Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2025

KETIKA GEREJA MENJADI RUMAH: PASTOR, KEPALA DESA, DAN ORANG MUDA DI TANAH FLORES

 




Pendahuluan: Perjalanan Sebagai Ikon Iman

Perjalanan saya dari Kupang menuju Nagekeo lewat Ende awalnya terasa seperti rutinitas pastoral biasa. Namun, semakin jauh roda kendaraan berputar, semakin saya sadari bahwa perjalanan ini adalah ikon kecil tentang Gereja Katolik yang hidup di bumi NTT—sebuah Gereja yang bukan hanya institusi, melainkan denyut nadi masyarakat. Dari Bandara Ende hingga jalan-jalan Nagekeo, saya melihat Gereja hadir sebagai rahim iman, sebagai ruang perjumpaan, sekaligus sebagai terang yang menuntun di tengah kegelapan zaman.

Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13–14). Sabda Yesus itu bukan sekadar hiasan liturgi; ia benar-benar terasa dalam setiap percakapan, senyum, bahkan luka yang saya jumpai selama perjalanan ini.

 

1. Dijemput oleh Pastor, Diantar oleh Kepala Desa

Ketika saya tiba di Bandara Ende, dijemput langsung oleh Pastor Paroki Maunori, RM Ino, saya merasa disambut oleh Gereja sebagai ibu yang setia menunggu anaknya pulang. Kami sempat singgah di Katedral Ende, sebuah jeda singkat yang sarat makna. Gedung itu berdiri sebagai saksi sejarah pewartaan iman Katolik di Flores—sebuah iman yang tidak pernah padam meski badai zaman silih berganti.

Namun yang paling mengena justru cara saya pulang: diantar oleh Kepala Desa Pautola bersama ibunya yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Di sini saya melihat wajah lain dari Gereja: bukan hanya imam di altar, tetapi juga pemimpin masyarakat yang berjuang menjaga kehidupan sehari-hari. Kepala desa berbicara tentang dinamika sosial-politik, sementara sang ibu tentang tantangan pelayanan kesehatan di desa. Saya mendengar dan merasakan, di tanah Flores, Gereja dan masyarakat tidak terpisah. Pastor dan kepala desa, altar dan rumah adat, misa dan musyawarah desa—semuanya saling mengisi.

Refleksi apologetik di sini sederhana: Gereja Katolik bukan enclave eksklusif yang bersembunyi di balik tembok. Ia berjalan bersama umat, sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II: “Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang… adalah juga sukacita dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus” (Gaudium et Spes 1).

 

2. OMK, Relativisme, dan Luka Generasi Digital

Mbay Youth Day menampilkan sukacita orang muda: nyanyian, sorak, dan semangat pelayanan. Namun di balik gegap gempita itu, saya mendengar kabar yang mengiris hati: seorang anggota OMK yang selama ini sangat aktif ditemukan meninggal, dengan dugaan bunuh diri.

Saya terdiam. Bagaimana mungkin seorang muda yang begitu terlibat dalam kegiatan Gereja bisa berakhir dengan jalan segetir itu? Peristiwa ini memperlihatkan wajah ganda generasi digital: enerjik dan kreatif, tetapi sekaligus rapuh dan rentan terhadap relativisme, sekularisme, bahkan nihilisme.

Yohanes Paulus II dalam Christifideles Laici menulis bahwa orang muda sering kali “menjadi korban disorientasi yang ditawarkan dunia modern.” Sementara Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (CV 72) menegaskan: “Kaum muda tidak takut akan tuntutan iman; mereka takut akan hidup tanpa makna.”

Apologetika Katolik hari ini harus mampu menjawab kegelisahan itu. Bukan sekadar membantah Protestantisme atau ateisme, melainkan memperlihatkan bahwa iman Katolik adalah jangkar eksistensial. Bahwa dalam Kristus, hidup manusia bukan kebetulan, melainkan panggilan menuju keselamatan.

Tragedi OMK ini mengingatkan saya bahwa Gereja harus lebih dari sekadar penyelenggara acara. Ia harus menjadi rumah yang memeluk luka, tempat orang muda menemukan makna sejati, bukan sekadar hiburan rohani.

 

3. Kompol Cosmas Ria Pay: Luka Sosial Sebagai Tanda Zaman

Di saat pertemuan OMK berlangsung, berita lain viral di media: Kompol Cosmas Ria Pay, putra Ngada, seorang kembar dari Pater Dami Ria Pay yang juga pernah saya kenal di Seminari, tiba-tiba menjadi sorotan karena kasus hukum dan jabatan.

