Sebuah Esai Filosofis dari Habermas ke Tomisme
Abstrak
Tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa kebenaran dan
kemanusiaan secara menyeluruh adalah hal yang perlu dibela, bukan hanya oleh
kelompok tertentu seperti masyarakat adat, pemerintah, atau pengusaha. Tulisan
ini mengkritik film dokumenter advokasi yang terjebak dalam propaganda atau
eksploitasi penderitaan. Mengacu pada pemikiran Jürgen Habermas dan tradisi
Tomisme, Habermas menawarkan teori tindakan komunikatif dan situasi bicara
ideal: setiap klaim kebenaran, moral, dan ketulusan diuji secara rasional dalam
ruang publik yang bebas dari dominasi. Sementara itu, Tomisme yang berakar pada
Thomas Aquinas dan dikembangkan oleh Jacques Maritain menekankan realitas
berlapis, hukum kodrat, dan martabat pribadi yang tidak boleh direduksi sekadar
menjadi alat narasi. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, tulisan
menunjukkan bahwa film advokasi yang menyederhanakan realitas menjadi
pertentangan hitam-putih gagal baik secara politik, ontologis, maupun etis.
Yang hilang adalah nuansa serta penghormatan terhadap kebenaran yang lebih
besar daripada kepentingan kelompok.
Kata kunci: Habermas, rasio publik, Tomisme,
kebenaran utuh, martabat pribadi, film dokumenter advokasi.
Pendahuluan: Ketika Membela Menjadi Menghancurkan
Ada ironi dalam film dokumenter advokasi seperti Pesta
Babi; film ini ingin membela yang lemah dan menyadarkan publik akan
ketidakadilan, tetapi sering kali justru menyederhanakan realitas seperti yang
dituduhkan pada negara dan pengusaha. Negara mengubah tanah menjadi lahan,
hutan menjadi komoditas, dan masyarakat adat menjadi angka statistik. Film
advokasi mengubah tanah menjadi simbol sakral; masyarakat adat sepenuhnya
menjadi korban; pembangunan sepenuhnya salah. Kedua pendekatan sama-sama
menyederhanakan, meski arahnya berbeda.
Pertanyaan utama esai ini adalah: apa dasar filosofis
untuk menolak penyederhanaan seperti itu? Alasannya bukan hanya karena tidak
akurat, tetapi juga karena pada dasarnya merusak kebenaran dan martabat
manusia.
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan menggunakan dua
tradisi besar. Pertama, Jürgen Habermas dengan teori tindakan
komunikatifnya membantu kita menilai apakah diskusi publik memungkinkan klaim
diuji secara rasional dan tanpa dominasi. Kedua, tradisi Tomisme dari
Thomas Aquinas hingga Jacques Maritain menawarkan pandangan bahwa realitas itu
berlapis dan etika martabat pribadi tidak bisa disederhanakan.
Kedua pendekatan ini, meskipun menggunakan bahasa yang
berbeda, sampai pada kesimpulan yang sama: kebenaran dan kemanusiaan yang
utuh tidak bisa diperjuangkan dengan cara yang merusak kebenaran atau mereduksi
manusia.
1. Dari Teori ke Praktik—Habermas tentang Ruang Publik,
Rasio, dan Kritik atas Wacana Manipulatif
1.1. Ruang Publik dan Ideal Situasi Bicara
Habermas, dalam The Structural Transformation of the
Public Sphere (1962) dan karyanya yang lebih matang, The Theory of
Communicative Action (1981), mengembangkan gagasan tentang ruang publik (Öffentlichkeit)
sebagai tempat di mana warga dapat berdiskusi tentang masalah bersama secara
rasional dan tanpa dominasi. Idealnya, ruang publik adalah tempat di mana kekuatan
argumen yang lebih baik, bukan kekuatan uang, kekuasaan, atau retorika
emosional, yang menentukan.
Dari sini Habermas merumuskan ideal situasi bicara (ideale
Sprechsituation), yaitu kondisi di mana:
- Setiap
subjek yang mampu berbicara dan bertindak boleh berpartisipasi.
