Tampilkan postingan dengan label Yesus Kristus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus Kristus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2020

Berjumpa dengan Tuhan yang Dimuliakan (Bahan Rekoleksi)


Mat 17:1-9
 
Pendahuluan
 
Ada satu pertanyaan mendasar yang muncul di tengah-tengah para pembaca Matius sehubungan dengan teks renungan kita pada hari ini (yang biasanya dikenal sebagai peristiwa transfigurasi Yesus), pertanyaan ini bahkan mewarnai seluruh Injil Matius ini, yaitu apakah Yesus memang Mesias yang dari Allah?
Pertanyaan ini muncul karena:
- Mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah sangat lama menanti-nantikan kedatangan Mesias dan mereka sedang berada dalam pergumulan besar karena sedang dijajah oleh bangsa lain.
- Mesias yang mereka nanti-nantikan itu dari awal kedatangan hingga sepanjang hidupnya “mestinya” selalu dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Kitab Daniel misalnya mengafirmasi penantian yang seperti ini (lih. Dan. 7:13-14).
- Mesias yang datang itu “mestinya” tidak mengalami penderitaan. Dalam hal ini mereka telah melupakan fakta dan nubuatan tentang hamba Tuhan yang menderita sebagaimana diberitakan oleh nabi Yesaya (Yes. 53:2-3).
Sekarang mari kita melihat Yesus. Yesus datang dari awal bukan dalam kemuliaan dan kekuasaan, sebaliknya dalam kehinaan dan keterpurukan. Selain itu, Yesus yang datang justru “harus” mengalami penderitaan, dan itulah yang diberitahukan oleh Yesus sebelumnya kepada murid-murid-Nya (Mat. 16:21-28). Dengan demikian, “wajarlah” kalau mereka memiliki keragu-raguan akan kemesiasan Yesus itu, bahkan Petrus sendiri telah berusaha “menolak” penderitaan yang harus dialami oleh Yesus (Mat. 16:22).
Nah, kisah Yesus yang dimuliakan ini (Mat. 17:1-13) hendak menjawab pertanyaan dan keragu-raguan itu! Secara sederhana penulis Injil Matius mengajak para pembacanya untuk “bersama-sama dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes” ikut “merasakan dan mengalami” kemesiasan Yesus itu, sehingga dengan demikian tidak ada lagi keragu-raguan dalam mengikut Yesus sebagai Tuhan.
Peristiwa pemuliaan Yesus ini dicatat selain dalam perikop kita hari ini Injil Matius (17:1-9), juga dalam Markus (9:1-8) dan Lukas (9:28-36), sedangkan Injil Yohanes tidak memasukkan kisah ini sebab dari awal Yesus sudah ditampilkan sebagai sebagai pribadi yang mulia, yaitu sebagai Allah (Yoh 1:1).


