuh belas kasih, mencintai tanpa pamrih, dan setia sampai akhir.

Kepada seluruh umat Katolik Indonesia, terutama dari Nusa Tenggara Timur, seruan ini disampaikan:
Teladanilah hidup Mgr. Gabriel!
Hidup dalam doa yang jujur, pelayanan yang konkret, dan cinta yang tanpa batas kepada Gereja dan sesama. Jadikanlah dia bukan hanya inspirasi, tetapi rekan seperjalanan dalam peziarahan iman kita.

Jangan biarkan api devosi ini padam. Bangunlah altar kecil di rumah, ajak keluarga mendoakan novena, sampaikan kisah-kisah mujizat kepada sesama. Kirimkan kesaksianmu. Jangan malu percaya bahwa Allah masih berkarya melalui hamba-hamba-Nya yang tersembunyi. Dalam setiap doa yang dijawab, dalam setiap damai yang tumbuh, kita sedang menyusun jalan menuju pengakuan Gereja universal atas kekudusan dari Timur ini.

Doa Penutup

Allah Tritunggal Mahakudus,
kami bersyukur atas karunia-Mu dalam diri hamba-Mu,
Mgr. Gabriel Manek, Uskup dan Hamba Allah,
yang telah hidup dalam kesetiaan, doa, dan cinta yang tak mengenal batas.
Melalui pengantaraan-Nya,
kami mohon:
curahkanlah rahmat-Mu kepada kami yang berseru dengan penuh harapan,
teguhkan iman kami, pulihkan yang terluka,
dan bangkitkan semangat pelayanan di hati Gereja-Mu.
Semoga kelak Gereja memuliakan dia sebagai Beato,
dan seluruh dunia mengenal kasih-Mu yang nyata dalam hidup orang kudus dari Timur.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Mgr. Gabriel Manek tidak meninggalkan kita. Ia menanti di surga—dengan tangan terangkat mendoakan kita yang masih berjalan. Kini giliran kita untuk menyambut rahmat itu, dan menjadi saksi bahwa kesucian Indonesia bukan sekadar impian, tetapi kenyataan yang sedang tumbuh dari tanah Timor untuk dunia.




Jumat, 07 Maret 2025

Narasi Percakapan: Apolos, Paulus, dan Perpecahan


(Suasana: Dua orang mahasiswa teologi, Andreas dan Stefanus, sedang duduk di taman kampus setelah mengikuti kuliah tentang sejarah Gereja. Mereka mulai berdiskusi tentang perbedaan dalam Gereja.)


Andreas:
Stefanus, aku jadi kepikiran sesuatu setelah kuliah tadi. Apakah mungkin perselisihan antara Apolos dan Paulus dalam jemaat Korintus itu semacam gambaran awal dari perpecahan antara Katolik dan Protestan?

Stefanus:
Menarik juga pertanyaannya, Andreas. Tapi menurutku, tidak bisa begitu. Apolos dan Paulus memang disebut dalam perpecahan di Korintus, tapi bukan karena mereka bertentangan dalam ajaran.

Andreas:
Tapi di 1 Korintus 1:12, Paulus jelas menegur mereka yang berkata, "Aku dari golongan Paulus," atau "Aku dari golongan Apolos," atau "Aku dari golongan Kefas," atau bahkan "Aku dari golongan Kristus." Bukankah ini menunjukkan adanya kubu-kubu yang bersaing?

Stefanus:
Iya, memang ada kelompok-kelompok yang terbentuk, tapi masalahnya bukan karena Apolos dan Paulus berbeda doktrin. Jemaat Korintus yang keliru, mereka lebih mengutamakan sosok pengkhotbah daripada fokus kepada Kristus sendiri. Paulus menegaskan dalam ayat 13, "Adakah Kristus terbagi-bagi?" Ini teguran keras, bukan kepada Apolos, tapi kepada umat yang terlalu fanatik terhadap pemimpin tertentu.

Andreas:
Hmm, jadi sebenarnya mereka berdua tidak bertentangan dalam ajaran?

Stefanus:
Betul. Malah di 1 Korintus 3:6, Paulus menjelaskan dengan indah, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja sama dalam pewartaan Injil. Kalau ada yang membandingkan mereka atau menganggap salah satu lebih hebat dari yang lain, itu bukan kesalahan mereka, tapi kesalahan jemaat yang masih belum dewasa secara rohani.

Andreas:
Baiklah, aku mengerti sekarang. Tapi kalau begitu, kenapa ini tidak bisa dikaitkan dengan perpecahan Katolik dan Protestan? Kan di sana juga ada kubu-kubu yang berbeda pandangan.

Stefanus:
Perbedaannya terletak pada ajarannya. Apolos dan Paulus tetap sejalan dalam iman yang satu, sedangkan Reformasi Protestan di abad ke-16 benar-benar membawa perubahan doktrinal yang signifikan. Martin Luther, misalnya, menolak beberapa ajaran Gereja Katolik seperti otoritas Tradisi Suci dan pentingnya perbuatan dalam keselamatan. Itu sebabnya lahir prinsip sola scriptura dan sola fide, yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.

Andreas:
Jadi, kalau di Korintus masalahnya lebih kepada kefanatikan terhadap figur tertentu, sedangkan di Reformasi masalahnya lebih kepada perbedaan doktrinal yang mendasar?

Stefanus:
Persis. Jika Apolos dan Paulus masih dalam satu iman dan pelayanan yang sama, Luther dan Gereja Katolik akhirnya terpisah karena perbedaan fundamental dalam ajaran. Jadi, Apolos dan Paulus tidak bisa dianggap sebagai tanda awal dari perpecahan Katolik dan Protestan, karena mereka tetap bersatu dalam Kristus.

Andreas:
Wah, ini benar-benar membuka wawasan. Jadi, pesan utama dari kisah Apolos dan Paulus itu bukan tentang perpecahan, tapi tentang bagaimana kita harus menjaga kesatuan dalam iman meskipun ada perbedaan dalam cara pewartaan.

Stefanus:
Tepat sekali! Jangan sampai kita terjebak dalam fanatisme buta terhadap pemimpin atau pengkhotbah tertentu, seperti yang terjadi di Korintus. Yang paling penting adalah tetap berpegang pada Kristus.

Andreas:
Terima kasih, Stefanus. Aku jadi lebih paham sekarang.

(Mereka tersenyum dan berjalan bersama ke kantin, masih berdiskusi tentang sejarah Gereja dengan semangat.)

Senin, 03 Maret 2025

Kapal yang Tidak Pernah Tenggelam: Visi Thomistik tentang Kesempurnaan (Indefectibilitas) Gereja

Bayangkan sebuah kapal, tidak dibuat oleh tangan manusia, tetapi dirancang oleh Arsitek Ilahi itu sendiri. Kapal ini, yang dibangun untuk keselamatan jiwa, berlayar melintasi lautan sejarah yang luas dan penuh badai. Perairan di bawahnya tidak dapat diprediksi—terkadang tenang, terkadang mengamuk—tetapi kapal itu sendiri, meskipun babak belur dan lapuk, tidak akan pernah tenggelam. Mengapa? Karena fondasinya bukan hanya kayu dan besi, juga tidak ditentukan oleh navigasi manusia belaka. Itu ditopang oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada awaknya, sebuah janji yang tak tergoyahkan dari pembangunnya: "Gerbang neraka tidak akan menang melawannya" (Mat 16:18).

