Apakah wewenang Paus hanyalah ciptaan abad pertengahan? Apakah Uskup Roma baru menjadi penting setelah Gereja memiliki kekuasaan politik? Ataukah sejak awal Gereja telah mengenal Roma sebagai pusat rujukan ketika iman mulai diguncang oleh pemberontakan, ajaran sesat, dan kekacauan doktrinal?
Pertanyaan ini penting, sebab banyak kritik terhadap Gereja Katolik lahir dari gambaran yang terlalu sederhana: seolah-olah Kepausan hanyalah proyek politik, sejenis kerajaan rohani yang muncul belakangan. Narasi itu terdengar menarik, tetapi terlalu miskin untuk menampung fakta sejarah. Bila sejarah Gereja dibaca dengan jujur, tampak bahwa sejak masa paling awal, Roma tidak dipandang sekadar sebagai salah satu gereja lokal. Roma memiliki posisi khusus sebagai jangkar kesatuan, bukan karena kemewahan istana, melainkan karena warisan Petrus dan Paulus, karena kesaksian darah para martir, dan karena perannya dalam menjaga iman apostolik.
Dasar biblisnya sudah jelas. Dalam Matius 16:18-19, Kristus berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga, simbol otoritas pengikatan dan pelepasan. Dalam Yohanes 21:15-17, Kristus yang bangkit mempercayakan domba-domba-Nya kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Maka, dalam iman Katolik, Petrus bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah prinsip pelayanan kesatuan yang berlanjut dalam Gereja, sebab Gereja sendiri tidak berhenti pada abad pertama.
Sejarah awal memberi bukti menarik. Sekitar tahun 96 M, Gereja Korintus mengalami kekacauan internal. Beberapa presbiter yang sah disingkirkan. Lalu muncullah surat dari Gereja Roma yang dikenal sebagai Surat Pertama Klemens. Yang menarik bukan hanya isi suratnya, tetapi nadanya. Roma tidak menulis sekadar sebagai sahabat yang memberi saran ringan. Roma menegur, mengoreksi, dan meminta agar ketertiban apostolik dipulihkan.
Inilah fakta yang sulit diabaikan. Pada akhir abad pertama, ketika beberapa rasul atau murid langsung para rasul masih hidup dalam ingatan Gereja, Roma sudah tampil sebagai pihak yang memiliki kepedulian dan otoritas moral terhadap gereja lain. Korintus bukan wilayah administratif Roma dalam arti modern. Namun Roma merasa bertanggung jawab. Di sini kita melihat bentuk awal primasi: belum memakai bahasa yuridis abad pertengahan, tetapi sudah bekerja sebagai prinsip koreksi dan kesatuan.
Abad kedua memperjelas arah itu. St. Ignatius dari Antiokhia, dalam perjalanannya menuju kemartiran di Roma, menyebut Gereja Roma sebagai gereja yang “memimpin dalam kasih.” Ungkapan ini sering diperdebatkan. Namun satu hal jelas: Ignatius berbicara tentang Roma dengan hormat yang khas. Kepada gereja-gereja lain ia memberi banyak nasihat dan koreksi. Kepada Roma, nadanya berbeda. Roma dipandang memiliki martabat khusus dalam persekutuan Gereja.
Kesaksian yang lebih eksplisit muncul dalam St. Irenaeus dari Lyon pada abad kedua. Dalam Against Heresies, ketika melawan Gnostisisme, Irenaeus menunjuk Roma sebagai gereja yang memiliki asal-usul apostolik unggul karena didirikan oleh Petrus dan Paulus. Baginya, untuk membuktikan iman yang benar, orang tidak perlu mengejar ajaran rahasia, bisikan mistik, atau silsilah guru-guru gelap. Cukup lihat suksesi apostolik yang nyata, publik, dan dapat dilacak. Dalam konteks itu, Roma menjadi rujukan utama.
Ini penting. Gereja tidak menjaga iman dengan fantasi spiritual. Gereja menjaga iman dengan memori apostolik yang hidup: siapa menerima iman dari siapa, siapa ditahbiskan oleh siapa, dan ajaran mana yang tetap sama sejak para rasul. Melawan Gnostik yang menjual “wahyu rahasia”, Gereja menjawab dengan suksesi terbuka. Iman Katolik bukan gosip rohani di ruang gelap. Ia adalah kesaksian publik yang dapat diuji dalam sejarah.
