Catatan Satirik tentang Protestantisme yang Lupa Bertanya kepada Dirinya Sendiri
Ada satu pertanyaan kecil, sederhana, tetapi berbahaya bagi seluruh bangunan Protestantisme:
Ada berapa Gereja Kristus?
Satu atau banyak?
Pertanyaan ini tidak butuh gelar doktor. Tidak perlu layar presentasi. Tidak perlu mengutip Yunani, Latin, atau menyalakan lampu studio. Cukup duduk tenang, tarik napas, lalu jawab dengan jujur.
Kalau Gereja Kristus itu satu, maka di mana kesatuannya tampak?
Kalau Gereja Kristus itu banyak, maka sejak kapan Kristus berubah menjadi pendiri federasi denominasi?
Di sinilah problem besar Protestantisme mulai kelihatan. Ia gemar sekali berbicara tentang “Kristus saja”, tetapi sering lupa bahwa Kristus yang sama itu mendirikan Gereja. Ia gemar berkata “Alkitab saja”, tetapi lupa bahwa Alkitab tidak jatuh dari langit dalam bentuk cetakan kulit hitam berindeks, melainkan dikenali, dijaga, dibacakan, dan diteruskan dalam rahim Gereja.
Protestantisme sering ingin buah tanpa pohon, sungai tanpa mata air, Kitab Suci tanpa Gereja, Kristus tanpa Tubuh.
Indah di telinga. Rapuh di akar.
1. Masalah Pertama: Kristus Dipisahkan dari Gereja-Nya
Salah satu pola umum polemik Protestan adalah begini: keselamatan hanya dalam Kristus, maka Gereja Katolik tidak diperlukan. Katanya, kalau seseorang sudah memiliki Kristus, ia sudah memiliki segalanya. Maka sakramen, Magisterium, suksesi apostolik, kepausan, dan Tradisi dianggap sebagai tambahan-tambahan yang mengganggu kemurnian Injil.
Sekilas terdengar saleh. Tetapi sebenarnya ini adalah amputasi eklesiologis.
Sebab dalam iman apostolik, Gereja bukan saingan Kristus. Gereja adalah Tubuh Kristus. Maka berkata “saya menerima Kristus, tetapi tidak membutuhkan Gereja” sama anehnya dengan berkata, “saya mencintai kepala, tetapi tubuhnya tidak perlu.”
Ini bukan spiritualitas. Ini bedah tubuh mistik dengan pisau individualisme modern.
Kristus tidak datang sebagai ide privat dalam kepala orang beriman. Kristus memanggil para rasul, membentuk kawanan, memberi mandat mengajar, memberi kuasa mengikat dan melepaskan, memerintahkan baptisan, menetapkan Ekaristi, dan menggembalakan umat-Nya melalui struktur yang kelihatan.
Dengan kata lain: Kristus tidak mendirikan opini rohani. Ia mendirikan Gereja.
Maka pertanyaan tetap berdiri:
Kalau Kristus mendirikan Gereja, Gereja itu ada di mana?
Apakah ia kelihatan atau tidak?
Apakah ia punya ajaran atau tidak?
Apakah ia punya otoritas atau tidak?
Apakah ia punya kesinambungan historis atau tidak?
Apakah ia punya kesatuan sakramental atau hanya kesatuan slogan?
Protestantisme biasanya menjawab dengan kabut: Gereja sejati adalah semua orang percaya yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.
Baik. Kedengarannya manis. Tetapi begitu ditanya lebih jauh, kabut itu mulai menipis.
Siapa yang menentukan “sungguh-sungguh percaya”?
Percaya versi Lutheran, Calvinis, Baptis, Pentakosta, Anglikan, Advent, atau gereja independen ruko lantai dua?
Kalau semuanya mengaku percaya kepada Kristus, tetapi saling bertentangan dalam baptisan, Ekaristi, keselamatan, predestinasi, jabatan gerejawi, dan moralitas, apakah itu masih dapat disebut satu Gereja secara nyata?
Atau kita cukup berkata: “Yang penting Yesus,” lalu seluruh pertentangan doktrinal disiram parfum rohani?
2. Masalah Kedua: “Alkitab Saja” Menjadi Alkitab Menurut Siapa Saja
Protestantisme sering mengira bahwa dengan berkata “Alkitab adalah otoritas tertinggi”, persoalan selesai. Padahal persoalan justru baru mulai.
Sebab semua pihak membawa Alkitab.
Arius bisa mengutip Alkitab.
Nestorius bisa mengutip Alkitab.
Sabelius bisa mengutip Alkitab.
Luther mengutip Alkitab.
Calvin mengutip Alkitab.
Zwingli mengutip Alkitab.
Pentakosta mengutip Alkitab.
Baptis mengutip Alkitab.
Advent mengutip Alkitab.
Bahkan kelompok-kelompok yang saling bertentangan pun sama-sama berkata: “Kami hanya ikut Alkitab.”
Maka pertanyaan yang lebih jujur bukan “apakah Anda memakai Alkitab?” Semua juga pakai.