Beginilah cara St. Thomas Aquinas memahami Gereja Katolik. Ini bukan hanya sebuah lembaga yang dibangun oleh manusia; itu adalah realitas ilahi, sesuatu yang tidak ada dengan sendirinya tetapi berpartisipasi dalam kehidupan Kristus, yang Berada Sendiri (Ipsum Esse Subsistens). Aquinas, mengikuti prinsip-prinsip metafisik yang ia warisi dari Aristoteles dan wahyu Kristen, melihat semua makhluk ciptaan menerima keberadaannya dari Tuhan, yang adalah satu-satunya kepenuhan Keberadaan. Jika Gereja benar-benar adalah Tubuh Mistik Kristus, maka ia juga mengambil bagian dalam realitas ilahi ini. Jika Kristus kekal, maka Gereja—Tubuh-Nya—juga harus tidak cacat.

Tapi apa yang dimaksud dengan ketidakcacatan ? Itu tidak berarti bahwa anggota individu Gereja—baik itu paus, uskup, imam, atau awam—tidak mampu melakukan kesalahan atau dosa. Sejarah, seperti yang diketahui Aquinas dengan baik, penuh dengan kegagalan, korupsi, dan kelemahan moral di dalam jajaran Gereja. Namun, terlepas dari kegagalan ini, sesuatu yang luar biasa telah terjadi: Gereja tidak pernah berhenti menjadi Gereja.


Peran Penyelenggaraan Ilahi: Mengapa Gereja Tidak Bisa Gagal

Aquinas mengajarkan bahwa providentia Dei pemeliharaan Allah mengarahkan segala sesuatu ke tujuan yang tepat (ST I, q. 22, a. 1). Setiap realitas yang diciptakan, dari sehelai rumput terkecil hingga malaikat terbesar, ada dan beroperasi sesuai dengan rencana kekal Allah. Tetapi jika pemeliharaan Allah mengatur segala sesuatu, apalagi itu harus mengatur Gereja-Nya sendiri, sarana yang Dia tetapkan untuk keselamatan umat manusia?

Jika Gereja bisa gagal—jika bisa jatuh ke dalam bidaah total, dihancurkan, atau kehilangan sifat esensialnya—ini akan menyiratkan bahwa:

1. Pemeliharaan Tuhan tidak efektif, yang berarti bahwa Dia menghendaki Gereja untuk bertahan tetapi tidak dapat memastikannya.

2. Tuhan mengubah pikiran-Nya, membiarkan Gereja runtuh meskipun telah menetapkannya sebagai alat keselamatan.

Keduanya tidak mungkin. Tuhan, seperti yang dijelaskan Aquinas, tidak berubah (immutabilis) dan kehendak-Nya selalu efektif (ST I, q. 19, a. 3). Apa yang Allah tetapkan, Dia menggenapinya. Jika Kristus sendiri mendirikan Gereja dan memberinya janji-Nya, maka itu harus bertahan, bukan dengan kekuatan manusia, tetapi dengan kausalitas ilahi.

Inilah sebabnya mengapa ketidakcacatan Gereja bukan hanya harapan teologis – itu adalah kebutuhan logis. Tuhan yang sama yang menopang kosmos dan memastikan bahwa matahari terbit setiap hari telah menghendaki agar Gereja menjadi sarana keselamatan sampai akhir zaman.


Visibilitas Gereja dan Ordo Sakramental

Aquinas jelas bahwa kasih karunia dibangun di atas natura (ST I, q. 1, a. 8; I-II, q. 110, a. 2). Tuhan tidak menghancurkan tatanan alami tetapi menyempurnakannya. Ini berarti bahwa Gereja bukan hanya realitas tak terlihat yang hanya diketahui oleh Allah—itu adalah masyarakat historis yang terlihat yang harus bertahan sepanjang waktu.

Jika Gereja menghilang atau menjadi realitas yang sepenuhnya tersembunyi, apa yang akan terjadi pada sakramen-sakramen, yang merupakan sarana yang dengannya Kristus membagikan rahmat? Sakramen-sakramen—baptisan, Ekaristi, pengakuan, dan sisanya—membutuhkan Gereja yang terlihat dan terstruktur untuk menyelenggarakannya. Jika Gereja dapat berhenti ada, ini berarti bahwa pekerjaan pengudusan Kristus akan terganggu, yang bertentangan dengan alasan Inkarnasi-Nya.

Oleh karena itu, ketidakcacatan Gereja menuntut tidak hanya bahwa Gereja tidak pernah jatuh, tetapi juga bahwa Gereja selalu terlihat dan beroperasi secara sakramental. Kapal mungkin bertahan dalam badai, tetapi akan selalu mengapung, membimbing jiwa-jiwa ke tujuan akhir mereka.


Kristus sebagai Kepala Gereja: Sumber Kesempurnaan

Aquinas berbicara secara luas tentang Kristus sebagai Kepala Gereja (ST III, q. 8, a. 1). Sama seperti tubuh yang hidup menerima kehidupan dan arahan dari kepalanya, demikian pula Gereja menerima bimbingan, kekuatan, dan kekudusannya dari Kristus.

Ini berarti bahwa bahkan ketika anggota Gereja tertentu—paus, uskup, atau orang awam—gagal dalam tugas mereka, Gereja secara keseluruhan tidak dapat dirusak. Mengapa? Karena kehidupannya yang sejati bukan berasal dari anggota manusianya, tetapi dari Kristus sendiri.

Bayangkan sebuah pohon dengan cabang-cabang yang sakit. Beberapa bagian pohon mungkin layu, tetapi selama akarnya tetap hidup, pohon itu sendiri tidak akan pernah mati. Hal yang sama berlaku untuk Gereja. Anggota-anggotanya mungkin jatuh, para pemimpinnya mungkin salah, tetapi Kristus tetap menjadi akarnya dan sumber kehidupannya.


Krisis, Bidaah, dan Pemurnian Gereja

Sejarah dipenuhi dengan saat-saat krisis besar dalam Gereja—saat-saat ketika bidaah tampaknya mengejar umat beriman, ketika korupsi dalam hierarki merajalela, ketika bahkan paus gagal dalam tugas moral dan teologis mereka.
Selama krisis Arian, sebagian besar uskup menerima doktrin yang menyangkal keilahian Kristus. Namun, iman yang benar dipelihara dan akhirnya menang.
Selama Skisma Barat Besar, beberapa penggugat kepausan menyebabkan kebingungan besar-besaran, tetapi Gereja akhirnya muncul bersatu.
Selama Reformasi, seluruh bangsa memisahkan diri dari Gereja, namun iman Katolik bertahan dan diperbarui melalui Kontra-Reformasi.

