Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2026

Raijua: Debur, Doa, dan Diam

 




Setiap perjalanan dimulai dengan ketidaktahuan—bukan hanya tentang tempat yang akan dikunjungi, tetapi tentang apa yang akan berubah dalam diri kita. Saat Romo Guido mengajak ikut ke Raijua, aku tak menyangka bahwa pulau kecil di ujung timur ini akan membuka ruang-ruang dalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak sedang mencari tempat wisata, bukan pula pelarian spiritual. Aku hanya ingin tahu: apakah iman bisa terasa di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, di mana laut lebih fasih bicara daripada manusia?

Langkahkan kaki dan rasakan aroma asin garam yang menyambut saat Anda tiba di dek perahu. Aroma itu menyeruak, memenuhi hidung dengan keintiman yang sama sekali baru. Motor perahu bergetar lembut, berpadu dengan suara laut yang menyanyi di kejauhan. Seiring perahu melaju di atas ombak, suara motor yang berirama konstan menjadi teman setia, menggambarkan perjalanan yang penuh makna. Sosok Raijua menyembul di cakrawala, menanti tanpa hiruk-pikuk. Pulau itu tidak menunggu siapa pun. Ia sudah ada, keras dan tenang, jauh sebelum aku menyebut namanya. Berukuran hanya 58 kilometer persegi, Raijua terletak di ujung barat pulau Sabu, tetapi bagiku ia berada di tepi kesabaran manusia, di hadapan laut Sawu yang tak pernah sepenuhnya jinak. Laut yang mengitari Raijua dikenal dengan arusnya yang kuat, menciptakan tantangan bagi siapa pun yang mencoba mengukurnya.

Aku baru mengenal Raijua setelah berada di Sabu. Dari sanalah perjalanan dimulai. Kami naik perahu motor kecil: aku, frater Egi, Romo Guido, dan penumpang lain, mahasiswa yang pulang libur kuliah, wajah-wajah muda yang rindu rumah. Perahu penuh, laut terbuka. Di tengah perjalanan, suara motor perahu terus-menerus mengingatkan kami akan keterhubungan dengan laut, seperti denyut jantung yang terus memompa kehidupan di tubuh ini. Kami menyusur Pantai Sabu Barat. Hujan turun sebentar, sekadar mengingatkan bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berkuasa atas lintasan yang dipilihnya. Beberapa mabuk, beberapa tertawa pahit. 'Apa mungkin kita akan kembali dengan rindu yang sama?' bisik salah satu mahasiswa, menatap laut yang bergejolak. Sebuah senyum kecil muncul di antara kerumunan, mencoba menenangkan perut yang mengaduk.

Saat memasuki Selat Raijua, arus berubah bergelora. Nahkoda memutar haluan, membaca gelombang seperti membaca riwayat hidup, tidak dilawan, hanya disiasati. 'Selalu ada jalan bagi yang bersabar,' katanya mengangguk pelan. Dermaga Raijua muncul pelan, seperti keputusan yang akhirnya diambil setelah ragu panjang. 'Welcome to Raijua,' katanya singkat. Laut menjawab dengan debur.

Di dermaga, Pak Tom menunggu. Senyumnya bukan sambutan basa-basi, melainkan wajah yang mengenali kelelahan perjalanan. "Air keras hari ini," katanya singkat, sembari mengangkat tas. Tangan kasarnya memindahkan beban dengan ketenangan yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama berdamai dengan laut. Sepanjang jalan, ia bercerita pelan—tentang anaknya yang merantau ke Kupang, tentang kekhawatirannya pada musim gelombang tinggi. "Tapi laut juga sahabat," katanya, "ia galak kalau dilawan, tapi lembut kalau didengar."

Ia memindahkan tas kami dari perahu ke jembatan kayu, pekerjaan kecil yang menentukan kelancaran banyak hal. Saat ia meletakkan tas terakhir, suara motor perahu yang berhenti seperti tanda bagi kami bahwa perjalanan baru di daratan akan dimulai, menjaga ritme dari laut ke darat. Ia mengusap perlahan sisa percikan air laut dengan ujung kausnya, memastikan tidak ada yang tertinggal basah. Dalam tindakan sederhana ini terpantul nilai-nilai komunitas—perhatian dan kepedulian, bagaimana setiap sentuhan kecil dapat meringankan bebannya yang lebih besar.

Aku dibonceng motor menuju rumahnya di kompleks SMP Negeri 1 Raijua, tempat beberapa keluarga guru tinggal. Rumah itu teduh, berlindung di bawah kanopi beringin besar. Di depannya, bale-bale kayu berjajar, tempat orang duduk, berbagi kabar, dan mengendapkan lelah. Sore itu kami beristirahat, berbasa-basi tentang perjalanan yang melintasi  Selat Raijua. Malamnya, setelah rekoleksi dan ibadat tobat, ikan bakar Raijua tersaji. Rasanya sederhana, asin, dan jujur, seperti pulau ini.

24 Desember pagi, Pak Tom mengajakku ke Gua Maria. Udara sejuk menahan langkah kami di antara bebatuan dan beringin yang rindang. Sepanjang jalan, bayangan pergerakan motor perahu sering mengingatkan kami pada harmoni yang sama yang kami rasakan dengan alam di Raijua. Gua Maria adalah tempat suci bagi penduduk Raijua, simbol perlindungan dan harapan yang sudah ada sejak generasi nenek moyang mereka. Memahami arti pentingnya, ziarah ke Gua ini membawa kedamaian tersendiri, menautkan kami dengan cerita-cerita lama tentang pengorbanan dan kesetiaan. Dari sana kami ke kolam penangkaran: bandeng di satu kolam, kura-kura di kolam lain. Air tenang, hidup dirawat. Siang hari kami kembali, bersiap untuk Misa Natal. Umat sekitar seratus orang hadir, datang dengan pakaian sederhana, dan wajah-wajah yang mengenal kekurangan tapi tidak asing dengan harap. Natal di Raijua tidak mencari kemewahan, ia mencari makna.

25 Desember kami menyusuri jalan berbatu menuju Raijua Atas. Di tengah sabana berdiri sebuah gereja bercat kuning, tegar menghadapi angin. Umat di sana lebih banyak. Sepanjang perjalanan, ritme angin menjalin melodi dengan suara mesin perahu yang tersimpan dalam benak, seperti gumaman konstan yang pernah menemani awal perjalanan kami di atas laut. Banyak di antara mereka dibaptis dewasa, konvert dari kepercayaan asli Raijua. Di sebelah gereja, ada sekelompok orang yang terlibat dalam ritual tradisional, mengenakan busana adat, dan bernyanyi dalam bahasa leluhur, suara mereka hilang di antara angin sabana.

Melihat mereka, aku tersadar akan keputusan berat yang diambil umat untuk meninggalkan tradisi ini demi iman baru. Iman datang kepada mereka bukan sebagai warisan, melainkan sebagai keputusan. Aku bertanya-tanya apa yang sesungguhnya hilang dan apa yang diperoleh ketika tradisi lama bertemu dengan kepercayaan baru. Di titik pertemuan antara yang lama dan yang baru, muncul pertanyaan yang menggugah perasaan: apakah kebahagiaan baru bisa dibandingkan dengan kehilangan tradisi lama?

Seorang ibu tua duduk tak jauh dari gereja, mengenakan kain tenun dengan motif adat. Ia tidak ikut misa, hanya menonton dari kejauhan. "Saya belum bisa masuk gereja," katanya lirih saat ditanya. "Tapi saya titip doa." Kalimat itu membekas. Seakan ada jembatan yang belum selesai dibangun, dan setiap langkah iman adalah batu yang diletakkan satu per satu dengan hati-hati.

Usai misa, kami mengunjungi salah satu umat. Kelapa muda disuguhkan. Kami duduk lesehan di tikar, di sebuah pondok tepat di mulut pantai. Ombak memecah berdebur di hadapan kami, mengingatkan kembali pada aroma asin yang pertama kali menyambut kami di dek perahu. Damai tidak selalu lahir dari keheningan, kadang ia tumbuh dari kebisingan yang diterima.

Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tambur, yang oleh orang-orang disebut Karang Kepala Burung. Deretan karang hitam berdiri menantang laut Sawu. Dan sebagaimana perahu yang kami gunakan berhasil menyeberangi arus yang kuat, berdiri di Bukit Tambur menawarkan pandangan yang menaklukan dari atas, mencerminkan ketahanan di tengah ombak. Dari satu sisi puncaknya menyerupai tambur, dari sisi lain kepala burung. Vegetasi jarang, kambing-kambing berebut hijau. Panas terik menggigit. Ada saung untuk berteduh, tetapi matahari tetap menang. Kami kembali ke rumah seorang umat, makan siang, mendengar cerita tentang Raijua—tentang musim, tentang laut, tentang bertahan—lalu pulang.

26 Desember misa bersama Raijua Atas dan Bawah dirayakan di Gua Maria Male Menggi. Udara adem, doa mengalir pelan. Setelah misa, suara motor perahu yang sudah menjadi bagian dari perjalanan mulai menghilang, mengisyaratkan akhir dari perjalanan yang telah mengajarkan banyak hal. Siang hari kami makan bersama. Pukul tiga, dengan perahu carteran, kami kembali ke Sabu melalui Pelabuhan Rakyat Mehara, Lobohede. Angin laut menyapu wajah, membawa aroma asin yang menempel di lidah, seolah mengunci rasa Raijua dalam ingatan. Saat perahu kembali berlayar, ada sekejap perasaan enggan yang menyeruak, sebuah gumam sunyi yang ditinggalkan debur ombak. Kami dijemput Romo Kanis dan Pak Matias. Hari itu berakhir dengan istirahat, sebuah jeda yang diperlukan agar ingatan tidak tercecer.

