Rabu, 24 Juni 2026

Maria, Monokausalisme, dan Kesatuan Gerejawi

 


Kita sering lupa betapa Iblis membenci Maria. Kitab Wahyu berkata bahwa naga itu “marah” kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya. Ini bukan detail kecil. Dalam drama keselamatan, Maria bukan tokoh pinggiran yang boleh diperlakukan secara netral. Terhadap Maria, orang tidak pernah sungguh-sungguh netral.

Mengapa? Karena cara kita memperlakukan Maria selalu berkaitan dengan cara kita memahami Putranya. Bila Maria hanya diperlakukan seperti perempuan biasa, maka secara tidak langsung kita sedang mengecilkan misteri Putranya. Jika Yesus sungguh Allah, maka Maria sungguh layak disebut sebagaimana Konsili Efesus tahun 431 menyebutnya: Theotokos, Bunda Allah, Sang Pembawa Allah.

Konsili Efesus menegaskan bahwa siapa pun yang tidak mengakui bahwa Emmanuel adalah sungguh Allah, dan karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Allah, sebab ia melahirkan Sabda Allah yang menjadi daging, harus ditolak. Jadi gelar “Bunda Allah” bukan pertama-tama tentang membesarkan Maria, melainkan tentang menjaga kebenaran tentang Kristus. Gelar itu adalah pagar kristologis. Ia menjaga iman Gereja agar tidak memecah Kristus menjadi dua: satu pribadi manusia dan satu pribadi ilahi yang seolah-olah hanya berdampingan.

Jika seorang ratu saja dihormati karena relasinya dengan seorang raja, betapa lebih pantas Maria dihormati karena ia adalah Bunda Sang Raja segala raja. Iblis ingin Maria diperlakukan seperti perempuan biasa, sebab Iblis membenci inkarnasi. Merendahkan Maria adalah salah satu jalan halus untuk meretakkan iman akan Sabda yang menjadi daging. Dari sana orang mudah tergelincir ke dalam bentuk Nestorianisme: seolah-olah Maria hanya ibu dari “manusia Yesus”, bukan Bunda dari Pribadi ilahi yang menjadi manusia.

Dalam percakapan dengan banyak kaum evangelikal, sering ditemukan penolakan terhadap istilah “Bunda Allah”. Mereka lebih suka berkata bahwa Maria hanyalah ibu Yesus, lalu cepat-cepat menambahkan bahwa ia hanya ibu dari kodrat manusia Yesus. Mereka tidak sadar bahwa cara bicara seperti itu berbahaya. Sebab Maria bukan ibu dari “kodrat” yang abstrak. Seorang ibu tidak melahirkan kodrat; seorang ibu melahirkan pribadi. Dan Pribadi yang dilahirkan Maria adalah Sang Putra, Pribadi Kedua Tritunggal, yang mengambil daging dari dirinya.

Di balik banyak keberatan Protestan terhadap devosi Katolik kepada Maria, ada satu pola pikir filosofis yang keliru. Pola pikir ini dapat disebut monokausalisme: anggapan bahwa hanya satu sebab yang boleh bekerja pada satu waktu untuk menghasilkan suatu akibat. Jika Kristus menyelamatkan, maka manusia dianggap tidak boleh berperan sama sekali. Jika Kristus mengampuni dosa, maka imam tidak boleh memberi absolusi. Jika Kristus adalah satu-satunya Pengantara, maka orang kudus tidak boleh diminta doanya. Jika Kristus harus dihormati, maka Maria tidak boleh dihormati. Seolah-olah kehormatan adalah barang langka yang kalau diberikan kepada Maria otomatis dicuri dari Kristus.

Di sinilah letak kelemahan mendasar pola pikir itu. Dalam kenyataan, banyak sebab dapat bekerja bersama tanpa saling meniadakan. Allah dapat menjadi sebab utama, sementara manusia menjadi sebab sekunder. Kristus dapat menjadi satu-satunya Pengantara dalam arti mutlak dan utama, sementara para kudus dapat berdoa bagi kita dalam keikutsertaan mereka pada karya Kristus. Imam dapat mengampuni dosa bukan sebagai sumber pengampunan, melainkan sebagai pelayan pengampunan Kristus. Gereja dapat melahirkan orang kepada iman bukan karena menggantikan Kristus, melainkan karena menjadi tubuh-Nya di dunia.

Yesus sendiri mengajarkan logika ini. Ketika kita melakukan sesuatu kepada saudara-Nya yang paling hina, kita melakukannya kepada Dia. Ketika Saulus menganiaya Gereja, Kristus berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Kristus tidak memisahkan diri dari tubuh-Nya. Ia tidak merasa tersaingi oleh mereka yang menjadi milik-Nya. Justru dalam mereka, Ia hadir dan berkarya.