Masing-masing krisis ini tampaknya, pada saat itu, seperti ancaman eksistensial bagi Gereja. Namun, dalam setiap kasus, Gereja tidak hanya bertahan tetapi juga muncul lebih kuat.

Aquinas akan mengatakan bahwa inilah tepatnya bagaimana Tuhan mengizinkan kejahatan demi kebaikan yang lebih besar (ST I, q. 22, a. 2). Pencobaan Gereja bukanlah tanda-tanda kehancurannya tetapi pemurniannya. Seperti emas dalam tungku, Gereja dimurnikan oleh penderitaan, tetapi tidak pernah hangus terbakar.


Kesimpulan: Realitas Gereja yang Tak Tergoyahkan

Bagi Aquinas, ketidakcacatan Gereja sama pastinya dengan keberadaan Tuhan itu sendiri. Ini adalah kebutuhan logis, konsekuensi dari pemeliharaan ilahi, dan perpanjangan dari kehidupan Kristus sendiri yang tidak dapat dihancurkan.

Badai akan datang. Kru mungkin goyah. Kapal mungkin dihantam ombak, dan anggota-anggotanya mungkin putus asa. Tetapi kapal itu sendiri tidak akan pernah tenggelam, karena itu dibangun oleh Tuan laut, dan firman-Nya tidak boleh gagal.

Selama Kristus tetap ada, demikian pula Gereja-Nya—mercusuar kebenaran, perlindungan bagi orang-orang berdosa, dan bejana yang akan membawa jiwa-jiwa pulang dengan selamat.


Sabtu, 01 Maret 2025

Apakah pandangan Ortodoks Timur tentang Gereja mencabik-cabik mereka? (Autocephaly & Patriarkat)

Seperti yang mungkin diketahui banyak orang,ada perpecahan dalam Ortodoks Timur pada 2018/2019, ketika Gereja Ortodoks Rusia (Patriarkat Moskow) mengadakan sinode yang memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan Patriarkat Konstantinopel (Patriarkat Ekumenis). Penyebabnya adalah bahwa EP percaya bahwa mereka memiliki wewenang untuk memberikan "Autocephaly" kepada gereja-gereja di Ukraina (yang diklaim oleh anggota parlemen itu adalah wilayah Rusia), sementara anggota parlemen itu mengatakan EP tidak memiliki otoritas sepihak seperti itu. Meskipun kita seharusnya tidak senang dengan peristiwa seperti itu, itu menyediakan beberapa materi apologetika Katolik ketika berhadapan dengan Ortodoks Timur. Berikut adalah beberapa hal untuk direnungkan.


Pertama-tama, apa artinya sebenarnya memiliki 'perpecahan' di dalam 'Gereja' EO?Sebagian besar Gereja Ortodoks Timur (EOC) pada dasarnya terbagi di sepanjang perbatasan nasional, dan secara efektif menjalankan diri mereka sendiri secara terpisah, sehingga masing-masing pada dasarnya adalah Gereja nasional/regional yang independen sendiri. (Haruskah kita benar-benar menyebutnya "Gereja" daripada "Gereja", karena mereka secara teknis bukan satu Tubuh?) Dalam sistem EO, oleh perpecahan Ukraina ini dan yang lain dalam sejarah mereka, tampaknya adalah mungkin bagi kelompok Kristen untuk mempercayai hal-hal yang pada dasarnya sama, namun tidak berada dalam Komuni. Tetapi tidak berada dalam Komuni seharusnya tidak duduk dengan orang Kristen, karena perpecahan dikutuk dalam Kitab Suci dan Tradisi. Jadi perpecahan itu serius dan itu harus berarti sesuatu. Tapi apa? Tampaknya Ortodoks tidak dapat menjelaskan hal ini, terutama ketika menyangkut orang-orang percaya di bangsa-bangsa yang telah berpisah dari bangsa mereka sebelumnya.

Untuk lebih memperumit keadaan, tidak semua Gereja Ortodoks Timur lainnya memihak dalam perpecahan 2018 ini, jadi semua EOC lainnya tetap berada dalam Persekutuan dengan EP dan MP. Jadi, sekali lagi, apa arti sebenarnya dari 'perpecahan' dalam paradigma EO? Rupanya, EOC lain ini melihat masalah yang lebih besar bagi Ortodoks Timur yang akan terjadi jika mereka memutuskan untuk memihak: semacam 'perpecahan besar' lainnya, yang pada titik ini tampaknya mengubah "Ortodoks Timur" menjadi Ortodoks Timur Laut yang muncul versus Ortodoks Tenggara.

Dari sini, umat Katolik menyadari bahwa Kepausan bukan hanya tentang mengajarkan Doktrin, tetapi juga sumber Kesatuan. Kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan perpecahan yang didasarkan pada siapa yang bersekutu dengan Kepala, Paus. Tanpa kepala, tidak akan ada 'perpecahan' dalam arti apa pun yang berarti. Dengan tidak adanya prinsip penyatuan yang terlihat yang melintasi perbatasan negara, dengan demikian kita dapat melihat kesalahan yang mencolok dengan pemahaman EO tentang "Gereja".

Kedua, apa itu Patriarkat dan Autocephaly?

Definisi EO tentang Patriarkat adalah Gereja nasional/regional yang "independen" dengan uskup kepala (Patriark) yang tidak menjawab Patriark lainnya. Memegang status 'pemerintahan mandiri yang independen' ini disebutAutocephalydi dunia EO, dengan status Patriarkat menjadi status Autocephaly yang lebih maju. Tetapi gagasan EO tentang Autocephaly penuh dengan banyak masalah dan inkonsistensi, dan saya berpendapat itu bahkan bukan konsep yang valid, dan tidak ada yang secara resmi diajarkan di Gereja Mula-mula. Pertama, bagaimana Gereja pada dasarnya 'dibebaskan' seperti ini, sehingga mereka tidak lagi tunduk pada 'orang tua' mereka? Itu tidak sesuai dengan gagasan Patriarki dalam Alkitab, di mana kepala sekolah selalu menjadi kepala keluarga, tidak peduli berapa usia dan "mandiri" anak-anaknya atau ukuran keluarga mereka. Ini menjadi lebih merepotkan ketika kita menyadari bahwa "Gereja" ini didirikan di sepanjang perbatasan negara, yang berarti bahwa mereka sangat dipengaruhi oleh politik, terutama ketika satu negara berperang dengan negara lain, ketika perbatasan digambar ulang, dll. Jika Anda melihat peta masing-masing Gereja Autocephalous, yang sebagian besar relatif kecil dalam luas daratan, peta tersebut pada dasarnya adalah pemisahan dari Patriarkat asli yang lebih besar. Bagaimana fragmentasi ini benar-benar bersaksi tentang Kesatuan satu Gereja? Pandangan tradisional dan historis dari Patriarkat adalah bahwa Paus mendelegasikan uskup tertentu untuk mengepalai wilayah tertentu. Dengan demikian, Patriarkat historis yang sebenarnya tidak pernah memegang gagasan 'dibebaskan' untuk memerintah dirinya sendiri tanpa harus menjawab atau terikat pada sesuatu yang lebih tinggi (misalnya Paus).

