Setiap perjalanan dimulai dengan
ketidaktahuan—bukan hanya tentang tempat yang akan dikunjungi, tetapi tentang
apa yang akan berubah dalam diri kita. Saat Romo Guido mengajak ikut ke Raijua,
aku tak menyangka bahwa pulau kecil di ujung timur ini akan membuka ruang-ruang
dalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak sedang mencari tempat
wisata, bukan pula pelarian spiritual. Aku hanya ingin tahu: apakah iman bisa
terasa di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, di mana laut lebih fasih bicara
daripada manusia?
Langkahkan kaki dan rasakan aroma
asin garam yang menyambut saat Anda tiba di dek perahu. Aroma itu menyeruak,
memenuhi hidung dengan keintiman yang sama sekali baru. Motor perahu bergetar
lembut, berpadu dengan suara laut yang menyanyi di kejauhan. Seiring perahu
melaju di atas ombak, suara motor yang berirama konstan menjadi teman setia,
menggambarkan perjalanan yang penuh makna. Sosok Raijua menyembul di cakrawala,
menanti tanpa hiruk-pikuk. Pulau itu tidak menunggu siapa pun. Ia sudah ada,
keras dan tenang, jauh sebelum aku menyebut namanya. Berukuran hanya 58
kilometer persegi, Raijua terletak di ujung barat pulau Sabu, tetapi bagiku ia
berada di tepi kesabaran manusia, di hadapan laut Sawu yang tak pernah
sepenuhnya jinak. Laut yang mengitari Raijua dikenal dengan arusnya yang kuat,
menciptakan tantangan bagi siapa pun yang mencoba mengukurnya.
Aku baru mengenal Raijua setelah
berada di Sabu. Dari sanalah perjalanan dimulai. Kami naik perahu motor kecil:
aku, frater Egi, Romo Guido, dan penumpang lain, mahasiswa yang pulang libur
kuliah, wajah-wajah muda yang rindu rumah. Perahu penuh, laut terbuka. Di
tengah perjalanan, suara motor perahu terus-menerus mengingatkan kami akan
keterhubungan dengan laut, seperti denyut jantung yang terus memompa kehidupan
di tubuh ini. Kami menyusur Pantai Sabu Barat. Hujan turun sebentar, sekadar
mengingatkan bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berkuasa atas lintasan yang
dipilihnya. Beberapa mabuk, beberapa tertawa pahit. 'Apa mungkin kita akan
kembali dengan rindu yang sama?' bisik salah satu mahasiswa, menatap laut yang
bergejolak. Sebuah senyum kecil muncul di antara kerumunan, mencoba menenangkan
perut yang mengaduk.
Saat memasuki Selat Raijua, arus
berubah bergelora. Nahkoda memutar haluan, membaca gelombang seperti membaca
riwayat hidup, tidak dilawan, hanya disiasati. 'Selalu ada jalan bagi yang
bersabar,' katanya mengangguk pelan. Dermaga Raijua muncul pelan, seperti
keputusan yang akhirnya diambil setelah ragu panjang. 'Welcome to Raijua,'
katanya singkat. Laut menjawab dengan debur.
Di dermaga, Pak Tom menunggu.
Senyumnya bukan sambutan basa-basi, melainkan wajah yang mengenali kelelahan
perjalanan. "Air keras hari ini," katanya singkat, sembari mengangkat
tas. Tangan kasarnya memindahkan beban dengan ketenangan yang hanya dimiliki
mereka yang sudah lama berdamai dengan laut. Sepanjang jalan, ia bercerita
pelan—tentang anaknya yang merantau ke Kupang, tentang kekhawatirannya pada
musim gelombang tinggi. "Tapi laut juga sahabat," katanya, "ia
galak kalau dilawan, tapi lembut kalau didengar."
Ia memindahkan tas kami dari perahu
ke jembatan kayu, pekerjaan kecil yang menentukan kelancaran banyak hal. Saat
ia meletakkan tas terakhir, suara motor perahu yang berhenti seperti tanda bagi
kami bahwa perjalanan baru di daratan akan dimulai, menjaga ritme dari laut ke
darat. Ia mengusap perlahan sisa percikan air laut dengan ujung kausnya,
memastikan tidak ada yang tertinggal basah. Dalam tindakan sederhana ini
terpantul nilai-nilai komunitas—perhatian dan kepedulian, bagaimana setiap
sentuhan kecil dapat meringankan bebannya yang lebih besar.