Pola pikir monokausal juga gagal memahami bagaimana perempuan dalam Wahyu 12 dapat menunjuk sekaligus kepada Maria, Gereja, dan Israel. Bagi pikiran yang miskin simbol, satu lambang hanya boleh punya satu arti. Tetapi Kitab Suci tidak bekerja semiskin itu. Simbol biblis sering memiliki kedalaman berlapis. Maria adalah putri Israel, Bunda Mesias, dan citra Gereja. Semua ini tidak saling membatalkan. Justru saling menerangi.

Obat bagi monokausalisme adalah pendidikan filsafat yang baik. Orang perlu belajar bahwa beberapa sebab dapat bekerja bersama secara serentak, masing-masing menurut tingkat dan jenisnya. Mencintai sesama tidak mengurangi cinta kepada Allah. Justru dalam tindakan yang sama, orang dapat mencintai sesama, mencintai diri secara benar, dan mencintai Allah sebagai tujuan tertinggi. Masalahnya bukan banyaknya kasih, melainkan keteraturan kasih.

Karena itu, banyak kecemasan Protestan terhadap penghormatan Katolik kepada Maria sebenarnya lahir dari kesalahan filsafat, bukan dari kesetiaan yang lebih murni kepada Kitab Suci. Misalnya, dalam doa Salve Regina, umat Katolik berseru kepada Maria agar mendoakan dan menunjukkan belas kasih kepada kita. Dalam pikiran Protestan tertentu, hanya Allah yang boleh menerima doa dan hanya Allah yang boleh menunjukkan belas kasih. Maka, mereka menyimpulkan bahwa doa ini menjadikan Maria sebagai dewi. Padahal kesimpulan itu hanya muncul bila orang lebih dulu memasukkan asumsi monokausal ke dalam teks devosi tersebut.

Gereja Katolik menolak cara berpikir semacam itu. Jika hanya Allah yang boleh bertindak secara langsung dan semua peran makhluk dianggap menyaingi Allah, maka kita jatuh ke dalam deisme atau okasionalisme. Padahal iman Katolik selalu mengakui bahwa Allah justru memuliakan ciptaan dengan melibatkan ciptaan dalam karya-Nya. Allah tidak menjadi kurang Allah karena Ia memakai nabi, rasul, imam, sakramen, Gereja, atau doa para kudus. Kemuliaan-Nya tidak rapuh. Ia tidak cemburu seperti penguasa kecil yang takut disaingi bawahannya.

Begitu pula ketika orang Katolik berbicara tentang janji Maria terkait skapulir cokelat dan keselamatan, hal itu tidak boleh dibaca seolah-olah Maria menjadi sumber keselamatan yang berdiri di luar Kristus. Apa pun yang Maria lakukan, selalu terjadi melalui Kristus, dalam Kristus, dan menuju Kristus. Sama seperti doa Santo Paulus atau doa seorang tetangga tidak menggantikan Kristus, demikian juga doa Maria tidak menggantikan Kristus. Meminta doa Maria tidak lebih bertentangan dengan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara daripada meminta seorang sahabat mendoakan kita.

Menghormati Maria berarti menghormati Kristus. Maria dikenal oleh sejarah bukan karena prestasi politik, kekayaan, atau kuasa duniawi. Ia dikenal karena Putranya. Siapakah Maria? Ia adalah Bunda Allah. Itulah identitasnya. Maka menghormati Maria adalah salah satu cara mewartakan Injil: bahwa Allah sungguh menjadi manusia.

Karena itu, kita harus memperlakukan Maria sesuai dengan siapa dirinya. Ia layak menerima penghormatan sebagai Bunda Sang Raja. Ia adalah Ratu Bunda dalam Kerajaan Putranya. Tetapi Maria bukan Allah. Maka ia tidak boleh disembah. Penyembahan hanya bagi Allah saja. Di sini posisi Katolik berdiri jernih: bukan menjadikan Maria ilahi, dan bukan pula merendahkannya menjadi perempuan biasa. Dua pilihan itu adalah dilema palsu.

Posisi Katolik adalah jalan tengah yang benar: Maria menerima penghormatan tertinggi di antara para kudus, tetapi tidak pernah menerima adorasi. Ia dihormati karena Kristus. Ia dimuliakan karena rahmat Allah. Ia ditinggikan bukan untuk menggantikan Putranya, melainkan untuk menunjukkan betapa agung karya Putranya dalam diri seorang manusia.

Maka, siapa pun yang takut menghormati Maria karena merasa Kristus akan kehilangan kemuliaan, sebenarnya memiliki gambaran yang terlalu kecil tentang Kristus. Kristus bukan raja rapuh yang kemuliaan-Nya berkurang ketika ibu-Nya dihormati. Ia adalah Raja yang justru dimuliakan ketika karya rahmat-Nya dalam Maria dikenali, dirayakan, dan diwartakan.

Menghina Maria tidak membuat orang menjadi lebih kristosentris. Sering kali itu hanya membuat orang menjadi lebih Nestorian tanpa sadar. Sebaliknya, menghormati Maria secara benar menjaga kita tetap setia pada pusat iman Kristen: Sabda sungguh menjadi daging, lahir dari seorang perempuan, dan perempuan itu adalah Maria, Bunda Allah.

0 komentar:

Posting Komentar