27 Desember kami mengunjungi Pak Tadeus di Perema bersama kelompok penenun ibu-ibu. Motor angin memecah kesunyian pagi, seolah menyiapkan kami untuk menerima kebijaksanaan yang berbeda. Ia menjelaskan proses tenun ikat Sabu: benang yang dipilih, warna yang ditakar, waktu yang diminta. Ia juga menunjukkan cara mengenakan kain sarung. Di sela-sela itu mengalir cerita tentang sejarah dan budaya Hawu. Saat melihat pewarna meresap perlahan ke dalam helai benang, aku tersadarkan bahwa ketahanan dan iman ibarat pewarna itu sendiri, meresap seiring waktu dengan kesabaran. Aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku, ia sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Skyber. Patung Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab berdiri membingkai reruntuhan bangunan Belanda, seperti tangga yang menjulang dan menara bak air yang seakan menantang waktu. Benteng-benteng batu tua itu seolah berbicara tentang kisah ketahanan Raijua, menggema dari masa lalu, seperti karang yang tak goyah di hadapan gelombang. Sore menutup hari. Malamnya, diskusi iman Katolik bersama umat berlangsung hangat. Jagung bose tersaji. Obrolan berlanjut dengan Pater Franz Lackner. Lalu pulang.

Raijua tidak meninggalkan janji, hanya bekas. Bau laut menempel di pakaian dan ingatan. Pulau kecil itu mengajarkan bahwa iman, seperti karang, tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketahanan berdiri di hadapan gelombang, hari demi hari, tanpa banyak kata.

Kini, setelah aroma asin perlahan lenyap dari pakaian, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang tempat yang kutuju, tapi tentang ruang-ruang dalam diri yang akhirnya bisa kudengar. Iman bukan lagi sesuatu yang diwariskan atau diajarkan, tapi dialami—dengan debur laut, dengan angin sabana, dengan tangan Pak Tom, dan dengan bisikan ibu tua yang menitip doa.

Apa yang kubawa pulang? Mungkin bukan jawaban. Tapi aku tahu, saat ombak kembali bergulung dalam pikiranku, akan ada satu nama yang muncul pelan: Raijua. Bukan sebagai tempat, tapi sebagai cara baru melihat dunia.

Jumat, 25 Oktober 2024

Refleksi singkat: Mulai Menulis dan Cerita Hari ini

 Setelah sekian lama meninggalkan dunia blogging. Saya ingin kembali menulis. Ada banyak hal yang bermanfaat dengan duduk merenung dan menunagkan pikiran secara teratur agar dapat dipahami oleh orang lain. Membutuhkan kesabaran, dan pengendalian diri. Masihkah aku sanggup melakukannya di tengah dunia yang serba tergesa-gesa ini?

Semoga.


Nah ini berita baru hari ini. Saya diundang oleh Kelompok mahasiswa Aktivitas Pendalaman Iman Renha Rosari, Kelompok ini terdiri dari para mahasiswa di Kota Kupang yang berasal dari kabupaten Lembata dan Flores Timur, yang merupakan kawasan budaya Lamaholot. Saya membawakan materi tentang Hirarki Gereja, Saya ke sana, oh ia mereka mengadakan kegiatan Penerimaan anggota Baru ini di Daerah luar kota Kupang, di Kecamatan Kupang Barat. Ke sana butuh waktu 45 menit.

Setelah membawakan materi, saya mengajak frater berkunjung ke Rm Marcel Soge, Pastor rekan di Stasi Batakte. Di Batakte Rom Celo tidak dijumpai, di sana hanya ada adiknya. Romo Celo sedang ke Oinlasi untuk merayakan ulangtahun tahbisan imamat bersama rekan-rekan imam yang lain. Saya mengagumi perkembangan pembangunan di sekitar kapel: pastoran yang mungil dan nyaman serta asri dan gedung gereja yang massif. Gereja ini bakal menjadi salah satu gereja besar, dari segi bangunan, di Kota Kupang.

Saya dan Frater Leo akhirnya pamit pulang. singgah makan di RUmah Makan Sari Pitaka 2 BTN Kolhua, sambil live streaming ke Tiktok. Ternyata suasana di Rumah makan ini cukup nyaman dan saya berbpikir saya akan ke sini lagi. Kalau ada waktu dan uang.

Sekian saja refleksi hari ini!

Senin, 15 Mei 2023

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (PEMULIHAN PETRUS)

 Bahan Rekoleksi, Yohanes 21-1-19

Konteks: Perikop ini merupakan epilog/penutup dari Injil Yohanes. Murid-murid merasakan ketidakpastian setelah mengalami kejadian-kejadian seputar penyaliban Yesus . Peristiwa ini merupakan penampakan Yesus yang ketiga kalinya kepada murid-murid-Nya. Penampakan sebelumnya dicatat dalam Yoh. 20:19-23 (tanpa Tomas) dan Yoh. 20:26-29 (dengan Tomas) .

Epilog dalam kitab-kitab Injil diakhiri dengan perintah untuk menyebarkan Injil. Injil Matius diakhiri dengan Amanat Agung (Mat. 28:18-20), Injil Markus diakhiri dengan penyebaran berita Injil oleh para murid (Mrk. 16:8 dan Mrk. 16:20), dan Injil Lukas diakhiri dengan perintah Yesus kepada para murid untuk menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan dosa ke segala bangsa (Luk. 24:44-53). Demikian pula epilog dari Injil Yohanes menceritakan tema yang sama .

Beberapa saat setelah Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan para murid, Petrus menjadi gelisah. Dia telah mengikuti Yesus selama tiga tahun, dan sekarang Yesus muncul sesekali tetapi tidak lagi bersama mereka secara konsisten. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Tidak ada pilihan lain Kembali ke keadaan semula menjadi nelayan- memancing.

1.Back to Work, Kembali bekerja sebagai nelayan

Yohanes 21:1-7 :

Pekerjaan Nelayan bukanlah pekerjaan satu orang, dan malam hari adalah waktu terbaik untuk memancing. Maka, setelah memutuskan untuk kembali bekerja, Petrus dan enam nelayan lainnya bekerja keras sepanjang malam. Tapi sepanjang malam, berjam-jam melempar dan menarik jaring yang berat, mereka tidak menangkap apa-apa.

Tepat saat fajar menyingsing, ketika sudah waktunya untuk berhenti dan pulang, seseorang memanggil mereka dari pantai: "Apakah kamu dapat ikan?" Ketika mereka mengakui bahwa mereka tidak melakukannya, orang itu berseru, “Tebarkan jalamu di sisi kanan perahu, dan kamu akan menangkap ikan!” Mereka melakukannya, dan segera jaring itu benar-benar penuh dengan ikan - begitu banyak sehingga mereka bahkan tidak dapat menariknya kembali ke dalam perahu.

Fokus pada Teks: Jika adegan ini terdengar agak familiar, seharusnya begitu. Hal yang hampir sama terjadi ketika Yesus pertama kali memanggil Petrus sebagai murid-Nya - satu malam penuh memancing tanpa hasil apa-apa; Petrus melempar sekali lagi atas perintah Yesus diikuti dengan tangkapan ikan yang sangat banyak. Yesus sedang menciptakan kembali panggilan-Nya yang awal dari Petrus. Yohanes mencatat bahwa para murid bekerja sepanjang malam karena itulah yang mereka lakukan. Mencatat fakta bahwa Yesus muncul tepat saat fajar menyingsing mengingatkan kita pada kebangkitan ketika para wanita datang ke kubur juga saat fajar menyingsing. Itu menciptakan suasana terang yang menembus kegelapan, sangat sesuai dengan tindakan Yesus dalam memulihkan Petrus.

Jadi ketika Yohanes tiba-tiba menyadari siapa Orang Asing di pantai itu dan memberi tahu Petrus, Petrus tidak membuang waktu untuk segera  menemui Yesus. Meskipun nyatanya perahu itu tetap menuju ke pantai atau bahwa dia meninggalkan murid-murid lain untuk menangani muatan ikan yang berat. Begitu besar hasratnya bertemu Yesus, tidak terlintas sekalipun  kira-kira apa yang akan dia katakan kepada Yesus. Dia baru menyadari bahwa dia tidak berpakaian dengan pantas dan dia sangat ingin bersama Yesus, jadi dia segera mengenakan pakaian luarnya, melompat ke laut, dan berenang ke pantai. Itu bukanlah rencana yang dipikirkan dengan hati-hati, hanya tindakan impulsif dari hati yang merindukan Yesus.

Tuhan ingin kita menggunakan otak kita, memikirkan semuanya, dan membuat pilihan yang cerdas.

Coba pikirkan: Tuhan ingin kita menggunakan otak kita, untuk memikirkan semuanya, dan membuat pilihan yang cerdas. Yang paling penting, kita perlu menjadi seperti Petrus — jangan sampai putus asa berharap untuk bersama Yesus.

Fokus pada Teks: Pakaian normal orang Yahudi abad pertama adalah tunik dengan mantel luar atau jubah di atasnya. Seseorang akan melepas jubah luarnya pada malam hari atau di tempat privasi, tetapi tampil di depan umum hanya dengan mengenakan tunik dianggap tidak pantas. Petrus telah menanggalkan jubah luarnya saat bekerja sehingga tidak berpakaian pantas untuk terlihat di depan umum, meskipun dia tidak telanjang dalam pengertian modern.