Ketiga, bagaimana Autocephaly secara historis terjadi?

Masalah yang paling jelas dengan Autocephaly adalah bahwa EO tidak dapat menyetujui bagaimana hal itu terjadi, terutama siapa yang memiliki 'wewenang untuk memberikan autosefali'. Ada yang mengatakan Dewan diperlukan. Tetapi di mana Konsili mengatakan ini, dan apakah itu Konsili Ekumenis atau hanya lokal? Jika Anda melihat sejarah autosefali dalam sejarah Ortodoks, tampaknya selalu diberikan oleh hanya satu Patriark, jarang oleh Konsili besar. Tapi bahkan kemudian ada rahasia kecil kotor yang terjadi yang tidak ada yang benar-benar membicarakannya. Pertama-tama, sebagian besar Gereja Autocephalous diciptakan hanya dalam beberapa abad terakhir, yang berarti bahwa tidak ada Konsili Ekumenis yang terlibat. Mereka biasanya diciptakan ketika bagian dari wilayah Patriarkat yang ada diambil alih oleh pemerintah baru, menyebabkan negara berdaulat baru terbentuk. Di dalam bangsa baru itu, karena Gereja dan Negara sering terikat erat, itu berarti Negara baru membutuhkan Gereja yang setia untuk bersatu: dengan demikian Gereja baru itu menyatakan dirinya Autocephalous (independen dari gereja/bangsa sebelumnya), dan kadang-kadang menemukan Patriarkat baru untuk perbatasan nasional baru ini - dan cukup sering memaksa induk/Patriarkat asli untuk menerima kondisi baru atau diabaikan. Karena Patriarkat asli/induk tidak memiliki dasar nyata untuk menentang, dan karena mereka ingin mempertahankan kemiripan persatuan, Patriarkat induk/induk asli dengan enggan menyetujui autosefali/patriarkat, seringkali beberapa dekade kemudian.

Anggapdaftar Wiki Gereja Ortodoks utama inidan ketika mereka didirikan:

Gereja Ortodoks Bulgaria(927 M)halaman wikipedia mengatakan:

Setelah dua kemenangan menentukan Bulgaria atas Bizantium di Acheloos, pemerintah menyatakan Keuskupan Agung Bulgaria otonom sebagai otosefal dan mengangkatnya ke pangkat Patriarkat pada dewan gerejawi dan nasional yang diadakan pada tahun 919. Setelah Bulgaria dan Kekaisaran Bizantium menandatangani perjanjian damai pada tahun 927 yang mengakhiri perang selama 20 tahun di antara mereka, Patriarkat Konstantinopel mengakui status autocephalous Gereja Ortodoks Bulgaria dan mengakui martabat patriarkinya. Patriarkat Bulgaria adalah Gereja Ortodoks Slavia yang pertama, mendahului autocephaly Gereja Ortodoks Serbia (1219) selama 300 tahun dan Gereja Ortodoks Rusia (1596) sekitar 600 tahun. Itu adalah Patriarkat keenam setelah Patriarkat Pentarki Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem.

Apa yang menarik tentang "kasus pertama" Autocephaly di Eropa Timur ini adalah bahwa ia didirikan di atas perpecahan dan perang. Patriarkat Konstantinopel tidak ingin kehilangan wilayah, begitu pula Kekaisaran Bizantium, dan hanya setelah kalah dalam perang 20 tahun induknya dipaksa untuk 'mengakui' fakta bahwa Bulgaria menyatakan dirinya merdeka dari Konstantinopel. Perhatikan bahkan bahasa pasif "mengenali" dan "mengakui" daripada memberikan izin asli. Ini jauh dari citra damai yang biasa kita pikirkan, di mana Ortodoks Timur sangat mengasihi satu sama lain sehingga mereka tidak sabar menunggu satu gereja regional menjadi dewasa sehingga orang tua dapat membebaskannya untuk berkembang sendiri.

Tetapi bahkan itu bukan cerita lengkapnya, artikel wiki mencatat sejarah yang bergejolak untuk Dewan Komisaris:

  • Pada tahun 1018, Bizantium menaklukkan kembali Bulgaria, dan melucuti gelar Patriark mereka.
  • Pada tahun 1185, Kekaisaran Bulgaria Kedua didirikan oleh dua bersaudara yang memberontak dari Bizantium. Mengikuti "prinsip bahwa kedaulatan negara terkait erat dengan autosefali Gereja, kedua bersaudara itu segera mengambil langkah-langkah untuk memulihkan Patriarkat Bulgaria."
  • Karena mereka tidak dapat mencapai status Patriarkat dengan pergi ke Konstantinopel, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam persatuan dengan Roma, untuk memberi mereka status yang lebih tinggi. Dari tahun 1203-1235, mereka bersatu dengan Roma, sampai EO menawarkan mereka kesepakatan yang lebih baik, dan dengan demikian Konstantinopel dan Patriark Timur lainnya memberi mereka status Patriark. Dengan demikian Bulgaria memutuskan persatuan dengan Roma.
  • Pada tahun 1393, Kekaisaran Utsmaniyah menaklukkan Bulgaria, mengakhiri otosefali Bulgaria, dan mensubordinasikan Bulgaria ke Patriark Konstantinopel. Ini dilakukan agar Ottoman dapat lebih mudah mengendalikan Gereja.
  • Pada tahun 1870, Utsmaniyah memberi Bulgaria status Patriarki yang menarik yang disebut "Eksarkat Bulgaria," yang segera dinyatakan oleh Patriark Konstantinopel sebagai tindakan skismatis dan sesat oleh Bulgaria.
  • Pada tahun 1913, ketika Perang Dunia 1 telah mengakhiri Kekaisaran Ottoman dan membagi tanahnya, garis nasional sekali lagi digambar ulang. Pada tahun 1953, akhir Perang Dunia 2, Patriark Konstantinopel mencabut perpecahan dan mengakui autocephaly orang Bulgaria.
  • Di bawah Komunisme (1944-1989), partai Komunis menduduki 11 dari 15 kursi Sinode Gereja Ortodoks Bulgaria, dan merekalah yang mendorong status Patriarki terbaru.

Saya tahu beberapa orang akan keberatan bahwa Wikipedia tidak dapat diandalkan, tetapi saya pikir sebagian besar dari Wikipedia dapat diandalkan. Seperti yang Anda lihat bahkan di situs web Dewan Komisaris (Sini), berbagai perang dan perebutan kekuasaan telah terjadi di wilayah ini, mengakibatkan naik turunnya berbagai "edisi" Dewan Komisaris, setiap kali memiliki perbatasan nasional dan ibu kota yang berbeda.

Dari sini juga jelas bagaimana Negara dapat menyeret Dewan Komisaris ke arah mana pun yang diinginkannya. Ottoman menggunakan Patriark Konstantinopel sebagai alat mereka untuk menaklukkan wilayah Bulgaria yang direbut, dan tak lama setelah Kekaisaran Ottoman jatuh dalam Perang Dunia 1, Komunis kemudian mengambil alih, dan mereka mendorong Autocephaly baru, tidak diragukan lagi sebagai cara untuk mempengaruhi/mengendalikan dunia EO secara tidak langsung.

