Jumat, 22 Mei 2026

Membela Kebenaran, Bukan Kubu: Kritik atas Narasi Hitam-Putih dalam Film Dokumenter Advokasi



Sebuah Esai Filosofis dari Habermas ke Tomisme

Abstrak

Tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa kebenaran dan kemanusiaan secara menyeluruh adalah hal yang perlu dibela, bukan hanya oleh kelompok tertentu seperti masyarakat adat, pemerintah, atau pengusaha. Tulisan ini mengkritik film dokumenter advokasi yang terjebak dalam propaganda atau eksploitasi penderitaan. Mengacu pada pemikiran Jürgen Habermas dan tradisi Tomisme, Habermas menawarkan teori tindakan komunikatif dan situasi bicara ideal: setiap klaim kebenaran, moral, dan ketulusan diuji secara rasional dalam ruang publik yang bebas dari dominasi. Sementara itu, Tomisme yang berakar pada Thomas Aquinas dan dikembangkan oleh Jacques Maritain menekankan realitas berlapis, hukum kodrat, dan martabat pribadi yang tidak boleh direduksi sekadar menjadi alat narasi. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, tulisan menunjukkan bahwa film advokasi yang menyederhanakan realitas menjadi pertentangan hitam-putih gagal baik secara politik, ontologis, maupun etis. Yang hilang adalah nuansa serta penghormatan terhadap kebenaran yang lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Kata kunci: Habermas, rasio publik, Tomisme, kebenaran utuh, martabat pribadi, film dokumenter advokasi.

Pendahuluan: Ketika Membela Menjadi Menghancurkan

Ada ironi dalam film dokumenter advokasi seperti Pesta Babi; film ini ingin membela yang lemah dan menyadarkan publik akan ketidakadilan, tetapi sering kali justru menyederhanakan realitas seperti yang dituduhkan pada negara dan pengusaha. Negara mengubah tanah menjadi lahan, hutan menjadi komoditas, dan masyarakat adat menjadi angka statistik. Film advokasi mengubah tanah menjadi simbol sakral; masyarakat adat sepenuhnya menjadi korban; pembangunan sepenuhnya salah. Kedua pendekatan sama-sama menyederhanakan, meski arahnya berbeda.

Pertanyaan utama esai ini adalah: apa dasar filosofis untuk menolak penyederhanaan seperti itu? Alasannya bukan hanya karena tidak akurat, tetapi juga karena pada dasarnya merusak kebenaran dan martabat manusia.

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan menggunakan dua tradisi besar. Pertama, Jürgen Habermas dengan teori tindakan komunikatifnya membantu kita menilai apakah diskusi publik memungkinkan klaim diuji secara rasional dan tanpa dominasi. Kedua, tradisi Tomisme dari Thomas Aquinas hingga Jacques Maritain menawarkan pandangan bahwa realitas itu berlapis dan etika martabat pribadi tidak bisa disederhanakan.

Kedua pendekatan ini, meskipun menggunakan bahasa yang berbeda, sampai pada kesimpulan yang sama: kebenaran dan kemanusiaan yang utuh tidak bisa diperjuangkan dengan cara yang merusak kebenaran atau mereduksi manusia.

1. Dari Teori ke Praktik—Habermas tentang Ruang Publik, Rasio, dan Kritik atas Wacana Manipulatif

1.1. Ruang Publik dan Ideal Situasi Bicara

Habermas, dalam The Structural Transformation of the Public Sphere (1962) dan karyanya yang lebih matang, The Theory of Communicative Action (1981), mengembangkan gagasan tentang ruang publik (Öffentlichkeit) sebagai tempat di mana warga dapat berdiskusi tentang masalah bersama secara rasional dan tanpa dominasi. Idealnya, ruang publik adalah tempat di mana kekuatan argumen yang lebih baik, bukan kekuatan uang, kekuasaan, atau retorika emosional, yang menentukan.