2.     Breakfast with the Lord,  Sarapan/ Makan bersama dengan Tuhan

Yohanes 21:8-14 :

Sesampainya di pantai, Petrus dan murid-murid lainnya menemukan pemandangan yang tidak terduga, tetapi disambut baik - Yesus sudah menyalakan api arang, dengan ikan dan roti dipanggang di atasnya. Tetapi bagi Petrus, api itu lebih dari sekadar cara untuk menyiapkan makananhal itu juga mengingatkan dia akan api arang tempat di mana dia menyangkal Kristus.

Fokus pada Teks: Hanya ada dua tempat dalam Perjanjian Baru di mana istilah “api arang” digunakan. Keduanya ada dalam Injil Yohanes — sekali pada penyangkalan Petrus, dan sekali di sini pada adegan pemulihan Petrus. Yohanes menggambar paralel yang jelas antara dua api. Faktanya, Yesus membawa hal-hal yang berkaitan dengan perjumpaan sebelumnya. Selain api arang, ada persamaan yang jelas dengan panggilan awal Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes seperti yang dicatat dalam Lukas 5:4-11 . Roti dan ikan akan mengingatkan mereka tentang mukjizat memberi makan 5.000 orang. Yesus melayani para murid paralel dengan pelayanan-Nya yang rendah hati kepada mereka pada saat Perjamuan Terakhir. Ikan yang dipanggang, mengingatkan kepada peristiwa Yesus makan ikan untuk membuktikan bahwa Dia bukanlah roh pada penampakan pertama setelah kebangkitan-Nya dengan para murid. Ini lebih dari sekadar pertemuan kebetulan— pertemuan ini penuh dengan kenangan dan makna bagi para murid.

Yesus meminta para murid untuk membawa beberapa ikan yang baru saja mereka tangkap. Petrus uang berinisiatif segera melakukan perintah ini. (Mungkin dia merasa tidak enak karena sudah meninggalkan murid-murid lain untuk melakukan pekerjaan memasang jaring; mungkin sekarang dia bersama Yesus, dia merasa canggung, tidak tahu harus berkata apa, atau mungkin dia hanya ingin membuktikan dirinya dengan ketaatan langsung.) Dia menarik jaring ke pantai, mungkin dengan bantuan murid-murid lainnya, dan menemukan bahwa, setelah memilah ikan yang terlalu kecil untuk dikumpulkan, ada  sejumlah 153 ikan. Mencengangkan!

Lebih Dalam: Kita tidak yakin apa maksud Yesus dengan meminta mereka membawa beberapa ikan yang telah mereka tangkap. Mungkin Dia ingin mereka berbagi dalam menyediakan makanan; mungkin Dia hanya bermaksud agar mereka menyelesaikan pekerjaan menyortir ikan dan membuang ikan yang tidak akan mereka ambil. Namun demikian, permintaan Yesus jelas: mendaratkan perahu dan menghitung ikan. Hal ini membuat kita mengetahui besarnya mujizat: 153 ikan besar adalah hasil tangkapan yang sangat besar, dan fakta bahwa jala tidak putus sungguh menakjubkan! Alasan Yohanaes mengatakan bahwa ada 153 ikan hanya karena itulah jumlah ikan yang ada. Tidak ada makna simbolis pada jumlah tersebut. Seperti yang sering dilakukannya, di sini Yohanes menggunakan perincian untuk mengarahkan perhatian kita pada apa yang penting. Dia tidak memberitahu kita kapan persisnya berapa lama setelah kebangkitan adegan ini terjadi karena itu tidak penting untuk tujuannya. Namun untuk narasi ini, baik orang yang terlibat maupun latarnya sangat signifikan, sehingga Yohanes memberikan banyak detail tentang adegan tersebut: siapa yang ada di sana; waktu yang tepat, jumlah ikan yang tepat; pakaian yang dikenakan Peter; seberapa jauh mereka dari daratan; fakta bahwa jaring tidak koyak; kata-kata persis yang digunakan oleh berbagai pembicara; dll. Ini memberitahu kita untuk memperhatikan, tidak hanya pada apa yang dikatakan, tetapi pada keseluruhan adegan.

Setelah pekerjaan itu selesai dan sarapan selesai dimasak, Yesus mengundang mereka untuk makan. Perlu dicatat bahwa mereka tidak berani bertanya siapa Dia, menunjukkan bahwa mereka masih agak segan. Itu mungkin juga menunjukkan bahwa mereka ragu untuk datang bergabung dengan-Nya, jadi Yesus membawakan makanan untuk mereka dan menyajikannya kepada mereka.

3.     Difficult Questions, Pertanyaan-pertanyaan Sulit

Yohanes 21:15-19 :

Fokus pada Teks: Nama "Petrus" berarti "batu karang", dan Yesus sendiri telah memberinya nama "Petrus" ketika Dia pertama kali bertemu dengannya (1:42). Faktanya, hal pertama yang Yesus katakan kepada Petrus adalah, “Kamu adalah Simon, anak Yohanes. Kamu akan disebut Petrus.” Jadi ketika Yesus beralih kembali ke nama Petrus sebelumnya, “Simon, anak Yohanes,” implikasinya adalah bahwa pemuridan Petrus dipertanyakan.

Setelah sarapan, Yesus berbicara kepada Petrus. Petrus adalah orang yang menyatakan bahwa, bahkan jika semua murid lainnya meninggalkan Dia, dia akan berdiri bersama Dia sampai mati. Intinya, dia membual bahwa dia mencintai Yesus lebih dari murid-murid lainnya! Tetapi sekarang Yesus bertanya kepadanya apakah dia mengasihi Dia lebih dari murid-murid lainnya. Dengan kata lain, "Dengan semua yang telah terjadi, apakah Anda masih mempertahankan bualan Anda?" Petrus memberikan ucapan "Ya, aku mencintaimu!" Dia tidak mengulangi "lebih dari semua ini," meskipun - tampaknya Petrus berfokus pada apa yang dapat dia tegaskan, berharap untuk diperbandingkan dengan murid-murid lainnya. Atau mungkin dia sedikit tinggi hati. Lagi pula, Yesus telah menampakkan diri kepadanya secara pribadi dan bukan kepada murid-murid lainnya ( Lukas 24:34 , 1 Korintus 15:12 ). Dia sendiri yang telah melompat ke laut untuk berenang kepada Yesus, dan dia sendiri yang langsung menuruti perintah Yesus untuk mengambil ikan dari jala.

Ketika Petrus menegaskan kasihnya kepada Yesus, Yesus mengatakan kepadanya untuk “memberi makan domba-domba-Ku,” atau kemudian, “menggembalakan domba-domba-Ku.” Dengan kata lain, “Petrus, kamu tidak menunjukkan kasihmu kepada-Ku dengan menyombongkannya atau dengan membuktikannya, tetapi dengan pelayanan yang rendah hati kepada orang lain. Jika kamu benar-benar mencintai-Ku, tunjukkan dengan menjaga rekan seimanmu.”

Tetapi Yesus tidak akan membiarkannya dengan tanggapan yang dangkal. Jadi Dia bertanya lagi, “Petrus, apakah kamu benar-benar mencintai Aku?” Tetapi kali ini Yesus mengabaikan "lebih dari mereka ini". Sekali lagi Petrus memberikan tanggapan yang diharapkan: “Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu.”

Tuhan menginginkan komitmen yang dalam dan tulus kepada diri-Nya, dan akan terus mendorong kita sampai kita menghadapi apa pun yang menghalangi kita dari penyerahan diri yang nyata dan total.

Yohanes menekankan bahwa pertanyaan itu diajukan tiga kali, dan fakta bahwa pertanyaan itu diajukan tiga kali sangat melukai Petrus. Ketika Petrus menyangkal Kristus, dia memberikan jawaban yang mudah untuk tiga pertanyaan, dan sekarang dia dua kali memberikan jawaban yang mudah untuk pertanyaan Yesus. Yesus memaksa dia untuk menghidupkan kembali kegagalannya di masa lalu dan membawa dia berhadapan langsung dengan kecenderungannya untuk mengambil jalan keluar yang gampang. Tapi kali ini keberanian Petrus hilang. Di masa lalu, Petrus telah berusaha untuk mengoreksi Yesus, tetapi sekarang dia dengan putus asa memohon pengetahuan Yesus yang lebih tinggi. “Tuhan, Engkau tahu segalanya. Engkau tahu bahwa aku mengasihimu."

Coba pikirkan: Yesus terus mendesak sampai Petrus terluka parah, karena hanya dengan cara itulah Petrus akan benar-benar mengatasi ketidaksetiaannya. Tuhan menginginkan komitmen yang dalam dan tulus pada diri-Nya, dan akan terus mendesak kita sampai kita menghadapi apa pun yang menghalangi kita dari penyerahan diri yang nyata dan total.