Setting Peristiwa
 
Matius dan Markus mencatat bahwa peristiwa transfigurasi terjadi enam hari sesudah percakapan di Kaisarea Filipi (Mat 17:1; Mar 9:2), yaitu ketika Yesus membuka diri-Nya secara eksplisit sebagai Mesias yang menderita (Mat 16:13-28; Mar 8:27-38). Di sisi lain Lukas mencatat bahwa peristiwa ini terjadi kira-kira delapan hari sesudahnya (Luk 9:28). Sebenarnya ketiganya memaksudkan hal yang sama. ”Sesudah enam hari” berarti merujuk pada hari ketujuh, sedangkan ”kira-kira delapan hari” juga dapat merujuk durasi waktu yang sama. Dengan kata lain, mereka semua mencatat bahwa peristiwa ini terjadi seminggu sesudah peristiwa di Kaisarea Filipi, hanya saja Matius dan Markus memakai cara Yahudi sedangkan Lukas mengungkapkannya menurut budaya Yunani (D. A. Carson).
Sebagian penafsir mencoba memberi makna khusus terhadap catatan waktu ini. Beberapa menganggap bahwa enam hari ini adalah masa antara Hari Raya Pendamaian dan Hari Raya Tabernakel (Penahbisan Bait Allah), namun tidak ada bukti yang jelas bahwa Matius 16:21-17:8 terjadi di antara dua hari raya tersebut. Yang lain menghubungkan peristiwa ini dengan Keluaran 24:16 ketika Musa selama enam hari ada di gunung dan dilingkupi dengan kuasa Allah, namun enam hari dalam peristiwa ini adalah enam hari Musa melihat kemuliaan, bukan enam hari antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, seperti dalam kasus transfigurasi. Tafsiran ini akan semakin terlihat dipaksakan apabila kita mengaitkan dengan catatan Lukas ”kira-kira delapan hari” (bukan enam hari!). Jadi, kita sebaiknya tidak menambahkan makna tertentu pada keterangan waktu ini.
Setting lain yang perlu kita perhatikan adalah tempat. Matius mencatat bahwa peristiwa ini terjadi ”di sebuah gunung yang tinggi”. Gunung pasti tinggi, sehingga penambahan ”yang tinggi” mengindikasikan bahwa ketinggian gunung ini adalah di atas rata-rata. Mayoritas bapa gereja meyakini bahwa gunung yang dimaksud adalah Gunung Tabor. Identifikasi paling awal gunung tempat transfigurasi ini adalah dari Origen pada abad ke-3 Masehi. Juga disinggung oleh St. Cyril dari Jerusalem dan Hieronimus pada abad ke-4. Walaupun ini adalah pandangan tradisional sejak lama, tetapi hampir semua teolog modern menolak dugaan ini dengan alasan bahwa: (1) Gunung Tabor (600 m) termasuk sangat rendah untuk layak dikategorikan sebagai ”gunung yang tinggi”; (2) menurut Josephus, seorang sejarahwan Yahudi waktu itu, pada abad ke-1 di puncak Gunung Tabor dikelilingi tembok untuk benteng pertahanan; (3) posisi Gunung Tabor tidak sesuai dengan rute perjalanan Yesus dari Kaisarea Filipi (16:13) ke Kapernaum (17:24) lalu ke Yerusalem (band. 16:21), karena Gunung Tabor terletak antara Kapernaum dan Yerusalem. Jika tansfigurasi terjadi di gunung ini, maka Yesus telah melakukan perjalanan memutar dari Kaisarea Filipi ; Gunung Tabor – Kapernaum – Gunung Tabor ; Yerusalem.
Sebagian teolog mengusulkan Gunung Hermon (2814 m) sebagai tempat transfigurasi. Sama seperti usulan pertama, usulan ini pun sulit untuk diterima: (1) Gunung Hermon terlalu dingin untuk didiami selama semalam (band. Luk 9:37), karena puncak gunung ini selalu bersalju di sepanjang waktu; (2) posisi Gunung Hermon malah lebih ke utara lagi dibandingkan Gunung Tabor, sehingga kalau transfigurasi terjadi gunung ini maka Yesus juga memutar dari Kaisarea Filipi – Gunung Hermon – Kaisarea Filipi – Kapernaum – Yerusalem; (3) menurut catatan Markus (Mar 9:14), ketika rombongan Yesus turun dari gunung mereka mendapati murid-murid lain sedang berdebat dengan para ahli Taurat. Sesuai tradisi waktu itu, kehadiran ahi Taurat di sekitar Gunung Hermon yang terletak jauh di utara Yerusalem tampaknya sangat janggal.
Kita sebaiknya mengikuti para penulis Alkitab yang sengaja tidak menjelaskan posisi detil dari gunung ini. Dari cara mereka menceritakan peristiwa ini terlihat bahwa identifikasi gunung ini tidak sepenting peristiwa yang terjadi di atasnya.


Makna Transfigurasi
 
Apa signifikansi peristiwa transfigurasi? Mengapa Yesus perlu menyatakan diri seperti ini? Ada beberapa petunjuk yang diberikan dalam teks kita tentang tujuan transfigurasi.
1. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan
Dari sekian banyak tokoh Perjanjian Lama, hanya dua tokoh yang muncul dalam peristiwa transfigurasi, yaitu Musa dan Elia. Mengapa dua tokoh ini muncul? Secara simbolik, munculnya Musa dan Elia merupakan simbol Hukum Taurat dan para Nabi. Tetapi suara Allah dari Surga – “Dengarkan Dia!” – jelas menunjukkan bahwa Hukum dan Nabi harus memberi jalan kepada Yesus. Dia, jalan yang baru dan hidup, menggantikan yang lama; Dia memenuhi segala tuntutan dari Hukum Taurat dan nubuat para nabi yang tidak terhitung jumlahnya di Perjanjian Lama. Kehadiran Musa dan Elia sebagai konfirmasi kedatangan Mesias. TUHAN pernah berjanji bahwa Dia akan membangkitkan seorang nabi di akhir jaman yang sama seperti Musa (Ul 18:15, 18). Dalam perkembangan selanjutnya, janji ini dipahami sebagai salah satu nubuat tentang datangnya mesias. Kedatangan mesias sendiri di tempat lain dinubuatkan akan didahului dengan Elia akhir jaman (Mal 3:1; 4:5-6). Yang dimaksud Elia yang akan datang ini adalah Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; band. 11:10-14; Luk 1:17).
Sebelum transfigurasi Yesus berbicara tentang identitas diri-Nya sebagai mesias (Mat 16:13-20). Selanjutnya Dia menjelaskan tentang mesias yang menderita dan syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:21-26). Di akhir pembicaraan ini Yesus menyinggung tentang kemuliaan-Nya sebagai Anak Manusia yang menggenapi nubuat mesianis di Daniel 7:13-14 (Mat 16:27-28). Ucapan Allah dari surga di Matius 17:5 pun turut mengingatkan kita kembali tentang peristiwa pembaptisan (Mat 3:13-17) ketika Bapa memproklamasikan Yesus sebagai penggenap nubuat di Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Semua petunjuk ini meyakinkan kita bahwa transfigurasi memang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan.
2. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus melebihi Musa maupun Elia
Dari cara penulisan kisah transfigurasi kita dengan mudah dapat melihat bahwa Yesus bukan sekedar seorang nabi akhir jaman. Dia jauh melebihi Musa maupun Elia (terutama Musa). Poin ini sangat penting bagi murid-murid yang terbiasa menganggap Musa sebagai nabi yang terbesar dalam sejarah bangsa Israel.
Bagaimana superioritas Yesus ditunjukkan melalui transfigurasi? Pertama, kalau Musa hanya sekedar memantulkan kemuliaan Allah setelah bercakap-cakap dengan Dia (Kel 34:29-30), maka Yesus berubah rupa sendiri (Mat 17:2), bahkan sebelum Allah menyatakan diri-Nya (Mat 17:5). Kedua, ucapan Allah di ayat 5 terfokus pada diri Yesus saja. Dengan kata lain, hanya Yesuslah Anak yang dikasihi; hanya Yesuslah yang berkenan di hati Allah; hanya Yesuslah yang harus didengarkan. Tentu saja ini tidak berarti bahwa semua firman Allah melalui Musa dan Elia harus dilupakan. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah wahyu yang tertinggi (Yoh 1:18; Ibr 1:1-2). Ketiga, menghilangnya Musa dan Elia di akhir transfigurasi menunjukkan bahwa kehadiran mereka berdua hanya untuk melayani Yesus, yaitu menunjukkan siapa diri-Nya yang sebenarnya. Sebagai fokus dari kisah ini Yesus jelas lebih penting daripada mereka berdua.
 
3. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus adalah mesias yang menderita sekaligus mulia
Kita tidak boleh melupakan konteks dari kisah transfigurasi. Sebelum peristiwa ini Yesus sudah menubuatkan bahwa Dia harus menderita di Yerusalem (Mat 16:21). Berita ini sulit dimengerti oleh murid-murid sehingga mereka menolak ide tentang mesias yang menderita (Mat 16:22-23). Dalam konteks seperti inilah Yesus menunjukkan diri-Nya yang sebenarnya di depan murid-murid. Lukas bahkan secara khusus mencatat isi pembicaraan Yesus dengan Musa dan Elia, yaitu seputar penderitaan di Yerusalem (Luk 9:31). Transfigurasi mengajarkan bahwa penderitaan dan kehinaan yang dilalui Yesus tidak meniadakan kemuliaan-Nya. Sebaliknya, hal itu justru merupakan jalan ke arah kemuliaan.
Petunjuk lain tentang hal ini terdapat dalam kisah transfigurasi sendiri. Dalam kisah ini Allah sekali lagi menegaskan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih (Mzm 2:7) dan objek perkenanan Allah (Yes 42:1). Sebagai mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya, Yesus adalah mesias yang menderita (Yes 53). Setelah turun dari gunung, Yesus menghubungkan transfigurasi dengan kebangkitan-Nya dari kematian (Mat 17:9). Jadi, seluruh peristiwa transfigurasi mengarah pada penderitaan Yesus.


Respon kita terhadap transfigurasi
 
Ketika identitas Yesus dinyatakan secara tegas dalam peristiwa transfigurasi, hal itu tentu bukan tanpa alasan. Kisah ini bukan sekedar pamer kemuliaan atau pembuktian sesuatu. Ada hal-hal tertentu yang diharapkan sebagai respon dari murid-murid dan kita. Bagaimana kita seharusnya meresponi penyataan Yesus di atas gunung?
 
