Rabu, 24 Juni 2026

Educide Reformasi: Ketika Protestantisme Menggunting Ingatan Gereja




Kategese ini berangkat dari tesis penting dalam artikel Educide and the Protestant Reformation: Applying Michael Cunningham’s Theory to the Development of the Protestant Church. Penulis artikel tersebut membaca Reformasi Protestan bukan hanya sebagai peristiwa teologis, melainkan juga sebagai operasi pembentukan ingatan religius melalui apa yang disebut educide: penghancuran pendidikan dan kebenaran historis melalui kontrol narasi. Dengan memakai teori Michael Cunningham, artikel itu menyoroti bagaimana Reformasi membentuk identitas Protestan melalui tiga tindakan besar: penurunan status kitab-kitab Deuterokanonika, terutama Makabe; pelembagaan sola scriptura berdasarkan kanon yang telah dipersempit; dan pengaburan akar Timur serta Yahudi dari Kekristenan.

Dari titik inilah artikel ini ditulis. Persoalannya bukan sekadar apakah Protestan menerima atau menolak beberapa kitab tertentu. Persoalannya jauh lebih dalam: siapa yang berhak menentukan memori Gereja? Siapa yang berhak mengatakan kitab mana yang boleh membentuk iman umat, sejarah mana yang boleh diajarkan, dan tradisi mana yang harus dicurigai? Bila Reformasi lebih dahulu menggunting kanon, menggeser pusat sejarah, dan menyingkirkan suara-suara yang tidak nyaman bagi sistemnya, maka klaim “kembali kepada Alkitab” harus diperiksa dengan curiga. Sebab mungkin yang terjadi bukan kembali kepada Alkitab, melainkan kembali kepada Alkitab yang sudah dipangkas menurut agenda Reformasi.

Dengan demikian, tulisan ini hendak membaca Protestantisme dari sudut yang lebih tajam: bukan sebagai gerakan murni yang sekadar menemukan kembali Injil, melainkan sebagai proyek naratif yang membentuk ulang kesadaran Kristen. Di balik slogan sola scriptura, ada pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan tidur: Scriptura yang mana, ditentukan oleh siapa, diwariskan oleh Gereja yang mana, dan dipisahkan dari memori historis apa? Di situlah kritik Katolik harus mulai bekerja—bukan dengan panik membela diri, tetapi dengan membongkar ruang kelas tempat Protestantisme telah lama mengajar umatnya untuk lupa.

 

Ketika Protestantisme Menggunting Ingatan Gereja dan Menyebutnya Kembali ke Alkitab

Ada jenis kekerasan yang tidak selalu memakai pedang. Ia tidak membakar kota, tidak merobohkan altar, tidak menyeret korban ke lapangan eksekusi. Ia bekerja lebih halus, lebih dingin, lebih rapi: ia mengubah buku pelajaran, menghapus bab tertentu dari memori kolektif, mengganti peta sejarah, lalu mendidik generasi berikutnya untuk percaya bahwa dunia memang sejak awal seperti itu.

Inilah yang disebut educide: pembunuhan atas pendidikan, pemusnahan atas ingatan, dan pembentukan kesadaran melalui kontrol narasi. Dalam educide, yang dihancurkan bukan hanya tubuh manusia, melainkan juga kemampuan suatu komunitas untuk mengenali asal-usulnya sendiri. Yang dibunuh bukan hanya orang, tetapi memori. Yang disingkirkan bukan hanya teks, tetapi horizon pemahaman. Yang dimusnahkan bukan hanya arsip, tetapi cara membaca sejarah.

Dalam terang konsep ini, Reformasi Protestan tidak cukup dibaca sebagai gerakan “kembali kepada Kitab Suci”. Itu terlalu polos. Terlalu ramah. Terlalu banyak parfum di atas luka. Reformasi juga harus dibaca sebagai proyek pembentukan ulang memori Kristen: suatu usaha besar untuk mengontrol apa yang boleh disebut Kitab Suci, apa yang boleh disebut tradisi manusia, sejarah mana yang boleh diingat, dan akar mana yang harus dilupakan.