- Setiap
subjek boleh mempertanyakan klaim apa pun.
- Setiap
subjek boleh memperkenalkan klaim apa pun ke dalam diskursus.
- Setiap
subjek boleh mengekspresikan sikap, keinginan, dan kebutuhannya.
- Tidak
ada paksaan dari luar struktur argumen yang lebih baik.
Ini adalah cita-cita regulatif. Walaupun tidak pernah
tercapai sepenuhnya, konsep ini menjadi tolok ukur untuk mengkritik diskusi
yang ada.
1.2. Aplikasi ke Film Advokasi: Ketika Tidak Ada Lagi Ruang
untuk Mempertanyakan
Jika kita menerapkan kerangka ini pada film seperti Pesta
Babi, situasi bicara yang ideal tidak terjadi dalam film yang cenderung
bersifat propagandis. Mengapa? Karena film tidak membuka ruang untuk
mempertanyakan klaim tersebut. Film ini mengunci tafsir dan membangun oposisi
moral yang tertutup. Penonton tidak diajak untuk menguji klaim kebenaran
(apakah fakta ini representatif? Apakah ada data lain?), klaim moral (apakah
demonisasi terhadap pemerintah sepenuhnya adil?), atau klaim ketulusan (apakah
film ini benar-benar memberi suara kepada masyarakat adat atau hanya
menggunakan mereka?).
Menurut Habermas, film seperti ini merugikan rasio publik.
Film tersebut tidak memperlakukan penonton sebagai mitra diskusi yang setara,
melainkan sebagai objek persuasi. Argumen digantikan oleh emosi, bukti yang
lengkap digantikan oleh potongan-potongan yang menggugah, dan keterbukaan
terhadap koreksi digantikan oleh narasi yang tertutup.
1.3. Validitas Klaim: Tiga Dimensi yang Terabaikan
Habermas membedakan tiga jenis klaim validitas dalam
tindakan komunikatif:
- Klaim
kebenaran (truth claim): apakah pernyataan tersebut sesuai
dengan fakta di dunia objektif?
- Klaim
kebenaran normatif (rightness claim): apakah tindakan tersebut
sesuai dengan norma yang berlaku dan dibenarkan?
- Klaim
ketulusan (truthfulness claim): apakah pembicara
sungguh-sungguh bermaksud apa yang dikatakan?
Film advokasi sering kali kuat dalam klaim kebenaran faktual
(fakta-fakta yang ditampilkan benar adanya). Tapi ia lemah, atau bahkan sengaja
mengabaikan, klaim kebenaran normatif (apakah demonisasi total terhadap
pemerintah adil? Apakah representasi masyarakat adat sebagai korban
murni jujur terhadap kompleksitas mereka?). Dan ia sering kali
bermasalah dengan klaim ketulusan ketika motif pembuat film (reputasi, kapital
budaya, penghargaan) tidak dinyatakan secara transparan.
Masalahnya, penonton tidak diberi kesempatan untuk menguji
ketiga klaim tersebut. Pilihannya hanya menerima atau menolak sepenuhnya. Ini
bukan komunikasi, melainkan propaganda.
1.4. Keterbukaan terhadap Kritik sebagai Tanda
Rasionalitas
Salah satu ciri tindakan komunikatif yang rasional adalah keterbukaan
terhadap kritik. Subjek yang terlibat dalam diskursus harus bersedia jika
klaimnya dikoreksi apabila ternyata keliru. Tidak ada klaim yang final. Tidak
ada kebenaran yang tidak dapat direvisi.
Film advokasi propagandis, sebaliknya, menyajikan dirinya
sebagai kebenaran terakhir. Tidak ada ruang untuk tanya jawab dengan pihak yang
dikritik. Pemerintah atau pengusaha tidak diundang untuk memberikan tanggapan.
Bukti kontra dan aspek masalah lain yang mungkin belum teridentifikasi juga
tidak ditampilkan.
Menurut Habermas, tindakan ini justru menutup ruang
publik, bukan membukanya. Ironisnya, film yang mengaku membela yang
tertindas malah menutup kemungkinan adanya tafsir lain.
