Pendahuluan: Alkitab yang Diangkat
Tinggi, Lalu Ditinggalkan
Tidak ada slogan yang lebih sering
dikumandangkan dalam Kekristenan modern selain sola scriptura. “Hanya
Alkitab.” Tiga kata yang terdengar saleh, sederhana, dan seolah tak
terbantahkan. Alkitab diangkat tinggi-tinggi sebagai satu-satunya otoritas
iman, seakan-akan semua masalah teologis selesai begitu Kitab Suci diletakkan
di pusat meja.
Namun di sinilah paradoks itu muncul.
Semakin sering sola scriptura dikumandangkan, semakin sering pula
Alkitab diperlakukan secara serampangan. Ayat dicabut dari konteks, makna
dipersempit sesuai selera, dan tafsir pribadi diberi bobot absolut. Alkitab
dibela secara retoris, tetapi dikorbankan secara praktis. Saya sendiri tidak
sepenuhnya kebal dari kecenderungan ini. Ada saat ketika saya terjebak dalam
proof-texting, memilih ayat yang sesuai dengan tujuan saya tanpa
mempertimbangkan konteksnya yang lebih luas. Dengan mengakui kelemahan ini,
saya mengajak kita semua untuk bersama-sama meninjau praksis kita dengan
kerendahan hati, menyadari bahwa kita semua adalah penafsir yang terus belajar.
Artikel ini tidak menolak Kitab Suci.
Justru sebaliknya. Kritik ini berangkat dari kesetiaan pada Alkitab itu
sendiri. Pertanyaannya sederhana, tetapi mematikan: apakah sola scriptura
sungguh menjaga otoritas Kitab Suci, atau justru menjadikannya korban tafsir
bebas tanpa rem? Sebagai tesis utama, katekese ini berusaha membuktikan bahwa
meski sola scriptura bertujuan untuk menjaga kemurnian ajaran, ia malah membuka
jalan bagi anarki interpretatif yang mengalahkan tujuan awalnya.
I. Apa Itu Sola Scriptura—dan Apa
yang Disembunyikannya
Dalam tradisi Reformasi, sola
scriptura dimaksudkan sebagai prinsip bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya
otoritas formal yang tidak dapat salah dalam hal iman dan moral. Pada tingkat
niat, prinsip ini lahir dari keprihatinan nyata: praktik gerejawi yang
menyimpang, penyalahgunaan kuasa, dan tradisi manusia yang dianggap menutupi
Injil.
Namun masalah tidak pernah berhenti pada
niat. Masalah selalu muncul pada struktur.
Ada perbedaan besar antara mengatakan Alkitab
adalah otoritas tertinggi dan mengatakan Alkitab adalah satu-satunya
otoritas. Sebelum membahas perbedaan ini, penting untuk memahami dua konsep
kunci: otoritas formal dan otoritas material. Otoritas formal merujuk kepada
prinsip atau dokumen yang diakui secara resmi sebagai panduan utama, sementara
otoritas material melibatkan implementasi dan pengartian prinsip tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Yang pertama—otoritas tertinggi—masih membuka ruang bagi
komunitas, tradisi, dan penafsiran yang bertanggung jawab. Yang kedua—otoritas
satu-satunya—memutus semua pengaman, lalu menyerahkan teks suci kepada siapa
pun yang merasa berhak menafsirkannya.
Di sinilah sola scriptura mulai
retak dari dalam.
II. Masalah Filosofis yang Tak
Terhindarkan: Teks Tidak Pernah Menafsirkan Dirinya Sendiri
Tidak ada teks yang berbicara tanpa
penafsir. Ini bukan opini teologis, tetapi fakta hermeneutik dasar. Setiap
pembacaan selalu melibatkan subjek penafsir, bahasa, konteks sejarah, dan
asumsi filosofis tertentu. Bahkan keputusan untuk membaca “secara literal” pun
adalah sebuah pilihan tafsir. Namun, bagaimana tanggapan dari sudut pandang
pro-sola scriptura terhadap klaim hermeneutik ini? Seorang sarjana Reformed
terkemuka seperti R.C. Sproul mengemukakan bahwa sola scriptura tidak lepas
dari prinsip penafsiran, tetapi mengandalkan prinsip 'Scripture interprets
Scripture'. Artinya, Kitab Suci memiliki kapasitas untuk menafsirkan dirinya
sendiri saat dibaca dalam terang semua teks, dalam tradisi yang setia dan
konsisten. Dengan demikian, ia menyoroti pentingnya kesatuan Kitab Suci dalam
menjaga kontinuitas doktrinal dan keharmonisan teologis di tengah interpretasi
yang berbeda.