Nama Cosmas bukan asing bagi banyak orang di Flores. Ia dikenal sebagai anak daerah, seorang aparat, seorang saudara. Tetapi kini ia menjadi headline karena persoalan disiplin institusi. Bagi saya, peristiwa ini lebih dari sekadar isu personal; ia menyingkap luka sosial masyarakat kita. Martabat manusia begitu mudah dipertaruhkan di ruang publik yang keras, di mana hukum, politik, dan gosip bercampur.

Di sinilah Gereja harus berdiri. Apologetika kita tidak bisa hanya berkutat pada dogma abstrak; ia harus berbicara tentang martabat manusia. Fratelli Tutti (FT 11) menegaskan: “Kebenaran tanpa belas kasih menjadi kekerasan; belas kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi murahan.” Kasus Cosmas menjadi kairos: sebuah panggilan bagi Gereja untuk menjadi saksi kebenaran sekaligus rumah belas kasih.

Saya melihat, sebagaimana Gereja menemani keluarga korban bunuh diri dengan penghiburan, demikian pula Gereja harus berani mendampingi mereka yang terpuruk dalam stigma publik.

 

4. Gereja Katolik di NTT: Garam dan Terang yang Tetap Asin dan Menyala

Dari pengalaman dijemput pastor hingga diantar kepala desa, dari sorak OMK hingga kabar duka, dari altar Katedral hingga ruang gosip politik, saya menyadari: inilah wajah Gereja Katolik di NTT. Sebuah Gereja yang asin dan menyala.

Flores, khususnya Nagekeo, dikenal karena “rasa Katoliknya” yang kuat. Tetapi rasa ini bukan sekadar statistik umat atau kemeriahan pesta iman. Rasa ini hadir dalam kehidupan sehari-hari: dalam kesetiaan imam dan suster, dalam kepedulian masyarakat, dalam solidaritas menghadapi tragedi, dan dalam keberanian Gereja berdiri di ruang publik.

Apologetika kita di Indonesia harus menekankan hal ini: kekuatan Katolik bukan hanya pada argumen rasional, melainkan pada kesaksian historis dan sosial. Bahwa Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik benar-benar hidup, menyentuh masyarakat, dan bertahan melampaui ideologi zaman.

 

Penutup: Perjalanan Sebagai Doa

Perjalanan saya ke Nagekeo dan kembali ke Kupang bukan hanya catatan logistik pastoral. Ia adalah doa panjang yang ditulis dengan roda mobil, tawa OMK, air mata duka, dan percakapan sederhana dengan kepala desa.

Saya percaya: Gereja Katolik akan tetap berdiri tegak di bumi NTT dan Indonesia. Ia akan terus melahirkan, memeluk, dan menuntun. Ia akan tetap menjadi rahim yang memberi hidup, rumah yang memberi teduh, dan terang yang tak pernah padam.

Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Sabda ini bukan janji kosong. Saya merasakannya sendiri di tanah Flores: janji itu hidup di altar, di jalan desa, di hati umat, dan dalam kisah-kisah getir sekalipun.

 

Kamis, 13 Maret 2025

AI, Martabat Manusia, dan Relevansi Veritas Sequitur Esse

Prinsip veritas sequitur esse ("kebenaran mengikuti keberadaan") adalah konsep dasar dalam filsafat Thomistik, menegaskan bahwa kebenaran secara intrinsik terikat dengan realitas. Gagasan ini tetap sangat relevan dalam perdebatan etika kontemporer, terutama mengenai kecerdasan buatan (AI) dan implikasinya terhadap martabat manusia, pengambilan keputusan, pendidikan, dan kreativitas. Ketika sistem AI menjadi semakin terintegrasi ke dalam masyarakat, penting untuk mengevaluasi peran mereka dalam terang prinsip-prinsip moral dan metafisik yang objektif untuk memastikan mereka meningkatkan, daripada merusak, martabat manusia dan integritas etika.

 

AI, Martabat Manusia, dan Pengambilan Keputusan Etis

Gagasan Aquinas bahwa kebenaran berakar pada keberadaan menyiratkan bahwa martabat manusia tidak bergantung pada kondisi eksternal seperti kecerdasan atau produktivitas tetapi melekat dalam sifat keberadaan manusia. Sebaliknya, AI, terlepas dari kemampuannya untuk meniru proses kognitif, tidak memiliki esse (keberadaan sejati) dan, akibatnya, martabat intrinsik atau nilai moral. Perbedaan ini sangat penting dalam perdebatan tentang kepribadian dan hak AI. Meskipun AI dapat memproses data dan menghasilkan output, ia tidak memiliki kesadaran diri, kehendak bebas, atau tanggung jawab moral. Mengenali perbedaan ini memastikan bahwa AI tetap menjadi alat untuk kepentingan manusia daripada subjek pertimbangan etis yang salah tempat.