Dari sini Habermas merumuskan ideal situasi bicara (ideale Sprechsituation), yaitu kondisi di mana:

  1. Setiap subjek yang mampu berbicara dan bertindak boleh berpartisipasi.
  2. Setiap subjek boleh mempertanyakan klaim apa pun.
  3. Setiap subjek boleh memperkenalkan klaim apa pun ke dalam diskursus.
  4. Setiap subjek boleh mengekspresikan sikap, keinginan, dan kebutuhannya.
  5. Tidak ada paksaan dari luar struktur argumen yang lebih baik.

Ini adalah cita-cita regulatif. Walaupun tidak pernah tercapai sepenuhnya, konsep ini menjadi tolok ukur untuk mengkritik diskusi yang ada.

1.2. Aplikasi ke Film Advokasi: Ketika Tidak Ada Lagi Ruang untuk Mempertanyakan

Jika kita menerapkan kerangka ini pada film seperti Pesta Babi, situasi bicara yang ideal tidak terjadi dalam film yang cenderung bersifat propagandis. Mengapa? Karena film tidak membuka ruang untuk mempertanyakan klaim tersebut. Film ini mengunci tafsir dan membangun oposisi moral yang tertutup. Penonton tidak diajak untuk menguji klaim kebenaran (apakah fakta ini representatif? Apakah ada data lain?), klaim moral (apakah demonisasi terhadap pemerintah sepenuhnya adil?), atau klaim ketulusan (apakah film ini benar-benar memberi suara kepada masyarakat adat atau hanya menggunakan mereka?).

Menurut Habermas, film seperti ini merugikan rasio publik. Film tersebut tidak memperlakukan penonton sebagai mitra diskusi yang setara, melainkan sebagai objek persuasi. Argumen digantikan oleh emosi, bukti yang lengkap digantikan oleh potongan-potongan yang menggugah, dan keterbukaan terhadap koreksi digantikan oleh narasi yang tertutup.

1.3. Validitas Klaim: Tiga Dimensi yang Terabaikan

Habermas membedakan tiga jenis klaim validitas dalam tindakan komunikatif:

  • Klaim kebenaran (truth claim): apakah pernyataan tersebut sesuai dengan fakta di dunia objektif?
  • Klaim kebenaran normatif (rightness claim): apakah tindakan tersebut sesuai dengan norma yang berlaku dan dibenarkan?
  • Klaim ketulusan (truthfulness claim): apakah pembicara sungguh-sungguh bermaksud apa yang dikatakan?

Film advokasi sering kali kuat dalam klaim kebenaran faktual (fakta-fakta yang ditampilkan benar adanya). Tapi ia lemah, atau bahkan sengaja mengabaikan, klaim kebenaran normatif (apakah demonisasi total terhadap pemerintah adil? Apakah representasi masyarakat adat sebagai korban murni jujur terhadap kompleksitas mereka?). Dan ia sering kali bermasalah dengan klaim ketulusan ketika motif pembuat film (reputasi, kapital budaya, penghargaan) tidak dinyatakan secara transparan.

Masalahnya, penonton tidak diberi kesempatan untuk menguji ketiga klaim tersebut. Pilihannya hanya menerima atau menolak sepenuhnya. Ini bukan komunikasi, melainkan propaganda.

1.4. Keterbukaan terhadap Kritik sebagai Tanda Rasionalitas

Salah satu ciri tindakan komunikatif yang rasional adalah keterbukaan terhadap kritik. Subjek yang terlibat dalam diskursus harus bersedia jika klaimnya dikoreksi apabila ternyata keliru. Tidak ada klaim yang final. Tidak ada kebenaran yang tidak dapat direvisi.

Film advokasi propagandis, sebaliknya, menyajikan dirinya sebagai kebenaran terakhir. Tidak ada ruang untuk tanya jawab dengan pihak yang dikritik. Pemerintah atau pengusaha tidak diundang untuk memberikan tanggapan. Bukti kontra dan aspek masalah lain yang mungkin belum teridentifikasi juga tidak ditampilkan.