Pertanyaannya adalah:
Siapa yang berwenang menafsirkan Alkitab secara mengikat ketika para pembaca Alkitab saling bertabrakan?
Di sinilah Protestantisme terjebak dalam ironi besar. Ia menolak Magisterium Katolik karena dianggap otoritas manusia, tetapi diam-diam menggantinya dengan magisterium pribadi: pendeta favorit, sinode lokal, konfesi denominasi, tradisi Reformasi, atau tafsir individu yang kebetulan merasa paling “alkitabiah”.
Jadi persoalannya bukan apakah ada otoritas manusia atau tidak. Persoalannya adalah: otoritas manusia mana yang mau diakui?
Katolik mengakui otoritas Gereja apostolik yang kelihatan.
Protestantisme sering mengaku hanya tunduk kepada Alkitab, tetapi dalam praktik tunduk kepada tafsir tertentu atas Alkitab.
Itu bukan bebas dari tradisi. Itu hanya tradisi yang tidak mau mengaku dirinya tradisi.
3. Masalah Ketiga: Salah Paham tentang Vatikan II
Salah satu keberatan Protestan modern adalah: kalau Gereja Katolik mengakui kemungkinan keselamatan di luar batas kelihatan Gereja Katolik, maka tidak ada lagi alasan menjadi Katolik.
Ini argumen yang kelihatan tajam, tetapi sebenarnya dangkal.
Sebab ia mencampuradukkan dua hal:
kemungkinan keselamatan
dan
kepenuhan sarana keselamatan.
Gereja Katolik tidak pernah berkata bahwa semua agama sama. Gereja Katolik tidak berkata bahwa menjadi Katolik tidak penting. Gereja Katolik juga tidak berkata bahwa kebenaran dapat dipotong-potong sesuka hati seperti kue pesta.
Yang diajarkan adalah: semua yang diselamatkan, diselamatkan oleh Kristus; dan rahmat Kristus itu berkaitan dengan Gereja-Nya, bahkan ketika seseorang belum berada dalam persekutuan kelihatan penuh dengan Gereja Katolik.
Ada orang bisa selamat dalam keadaan kurang lengkap. Tetapi itu tidak membuat kepenuhan menjadi tidak penting.
Orang bisa bertahan hidup dengan makanan darurat. Tetapi tidak berarti makanan sehat tidak perlu.
Orang bisa berjalan dengan cahaya lilin. Tetapi tidak berarti matahari tidak bernilai.
Orang bisa sampai ke tujuan dengan potongan peta. Tetapi tidak berarti peta utuh tidak berguna.
Maka ketika Protestantisme bertanya, “Kalau bisa selamat di luar Gereja Katolik, untuk apa menjadi Katolik?” — pertanyaan itu membuka isi batinnya sendiri.
Ia memandang keselamatan secara minimalis: yang penting lolos neraka.
Tetapi iman Katolik tidak melihat keselamatan sebagai sekadar tiket keluar dari api. Keselamatan adalah partisipasi penuh dalam hidup Kristus: dalam kebenaran, sakramen, persekutuan, kekudusan, dan kesatuan Gereja-Nya.
Allah tidak menawarkan minimum. Allah menawarkan kepenuhan.
4. Masalah Keempat: Reduksi Keselamatan Menjadi Urusan Privat
Di balik banyak kritik Protestan terhadap Katolik, ada asumsi filosofis yang jarang mereka bongkar sendiri: keselamatan dianggap terutama sebagai relasi privat antara individu dan Kristus.
Maka Gereja menjadi sekunder. Sakramen menjadi simbol. Tradisi menjadi gangguan. Otoritas menjadi ancaman. Struktur menjadi kecurigaan. Liturgi menjadi aksesori. Sejarah menjadi beban.
Tetapi Kitab Suci sendiri tidak bergerak dalam pola individualisme seperti itu.
Allah menyelamatkan dengan membentuk umat.
Allah memanggil Abraham dan membentuk Israel.
Allah memberi perjanjian, tanda, hukum, imam, nabi, bait, liturgi.
Kristus memanggil dua belas rasul, bukan dua belas pembuat konten independen.
Roh Kudus turun atas Gereja, bukan atas kumpulan individu tanpa tubuh.
Inkarnasi sendiri adalah skandal bagi spiritualisme individualis. Sabda menjadi daging. Rahmat masuk ke dalam sejarah, tubuh, air, roti, anggur, tangan rasuli, suara pengajaran, dan persekutuan kelihatan.
Maka ketika Protestantisme mencurigai semua mediasi gerejawi, ia tidak sedang kembali ke kemurnian Injil. Ia sedang bergerak mendekati naluri modern: individu sebagai pusat, tafsir pribadi sebagai pengadilan terakhir, dan komunitas hanya sebagai perkumpulan sukarela.
Itu bukan Gereja apostolik. Itu liberalisme religius yang memakai pakaian saleh.
