Ada satu ironi yang menarik: sebuah film seperti Pesta Babi dapat membuat orang marah karena dianggap propagandis, tetapi pola propagandanya justru sangat mirip dengan cara klasik Protestantisme menyerang Gereja Katolik. Bedanya hanya panggung dan kostumnya. Yang satu memakai hutan, tanah adat, proyek negara, aparat, dan pengusaha. Yang satu lagi memakai indulgensi, paus, imam korup, Tradisi, Maria, dan Roma. Tetapi mekanismenya hampir sama: ambil luka nyata, perbesar dengan cahaya dramatik, susun musuh simbolik, lalu umumkan kepada publik bahwa keseluruhan sistem sudah busuk dari akar sampai pucuk.
Di situ propaganda mulai bekerja.
Propaganda tidak harus dimulai dengan dusta. Justru propaganda paling berbahaya sering dimulai dari kebenaran. Ada tanah adat yang terancam. Ada hutan yang rusak. Ada proyek yang arogan. Ada masyarakat lokal yang tidak didengar. Itu benar. Tetapi dari sana, film advokasi bisa melompat: semua pembangunan adalah kolonialisme, semua pemerintah adalah mesin represi, semua pengusaha adalah kerakusan berjalan, semua aparat adalah wajah kekerasan. Luka nyata dijadikan kunci tunggal untuk membaca seluruh kenyataan.
Protestantisme klasik juga begitu. Ada korupsi dalam Gereja. Ada penyalahgunaan indulgensi. Ada imam berdosa. Ada pejabat Gereja yang haus kuasa. Ada skandal moral dan politik. Itu benar. Gereja Katolik yang jujur tidak perlu pura-pura suci seperti museum malaikat. Tetapi dari luka itu, Reformasi melompat: maka Gereja Katolik palsu, kepausan antikristus, Tradisi hanyalah adat manusia, sakramen adalah ritual kosong, Maria menjadi berhala, dan Roma adalah Babel.
Nah, di situlah pesta dimulai. Bukan pesta babi lagi, tetapi pesta generalisasi.
Masalahnya bukan bahwa Protestantisme melihat luka. Masalahnya adalah ia menjadikan luka sebagai hakikat. Ia melihat borok pada tubuh, lalu menyimpulkan tubuh itu bukan tubuh. Ia melihat asap di dapur, lalu membakar rumah. Ia melihat Yudas di antara para rasul, lalu curiga bahwa Kristus salah mendirikan Gereja. Ini bukan kedalaman teologis. Ini histeria moral yang diberi ayat.
Film propagandis bekerja dengan kamera. Protestantisme polemis bekerja dengan tafsir. Kamera memilih sudut, memotong adegan, memberi musik, memperbesar air mata, menampilkan alat berat, lalu membuat penonton merasa bahwa ia sudah memahami seluruh konflik. Tafsir polemis juga begitu: pilih ayat, potong sejarah, beri narasi “kembali ke Injil”, tampilkan paus buruk, imam korup, indulgensi rusak, patung Maria, lalu penonton merasa bahwa ia sudah memahami dua ribu tahun Gereja.
Sederhana sekali. Terlalu sederhana untuk disebut kebenaran.
Dalam film seperti Pesta Babi, pemerintah dan pengusaha bisa menjadi korban simbolik. Mereka mungkin memang punya tanggung jawab besar. Mereka bisa salah, arogan, bahkan terlibat dalam kebijakan yang melukai masyarakat adat. Tetapi film propagandis sering tidak memberi mereka wajah. Mereka tidak tampil sebagai pribadi, lembaga, atau aktor yang kompleks. Mereka tampil sebagai kode: negara sama dengan represi, pengusaha sama dengan keserakahan, pembangunan sama dengan dosa struktural.
Dalam Protestantisme, Katolik juga menjadi korban simbolik. Gereja tidak lagi dilihat sebagai tubuh historis yang kompleks: para rasul, para martir, para Bapa Gereja, biara-biara, universitas, rumah sakit, konsili, liturgi, seni, pengakuan dosa, Ekaristi, devosi, reformasi internal, para santo-santa, juga dosa-dosa para anggotanya. Tidak. Semua itu terlalu rumit untuk pamflet. Maka Katolik dipadatkan menjadi “Roma”. Dan “Roma” dipadatkan lagi menjadi Babel, kuasa, tradisi manusia, penyembahan Maria, dan penindasan Alkitab.
Itu bukan Katolik. Itu boneka jerami berjubah merah.