 

Prinsip ini juga berlaku untuk pengambilan keputusan yang digerakkan oleh AI di bidang-bidang kritis seperti hukum, perawatan kesehatan, dan peperangan. AI yang etis harus menghormati martabat manusia dengan memperkuat tanggung jawab moral daripada menggantikan agen manusia. Bias algoritmik dalam kepolisian prediktif, perekrutan otomatis, dan penilaian kredit menyoroti risiko mengandalkan AI tanpa perlindungan etika yang tepat. Karena kebenaran mengikuti keberadaan, sistem AI harus dirancang dengan transparansi dan keadilan agar selaras dengan prinsip-prinsip moral objektif daripada melanggengkan ketidakadilan.

 

AI dan Pendidikan: Tantangan Pembelajaran Holistik

Pendidikan, menurut Aquinas, bukan hanya tentang transmisi informasi tetapi juga penanaman kebijaksanaan dan kebajikan. Alat pembelajaran berbasis AI, meskipun berharga untuk mempersonalisasi pendidikan, tidak boleh menggantikan guru manusia atau mengurangi pendidikan menjadi pengoptimalan algoritmik. Belajar pada dasarnya adalah pengalaman manusia yang melibatkan perjuangan intelektual, dialog, dan pengembangan pemikiran kritis.

 

Selain itu, penilaian berbasis AI dan teknologi pengawasan, jika disalahgunakan, berisiko memperlakukan siswa sebagai titik data daripada individu yang memiliki nilai intrinsik. Penilaian algoritmik dan jalur pembelajaran yang dipersonalisasi harus dikelola dengan hati-hati untuk memastikan mereka mendukung perkembangan intelektual yang otentik daripada menumbuhkan kepasifan atau merusak integritas pendidikan. AI harus digunakan untuk memfasilitasi keterlibatan sejati dengan kebenaran, memperkuat gagasan bahwa pengetahuan harus berakar pada kenyataan daripada pola yang dihasilkan secara artifisial.

 

AI dan Kreativitas: Sastra dan Musik

Salah satu kekhawatiran paling mendesak mengenai AI adalah dampaknya terhadap kreativitas, terutama di bidang-bidang seperti sastra dan musik. Kreativitas, dari perspektif Thomistik, adalah kapasitas unik manusia yang terkait dengan kecerdasan, imajinasi, dan pencarian makna. Meskipun AI dapat menghasilkan teks, menggubah musik, dan menghasilkan seni visual, ia tidak terlibat dalam pemikiran kreatif yang sebenarnya—ia hanya menggabungkan kembali pola yang ada tanpa wawasan asli atau kedalaman emosional.

 

Dalam sastra, cerita dan esai yang dihasilkan AI menantang gagasan tradisional tentang kepenulisan dan orisinalitas. Meskipun AI dapat membantu penulis dalam mengatasi hambatan kreatif atau menghasilkan variasi gaya, ketergantungan yang berlebihan pada konten yang dihasilkan mesin berisiko menipiskan elemen manusia dalam bercerita—kemampuan untuk menyampaikan pengalaman pribadi, refleksi moral, dan maksud artistik. Sastra lebih dari sekadar jumlah kata-katanya; itu adalah media untuk mengekspresikan kompleksitas sifat manusia, sesuatu yang tidak dapat ditiru secara otentik oleh AI.

Demikian pula, dalam musik, alat komposisi yang digerakkan oleh AI dapat menghasilkan simfoni, lagu, dan remix, tetapi tidak memiliki jiwa ekspresi manusia. Musik sangat terkait dengan emosi, budaya, dan pengalaman hidup, menjadikannya bentuk seni yang melampaui pengaturan teknis belaka. Meskipun AI dapat menjadi alat yang berharga bagi musisi, perannya harus dilihat sebagai augmentatif daripada kreatif itu sendiri. Jika penciptaan musik direduksi menjadi generasi algoritmik, itu berisiko menjadi formulaik dan terlepas dari dorongan manusia yang lebih dalam yang membuat seni bermakna.

 

Kesimpulan

Saat AI terus membentuk masyarakat, veritas sequitur esse berfungsi sebagai pengaman filosofis yang penting, mengingatkan kita bahwa kebenaran, martabat, dan kreativitas harus didasarkan pada realitas keberadaan manusia. AI harus meningkatkan, bukan menggantikan, kapasitas manusia—baik dalam etika, pendidikan, atau ekspresi kreatif. Dengan memastikan bahwa teknologi selaras dengan prinsip-prinsip moral objektif daripada mengikisnya, kita dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab untuk melayani umat manusia sambil melestarikan keunikan kecerdasan, martabat, dan ekspresi artistik manusia.