Mengurai Sejarah, Menimbang Doktrin, Meneguhkan Iman Katolik
Protestantisme lahir dari gejolak internal Barat abad ke-16, tetapi jejaknya terus bergema dalam sejarah Gereja. Untuk memahami relasi Katolik–Protestan hari ini, persoalan doktrin, sejarah, dan makna “bidat” mesti disusun kembali dengan kepala dingin dan hati jernih.
1. Asal-usul dan Ajaran Pokok Protestantisme
Protestantisme muncul dari keberatan Martin Luther terhadap praktik indulgensi pada 1517. Namun, keberatan pastoral itu segera berubah menjadi revolusi doktrinal. Di sinilah lahir panca sola, lima slogan teologis yang menjadi jantung Protestantisme:
• Sola Scriptura – hanya Kitab Suci sebagai sumber doktrin, menolak peran Magisterium.
• Sola Fide – pembenaran hanya oleh iman, bukan oleh iman yang bekerja melalui kasih.
• Sola Gratia – keselamatan murni oleh rahmat, tanpa partisipasi manusia dalam karya rahmat.
• Solus Christus – keselamatan hanya oleh Kristus, dipahami sering kali tanpa struktur sakramental Gereja.
• Soli Deo Gloria – seluruh karya keselamatan demi kemuliaan Allah.
Kelima prinsip ini menjadi landasan beragam sekte Protestan. Doktrin tersebut membentuk spiritualitas yang menolak otoritas Gereja universal dan membuka pintu bagi penilaian pribadi dalam menafsir Kitab Suci. Tidak mengherankan, dari satu Luther kini lahir ribuan denominasi.
Reformator memang memperingatkan bahaya tafsir pribadi; namun struktur teologinya sendiri—tanpa Magisterium—justru melahirkan mitos “tiap orang bisa jadi Paus bagi dirinya sendiri”.
2. Protestantisme sebagai Bidat dalam Klasifikasi Tradisional Gereja
Konsili Trente (1545–1563) menanggapi ajaran panca sola sebagai penyimpangan serius dari iman apostolik. Secara teologis klasik, Protestantisme masuk dalam kategori bidat, karena:
-
Menyangkal otoritas Gereja sebagai penafsir otentik Kitab Suci.
-
Mengganti soteriologi Katolik yang sakramental dan partisipatif dengan sempel iman saja.
-
Menciptakan pecahan-pecahan gerejawi tanpa garis suksesi apostolik yang valid.
Bidat, dalam tradisi Patristik, berarti pertinacia—keras kepala menolak ajaran yang diwariskan Gereja yang satu. Dalam pengertian itu, para reformator secara sadar memutus diri dari Gereja Latin, dan oleh karenanya dibidatkan.
3. Dari Konsili Trente ke Abad ke-20: Apakah Protestan Itu Masih “Bidat”?
Inilah wilayah yang sering disalahpahami. Gereja Katolik tidak pernah mengatakan bahwa ajaran-ajaran Protestan benar. Namun, Gereja menyadari bahwa kondisi historis dan psikologis umat Protestan masa kini berbeda dari para pemisah abad ke-16.
Kardinal Joseph Ratzinger (kelak Paus Benediktus XVI) menegaskan secara sangat tajam:
“Kategori ‘bidat’ yang dulu dipakai sudah tidak ada nilainya. … Perpecahan lama berubah sifatnya. Mereka yang hidup dalam Protestantisme hari ini tidak dapat dianggap sebagai pelaku pertinacia bidat.”
Akar pemikirannya sederhana dan sehat:
orang Protestan masa kini lahir dalam komunitas itu, tidak berniat melawan Gereja, dan sering hidup dalam iman yang sungguh. Perpecahan itu tetap menyakitkan, tetapi tidak identik dengan dosa kesengajaan pemisahan.
Oleh karena itu, Protestantisme hari ini:
• Tidak disebut lagi “bidat” dalam pengertian moral-spiritual;
• Namun ajaran-ajarannya tetap dinilai keliru, tidak lengkap, atau bertentangan dengan iman apostolik;
• Dan sekaligus, banyak unsur positif—cinta Kitab Suci, devosi pribadi, cinta Yesus—yang disadari Gereja sebagai karunia Roh yang bekerja di luar batas kelihatan.
Di sinilah Gereja mengembangkan oikumene, bukan relativisme.
4. Arah Apologetik Katolik: Tegas, Jujur, dan Terbuka
Sikap apologetik Katolik hari ini menggabungkan tiga hal yang harus berjalan bersamaan:
Pertama: Kesetiaan pada kebenaran historis-dogmatis.
Protestantisme tetap memutus garis apostolik, mengubah struktur sakramental, dan membangun doktrin berdasarkan sola scriptura—sebuah prinsip yang menghancurkan dirinya sendiri.
Kedua: Pengakuan akan karya Roh dalam diri umat Protestan.
Kesalehan pribadi tidak otomatis menjamin kesempurnaan doktrin. Namun rahmat Allah tidak dibatasi oleh skisma yang terjadi berabad-abad lalu.
Ketiga: Dorongan untuk kembali kepada kesatuan Gereja.
Oikumene bukan kompromi dogma, melainkan panggilan menuju “kesatuan yang dikehendaki Kristus”, bukan kesatuan semu yang lahir dari perasaan.
5. Kesimpulan Apologetik
Protestantisme berawal sebagai bidat. Ajarannya tetap tidak sejalan dengan iman Katolik. Namun umat Protestan masa kini bukan bidat secara moral, melainkan saudara terpisah yang mewarisi luka sejarah.
Tugas apologetik bukan mencaci sejarah, tetapi menyembuhkan. Gereja memanggil semua umat terpisah untuk menemukan kembali rumah yang lama: Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik—yang berdiri sebelum Reformasi, bertahan sesudahnya, dan akan tetap berdiri ketika dunia ini padam.
Jejak masa lalu tetap diingat, tetapi masa depan mesti diolah dengan kesetiaan dan keberanian. Dari sinilah dialog yang jujur dapat bertunas menjadi kesatuan.

0 komentar:
Posting Komentar