Protestantisme butuh “Roma yang jahat” agar dirinya tampak sebagai “Injil yang dibebaskan”. Sama seperti film advokasi membutuhkan negara dan pengusaha sebagai wajah gelap agar masyarakat adat tampil sebagai korban murni. Dalam kedua kasus, musuh harus dibuat cukup buruk supaya narasi pembebasan tampak cukup indah. Kalau Roma diberi wajah terlalu kompleks, propaganda Reformasi terganggu. Kalau pemerintah dan pengusaha diberi wajah terlalu manusiawi, drama film advokasi ikut melemah.
Propaganda selalu alergi terhadap kompleksitas. Ia butuh dunia yang rapi: korban di sini, monster di sana; terang di sini, gelap di sana; Injil di sini, Roma di sana; adat di sini, negara di sana. Padahal realitas tidak pernah setaat itu kepada slogan.
Protestantisme klasik sering berkata: “Kami hanya kembali kepada Alkitab.” Kalimat itu terdengar bersih, segar, hampir seperti embun pagi di atas bukit Wittenberg. Tetapi ketika dibuka pelan-pelan, sering kali “kembali kepada Alkitab” berarti kembali kepada Alkitab yang sudah dibaca melalui kecurigaan anti-Katolik. Kitab Suci dijadikan bendera pembebasan, tetapi yang menentukan maknanya adalah tafsir privat atau konfesi komunitas masing-masing. Maka lahirlah ribuan gereja, ribuan tafsir, ribuan “kebenaran final” yang saling mengoreksi sambil sama-sama mengaku dituntun Roh Kudus.
Ini lucu, kalau tidak tragis.
Mereka menolak Magisterium karena dianggap terlalu manusiawi, lalu menggantinya dengan magisterium pribadi yang lebih manusiawi lagi. Mereka menolak Tradisi karena takut tambahan manusia, tetapi menerima tradisi tafsir denominasi sendiri tanpa sadar. Mereka menolak paus karena takut satu orang punya otoritas, lalu setiap pendeta kecil menjadi paus mini di mimbar masing-masing. Bedanya, paus Katolik punya sejarah apostolik; paus mini punya channel YouTube dan keberanian memotong ayat.
Protestantisme modern lebih jenaka lagi. Kalau Luther dan Calvin masih bisa diajak bertarung dengan bahasa teologi serius, banyak polemikus modern hanya datang membawa potongan ayat, meme, reels, dan wajah yakin. Mereka mewarisi kemarahan Reformasi, tetapi tidak selalu mewarisi kedalaman intelektualnya. Yang tersisa adalah slogan cepat: “Katolik menyembah Maria”, “paus menggantikan Kristus”, “Tradisi menelan Firman”, “indulgensi menjual dosa”, “patung itu berhala”, “Ekaristi itu simbol saja”.
Ini bukan Reformasi. Ini konten.
Di sinilah pola Pesta Babi dan Protestantisme modern bertemu dalam dunia layar. Keduanya mengerti bahwa di zaman digital, orang tidak terutama mencari kebenaran; orang mencari intensitas. Yang cepat menang atas yang dalam. Yang emosional menang atas yang sabar. Yang viral menang atas yang benar. Satu adegan aparat cukup untuk menyalakan kemarahan terhadap negara. Satu kisah indulgensi cukup untuk membangun kebencian terhadap Katolik. Satu gambar umat berlutut di depan patung cukup untuk berteriak “berhala!” tanpa mengerti beda penghormatan dan penyembahan.
Melihat dianggap mengetahui. Bereaksi dianggap berpikir. Membagikan dianggap bersaksi. Marah dianggap suci.
Ketika nobar Pesta Babi dibubarkan, muncullah pertanyaan: “Kalau hanya film, mengapa reaksinya sebesar ini?” Pertanyaan itu kuat secara retoris. Tetapi jangan terlalu cepat mabuk. Pembubaran memang bisa menunjukkan bahwa film itu mengganggu kekuasaan. Tetapi pembubaran tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh isi film benar. Ia hanya menunjukkan bahwa film itu dipersepsi sebagai ancaman simbolik.
Hal yang sama terjadi dalam narasi Protestantisme. “Kalau Reformasi salah, mengapa Roma bereaksi keras?” Pertanyaan ini sering dipakai seolah-olah reaksi Katolik terhadap Reformasi membuktikan kebenaran Reformasi. Tidak juga. Reaksi keras hanya membuktikan bahwa Reformasi dianggap mengancam kesatuan iman, otoritas gerejawi, dan tatanan sosial-politik. Ada kritik Reformasi yang benar. Ada pula lompatan Reformasi yang salah. Ada dosa Gereja yang nyata. Ada pula propaganda anti-Katolik yang tidak kalah nyata.