2. Tomisme—Realitas Utuh dan Martabat Pribadi
2.1. Realitas sebagai Keseluruhan yang Berlapis (Ens,
Verum, Bonum)
Tradisi Tomisme, yang berakar pada Thomas Aquinas
(1225–1274) dan dikembangkan oleh filsuf neoskolastik seperti Jacques Maritain
(1882–1973), memiliki pemahaman tentang realitas yang sangat relevan bagi
kritik kita.
Bagi Aquinas, realitas (ens) bukanlah kumpulan
fragmen yang dapat dipotong-potong sesuka hati. Setiap entitas memiliki esensi
dan eksistensi, serta memiliki lapisan-lapisan makna yang tidak dapat
direduksi menjadi satu aspek saja. Tanah, misalnya, bukan hanya lahan (res
extensa)—ia juga memiliki dimensi kultural, historis, kosmologis, personal,
dan bahkan sakral. Manusia bukan hanya subjek hukum atau korban statistik—ia
memiliki martabat sebagai imago Dei (gambar Allah) atau, dalam bahasa
sekuler, sebagai subjek yang memiliki tujuan akhir sendiri. Konsep transendental
dalam Tomisme, seperti ens, verum, bonum, dan unum (ada, benar,
baik, satu), mengajarkan bahwa setiap realitas memiliki kebenaran yang dapat
diketahui serta kebaikan yang melekat. Tidak ada realitas yang sepenuhnya jahat
atau sepenuhnya salah. Ini bukan relativisme moral, melainkan pengakuan bahwa
realitas lebih kompleks daripada sekadar hitam-putih.
2.2. Reduksi sebagai Dosa Metafisik
Dalam kerangka Tomisme, reduksi merupakan dosa metafisik.
Mengurangi tanah yang utuh menjadi sekadar "lahan" atau "ikon
ideologis" berarti melukai realitas itu sendiri. Ini bukan hanya soal
ketidakakuratan; ini adalah pelanggaran terhadap tatanan keberadaan. Maritain,
dalam The Degrees of Knowledge, menekankan bahwa pengetahuan yang benar
harus menghormati kompleksitas objeknya. Pengetahuan yang mereduksi bukan lagi
pengetahuan, tetapi karikatur.
Film advokasi yang menjadikan fragmen penderitaan sebagai
keseluruhan kebenaran sedang melakukan kekerasan metafisik. Film ini mengambil
satu aspek dari realitas tanah adat, misalnya bahwa tanah itu terancam, dan
menjadikannya satu-satunya aspek yang dianggap penting. Aspek lain diabaikan,
seperti konflik dalam komunitas adat, tradisi yang juga bisa menjadi sumber
penindasan internal, atau bahwa tidak semua pembangunan berdampak buruk.
Menurut Tomisme, kebenaran adalah adaequatio rei et intellectus, yaitu kesesuaian
antara pikiran dan kenyataan. Jika pikiran hanya melihat satu sisi kenyataan
dan menganggapnya sebagai keseluruhan, maka itu tidak sesuai dengan kenyataan.
Hal itu tidak benar, meskipun semua faktanya benar.
2.3. Hukum Kodrat dan Keadilan yang Proporsional
Dalam etika tomistik, keadilan tidak berarti "semua
sama". Aquinas membedakan keadilan distributif (yang memberikan
lebih banyak kepada mereka yang memiliki kebutuhan atau kontribusi yang lebih
besar) dan keadilan komutatif (kesetaraan dalam pertukaran). Prinsip
proporsionalitas sangat penting: perlakuan yang berbeda terhadap pihak yang
berbeda dibenarkan jika perbedaan itu didasarkan pada realitas objektif
(misalnya, pihak yang lemah membutuhkan perlindungan yang lebih besar).