Gereja Ortodoks Georgia (1010)halaman wikipedia mengatakan:

  • Pada abad ke-4 dan ke-5, secara ketat berada di bawah Patriark Antiokhia.
  • Pada tahun 1010, Uskup Agung Iberia diangkat menjadi kehormatan Patriark.
  • Pada tahun 1811, Kekaisaran Rusia menginvasi dan menghapuskan autosefali, dan menjadi tunduk pada Gereja Ortodoks Rusia.
  • Pada tahun 1917, Revolusi Komunis menyebabkan krisis di seluruh Kekaisaran, menyebabkan para uskup Georgia secara sepihak mendeklarasikan autocephaly pada tahun yang sama. Perubahan ini tidak diterima oleh Gereja Ortodoks Rusia.
  • Pada tahun 1943, Gereja Ortodoks Rusia mengakui kemerdekaan Gereja Georgia, mencatat "langkah ini diperintahkan oleh Stalin sebagai bagian dari kebijakan masa perang yang lebih toleran terhadap agama Kristen di Uni Soviet". Kampanye anti-agama baru terjadi setelah Perang Dunia II, dengan korupsi dan infiltrasi oleh Komunis di dalam Gereja Georgia.
  • Pada tahun 1990, Patriark Konstantinopel mengakui dan menyetujui autocephaly Gereja Ortodoks Georgia (yang dalam praktiknya telah dilaksanakan atau setidaknya diklaim sejak abad ke-5). Kemerdekaan Georgia berikutnya pada tahun 1991 melihat kebangkitan besar dalam nasib Gereja Ortodoks Georgia.

Sejarah wiki ini meninggalkan banyak detail, jadi tidak jelas apa yang terjadi pada tahun 1010 untuk mengangkat mereka menjadi Patriarkat, tetapi halaman sejarah menunjukkan ini adalah saat ketika kerajaan bersatu muncul setelah perang saudara. Konon, jelas ada periode penghapusan Autocephaly mereka, dengan infiltrasi Komunis yang serupa untuk kemerdekaan juga. Tidak jelas apa yang terjadi pada tahun 1990 bagi Patriark Konstantinopel untuk "menyetujui autocephaly," tetapi tampaknya terkait dengan kemerdekaan nasional pada tahun 1991. Pelajaran yang dapat diambil dari ini adalah bahwa status autocephaly/patriarkat cukup berantakan, seringkali sepihak, dan sangat terkait dengan politik.

Gereja Ortodoks Serbia (1219, 1346)halaman wikipedia mengatakan:

  • Pada tahun 1219, Gereja Serbia mencapai autocephaly oleh Patriark Konstantinopel. Rincian tidak diberikan, tetapi tampaknya damai dan tertib.
  • Pada tahun 1346, setelah kebangkitan Kerajaan Serbia, bersama dengan kekuatan politiknya, SOC mendeklarasikan dirinya sebagai Patriarkat, tampaknya melalui manuver politik, tanpa izin Konstantinopel.
  • Pada tahun 1350, SOC memiliki kekuatan politik yang cukup sehingga mengambil alih Gunung Athos dan wilayah Yunani, yang menyebabkan ekskomunikasi oleh Patriark Konstantinopel.
  • Pada tahun 1459, Utsmaniyah menaklukkan Kerajaan Serbia, dan ketika Patriark meninggal beberapa tahun kemudian, penggantinya tidak pernah ditunjuk, yang secara efektif mengakhiri Patriarkat. Yurisdiksi kemudian akhirnya diteruskan ke Konstantinopel (seperti yang disukai Ottoman).
  • Pada tahun 1557, melalui manuver politik, Patriarkat dipulihkan.
  • Pada tahun 1766, Serbia bangkit melawan Utsmaniyah, menyebabkan Utsmanyah kembali menghapuskan Patriarkat, sekali lagi mengembalikan yurisdiksi kembali ke Konstantinopel.
  • Pada tahun 1920, setelah Perang Dunia I dan pembubaran Kekaisaran Ottoman, berbagai badan gereja di Serbia disatukan di bawah Patriarkat baru, yang berlanjut hingga hari ini.

Meskipun rincian tidak diberikan tentang Autocephaly asli SOC, tampaknya ini adalah salah satu dari sedikit yang terjadi melalui cara damai murni, dan mendapat izin dari induk Patriarkat Konstantinopel terlebih dahulu. Tetapi menjadi Patriarkat jelas kontroversial, melibatkan apa yang tampaknya menjadi perebutan kekuasaan Gunung Athos dan Yunani, dan tidak disetujui oleh Konstantinopel. Seperti halnya Gereja-gereja timur lainnya, mereka ditaklukkan oleh Utsmaniyah dan tunduk pada Patriark Konstantinopel, yang kemudian dapat memerintah mereka seperti yang diinginkan Utsman. Tidak jelas bagaimana atau apakah Patriark Konstantinopel meratifikasi Patriarkat Serbia 1920, tetapi selama waktu ini Komunisme juga telah mengambil alih wilayah itu dan menyusup, seperti halnya badan-badan EO lainnya.

Gereja Ortodoks Rusia (1448, 1589)halaman wikipedia mengatakan:

  • Gereja Ortodoks Rusia (ROC) berasal dari Kiev (Ukraina) sebagai metropolitan junior dari Patriarkat Konstantinopel. Karena invasi Mongol, Metropolitan Peter memindahkan kediaman dari Kiev ke Moskow pada tahun 1325.
  • Pada tahun 1439, di Konsili Florence, beberapa hierarki Ortodoks dari Bizantium (termasuk Patriark Konstantinopel) serta Metropolitan Isidore dari Moskow, menandatangani persatuan dengan Gereja Romawi. Namun, Pangeran Moskow Vasili II menolak Konsili Florence sehingga Isidore dicopot dari posisinya sebagai seorang murtad. Metropolitan Rusia tetap kosong sebagian besar karena dominasi Uniates di Konstantinopel saat itu.
  • Pada tahun 1448, Jonas diangkat sebagai Metropolitan oleh Konsili Uskup Rusia tanpa persetujuan dari Konstantinopel. Ini terjadi lima tahun sebelum jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 dan menandakan awal dari struktur gereja yang secara efektif independen di bagian Moskow dari Gereja Rusia.
  • Tsar Fyodor menghubungi Patriark Ekumenis, yang "sangat malu karena kekurangan dana," untuk mendirikan tahta patriarki di Moskow. Akibatnya, Metropolitan Ayub Moskow menjadi Patriark pertama Moskow pada tahun 1589, juga membuat Gereja Rusia menjadi autocephalous.
  • Pada tahun 1686, Utsmaniyah menekan Patriark Konstantinopel untuk memindahkan Kota Kiev dari yurisdiksi Konstantinopel ke Moskow. Penyerahan itu membawa jutaan umat beriman Ukraina di bawah pemerintahan Patriark Moskow. Syarat dan ketentuan yang tepat dari penyerahan Kiev Metropolis adalah masalah yang diperdebatkan.
  • Tsar Peter Agung (1682–1725) memiliki agenda modernisasi radikal Rusia. Dia membuat Rusia menjadi kekuatan politik yang tangguh. Petrus tidak religius dan tidak menghormati Gereja, jadi dia menempatkannya di bawah kendali pemerintah yang ketat. Dia mengganti Patriark dengan Sinode Suci dan Tsar menunjuk semua uskup.
  • Pada tahun 1700, setelah kematian Patriark Adrian, Peter Agung mencegah penerus dinamai. Ini tetap terjadi sampai Revolusi Rusia tahun 1917, ketika Dewan Lokal (lebih dari setengah anggotanya adalah orang awam) mengadopsi keputusan untuk memulihkan Patriarki. Metropolitan Tikhon dari Moskow terpilih sebagai Patriark Rusia pertama setelah sekitar 250 tahun pemerintahan Sinodal.
  • Ketika Patriark Tikhon meninggal pada tahun 1925, otoritas Soviet melarang pemilihan patriarki. Patriark pengganti, Metropolitan Sergius pada tahun 1927 mengeluarkan deklarasi yang menerima otoritas Soviet atas gereja sebagai sah, menjanjikan kerja sama gereja dengan pemerintah. Hal ini menyebabkan perpecahan dengan Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia (ROCOR) dan Gereja Ortodoks Sejati Rusia (Gereja Katakombe Rusia) di dalam Uni Soviet. Karena ketidaksepakatan kanonik ini, diperdebatkan gereja mana yang telah menjadi penerus sah Gereja Ortodoks Rusia yang telah ada sebelum tahun 1925.
  • Setelah serangan Nazi Jerman ke Uni Soviet pada tahun 1941, Joseph Stalin menghidupkan kembali Gereja Ortodoks Rusia untuk mengintensifkan dukungan patriotik untuk upaya perang. Sebuah konsili pada tahun 1943 memilih Sergius sebagai Patriark Moskow. Ini dianggap oleh beberapa orang sebagai pelanggaran kanon Apostolik ke-30, karena tidak ada hierarki gereja yang dapat ditahbiskan oleh otoritas sekuler. Pada tahun 1959 Nikita Khrushchev memulai kampanye melawan ROC dan memaksa penutupan sekitar 12.000 gereja. Pada tahun 1985 kurang dari 7.000 gereja tetap aktif. Anggota hierarki gereja dipenjara atau dipaksa keluar, tempat mereka diambil oleh pendeta yang jinak, banyak di antaranya memiliki hubungan dengan KGB.
  • Pada tahun 2017, Dinas Keamanan Ukraina mencabut dokumen rahasia yang mengungkapkan bahwa KGB terlibat dalam pemilihan kandidat untuk berpartisipasi dalam Dewan Lokal 1945. Dalam surat yang dikirim pada bulan September 1944, ditekankan: "Penting untuk memastikan bahwa jumlah kandidat yang dinominasikan didominasi oleh agen-agen KGB, yang mampu mempertahankan garis yang kita butuhkan di Dewan". Pada tahun 1991, Patriark Alexy II mengakui bahwa kompromi dibuat dengan pemerintah Soviet oleh para uskup Patriarkat Moskow, termasuk dirinya sendiri, dan secara terbuka bertobat dari kompromi ini.
  • Persaingan tradisional Patriarkat Moskow dengan Konstantinopel menyebabkan ROC tidak menghadiri Konsili Agung Suci [pada tahun 2016] yang telah disiapkan oleh semua Gereja Ortodoks selama beberapa dekade. (Sekarang diperdebatkan di antara EO apakah Konsili Kreta 2016 bahkan mengikat sama sekali, dengan Konstantinopel bersikeras bahwa itu mengikat semua Ortodoks, sementara banyak Ortodoks mengabaikan Kreta.)
  • Sinode Suci ROC, pada sidangnya pada 15 Oktober 2018, memutuskan persekutuan penuh dengan Patriarkat Ekumenis Konstantinopel karena PoC memberikan autocephaly kepada Gereja Ortodoks Ukraina tanpa izin ROC.
  • ROC mengklaim yurisdiksi eksklusifnya atas umat Kristen Ortodoks yang tinggal di bekas republik anggota Uni Soviet. Ini juga menjalankan yurisdiksi gerejawi atas Jepang dan Cina.
  • ROC sekarang (sejak 2019) berpecah dengan Patriark Aleksandria (serta perpecahan dengan Gereja Ortodoks Yunani dan Gereja Ortodoks Kreta) karena mendukung Patriark Konstantinopel. ROC bahkan mendirikan gereja-gereja misi di Afrika dan memberi tahu para imam Aleksandria untuk berada di bawah otoritas Moskow. Ini adalah berita yang sangat besar.

Seperti kebanyakan Patriarkat lainnya, Gereja Ortodoks Rusia memiliki cerita mereka sendiri yang panjang dan kusut. Pada dasarnya, ROC muncul ketika politisi Rusia menolak untuk menerima Konsili Florence pada tahun 1439 dan mulai menunjuk pemimpin mereka sendiri. Tak lama setelah Florence, Konstantinopel jatuh ke tangan Utsmaniyah, sehingga Patriark Konstantinopel tidak dapat lagi dengan mudah memerintah Eropa Timur. Dengan Konstantinopel yang tidak mampu, ini pada dasarnya memungkinkan ROC lebih banyak ruang untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan, termasuk semacam penyuapan keuangan bagi Konstantinopel untuk memberikan autosefali pada tahun 1589. Pada tahun 1686, Ottoman menekan Konstantinopel untuk menyerahkan yurisdiksinya atas Kiev/Ukraina, sehingga menyerahkan jutaan Gereja Ukraina ke ROC, yang merupakan keputusan yang sangat kontroversial terutama sekarang. Sejarah ROC adalah contoh yang baik mengapa doktrin Autocephaly adalah bencana, tidak logis, dan bukan bagian dari Kekristenan sejati. Penaklukan para pemimpin Utsmaniyah ini adalah mengapa Konstantinopel berubah dari awalnya menguasai seluruh Eropa Timur (atas perintah dan kekuasaan Kaisar Bizantium) menjadi sekarang secara bertahap kehilangan semua wilayah ini, mengurangi jangkauannya menjadi hanya 1% dari yurisdiksi aslinya.

Dan seperti Gereja-gereja Ortodoks Timur lainnya, kita dapat melihat seberapa besar kekuasaan yang dimiliki Negara dalam memutuskan kebijakan, terutama upaya reunifikasi. Sama seperti Patriark Konstantinopel yang menjadi alat penguasa Ottoman selama berabad-abad, ROC telah sangat ditaklukkan di bawah Tsar Rusia dan terutama di bawah kekuasaan Soviet. 