1. Kita tidak perlu takut menderita karena ada kemuliaan yang menyertai kita
Seperti sudah disinggung sebelumnya, transfigurasi merupakan penggenapan dari ucapan Yesus bahwa di antara murid-murid-Nya ada yang tidak akan mati sebelum melihat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya sebagai raja (Mat 16:28). Kemuliaan Anak Manusia ini sendiri sangat berkaitan dengan ayat 27 tentang kedatangan Anak Manusia di akhir jaman untuk menghakimi setiap orang. Jadi, transfigurasi harus dilihat sebagai ”cicipan” dari apa yang akan terjadi di akhir jaman, yaitu Yesus yang datang dalam kemuliaan-Nya.
Lebih jauh kita perlu menyelidiki mengapa Yesus perlu membicarakan tentang kemuliaan-Nya? Sesuai konteks kita mengetahui bahwa hal ini merupakan bagian dari kotbah Yesus tentang syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:24-27). Syarat ini membahas tentang kesediaan murid-murid untuk menderita dan mati bagi Kristus. Mereka tidak perlu takut atau kuatir terhadap penderitaan di dunia ini. Semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang nanti akan mereka nikmati bersama Yesus (band. 2Kor 4:17).
Demikian pula dengan kita. Walaupun Yesus belum datang dalam kemuliaan-Nya yang agung di akhir jaman, namun Dia telah memberi bukti tentang hal itu melalui transfigurasi. Yesus telah memberi kepastian kepada murid-murid karena kita cenderung ”menikmati” dunia ini dan begitu terpikat kepadanya. Kita lupa bahwa hidup kita harus diarahkan pada kemuliaan yang nanti kita nikmati di surga. Orientasi hidup seperti ini akan memampukan kita untuk berani menderita bagi Kristus selama di dunia.
2. Kita menghargai kehadiran Yesus dalam kemuliaan-Nya
Ketika murid-murid melihat kemuliaan Yesus mereka langsung meresponi dengan perkataan ”betapa bahagia kami berada di tempat ini!” (Mat 17:4a). ”adalah baik bagi kami untuk berada di tempat ini”. Mereka bahkan ingin mendirikan kemah bagi Yesus, Musa dan Elia supaya kehadiran mereka bertiga dalam kemuliaan lebih permanen. Seandainya pendirian ”kemah” di sini berhubungan dengan Hari Raya Tabernakel, maka hal itu semakin memperjelas maksud murid-murid: mereka ingin agar tiga tokoh tersebut tinggal dalam konteks ibadah, sama seperti kehadiran Allah di bait Allah.
Dari catatan Kitab Suci kita mengetahui bahwa ucapan Petrus di atas memang tidak semuanya tepat. Dia mengucapkan itu dalam ketakutannya (Mar 9:6; Luk 9:33b). Allah pun memotong perkataan Petrus (Mat 17:5 ”tiba-tiba ketika dia sedang berbicara;”) sebagai tanda bahwa apa yang diucapkannya tidak tepat. Bagaimanapun, kita harus memahami dengan benar bentuk kesalahan dalam ucapan Petrus. Kesalahan ini bukan terletak pada keinginan Petrus untuk terus-menerus bersatu dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Kesalahan Petrus adalah dia tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu harus dinikmati dengan cara turun dari gunung dan berjalan menuju Yerusalem (band. 16:21), bukan ”berada di sini” (di gunung).
Sekarang Yesus sudah dimuliakan di surga, namun Dia sendiri telah berjanji akan hadir setiap kali orang beriman berkumpul dalam nama-Nya (Mat 18:20). Kehadiran ini pasti melibatkan kemuliaan-Nya.
3. Kita menghormati kemuliaan Yesus dengan cara menaati Dia
Transfigurasi merupakan konfirmasi dari pihak Allah bahwa Yesus benar-benar adalah mesias yang menderita. Hal ini perlu dilakukan oleh Allah untuk memperjelas kesalahan murid-murid. Kalau di Matius 16:22-23 Yesus sudah menegur Petrus, sekarang Allah Bapa juga langsung menegur Petrus. Allah Bapa berkata dalam keagungan-Nya yang dinyatakan melalui awan yang terang, ”dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5b). Suara inilah yang membuat murid-murid langsung bergetar. Ayat 6a ”mendengar itu tersungkurlah murid-murid;”. Mereka tersungkur terutama bukan karena awan yang terang; bukan karena pernyataan Bapa bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih dan Dia perkenan (ayat 5a), karena waktu peristiwa baptisan pernyataan itu sudah diucapkan dan murid-murid tidak ada yang tersungkur. Mereka tersungkur karena Bapa menegur mereka. Sebelumnya mereka mencoba mengatur Yesus dan menghalangi perjalanan Yesus menuju salib (Mat 16:22-23). Dalam transfigurasi Bapa menegur mereka dengan sangat keras bahwa merekalah yang harus mendengarkan Yesus, bukan sebaliknya! Mereka harus menerima dan menaati apa yang Yesus sampaikan, bukan keinginan hati mereka sendiri!
Kegentaran murid-murid dinyatakan secara jelas oleh penulis Kitab Suci. Mereka langsung tersungkur (ayat 6a, lit. ”menelungkupkan wajah ke tanah”). Mereka juga sangat ketakutan (ayat 6b, lit. ”takut dengan sangat”). Mereka terus-menerus berada dalam posisi seperti ini sampai-sampai Yesus merasa perlu untuk menyentuh dan menghibur mereka (ayat 7). Sentuhan ini jelas menyiratkan betapa mereka sangat ketakutan dan membutuhkan lebih dari sekedar perkataan penghiburan. Mereka juga tidak berani ”mengangkat wajah” (ayat 8a, lit. ”mengangkat mata”). Mereka benar-benar telah dibuat takluk oleh Allah. Semua kegentaran ini tentu tidak akan ada artinya kalau mereka tidak mendengarkan Yesus.