Hal ini penting untuk menjawab kritik bahwa esai ini
"membela pemerintah dan pengusaha". Tomisme tidak mengatakan bahwa
semua pihak sama. Setiap pihak harus diperlakukan sesuai dengan realitas
masing-masing. Masyarakat adat membutuhkan perlindungan yang lebih besar
karena posisinya yang rentan. Pemerintah dan pengusaha memiliki tanggung jawab
yang lebih besar karena kekuasaan yang mereka miliki. Namun, ini tidak berarti
pemerintah dan pengusaha boleh diperlakukan tanpa rasa kemanusiaan. Mereka
tetap memiliki martabat sebagai pribadi. Menjadikan mereka sebagai
"monster moral" atau "mesin represi" melanggar hukum kodrat
yang mengajarkan bahwa setiap manusia berhak diperlakukan sebagai tujuan, bukan
sekadar sebagai alat.
2.4. Martabat Pribadi sebagai Pusat
Jacques Maritain, dalam The Person and the Common Good,
mempertegas perbedaan antara individu dan pribadi. Individu
adalah apa yang memisahkan kita dari yang lain; pribadi adalah apa yang
menghubungkan kita dengan yang lain melalui kesadaran, kebebasan, dan tanggung
jawab. Martabat pribadi terletak pada kapasitas untuk mengetahui kebenaran dan
memilih yang baik.
Ketika film advokasi menggambarkan masyarakat adat hanya
sebagai "korban murni", film itu menghilangkan martabat mereka
sebagai pribadi. Pribadi tidak hanya menderita, tetapi juga memilih, bertindak,
berbuat salah, belajar, dan bertanggung jawab. Dengan menyembunyikan semua
aspek ini, film memperlakukan masyarakat adat hanya sebagai objek, bukan
sebagai pribadi. Pejabat pemerintah juga adalah pribadi. Mereka punya keluarga,
pernah gagal, punya keraguan, dan bisa berubah. Dengan menghilangkan semua itu,
film tidak hanya tidak adil secara faktual, tetapi juga melanggar martabat
manusia.
Maritain menulis: "Hak asasi manusia didasarkan pada
martabat pribadi manusia. Dan martabat pribadi manusia didasarkan pada fakta
bahwa manusia adalah subjek yang memiliki tujuan akhir sendiri." Ketika
film memperlakukan seseorang sebagai fungsi naratif semata, ia menolak tujuan
akhir orang tersebut. Ini adalah pelanggaran hak asasi pada tingkat yang paling
fundamental.
3. Sintesis—Habermas Bertemu Aquinas
3.1. Rasio Publik dan Keterbukaan pada Realitas
Sekilas, Habermas sebagai rasionalis sekuler dan Tomisme
sebagai metafisika berbasis iman tampak saling bertentangan. Namun, dalam
mengkritik film advokasi, keduanya sama-sama menuntut keterbukaan terhadap
realitas dan akal sehat.
Habermas menuntut agar klaim kebenaran dapat diuji dalam
diskursus yang bebas dari dominasi. Tomisme menuntut agar pengetahuan
menghormati kompleksitas realitas. Keduanya menolak penutupan tafsir, keduanya
menolak reduksi, dan keduanya menolak penggunaan bahasa untuk memanipulasi,
bukan untuk mengomunikasikan kebenaran.
Seorang pengikut Habermas akan mengkritik film advokasi
karena tidak memberi ruang bagi pihak lain untuk merespons, sehingga melanggar
ideal situasi bicara. Seorang pengikut Tomisme akan mengkritik karena film itu
mengambil sebagian realitas dan menganggapnya sebagai keseluruhan. Kedua kritik
ini saling melengkapi.
3.2. Yang Dibela adalah Kebenaran, Bukan Kubu
Sintesis yang paling penting adalah: yang harus dibela
bukanlah "kubu" masyarakat adat, pemerintah, atau pengusaha,
melainkan kebenaran dan kemanusiaan yang utuh.
Ini berarti:
- Membela
masyarakat adat berarti membela hak mereka atas tanah, ruang hidup, dan
martabat sebagai pribadi—bukan membela narasi "korban murni"
yang menghilangkan agensi mereka.
- Mengkritik
pemerintah berarti menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan yang
merugikan—bukan menjadikan setiap pejabat sebagai monster.