Halaman wiki Gereja Ortodoks Rumania (1925) mengatakan:

  • Wilayah Rumania berada di bawah otoritas Konstantinopel sampai tahun 1865, ketika otoritas politik Rumania mengklaim kemerdekaan dari Konstantinopel dan menyita gereja-gereja di Rumania.
  • Setelah pengakuan internasional atas kemerdekaan sebagai sebuah bangsa, Rumania kemudian dapat meminta Patriark Konstantinopel untuk memberi mereka Autocephaly pada tahun 1885 (rincian tidak diberikan), dan setelah Perang Dunia 1 dinaikkan ke status Patriarkat pada tahun 1925 (rincian tidak diberikan).
  • Setelah Perang Dunia 1 membebaskan sebagian besar Eropa Timur dari kekuasaan Ottoman dan meninggalkan banyak wilayah untuk mendeklarasikan kemerdekaan, Rumania meningkatkan perbatasan nasionalnya, dan juga merebut/menyerap gereja-gereja tersebut di wilayah yang baru diperoleh. Ini menunjukkan betapa EO terikat dengan perbatasan nasional dan dorongan modern untuk "kemerdekaan nasional".
  • Pada tahun 1948, setelah Rumania diambil alih oleh Soviet, mereka melarang dan menyerap 2.500 bangunan gereja milik Rumania Katolik Timur, dan dengan demikian sebagian besar mengakhiri kehadiran Katolik di Rumania. Itu sangat mengecewakan mendengar, bahwa ribuan paroki Katolik Timur pada dasarnya dicuri dan tampaknya tidak pernah dibebaskan (di sini), meskipun dalam keadilan sebagian besar bangsa telah menjadi ateis atau dianiaya secara parah karena pendudukan Soviet.
  • Ulama Rumania telah mengaku bekerja sama dengan Soviet

Narasi orang Rumania ini tampaknya mengikuti narasi Autocephaly/Patriarki yang khas dari badan-badan EO lainnya.

Halaman Wiki menghitung lima di atas sebagai "Patriarkat Junior", berbeda dengan patriarkat senior yang merupakan Lima (Empat) Patriark asli dari Konsili Ekumenis awal. Daftar Wiki kemudian masuk ke daftar Gereja EO Autocephalous yang belum (belum) Patriarkat:

  • Gereja Ortodoks Siprus, mengklaim sebagai autocephalous dari Antiokhia sejak 431 M melalui dekrit Konsili Ekumenis Efesus, tetapi ini ambigu apakah Antiokhia pernah bertanggung jawab, dan sejauh mana ia autocephalous dari badan lain.
  • Gereja Ortodoks Yunani, pada tahun 1883 para pemimpin politik membentuk bangsa Yunani dan memisahkan diri dari Konstantinopel dan menyatakan dirinya autocephalous. Pada tahun 1850, wiki mengatakan Konstantinopel "akhirnya mengakui" status autocephalous "dalam kondisi kompromi". Ini terdengar seperti narasi khas dari (a) bangsa baru membentuk dan menyatakan dirinya dan gereja lokal "merdeka" dari otoritas sebelumnya, (b) menuntut untuk diakui sebagai "autocephalous" dan hidup seperti itu bahkan jika orang tua menolak, dan (c) akhirnya "diakui" sebagai autocephalous karena beberapa alasan strategis politik.
  • Gereja Ortodoks Albania, setelah kemerdekaan nasional pada tahun 1912, Gereja Ortodoks Albania menyatakan dirinya otosefalus pada tahun 1922 dengan memisahkan diri dari Konstantinopel, dan Konstantinopel mengakui hal ini pada tahun 1937. Tidak ada rincian yang diberikan, tetapi ini tentu saja mengikuti narasi standar. Wilayah yang dikenal sebagai Albania awalnya berada di bawah yurisdiksi Roma, sampai dipindahkan ke Constintinople pada tahun 732. Pada pertengahan 1800-an, Ottoman bertanggung jawab atas Albania dan memaksa wajib militer pada non-Muslim, yang mendorong sebagian besar Albania untuk masuk Islam sehingga mereka tidak harus berperang dalam perang. 
  • Gereja Ortodoks Polandia, pemerintah Polandia menyatakan dirinya sebagai penguasa Gereja Polandia pada tahun 1922, secara efektif membuat Ortodoks Polandia menjadi otosefalus setelah kemerdekaan Polandia seperti yang biasa terjadi setelah Perang Dunia I. Wilayah ini awalnya berada di bawah otoritas Rusia, tetapi selama tahun 1920-an Gereja Ortodoks Rusia dianiaya secara kejam oleh Soviet, dan dengan demikian membuat orang-orang Kristen Ortodoks di wilayah Polandia agak yatim piatu. Patriark Moskow tidak  menerima pemisahan Gereja Ortodoks Polandia. Patriark Konstantinopel yang melihat dirinya sebagai otoritas di Ukraina dan wilayah Eropa Timur ini, sehingga Konstantinopel menyatakannya sebagai autocephalous pada tahun 1924, tetapi ini ditolak oleh Moskow. Situasi ini sangat mirip dengan perpecahan saat ini atas Gereja Ortodoks Ukraina pada tahun 2018. Pada tahun 1948, setelah Uni Soviet mengambil alih Polandia, maka Ortodoks Rusia mengakui autocephaly-nya.
  • Gereja Ortodoks Ceko/Slovakia, mengikuti narasi khas garis nasional yang berubah setelah Perang Dunia 2 dan kebangkitan Uni Soviet di daerah ini, Patriark Moskow memberikan autocephaly pada tahun 1951, tetapi Patriark Konstantinopel mengklaim otoritas di wilayah ini dan tidak mengakui autocephaly sampai tahun 1998. Pada tahun 1950, Komunis berkuasa di wilayah ini dan memaksa gereja-gereja Katolik untuk meninggalkan Roma dan berada di bawah otoritas Patriark Moskow. Selama era Soviet, banyak yang menuduh Patriark Moskow sebagai alat boneka Soviet.
  • Gereja Ortodoks di Amerika, berasal dari misionaris Ortodoks Rusia menyeberang ke Alaska pada pertengahan 1700-an, dan Gereja Ortodoks Rusia mengklaim otoritas atas seluruh Amerika Serikat melalui Amerika Serikat yang membeli Alaska pada tahun 1867. Paroki Ortodoks pertama di Amerika Serikat berada di San Francisco pada tahun 1868. ROC memberikan otosefali "Gereja Ortodoks di Amerika" pada tahun 1970, sementara KGB Soviet mengendalikan ROC. Beberapa Gereja Ortodoks Timur, termasuk terutama Patriark Konstantinopel, tidak mengakui autocephaly ini. Tragisnya, karena Uskup Latin tertentu di Negara-negara Bersatu memperlakukan orang Katolik Timur di Negara-negara Bersatu pada tahun 1800-an/1900-an, banyak umat Katolik Timur meninggalkan Roma dan bergabung dengan Ortodoks. Jika bukan karena perilaku buruk Uskup Roma seperti John di Minnesota, kita tidak akan memiliki 100.000 umat Katolik Timur di AS untuk bergabung dengan Ortodoks Timur di AS.
  • Gereja Ortodoks di Ukraina, yang terbaru dan paling diperebutkan, diakui sebagai autocephalous pada tahun 2018 oleh Patriark Konstantinopel, dan oleh Gereja Yunani dan Patriark Alexandria pada tahun 2019, dan Gereja Siprus pada tahun 2020. Patriark Moskow adalah lawan terbesar dari ini, dan telah mengucilkan siapa pun yang menerima autocephaly Ukraina. Masalah ini sangat mungkin didasarkan pada geo-politik, terutama AS yang mengganggu Rusia, serta Patriark Konstantinopel yang kesal pada Rusia karena Rusia memboikot Konsili Kreta 2016. Sementara situasi serupa sebelumnya telah terjadi, ini sejauh ini yang paling berdampak, karena ROC telah kehilangan jutaan anggota dengan kehilangan Ukraina. Jika narasi standar itu benar, ROC pada akhirnya akan "mengakui" autocephaly Ukraina. 

