
Lucunya, sola scriptura itu sering diperlakukan Protestan seperti batu penjuru iman Kristen. Katanya, semua harus diuji oleh Kitab Suci saja. Tradisi? Curiga. Magisterium? Ditolak. Gereja? Boleh ada, asal jangan bicara terlalu keras. Tetapi begitu prinsip ini ditanya dua pertanyaan sederhana, fondasinya langsung berderit seperti rumah kayu tua dimakan rayap:
Pertama: apakah para rasul sendiri menjalankan prinsip sola scriptura?
Kedua: kalau tidak, kapan prinsip itu tiba-tiba menjadi benar?
Dua pertanyaan ini sederhana. Tidak perlu doktor teologi. Cukup akal sehat yang belum ditukar dengan slogan Reformasi.
1. Apakah Para Rasul Menganut Sola Scriptura?
Jawabannya hanya dua: ya atau tidak. Tidak ada jalan tikus.
Sebagian Protestan nekat menjawab: “Ya, para rasul menganut sola scriptura.” Bahkan ada yang berkata bahwa Petrus sendiri memberi salah satu afirmasi paling kuat tentang sola scriptura dalam surat-suratnya. Nah, ini menarik. Jadi Petrus, yang berkhotbah sebelum seluruh Perjanjian Baru selesai ditulis, konon sedang mengajarkan bahwa otoritas iman hanya ada dalam Kitab Suci tertulis?
Pertanyaannya begini: ketika Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta, apakah umat harus menunggu ia menulis dulu khotbahnya di perkamen sebelum boleh percaya? Ketika Paulus mengajar jemaat, apakah otoritasnya baru sah setelah ucapannya masuk dokumen kanonik? Kalau para rasul hanya berotoritas ketika tulisan mereka sudah menjadi Kitab Suci, maka seluruh pewartaan lisan apostolik menjadi semacam “draft belum resmi”.
Ini bukan teologi. Ini birokrasi rohani.
Bayangkan umat Kristen perdana berkata kepada Paulus: “Maaf, Rasul Paulus, ajaranmu belum bisa kami terima. Belum ada stempel kanon. Tolong tulis dulu, nanti kami cek apakah sudah masuk Alkitab atau belum.”
Konyol? Memang. Tapi itulah konsekuensi kalau sola scriptura dipaksa mundur ke zaman para rasul.
2. Kalau Para Rasul Tidak Menganutnya, Ayat Mana yang Bisa Dipakai?
Sebagian Protestan yang lebih sadar sejarah memilih jalan lain. Mereka berkata: “Sola scriptura tidak berlaku pada masa pewahyuan. Prinsip itu baru berlaku setelah Kitab Suci selesai.”
Baik. Kedengarannya lebih masuk akal. Tapi justru di sini lubangnya makin besar.
Kalau para rasul sendiri tidak hidup dalam kerangka sola scriptura, maka tidak mungkin mereka menulis surat untuk mengajarkan umat agar hidup menurut sola scriptura. Sebab prinsip itu, menurut pengakuan mereka sendiri, belum berlaku pada masa para rasul.
Maka semua ayat yang biasanya dipakai untuk membela sola scriptura langsung kehilangan tenaga. Mengapa? Karena ayat-ayat itu ditulis pada masa ketika sola scriptura sendiri belum berlaku. Jadi, kecuali ada ayat yang berbunyi, “Setelah kami para rasul mati, pakailah Kitab Suci saja sebagai satu-satunya otoritas iman,” argumen itu tidak berdiri.
Dan ayat seperti itu tidak ada.
Tidak ada. Nol. Kosong. Sunyi seperti mimbar setelah listrik padam.
3. Kapan Sola Scriptura Mulai Berlaku?
Sekarang kita sampai pada pertanyaan paling mematikan: kalau sola scriptura dulu belum benar, lalu kapan ia mulai benar?
Setelah rasul terakhir wafat? Masalahnya, pada masa itu umat Kristen belum memiliki Perjanjian Baru lengkap seperti Alkitab cetak zaman sekarang. Banyak jemaat hanya memiliki sebagian surat, mungkin bahkan tidak punya akses langsung kepada semua tulisan apostolik. Kanon juga belum dipastikan secara universal dalam bentuk final yang diterima semua Gereja.
