Berdasarkan Seruan Pastoral Konferensi Wali Gereja Indonesia, 20 Mei 2026
Salam Pembuka: Dari Kami, Saudara-saudaramu
Salvete Fratres carissimi
Pada 20 Mei 2026, para gembala kita, Bapak-bapak Uskup se-Indonesia, telah menyampaikan seruan pastoral berjudul "Bangkit Bersama Dalam Pengharapan". Sebagai seorang putra Gereja yang juga merenungkan tanda-tanda zaman, saya ingin berbagi refleksi atas seruan tersebut. Bukan untuk menafsirkan secara resmi; itu tugas lain, tetapi untuk merenungkan bersama sebagai saudara seiman yang sama-sama mendengar panggilan untuk merawat bangsa ini.
Saya menulis ini karena prihatin. Bukan prihatin terhadap semangat membela yang lemah; itu mulia. Tapi prihatin pada cara-cara yang kadang kita lakukan dalam membela, yang tanpa sadar justru melukai kebenaran dan merendahkan martabat sesama, bahkan sesama yang berseberangan dengan kita.
Marilah kita renungkan bersama.
Gereja Melihat Luka, Tapi Tidak Membenci
Fratres, para uskup kita tidak buta. Mereka melihat luka bangsa dengan jernih:
"Banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang berat. Generasi muda tidak sedikit yang mengalami kecemasan, kehilangan arah, dan krisis kesehatan mental. Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terus terjadi. Lansia, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya sering kali belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dan perlindungan yang memadai."
Dan tentang Papua, dengan terus terang mereka katakan:
"Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap luka panjang yang masih dirasakan saudara-saudari kita di tanah Papua. Kekerasan, ketakutan, dan kurangnya rasa saling percaya telah meninggalkan luka batin yang mendalam lintas generasi."
Ini bukan basa-basi. Ini adalah suara gembala yang mendengar tangisan domba-dombanya yang terluka. Gereja tidak pernah menyuruh kita menutup mata. Sebaliknya, Gereja justru membuka mata kita lebar-lebar.
Tapi perhatikan, saudara-saudari. Para uskup tidak lalu mengajak kita untuk membenci. Mereka tidak menunjuk satu pihak sebagai "iblis" dan pihak lain sebagai "malaikat". Mereka berkata:
"Dalam situasi seperti ini, pemerintah, masyarakat sipil, komunitas agama, dunia pendidikan, pelaku ekonomi, dan seluruh rakyat Indonesia, kita semua dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga harapan, dan memperkuat persaudaraan kebangsaan."
"Kita semua." Bukan "kita yang benar" melawan "mereka yang salah". Bukan "kita anak terang" melawan "mereka anak kegelapan". Tapi kita semua, dengan dosa dan kebaikan masing-masing, dengan luka dan tanggung jawab masing-masing, dipanggil untuk berjalan bersama.
Inilah iman kita. Inilah Gereja yang kita cintai.
Godaan Kubu-Kubuan di Tengah Kita
Saya harus mengakui sesuatu yang mungkin tidak nyaman untuk didengar.
Dalam semangat membela yang tertindas, yang memang seharusnya kita lakukan sebagai orang Kristen, kita kadang terjerat dalam godaan yang halus. Kita mulai melihat dunia dalam warna hitam-putih. Ada kubu "kita" yang baik, suci, dan benar. Ada kubu "mereka" yang jahat, serakah, dan salah.
Kita menonton film dokumenter tentang masyarakat adat. Kita menangis. Kita marah. Lalu kita membagikannya ke media sosial, menulis status penuh amarah, dan merasa telah "berpihak". Siapa pun yang tidak sepenuhnya sepakat dengan kita, kita curigai: mungkin dia bayaran pemerintah, mungkin dia tidak beriman, mungkin dia tidak peduli.
Bukankah ini yang disebut para uskup kita sebagai "perbedaan pendapat yang berubah menjadi permusuhan"? Bukankah ini yang mereka maksud dengan "kritik sering dipandang sebagai ancaman"?
Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh marah terhadap ketidakadilan. St. Agustinus sendiri mengajarkan bahwa ada amarah yang suci, yaitu amarah yang lahir dari cinta pada kebenaran. Tapi amarah yang suci tetap membedakan antara dosa dan pendosa. Ia membenci dosa, tetapi tetap mencintai pendosa. Karena hanya dengan cinta, pendosa dapat berubah. Dengan kebencian, ia hanya akan membenci lagi.