Penutup
Kisah mengenai transfigurasi ini menampilkan Yesus yang memiliki dan memancarkan sinar kemuliaan dan keagungan-Nya sebagai Anak Allah dan Sang Terurapi (Mesias atau Kristus) yang jauh melebihi Musa dan Elia. Sebagai wakil hukum dan nabi-nabi, Alkitab mencatat bahwa Musa dan Elia telah melihat dan menjadi saksi kemuliaan Allah dalam proses sejarah keselamatan umat dalam Perjanjian Lama (bnd. Kel. 24:12-18; 33:7-23; 34:29-35; 1 Raj 19:1-18). Kemudian Alkitab memberitakan bahwa di dalam dan melalui peristiwa Yesus Kristus - yang menjadi manusia, melayani, menderita, taat sampai mati di kayu salib, dikuburkan, dan kemudian bangkit dari maut - nyatalah, genaplah, dan sempurnalah karya Yesus sebagai Nabi, Imam, dan Raja yang dinubuatkan dalam Kitab Suci Kristiani.
Oleh karena itu, marilah menjadikan peristiwa Yesus Kristus menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan inspirasi bagi kita semua dalam proses peziarahan panggilan kita di dunia yang menderita ini hingga menuju sorga. Marilah kita berjalan bersama Allah dalam proses “pendakian gunung kehidupan yang berat” dalam perjalanan spiritual kita masing-masing, terutama sebagai imam dan calon-calon imam, sampai kita bersedia sungguh-sungguh untuk diubah oleh Allah sebagai sumber kemuliaan (2 Kor. 3:18). Marilah ‘bangkit berdiri dan jangan pernah takut’, karena Kristus sudah bangkit dari kubur untuk mengalahkan kuasa maut! Dan janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi marilah kita berubah (“metamorphomai”) secara spiritual oleh pembaruan budi, agar kita sanggup membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Rom 12:2). Sekali lagi, marilah berubah ke arah yang lebih baik, lebih benar, lebih adil, lebih manusiawi, karena Kristus!

Rabu, 07 Desember 2011

Catatan tentang Doa Syukur Agung Ketiga (DSA III)

Pengantar

Mungkin DSA III adalah DSA yang paling kurang digunakan dari DSA-DSA yang ada dalam misale kita. Supaya digunakan dalam setiap perayaan publik, bukan hanya panjangnya doa yang menentukan melainkan juga isi doanya. Isinya harus disesuaikan dengan kebutuhan gereja kontemporer.

"Proyek B"

Asal usul DSA III mudah sekali diteliti dalam dokumen lebih daripada ketiga DSA lainnya (I,II,IV). Ketika konsili menghendaki pembaharuan liturgi muncullah pertanyaan tentang DSA antar para liturgis dan teolog; seorang rahib Benediktin bernama Ciprianus Vagaggini, mengemukakan satu usulan dalam sebuah buku yang disebut The Canon of the Mass and Liturgical Reform. Ahli ini kelahiran Italia tetapi merupakan anggota komunitas yang bernama “Abbey of Saint Andre di Belgia, suatu tempat yang dikenal sebagai pusat gerakan liturgi. Tulisan-tulisan C. Vagaggini terkenal di kalangan para liturgis; khususnya buku yang dimaksudkan itu mengemukakan suatu komentar bermanfaat tentang dsa. Sebagian besar teks doa kita berhubungan dengan teks yang diusulkan dalam buku itu dan disebut penulisnya dengan “Proyek B”.

Vagaggini mengatakan bahwa ia bermaksud untuk menyusun satu DSA yang kontemporer sekaligus tradisional. Ia menginginkan satu DSA yang asli, lengkap dari segi gaya literer dan liturgis khas bagi suatu anafora, yang lebih dekat dengan rasa biblis, liturgis dan pastoral; ia menganjurkan yang ideal untuk masa kini. Ia menulis bahwa ternyata harus diterima prinsip bahwa setiap DSA mempunyai hak dan kewajiban untuk merefleksikan secara khusus, pemikiran teologis gereja masa kini.

Di waktu yang sama, penulis sadar akan bagaimana DSA berasal dari waktu yang lama, karena patut diingat bahwa DSA tidak hanya merupakan doa, tetapi doa yang terrumus secara baik, dan mempunyai kharakter tradisional dan biblis. Karena aspek ini, maka Vagaggini mencari inspirasi dari liturgi-liturgi kuno di Spanyol dan Perancis, yang masih ada dalam liturgi Mozarabic di katedral Toledo. Liturgi-liturgi kuno ini bukannya liturgi Romawi. Salah satu pusat utama adalah kerajaan Visigotik di Spanyol di abad ke 7, di mana st. Isidorus sebagai figur dominan. Selama perkembangannya ada pengaruh besar liturgi Bizantin di Perancis; aspek-aspek pengaruh ini ditemukan dalam liturgi. Semua ini harus kita perhatikan di Iralndia, karena itulah tradisi dengan mana liturgi kuno kita sangat dekat.

Vagaggini menulis sebagai berikut: Pendapatku adalah bahwa salah satu tugas utama kita dalam memberikan dorongan kepada liturgi Romawi,yang kini dipakai di pelbagai regio di dunia, terletak dalam mengasimilasikan secara organik, pemikiran teologis, spiritual dan pastoral; sementara itu harus dipertahankan kesederhanaan dan keagungan dalam ungkapan, yang merupakan kehormatan tradisi autentik liturgi Romawi.