Lebih Dalam: Beberapa komentator dan banyak pengkhotbah telah menunjukkan fakta bahwa Yohanes menggunakan dua kata Yunani yang berbeda untuk "kasih" dalam perikop ini: phileo Dan agapao (bentuk kata kerja dari agape yang lebih dikenal ). Mereka mengklaim bahwa agapao menunjukkan cinta yang dalam dan saleh, sedangkan phileo menunjukkan kasih sayang persaudaraan. Jadi sementara Yesus bertanya apakah Petrus memiliki kasih yang dalam dan tetap kepada Kristus (agapas me pleon touton), Petrus menegaskan kasih sayangnya (yang biasa) kepada Yesus. (su oidas hoti philo se). Alasan Petrus bersedih pada pertanyaan ketiga adalah karena Yesus mengubah pertanyaannya menjadi, "Apakah kamu benar-benar memiliki kasih sayang kepada-Ku?" (phileis me -- dengan mengubah agapao menjadi phileo), Ada komentator yang mengatakan bahwa untuk bisa menggapai Petrus, Yesus menurunkan kadar cinta yang dimaksud – dari agapao ke phileo. Meskipun kedengarannya bagus, mungkin bukan itu yang dimaksudkan oleh Yohanes. Pertama, meskipun kedua kata tersebut dapat memiliki penekanan yang berbeda, Yohanes tidak secara konsisten menggunakannya dengan cara tersebut. Misalnya, Yohanes 12:24 mengatakan bahwa orang Farisi menyukai ( agapao ) pujian manusia, sedangkan Yohanes 16:27 mengatakan bahwa Bapa mengasihi ( phileo ) kita. Kedua, Injil Yohanes berisi perubahan antara sinonim hanya untuk variasi, tanpa perbedaan makna yang dimaksudkan. Misalnya, Yesus juga mengubah antara  Feed my sheep "beri makan domba-domba-Ku" Βόσκε τὰ ἀρνία μου dan Feed my lambs "beri makan domba-domba-Ku" Βόσκε τὰ πρόβατά μου, dan tampaknya tidak ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Ketiga, kemungkinan Yesus dan Petrus berbicara dalam bahasa Aram (karena itu adalah bahasa umum Israel pada saat itu), dan bahasa Aram hanya memiliki satu kata untuk "cinta". Jadi secara keseluruhan, yang terbaik adalah melihat perubahan antara dua kata untuk "cinta" hanya sebagai bagian dari gaya penulisan Yohanes tanpa Signifikansinya perubahan arti yang dimaksudkan, dan kebanyakan ekseget mendukung pendapat ini. ditemukan, bukan dalam kata-kata yang berbeda, tetapi dalam kenyataan bahwa pertanyaan yang sama diajukan tiga kali, menggemakan tiga penyangkalan Petrus. The emphatic of Semitic Triplet:
SIMON, do you extremely love Me? 
Menggunakan tiga kali pernyataan untuk menyatakan bentuk superlative: Contoh Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan.

4.     Peter’s End and Restoration, Proses Pemulihan Petrus

Petrus telah berada di titik akhir. Dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk ditawarkan dalam pembelaannya sendiri atau sebagai bukti kasihnya, dan dia meminta pengetahuan Yesus yang mencakup segalanya. Jadi Yesus sekarang menegaskan realitas kasih Petrus. “Petrus, kamu pernah berkata bahwa kamu akan mati untuk Aku. Anda benar - Anda akan mati untuk saya. Suatu hari, seseorang akan mendandani Anda dengan pakaian yang tidak ingin Anda pakai, dan membawa Anda ke tempat yang tidak Anda inginkan — sampai mati disalib. Tetapi kamu akan pergi, dan dengan melakukan itu kamu akan membuktikan bahwa kamu benar-benar mengasihi Aku.”

Kemudian, setelah penampakan dan mujizat, setelah proses tanya jawab, setelah prediksi kesetiaan sampai mati, Yesus menyimpulkan dengan hanya berkata, “Ikutlah Aku.” Itulah kata-kata yang Dia gunakan untuk memanggil semua murid, dan dengan kata-kata yang sama, Yesus memperbarui panggilan-Nya kepada Petrus. Selama pelayanan Kristus di bumi, "Ikutlah Aku" secara harfiah berarti "Berjalanlah ke mana Aku berjalan dan tinggallah di mana Aku tinggal." Tapi sekarang artinya, "Ikuti ajaran-Ku, patuhi perintah-Ku, dan berjalanlah dalam Roh-Ku." Ini menjadi perintah berbaris baru bagi para murid, dan bagi kita.

Refleksi

Tuhan Yesus memiliki cara yang ajaib untuk memulihkan kembali manusia yang pernah meninggalkan dan mengabaikan-Nya. Luar biasanya adalah bahwa Dia tidak mempermalukan kita. Dia tidak mengkritik kita seperti kebanyakan orang yang merasa rohaninya lebih tinggi. Dia juga tidak memaksa kita untuk berusaha lebih keras lagi. Sebaliknya, Dia meminta kita dengan suara yang lembut agar kita meneguhkan kembali kasih kita kepada-Nya. Yesus langsung menyentuh akar permasalahannya.

Petrus pernah meninggalkan Yesus tatkala dia melarikan diri bersama para murid lainnya dari taman Getsemani. Bahkan di hadapan banyak orang, Petrus menyangkal bahwa dia pernah mengenal Yesus. Petrus mungkin akan terheran-heran bila dia masih bisa menjadi murid Yesus, padahal dia tidak setia kepada Yesus tatkala Gurunya berada pada saat-saat yang genting. Sebelumnya, Petrus pernah berkata, "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (Luk. 22:33) Pada kenyataannya, jawaban Petrus sering tidak jauh berbeda dengan jawaban dan praktik hidup kita.

Ketika menulis refleksi pribadi harian atau refleksi dalam rekoleksi dan pengakuan dosa, kita mungkin dengan pedih menyadari bahwa kita telah meninggalkan-Tuhan dan menyangkal-Nya dalam berbagai cara. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya karena kita hidup dengan tidak setia; atau mungkin juga karena kita tidak taat pada firman-Nya. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya lewat cara hidup kita yang menyakitkan hati-Nya.

Perhatikanlah, apa yang Yesus lakukan bagi kita? Yang Dia akan lakukan adalah Dia akan bertanya kepada kita seperti yang pernah Dia lakukan terhadap Rasul Petrus. Dia tidak mencaci-maki kita. Dia tidak akan mempermalukan kita. Dia tidak mengejar-ngejar kita dengan dakwaan. Dia hanya akan bertanya dalam batin kita, "Apakah engkau mengasihi-Ku?" Jika jawaban kita seperti jawaban Petrus, "Ya Tuhan", Dia akan meneguhkan kembali kehendak-Nya dalam diri kita. Jika kita sungguh mengasihi-Nya, kita akan menaati perintah-Nya (Yoh. 14:15). Kasih kita kepada Tuhan mengawali dan membuka jalan untuk sebuah ketaatan kepada Tuhan.

Kita sering menyatakan keyakinan kita bahwa kita mengasihi Allah tetapi pada saat yang sama kita menyadari bahwa kita ternyata lebih sering bertindak sebaliknya -- lebih mengasihi diri kita sendiri. Penghalang utama mengapa kita mengasihi Allah dalam situasi yang maju mundur tidak terletak pada faktor luar tetapi terletak dalam diri kita sendiri yakni pada "kehendak manusia kita atau kehendak kita sendiri". Pada kenyataannya, kita lebih suka berbicara mengenai kehendak-Nya daripada melakukannya. Ingatlah, kita tidak dapat mengerjakan kehendak Allah apabila kita terus sibuk mengerjakan kehendak kita sendiri. Kita tidak dapat bersungguh-sungguh berdoa, "Datanglah kerajaan-Mu" sampai kita secara resmi berdoa, "kerajaanku pergilah" [Tim Impian Tuhan, 23].

Ketidakpercayaan dan kekerasan hati kita akan hak dan agenda pribadi kita adalah belenggu yang mengikat sehingga kehendak Allah tidak dapat turun dan masuk dalam hidup dan pelayanan kita. Banyak di antara kita lebih suka mengutamakan agenda kita daripada agenda Allah. Banyak di antara kita lebih tertarik pada hal menjaga hak-hak kita daripada mengejar maksud-maksud Tuhan. [Tim Impian Tuhan, 34].

(Yesus Kristus) yang walaupun memiliki rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia membuat diri-Nya tidak memiliki apa-apa dan menghambakan diri sebagai budak untuk menjadi sama dengan rupa manusia. (Filipi 2:6-7, AYT)

Ego kita sering mengesampingkan penalaran kita. Kita lebih suka kalah dengan kehendak yang tak terpatahkan daripada menang dan menjadi tunduk. Ketidaktaatan dan ketidaktundukan kita menjual kredibilitas kita. Tidak ada alasan bagi dunia untuk percaya bahwa kita berasal dari Allah bila kita bertindak seperti Iblis. [Tim Impian Tuhan, 30].

"Seandainya seorang raja mencintai pelayannya yang miskin," begitulah seorang filsuf Denmark, Soren Arby Kierkegaard (1813-1855), mengawali perumpamaannya. Bagaimana cara sang raja menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Mungkin sang pelayan akan menanggapinya karena takut atau terpaksa, padahal sang raja ingin pelayan itu mencintainya dengan tulus. Maka kemudian sang raja yang sadar bahwa dia tidak boleh tampil sebagai raja bila tak ingin menghancurkan kebebasan orang yang dikasihinya, memutuskan untuk menjadi orang biasa. Dia meninggalkan takhtanya, melepas jubah kebesarannya, dan memakai pakaian compang-camping. Dia bukan hanya menyamar, tetapi benar-benar memiliki identitas baru. Dia sungguh-sungguh menjadi pelayan untuk memikat hati sang pelayan muda yang dicintainya. Ini layaknya sebuah taruhan. Pelayan itu mungkin akan mencintainya, atau justru menolaknya habis-habisan sehingga dia tidak akan mendapatkan cintanya seumur hidupnya! Hal yang sama, pilihan yang diberikan Allah kepada manusia, dan tentu saja, itulah makna perumpamaan di atas. Tuhan kita merendahkan diri-Nya untuk memenangkan hati kita. "Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Fil. 2:5-7).

Sekarang, ada pertanyaan untuk direnungkan, "Akankah kita mengasihi-Nya lebih dalam lagi atau kita menolak, mengabaikan, atau bahkan meninggalkan-Nya?"