Protestantisme datang dengan teriakan megah: sola scriptura. Hanya Kitab Suci. Kedengarannya saleh. Bahkan suci. Tetapi pertanyaan yang lebih tua dan lebih keras segera berdiri di depan pintu: Kitab Suci yang mana?

Sebab sebelum Protestantisme berkata, “Kami hanya tunduk kepada Kitab Suci,” mereka telah lebih dahulu menerima sebuah kanon yang sudah dipangkas. Deuterokanonika disingkirkan dari posisi kanonik penuh. Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, serta 1 dan 2 Makabe diturunkan martabatnya. Kitab-kitab yang selama berabad-abad hidup dalam tradisi liturgis dan kesadaran Gereja kini diberi label yang lebih rendah, diletakkan di pinggir, lalu perlahan-lahan dikeluarkan dari ingatan umat.

Di sinilah kebohongan halus itu bekerja. Protestantisme seolah-olah berkata, “Kami tidak menolak apa pun selain yang tidak alkitabiah.” Tetapi sistemnya sendiri telah terlebih dahulu menentukan mana yang boleh disebut Alkitab. Ini bukan sekadar tunduk kepada Kitab Suci. Ini adalah operasi pendahuluan atas Kitab Suci. Raknya diatur ulang, beberapa kitab dipindahkan ke gudang, lalu anak-anak diajar bahwa rak yang tersisa itulah bentuk asli perpustakaan Kristen.

Maka ketika seorang Protestan berkata, “Dogma Katolik tidak ada dalam Alkitab,” orang Katolik tidak perlu buru-buru gugup. Pertanyaan pertama justru harus begini: Alkitab menurut siapa? Menurut Gereja kuno yang menjaga kanon dalam liturgi dan tradisi, atau menurut keputusan pasca-Reformasi yang sudah datang terlambat lima belas abad?

Sebab jika kanon sudah direduksi, jangan heran bila doktrin tertentu tampak tidak ada. Kalau seseorang menggunting halaman peta, ia tidak boleh berlagak heran ketika jalan menuju kota tertentu hilang. Itu bukan bukti bahwa kota itu tidak ada. Itu hanya bukti bahwa petanya telah dirusak.

Di sini educide Protestan bekerja dalam bentuk pertama: kontrol narasi kanonik. Dengan mengontrol daftar kitab, Protestantisme mengontrol batas imajinasi teologis umatnya. Apa yang tidak masuk dalam kanon Protestan perlahan-lahan tidak lagi masuk dalam khotbah, tidak lagi masuk dalam katekese, tidak lagi masuk dalam kesadaran iman, dan akhirnya dianggap asing. Setelah beberapa generasi, umat tidak lagi berkata, “Kami kehilangan kitab-kitab ini.” Mereka berkata, “Kitab-kitab itu memang bukan milik kami.” Educide berhasil ketika korban tidak lagi merasa kehilangan.

Masalahnya, kitab-kitab yang disingkirkan itu bukan benda mati. Mereka membawa ingatan. Mereka membawa darah. Mereka membawa kebijaksanaan Israel. Mereka membawa jejak pergulatan iman Yahudi menjelang kedatangan Kristus. Terutama Kitab Makabe.

Penghapusan Makabe dari kesadaran Protestan adalah salah satu amputasi paling serius terhadap memori Kristen. Kitab Makabe bukan sekadar cerita tambahan. Ia adalah jembatan historis antara dunia Perjanjian Lama dan dunia Perjanjian Baru. Ia mengisahkan bagaimana orang Yahudi melawan tekanan Helenisasi, mempertahankan Taurat, memurnikan Bait Allah, dan menjaga identitas religius mereka dari pembubaran budaya.