Apakah kita, dalam semangat membela masyarakat adat, masih bisa mencintai pejabat yang membuat kebijakan keliru? Apakah kita masih bisa mendoakan pengusaha yang mengambil tanah mereka? Atau hati kita sudah penuh kebencian yang membara, sehingga doa pun tidak lagi kita panjatkan untuk mereka?
Renungkanlah, saudara-saudari.
Jalan yang Ditawarkan Gereja: Dialog, Bukan Vonis
Para uskup kita menawarkan jalan yang berbeda. Bukan jalan vonis mati. Bukan jalan pengucilan. Tapi jalan dialog dan rekonsiliasi yang substantif.
Khusus tentang Papua, mereka katakan:
"Pendekatan keamanan bukanlah jalan cepat dan tepat untuk menyelesaikan masalah di Papua. Karena itu, diperlukan pendekatan yang semakin manusiawi, dialogis, partisipatif, dan berakar pada penghormatan terhadap sejarah, budaya, serta hak-hak dasar masyarakat setempat."
Perhatikan kata-katanya: manusiawi, dialogis, partisipatif. Ini bukan kata-kata kosong. Ini adalah program. Ini adalah sikap hati.
Manusiawi berarti kita tidak boleh menghilangkan wajah manusia dari siapa pun, termasuk aparat dan pejabat. Mereka juga saudara-saudari kita, meskipun mereka salah. Mereka bukan monster. Mereka adalah manusia berdosa seperti kita yang membutuhkan pertobatan seperti kita.
Dialogis berarti kita harus bersedia untuk mendengarkan. Bukan hanya mendengar mereka yang sepakat dengan kita. Tapi mendengar mereka yang berbeda, bahkan yang memusuhi kita. Karena kebenaran, saudara-saudari, sering kali tidak hanya ada di satu sisi. Dan Roh Kudus, yang membimbing Gereja, juga bisa berbicara melalui mulut orang yang tidak kita sukai.
Partisipatif berarti kita tidak boleh bertindak seolah-olah kita adalah satu-satunya pihak yang berhak menentukan solusi. Kita harus melibatkan semua pemangku kepentingan. Duduk bersama. Berdiskusi. Mencari jalan keluar yang adil bagi semua. Bukan hanya yang menguntungkan "kubu kita".
Apakah ini sulit? Sangat. Apakah ini lambat? Pasti. Tapi inilah jalan kasih. Dan kasih, saudara-saudari, selalu sabar. Selalu mau menunggu. Selalu berharap.
Martabat Manusia Adalah Martabat Gambar Allah
Ajaran Gereja tentang martabat manusia tidak pernah pandang bulu.
Ya, kita harus berpihak pada yang lemah. Itu perintah Injil. Sabda Bahagia Yesus: "Berbahagialah orang yang miskin, yang lapar, yang menangis." Gereja tidak pernah meninggalkan kaum papa. Seruan KWI dengan tegas mengatakan:
"Pembangunan tidak boleh meninggalkan kaum miskin, petani kecil, nelayan, buruh, masyarakat adat, dan mereka yang hidup di pinggiran."
Namun, pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, adalah gambar Allah. Pejabat yang membuat kebijakan yang merugikan rakyat kecil adalah gambar Allah yang rusak, tetapi tetap merupakan gambar Allah. Pengusaha yang mengambil tanah masyarakat adat adalah gambar Allah yang tersesat, tetapi tetap gambar Allah.
Karena itu, saudara-saudari, kita tidak boleh mereduksi siapa pun menjadi sekadar fungsi naratif. Kita tidak boleh mengubah pejabat menjadi "mesin represi" di mata kita. Kita tidak boleh mengubah pengusaha menjadi "personifikasi kerakusan". Karena ketika kita melakukan itu, kita sedang menghina martabat mereka. Dan menghilangkan martabat sesama, betapa pun salahnya dia, adalah dosa.
St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa kita harus membenci dosa, tetapi mencintai pendosa. Bukan sebaliknya. Bukan membenci pendosa karena dosanya, apalagi membenci seluruh kelompok karena dosa sebagian anggotanya.