Akhirnya, Wiki memiliki entri tentang berbagai Gereja Ortodoks Timur "otonom", juga dibagi di sepanjang garis nasional. Gereja otonom selangkah lebih jauh dari menjadi Autocephalous, dan banyak artikel menyarankan pemberian otonomi adalah cara untuk menenangkan bangsa itu dari menuntut autocephaly. Beberapa gereja otonom Ortodoks Timur yang patut diperhatikan meliputi:

  • Gereja Ortodoks Estonia, sebuah bekas Republik Soviet kecil, setelah kemerdekaan nasional pada tahun 1993 dan pada tahun 1996 dinyatakan otonom oleh Konstantinopel (dan di bawah otoritas Konstantinopel), tetapi ditolak oleh Moskow. Hal ini menyebabkan Moskow mengucilkan Konstantinopel pada tahun 1996, dengan alasan yang sama dengan perpecahan Ukraina saat ini.
  • Gereja Ortodoks Finlandia, setelah mendeklarasikan kemerdekaan nasional dan gereja dari ROC dan Uni Soviet pada tahun 1917, pada tahun 1923 dinyatakan otonom oleh Konstantinopel (dan di bawah otoritas Konstantinopel), tetapi ditolak oleh Moskow meskipun tampaknya disetujui pada tahun 1957.
  • Gereja Ortodoks Cina, Jepang, dan Korea - otonomi masing-masing negara diberikan pada tahun 1900-an oleh Moskow atau Konstantinopel, sementara ditentang oleh yang lain.

Dari survei ini, saya melihat empat tema penting yang berperan dengan perdebatan autosefali: (1) bagaimana gerakan-gerakan ini sebagian besar didorong secara politik, terutama di sepanjang perbatasan negara, biasanya setelah deklarasi kemerdekaan; (2) bagaimana pemberian autocephaly dan patriarki sering tidak dilakukan sampai bertahun-tahun kemudian oleh gereja tetangga 'orang tua', begitu jelas bahwa kelompok yang memisahkan diri tidak akan mematuhi orang tua; (3) bagaimana baru-baru ini dalam sejarah sebagian besar tubuh autocephalous ini muncul, sebagian besar dalam 200 tahun terakhir dan terutama setelah Perang Dunia I dan pengaruh Uni Soviet; dan (4) berapa banyak dari situasi ini yang benar-benar merupakan pertarungan proksi antara EP dan MP. Saya akan menambahkan bahwa betapa sedikit jika salah satu dari situasi autocephaly ini didasarkan pada aturan atau kanon aktual dari Gereja Awal atau Konsili Ekumenis.

Menurut saya, Uni Soviet ingin mendorong Moskow untuk memberikan autosefali, karena autosefali secara efektif adalah perpecahan Kekristenan Eropa Timur menjadi faksi-faksi kecil, dengan anggotanya secara psikologis dikondisikan untuk memprioritaskan identitas nasional/etnis daripada Kekristenan Bizantium. Sementara itu, Konstantinopel ingin memberikan autosefali di bekas wilayah Soviet sebagai cara untuk mengurangi ukuran besar dan pengaruh ROC atas Ortodoks Timur, baik sebagai fleksibilitas kekuasaan atas Moskow dan kekhawatiran (yang sah) bahwa Soviet menggunakan Patriarkat Moskow untuk membatalkan pengaruh dalam Kekristenan Eropa Timur. Tampaknya baik pelenturan EP maupun MP juga untuk mendorong ego mereka, sehingga masing-masing akan tampil sebagai sosok seperti Paus dalam Ortodoks Timur. Perpecahan ini juga telah melemahkan suara Kekristenan di dunia, seperti halnya meningkatnya perilaku buruk Kepausan dalam beberapa dekade terakhir. Jadi pihak mana yang benar dalam situasi Ukraina?

Tampaknya kita dikondisikan oleh EP dan MP untuk menganggap ini sebagai pertempuran di mana Patriark memiliki wewenang untuk memberikan autosefali. Kedua belah pihak sangat ingin kita mengabaikan fakta bahwa autocephaly secara historis dan biasanya didorong oleh apa yang ingin dilakukan oleh gereja/politisi nasional lokal. Dengan kata lain, kenyataannya adalah, ROC sendiri awalnya memisahkan diri dan menyatakan autocephaly tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin, dan dengan logika yang sama ini setiap bangsa harus diizinkan untuk memisahkan diri dan menyatakan diri mereka autocephalous juga. Sungguh, apa yang menghentikan mereka? EP dan anggota parlemen tampaknya tidak ingin ada yang menanyakan pertanyaan ini, karena itu akan meledakkan banyak hal. Sampai sekarang, setelah pembebasan Eropa Timur, termasuk MP dan EP setelah Perang Dunia dan pembubaran Uni Soviet, Ortodoks Timur agak terurai, dan sulit untuk melihat kekuatan apa yang dapat menyatukan mereka kembali, kecuali mungkin EP Bartholomew disingkirkan dan pemimpin pro-MP menggantikan Bartholomew di Konstantinopel.

Saya pikir pelajaran besar lainnya di sini adalah bahwa, dengan manipulasi politik yang begitu jelas beberapa abad terakhir, termasuk Ortodoks Timur yang sebagian besar berada di bawah dominasi Turki Utsenter dari tahun 1450-an sampai mereka diambil alih oleh Komunis hingga 1990, kita pasti dapat secara kredibel mengusulkan bahwa alasan utama tidak ada reuni dengan Roma adalah karena kekuatan politik ini tidak akan mengizinkan Ortodoks Timur ini untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Roma. Otoritas sekuler, terutama mereka yang memusuhi Kekristenan, dapat melihat masalah yang ditimbulkan oleh Gereja Timur dan Barat yang benar-benar bersatu bagi Kerajaan Allah. Dan sekarang dengan pecahnya EO, itu hanya membuat reuni dengan Roma menjadi lebih sulit, karena sekarang Anda harus berurusan dengan lebih banyak pendapat dan tuntutan. Yang terburuk dari semuanya, banyak yang hilang kredibilitas untuk Kekristenan (mirip dengan bagaimana AS telah mempromosikan denominasi di AS untuk melemahkan Protestantisme dan membuatnya tidak relevan).