Tanpa Makabe, sejarah keselamatan tampak seperti meloncat dari Maleakhi langsung ke Matius, seolah-olah empat abad di antaranya hanyalah ruang tunggu kosong. Padahal di sana ada perang, martir, pengkhianatan, kesetiaan, krisis identitas, dan pemurnian iman. Di sana ada pergulatan besar yang menjaga agar dunia Yahudi tetap menjadi dunia Yahudi, sehingga ketika Kristus lahir, Ia sungguh lahir di dalam rahim Israel yang masih mengenali Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.

Membuang Makabe berarti memotong salah satu urat nadi yang menghubungkan Kekristenan dengan akar Yahudinya. Dan inilah ironi Protestan yang pahit: mereka ingin berbicara tentang Yesus sebagai Mesias Israel, tetapi membuang salah satu arsip besar tentang bagaimana Israel bertahan menjelang kedatangan Mesias. Mereka ingin Injil yang murni, tetapi menyingkirkan salah satu latar historis yang membuat Injil dapat dimengerti. Mereka ingin Yesus yang Yahudi, tetapi tidak terlalu suka dengan memori Yahudi yang tidak cocok dengan sistem mereka.

Mengapa Makabe mengganggu? Karena Makabe tidak tunduk kepada selera Reformasi. Di sana ada doa bagi orang mati. Di sana ada martir. Di sana ada gagasan tentang solidaritas umat yang melampaui kematian. Di sana ada dunia religius yang lebih Katolik daripada yang nyaman diterima oleh bangunan Protestan. Maka kitab itu disingkirkan. Bukan karena tidak bermakna. Justru karena terlalu bermakna.

Di sinilah educide bekerja dalam bentuk kedua: penghapusan suara alternatif. Suara Makabe tidak dibantah secara memadai; ia dikeluarkan dari ruang kelas. Ia tidak selalu dikalahkan dalam debat; ia dibuat tidak hadir. Dan ketika sebuah suara tidak lagi diajarkan, generasi berikutnya tidak perlu menolaknya. Mereka cukup tidak mengenalnya. Ini strategi paling bersih dari pemiskinan intelektual: jangan bunuh argumen di depan umum; hilangkan saja dari kurikulum.

Tetapi masalahnya tidak berhenti pada kanon dan Makabe. Ada pemutusan yang lebih luas: pemutusan Kekristenan dari akarnya sebagai agama Timur.

Kekristenan tidak lahir di Wittenberg. Tidak lahir di Jenewa. Tidak lahir di London. Tidak lahir di ruang kuliah para teolog Eropa abad ke-16. Kekristenan lahir di Timur: di tanah Yahudi, dalam bahasa Aram, dalam liturgi Israel, dalam debu Yerusalem, dalam jalan-jalan Galilea, dalam komunitas Antiokhia, Aleksandria, Siria, Mesir, dan Asia Kecil. Sebelum Eropa Barat merasa dirinya pusat dunia Kristen, Gereja sudah bernapas dengan paru-paru Timur.

Yesus bukan profesor Jerman. Para rasul bukan presbiterian Skotlandia. Maria bukan perempuan Swiss. Petrus tidak membawa Westminster Confession di sakunya. Paulus tidak mengajar di seminari Reformed. Gereja perdana tidak membuka ibadat dengan “mari kita kembali ke 66 kitab.” Itu semua anak kandung abad kemudian, dan sebagian besar baru muncul setelah Reformasi mulai mendandani dirinya sebagai koreksi besar atas seluruh sejarah Gereja.

Namun narasi Protestan sering membuat Kekristenan seolah-olah menemukan kemurniannya justru ketika Eropa Barat memberontak terhadap Roma. Lima belas abad sebelumnya diperlakukan seperti lorong gelap: ada sedikit Bapa Gereja bila berguna, ada konsili bila mendukung Trinitas, ada Agustinus bila bisa dibaca sebagai proto-Calvinis, tetapi seluruh tubuh Gereja kuno dicurigai bila terlalu Katolik.