Menurut Habermas, tindakan ini justru menutup ruang publik, bukan membukanya. Ironisnya, film yang mengaku membela yang tertindas malah menutup kemungkinan adanya tafsir lain.

2. Tomisme—Realitas Utuh dan Martabat Pribadi

2.1. Realitas sebagai Keseluruhan yang Berlapis (Ens, Verum, Bonum)

Tradisi Tomisme, yang berakar pada Thomas Aquinas (1225–1274) dan dikembangkan oleh filsuf neoskolastik seperti Jacques Maritain (1882–1973), memiliki pemahaman tentang realitas yang sangat relevan bagi kritik kita.

Bagi Aquinas, realitas (ens) bukanlah kumpulan fragmen yang dapat dipotong-potong sesuka hati. Setiap entitas memiliki esensi dan eksistensi, serta memiliki lapisan-lapisan makna yang tidak dapat direduksi menjadi satu aspek saja. Tanah, misalnya, bukan hanya lahan (res extensa)—ia juga memiliki dimensi kultural, historis, kosmologis, personal, dan bahkan sakral. Manusia bukan hanya subjek hukum atau korban statistik—ia memiliki martabat sebagai imago Dei (gambar Allah) atau, dalam bahasa sekuler, sebagai subjek yang memiliki tujuan akhir sendiri. Konsep transendental dalam Tomisme, seperti ens, verum, bonum, dan unum (ada, benar, baik, satu), mengajarkan bahwa setiap realitas memiliki kebenaran yang dapat diketahui serta kebaikan yang melekat. Tidak ada realitas yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya salah. Ini bukan relativisme moral, melainkan pengakuan bahwa realitas lebih kompleks daripada sekadar hitam-putih.

2.2. Reduksi sebagai Dosa Metafisik

Dalam kerangka Tomisme, reduksi merupakan dosa metafisik. Mengurangi tanah yang utuh menjadi sekadar "lahan" atau "ikon ideologis" berarti melukai realitas itu sendiri. Ini bukan hanya soal ketidakakuratan; ini adalah pelanggaran terhadap tatanan keberadaan. Maritain, dalam The Degrees of Knowledge, menekankan bahwa pengetahuan yang benar harus menghormati kompleksitas objeknya. Pengetahuan yang mereduksi bukan lagi pengetahuan, tetapi karikatur.

Film advokasi yang menjadikan fragmen penderitaan sebagai keseluruhan kebenaran sedang melakukan kekerasan metafisik. Film ini mengambil satu aspek dari realitas tanah adat, misalnya bahwa tanah itu terancam, dan menjadikannya satu-satunya aspek yang dianggap penting. Aspek lain diabaikan, seperti konflik dalam komunitas adat, tradisi yang juga bisa menjadi sumber penindasan internal, atau bahwa tidak semua pembangunan berdampak buruk. Menurut Tomisme, kebenaran adalah adaequatio rei et intellectus, yaitu kesesuaian antara pikiran dan kenyataan. Jika pikiran hanya melihat satu sisi kenyataan dan menganggapnya sebagai keseluruhan, maka itu tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu tidak benar, meskipun semua faktanya benar.

2.3. Hukum Kodrat dan Keadilan yang Proporsional

Dalam etika tomistik, keadilan tidak berarti "semua sama". Aquinas membedakan keadilan distributif (yang memberikan lebih banyak kepada mereka yang memiliki kebutuhan atau kontribusi yang lebih besar) dan keadilan komutatif (kesetaraan dalam pertukaran). Prinsip proporsionalitas sangat penting: perlakuan yang berbeda terhadap pihak yang berbeda dibenarkan jika perbedaan itu didasarkan pada realitas objektif (misalnya, pihak yang lemah membutuhkan perlindungan yang lebih besar).

