Teks Yunani Lukas 1:28 berbunyi:
χαῖρε, κεχαριτωμένη, ὁ Κύριος μετὰ σοῦ
(Chaire, kecharitōmenē, ho Kyrios meta sou)
Biasanya diterjemahkan:
“Hail, full of grace, the Lord is with you.”
Terjemahan ini baik, tetapi secara teknis belum sepenuhnya menampung kekayaan makna gramatikal Yunani.
Mari kita bedah secara presisi.
1. Analisis Kosakata Yunani
-
χαῖρε (chaire)
Imperatif dari chairo: bersukacitalah, rejoicelah, salam hormat. Lebih dari sekadar “halo”. -
χάρις (charis)
Akar kata: rahmat, anugerah ilahi, pemberian Allah yang efektif. -
χαριτόω (charitoō)
Kata kerja kausatif: menjadikan seseorang berada dalam keadaan rahmat. Bukan sekadar “menerima simpati”, tetapi diubah statusnya oleh anugerah. -
κε-
Penanda perfect tense dalam Yunani: tindakan yang telah selesai di masa lampau dan hasilnya masih berlaku sekarang. -
-μένη (-menē)
Akhiran participle pasif feminin: subjek menerima tindakan dari pihak lain.
Gabungan ini menghasilkan satu bentuk yang sangat spesifik:
κεχαριτωμένη (kecharitōmenē)
= dia yang telah dibuat berada dalam keadaan rahmat secara sempurna dan tetap berada di dalamnya.
Pelakunya bukan Maria.
Pelakunya adalah Allah sendiri.
Maka secara literal, sapaan malaikat berarti:
“Salam, engkau yang telah dan tetap berada dalam keadaan rahmat ilahi yang sempurna.”
Terjemahan Katolik “full of grace” tidak salah—tetapi justru terlalu sederhana dibandingkan makna gramatikal aslinya.
2. Kesaksian Terjemahan Awal Alkitab (Pra-Reformasi & Reformasi)
Terjemahan Inggris paling awal tidak merasa perlu “melunakkan” makna ini:
-
Wycliffe Bible (1380/1395):
“Heile, ful of grace.” -
Tyndale Bible (1534):
“Hayle full of grace.”
Menariknya, terjemahan “highly favoured” baru menjadi populer belakangan, terutama dalam tradisi Protestan modern—bukan karena tuntutan teks Yunani, melainkan karena kehati-hatian teologis.
3. Komentar Protestan tentang kecharitōmenē
Komentar Protestan berikut mengakui fakta linguistik penting:
“Highly favored” renders kecharitomene (from charitoo)… Mary is ‘highly favored’ because she is the recipient of God’s grace.”
(Leifeld & Pao, Expositor’s Bible Commentary)
Komentar ini dengan jujur mengakui:
-
charitoō = tindakan Allah
-
Maria = penerima rahmat
-
paralel dengan Efesus 1:6
Namun kemudian ditarik ke arah minimalis:
Rahmat ini sama dengan rahmat yang diterima semua orang percaya, tanpa implikasi khusus pada kondisi batin Maria.
Masalahnya: gramatika tidak mendukung reduksi ini.
4. Perbandingan dengan Efesus 1:4–6
Efesus 1:6 memakai kata kerja yang sama (ἐχαρίτωσεν – echaritōsen), tetapi:
-
Bentuk aorist, bukan perfect
-
Konteks: proses keselamatan yang menuju kekudusan
-
Tujuan: “supaya kita kudus dan tak bercela”
Sedangkan pada Maria:
-
Perfect passive participle
-
Keadaan sudah tuntas, bukan sedang berlangsung
-
Status, bukan sekadar janji masa depan
Dengan kata lain:
Apa yang Efesus katakan akan dikerjakan Allah dalam diri umat-Nya, Lukas menyatakan telah dikerjakan Allah dalam diri Maria.
Bukan karena jasa Maria,
melainkan karena panggilan uniknya.
5. Makna Teologis dari Bentuk Perfect Passive
Bentuk κεχαριτωμένη menyatakan:
-
Tindakan terjadi di masa lampau
Bukan dimulai saat malaikat berbicara. -
Keadaan itu berlanjut hingga saat ini
Maria sedang berada dalam kondisi tersebut ketika disapa. -
Tindakan itu berasal dari Allah
Maria tidak “mencapai” rahmat; ia dibentuk oleh rahmat.
Maka ketika malaikat berkata:
“Salam, κεχαριτωμένη”
Artinya:
“Apa yang akan kusampaikan kepadamu tidak memulai rahmat ini. Aku hanya menyingkapkan apa yang Allah telah kerjakan dalam dirimu.”
Rahmat itu mencakup:
-
Pemilihan sebagai Bunda Sang Putra
-
Pemurnian batin yang sesuai dengan panggilan itu
Bejana untuk Allah tidak dipinjam dalam keadaan rusak.
6. Nama, Identitas, dan Tradisi Biblis
Sebagaimana dijelaskan dalam refleksi Katolik:
Dalam budaya Ibrani, nama bukan label sementara, melainkan penyingkap identitas dan panggilan permanen.
-
Abram → Abraham
-
Sarai → Sarah
-
Yakub → Israel
Dalam Lukas 1:28, malaikat tidak menyebut “Maria”, melainkan menggantinya dengan:
κεχαριτωμένη
Ini bukan sapaan biasa.
Ini penyingkapan identitas.
St. Lukas dengan sadar memakai perfect passive participle sebagai “nama teologis” Maria.
Kesimpulan Jernih
-
κεχαριτωμένη bukan sekadar “disukai”
-
Bukan pula rahmat generik yang netral
-
Melainkan keadaan rahmat yang telah disempurnakan oleh Allah dan tetap berlaku
Apa yang akan Allah kerjakan secara penuh dalam umat-Nya pada akhir zaman,
Ia kerjakan lebih dahulu dalam Maria,
karena rahmat unik itu menyertai panggilan unik:
mengandung Sang Kudus itu sendiri.
Bukan romantika Katolik.
Bukan spekulasi devosional.
Ini tata bahasa Yunani Perjanjian Baru—dibaca apa adanya, tanpa rasa takut pada konsekuensi teologisnya.

0 komentar:
Posting Komentar