Senin, 05 Januari 2026

Raijua: Debur, Doa, dan Diam

 




Setiap perjalanan dimulai dengan ketidaktahuan—bukan hanya tentang tempat yang akan dikunjungi, tetapi tentang apa yang akan berubah dalam diri kita. Saat Romo Guido mengajak ikut ke Raijua, aku tak menyangka bahwa pulau kecil di ujung timur ini akan membuka ruang-ruang dalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak sedang mencari tempat wisata, bukan pula pelarian spiritual. Aku hanya ingin tahu: apakah iman bisa terasa di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, di mana laut lebih fasih bicara daripada manusia?

Langkahkan kaki dan rasakan aroma asin garam yang menyambut saat Anda tiba di dek perahu. Aroma itu menyeruak, memenuhi hidung dengan keintiman yang sama sekali baru. Motor perahu bergetar lembut, berpadu dengan suara laut yang menyanyi di kejauhan. Seiring perahu melaju di atas ombak, suara motor yang berirama konstan menjadi teman setia, menggambarkan perjalanan yang penuh makna. Sosok Raijua menyembul di cakrawala, menanti tanpa hiruk-pikuk. Pulau itu tidak menunggu siapa pun. Ia sudah ada, keras dan tenang, jauh sebelum aku menyebut namanya. Berukuran hanya 58 kilometer persegi, Raijua terletak di ujung barat pulau Sabu, tetapi bagiku ia berada di tepi kesabaran manusia, di hadapan laut Sawu yang tak pernah sepenuhnya jinak. Laut yang mengitari Raijua dikenal dengan arusnya yang kuat, menciptakan tantangan bagi siapa pun yang mencoba mengukurnya.

Aku baru mengenal Raijua setelah berada di Sabu. Dari sanalah perjalanan dimulai. Kami naik perahu motor kecil: aku, frater Egi, Romo Guido, dan penumpang lain, mahasiswa yang pulang libur kuliah, wajah-wajah muda yang rindu rumah. Perahu penuh, laut terbuka. Di tengah perjalanan, suara motor perahu terus-menerus mengingatkan kami akan keterhubungan dengan laut, seperti denyut jantung yang terus memompa kehidupan di tubuh ini. Kami menyusur Pantai Sabu Barat. Hujan turun sebentar, sekadar mengingatkan bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berkuasa atas lintasan yang dipilihnya. Beberapa mabuk, beberapa tertawa pahit. 'Apa mungkin kita akan kembali dengan rindu yang sama?' bisik salah satu mahasiswa, menatap laut yang bergejolak. Sebuah senyum kecil muncul di antara kerumunan, mencoba menenangkan perut yang mengaduk.

Saat memasuki Selat Raijua, arus berubah bergelora. Nahkoda memutar haluan, membaca gelombang seperti membaca riwayat hidup, tidak dilawan, hanya disiasati. 'Selalu ada jalan bagi yang bersabar,' katanya mengangguk pelan. Dermaga Raijua muncul pelan, seperti keputusan yang akhirnya diambil setelah ragu panjang. 'Welcome to Raijua,' katanya singkat. Laut menjawab dengan debur.

Di dermaga, Pak Tom menunggu. Senyumnya bukan sambutan basa-basi, melainkan wajah yang mengenali kelelahan perjalanan. "Air keras hari ini," katanya singkat, sembari mengangkat tas. Tangan kasarnya memindahkan beban dengan ketenangan yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama berdamai dengan laut. Sepanjang jalan, ia bercerita pelan—tentang anaknya yang merantau ke Kupang, tentang kekhawatirannya pada musim gelombang tinggi. "Tapi laut juga sahabat," katanya, "ia galak kalau dilawan, tapi lembut kalau didengar."

Ia memindahkan tas kami dari perahu ke jembatan kayu, pekerjaan kecil yang menentukan kelancaran banyak hal. Saat ia meletakkan tas terakhir, suara motor perahu yang berhenti seperti tanda bagi kami bahwa perjalanan baru di daratan akan dimulai, menjaga ritme dari laut ke darat. Ia mengusap perlahan sisa percikan air laut dengan ujung kausnya, memastikan tidak ada yang tertinggal basah. Dalam tindakan sederhana ini terpantul nilai-nilai komunitas—perhatian dan kepedulian, bagaimana setiap sentuhan kecil dapat meringankan bebannya yang lebih besar.