Ini bukan cara membaca sejarah. Ini cara berbelanja di pasar loak: pilih yang cocok, tawar yang mengganggu, tinggalkan yang tidak bisa dipakai untuk membela sistem.

Protestantisme membutuhkan Gereja kuno untuk banyak hal. Ia membutuhkan Gereja untuk kanon Kitab Suci. Ia membutuhkan Gereja untuk bahasa Trinitas. Ia membutuhkan Gereja untuk Kristologi Kalsedon. Ia membutuhkan Gereja untuk kesaksian martir, liturgi awal, dan tradisi penafsiran. Tetapi ketika Gereja yang sama berbicara tentang Ekaristi, Maria, doa bagi orang mati, suksesi apostolik, dan otoritas gerejawi, tiba-tiba Gereja itu dicurigai sebagai telah rusak.

Inilah inkonsistensi yang tidak pernah sembuh: Gereja cukup benar untuk memberi mereka Alkitab, tetapi terlalu salah untuk menafsirkan Alkitab. Gereja cukup benar untuk mempertahankan Trinitas, tetapi terlalu salah untuk mempertahankan Tradisi. Gereja cukup benar saat berguna bagi Protestan, tetapi langsung menjadi korup saat bersaksi melawan Protestan.

Kalau ini bukan pemakaian sejarah secara oportunistik, lalu apa namanya?

Di sinilah educide bekerja dalam bentuk ketiga: pemutusan budaya dan geografis. Kekristenan yang Timur, Yahudi, liturgis, sakramental, dan eklesial perlahan-lahan diganti dengan Kekristenan yang dibayangkan terutama sebagai teks, individu, khotbah, dan pembacaan pribadi. Komunitas yang melahirkan Kitab Suci digeser ke belakang. Gereja yang menjaga Kitab Suci dicurigai. Tradisi yang menjadi habitat Kitab Suci dibuang. Lalu individu modern berdiri sendiri dengan Alkitab di tangan, seolah-olah Roh Kudus baru bekerja ketika otoritas Gereja dimatikan.

Hasilnya adalah Kekristenan yang kehilangan rumah, tetapi bangga karena merasa bebas.

Padahal Kitab Suci tidak pernah hadir sebagai benda yatim piatu. Ia lahir dalam umat. Ia dibaca dalam liturgi. Ia dijaga oleh para gembala. Ia ditafsir dalam iman Gereja. Ia tidak jatuh dari langit sebagai paket lengkap dengan indeks Protestan, catatan kaki Reformed, dan daftar 66 kitab. Sebelum ada Reformasi, Gereja sudah membaca. Sebelum ada Luther, Gereja sudah berdoa. Sebelum ada Calvin, Gereja sudah membaptis, merayakan Ekaristi, mengaku iman Trinitaris, menghormati para martir, dan mengenali suara Sang Gembala dalam Kitab Suci.

Maka slogan “kembali ke Alkitab” perlu diuji dengan pertanyaan yang lebih tajam: kembali ke Alkitab atau kembali ke Alkitab yang sudah diputus dari rahimnya?

Sebab Alkitab tanpa Gereja mudah berubah menjadi benda ideologis. Siapa pun bisa mengangkatnya, mengutipnya, memotongnya, menafsirkannya, lalu mendirikan denominasi baru. Itulah tragedi Protestantisme: otoritas tertinggi diklaim satu, tetapi hasil tafsirnya pecah seperti kaca dilempar batu. Semua berkata tunduk kepada Kitab Suci, tetapi tidak ada pengadilan final yang dapat mengatakan dengan otoritas mengikat: “Inilah iman Gereja.” Akhirnya yang disebut “Kitab Suci saja” sering berubah menjadi “Kitab Suci menurut saya, menurut sinode saya, menurut tradisi denominasi saya, menurut guru favorit saya, menurut algoritma YouTube saya.”