Aku dibonceng motor menuju rumahnya
di kompleks SMP Negeri 1 Raijua, tempat beberapa keluarga guru tinggal. Rumah
itu teduh, berlindung di bawah kanopi beringin besar. Di depannya, bale-bale
kayu berjajar, tempat orang duduk, berbagi kabar, dan mengendapkan lelah. Sore
itu kami beristirahat, berbasa-basi tentang perjalanan yang melintasi Selat Raijua. Malamnya, setelah rekoleksi dan
ibadat tobat, ikan bakar Raijua tersaji. Rasanya sederhana, asin, dan jujur,
seperti pulau ini.
24 Desember pagi, Pak Tom mengajakku
ke Gua Maria. Udara sejuk menahan langkah kami di antara bebatuan dan beringin
yang rindang. Sepanjang jalan, bayangan pergerakan motor perahu sering
mengingatkan kami pada harmoni yang sama yang kami rasakan dengan alam di
Raijua. Gua Maria adalah tempat suci bagi penduduk Raijua, simbol perlindungan
dan harapan yang sudah ada sejak generasi nenek moyang mereka. Memahami arti
pentingnya, ziarah ke Gua ini membawa kedamaian tersendiri, menautkan kami
dengan cerita-cerita lama tentang pengorbanan dan kesetiaan. Dari sana kami ke
kolam penangkaran: bandeng di satu kolam, kura-kura di kolam lain. Air tenang,
hidup dirawat. Siang hari kami kembali, bersiap untuk Misa Natal. Umat sekitar
seratus orang hadir, datang dengan pakaian sederhana, dan wajah-wajah yang
mengenal kekurangan tapi tidak asing dengan harap. Natal di Raijua tidak
mencari kemewahan, ia mencari makna.
25 Desember kami menyusuri jalan
berbatu menuju Raijua Atas. Di tengah sabana berdiri sebuah gereja bercat
kuning, tegar menghadapi angin. Umat di sana lebih banyak. Sepanjang
perjalanan, ritme angin menjalin melodi dengan suara mesin perahu yang tersimpan
dalam benak, seperti gumaman konstan yang pernah menemani awal perjalanan kami
di atas laut. Banyak di antara mereka dibaptis dewasa, konvert dari kepercayaan
asli Raijua. Di sebelah gereja, ada sekelompok orang yang terlibat dalam ritual
tradisional, mengenakan busana adat, dan bernyanyi dalam bahasa leluhur, suara
mereka hilang di antara angin sabana.
Melihat mereka, aku tersadar akan
keputusan berat yang diambil umat untuk meninggalkan tradisi ini demi iman
baru. Iman datang kepada mereka bukan sebagai warisan, melainkan sebagai
keputusan. Aku bertanya-tanya apa yang sesungguhnya hilang dan apa yang diperoleh
ketika tradisi lama bertemu dengan kepercayaan baru. Di titik pertemuan antara
yang lama dan yang baru, muncul pertanyaan yang menggugah perasaan: apakah
kebahagiaan baru bisa dibandingkan dengan kehilangan tradisi lama?
Seorang ibu tua duduk tak jauh dari
gereja, mengenakan kain tenun dengan motif adat. Ia tidak ikut misa, hanya
menonton dari kejauhan. "Saya belum bisa masuk gereja," katanya lirih
saat ditanya. "Tapi saya titip doa." Kalimat itu membekas. Seakan ada
jembatan yang belum selesai dibangun, dan setiap langkah iman adalah batu yang
diletakkan satu per satu dengan hati-hati.
Usai misa, kami mengunjungi salah
satu umat. Kelapa muda disuguhkan. Kami duduk lesehan di tikar, di sebuah
pondok tepat di mulut pantai. Ombak memecah berdebur di hadapan kami,
mengingatkan kembali pada aroma asin yang pertama kali menyambut kami di dek
perahu. Damai tidak selalu lahir dari keheningan, kadang ia tumbuh dari
kebisingan yang diterima.
Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit
Tambur, yang oleh orang-orang disebut Karang Kepala Burung. Deretan karang
hitam berdiri menantang laut Sawu. Dan sebagaimana perahu yang kami gunakan
berhasil menyeberangi arus yang kuat, berdiri di Bukit Tambur menawarkan
pandangan yang menaklukan dari atas, mencerminkan ketahanan di tengah ombak.
Dari satu sisi puncaknya menyerupai tambur, dari sisi lain kepala burung.
Vegetasi jarang, kambing-kambing berebut hijau. Panas terik menggigit. Ada
saung untuk berteduh, tetapi matahari tetap menang. Kami kembali ke rumah
seorang umat, makan siang, mendengar cerita tentang Raijua—tentang musim,
tentang laut, tentang bertahan—lalu pulang.
26 Desember misa bersama Raijua Atas
dan Bawah dirayakan di Gua Maria Male Menggi. Udara adem, doa mengalir pelan.
Setelah misa, suara motor perahu yang sudah menjadi bagian dari perjalanan
mulai menghilang, mengisyaratkan akhir dari perjalanan yang telah mengajarkan
banyak hal. Siang hari kami makan bersama. Pukul tiga, dengan perahu carteran,
kami kembali ke Sabu melalui Pelabuhan Rakyat Mehara, Lobohede. Angin laut
menyapu wajah, membawa aroma asin yang menempel di lidah, seolah mengunci rasa
Raijua dalam ingatan. Saat perahu kembali berlayar, ada sekejap perasaan enggan
yang menyeruak, sebuah gumam sunyi yang ditinggalkan debur ombak. Kami dijemput
Romo Kanis dan Pak Matias. Hari itu berakhir dengan istirahat, sebuah jeda yang
diperlukan agar ingatan tidak tercecer.
27 Desember kami mengunjungi Pak
Tadeus di Perema bersama kelompok penenun ibu-ibu. Motor angin memecah
kesunyian pagi, seolah menyiapkan kami untuk menerima kebijaksanaan yang
berbeda. Ia menjelaskan proses tenun ikat Sabu: benang yang dipilih, warna yang
ditakar, waktu yang diminta. Ia juga menunjukkan cara mengenakan kain sarung.
Di sela-sela itu mengalir cerita tentang sejarah dan budaya Hawu. Saat melihat
pewarna meresap perlahan ke dalam helai benang, aku tersadarkan bahwa ketahanan
dan iman ibarat pewarna itu sendiri, meresap seiring waktu dengan kesabaran.
Aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku, ia sering lahir
dari tangan-tangan yang bekerja.
Dalam perjalanan pulang, kami singgah
ke Skyber. Patung Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab berdiri membingkai reruntuhan
bangunan Belanda, seperti tangga yang menjulang dan menara bak air yang seakan
menantang waktu. Benteng-benteng batu tua itu seolah berbicara tentang kisah
ketahanan Raijua, menggema dari masa lalu, seperti karang yang tak goyah di
hadapan gelombang. Sore menutup hari. Malamnya, diskusi iman Katolik bersama
umat berlangsung hangat. Jagung bose tersaji. Obrolan berlanjut dengan Pater
Franz Lackner. Lalu pulang.
Raijua tidak meninggalkan janji,
hanya bekas. Bau laut menempel di pakaian dan ingatan. Pulau kecil itu
mengajarkan bahwa iman, seperti karang, tidak lahir dari kemewahan, melainkan
dari ketahanan berdiri di hadapan gelombang, hari demi hari, tanpa banyak kata.
Kini, setelah aroma asin perlahan
lenyap dari pakaian, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang tempat
yang kutuju, tapi tentang ruang-ruang dalam diri yang akhirnya bisa kudengar.
Iman bukan lagi sesuatu yang diwariskan atau diajarkan, tapi dialami—dengan
debur laut, dengan angin sabana, dengan tangan Pak Tom, dan dengan bisikan ibu
tua yang menitip doa.
Apa yang kubawa pulang? Mungkin bukan
jawaban. Tapi aku tahu, saat ombak kembali bergulung dalam pikiranku, akan ada
satu nama yang muncul pelan: Raijua. Bukan sebagai tempat, tapi sebagai cara
baru melihat dunia.



0 komentar:
Posting Komentar