Lalu apa yang harus saya perbuat?

Kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus harus menempelak kita, roh ketaatan dan ketundukan harus melingkupi kita, atau kita sama sekali tidak akan pernah mencapai apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan yaitu: "mengasihi Dia lebih dalam lagi" [Tim Impian Tuhan, 41].

Memang, tidak mudah membuat komitmen untuk mengasihi Allah dan setia menjalaninya. Komitmen kita sering kali tidak mampu mencapai masa yang panjang. Stamina rohani kita tidak selalu berada dalam kondisi puncak. Bila dikalkulasikan, mungkin catatan kegagalan kita untuk memenuhi komitmen yang kita buat sendiri akan terlihat menumpuk. Kegagalan demi kegagalan mewarnai perjalanan iman kita. Inilah cermin dari natur lama kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa. Kini, Dia hanya minta satu hal: "lebih dalam lagi mengasihi-Nya."

Yesus tidak membutuhkan hal lain dari kita selain komitmen kita, yang meskipun berulang-ulang jatuh dan bangun, dan janji-janji kita yang coba kita penuhi dengan lebih keras lagi. Jika tekad kita menaati Allah, lalu ternyata tidak menolong kita untuk setia, itu juga yang akan membuat kita tidak berhasil, itu artinya kita telah salah bertindak. Yesus hanya meminta kasihmu. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya, baik sikap, ketundukan maupun penyerahan diri, bahkan pelayanan kita kepada-Nya ini akan lebih berkualitas seperti yang Dia kehendaki.

Doa: Tuhan kami ingin menjadikan Engkau sebagai Tuhan atas hidup kami dan tidak hanya sekadar memanggil Engkau Tuhan. Roh Kudus, kami memohon kiranya Engkau meyakinkan dan menyempurnakan kami sehingga kami dapat mencapai apa yang Bapa ingin kami lakukan. Kami berdoa agar kerajaan kami lenyap sehingga kerajaan-Mu yang hadir dan Engkau bertakhta dalam hati kami. Kiranya kehendak kami dihancurkan sehingga kehendak-Mu dapat terlaksana di bumi seperti di surga. Amin.

Selasa, 17 Maret 2020

Berjumpa dengan Tuhan yang Dimuliakan (Bahan Rekoleksi)


Mat 17:1-9
 
Pendahuluan
 
Ada satu pertanyaan mendasar yang muncul di tengah-tengah para pembaca Matius sehubungan dengan teks renungan kita pada hari ini (yang biasanya dikenal sebagai peristiwa transfigurasi Yesus), pertanyaan ini bahkan mewarnai seluruh Injil Matius ini, yaitu apakah Yesus memang Mesias yang dari Allah?
Pertanyaan ini muncul karena:
- Mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah sangat lama menanti-nantikan kedatangan Mesias dan mereka sedang berada dalam pergumulan besar karena sedang dijajah oleh bangsa lain.
- Mesias yang mereka nanti-nantikan itu dari awal kedatangan hingga sepanjang hidupnya “mestinya” selalu dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Kitab Daniel misalnya mengafirmasi penantian yang seperti ini (lih. Dan. 7:13-14).
- Mesias yang datang itu “mestinya” tidak mengalami penderitaan. Dalam hal ini mereka telah melupakan fakta dan nubuatan tentang hamba Tuhan yang menderita sebagaimana diberitakan oleh nabi Yesaya (Yes. 53:2-3).
Sekarang mari kita melihat Yesus. Yesus datang dari awal bukan dalam kemuliaan dan kekuasaan, sebaliknya dalam kehinaan dan keterpurukan. Selain itu, Yesus yang datang justru “harus” mengalami penderitaan, dan itulah yang diberitahukan oleh Yesus sebelumnya kepada murid-murid-Nya (Mat. 16:21-28). Dengan demikian, “wajarlah” kalau mereka memiliki keragu-raguan akan kemesiasan Yesus itu, bahkan Petrus sendiri telah berusaha “menolak” penderitaan yang harus dialami oleh Yesus (Mat. 16:22).
Nah, kisah Yesus yang dimuliakan ini (Mat. 17:1-13) hendak menjawab pertanyaan dan keragu-raguan itu! Secara sederhana penulis Injil Matius mengajak para pembacanya untuk “bersama-sama dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes” ikut “merasakan dan mengalami” kemesiasan Yesus itu, sehingga dengan demikian tidak ada lagi keragu-raguan dalam mengikut Yesus sebagai Tuhan.
Peristiwa pemuliaan Yesus ini dicatat selain dalam perikop kita hari ini Injil Matius (17:1-9), juga dalam Markus (9:1-8) dan Lukas (9:28-36), sedangkan Injil Yohanes tidak memasukkan kisah ini sebab dari awal Yesus sudah ditampilkan sebagai sebagai pribadi yang mulia, yaitu sebagai Allah (Yoh 1:1).


Setting Peristiwa
 
Matius dan Markus mencatat bahwa peristiwa transfigurasi terjadi enam hari sesudah percakapan di Kaisarea Filipi (Mat 17:1; Mar 9:2), yaitu ketika Yesus membuka diri-Nya secara eksplisit sebagai Mesias yang menderita (Mat 16:13-28; Mar 8:27-38). Di sisi lain Lukas mencatat bahwa peristiwa ini terjadi kira-kira delapan hari sesudahnya (Luk 9:28). Sebenarnya ketiganya memaksudkan hal yang sama. ”Sesudah enam hari” berarti merujuk pada hari ketujuh, sedangkan ”kira-kira delapan hari” juga dapat merujuk durasi waktu yang sama. Dengan kata lain, mereka semua mencatat bahwa peristiwa ini terjadi seminggu sesudah peristiwa di Kaisarea Filipi, hanya saja Matius dan Markus memakai cara Yahudi sedangkan Lukas mengungkapkannya menurut budaya Yunani (D. A. Carson).
Sebagian penafsir mencoba memberi makna khusus terhadap catatan waktu ini. Beberapa menganggap bahwa enam hari ini adalah masa antara Hari Raya Pendamaian dan Hari Raya Tabernakel (Penahbisan Bait Allah), namun tidak ada bukti yang jelas bahwa Matius 16:21-17:8 terjadi di antara dua hari raya tersebut. Yang lain menghubungkan peristiwa ini dengan Keluaran 24:16 ketika Musa selama enam hari ada di gunung dan dilingkupi dengan kuasa Allah, namun enam hari dalam peristiwa ini adalah enam hari Musa melihat kemuliaan, bukan enam hari antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, seperti dalam kasus transfigurasi. Tafsiran ini akan semakin terlihat dipaksakan apabila kita mengaitkan dengan catatan Lukas ”kira-kira delapan hari” (bukan enam hari!). Jadi, kita sebaiknya tidak menambahkan makna tertentu pada keterangan waktu ini.
Setting lain yang perlu kita perhatikan adalah tempat. Matius mencatat bahwa peristiwa ini terjadi ”di sebuah gunung yang tinggi”. Gunung pasti tinggi, sehingga penambahan ”yang tinggi” mengindikasikan bahwa ketinggian gunung ini adalah di atas rata-rata. Mayoritas bapa gereja meyakini bahwa gunung yang dimaksud adalah Gunung Tabor. Identifikasi paling awal gunung tempat transfigurasi ini adalah dari Origen pada abad ke-3 Masehi. Juga disinggung oleh St. Cyril dari Jerusalem dan Hieronimus pada abad ke-4. Walaupun ini adalah pandangan tradisional sejak lama, tetapi hampir semua teolog modern menolak dugaan ini dengan alasan bahwa: (1) Gunung Tabor (600 m) termasuk sangat rendah untuk layak dikategorikan sebagai ”gunung yang tinggi”; (2) menurut Josephus, seorang sejarahwan Yahudi waktu itu, pada abad ke-1 di puncak Gunung Tabor dikelilingi tembok untuk benteng pertahanan; (3) posisi Gunung Tabor tidak sesuai dengan rute perjalanan Yesus dari Kaisarea Filipi (16:13) ke Kapernaum (17:24) lalu ke Yerusalem (band. 16:21), karena Gunung Tabor terletak antara Kapernaum dan Yerusalem. Jika tansfigurasi terjadi di gunung ini, maka Yesus telah melakukan perjalanan memutar dari Kaisarea Filipi ; Gunung Tabor – Kapernaum – Gunung Tabor ; Yerusalem.
Sebagian teolog mengusulkan Gunung Hermon (2814 m) sebagai tempat transfigurasi. Sama seperti usulan pertama, usulan ini pun sulit untuk diterima: (1) Gunung Hermon terlalu dingin untuk didiami selama semalam (band. Luk 9:37), karena puncak gunung ini selalu bersalju di sepanjang waktu; (2) posisi Gunung Hermon malah lebih ke utara lagi dibandingkan Gunung Tabor, sehingga kalau transfigurasi terjadi gunung ini maka Yesus juga memutar dari Kaisarea Filipi – Gunung Hermon – Kaisarea Filipi – Kapernaum – Yerusalem; (3) menurut catatan Markus (Mar 9:14), ketika rombongan Yesus turun dari gunung mereka mendapati murid-murid lain sedang berdebat dengan para ahli Taurat. Sesuai tradisi waktu itu, kehadiran ahi Taurat di sekitar Gunung Hermon yang terletak jauh di utara Yerusalem tampaknya sangat janggal.
Kita sebaiknya mengikuti para penulis Alkitab yang sengaja tidak menjelaskan posisi detil dari gunung ini. Dari cara mereka menceritakan peristiwa ini terlihat bahwa identifikasi gunung ini tidak sepenting peristiwa yang terjadi di atasnya.