5. Masalah Kelima: Gereja yang Satu Diubah Menjadi Pasar Denominasi
Kalau prinsip “Alkitab saja” dan “Kristus saja” cukup untuk menjaga kesatuan Gereja, seharusnya sejarah Protestantisme menjadi taman yang rapi.
Tetapi yang tampak justru sebaliknya: pecahan demi pecahan, sinode demi sinode, denominasi demi denominasi, masing-masing membawa Alkitab, masing-masing mengklaim Kristus, masing-masing merasa lebih murni dari yang lain.
Lalu ketika ditanya tentang kesatuan, jawabannya: “Kami satu dalam hal-hal pokok.”
Baik. Tetapi siapa yang menentukan mana pokok dan mana sekunder?
Baptisan bayi: pokok atau sekunder?
Ekaristi sungguh Tubuh Kristus atau sekadar simbol: pokok atau sekunder?
Keselamatan bisa hilang atau tidak: pokok atau sekunder?
Predestinasi ganda: pokok atau sekunder?
Jabatan imam atau pendeta: pokok atau sekunder?
Kanon Kitab Suci: pokok atau sekunder?
Moralitas perkawinan: pokok atau sekunder?
Setiap kali ada konflik, Protestantisme sering mengeluarkan jurus lama: “Itu bukan inti Injil.”
Tentu saja. Semua yang merusak pemandangan langsung disebut bukan inti. Praktis sekali. Seperti rumah bocor yang setiap lubangnya dinamai “ventilasi alami”.
Tetapi Kristus tidak berdoa agar murid-murid-Nya “cukup satu dalam hal-hal yang mereka anggap pokok.” Kristus berdoa agar mereka satu, supaya dunia percaya.
Kesatuan Gereja bukan aksesori. Kesatuan adalah tanda.
Dan tanda harus kelihatan.
6. Pertanyaan yang Harus Dijawab Protestantisme
Maka sebelum terlalu sibuk menyerang Katolik, Protestantisme harus berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dasarnya sendiri:
Ada berapa Gereja Kristus?
Kalau satu, di mana kesatuan kelihatannya?
Kalau Gereja hanya invisible, bagaimana dunia dapat melihat tanda kesatuan itu?
Kalau Alkitab adalah otoritas tertinggi, siapa yang menentukan tafsir yang mengikat?
Kalau setiap orang atau denominasi boleh menafsirkan sendiri, apa bedanya dengan relativisme hermeneutis berbaju rohani?
Kalau Gereja awal penting, mengapa struktur episkopal, suksesi, liturgi, sakramen, dan penghormatan pada Tradisi justru lebih dekat dengan Katolik dan Ortodoks daripada Protestan modern?
Kalau Kristus cukup, apakah Kristus yang cukup itu mendirikan Gereja atau tidak?
Kalau Gereja adalah Tubuh Kristus, mengapa Tubuh itu diperlakukan seperti lembaga opsional?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diselesaikan dengan suara keras, istilah Yunani, atau ejekan terhadap Roma. Ini perlu keberanian intelektual. Protestantisme harus turun dari mimbar polemik dan masuk ke ruang pemeriksaan diri.
Karena sering kali kritik terhadap Katolik bukan lahir dari pembacaan sejarah yang jernih, melainkan dari asumsi yang sudah dipasang sejak awal: semua yang Katolik pasti tambahan, semua yang Protestan pasti alkitabiah.
Itu bukan argumen. Itu prasangka yang dibaptis.
7. Penutup: Kristus Tidak Mendirikan Kabut
Kristus tidak mendirikan kabut rohani. Ia mendirikan Gereja.
Bukan Gereja sebagai ide abstrak.
Bukan Gereja sebagai jaringan longgar para penafsir.
Bukan Gereja sebagai federasi denominasi.
Bukan Gereja sebagai kumpulan orang yang kebetulan memakai nama Yesus.
Ia mendirikan Gereja yang satu, kelihatan, apostolik, sakramental, dan historis.
Di situlah letak kegelisahan Protestantisme. Ia ingin mengklaim Kristus, tetapi tidak sanggup menunjukkan secara utuh Gereja yang didirikan Kristus. Ia ingin mengklaim Alkitab, tetapi tidak sanggup menjelaskan otoritas yang menetapkan dan menafsirkan Alkitab secara mengikat. Ia ingin mengklaim kesatuan, tetapi sejarahnya sendiri berbunyi seperti piring pecah.
Maka pertanyaan tua itu tetap berdiri, dingin dan tajam:
Ada berapa Gereja Kristus?
Kalau jawabannya satu, maka Gereja itu harus dapat dikenali dalam sejarah.
Kalau jawabannya banyak, maka Protestantisme harus jujur mengakui bahwa ia telah mengubah doa Kristus tentang kesatuan menjadi pameran denominasi.
Dan kalau jawabannya kabur, maka mungkin problemnya bukan pada Gereja Katolik.
Mungkin problemnya ada pada gagasan Protestantisme yang sejak awal ingin memetik buah apostolik sambil menebang pohonnya.

0 komentar:
Posting Komentar