Ini berat, saudara-saudari. Sangat berat. Tapi inilah panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Kristus mati untuk orang benar dan orang tidak benar. Kristus merangkul Petrus yang menyangkal, Paulus yang membunuh, dan Zakheus yang korup. Tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan kasih-Nya.
Maka, jika kita mengaku mengikuti Kristus, kita juga harus belajar untuk tidak menutup pintu kasih bagi siapa pun.
Kritik itu Perlu, Tapi Harus Membangun
Fratres, jangan salah paham. Gereja tidak pernah melarang kita mengkritik. Justru sebaliknya.
Para uskup sendiri mengkritik:
"Kasus-kasus seperti pengabaian konsultasi publik yang transparan dan akuntabel, seperti proyek panas bumi di Flores dan proyek pangan food estate di Papua, bisa menjadi bumerang jika dijalankan melalui pendekatan pembangunan top-down dan eksploitatif."
Jelas. Tegas. Tidak main-main. Gereja berdiri di sisi yang benar.
Tapi perhatikan cara kritiknya. Kritik Gereja tidak pernah bersifat demonisasi. Ia tidak menyebut siapa pun sebagai "iblis" atau "antikristus". Ia menyebut kebijakan dan pendekatan, bukan menghakimi pribadi. Dan ia selalu disertai dengan tawaran jalan keluar.
Kritik yang baik, saudara-saudari, adalah kritik yang membangun. Ia tidak hanya meruntuhkan, tetapi juga menawarkan alternatif. Ia tidak hanya menuduh, tetapi juga mengajak bertobat. Ia tidak hanya marah, tetapi juga berharap.
Kritik yang tidak membangun hanya akan melahirkan kepahitan, bukan pertobatan. Dan kepahitan, seperti kata Surat kepada Jemaat Ibrani, dapat mencemari banyak orang.
Maka, marilah kita belajar mengkritik dengan cara yang membangun. Seperti yang dilakukan para gembala kita. Tajam dalam kebijakan, tetapi lembut dalam pribadi. Tegas terhadap dosa, tetapi tetap membuka pintu maaf bagi pendosa.
Penutup: Bangkit Bersama dalam Pengharapan
Seruan para uskup mengajak kita untuk bangkit. Bangkit dari tidur panjang, kita hanya menjadi penonton. Bangkit dari kenyamanan menjadi pengamat yang pasif. Bangkit juga dari kebencian yang menyamar sebagai kepedulian.
Kebangkitan nasional yang kita peringati bukanlah kebangkitan untuk menjadi besar dan menindas. Bukan juga kebangkitan untuk membenci pihak lain. Tapi kebangkitan dari keterpecahan menuju persatuan, dari ketakutan menuju keberanian, dari kepalsuan menuju kebenaran.
Dan kebangkitan ini kita lakukan dalam pengharapan. Bukan dalam keputusasaan. Bukan dalam amarah yang buta. Bukan dalam keyakinan bahwa tidak ada yang bisa berubah. Tapi dalam pengharapan—iman yang teguh bahwa dengan kasih Tuhan, segala sesuatu mungkin diperbaiki, asalkan kita bersedia bekerja sama, mendengarkan, dan mengakui bahwa kebenaran lebih besar daripada sudut pandang kita sendiri.
Marilah kita menonton film dokumenter. Marilah kita marah pada ketidakadilan. Marilah kita membela yang lemah. Itu semua baik. Itu semua Kristiani.
Tapi jangan berhenti di situ. Jangan biarkan kemarahan mengeras hati kita. Jangan biarkan semangat membela berubah menjadi semangat membenci. Jangan biarkan kubu-kubuan menggantikan persaudaraan sejati.
Ingatlah selalu sabda Tuhan: "Dari buahnya kamu akan mengenal mereka." Apakah buah dari perjuangan kita? Apakah kedamaian? Apakah rekonsiliasi? Apakah pertobatan? Atau hanya kepahitan, perpecahan, dan luka yang semakin dalam?
Mari kita periksa hati kita. Dan mari kita bangkit bersama, dalam pengharapan, dalam kebenaran, dalam kasih.
Tuhan memberkati bangsa Indonesia. Tuhan memberkati kita semua.
Amin.
Kupang, 23 Mei 2026
*Ditulis sebagai refleksi pribadi seorang putra Gereja atas Seruan Pastoral KWI 20 Mei 2026, untuk direnungkan bersama saudara-saudari seiman.*

0 komentar:
Posting Komentar