Makna Transfigurasi
 
Apa signifikansi peristiwa transfigurasi? Mengapa Yesus perlu menyatakan diri seperti ini? Ada beberapa petunjuk yang diberikan dalam teks kita tentang tujuan transfigurasi.
1. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan
Dari sekian banyak tokoh Perjanjian Lama, hanya dua tokoh yang muncul dalam peristiwa transfigurasi, yaitu Musa dan Elia. Mengapa dua tokoh ini muncul? Secara simbolik, munculnya Musa dan Elia merupakan simbol Hukum Taurat dan para Nabi. Tetapi suara Allah dari Surga – “Dengarkan Dia!” – jelas menunjukkan bahwa Hukum dan Nabi harus memberi jalan kepada Yesus. Dia, jalan yang baru dan hidup, menggantikan yang lama; Dia memenuhi segala tuntutan dari Hukum Taurat dan nubuat para nabi yang tidak terhitung jumlahnya di Perjanjian Lama. Kehadiran Musa dan Elia sebagai konfirmasi kedatangan Mesias. TUHAN pernah berjanji bahwa Dia akan membangkitkan seorang nabi di akhir jaman yang sama seperti Musa (Ul 18:15, 18). Dalam perkembangan selanjutnya, janji ini dipahami sebagai salah satu nubuat tentang datangnya mesias. Kedatangan mesias sendiri di tempat lain dinubuatkan akan didahului dengan Elia akhir jaman (Mal 3:1; 4:5-6). Yang dimaksud Elia yang akan datang ini adalah Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; band. 11:10-14; Luk 1:17).
Sebelum transfigurasi Yesus berbicara tentang identitas diri-Nya sebagai mesias (Mat 16:13-20). Selanjutnya Dia menjelaskan tentang mesias yang menderita dan syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:21-26). Di akhir pembicaraan ini Yesus menyinggung tentang kemuliaan-Nya sebagai Anak Manusia yang menggenapi nubuat mesianis di Daniel 7:13-14 (Mat 16:27-28). Ucapan Allah dari surga di Matius 17:5 pun turut mengingatkan kita kembali tentang peristiwa pembaptisan (Mat 3:13-17) ketika Bapa memproklamasikan Yesus sebagai penggenap nubuat di Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Semua petunjuk ini meyakinkan kita bahwa transfigurasi memang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan.
2. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus melebihi Musa maupun Elia
Dari cara penulisan kisah transfigurasi kita dengan mudah dapat melihat bahwa Yesus bukan sekedar seorang nabi akhir jaman. Dia jauh melebihi Musa maupun Elia (terutama Musa). Poin ini sangat penting bagi murid-murid yang terbiasa menganggap Musa sebagai nabi yang terbesar dalam sejarah bangsa Israel.
Bagaimana superioritas Yesus ditunjukkan melalui transfigurasi? Pertama, kalau Musa hanya sekedar memantulkan kemuliaan Allah setelah bercakap-cakap dengan Dia (Kel 34:29-30), maka Yesus berubah rupa sendiri (Mat 17:2), bahkan sebelum Allah menyatakan diri-Nya (Mat 17:5). Kedua, ucapan Allah di ayat 5 terfokus pada diri Yesus saja. Dengan kata lain, hanya Yesuslah Anak yang dikasihi; hanya Yesuslah yang berkenan di hati Allah; hanya Yesuslah yang harus didengarkan. Tentu saja ini tidak berarti bahwa semua firman Allah melalui Musa dan Elia harus dilupakan. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah wahyu yang tertinggi (Yoh 1:18; Ibr 1:1-2). Ketiga, menghilangnya Musa dan Elia di akhir transfigurasi menunjukkan bahwa kehadiran mereka berdua hanya untuk melayani Yesus, yaitu menunjukkan siapa diri-Nya yang sebenarnya. Sebagai fokus dari kisah ini Yesus jelas lebih penting daripada mereka berdua.
 
3. Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus adalah mesias yang menderita sekaligus mulia
Kita tidak boleh melupakan konteks dari kisah transfigurasi. Sebelum peristiwa ini Yesus sudah menubuatkan bahwa Dia harus menderita di Yerusalem (Mat 16:21). Berita ini sulit dimengerti oleh murid-murid sehingga mereka menolak ide tentang mesias yang menderita (Mat 16:22-23). Dalam konteks seperti inilah Yesus menunjukkan diri-Nya yang sebenarnya di depan murid-murid. Lukas bahkan secara khusus mencatat isi pembicaraan Yesus dengan Musa dan Elia, yaitu seputar penderitaan di Yerusalem (Luk 9:31). Transfigurasi mengajarkan bahwa penderitaan dan kehinaan yang dilalui Yesus tidak meniadakan kemuliaan-Nya. Sebaliknya, hal itu justru merupakan jalan ke arah kemuliaan.
Petunjuk lain tentang hal ini terdapat dalam kisah transfigurasi sendiri. Dalam kisah ini Allah sekali lagi menegaskan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih (Mzm 2:7) dan objek perkenanan Allah (Yes 42:1). Sebagai mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya, Yesus adalah mesias yang menderita (Yes 53). Setelah turun dari gunung, Yesus menghubungkan transfigurasi dengan kebangkitan-Nya dari kematian (Mat 17:9). Jadi, seluruh peristiwa transfigurasi mengarah pada penderitaan Yesus.


Respon kita terhadap transfigurasi
 
Ketika identitas Yesus dinyatakan secara tegas dalam peristiwa transfigurasi, hal itu tentu bukan tanpa alasan. Kisah ini bukan sekedar pamer kemuliaan atau pembuktian sesuatu. Ada hal-hal tertentu yang diharapkan sebagai respon dari murid-murid dan kita. Bagaimana kita seharusnya meresponi penyataan Yesus di atas gunung?
 
1. Kita tidak perlu takut menderita karena ada kemuliaan yang menyertai kita
Seperti sudah disinggung sebelumnya, transfigurasi merupakan penggenapan dari ucapan Yesus bahwa di antara murid-murid-Nya ada yang tidak akan mati sebelum melihat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya sebagai raja (Mat 16:28). Kemuliaan Anak Manusia ini sendiri sangat berkaitan dengan ayat 27 tentang kedatangan Anak Manusia di akhir jaman untuk menghakimi setiap orang. Jadi, transfigurasi harus dilihat sebagai ”cicipan” dari apa yang akan terjadi di akhir jaman, yaitu Yesus yang datang dalam kemuliaan-Nya.
Lebih jauh kita perlu menyelidiki mengapa Yesus perlu membicarakan tentang kemuliaan-Nya? Sesuai konteks kita mengetahui bahwa hal ini merupakan bagian dari kotbah Yesus tentang syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:24-27). Syarat ini membahas tentang kesediaan murid-murid untuk menderita dan mati bagi Kristus. Mereka tidak perlu takut atau kuatir terhadap penderitaan di dunia ini. Semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang nanti akan mereka nikmati bersama Yesus (band. 2Kor 4:17).
Demikian pula dengan kita. Walaupun Yesus belum datang dalam kemuliaan-Nya yang agung di akhir jaman, namun Dia telah memberi bukti tentang hal itu melalui transfigurasi. Yesus telah memberi kepastian kepada murid-murid karena kita cenderung ”menikmati” dunia ini dan begitu terpikat kepadanya. Kita lupa bahwa hidup kita harus diarahkan pada kemuliaan yang nanti kita nikmati di surga. Orientasi hidup seperti ini akan memampukan kita untuk berani menderita bagi Kristus selama di dunia.
2. Kita menghargai kehadiran Yesus dalam kemuliaan-Nya
Ketika murid-murid melihat kemuliaan Yesus mereka langsung meresponi dengan perkataan ”betapa bahagia kami berada di tempat ini!” (Mat 17:4a). ”adalah baik bagi kami untuk berada di tempat ini”. Mereka bahkan ingin mendirikan kemah bagi Yesus, Musa dan Elia supaya kehadiran mereka bertiga dalam kemuliaan lebih permanen. Seandainya pendirian ”kemah” di sini berhubungan dengan Hari Raya Tabernakel, maka hal itu semakin memperjelas maksud murid-murid: mereka ingin agar tiga tokoh tersebut tinggal dalam konteks ibadah, sama seperti kehadiran Allah di bait Allah.
Dari catatan Kitab Suci kita mengetahui bahwa ucapan Petrus di atas memang tidak semuanya tepat. Dia mengucapkan itu dalam ketakutannya (Mar 9:6; Luk 9:33b). Allah pun memotong perkataan Petrus (Mat 17:5 ”tiba-tiba ketika dia sedang berbicara;”) sebagai tanda bahwa apa yang diucapkannya tidak tepat. Bagaimanapun, kita harus memahami dengan benar bentuk kesalahan dalam ucapan Petrus. Kesalahan ini bukan terletak pada keinginan Petrus untuk terus-menerus bersatu dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Kesalahan Petrus adalah dia tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu harus dinikmati dengan cara turun dari gunung dan berjalan menuju Yerusalem (band. 16:21), bukan ”berada di sini” (di gunung).
Sekarang Yesus sudah dimuliakan di surga, namun Dia sendiri telah berjanji akan hadir setiap kali orang beriman berkumpul dalam nama-Nya (Mat 18:20). Kehadiran ini pasti melibatkan kemuliaan-Nya.
3. Kita menghormati kemuliaan Yesus dengan cara menaati Dia
Transfigurasi merupakan konfirmasi dari pihak Allah bahwa Yesus benar-benar adalah mesias yang menderita. Hal ini perlu dilakukan oleh Allah untuk memperjelas kesalahan murid-murid. Kalau di Matius 16:22-23 Yesus sudah menegur Petrus, sekarang Allah Bapa juga langsung menegur Petrus. Allah Bapa berkata dalam keagungan-Nya yang dinyatakan melalui awan yang terang, ”dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5b). Suara inilah yang membuat murid-murid langsung bergetar. Ayat 6a ”mendengar itu tersungkurlah murid-murid;”. Mereka tersungkur terutama bukan karena awan yang terang; bukan karena pernyataan Bapa bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih dan Dia perkenan (ayat 5a), karena waktu peristiwa baptisan pernyataan itu sudah diucapkan dan murid-murid tidak ada yang tersungkur. Mereka tersungkur karena Bapa menegur mereka. Sebelumnya mereka mencoba mengatur Yesus dan menghalangi perjalanan Yesus menuju salib (Mat 16:22-23). Dalam transfigurasi Bapa menegur mereka dengan sangat keras bahwa merekalah yang harus mendengarkan Yesus, bukan sebaliknya! Mereka harus menerima dan menaati apa yang Yesus sampaikan, bukan keinginan hati mereka sendiri!
Kegentaran murid-murid dinyatakan secara jelas oleh penulis Kitab Suci. Mereka langsung tersungkur (ayat 6a, lit. ”menelungkupkan wajah ke tanah”). Mereka juga sangat ketakutan (ayat 6b, lit. ”takut dengan sangat”). Mereka terus-menerus berada dalam posisi seperti ini sampai-sampai Yesus merasa perlu untuk menyentuh dan menghibur mereka (ayat 7). Sentuhan ini jelas menyiratkan betapa mereka sangat ketakutan dan membutuhkan lebih dari sekedar perkataan penghiburan. Mereka juga tidak berani ”mengangkat wajah” (ayat 8a, lit. ”mengangkat mata”). Mereka benar-benar telah dibuat takluk oleh Allah. Semua kegentaran ini tentu tidak akan ada artinya kalau mereka tidak mendengarkan Yesus.