Struktur DSA III

Salah satu hal yang menarik dalam DSA III adalah strukturnya yang proporsional. Ada lima bagian pokok di dalamnya anafora-anafora Spanyol dan Perancis:

1. Prefasi (biasanya disebut Immolatio atau illatio)
2. Sanctus
3. Post sanctus
4. Konsekrasi yang biasa disebut Mysterium
5. Post mysterium.

Dalam DSA III, struktur ini telah diaplikasikan sedemikian untuk memberikan kepada setiap seksi, suatu kharakter definitif sambil menghindarkan teks yang panjang-panjang, sedemikian sehingga seluruh doa mengalir dengan baik.

Jika struktur dan beberapa ungkapannya diambil dari liturgi masa lampau, maka tema-tema dominan dalam DSA ini akan menjadi modern. Jika seseorang kehendaki satu kekhasan untuk menyatakan kharakteristik isi doa ini, maka dia dapat mendeskripsikannya sebagai DSA konsili Vatikan II. Tidaklah tepat bahwa doa ini dibentuk oleh orang-orang konsili Vatikan II sehingga keprihatinan-keprihatinan konsili dijadikan sebagai kunci DSA ini.

Tema DSA III

Tema utama DSA ini adalah kesatuan. Bahwa tema ini merupakan salah satu isu besar masa kini tidak perlu dikembangkan. Orang jarang memprihatinkan kesatuan dan komunitas sedemikian seperti masa kini, yang diintensifikasikan seperti yang dikehendaki konsili dalam Gaudium et Spes (23). Hal ini merupakan satu keprihatinan dunia modern, yang konsili jadikan sebagai keprihatinannya, seperti dalam GS no 42 ini: …..

Keprihatinan akan kesatuan diekspresikan dalam DSA dalam frase-frase berikut ini:

Semua ciptaan memuji Dikau ….. sedemikian sehingga dari Timur ke Barat suatu persembahan yang sempurna dilaksanakan ….. dan menjadi satu tubuh, satu roh dalam Kristus ….. dalam belaskasih dan kasih mempersatukan semu anakmu di mana saja mereka berada.

Dalam ungkapan-ungkapan ini, kita dapat memperhatikan secara khusus tema kesatuan yang diberikan basis teologis dalam ajaran tentang Tubuh Kristus. Pandangan ini sejalan dengan ajaran modern dari Magisterium, yang dimulai oleh ensiklik “Mystici Corporis” Pius XII dan yang diperbaharui oleh konsili Vatikan II dalam kontitusi Lumen Gentium no. 7.

Bagaimanapun, tekanan prinsipil dari DSA ini jatuh pada salah satu aspek teologis gereja, yang juga mendapat tekanan lebih besar dalam konsili, yaitu gereja umat Allah. Apresiasi atas konsep ini merupakan salah satu buah pembaharuan biblis dalam gereja. Hal ini diambil alih oleh DSA III dalam frase berikut ini:

“Kaupersatukan suatu umat bagiMu” ….. “semua umat yang PuteraMu telah peroleh bagiMu”….. umat yang mengembara di dunia”.

Gereja seturut DSA ini bukannya persekutuan para kudus dan para martir di Yerusalem surgawi yang dirayakan dalam DSA I. Umat yang dimaksudkan dalam DSA III itu adalah yang dimaksudkan dalam Lumen Gentium dan dalam dekrit tentang Ekumenisme, yakni Umat pengembara. Tema-tema kesatuan dan umat Allah merupakan alasan utama mengapa kita meninjau DSA ini secara khusus.

Kurban Ekaristi

Tema penting lainnya adalah Ekaristi itu sendiri serta tempatnya dalam hidup gereja. Dalam DSA ini, ada satu paragraf yang mengemukakan tentang persembahan gereja dalam hubungan dengan persembahan Kristus. Satu bagian dalam Epiklesis II berbunyi demikian: “Terimalah persembahan gerejaMu ini sebagai kurban sejati, yakni PuteraMu sendiri, yang telah mendamaikan kembali kami dengan Dikau berkat kematianNya”.

Tema teologis ini sudah merupakan kesulitan para teolog serta tradisi-tradisi kristiani. Sebagai frase yang diambil dari DSA Mozarabic, DSA III menyatakan kebenaran mendalam secara langsung dalam tradisi gereja perdana, yang menunjukkan bahwa sebagai kurban, misa bergantung seutuhnya kepada kurban Kristus. John Barry Ryan dalam bukunya “The Eucharistic Prayer” berkomentar demikian: ”Hal ini menghindarkan antitesis modern tentang korban salib dan korban misa sedemikian sehingga kurban satu-satunya itu tetap unik sedangkan / sementara aspek sakrifisial yang dilaksanakan tetap dipertahankan."

Jati diri Misa sebagai kurban salib menjadi pusat lewat jatidiri kurban dalam setiap kasus. Bagi generasi yang lebih tua, hal ini mengingatkan kita akan pendapat Maurice de la Taillo tentang kurban ekaristi, suatu pendekatan yang masih bermanfaat dalam berkotbah, meskipun teolog-teolog kini berpendapat bahwa hal itu belum lagi komplet.