Dan anehnya, setelah itu mereka masih menuduh Katolik memiliki tradisi manusia. Padahal Protestantisme sendiri berdiri di atas tradisi manusia abad ke-16: tradisi manusia yang menentukan kanon, menolak Deuterokanonika, membentuk prinsip sola scriptura, membongkar otoritas Gereja, lalu menyebut dirinya “alkitabiah”. Tradisi manusia tidak hilang. Ia hanya ganti jas, ganti mimbar, dan bicara dengan nada lebih keras.

Educide Reformasi mencapai bentuk keempat ketika narasi ini dilembagakan. Kanon 66 kitab diajarkan di sekolah minggu. Deuterokanonika dilabeli apokrif. Makabe menghilang dari khotbah. Tradisi Gereja dipresentasikan sebagai tambahan manusia. Sejarah abad pertama sampai abad keenam belas disederhanakan menjadi kisah kemerosotan panjang. Luther dan para Reformator tampil seperti pahlawan pemulihan. Umat diajar bahwa sebelum Reformasi, Gereja tenggelam; setelah Reformasi, Injil ditemukan kembali.

Pertanyaannya: kalau Gereja benar-benar tenggelam selama berabad-abad, siapa yang menjaga Kitab Suci? Kalau Gereja telah jatuh total, dari tangan siapa Protestan menerima kanon? Kalau Roh Kudus gagal menjaga Gereja, mengapa kita harus percaya bahwa Roh Kudus tiba-tiba berhasil menjaga tafsir para Reformator? Kalau Tradisi begitu mencurigakan, mengapa tradisi Reformasi sendiri diperlakukan seperti kacamata wajib untuk membaca Alkitab?

Protestantisme sering ingin memiliki dua hal sekaligus: Gereja kuno cukup dapat dipercaya ketika mewariskan doktrin yang mereka setujui, tetapi tidak dapat dipercaya ketika mewariskan doktrin yang mereka tolak. Ini bukan prinsip. Ini selera yang diberi toga akademik.

Educide mencapai bentuk kelima ketika memori yang dipangkas itu menjadi normal. Setelah beberapa abad, banyak orang Protestan sungguh percaya bahwa Kekristenan asli adalah Kekristenan 66 kitab, tanpa Deuterokanonika, tanpa otoritas Magisterium, tanpa doa bagi orang mati, tanpa penghormatan kepada Maria, tanpa suksesi apostolik, tanpa Ekaristi sebagai kurban sakramental. Mereka tidak merasa sedang hidup dalam hasil amputasi. Mereka merasa sedang memegang tubuh asli. Padahal yang mereka pegang adalah tubuh yang sudah kehilangan beberapa anggota, lalu diberi nama “pemurnian”.

Di sinilah apologet Katolik harus bicara terang. Persoalannya bukan bahwa Protestan terlalu mencintai Kitab Suci. Tidak. Cinta kepada Kitab Suci adalah mulia. Persoalannya ialah ketika cinta itu dipakai untuk membenci rahim yang melahirkannya. Persoalannya bukan mereka membaca Alkitab. Kita semua harus membaca Alkitab. Persoalannya ialah ketika Alkitab dipisahkan dari Gereja, dipisahkan dari Tradisi, dipisahkan dari liturgi, dipisahkan dari kanon historis, lalu dijadikan senjata untuk menyerang Gereja yang menjaganya.

Itu bukan kesetiaan. Itu amnesia yang diberi nama kesalehan.

Gereja Katolik tidak takut kepada Kitab Suci, sebab Gereja hidup dari Kitab Suci. Tetapi Gereja juga tahu bahwa Kitab Suci bukan benda liar. Ia memiliki rumah. Rumah itu adalah Gereja. Ia memiliki nafas. Nafas itu adalah Tradisi. Ia memiliki penjaga. Penjaga itu adalah Magisterium. Tanpa rumah, teks menjadi rebutan. Tanpa Tradisi, ayat menjadi pecahan. Tanpa Magisterium, setiap pembaca dapat menjadi paus kecil dengan Alkitab di tangan dan tafsir pribadi di kepala.