Penutup
Kisah mengenai transfigurasi ini menampilkan Yesus yang memiliki dan memancarkan sinar kemuliaan dan keagungan-Nya sebagai Anak Allah dan Sang Terurapi (Mesias atau Kristus) yang jauh melebihi Musa dan Elia. Sebagai wakil hukum dan nabi-nabi, Alkitab mencatat bahwa Musa dan Elia telah melihat dan menjadi saksi kemuliaan Allah dalam proses sejarah keselamatan umat dalam Perjanjian Lama (bnd. Kel. 24:12-18; 33:7-23; 34:29-35; 1 Raj 19:1-18). Kemudian Alkitab memberitakan bahwa di dalam dan melalui peristiwa Yesus Kristus - yang menjadi manusia, melayani, menderita, taat sampai mati di kayu salib, dikuburkan, dan kemudian bangkit dari maut - nyatalah, genaplah, dan sempurnalah karya Yesus sebagai Nabi, Imam, dan Raja yang dinubuatkan dalam Kitab Suci Kristiani.
Oleh karena itu, marilah menjadikan peristiwa Yesus Kristus menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan inspirasi bagi kita semua dalam proses peziarahan panggilan kita di dunia yang menderita ini hingga menuju sorga. Marilah kita berjalan bersama Allah dalam proses “pendakian gunung kehidupan yang berat” dalam perjalanan spiritual kita masing-masing, terutama sebagai imam dan calon-calon imam, sampai kita bersedia sungguh-sungguh untuk diubah oleh Allah sebagai sumber kemuliaan (2 Kor. 3:18). Marilah ‘bangkit berdiri dan jangan pernah takut’, karena Kristus sudah bangkit dari kubur untuk mengalahkan kuasa maut! Dan janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi marilah kita berubah (“metamorphomai”) secara spiritual oleh pembaruan budi, agar kita sanggup membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Rom 12:2). Sekali lagi, marilah berubah ke arah yang lebih baik, lebih benar, lebih adil, lebih manusiawi, karena Kristus!

Selasa, 05 November 2019

Kopi pagi

Meskipun tersedia banyak pilihan jenis sarapan orang Timor, minum kopi adalah salah satu pilihan populer untuk mengawali kegiatan di pagi hari. Minum kopi sudah menjadi bagian dari budaya orang Timor, meski pun kopi tidak begitu tumbuh dengan subur di Timor, kecuali di bagian Timur pulau Timor, dan banyak kopi yang diminum adalah kopi buatan alias racikan dari sedikit tepung kopi dicampur berbagai bahan untuk memenuhi kuota permintaan konsumen pembeli kopi. Jadi jangan heran kalau kau berkunjung ke rumah orang lalu ditawari kopi atau teh, kau menjawab kopi sebab kopi mengingatkan kau akan ritus pagi yang menyegarkan namun kemudian yang tersuguh di depanmu adalah sejenis minuman yang rasa aneh mirip kopi tapi bukan (kau tahu dengan jelas karena kau seorang peminum kopi sejati), namun kau tak berani membantah dan menolak suguhan tersebut sebab kau akan dinilai tidak menghargai pemberian dan pelayanan tuan rumah, singkatnya melalui suguhan minuman berasa kopi kau sedang diuji apakah kau tamu yang baik atau tamu yang judes. Titik.

Selasa, 29 Oktober 2019

Catatan untuk (calon) Petani


“Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk makan sebuah pisang?”


Jawabannya tergantung tingkat kesabaran seseorang.


Orang yang sabar akan mulai dengan cara mencari anakan pisang, menanam, memelihara dan merawat tumbuhan pisang hingga mendapatkan buah pisang yang matang. Sesudah itu barulah pisang matang itu dipetik dan diolah untuk menjadi penganan apa saja yang sesuai dengan selera orang penanam pisang tersebut.


Cukup lama bukan?


Karena kelamaan maka kita tinggalkan saja. Mari kita menyimak dua gurauan di sini.


Pertama dalam sistem perekonomian, pertanian itu penting. Semaju apa pun sebuah negara ia tetap bergantung sepenuhnya pada sistem pertanian. Dunia hanya bisa memperoleh makan dari pertanian, bukan dari penjualan senjata. Mau makan itu senjata?


Bergelut dengan tanah untuk menghasilkan tumbuhan yang bisa dimakan itulah sejatinya kerja manusia. Pertanian adalah pekerjaan termulia sesudah berburu, karena dari situlah kita mengolah tanah tempat kita berpijak untuk menjadi makanan, menjadi bagian dari tubuh kita, menjadi bagian dari kepribadian kita.


Catatan ini belum selesai.


Perjalanan dari Soe Ke Kupang akan mulai terasa tersumbat, kalau sudah melewati hutan camplong. Begitu masuk dataran Oelmasi (yang secara keliru dieja Oelamasi) kau akan menyaksikan dua pemandangan yang saling bertolak belakang: tanah subur yang digarap menjadi sawah dan kebun sayur, bertumpang tindih dengan bangunan gedung pemerintahan maupun gudang dan toko-toko serta bangunan industri kecil. Kedua bentuk penghidupan ini sepertinya sedang berlomba-lomba mencari perhatian. Dan dari atas mobil atau sepedamotor yang melaju kau tidak mungkin lengah memperhatikan kedua bentuk kehidupan ini. Dan itulah yang terjadi. Mungkin kau tidak ambil peduli karena kau sedang buru-buru kembali ke kos untuk menyelesaikan tugas kuliah yang sudah ditinggal seminggu karena kau ke kampung untuk ikut pesta nikah sepupumu, tapi kenyataan ini benar-benar nyata sehingga kau bahkan mempertanyakan kembali jurusan perkuliahan kamu.


Mengapa saya memilih fakultas pertanian, bukan teknologi informasi?


Itu karena kau dalam lubuk hatimu sadar bahwa pekerjaan dasar yang paling dibutuhkan semua makhluk di muka bumi ini adalah pertanian.


Selamat menjadi sarjana pertanian. Jangan berhenti saat menggenggam ijazah tapi jadilah petani yang sejati….

Selasa, 22 Oktober 2019

Antara Timor Leste dan Papua New Guinea


Timor Leste adalah nama sebuah negara yang relatif baru, baru berdiri pada 20 Mei 2002. Kawasan negeri ini adalah di sebelah Timur pulau Timor. Sebelumnya kawasan ini merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai propinsi ke-27, yakni daerah propinsi yang baru bergabung jauh setelah Proklamasi Kemerdekaan NKRI.
Setelah menjadi negara baru, alih-alih semakin menjauh dari induknya NKRI, negara baru ini semakin menunjukkan kemesraan dengan Indonesia. Benar-benar mesra karena hampir segala kebutuhan terutama sembako, didatangkan dari negara Indonesia.
Mungkin pembaca akan manggut-manggut, bahwa Timor Leste sudah tidak lagi punya sangkut paut dengan Indonesia, karena itu cuma urusan hubungan diplomatis antar negara. “Kamu jual, kami beli!” atau “Kami membeli supermi, bukan mengemis dan diberi supermie”
Pertanyaannya, mengapa orang indonesia ikut-ikutan menyebut negara baru tersebut dengan Timor Leste?
Maksud saya dengan menyebut Timor Leste sebenarnya orang Indonesia lupa bahwa bahasa resmi negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Jadi kalau mau konsekuen, kita harus menyebut sebuah negara dalam bahasa kita sendiri. Misalnya negara Jerman bukan negara Deutschland. Polandia bukan Polska, Amerika Serikat bukan You Es Ei dsb. Jadi Timor Timur, bukan Timor Leste.
Tapi siapa peduli?
Di bagian barat Pulau Timor, ungkapan Tiles, akronim dari Timor Leste, justru menjadi bahasa gaul para anak muda. Lihat saja kalau foto yang diunggah ke media sosial disertai tagar Tiles, maka sertamerta kita berpikir seakan-akan pengunggah foto itu sudah berpetualang jauh ke sebuah negeri di atas awan, padahal yang dibuat anak itu cuma langgar kali di belakang rumah.
Apa maksud tulisan harbabiruk ini?
Maksudnya tidak jelas, tapi ajakannya saya kira cukup jelas: mari menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Oke, pertanyaan terakhir:
“Apa nama negara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Papua?”
“Papua Nugini”
“Bukan, Papua New Guinea!”
“Oh, iya!”
Seorang profesor di sudut ruangan membisiki saya, “Ssst, itu masalah ipoleksosbudhankamnas Timor di Timur. Jangan dibawa-bawa ke blog ini!