Sola scriptura ingin menjadikan
Alkitab absolut, tetapi tidak pernah mampu mengabsolutkan tafsir. Akibatnya,
otoritas berpindah secara diam-diam: bukan lagi pada Gereja, melainkan pada
individu. Setiap orang menjadi “paus” bagi dirinya sendiri—tanpa pengakuan,
tanpa mekanisme koreksi, tanpa tanggung jawab komunitarian.
Ironinya tajam: prinsip yang mengaku
menolak otoritas manusia justru melahirkan otoritas manusia yang paling
absolut—tafsir pribadi yang tidak dapat digugat.
III. Masalah Historis: Alkitab Ada
karena Gereja, Bukan Sebaliknya
Secara historis, sola scriptura
berdiri di atas fondasi yang ia tolak. Kitab Suci tidak jatuh dari langit
dengan daftar isi yang sudah jadi. Kanon Perjanjian Baru dibentuk, dikenali,
dan dijaga dalam Gereja, oleh Gereja, dan untuk Gereja. Sebagai contoh, Konsili
Kartago pada tahun 397 memutuskan kanon yang membantu menetapkan kitab-kitab
yang dimasukkan dalam Perjanjian Baru, menunjukkan bagaimana otoritas gerejawi
terlibat dalam pembentukan Alkitab sebagaimana kita kenal sekarang.
Sebelum ada Perjanjian Baru yang
dibukukan, sudah ada iman yang diwartakan. Sebelum ada Injil yang ditulis,
sudah ada Injil yang diberitakan. Tradisi hidup mendahului teks tertulis.
Misalnya, praktik baptisan sudah ada sebelum adanya Injil tertulis. Komunitas
Kristen awal mengandalkan tradisi lisan dan pengajaran para rasul untuk memandu
praktik ini, menggarisbawahi makna pembaruan jiwa dan penyatuan dengan
komunitas Kristiani. Gereja bukan produk Alkitab; Alkitab lahir dari rahim
Gereja.
Maka sola scriptura hidup dari
sejarah yang ia sangkal. Ia menikmati hasil konsili yang menetapkan kanon,
sambil menolak otoritas konsili itu sendiri. Ini bukan konsistensi; ini amnesia
teologis.
IV. Fragmentasi: Buah yang Tidak Bisa
Disangkal
Ketika tafsir tidak memiliki mekanisme
final, konflik doktrinal tidak pernah selesai. Dan ketika konflik tidak dapat
diselesaikan, solusi yang tersisa hanyalah perpisahan. Dari sinilah lahir
fragmentasi denominasi yang tak terbendung. Namun, penting untuk mengenali
bahwa otoritas magisterial juga memiliki sejarah kesulitan dalam menjaga
kesatuan. Contoh nyata terdapat dalam perpecahan antara Gereja Timur dan Barat
pada masa lalu, yang menunjukkan bahwa otoritas terpusat tidak selalu
menghindari skisma. Hal ini tidak mengurangi argumen kita mengenai fragmentasi
akibat tafsir bebas, tetapi memberikan wawasan mengenai tantangan yang dihadapi
semua model otoritas dalam mengelola perbedaan interpretasi.
Setiap perbedaan tafsir melahirkan
gereja baru. Alkitab tetap satu, tetapi makna terpecah-pecah. Yang ironis:
semua pihak mengaku setia pada Kitab Suci, tetapi tidak ada standar bersama
untuk menentukan tafsir mana yang benar.
Fragmentasi ini bukan kecelakaan
sejarah. Ia adalah konsekuensi struktural dari sola scriptura. Ketika
otoritas final dihapus, perpecahan menjadi keniscayaan.
V. Dari Kitab Suci ke Proof-texting:
Alkitab Diperkecil
Dalam praktik apologetika populer, sola
scriptura sering berujung pada proof-texting: Alkitab direduksi
menjadi kumpulan ayat lepas yang siap ditembakkan dalam debat. Konteks mati,
narasi keselamatan terpotong, dan kesatuan Kitab Suci menguap.