Tentu, Gereja juga sering salah strategi. Ketika kritik dibalas dengan pemadaman, propaganda lawan mendapat bahan bakar. Ketika film dibubarkan, film itu memperoleh aura martir. Ketika Reformasi ditekan dengan kekuasaan kasar, Reformasi memperoleh aura “kebenaran yang dibungkam”. Kekuasaan sering lupa satu hal sederhana: larangan tidak selalu membunuh narasi; kadang ia membaptis narasi itu menjadi martir.
Namun martirisme simbolik bukan sertifikat kebenaran. Sesuatu yang dibungkam belum tentu benar. Sesuatu yang dilarang belum tentu suci. Sesuatu yang ditolak keras belum tentu Injil murni. Kadang yang dibungkam memang benar. Kadang yang dibungkam hanya separuh benar tetapi sangat efektif secara propaganda. Dan separuh benar sering lebih berbahaya daripada dusta utuh, karena ia memakai kaki kebenaran untuk berjalan menuju kesimpulan palsu.
Di sinilah Protestantisme klasik sering berdiri: separuh benar dalam diagnosis, salah dalam ontologi. Benar bahwa Gereja perlu reformasi. Salah bahwa reformasi berarti memutus diri dari Gereja. Benar bahwa ada penyalahgunaan indulgensi. Salah bahwa doktrin indulgensi otomatis palsu. Benar bahwa imam dan paus bisa berdosa. Salah bahwa dosa mereka membatalkan imamat dan kepausan. Benar bahwa Firman Allah harus dihormati. Salah bahwa Firman harus diceraikan dari Tradisi apostolik dan Magisterium yang menjaga pembacaannya.
Ini seperti orang melihat dokter korup, lalu membubarkan ilmu kedokteran. Melihat polisi menyalahgunakan wewenang, lalu membatalkan hukum. Melihat ayah rumah tangga gagal, lalu menyimpulkan keluarga tidak perlu ayah. Logikanya gagah di poster, tetapi keropos di fondasi.
Protestantisme juga sering jatuh ke dalam simulasi anti-Katolik. Yang diserang bukan Katolik yang nyata, tetapi Katolik versi mimpi buruk Protestan. Maria bukan lagi Bunda Tuhan dalam misteri Inkarnasi, melainkan “dewi pengganti Kristus”. Ekaristi bukan lagi partisipasi dalam korban Kristus, melainkan “kanibalisme rohani”. Paus bukan lagi pelayan kesatuan, melainkan “raja gelap Roma”. Tradisi bukan lagi hidup Gereja yang meneruskan iman apostolik, melainkan “tambahan manusia”. Umat Katolik bukan lagi saudara seiman, melainkan “orang yang tertipu sistem”.
Ini bukan kritik. Ini karikatur yang dikhotbahkan.
Dan karikatur memang selalu lebih mudah dijual daripada kebenaran. Kebenaran harus membaca sejarah, membedakan istilah, memahami konteks, menguji doktrin, mengikuti perkembangan, melihat kontinuitas. Karikatur hanya perlu satu kalimat: “Katolik menyembah Maria.” Selesai. Umat tepuk tangan. Pendeta tersenyum. Kolom komentar terbakar. Algoritma bekerja. Injil katanya dibela, tetapi yang terjadi hanya pasar emosi religius.
Ada satu hal yang perlu dikatakan keras: Protestantisme modern sering menjadikan anti-Katolik sebagai identitas spiritual murah. Seseorang merasa lebih Injili bukan karena lebih kudus, lebih rendah hati, lebih mengasihi, lebih mendalami Kitab Suci dalam kesatuan Gereja, tetapi karena lebih keras menyerang Katolik. Semakin sinis kepada Maria, semakin terasa Kristosentris. Semakin menghina paus, semakin terasa merdeka. Semakin mencurigai sakramen, semakin terasa rohani. Semakin menolak Tradisi, semakin merasa murni.
Padahal kemurnian yang dibangun dari kebencian terhadap tubuh historis Gereja bukanlah kemurnian Injil. Itu hanya kebersihan imajiner seorang anak yang lari dari rumah lalu mengaku menemukan keluarga sejati di jalan.
Di sini personalisme menjadi penting. Jangan membela manusia dengan menghilangkan wajah manusia lain. Jangan membela masyarakat adat dengan membuat pemerintah dan pengusaha menjadi monster kartun. Jangan membela Injil dengan membuat Gereja Katolik menjadi Babel kartun. Jangan membela Kristus dengan menghina ibu-Nya, tubuh-Nya, sakramen-Nya, dan sejarah Gereja-Nya.
