Catatan populer tentang beberapa “cerita besar” Reformasi yang sering diulang, dan mengapa perlu dicek ulang
Ada dua cara orang memperlakukan sejarah Gereja: sebagai arsip atau sebagai amunisi. Yang pertama mengajak kita membaca, menimbang, lalu diam sejenak. Yang kedua mengajak kita memilih kubu, lalu berteriak.
Tulisan ini memilih cara pertama. Bukan untuk membela siapa pun dengan emosi, tetapi untuk menata ulang beberapa narasi yang sejak abad ke-16 sering dipakai dalam polemik Protestan–Katolik. Biarkan pembaca menilai.
1) “Gereja melarang Alkitab” — sering diulang, jarang dibuktikan
Ini salah satu slogan favorit pamflet. Faktanya, sepanjang sejarah memang ada pembatasan tertentu di beberapa tempat (misalnya soal edisi yang buruk, terjemahan liar, atau penggunaan tanpa bimbingan), tetapi itu berbeda dari klaim bahwa “Gereja melarang Alkitab”.
Bahkan sebelum Reformasi, ada dorongan agar umat membaca Kitab Suci dengan hormat dan bimbingan. Yang sering terjadi dalam polemik: sebuah teks satir anti-papalisme atau tulisan provokatif diangkat seolah dokumen resmi Gereja. Dari situ lahirlah legenda yang lebih kuat daripada dokumen.
Pelajaran praktis: kalau ada “dokumen Vatikan” yang bunyinya terlalu kartun—biasanya memang kartun.
2) “Gereja menambah tujuh kitab di Trente” — lebih tepat: Protestan yang mengurangi
Konsili Trente (abad ke-16) tidak “menambahkan” kitab seenaknya. Ia menegaskan kanon yang sudah dipakai luas dalam Gereja Barat sejak abad-abad awal, sejalan dengan tradisi patristik (misalnya Agustinus dan keputusan sinode-sinode kuno).
Yang jarang disadari: Alkitab pra-Reformasi (termasuk edisi besar seperti Alkitab Gutenberg) memuat kitab-kitab yang kemudian disebut “deuterokanonika”. Bahkan banyak Alkitab Protestan awal masih mencantumkannya—yang kemudian makin lama makin disisihkan, sampai akhirnya hilang dari banyak edisi populer.
Pelajaran praktis: pertanyaan yang lebih jujur bukan “siapa menambah?”, melainkan “sejak kapan hilang dari sebagian edisi?”
3) “Indulgensi = jual tiket surga” — penyalahgunaan ada, tapi doktrin karikatur
Sejarah mencatat adanya oknum pengkhotbah indulgensi yang berlebihan dan memalukan. Itu nyata. Tetapi doktrin resmi Gereja tidak mengajarkan “dosa bisa dibeli” tanpa pertobatan. Bahkan dalam kontroversi awal, ada indikasi bahwa sebagian tuduhan populer adalah pembesaran, bukan laporan rapi.
Di titik ini, dua hal bisa benar sekaligus:
-
ada praktik yang kacau di lapangan,
-
dan ada propaganda yang mengubah kekacauan lokal menjadi “ajaran Gereja”.
Pelajaran praktis: skandal nyata tidak otomatis membenarkan ringkasan teologis yang palsu.
4) “Luther memaku 95 tesis” — mungkin, tapi tidak setegas poster peringatan
Kisah “pemakuan 95 tesis di pintu gereja” sangat sinematik. Masalahnya: bukti dokumenter sezaman tidak setegas mitosnya. Cerita itu dipopulerkan kuat setelah Luther wafat, terutama lewat narasi pihak dekatnya.
Yang lebih aman secara historis: Luther memang mengajukan tesis untuk debat akademik. Apakah itu benar-benar dipaku di pintu? Mungkin saja. Tetapi kalau kepastian historisnya samar, menjadikannya “tanggal lahir Protestanisme” adalah langkah ideologis, bukan kesimpulan arsip.
Pelajaran praktis: sejarah kadang membosankan—dan justru di situlah ia jujur.
5) “Ini hanya simbol” — perpecahan besar soal Ekaristi juga menyentuh urusan terjemahan
Kontroversi Ekaristi bukan hanya soal rasa religius; itu soal makna kata. Ada kisah tentang penerjemahan “ini adalah Tubuh-Ku” menjadi “ini melambangkan Tubuh-Ku” dalam beberapa edisi awal yang dipakai di wilayah Reformasi tertentu. Yang menarik: bahkan tokoh Reformasi lain (seperti Luther) mengecam keras perubahan itu.
Lalu terjadi hal yang khas dalam sejarah: sekali sebuah ide menyebar dan mengakar, koreksi teks pun tidak otomatis memulihkan keyakinan lama. Bekas pisau pada kayu tetap ada.
Pelajaran praktis: perdebatan teologi sering berawal dari detail kecil—kata “adalah” bisa memisahkan dunia.
6) “Gereja musuh sains” — narasi yang lahir dari banyak lapisan, bukan satu kejadian
Kisah Copernicus sering dijadikan panggung: “lihat, Gereja anti-ilmu.” Padahal penerbitan karya Copernicus sendiri punya cerita editorial yang rumit, dan sikap berbagai pihak (Katolik maupun Protestan) tidak seragam.
Yang sering hilang: abad-abad itu dipenuhi ketegangan antara penemuan ilmiah, tafsir Kitab Suci, dan politik institusi. Menyederhanakan semuanya menjadi “Gereja vs sains” adalah gaya pamflet, bukan gaya sejarah.
Pelajaran praktis: kalau sebuah narasi terlalu rapi, biasanya ia hasil editor ideologis.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?
Yang terjadi adalah hal manusiawi: ketika konflik besar meletus, pihak-pihak yang bertarung tidak hanya berdebat teologi—mereka juga membangun cerita. Sebagian cerita lahir dari fakta, sebagian lahir dari pembesaran, sebagian dari fitnah, sebagian dari kesalahpahaman yang dibiarkan karena “berguna”.
Kita tidak perlu memutihkan masa lalu siapa pun. Tetapi kita juga tidak perlu menelan legenda hanya karena sudah diulang 500 tahun.
Sejarah, kalau dibaca dengan sabar, mirip liturgi: ia menuntut disiplin, bukan adrenalin. Dan pada akhirnya, kebenaran tidak butuh volume suara. Ia butuh arsip, akal sehat, dan hati yang tidak takut diperiksa.

0 komentar:
Posting Komentar