Masalah sakramen dalam Protestanisme bukan pertama-tama masalah sejarah, apalagi liturgi. Itu hanya gejala. Akar persoalannya jauh lebih dalam: krisis metafisika.
Lebih tepat: ketidakmampuan untuk berpikir secara sakramental tentang realitas.
Tradisi Reformed berbicara seolah-olah sakramen hanyalah “perintah yang harus ditaati”. Bahasa yang dipakai adalah bahasa hukum dan instruksi: Yesus memerintahkan, maka kita lakukan. Titik.
Tetapi di sini, realitas direduksi menjadi perintah, dan rahmat direduksi menjadi pengingat psikologis.
Dalam metafisika klasik—yang dihidupi Gereja sejak para Bapa hingga Thomas Aquinas—sakramen bukan sekadar “tindakan simbolik”, melainkan modus kehadiran rahmat dalam tatanan keberadaan. Sakramen adalah tanda yang menyebabkan apa yang ditandainya (signum efficax). Artinya: rahmat bukan sekadar dikenang, tetapi diaktualkan dalam realitas materi.
Di sinilah benturan terjadi.
1. Nominalisme: Akar Tak Terucap dari Dua Sakramen
Protestan jarang menyebutnya, tetapi teologi sakramen mereka berdiri di atas tanah nominalisme: pandangan bahwa makna tidak melekat secara objektif dalam realitas, melainkan diberikan oleh kehendak atau penetapan eksternal.
Jika tanda tidak memiliki daya ontologis, maka:
air baptisan tidak sungguh-sungguh membersihkan,
roti dan anggur tidak sungguh-sungguh menghadirkan,
penumpangan tangan tidak sungguh-sungguh mengubah status ontologis seseorang.
Yang tersisa hanyalah ketaatan formal dan keyakinan subjektif.
Dalam kerangka ini, sakramen hanya mungkin dua, karena hanya dua yang secara eksplisit diperintahkan Yesus. Bukan karena realitas membatasinya, tetapi karena teologi tidak sanggup melihat rahmat bekerja di luar instruksi verbal langsung.
Ini bukan kesetiaan pada Alkitab. Ini ketakutan metafisik terhadap materi.
2. Sakramentalitas Realitas: Dunia Tidak Netral
Gereja Katolik—bersama tradisi patristik dan skolastik—memulai dari asumsi metafisik yang berlawanan:
realitas diciptakan sebagai partisipasi dalam kebaikan Allah.
Materi bukan penghalang rahmat, melainkan medium rahmat.
Tubuh bukan beban, melainkan tempat keselamatan bekerja.
Tindakan lahiriah bukan aksesori, melainkan ekspresi kausal dari rahmat ilahi.
Dari sini, sakramen bukan “daftar perintah”, tetapi struktur ontologis Gereja sebagai Tubuh Kristus.
Maka tidak mengherankan jika:
perkawinan dipahami sebagai sakramen: karena cinta manusiawi sungguh mengambil bagian dalam misteri Kristus–Gereja;
tahbisan dipahami sebagai sakramen: karena otoritas gerejawi bukan delegasi administratif, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus;
pengakuan dosa dipahami sebagai sakramen: karena rekonsiliasi bukan sekadar perubahan status hukum, tetapi pemulihan relasi ontologis dengan Tubuh Kristus.
Protestan menolak ini bukan karena ayatnya kurang, tetapi karena kerangka metafisiknya tidak mampu menampungnya.
Gereja Katolik—bersama tradisi patristik dan skolastik—memulai dari asumsi metafisik yang berlawanan:
realitas diciptakan sebagai partisipasi dalam kebaikan Allah.
Materi bukan penghalang rahmat, melainkan medium rahmat.
Tubuh bukan beban, melainkan tempat keselamatan bekerja.
Tindakan lahiriah bukan aksesori, melainkan ekspresi kausal dari rahmat ilahi.
Dari sini, sakramen bukan “daftar perintah”, tetapi struktur ontologis Gereja sebagai Tubuh Kristus.
Maka tidak mengherankan jika:
perkawinan dipahami sebagai sakramen: karena cinta manusiawi sungguh mengambil bagian dalam misteri Kristus–Gereja;
tahbisan dipahami sebagai sakramen: karena otoritas gerejawi bukan delegasi administratif, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus;
pengakuan dosa dipahami sebagai sakramen: karena rekonsiliasi bukan sekadar perubahan status hukum, tetapi pemulihan relasi ontologis dengan Tubuh Kristus.
Protestan menolak ini bukan karena ayatnya kurang, tetapi karena kerangka metafisiknya tidak mampu menampungnya.
3. Perintah vs Partisipasi: Kesalahan Kategori
Ketika Protestan berkata, “Yesus hanya memerintahkan dua,” mereka tanpa sadar melakukan kesalahan kategori metafisik.
Kristus tidak datang terutama sebagai legislator yang membagikan daftar ritual. Ia datang sebagai Logos yang menjadi daging, yang mengubah cara realitas bekerja.
Inkarnasi bukan pengumuman hukum, melainkan peristiwa ontologis.
Dalam terang Inkarnasi:
penumpangan tangan bukan sekadar simbol, tetapi transmisi misi;
pengurapan bukan sekadar doa, tetapi tindakan penyembuhan ontologis;
cuci kaki bukan sekadar teladan moral, tetapi tanda partisipasi dalam persekutuan Kristus.