Hal ini penting untuk menjawab kritik bahwa esai ini "membela pemerintah dan pengusaha". Tomisme tidak mengatakan bahwa semua pihak sama. Setiap pihak harus diperlakukan sesuai dengan realitas masing-masing. Masyarakat adat membutuhkan perlindungan yang lebih besar karena posisinya yang rentan. Pemerintah dan pengusaha memiliki tanggung jawab yang lebih besar karena kekuasaan yang mereka miliki. Namun, ini tidak berarti pemerintah dan pengusaha boleh diperlakukan tanpa rasa kemanusiaan. Mereka tetap memiliki martabat sebagai pribadi. Menjadikan mereka sebagai "monster moral" atau "mesin represi" melanggar hukum kodrat yang mengajarkan bahwa setiap manusia berhak diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar sebagai alat.

2.4. Martabat Pribadi sebagai Pusat

Jacques Maritain, dalam The Person and the Common Good, mempertegas perbedaan antara individu dan pribadi. Individu adalah apa yang memisahkan kita dari yang lain; pribadi adalah apa yang menghubungkan kita dengan yang lain melalui kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab. Martabat pribadi terletak pada kapasitas untuk mengetahui kebenaran dan memilih yang baik.

Ketika film advokasi menggambarkan masyarakat adat hanya sebagai "korban murni", film itu menghilangkan martabat mereka sebagai pribadi. Pribadi tidak hanya menderita, tetapi juga memilih, bertindak, berbuat salah, belajar, dan bertanggung jawab. Dengan menyembunyikan semua aspek ini, film memperlakukan masyarakat adat hanya sebagai objek, bukan sebagai pribadi. Pejabat pemerintah juga adalah pribadi. Mereka punya keluarga, pernah gagal, punya keraguan, dan bisa berubah. Dengan menghilangkan semua itu, film tidak hanya tidak adil secara faktual, tetapi juga melanggar martabat manusia.

Maritain menulis: "Hak asasi manusia didasarkan pada martabat pribadi manusia. Dan martabat pribadi manusia didasarkan pada fakta bahwa manusia adalah subjek yang memiliki tujuan akhir sendiri." Ketika film memperlakukan seseorang sebagai fungsi naratif semata, ia menolak tujuan akhir orang tersebut. Ini adalah pelanggaran hak asasi pada tingkat yang paling fundamental.

3. Sintesis—Habermas Bertemu Aquinas

3.1. Rasio Publik dan Keterbukaan pada Realitas

Sekilas, Habermas sebagai rasionalis sekuler dan Tomisme sebagai metafisika berbasis iman tampak saling bertentangan. Namun, dalam mengkritik film advokasi, keduanya sama-sama menuntut keterbukaan terhadap realitas dan akal sehat.

Habermas menuntut agar klaim kebenaran dapat diuji dalam diskursus yang bebas dari dominasi. Tomisme menuntut agar pengetahuan menghormati kompleksitas realitas. Keduanya menolak penutupan tafsir, keduanya menolak reduksi, dan keduanya menolak penggunaan bahasa untuk memanipulasi, bukan untuk mengomunikasikan kebenaran.

Seorang pengikut Habermas akan mengkritik film advokasi karena tidak memberi ruang bagi pihak lain untuk merespons, sehingga melanggar ideal situasi bicara. Seorang pengikut Tomisme akan mengkritik karena film itu mengambil sebagian realitas dan menganggapnya sebagai keseluruhan. Kedua kritik ini saling melengkapi.

3.2. Yang Dibela adalah Kebenaran, Bukan Kubu

Sintesis yang paling penting adalah: yang harus dibela bukanlah "kubu" masyarakat adat, pemerintah, atau pengusaha, melainkan kebenaran dan kemanusiaan yang utuh.

Ini berarti:

  • Membela masyarakat adat berarti membela hak mereka atas tanah, ruang hidup, dan martabat sebagai pribadi—bukan membela narasi "korban murni" yang menghilangkan agensi mereka.
  • Mengkritik pemerintah berarti menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan yang merugikan—bukan menjadikan setiap pejabat sebagai monster.
  • Mengkritik pengusaha berarti menuntut akuntabilitas atas dampak ekologis dan sosial—bukan mereduksi mereka menjadi simbol kerakusan.