Aku dibonceng motor menuju rumahnya di kompleks SMP Negeri 1 Raijua, tempat beberapa keluarga guru tinggal. Rumah itu teduh, berlindung di bawah kanopi beringin besar. Di depannya, bale-bale kayu berjajar, tempat orang duduk, berbagi kabar, dan mengendapkan lelah. Sore itu kami beristirahat, berbasa-basi tentang perjalanan yang melintasi  Selat Raijua. Malamnya, setelah rekoleksi dan ibadat tobat, ikan bakar Raijua tersaji. Rasanya sederhana, asin, dan jujur, seperti pulau ini.

24 Desember pagi, Pak Tom mengajakku ke Gua Maria. Udara sejuk menahan langkah kami di antara bebatuan dan beringin yang rindang. Sepanjang jalan, bayangan pergerakan motor perahu sering mengingatkan kami pada harmoni yang sama yang kami rasakan dengan alam di Raijua. Gua Maria adalah tempat suci bagi penduduk Raijua, simbol perlindungan dan harapan yang sudah ada sejak generasi nenek moyang mereka. Memahami arti pentingnya, ziarah ke Gua ini membawa kedamaian tersendiri, menautkan kami dengan cerita-cerita lama tentang pengorbanan dan kesetiaan. Dari sana kami ke kolam penangkaran: bandeng di satu kolam, kura-kura di kolam lain. Air tenang, hidup dirawat. Siang hari kami kembali, bersiap untuk Misa Natal. Umat sekitar seratus orang hadir, datang dengan pakaian sederhana, dan wajah-wajah yang mengenal kekurangan tapi tidak asing dengan harap. Natal di Raijua tidak mencari kemewahan, ia mencari makna.

25 Desember kami menyusuri jalan berbatu menuju Raijua Atas. Di tengah sabana berdiri sebuah gereja bercat kuning, tegar menghadapi angin. Umat di sana lebih banyak. Sepanjang perjalanan, ritme angin menjalin melodi dengan suara mesin perahu yang tersimpan dalam benak, seperti gumaman konstan yang pernah menemani awal perjalanan kami di atas laut. Banyak di antara mereka dibaptis dewasa, konvert dari kepercayaan asli Raijua. Di sebelah gereja, ada sekelompok orang yang terlibat dalam ritual tradisional, mengenakan busana adat, dan bernyanyi dalam bahasa leluhur, suara mereka hilang di antara angin sabana.

Melihat mereka, aku tersadar akan keputusan berat yang diambil umat untuk meninggalkan tradisi ini demi iman baru. Iman datang kepada mereka bukan sebagai warisan, melainkan sebagai keputusan. Aku bertanya-tanya apa yang sesungguhnya hilang dan apa yang diperoleh ketika tradisi lama bertemu dengan kepercayaan baru. Di titik pertemuan antara yang lama dan yang baru, muncul pertanyaan yang menggugah perasaan: apakah kebahagiaan baru bisa dibandingkan dengan kehilangan tradisi lama?

Seorang ibu tua duduk tak jauh dari gereja, mengenakan kain tenun dengan motif adat. Ia tidak ikut misa, hanya menonton dari kejauhan. "Saya belum bisa masuk gereja," katanya lirih saat ditanya. "Tapi saya titip doa." Kalimat itu membekas. Seakan ada jembatan yang belum selesai dibangun, dan setiap langkah iman adalah batu yang diletakkan satu per satu dengan hati-hati.

Usai misa, kami mengunjungi salah satu umat. Kelapa muda disuguhkan. Kami duduk lesehan di tikar, di sebuah pondok tepat di mulut pantai. Ombak memecah berdebur di hadapan kami, mengingatkan kembali pada aroma asin yang pertama kali menyambut kami di dek perahu. Damai tidak selalu lahir dari keheningan, kadang ia tumbuh dari kebisingan yang diterima.

Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tambur, yang oleh orang-orang disebut Karang Kepala Burung. Deretan karang hitam berdiri menantang laut Sawu. Dan sebagaimana perahu yang kami gunakan berhasil menyeberangi arus yang kuat, berdiri di Bukit Tambur menawarkan pandangan yang menaklukan dari atas, mencerminkan ketahanan di tengah ombak. Dari satu sisi puncaknya menyerupai tambur, dari sisi lain kepala burung. Vegetasi jarang, kambing-kambing berebut hijau. Panas terik menggigit. Ada saung untuk berteduh, tetapi matahari tetap menang. Kami kembali ke rumah seorang umat, makan siang, mendengar cerita tentang Raijua—tentang musim, tentang laut, tentang bertahan—lalu pulang.

26 Desember misa bersama Raijua Atas dan Bawah dirayakan di Gua Maria Male Menggi. Udara adem, doa mengalir pelan. Setelah misa, suara motor perahu yang sudah menjadi bagian dari perjalanan mulai menghilang, mengisyaratkan akhir dari perjalanan yang telah mengajarkan banyak hal. Siang hari kami makan bersama. Pukul tiga, dengan perahu carteran, kami kembali ke Sabu melalui Pelabuhan Rakyat Mehara, Lobohede. Angin laut menyapu wajah, membawa aroma asin yang menempel di lidah, seolah mengunci rasa Raijua dalam ingatan. Saat perahu kembali berlayar, ada sekejap perasaan enggan yang menyeruak, sebuah gumam sunyi yang ditinggalkan debur ombak. Kami dijemput Romo Kanis dan Pak Matias. Hari itu berakhir dengan istirahat, sebuah jeda yang diperlukan agar ingatan tidak tercecer.

27 Desember kami mengunjungi Pak Tadeus di Perema bersama kelompok penenun ibu-ibu. Motor angin memecah kesunyian pagi, seolah menyiapkan kami untuk menerima kebijaksanaan yang berbeda. Ia menjelaskan proses tenun ikat Sabu: benang yang dipilih, warna yang ditakar, waktu yang diminta. Ia juga menunjukkan cara mengenakan kain sarung. Di sela-sela itu mengalir cerita tentang sejarah dan budaya Hawu. Saat melihat pewarna meresap perlahan ke dalam helai benang, aku tersadarkan bahwa ketahanan dan iman ibarat pewarna itu sendiri, meresap seiring waktu dengan kesabaran. Aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku, ia sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Skyber. Patung Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab berdiri membingkai reruntuhan bangunan Belanda, seperti tangga yang menjulang dan menara bak air yang seakan menantang waktu. Benteng-benteng batu tua itu seolah berbicara tentang kisah ketahanan Raijua, menggema dari masa lalu, seperti karang yang tak goyah di hadapan gelombang. Sore menutup hari. Malamnya, diskusi iman Katolik bersama umat berlangsung hangat. Jagung bose tersaji. Obrolan berlanjut dengan Pater Franz Lackner. Lalu pulang.

Raijua tidak meninggalkan janji, hanya bekas. Bau laut menempel di pakaian dan ingatan. Pulau kecil itu mengajarkan bahwa iman, seperti karang, tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketahanan berdiri di hadapan gelombang, hari demi hari, tanpa banyak kata.

Kini, setelah aroma asin perlahan lenyap dari pakaian, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang tempat yang kutuju, tapi tentang ruang-ruang dalam diri yang akhirnya bisa kudengar. Iman bukan lagi sesuatu yang diwariskan atau diajarkan, tapi dialami—dengan debur laut, dengan angin sabana, dengan tangan Pak Tom, dan dengan bisikan ibu tua yang menitip doa.

Apa yang kubawa pulang? Mungkin bukan jawaban. Tapi aku tahu, saat ombak kembali bergulung dalam pikiranku, akan ada satu nama yang muncul pelan: Raijua. Bukan sebagai tempat, tapi sebagai cara baru melihat dunia.

0 komentar:

Posting Komentar