Kamis, 11 Desember 2025

ROMA DALAM CAHAYA PAULUS Membongkar Mitos "Pembajakan Istilah Katolik Abad ke-11"

 

Ada narasi yang belakangan ini berkeliaran seperti asap tipis yang coba menyelimuti sejarah: bahwa Gereja Roma hanyalah jemaat kecil biasa selama seribu tahun pertama, bahwa istilah Katolik tidak pernah memiliki kaitan khusus dengan Roma, dan bahwa semuanya baru “dibajak” pada abad ke-11 lewat Diktatus Papae.

Kisah ini terdengar dramatis, tetapi drama bukan sejarah.
Dan sejarah bukan benda yang bisa dicetak ulang sesuai emosi teologis.

Artikel ini menelusuri ulang jejak para rasul dan para Bapa Gereja—bukan dengan romantisisme, melainkan dengan ketegasan.
Kita mulai dari satu nama yang tidak dapat diperdebatkan siapa pun: Paulus.


1. Ketika Paulus Menulis ke Roma: Jejak Primasi Sebelum Dokumen Apa Pun Ada

Paulus bukan Paus. Ia bukan konsili. Ia tidak punya kepentingan institusional.
Ia hanya punya satu hal: kejujuran seorang rasul.

Dan kepada gereja mana ia menulis surat terpanjang, terdalam, dan paling matang?
Bukan Korintus, tempat ia tinggal lama.
Bukan Efesus, pusat misinya.
Bukan Antiokia, basis awal gerakan Kristen.

Tetapi Roma.

1.1. “Imanmu diberitakan di seluruh dunia”

Roma 1:8 adalah deklarasi yang tidak pernah diberikan kepada jemaat lain:

“Imanmu diberitakan di seluruh dunia.”

Ini bukan pujian sopan.
Ini pengakuan bahwa Roma sudah menjadi gereja acuan dalam kekristenan abad pertama.

Tidak ada teori abad ke-11 yang dapat menghapus realitas ini.

1.2. Roma sebagai poros misioner

Paulus merencanakan perjalanan besarnya dari Yerusalem → Roma → Spanyol (Roma 15:23–29).
Roma bukan titik singgah; Roma adalah pangkalan apostolik menuju dunia Barat.

Itu bukan “status administratif”—itu strategi misi global.

Roma sudah memainkan peran universal jauh sebelum ada istilah Vatikan, apalagi Diktatus Papae.


2. Para Bapa Gereja Mengamini Apa yang Paulus Lihat

Gereja awal tidak menunggu abad pertengahan untuk mengenal peran Roma.
Kesaksian mereka nyata, keras, dan konsisten.

2.1. Klemens Roma (±96 M) – Gereja Roma Mengadili Gereja Lain

Ketika jemaat Korintus kacau, siapa yang turun tangan?
Bukan Yohanes.
Bukan Antiokia.
Bukan Efesus.

Tetapi Roma.

Dan ia menulis dengan nada otoritas:

“Jika ada yang tidak menaati apa yang dikatakan Allah melalui kami…”
(1 Clement 59–63)

Ini bukan “surat saran”.
Ini intervensi apostolik.

Jika Roma hanyalah gereja biasa, tindakan ini tidak dapat dijelaskan.

2.2. Ignatius dari Antiokia (110 M): Roma “memimpin dalam kasih”

Ignatius menyebut gereja Roma:

“yang memimpin dalam kasih”
(prokathemenē tēs agapēs)

Ungkapan ini dalam konteks gereja kuno berarti posisi kehormatan dan rujukan doktrinal.
Ini dua abad sebelum istilah Katolik menjadi formula liturgis.

2.3. Irenaeus (180 M): Semua Gereja Harus Sepakat dengan Roma

Inilah nuklir sejarah yang sengaja tidak dikutip para polemis:

“Kepada Gereja ini (Roma) haruslah setiap Gereja bersepakat, karena asal-usulnya yang lebih utama.”
(Against Heresies 3.3.2)

Bukan interpretasi Katolik.
Bukan propaganda abad pertengahan.
Ini tulisan seorang Bapa Gereja yang berdebat melawan bidat pada abad ke-2.

Roma adalah standar ortodoksi sejak abad itu.

Bagaimana mungkin Diktatus Papae (1075) dianggap sebagai “tanggal lahir primasi” jika dokumen abad 2 sudah mengatakannya?