Jadi bagaimana mungkin umat Kristen abad pertama atau kedua hidup dengan prinsip “Kitab Suci saja” kalau mereka bahkan belum memiliki daftar final kitab-kitab Perjanjian Baru?
Ini seperti menyuruh orang memakai Google Maps sebelum internet, satelit, dan ponsel ditemukan.
Atau mungkin sola scriptura mulai berlaku setelah kanon ditetapkan? Nah, lebih lucu lagi. Sebab siapa yang mengenali dan menegaskan kanon? Gereja. Jadi Protestan membutuhkan Gereja untuk mengetahui isi Kitab Suci, lalu setelah itu berkata kepada Gereja: “Terima kasih, sekarang Anda boleh diam.”
Itu bukan teologi apostolik. Itu anak kos yang menumpang makan, lalu mengusir pemilik rumah dari dapur.
4. Di Mana Catatan Sejarah Tentang Perubahan Besar Ini?
Kalau benar pernah terjadi perubahan besar dalam struktur otoritas iman—dari otoritas apostolik lisan dan Gereja hidup menuju Kitab Suci saja—kita seharusnya menemukan jejak historis yang jelas.
Seharusnya ada uskup, bapa Gereja, konsili, atau dokumen kuno yang berkata:
“Mulai hari ini, setelah para rasul wafat, otoritas Gereja berubah. Tradisi apostolik lisan tidak lagi mengikat. Kini Kitab Suci saja menjadi satu-satunya otoritas iman.”
Tapi dokumen seperti itu tidak ada.
Yang ada justru sebaliknya: Gereja perdana hidup dari Kitab Suci, Tradisi apostolik, suksesi uskup, liturgi, pengakuan iman, dan otoritas pengajaran Gereja. Mereka tidak mengenal model Protestan modern yang memisahkan Kitab Suci dari rahim Gereja yang melahirkannya.
Jadi sola scriptura bukan ajaran para rasul. Ia adalah anak abad ke-16 yang memakai jubah abad pertama.
5. Masalahnya Bukan Cinta Alkitab, Tapi Menjadikan Slogan Sebagai Dogma
Katolik tidak menolak Kitab Suci. Justru Katolik menjaga, menyalin, membaca, mendoakan, mengkanonkan, dan mewartakan Kitab Suci jauh sebelum Reformasi lahir. Masalahnya bukan Alkitab. Masalahnya adalah ketika Protestan mengambil Alkitab dari Gereja, lalu menjadikan tafsir pribadinya sebagai pengadilan tertinggi.
Katanya “Kitab Suci saja”, tetapi dalam praktiknya: Kitab Suci menurut Luther, menurut Calvin, menurut Zwingli, menurut sinode ini, menurut pendeta itu, menurut channel YouTube sana, menurut debat TikTok sini.
Akhirnya bukan sola scriptura. Yang terjadi adalah sola interpretatio mea: tafsir saya saja.
Dan ketika tafsir saya bertabrakan dengan tafsir Anda, lahirlah denominasi baru. Begitu terus. Pecah lagi. Pecah lagi. Sampai tubuh Kristus diperlakukan seperti kaca yang sengaja dijatuhkan lalu setiap pecahannya mengaku sebagai bentuk asli.
Penutup
Jadi persoalan sola scriptura bukan hanya bahwa ia sulit dibuktikan dari Kitab Suci. Lebih parah: ia tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri.
Kalau para rasul menganutnya, maka pewartaan lisan mereka menjadi problematis.
Kalau para rasul tidak menganutnya, maka ayat-ayat apostolik tidak bisa dipakai untuk membuktikannya.
Kalau prinsip itu muncul setelah para rasul, maka harus dijelaskan kapan, di mana, oleh siapa, dan dengan otoritas apa.
Dan kalau jawabannya tidak ada, maka jujurlah: sola scriptura bukan prinsip apostolik, melainkan konstruksi teologis belakangan yang dipasang mundur ke zaman para rasul.
Dengan kata lain: Protestan meminjam Alkitab dari Gereja Katolik, lalu memakai Alkitab itu untuk menuduh Gereja Katolik tidak alkitabiah.
Itu bukan Reformasi. Itu ironi yang memakai jas teologi.
0 komentar:
Posting Komentar