Ada preseden baik bagi pendekatan ini. Barangkali pendapat Yohanes Krisostomus di abad pertengahan dapat menjadi teks klasik untuk tema ini: “Apakah kita punya kurban setiap hari? Sesungguhnya dengan memperingati wafatNya, kita punya satu kurban atau beberapa? Bagaimana satu dan bukan beberapa? Karena Ia telah dipersembahkan cuma satu kali, bagaikan mempersembahkan kurban yang suci. Yang pertama merupakan tipe dari yang lain, sama seperti Ekaristi juga. Kita selalu mempersembahkan kurban yang sama, bukan satu anak domba kini, dan besok yang lain tetapi selalu yang sama, dengan akibat bahwa kurban itu satu. Sama seperti argumen ini, karena korban dipersembahkan di banyak tempat, maka apakah ada banyak Kristus? Di mana-mana hanya ada satu Kristus, satu tubuh, sama utuh di satu tempat seperti tempat lainnya. Akibatnya, seperti Dia yang dipersembahkan di banyak tempat, adalah satu tubuh, dan bukan banyak, maka demikian juga kurban. Dia adalah Imam agung, yang mempersembahkan kurban yang memurnikan kita. Inilah apa yang kita kini persembahkan, adalah satu yang dulunya dikurbankan, persembahan yang tidak dapat dirusakkan oleh api. Hal ini terjadi sebagai peringatan akan apa yang pernah terjadi, “Buatlah ini sebagai peringatan akan Daku”. Kita tidak melaksanakan satu kurban yang lain, seperti imam agung biasa perbuat dulu. Kita selalu melakukan kurban yang sama, atau kita malaksanakan peringatan akan kurban yang sama”.

DSA versi Bahasa Inggris


Perlu dicatat bahwa DSA III versi Bahasa Inggris mengabaikan pokok ajaran yang dijelaskan Vagaggini dan diperhatikan dalam versi Latin DSA ini. Pokok itu adalah kharakter mendamaikan dalam / dari misa. Jika diterjemahkan secara harafiah maka terjemahannya demikian: Kami memohon kepadaMu, pandanglah persembahan umatMu dan lihatlah korban, yang mendamaikan kami kembali dengan Dikau, berkat wafatNya.

Terjemahan versi Inggeris dapat dipahami. Doktrin tentang aspek mendamaikan dengan mudah saja dapat disalahpahami oleh orang yang non kristen seperti menenangkan Allah pendendam. Di waktu yang sama, hakekat mendamaikan dari korban Kristus di salib merupakan bagian intrinsik dalam tradisi kita dari PB (Rm 3:25; Ibr 9:11ss; 1Yoh 2:2) dan dengan demikian merupakan bagian dari apa yang diambil Ekaristi, yang diberikan sebagai korban dalam misa dan di atas salib. Tobat merupakan salah satu realitas primordial, yang dialami umat tanpa mampu mengungkapkannya dalam kata-kata. Hal itu merupakan salah satu kebutuhan mendasar orang beragama, dan gereja selalu menyatakannya dalam Ekaristi sebagai sebagian pemenuhan akan kebutuhan itu.

Adalah berarti bahwa hal itu tetap dilaksanakan dalam DSA kita. Versi Jerman mempertahankan ide itu dengan mengemukakan tentang anak domba yang menghapus dosa dunia.

Peranan Roh Kudus

Dalam pembahasan tentang DSA IV telah dibicarakan tentang teologi Roh Kudus dalam liturgi baru. Peranan Roh Kudus, yang begitu penting dalam gereja kontemporer, khususnya lewat penyebaran gerakan kharismatik, merupakan salah satu tema signifikan dalam DSA III. Hal ini sebenarnya merupakan keprihatinan C. Vagaggini.

Menjelang akhir konsili, berkembang perasaan bahwa tidaklah cukup untuk bicara saja tentang Roh Kudus. Mereka yang terlibat dalam membaharui liturgi merasa cemas membereskan kekurangan itu. Mereka sadar bahwa kekurangan tidak hanya bahwa dalam konsili Vatikan II tetapi dalam seluruh tradisi liturgi Barat.

Vagaggini menulis demikian: “Di samping sejumlah pecahan dalam DSA Romawi yang mengikuti pola sebuah epiklesis, ada kekurangan lainnya seperti tidak ada teologi tentang peranan Roh Kudus dalam Ekaristi. Teologi ini sangat penting. Kebutuhan untuk merefleksikan kharakter biblis dan tradisional dari ajaran ini untuk merefleksikan secara langsung bahwa hal ini merupakan kekurangan serius. Kini kita sudah mulai semakin sadar akan penemuan kembali aspek Trinitas yang kita sebut aspek ekonomi sejarah keselamatan; suatu aspek yang digarisbawahi oleh konsili Vatikan II. Hal ini berarti memikirkan tentang pribadi-pribadi Allah Tritunggal tidak sejauh dalam term kesatuan mereka dalam hakekat ilahi seperti dalam term-term distinksi relatif, yang dikenal sebagai suatu prinsip lewat manifestasinya dalam sejarah keselamatan. Ternyata dalam revelasi selanjutnya dan ketetapan keselamatan manusia bahwa pribadi-pribadi ilahi telah wahyukan secara bertahap dan tetap mewahyukannya kepada kita”.