Alkitab tidak lagi dibaca sebagai satu
kisah penebusan yang utuh, melainkan sebagai gudang amunisi argumentatif. Ayat
dipilih bukan karena maknanya dalam keseluruhan iman Gereja, tetapi karena
kegunaannya dalam memenangkan argumen sesaat.
Alkitab dibela, tetapi tidak lagi
dihormati.
VI. Posisi Katolik: Kitab Suci dalam
Tubuh Gereja
Gereja Katolik tidak menempatkan Kitab
Suci sendirian. Ia membacanya dalam kesatuan dengan Tradisi Suci dan
Magisterium. Bukan karena Gereja lebih tinggi dari Alkitab, tetapi karena
Gereja adalah pelayan Alkitab.
Otoritas dalam Gereja Katolik bukan
dominasi, melainkan pelayanan. Tafsir bukan bebas, tetapi bertanggung jawab.
Makna tidak diciptakan ulang setiap generasi, tetapi diwariskan, diperdalam,
dan dijaga.
Di sini Alkitab tidak dipenjara; ia
dilindungi dari kesewenang-wenangan.
VII. Sola Scriptura di Dunia
Digital: Tafsir Tanpa Rem
Media sosial adalah mimpi buruk sola
scriptura. Setiap orang menafsir, semua merasa berhak, dan tidak ada yang
mengikat. Ayat viral menggantikan pembacaan mendalam. Algoritma menjadi
magisterium baru.
Di sinilah sola scriptura
mencapai bentuk ekstremnya: bukan lagi “hanya Alkitab,” tetapi “hanya ayat yang
cocok dengan saya.”
Kesimpulan: Alkitab Tidak Perlu
Diselamatkan dari Gereja.
Alkitab tidak pernah membutuhkan
perlindungan dari Gereja. Yang ia butuhkan adalah Gereja—komunitas iman yang
hidup, berakar dalam sejarah, dan bertanggung jawab atas makna yang
diwartakannya. Sebagaimana rumah yang memberikan perlindungan dan kenyamanan,
Gereja menyajikan sebuah ruang di mana Alkitab dapat berdialog, dipelajari, dan
dirayakan. Bayangkan sebuah perpustakaan penuh dengan buku-buku yang tersusun
rapi, di mana setiap halaman menceritakan kisah iman yang terjalin dengan
sejarah. Ada sebuah meja panjang yang mengundang persekutuan melalui diskusi
mendalam dan refleksi bersama, diiringi wangi dupa yang mengisi udara, seakan
menegaskan kehadiran misteri ilahi di setiap sudut. Dengan demikian, Gereja
menjamin bahwa Alkitab tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi dipahami sebagai
narasi yang hidup di tengah-tengah komunitasnya.
Alkitab tidak pernah membutuhkan
perlindungan dari Gereja. Yang ia butuhkan adalah Gereja—komunitas iman yang
hidup, berakar dalam sejarah, dan bertanggung jawab atas makna yang
diwartakannya.
Sola scriptura bermaksud
meninggikan Kitab Suci, tetapi berakhir melemahkannya. Dengan memutus Alkitab
dari Gereja, ia menyerahkannya kepada tafsir bebas tanpa pengaman.
Kekristenan bukan agama buku yang
berdiri sendiri. Ia adalah iman yang diwartakan, diwariskan, dirayakan, dan
dijaga. Alkitab hidup bukan karena setiap orang bebas menafsirkannya, tetapi
karena ia dibaca dalam tubuh Gereja yang setia.
Dan di situlah ironi terbesar sola
scriptura: demi melindungi Alkitab, ia justru melepaskannya dari
satu-satunya rumah yang membuatnya hidup. Namun, daripada menyerah pada
fragmentasi, biarlah kita mengarahkan pandangan ke masa depan dengan semangat
yang baru. Dengan berpikir secara ekumenis, kita dapat membangun sebuah
hermeneutika bersama, di mana dialog konstruktif dan tanggung jawab kolektif
terhadap Kitab Suci menjadi landasan iman kita. Mari kita berharap pada masa
depan di mana perbedaan menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang
bersama, memastikan Alkitab terus hidup dalam kekayaan iman yang dipelihara
oleh seluruh umat percaya.

0 komentar:
Posting Komentar