Maka ketika Protestantisme berkata, “Kami hanya mengikuti Alkitab,” jawaban Katolik harus tenang tetapi tajam: Anda tidak hanya mengikuti Alkitab. Anda mengikuti Alkitab yang telah ditentukan oleh tradisi Reformasi, ditafsir menurut asumsi Reformasi, dan diajarkan dalam memori yang telah dibentuk oleh Reformasi.

Dengan kata lain, sola scriptura bukan kebebasan dari tradisi. Sola scriptura adalah tradisi tertentu yang pura-pura bukan tradisi.

Itulah inti persoalannya. Reformasi bukan hanya membuang beberapa doktrin Katolik. Ia membentuk ulang mesin pendidikan Kristen. Ia mengatur mana teks yang boleh berbicara, mana sejarah yang boleh dikenang, mana tradisi yang boleh dihormati, dan mana akar yang harus dipotong. Dalam bahasa educide, ini adalah kontrol narasi, penghapusan suara alternatif, pemutusan memori budaya, pelembagaan versi sejarah yang baru, dan manipulasi ingatan jangka panjang.

Maka tugas apologet Katolik bukan sekadar membuktikan bahwa dogma ini atau itu memiliki dasar Kitab Suci. Tugas yang lebih dalam adalah membongkar ruang kelas Protestan itu sendiri: papan tulisnya, kurikulumnya, buku pelajarannya, peta sejarahnya, dan definisi awalnya tentang “Alkitab”.

Karena selama Protestan boleh menentukan sendiri kanon, menentukan sendiri prinsip tafsir, menentukan sendiri batas Tradisi, lalu menuntut Katolik membuktikan diri di dalam ruang yang sudah mereka desain, debat itu sudah dicurangi sejak awal.

Katolik tidak datang terlambat ke pesta Alkitab. Katolik adalah rumah tempat pesta itu berlangsung.

Dan Protestantisme? Ia datang lima belas abad kemudian, mengambil sebagian hidangan dari meja, membuang beberapa resep lama, memarahi tuan rumah, lalu mengumumkan bahwa dialah penjaga asli tradisi keluarga.

Indah sekali. Tragis juga.

Tetapi sejarah tidak tunduk kepada slogan. Kitab Suci tidak menjadi lebih murni karena dipotong. Gereja tidak menjadi palsu karena usianya tua. Tradisi tidak menjadi korup hanya karena lebih tua dari Reformasi. Dan kebenaran tidak lahir pada 1517 hanya karena seorang biarawan Jerman marah kepada Roma.

Kekristenan lebih tua daripada Protestantisme. Kitab Suci lebih luas daripada kanon Reformasi. Gereja lebih dalam daripada tafsir individual. Dan memori iman tidak boleh diserahkan kepada mereka yang menggunting arsip lalu menyebut sisa guntingan itu sebagai “satu-satunya dokumen asli”.

Di hadapan educide Reformasi, Gereja Katolik berdiri bukan sebagai musuh Kitab Suci, melainkan sebagai saksi tua yang masih mengingat seluruh cerita. Ia mengingat Israel. Ia mengingat Makabe. Ia mengingat para martir. Ia mengingat Gereja Timur. Ia mengingat konsili. Ia mengingat liturgi. Ia mengingat bagaimana Kitab Suci dibaca sebelum Reformasi mengubah perpustakaan menjadi ruang interogasi.

Dan karena Gereja masih mengingat, ia tidak mudah ditipu oleh slogan.

Sebab slogan bisa keras. Tetapi memori Gereja lebih tua.

Slogan bisa memikat. Tetapi Tradisi lebih dalam.

Slogan bisa berkata “Alkitab saja.” Tetapi sejarah bertanya kembali:

Alkitab yang mana, dari Gereja yang mana, melalui tradisi yang mana, dan dengan otoritas siapa?

Di situlah sola scriptura mulai gemetar.

 

0 komentar:

Posting Komentar