Kamis, 11 Desember 2025

Ketika Misteri Dipreteli Menjadi Molekul: Nominalisme dan Runtuhnya Mariologi

Mariologi tidak pernah runtuh tiba-tiba. Ia tidak roboh karena satu ayat, satu konsili, atau satu doktrin. Ia runtuh perlahan, seperti gereja tua yang gentengnya mulai rontok satu per satu setelah fondasi filosofisnya digergaji.

Dan gergaji itu bernama nominalisme.

Banyak orang Protestan modern mengira mariologi runtuh karena “tidak alkitabiah.” Kenyataannya jauh lebih dalam—dan lebih tua. Sejak nominalisme menguasai cara berpikir Barat, seluruh lanskap teologi berubah: misteri tidak lagi dibaca sebagai kenyataan, tetapi sebagai metafora; simbol tidak lagi dipahami sebagai realitas, tetapi sebagai dekorasi; Maria tidak lagi dilihat sebagai Tabut Perjanjian Baru, tetapi hanya sebagai perempuan Yahudi biasa yang kebetulan dipakai Tuhan.

Ini bukan soal ayat.
Ini soal cara memandang dunia.


1. Apa yang dimatikan nominalisme?

Nominalisme menolak universal.
Tidak ada “kekudusan” yang melekat pada realitas.
Tidak ada makna objektif di balik simbol.
Tidak ada bentuk (form) yang mengatur ciptaan.
Yang ada hanyalah nama, kategori, dan benda.

Bagi tradisi Kristiani awal—dan seluruh Gereja sampai abad ke-14—realitas tidak datar.

• Tubuh bukan hanya materi; ada forma.
• Rahim bukan hanya organ; ada makna simbolik.
• Tabut, Pintu Tertutup, Taman Termeterai—semuanya menunjuk ke sesuatu yang benar-benar ada.

Nominalisme memotong seluruh dimensi itu.
Dunia spiritual menjadi bidang kata, bukan bidang realitas.

Dan ketika Anda menembak metafisika, mariologi adalah korban pertama yang jatuh.


2. Mengapa Maria tak mungkin bertahan dalam dunia nominalis?

Karena mariologi berdiri di atas tiga tiang:

  1. Makna simbolik tubuh.
    Maria = Tabut Perjanjian Baru; rahimnya = ruang kudus; tubuhnya = ikon Gereja.

  2. Kesatuan bentuk dan rahmat.
    Dalam teologi patristik, rahmat sungguh mengubah realitas, bukan hanya mendeklarasikannya.

  3. Kosmologi Kristologis.
    Inkarnasi adalah peristiwa kosmik, bukan sekadar peristiwa biologis.

Semua ini hancur ketika:

• tubuh direduksi menjadi fisiologi,
• rahmat direduksi menjadi “status hukum”,
• simbol direduksi menjadi kiasan.

Maria tidak bisa bertahan di dunia yang menolak simbol dan bentuk. Ia kehilangan seluruh medan teologis tempat ia hidup sebagai pribadi teologis, bukan hanya tokoh historis.


3. Mariologi hilang bukan karena Protestan menolak Maria—tetapi karena mereka mewarisi Ockham

Ini bagian yang sering tidak diakui.

Para Reformator awal masih menerima mariologi dasar:
• theotokos,
• keperawanan tetap,
• Maria sebagai model Gereja.

Tetapi universitas tempat mereka belajar—Erfurt, Wittenberg, Paris—sudah dibanjiri nominalisme.

Apa efeknya?

3.1. Sakramentalitas melemah

Jika simbol tidak memiliki realitas, maka rahim Maria tidak lagi tabernakel.
Ekaristi pun perlahan diperlakukan simbolis.
Setiap tindakan ilahi dilihat bukan sebagai transformasi, tetapi deklarasi.

3.2. Tipologi mati

Dalam dunia patristik, Yehezkiel 44:2 bukan syair indah, tetapi struktur teologis:

“Pintu itu tetap tertutup… hanya Tuhan yang masuk, dan tetap tertutup bagi yang lain.”

Nominalisme mengubahnya menjadi metafora yang tidak punya konsekuensi ontologis.

3.3. Rahmat kehilangan dimensi ontologis

Dalam teologi kuno, rahmat mengubah (transformatif).
Dalam nominalisme, rahmat cukup dideklarasikan (forensik).

Jika rahmat tidak mengubah realitas, Maria tidak lagi dipahami sebagai realitas yang diubah oleh Allah menjadi ruang kesucian. Ia hanya dipilih, bukan ditransformasi.


4. Keruntuhan bertahap: dari virginitas sampai peran Maria dalam Gereja

Mariologi runtuh tidak sekaligus. Ada tahapannya.

Tahap 1: runtuhnya simbol rahim

Tanpa metafisika, konsep “perawan melahirkan tanpa rusak” jadi omong kosong biologis.
Padahal Gereja awal tidak memahaminya secara medis, tapi secara teologis:
Inkarnasi tidak mencemari; Ia menyucikan.

Tahap 2: runtuhnya keperawanan tetap

Bukan karena ayat, tapi karena dunia nominalis tidak mengenal konsep “tubuh sebagai tanda.”
Jika tubuh hanyalah materi, maka keperawanan hanyalah selaput dara.
Padahal bagi patristik, itu ikon identitas Maria sebagai ruang kudus Allah.

Tahap 3: runtuhnya gelar Maria

Theotokos masih diterima karena itu menyangkut Yesus.
Tetapi Maria sebagai Ratu Surga, Tabut Perjanjian Baru, Bunda Gereja—semua hilang karena:

• tidak ada realitas ontologis dalam simbol,
• gelar-gelar itu dianggap puisi, bukan metafisika.

Tahap 4: runtuhnya devosi

Kalau Maria bukan realitas teologis, mengapa mendoakannya?
Ia beralih dari “ikon Gereja” menjadi “tokoh sejarah”.


5. Mengapa Gereja Katolik tetap mempertahankan Mariologi?

Karena Katolik mempertahankan metafisika, bukan sekadar tradisi.

Apa bedanya?

Dalam metafisika realis:

• simbol memiliki realitas,
• rahmat mengubah,
• tubuh memuat makna,
• sejarah disinari pola Logos.

Maria bertahan karena ia bukan dekorasi.
Ia bagian dari struktur Kristologi.

Tanpa Maria:

• Inkarnasi kehilangan ruang kosmiknya,
• Gereja kehilangan ikonnya,
• tubuh kehilangan teologinya,
• sakramentalitas kehilangan fondasinya.

Nominalisme tak mampu mempertahankan satu pun dari ini.


6. Kesimpulan: untuk menyelamatkan Maria, kita harus menyelamatkan metafisika

Keruntuhan mariologi bukan masalah devosi.
Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: runtuhnya pandangan dunia sakramental.

Selama teologi berpikir seperti dunia Ockham—
bahwa realitas hanya potongan benda, bukan jaringan makna—
Maria tak pernah mendapat tempat.

Sebab Maria bukan teori. Ia ikon.
Ia hidup dalam dunia di mana simbol lebih dalam dari kata,
dan makna lebih nyata dari nama.

Ketika metafisika dipulihkan, Maria kembali muncul—
bukan sebagai saingan Kristus,
tetapi sebagai ruang tempat Ia masuk ke dunia.

Bagi Gereja kuno, misteri ini bukan fiksi.
Ini struktur kosmos.
Dan selama kosmos masih ditempati oleh Logos,
Maria tidak mungkin hilang.

0 komentar:

Posting Komentar