Seperti dalam DSA IV, Roh Kudus dirayakan pada dua pokok khusus DSA yakni epiklesis sebelum kisah institusi dan sesudahnya. Hal yang utama adalah bahwa Roh Kudus mendapat tempat dalam seluruh konteks sejarah keselamatan. Tugas yang dipercayakan kepadaNya adalah yang sudah tradisional dalam liturgi sebagai yang menguduskan semuanya dan yang mengembangkan gereja dalam kasih.

Pandangan tentang Roh Kudus demikian dalam DSA ini mungkin dapat dihubungkan dengan ajaran Vatikan II mengenai kehadiran Allah dalam gereja umumnya dan khususnya dalam liturgi. Seturut SC no. 7, misteri kehadiran Ekaristis harus ditempatkan dalam konteks berbagai jalan di mana Allah hadir dalam umatNya. Konsili nyatakan bahwa Allah sesungguhnya hadir sejak awal misa dan dengan demikian misa dapat dipandang sebagai misteri puncak dari kehadiran, yang mengarah kepada dan jauh dari kegiatan sentral Ekaristi dengan mana Kristus menyerahkan diri kepada Bapa atas nama umat.

Demikian juga halnya dengan DSA III. Dinyatakan bahwa Roh Kudus hadir, bahkan sebelum kita menghadiri misa. Ia berkarya memperdalam realitas hidup dan kekudusan yang mengalir dari Kristus. Karya Roh Kudus dalam Ekaristi, yang menyebabkan kehadiran Tubuh dan Darah Kristus, jadi dipandang sebagai suatu tahap dalam kerangka yang lebih luas. Sesudah kisah institusi, dalam epikesis II, perspektif doa mengarah kepada umat, kembali ke dalam hidup harian umat, sambil membawa kehadiran Roh Kudus yang memperbaharui sedemikian sehingga mereka semakin dapat menjadi tubuh Kristus di tengah dunia.

Perspektif ini mendapat suatu dimensi tambahan dalam doa untuk komemorasi para kudus. Tema ini ditempatkan dalam satu posisi yang tidak biasa dalam DSA. Anjurannya adalah bahwa persaudaraan dalam Roh Kudus yang berasal dari Ekaristi mengarah ke suatu kesatuan yang lebih dalam antara kita dengan seluruh tubuh mistik, dan secara khusus dalam jajaran para kudus di surga. Pikiran ini menjadi jelas dalam versi DSA Perancis, di mana Roh Kudus disebutkan secara explisit sebagai agen kita untuk menjadi korban persembahan yang kekal bagi Bapa dalam kesatuan para kudus. Patut kita sebutkan pernyataan st. Agustinus ini: Roh Kudus merupakan jiwa Tubuh Kristus yang adalah gereja.

Permohonan-permohonan


Pada akhir dari DSA, dikemukakan permohonan. Permohonan itu lebih dari sebuah daftar permohonan kepada yang ilahi. Permohonan-permohonan itu menyatakan dalam satu cara yang lain, tema yang sudah diperluas yakni komemorasi dan persatuan. Dari persatuan dengan penghuni surga kita beralih ke persatuan dengan mereka yang di dunia dan menjadi suatu persatuan dengan mereka yang kebutuhanna kita persatukan dengan kebutuhan kita dalam pengembaraan kita. Yang sungguh berharga adalah doa untuk persatuan yang ditujukan kepada Bapa yang baik. Versi DSA Jerman menambahkan nuansa yang bagus dengan menginterpretasikan doa bagi kegembiraan mengalami Allah sebagai doa agar kita dapat berpartisipasi dalam Kerajaan Allah. Itulah yang merupakan tujuan setiap Ekaristi.

Catatan tambahan:

1. Tentang teks “Sungguh kuduslah Engkau, ……. Untuk memuliakan namaMu”. Bagian ini dinamakan “post sanctus”, yang patut dikomentari. Keseluruhan alinea ini berharga sebagai satu perayaan yang layak dan bernuansa doa bagi umat yang berliturgi untuk memuja Pencipta dalam adorasi dan puji syukur.
2. “…sehingga di seluruh bumi dipersembahkan kurban yang murni untuk memuliakan namaMu”: Teks ini berhubungan dengan Mal 1:11. Patres di masa dulu mendiskusikan Ekaristi dalam hubungan dengan ramalan Maleaki ini. Bahwa dalam Ekaristi, kita mempunyai satu kurban yang murni, yang adalah pemenuhan dari / atas korban Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II menyebutkan tema ini dengan mengutip Mal 1:11 itu dalam LG 17.

Oleh. Emanuel Hane. Dosen Liturgi Seminari TInggi Santu Mikhael Kupang