Jejak sejarah selalu jujur, meski manusia sering menutupinya dengan retorika bising. Ketika ditelaah tanpa kabut sentimental, tampak bahwa banyak ekspansi Protestanisme bukanlah misi lintas-iman, melainkan kanibalisasi internal terhadap umat Katolik yang lelah, kurang diajar, atau tidak lagi merasa dipeluk komunitasnya. Fenomena ini bukan sekadar perilaku gerejawi; ini adalah gejala teologis.
Mari kita bedah.
1. Krisis Teologi Misi dalam Doktrin Protestan
Misi sejati lahir dari sakramen, bukan dari slogan. Gereja Katolik mengikat misi pada tiga simpul: Ekaristi, kesatuan apostolik, dan universalisme (katholikos). Protestan kehilangan ketiganya ketika memutus diri dari pusat sakramental.
Tanpa sakramentalitas, misi berubah menjadi persuasi verbal: sekadar meyakinkan orang untuk “percaya seperti saya”. Karena itu objek paling mudah adalah:
• orang yang sudah percaya Kristus
• orang yang sudah punya Alkitab
• orang yang sudah punya struktur moral Kristiani
Dengan kata lain: yang mereka cari adalah umat Katolik yang goyah, bukan bangsa-bangsa.
Mereka jarang melangkah ke wilayah Islam, Hindu, Buddha, atau tradisi adat karena di sana diperlukan fondasi ontologis yang mereka tak punya. Krisis metafisika selalu melumpuhkan misi.
2. Evangelisasi yang Reduksionis: Kata-Kata Gantikan Inkarnasi
Protestanisme lahir dari perang kata, bukan dari inkarnasi liturgis. Akibatnya, seluruh sistem pastoral mereka mengandalkan:
• pidato
• debat
• retorika
• pengalaman emosional
Bukan kesatuan sakramental gereja purba.
Metode seperti ini hanya efektif kepada mereka yang sudah punya kategori Kristen dasar—yakni umat Katolik. Tetapi ia lumpuh total ketika berhadapan dengan orang yang worldview-nya tidak Kristiani.
Menginjili orang yang sama sekali asing terhadap Kristus memerlukan:
• ritus
• sakramen
• liturgi
• simbol
• komunitas hidup
• formasi stabil
Ini dunia yang tak dapat digarap oleh model Protestan yang cair dan fragmentaris.
3. Sasaran Empuk: Katolik yang Malas
Ada rantai sederhana yang selalu terbukti:
Katolik tanpa katekese → Identitas kabur → Iman redup → Mudah digoda retorika Protestan.
Protestanisme hidup dari celah-celah yang Gereja Katolik biarkan kosong. Maka yang mereka cari bukan “orang berdosa yang belum mengenal Injil”, melainkan:
• umat paroki yang jarang ikut misa
• orang muda yang tak pernah diajar apologetika
• keluarga yang liturginya mati
• orang yang lebih kenal media sosial daripada sakramen
Ini bukan misi; ini predasi internal.
Mereka memakai istilah “menemukan Injil yang murni”, padahal yang terjadi hanyalah seseorang yang tak pernah diajar menemukan retorika baru yang terasa segar.
4. Minim Konversi Lintas-Agama: Dua Alasan Teologis
Ada dua alasan mendasar mengapa Protestan hampir tidak menyentuh agama-agama besar lain.
A. Mereka tidak punya konsep Gereja universal
Tanpa kesatuan apostolik, mereka hanya mengajak orang masuk ke denominasi tertentu—yang besok bisa pecah lagi.
Orang Muslim atau Hindu melihat ini dan berkata: “Untuk apa masuk ke sesuatu yang bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri?”
B. Tidak ada imajinasi sakramental
Umat dari tradisi religius besar hidup dari simbol, ritus, dan wibawa. Protestan menawarkan:
• kotbah
• lagu
• kelas Alkitab
• pertemuan doa
Ia tampak miskin bagi agama besar yang punya ritus megah dan identitas mapan.
Di hadapan Islam yang punya syariah dan otoritas tunggal Al-Qur’an, Protestan tampak seperti kerumunan pendapat manusia.
Karena itu mereka memilih “target yang sudah jadi”: Katolik yang sedang tidur.
5. Protestanisme yang Subur adalah Gejala Katolik yang Lalai
Ini diagnosis yang sering dihindari:
Protestanisme tidak kuat. Katolik yang lemah.
Setiap kali ada paroki tanpa katekese, tanpa komunitas hidup, tanpa kehangatan—di situlah Protestan muncul.
Setiap kali iman umat hanya ritual tanpa pengajaran—di situlah Protestan memanen.
Protestan bukan pemenang; mereka hanya memungut serpihan dari meja kita ketika kita lupa memberi makan rumah sendiri.
6. Kesimpulan: Protestanisme Tidak Misi, Tetapi Migrasi
Jika dirangkum, fenomenanya seperti ini:
• Mereka tidak mengkonversi non-Kristen.
• Mereka tidak menantang agama-agama kuat.
• Mereka tidak berakar pada tradisi apostolik.
• Mereka tidak mampu membangun komunitas lintas budaya seperti Gereja Katolik.
• Yang mereka lakukan adalah memindahkan Katolik yang tidak terurus.
Ini bukan pertumbuhan rohani; ini perpindahan administrasi.
Selama Katolik melupakan pendidikan iman, Protestan akan terus hidup sebagai bayang-bayang kita sendiri.
Dan di sanalah Gereja mesti kembali berdiri tegak—bukan melawan mereka, tetapi membangunkan rumahnya sendiri. Dengan itu, hutan kembali hijau, dan tidak ada lagi ruang bagi perampok yang hidup dari kebun yang tak dijaga.
0 komentar:
Posting Komentar