2.4. Cyprianus (251 M): Roma adalah Takhta Petrus

Cyprianus menyebut Roma sebagai:

“takhta Petrus, sumber kesatuan gereja.”

Bahkan dalam perselisihan besar tentang baptisan bidat, Cyprianus tidak pernah menggugat posisi unik Roma.

Ini tiga abad sebelum Nicea, delapan abad sebelum skisma Timur–Barat.


3. Lalu Apa Peran Kata “Katolik”?

Argumen populer mengatakan:

“Istilah Katolik hanya berarti universal; Roma membajak kata itu belakangan.”

Benar setengah.
Dan setengah kebenaran sering menjadi pisau kecil yang menyayat integritas sejarah.

Istilah katholikē ekklēsia pada awalnya berarti “universal”.
Tetapi sejak abad ke-2, istilah itu menjadi tanda gereja yang benar, satu, dan apostolik, berbeda dari kelompok bidat.

Perhatikan Cyril dari Yerusalem (abad 4):

“Jika engkau ke kota lain, jangan tanya di mana gereja, tetapi di mana Gereja Katolik.”

Di sini kata “Katolik” bukan konsep netral.
Ini nama khas, identitas komunitas apostolik yang sah.
Dan komunitas itu bersekutu dengan Roma sebagai pusatnya.

Dengan kata lain:
Perkembangan makna terjadi secara organik, seperti bibit yang tumbuh menjadi pohon.

Para Bapa Gereja tidak pernah memisahkan “Katolik” dari jaringan kesatuan yang berporos di Roma.


4. Mengapa Diktatus Papae Tidak Bisa Menjadi “Tanggal Lahir Pembajakan”

Diktatus Papae (1075) bukanlah:

  • deklarasi dogmatis,

  • penciptaan primasi,

  • pengambilalihan istilah Katolik.

Ia hanyalah penyusunan hukum yang merapikan apa yang sudah menjadi praktik dan keyakinan selama seribu tahun.

Seperti EYD 1972 bagi bahasa Indonesia—penertiban, bukan penciptaan.

Justru jika primasi Roma baru “dibuat” pada abad 11, maka tidak dapat dijelaskan:

  • 1 Clement yang mengadili Korintus (96 M)

  • Ignatius yang mengakui kepemimpinan Roma (110 M)

  • Irenaeus yang mewajibkan keselarasan dengan Roma (180 M)

  • Sardika yang memberi hak banding ke Roma (343 M)

  • Agustinus yang berkata “Roma telah berbicara, perkara selesai” (430 M)

Tidak ada fenomena sejarah yang dapat dihapus begitu saja karena teori polemis menghendaki demikian.


5. Sejarah Itu Pohon, Bukan Benda Mati

Kekristenan tidak membeku di tahun 110.
Ia tumbuh.
Dan perkembangan bukan korupsi; ia adalah keunggulan organisme hidup.

Roma memang tidak selalu memiliki bentuk primasi yang sama.
Tetapi inti perannya terlihat sejak Perjanjian Baru—dari Paulus sendiri.

Sebuah gereja:

  • yang imannya tersiar ke seluruh dunia,

  • yang menjadi pangkalan misi apostolik,

  • yang menerima surat teologi terbesar Paulus,

  • yang dianggap referensi kesatuan sejak abad pertama.

Roma bukan “pencuri istilah Katolik.”
Roma adalah tempat istilah itu menemukan pusat gravitasinya.


6. Penutup: Mengembalikan Sejarah ke Tempatnya

Sejarah bukan barang yang disusun ulang agar cocok dengan agenda anti-Katolik.
Sejarah adalah urat kayu tua yang tetap terlihat meskipun dipernis berkali-kali.

Mereka yang menyerang Katolik sering mencoba meratakan pohon itu menjadi tunggul kecil tanpa akar.
Tetapi akar itu terlalu tua—tertanam dalam kata-kata Paulus sendiri.

Roma mungkin telah berubah bentuk.
Tetapi bayangannya sudah menjulang sejak abad pertama.

Menolak primasi Roma adalah satu hal;
menulis ulang sejarah adalah hal lain.

Yang pertama adalah perbedaan teologis.
Yang kedua adalah permainan imajinasi.

Dan permainan itu tidak bertahan lama ketika cahaya sejarah dinyalakan.

0 komentar:

Posting Komentar