Kritik yang benar memanggil pribadi kepada pertanggungjawaban. Propaganda mengubah pribadi menjadi simbol. Kritik bertanya: apa yang salah, siapa bertanggung jawab, bagaimana memperbaiki, apa dasar doktrinalnya, apa bukti historisnya? Propaganda berkata: lihat, mereka jahat. Kritik menuntut reformasi. Propaganda menuntut pembatalan. Kritik masih percaya bahwa yang sakit dapat disembuhkan. Propaganda lebih suka mengumumkan kematian.
Maka Gereja Katolik tidak perlu takut mengakui dosanya. Justru Gereja yang tidak mengakui dosa akan menjadi bahan empuk propaganda. Tetapi setelah mengakui dosa, Gereja juga tidak boleh menerima kesimpulan sembrono Protestan bahwa dosa anggota membatalkan hakikat Gereja. Gereja berdosa dalam anggota-anggotanya, tetapi kudus karena Kristus kepala-Nya, Roh Kudus jiwanya, dan rahmat sakramental hidup di dalamnya. Kalau kekudusan Gereja bergantung pada sterilnya semua pejabat, maka Gereja sudah bubar sejak Petrus menyangkal dan Yudas menjual Tuhan.
Tetapi Kristus tidak membangun Gereja di atas idealisme rapuh. Ia membangun Gereja di dalam sejarah, dengan manusia berdarah, lemah, licik, takut, bertobat, jatuh, bangun, dan tetap dipanggil menjadi kudus. Itulah realisme Katolik. Bukan romantisme. Bukan propaganda. Gereja bukan klub malaikat. Gereja adalah tubuh yang luka tetapi tidak mati, berdosa dalam anggota tetapi tidak kehilangan janji, perlu reformasi tetapi tidak boleh diputus dari akar apostoliknya.
Protestantisme sering berkata, “Kami keluar karena Gereja korup.” Kalimat itu terdengar gagah. Tetapi pertanyaannya: sejak kapan keluar dari rumah adalah satu-satunya cara membersihkan rumah? Kalau dapur kotor, orang dewasa mengambil sapu. Anak labil membakar rumah lalu mendirikan tenda di halaman sambil berkata, “Sekarang saya kembali ke arsitektur asli.”
Dan setelah itu, tendanya pecah menjadi ribuan tenda kecil. Semua mengaku sesuai rancangan asli.
Maka antara Pesta Babi dan Protestantisme, kita belajar satu hal: luka nyata dapat menjadi awal pertobatan, tetapi juga dapat menjadi bahan bakar propaganda. Semua tergantung apakah luka itu dibaca dengan kesabaran terhadap keseluruhan realitas, atau dipakai sebagai palu untuk menghancurkan lawan.
Film seperti Pesta Babi perlu dikritik bukan karena ia membela masyarakat adat, tetapi karena pembelaan bisa berubah menjadi penyederhanaan. Protestantisme perlu dikritik bukan karena ia pernah melihat borok Gereja, tetapi karena borok itu dijadikan alasan untuk memutus diri dari tubuh. Keduanya mengajarkan bahwa penderitaan, skandal, dan luka adalah bahan narasi yang sangat kuat. Tetapi narasi yang kuat belum tentu benar. Kadang ia hanya lebih pandai memainkan air mata.
Dan pada akhirnya, kebenaran tidak lahir dari air mata yang diedit, ayat yang dipotong, sejarah yang dikarikatirkan, atau musuh yang dibuat terlalu gelap agar diri sendiri tampak terang. Kebenaran lahir dari keberanian melihat seluruh kenyataan: luka dan rahmat, dosa dan janji, skandal dan kesucian, kegagalan manusia dan kesetiaan Allah.
Protestantisme melihat luka Gereja dan mengira menemukan kuburan Gereja. Katolik melihat luka yang sama dan berkata: ini tubuh yang harus disembuhkan, bukan mayat yang harus ditinggalkan.
Di situlah perbedaannya.
Yang satu menjadikan luka sebagai alasan untuk pesta pembatalan. Yang satu lagi menjadikan luka sebagai panggilan pertobatan.
Maka, kalau ada “pesta” yang paling tragis dalam sejarah kekristenan, bukan hanya pesta babi dalam film itu. Yang lebih tragis adalah pesta tafsir yang menyembelih tubuh Gereja, lalu menyebutnya pembebasan Injil.

0 komentar:
Posting Komentar