Membatasi sakramen pada “yang diperintahkan secara eksplisit” berarti memperlakukan Kristus seperti Musa baru yang hanya memberi hukum, bukan sebagai Tuhan yang mengonfigurasi realitas.
Ketika Protestan berkata, “Yesus hanya memerintahkan dua,” mereka tanpa sadar melakukan kesalahan kategori metafisik.
Kristus tidak datang terutama sebagai legislator yang membagikan daftar ritual. Ia datang sebagai Logos yang menjadi daging, yang mengubah cara realitas bekerja.
Inkarnasi bukan pengumuman hukum, melainkan peristiwa ontologis.
Dalam terang Inkarnasi:
penumpangan tangan bukan sekadar simbol, tetapi transmisi misi;
pengurapan bukan sekadar doa, tetapi tindakan penyembuhan ontologis;
cuci kaki bukan sekadar teladan moral, tetapi tanda partisipasi dalam persekutuan Kristus.
Membatasi sakramen pada “yang diperintahkan secara eksplisit” berarti memperlakukan Kristus seperti Musa baru yang hanya memberi hukum, bukan sebagai Tuhan yang mengonfigurasi realitas.
4. Gereja sebagai Tubuh atau Sekadar Perkumpulan?
Di balik penolakan terhadap tujuh sakramen, ada pertanyaan metafisik yang lebih tajam:
apa itu Gereja?
Jika Gereja hanyalah perkumpulan orang percaya, maka:
rahmat bersifat individual,
otoritas bersifat fungsional,
sakramen hanyalah simbol kesepakatan.
Tetapi jika Gereja adalah Tubuh Kristus yang sungguh-sungguh, maka:
rahmat mengalir melalui struktur tubuh,
tindakan Gereja memiliki daya ontologis,
sakramen adalah “organ-organ” kehidupan ilahi.
Di balik penolakan terhadap tujuh sakramen, ada pertanyaan metafisik yang lebih tajam:
apa itu Gereja?
Jika Gereja hanyalah perkumpulan orang percaya, maka:
rahmat bersifat individual,
otoritas bersifat fungsional,
sakramen hanyalah simbol kesepakatan.
Tetapi jika Gereja adalah Tubuh Kristus yang sungguh-sungguh, maka:
rahmat mengalir melalui struktur tubuh,
tindakan Gereja memiliki daya ontologis,
sakramen adalah “organ-organ” kehidupan ilahi.
Protestan ingin mempertahankan bahasa Tubuh Kristus, tetapi menolak implikasi ontologisnya. Ini seperti menyebut tubuh hidup, tetapi menolak aliran darah.
5. Mengapa Sola Scriptura Gagal Menjawab Pertanyaan Sakramen
Masalah sakramen tidak bisa diselesaikan hanya dengan kutip-mengutip ayat, karena sakramen adalah soal bagaimana rahmat hadir dalam realitas, bukan sekadar apa yang tertulis.
Sola Scriptura gagal di sini karena:
ia menolak Tradisi sebagai locus realitas,
ia memisahkan teks dari komunitas ontologis Gereja,
ia mengganti metafisika partisipasi dengan epistemologi kepastian pribadi.
Akibatnya, sakramen menyusut, Gereja menipis, dan rahmat menguap menjadi keyakinan batin.
Penutup: Angin Timor dan Realitas yang Tidak Bisa Disederhanakan
Di tanah Timor, orang tahu: batu, air, minyak, sentuhan tangan—semuanya membawa makna yang lebih dari sekadar fungsi. Dunia tidak bisu. Ia berbicara.
Teologi Katolik tidak “menambah” sakramen. Ia menolak mereduksi realitas.
Ia bersikeras bahwa Allah bekerja bukan hanya lewat kata, tetapi lewat keberadaan.
Sola Scriptura, ketika dilepaskan dari metafisika inkarnasional, berakhir pada iman yang tipis: benar secara slogan, rapuh secara ontologis.
Dan di hadapan realitas—seperti di hadapan angin Timor—
yang tipis selalu tersingkir.
Masalah sakramen tidak bisa diselesaikan hanya dengan kutip-mengutip ayat, karena sakramen adalah soal bagaimana rahmat hadir dalam realitas, bukan sekadar apa yang tertulis.
Sola Scriptura gagal di sini karena:
ia menolak Tradisi sebagai locus realitas,
ia memisahkan teks dari komunitas ontologis Gereja,
ia mengganti metafisika partisipasi dengan epistemologi kepastian pribadi.
Akibatnya, sakramen menyusut, Gereja menipis, dan rahmat menguap menjadi keyakinan batin.
Penutup: Angin Timor dan Realitas yang Tidak Bisa Disederhanakan
Di tanah Timor, orang tahu: batu, air, minyak, sentuhan tangan—semuanya membawa makna yang lebih dari sekadar fungsi. Dunia tidak bisu. Ia berbicara.
Teologi Katolik tidak “menambah” sakramen. Ia menolak mereduksi realitas.
Ia bersikeras bahwa Allah bekerja bukan hanya lewat kata, tetapi lewat keberadaan.
Sola Scriptura, ketika dilepaskan dari metafisika inkarnasional, berakhir pada iman yang tipis: benar secara slogan, rapuh secara ontologis.
Dan di hadapan realitas—seperti di hadapan angin Timor—
yang tipis selalu tersingkir.

0 komentar:
Posting Komentar