Dalam dunia apologetika Protestan, orang Berea sering dipanggil ke mimbar seperti saksi ahli tetap. Begitu bicara soal sola scriptura, langsung keluar ayat sakti: “Orang Berea memeriksa Kitab Suci setiap hari.” Lalu kesimpulannya: “Nah, lihat! Semua ajaran Gereja harus tunduk pada tafsir pribadi saya atas Alkitab.”
Indah sekali. Sayang, seperti biasa, logikanya tersandung di halaman pertama.
Orang Berea itu belum Kristen ketika mereka memeriksa Kitab Suci. Mereka sedang menyelidiki apakah Paulus dan Silas benar-benar membawa pewartaan dari Allah. Itu namanya kehati-hatian pra-iman, bukan pemberontakan pasca-baptis. Mereka bukan sedang berkata, “Saudara Paulus, kami akan menerima ajaranmu hanya kalau cocok dengan denominasi kami yang akan berdiri 1.500 tahun lagi.” Mereka sedang mengecek kesinambungan antara pewartaan para rasul dan wahyu Perjanjian Lama.
Jadi, mari kita luruskan: orang Berea bukan “Protestan pertama.” Mereka bukan sedang mendirikan klub “Alkitab menurut saya.” Mereka adalah orang Yahudi saleh yang memeriksa apakah Yesus yang diberitakan Paulus sungguh Mesias yang dinubuatkan. Bedanya jauh. Sejauh Roma dengan “gereja online komentator Facebook.”
Masalah Protestan di sini sederhana: mereka mengambil contoh orang yang belum masuk Gereja, lalu menjadikannya alasan bagi orang yang sudah mengaku Kristen untuk terus mengadili Gereja. Ini seperti orang yang sedang memilih dokter boleh bertanya ijazah dokternya; tetapi setelah tahu dia dokter sah, masih berkata, “Tunggu dulu, saya akan operasi diri sendiri sambil baca brosur anatomi.” Hasilnya bukan iman yang dewasa. Itu bedah rohani tanpa anestesi.
Ada pembedaan penting: ada pewartaan apologetik dan ada pengajaran didaktik/katekese. Dalam tahap apologetik, orang boleh bertanya, menyelidiki, memeriksa alasan iman: nubuat, mukjizat, koherensi ajaran, kesinambungan wahyu. Itu wajar. Bahkan perlu. Iman Katolik tidak takut diuji. Tetapi setelah seseorang mengenali bahwa Kristus mengutus para rasul, dan para rasul mengajar dengan otoritas Kristus, maka sikap yang benar bukan lagi “saya terima kalau cocok dengan tafsir saya,” melainkan “aku mendengar karena Kristus berbicara melalui Gereja-Nya.”
Di sinilah lucunya. Protestan sering berkata: “Kami seperti orang Berea.” Baik. Tetapi orang Berea setelah memeriksa Kitab Suci lalu percaya kepada pewartaan apostolik. Mereka tidak mendirikan gereja baru, tidak membuat kanal YouTube “Membongkar Paulus,” tidak berkata, “Kami menerima Yesus, tapi menolak otoritas rasuli.” Mereka masuk ke dalam iman apostolik.
Kalau mau sungguh-sungguh meniru orang Berea, silakan. Periksa Kitab Suci, lihat nubuat, lihat Kristus, lihat para rasul, lihat Gereja yang lahir dari para rasul. Tetapi jangan berhenti di tengah jalan lalu membuka warung tafsir sendiri di pinggir Kisah Para Rasul 17.
Kisah Berea justru menghantam sola scriptura, bukan membelanya. Sebab orang Berea tidak sedang menjadikan Kitab Suci sebagai “hakim tunggal” melawan Paulus. Mereka memakai wahyu lama untuk mengenali otoritas pewartaan baru. Setelah otoritas itu dikenali, mereka percaya. Sederhana. Yang rumit itu ketika orang modern memaksa orang Berea memakai kacamata Reformasi abad ke-16.
Jadi kesimpulannya begini: orang Berea itu teliti, bukan Protestan. Mereka rendah hati, bukan pemberontak tafsir. Mereka mencari Mesias, bukan mencari celah untuk membantah Gereja. Mereka membuka Kitab Suci untuk masuk ke dalam iman apostolik; bukan membuka Kitab Suci untuk keluar dari otoritas apostolik.
Maka kalau ada yang berkata, “Kami hanya seperti orang Berea,” jawab saja dengan tenang:
“Betul, Om. Tapi orang Berea setelah membaca Kitab Suci akhirnya percaya kepada para rasul. Yang Om lakukan justru membaca Kitab Suci untuk membantah Gereja para rasul. Jadi jangan pinjam nama Berea kalau akhirnya parkir di garasi Wittenberg.”
0 komentar:
Posting Komentar