Dalam kerangka ini, film dokumenter advokasi yang baik bukanlah yang membuat kita merasa sudah berpihak, melainkan yang membantu kita memahami kompleksitas agar dapat bertindak lebih bijaksana. Film seperti ini tidak menutup kemungkinan tafsir, melainkan membuka pertanyaan. Film ini tidak membangun pertentangan hitam-putih, tetapi menunjukkan ketegangan yang perlu dikelola.

3.3. Kritik sebagai Tindakan Cinta (Amor Veritatis)

Dalam tradisi Tomisme, ada konsep amor veritatis—cinta akan kebenaran. Mengkritik bukanlah tindakan negatif, melainkan tindakan afirmatif: ia adalah ungkapan cinta pada realitas, cinta pada martabat manusia, dan cinta pada kebaikan bersama.

Kritik terhadap film seperti Pesta Babi bukan berarti kita membenci film itu atau membela pemerintah. Kritik ini adalah bentuk cinta pada kebenaran yang lebih besar dari narasi mana pun. Kritik ini lahir dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran lebih luas dari sudut pandang kita dan dari keberanian untuk mengakui bahwa kelompok kita sendiri juga bisa salah. Habermas juga menyampaikan hal serupa dengan cara berbeda: komunikasi yang bebas dari dominasi merupakan syarat bagi masyarakat yang adil. Tanpa kebenaran, keterbukaan, dan kesediaan untuk dikoreksi, advokasi berubah menjadi dogmatisme. Dogmatisme, sebaik apa pun niatnya, adalah akar tirani.

Kesimpulan: Kembali ke Kebenaran yang Utuh

Tulisan ini tidak meminta kita berhenti membuat film dokumenter advokasi. Ia tidak meminta kita berhenti membela masyarakat adat. Ia meminta satu hal: jangan membela dengan cara yang merusak kebenaran.

Kebenaran sering menjadi pihak yang paling lemah dalam setiap konflik. Ia tidak punya uang, senjata, atau panggung yang besar. Kekuatan kebenaran hanya terletak pada kemampuannya bertahan lebih lama daripada kebohongan. Film advokasi yang menyederhanakan realitas menjadi narasi hitam-putih justru mengkhianati kebenaran, bukan demi masyarakat adat, melainkan demi kepentingan emosional dan ideologis sesaat. Habermas mengajarkan kita untuk membuka ruang bagi suara semua pihak. Tomisme mengajarkan kita untuk menghormati realitas secara utuh. Gabungan keduanya memberi kita kompas: berpihaklah pada yang lemah, tetapi jangan pernah mengorbankan kebenaran. Dan jangan pernah mendemonisasi yang kuat dengan cara yang menghilangkan kemanusiaan mereka, karena pada hari ketika yang kuat menjadi lemah, perlakuan yang sama bisa menimpa kita.

Keadilan sejati tidak muncul dari narasi yang menyederhanakan realitas. Keadilan lahir dari keberanian melihat realitas apa adanya, meski rumit dan tidak nyaman, lalu tetap memilih bertindak dengan bijaksana. Film dokumenter advokasi yang baik dapat membantu kita melakukan hal ini. Sebaliknya, film yang buruk justru menggantikan realitas dengan cerita moral dan menjualnya sebagai kebenaran.





Daftar Pustaka

Aquinas, Thomas. Summa Theologiae. corpusthomisticum.com

Habermas, Jürgen. The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press, 1989.

Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action, Vol. 1 & 2. Beacon Press, 1984.

Maritain, Jacques. The Degrees of Knowledge. University of Notre Dame Press, 1995.

Maritain, Jacques. The Person and the Common Good. University of Notre Dame Press, 1966.

McInerny, Ralph. Ethica Thomistica: The Moral Philosophy of Thomas Aquinas. Catholic University of America Press, 1997.

0 komentar:

Posting Komentar