Sabtu, 19 Oktober 2019

Sampah yang Indah di Pantai Teddy’s

Apa yang ditawarkan alam kepada manusia?

Segalanya! Karena Alam itu satu, benar, baik dan indah.

Kalau kau datang ke kota Kupang, dari mana saja, jangan lupa singgah ke Pantai Teddy’s di kota Kupang. Di sana kau akan menikmati suguhan pemandangan alam nan indah sambil menikmati penganan khas orang kupang: jagung bakar, pisang tagepe, dan masih banyak lagi.

Tempat ini yang pernah menjadi pelabuhan kupang, kini ramai didatangi oleh orang-orang hebat seperti Anda. Orang hebat saya bilang karena mereka adalah orang orang yang mau meluangkan waktu untuk hal sepele seperti menikmati panorama matahari terbenam di ujung pulau semau.

Ada apa dengan matahari yang terbenam? Kau mungkin bertanya, kepadaku. Aku tak sanggup menjawab, alih-alih aku diam dan berharap kau juga ikut diam. Sebab dalam diam ada jawaban. Berhadapan dengan alam kau hanya bisa diam. Diam dan ketahuilah…

Teluk Kupang yang terletak di ujung Barat pulau Timor menjanjikan pemandangan senja yang sangat indah. Keindahannya sulit dihadirkan lewat kata-kata. Maka sekali lagi saya mengundang Anda, singgah dan buang waktu sebentar di pantai bekas pelabuhan Kupang ini. Kau akan kembali dengan membawa sesuatu, mungkin itu kebosanan yang enggan pergi atau sebaliknya kesadaran bahwa kau begitu kecil di hadapan alam, bahwa alam bisa memberi kau apa saja, termasuk keindahan yang semakin dianggap sepele oleh orang-orang materialistik, yang pandangan hidupnya berpusar pada materi: harta dan benda.

Datang dan buktikan sendiri, jangan lupa pesan jagung bakar dan kopi instan, ambil posisi duduk yang nyaman dan nikmatilah saat mentari turun perlahan-lahan ke atas pulau semau untuk selanjutnya berganti menjadi pekat, pertanda datangnya malam.

Pantai Teddy’s ini menurut saya sudah menjamu pengunjung dengan baik. Namun masih ada kekurangan yang perlu dibenahi. Kekurangan tsb antara lain tidak tersedia tempat sampah yang mudah dicapai. Kayaknya para penjaja di sekitar mengumpulkan sampah yang mereka hasilkan (kulit saset kopi instan, tongkol jagung, dll) untuk di bawa pulang.

Kekurangan lainnya ialah di tempat ramai ini tak tersedia toilet. Maklum toilet merupakan fasilitas mewah untuk orang Timor. Atau paling tidak saya tidak menemukan sudut di mana kau harus menggunakan toilet. Bisa jadi untuk keperluan ini orang harus meninggalkan Pantai Teddy’s segera. Kasihan juga! Mari kita berharap semoga pengelolaan Pantai Teddy’s kedepannya semakin ramah pengunjung.

Tapi terlepas dari itu semua, keindahan pemandangan di sekitar pantai ini tak diragukan lagi. Lagipula, meskipun saya tidak menemukan satupun kotak sampah di sekitar saya, tempat duduk saya tetap bersih dan tak ada satupun sampah yang saya temukan. Hebat, tapi akhirnya saya dan Anda akan terbiasa untuk tidak peduli sampah. Ada orang yang mengurus, aku dan kau berpikir seperti itu.

Sekali lagi, selamat datang di Pantai Teddy’s dan satu kebenaran yang tak bisa dipungkiri: orang Kupang belum peduli sampah!

Senin, 18 Februari 2013

Doa Bapa Kami: Sebuah Doa yang Agung dan Indah

Ada dua hal yang menghambat hubungan manusia dengan Tuhan: gambaran yang buruk tentang diri dan gambaran yang buruk tentang Tuhan. Dalam konteks yang seperti ini, sekalipun seseorang menyebut Allah sebagai Bapa, dia akan tetap menjaga jarak, karena adanya semacam ketakutan bawah sadar akan Allah. Karena adanya penjarakan ini orang itu tak pernah mengalami belaskasih dan kemurahan Allah sebagaimana dinyatakan melalui doa yang diajarkan Yesus.

Yesus meminta kita untuk menyapa Allah dengan, ”Bapa Kami yang ada di surga”, lalu mengemukakan kepadanya segala kebutuhan kita. Yesus mau kita mengawali doa kita ini dengan kepentingan Tuhan sendiri: Namanya, Kerajaannya, Kehendaknya sehingga dengan demikian permohonan kita tidak menjadi egosentrik – berpusat pada diri sendiri.


Tentang Doa ini, Kompendium KGK menulis sbb:
Doa Tuhan terdiri dari tujuh permohonan kepada Allah Bapa. Tiga yang pertama lebih teologal,membawa kita kepada Allah,untuk Kemuliaan-Nya:Itulah ciri khas cinta yakni pertama-tama mereka yang dicintai. ketiga Permohonanyang pertama ini menyarankan apa yang seharusnya secara khusus kita mohon kepada-Nya: pengudusan nama-Nya, kedatangan Kerajaan-Nya, dam terlaksana kehendak-Nya. Keempat permohonan yang terakhir mempersembahkan kepada Bapa yang maharahim, kemalangan dan harapan kita. Yang dimohon dari-Nya ialah: memberi rezeki, mengampuni kita,serta menopang kita dalam pencobaan, dan membebaskan kita dari yang jahat. [587]

Doa Bapa Kami merupakan ”ringkasan dari seluruh Injil” (Tertullianus), “doa yang sempurna” (Santo Thomas Aquinas). Doa yang ditempatkan tengah-tengah Khotbah di Bukit (Mat 5-7) ini menyajikan inti esensial Injil dalam bentuk doa. Doa Bapa Kami disebut “Oratio Dominica”, yaitu Doa Tuhan, karena doa ini telah diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yesus sendiri.[579-580]

Karena diajarkan oleh Yesus sendiri tentu saja Bapa Kami adalah Firman Tuhan sendiri. Tentang Firman Allah, Nabi Yesaya berkata: Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya [55:11-12]

Hal ini berarti kalau kita berdoa Bapa Kami, sebenarnya kita sedang mengakses/ memegang suatu kekuatan yang perkasa. Ada jaminan bahwa Allah akan menganugerahi kita kebutuhan-kebutuhan mendasar kita, dia akan mengampuni kita sebagaimana kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dan tidak akan menguji kita melampaui ketahanan kita.

Agar supaya Doa Bapak Kami menjadi sungguh berdaya guna, dari pihak kita, perlu ada iman bahwa Allah adalah benar-benar Bapa kita. Benar, bahwa kita adalah anak-anak angkat Allah. Namun perihal pengangkatan ini bukan suatu perkara hukum. Hubungan antara anak angkat dan orangtua angkat [manusiawi] bisa diusahakan sedemikian rupa sehingga si anak mampu mengalami hal yang sama dengan anak kandung; namun bagaimanapun juga tetaplah BUKAN anak kandung. Dipaksa bagaimanapun tidak bisa.

Sementara “adopsi” dalam hubungan Allah dengan kita, berbeda dengan orangtua asuh manusiawi. Kita ini memang benar-benar anak Allah. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

Kita dapat menyapa Allah sebagai "Bapa", karena Putera-Nya yang menjadi manusia telah mewahyukan-Nya kepada kita dan karena Roh-Nya memperkenalkan-Nya kepada kita. Kita percaya, bahwa Yesus adalah Kristus dan bahwa kita dilahirkan dari Allah (bdk 1 Yoh 5:1). Dengan demikian Roh Putera mengikutsertakan kita dalam hubungan pribadi Putera dengan Bapa-Nya (bdk Yoh 1:1). Manusia tidak dapat membayangkan itu, malaikat tidak dapat menduganya.

Karena terlalu sering didoakan "di luar kepala", keagungan dan keindahan doa "Bapa Kami" mungkin sudah "dilupakan" oleh sebagian besar anggota Gereja. Untuk itu baiklah kita berusaha mendoakannya dengan penuh penghayatan iman. Sebab doa yang baik adalah doa yang diucapkan bukan hanya dengan "bahasa roh", tetapi juga dengan "akal budi" (bdk 1 Kor 14:15). Dan doa yang lahir dari iman dan dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya (bdk Yak 5:15-16). Jika demikian, mengapa doa "Bapa Kami" yang diajarkan sendiri oleh Sang Juruselamat disia-siakan? Adakah doa yang lebih agung dan indah daripada doa "Bapa Kami"?!

Semoga!