- Mengkritik
pengusaha berarti menuntut akuntabilitas atas dampak ekologis dan
sosial—bukan mereduksi mereka menjadi simbol kerakusan.
Dalam kerangka ini, film dokumenter advokasi yang baik
bukanlah yang membuat kita merasa sudah berpihak, melainkan yang
membantu kita memahami kompleksitas agar dapat bertindak lebih
bijaksana. Film seperti ini tidak menutup kemungkinan tafsir, melainkan membuka
pertanyaan. Film ini tidak membangun pertentangan hitam-putih, tetapi
menunjukkan ketegangan yang perlu dikelola.
3.3. Kritik sebagai Tindakan Cinta (Amor Veritatis)
Dalam tradisi Tomisme, ada konsep amor veritatis—cinta
akan kebenaran. Mengkritik bukanlah tindakan negatif, melainkan tindakan
afirmatif: ia adalah ungkapan cinta pada realitas, cinta pada martabat manusia,
dan cinta pada kebaikan bersama.
Kritik terhadap film seperti Pesta Babi bukan berarti
kita membenci film itu atau membela pemerintah. Kritik ini adalah bentuk cinta
pada kebenaran yang lebih besar dari narasi mana pun. Kritik ini lahir dari
kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran lebih luas dari sudut pandang
kita dan dari keberanian untuk mengakui bahwa kelompok kita sendiri juga bisa
salah. Habermas juga menyampaikan hal serupa dengan cara berbeda: komunikasi
yang bebas dari dominasi merupakan syarat bagi masyarakat yang adil. Tanpa
kebenaran, keterbukaan, dan kesediaan untuk dikoreksi, advokasi berubah menjadi
dogmatisme. Dogmatisme, sebaik apa pun niatnya, adalah akar tirani.
Kesimpulan: Kembali ke Kebenaran yang Utuh
Tulisan ini tidak meminta kita berhenti membuat film
dokumenter advokasi. Ia tidak meminta kita berhenti membela masyarakat adat. Ia
meminta satu hal: jangan membela dengan cara yang merusak kebenaran.
Kebenaran sering menjadi pihak yang paling lemah dalam
setiap konflik. Ia tidak punya uang, senjata, atau panggung yang besar.
Kekuatan kebenaran hanya terletak pada kemampuannya bertahan lebih lama
daripada kebohongan. Film advokasi yang menyederhanakan realitas menjadi narasi
hitam-putih justru mengkhianati kebenaran, bukan demi masyarakat adat,
melainkan demi kepentingan emosional dan ideologis sesaat. Habermas mengajarkan
kita untuk membuka ruang bagi suara semua pihak. Tomisme mengajarkan kita untuk
menghormati realitas secara utuh. Gabungan keduanya memberi kita kompas: berpihaklah
pada yang lemah, tetapi jangan pernah mengorbankan kebenaran. Dan jangan pernah
mendemonisasi yang kuat dengan cara yang menghilangkan kemanusiaan mereka,
karena pada hari ketika yang kuat menjadi lemah, perlakuan yang sama bisa
menimpa kita.
Keadilan sejati tidak muncul dari narasi yang
menyederhanakan realitas. Keadilan lahir dari keberanian melihat realitas apa
adanya, meski rumit dan tidak nyaman, lalu tetap memilih bertindak dengan
bijaksana. Film dokumenter advokasi yang baik dapat membantu kita melakukan hal
ini. Sebaliknya, film yang buruk justru menggantikan realitas dengan cerita
moral dan menjualnya sebagai kebenaran.
Daftar Pustaka
Aquinas, Thomas. Summa Theologiae. corpusthomisticum.com
Habermas, Jürgen. The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press, 1989.
Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action, Vol. 1 & 2. Beacon Press, 1984.
Maritain, Jacques. The Degrees of Knowledge. University of Notre Dame Press, 1995.
Maritain, Jacques. The Person and the Common Good. University of Notre Dame Press, 1966.
McInerny, Ralph. Ethica Thomistica: The Moral Philosophy of Thomas Aquinas. Catholic University of America Press, 1997.

0 komentar:
Posting Komentar