Kamis, 13 November 2025

Photius: Akar Retak yang Membelah Timur dan Roma

 


Catatan Apologetik tentang Cikal-bakal Skisma Timur

Dari jauh, sejarah kadang tampak seperti deretan tanggal kering dan pertikaian istana. Namun bila kita mendekat, kita melihat manusia—ambisi, intrik, doa, dan kadang, kesombongan yang menyamar sebagai kesalehan. Begitu pula dengan perpecahan antara Konstantinopel dan Roma. Siapa ingin memahami retakan 1054, harus kembali ke bara kecil tahun 858—kepada sosok yang kini dihormati umat Ortodoks, namun dikenang Gereja Katolik sebagai sumber luka awal: Photius.

1. Latar Sejarah: Sebuah Takhta yang Direbut Secara Politik

Tahun 858, kekuasaan istana Bizantium bergerak cepat. Bardas, penguasa di belakang layar dan paman dari Kaisar Mikhail III, menyingkirkan Patriark Santo Ignatius, seorang gembala yang teguh melawan korupsi istana. Kursi patriark lalu diberikan kepada Photius, seorang pejabat sipil yang brilian namun bukan klerikus.

Keanehan langsung tampak:

• Dalam empat hari, Photius menerima seluruh jenjang tahbisan—dari lektor hingga uskup.
• Ia dinaikkan sebagai Patriark Konstantinopel pada Natal 858.

Prosedur kanonik dilanggar terang-terangan, dan para uskup Timur menolak mengakuinya. Photius merespons dengan represi. Di sinilah retakan pertama muncul: bukan teologi, melainkan politik yang menyeret altar.

2. Roma Memasuki Panggung: Primat Petrus yang Diuji

Sesuai tradisi kuno, setiap patriark baru mesti mengirim surat sinodal kepada keempat patriark lain: Roma, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Kepada Roma lah surat itu paling menentukan, karena Roma memiliki primasi yuridis yang diakui Konsili Nicea dan Chalcedon.

Di takhta Petrus saat itu duduk Paus Nikolas I, seorang raksasa rohani abad IX. Ketika membaca laporan pengangkatan Photius yang tidak wajar, beliau tidak serta-merta mengesahkan. Ia ingin mengetahui:

– Bagaimana Santo Ignatius dicopot?
– Bagaimana Photius diangkat?

Maka dua utusan paus dikirim untuk menyelidiki. Sayangnya, mereka dipenjara secara halus oleh istana Bizantium, ditekan, dan akhirnya menyerah pada kehendak Photius. Seluruh proses ini bukan hanya manipulasi: itu adalah intervensi negara terhadap Gereja.

Paus Nikolas, mendengar kabar itu, langsung memecat para utusannya dan menggelar Konsili Roma. Hasilnya:

  1. Photius dinyatakan tidak sah sebagai patriark.
  2. Santo Ignatius dipulihkan sebagai patriark yang legitimate.

Keputusan ini menegaskan prinsip yang telah hidup sejak para Bapa Gereja:
Takhta Roma memiliki yurisdiksi terakhir dalam perselisihan antar-se.

3. Respons Photius: Serangan Terhadap Roma dan Tradisi Latin

Photius tidak sekadar membalas. Ia menggelar sidang tandingan, memalsukan dukungan para uskup, dan—untuk pertama kalinya dalam sejarah Timur—menjatuhkan “deposisi” terhadap Paus Roma.

Langkah ini bukan sekadar pecah relasi; itu adalah deklarasi ideologis.

Ia menulis surat kepada Patriark Alexandria, menyebarkan dokumen yang menyerang praktik Gereja Latin:

– Puasa hari Sabtu
– Selibat imam
– Tambahan Filioque dalam kredo

Photius menjadi figur pertama yang:

  1. Menolak primat Petrus secara prinsipil, bukan sekadar teknis.
  2. Menyerang tradisi Gereja Latin secara sistematis.

Sebelum abad IX, konflik Timur–Barat lebih bersifat politik. Dengan Photius, konflik itu berubah menjadi teologis dan anti-Latin.

4. Rekonsiliasi Sementara: Konsili Konstantinopel IV (869–870)

Kekuasaan kembali berputar. Kaisar baru, Basil I, tidak menyukai Photius dan menginginkan rekonsiliasi dengan Roma. Ia:

– Mengusir Photius
– Mengembalikan Santo Ignatius
– Menggelar konsili baru

Konsili ini—yang diakui Gereja Katolik sebagai Konsili Ekumenis IV Konstantinopelmengutuk Photius dan memulihkan hubungan dengan Roma.

Namun badai belum selesai.

Setelah wafatnya Ignatius, tekanan politik membuat Paus Yohanes VIII menerima Photius kembali. Tetapi pada akhirnya Photius kembali jatuh, disingkirkan, dan wafat sekitar tahun 892.

5. Warisan Photius: Benih yang Menumbuhkan Skisma 1054

Secara politis, abad IX berakhir dengan damai. Tetapi tulisan Photius menyebar luas, terutama dua karya:

  1. “Melawan Mereka yang Mengatakan Roma adalah Takhta Pertama”
  2. Risalah tentang Roh Kudus, menolak Filioque

Dua karya ini menjadi kitab pegangan bagi para polemis Bizantium abad berikutnya—khususnya Patriark Mikhail Cerularius pada 1054.

Dengan kata lain:

Photius adalah arsitek awal perpecahan.
Cerularius hanyalah tukang yang menyelesaikan bangunan itu.

6. Kesimpulan Apologetik: Mengapa Ini Penting Bagi Gereja Katolik

Skisma Timur tidak lahir dari satu hari dan satu konflik. Ia lahir dari:

– Ambisi politik istana Bizantium
– Penolakan terhadap primat Petrus
– Doktrin anti-Latin yang dimulai oleh Photius
– Distorsi sejarah yang diwariskan turun-temurun

Dari kacamata Katolik, perpecahan ini bukanlah pilihan iman; ia adalah cedera sejarah yang bertahan karena kebiasaan, bukan karena kebenaran. Patut diingat pula:

Gereja Ortodoks pada dasarnya adalah Gereja Katolik Timur yang akhirnya menolak kepausan.
Leks orandi yang sama, sakramen yang sama, apostolisitas yang sama—kecuali primatus Petrinus.

Sampai hari ini, retakan itu masih menganga. Tetapi memahami asalnya adalah langkah pertama menuju penyembuhan.

Penutup: Membaca Sejarah Tanpa Slogan

Siapa ingin mengerti skisma Timur–Barat harus membaca sejarah dengan keberanian; bukan slogan romantis, bukan sentimen anti-Latin, bukan mitos nasionalisme Bizantium.

Dan sejarah yang jujur menunjukkan satu hal:

Cisma Timur berakar bukan pada ajaran, melainkan pada seorang pejabat istana yang menganggap martabat rohani sebagai instrumen politik.

Dari luka itu, Gereja terus berharap satu hal:
bahwa suatu hari, saudara-saudara Timur kembali pulang ke rumah lama yang sama—rumah Petrus, tempat sejak awal seluruh Gereja bersatu.

 

0 komentar:

Posting Komentar