Lalu datanglah badai besar abad keempat: Arianisme. Arius mengajarkan bahwa Putra tidak sungguh-sungguh Allah sejati, melainkan makhluk tertinggi. Ini bukan perbedaan kecil. Jika Kristus bukan Allah sejati, maka keselamatan runtuh dari dalam. Sebab hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia secara tuntas.
Konsili Nikea tahun 325 menegaskan bahwa Putra sehakikat dengan Bapa. Namun setelah konsili, pertarungan belum selesai. Banyak wilayah Timur terguncang. Para uskup terpecah. Politik kekaisaran ikut bermain. Dalam situasi itu, St. Atanasius dari Aleksandria menjadi pembela besar iman Nikea. Ia dikejar, diasingkan, dan difitnah. Ke mana ia mencari perlindungan? Ke Roma. Di bawah Paus Yulius I, Roma menjadi tempat bernaung bagi pembela ortodoksi.
Di sini terlihat lagi pola yang sama: ketika badai doktrinal mengguncang Gereja, Roma tampil sebagai jangkar. Bukan berarti setiap Paus dalam sejarah adalah manusia sempurna. Bukan berarti setiap masa bebas dari intrik. Tetapi dalam perkara iman yang menentukan, Takhta Roma berulang kali muncul sebagai titik orientasi. Sejarah tidak meminta kita percaya pada romantisme. Sejarah menunjukkan pola.
Pola itu menjadi semakin jelas dalam Konsili Kalsedon tahun 451. Gereja berhadapan dengan persoalan besar tentang Kristus: bagaimana memahami Yesus Kristus sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia? Paus Leo Agung menulis surat teologis terkenal, Tome of Leo, kepada Flavianus. Surat itu menjelaskan iman Kristologis secara tajam: satu Pribadi Kristus dalam dua kodrat, ilahi dan manusiawi, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pemisahan, tanpa pembagian.
Ketika surat itu dibacakan di Konsili Kalsedon, para bapa konsili menyambutnya dengan ungkapan terkenal: “Petrus telah berbicara melalui Leo.” Tentu kalimat ini tidak boleh dibaca secara dangkal, seolah-olah para uskup menjadi robot tanpa akal. Konsili tetap berdiskusi, menimbang, dan merumuskan. Namun penerimaan terhadap Tome of Leo menunjukkan bahwa suara Roma dipandang memiliki bobot apostolik yang khas dalam menjaga iman Gereja.
Dari sini kita melihat bahwa wewenang Paus bukanlah mesin penindas intelektual. Ia bukan palu besi yang mematikan akal budi. Dalam bentuknya yang sehat, primasi Petrus adalah pelayanan terhadap kebenaran dan kesatuan. Paus bukan pemilik Gereja. Kristuslah pemilik Gereja. Paus adalah pelayan kesatuan Gereja, penjaga agar kawanan tidak tercerai-berai oleh ajaran yang berubah mengikuti angin zaman.
Tentu sejarah Kepausan tidak selalu bersih dari luka. Ada Paus yang lemah. Ada masa gelap. Ada intrik politik. Katolik yang jujur tidak perlu menutup-nutupi itu. Tetapi kelemahan manusiawi para pejabat Gereja tidak membatalkan struktur yang diberikan Kristus. Justru sebaliknya, bila Gereja hanya bergantung pada kesalehan pribadi para pemimpinnya, Gereja sudah lama hancur. Yang mengherankan bukan bahwa ada badai dalam sejarah Gereja. Yang mengherankan ialah bahwa kapal ini tidak tenggelam.
Di sinilah letak kekuatan argumen Katolik. Gereja tidak berdiri di atas genius pribadi para teolog. Gereja tidak bergantung pada selera mayoritas. Gereja tidak berubah menjadi pasar tafsir, di mana setiap orang membuka kios doktrinnya sendiri. Gereja memiliki struktur memori, otoritas, dan suksesi. Dalam struktur itu, Roma berfungsi sebagai pusat kesatuan yang historis, apostolik, dan doktrinal.
Maka, ketika dunia modern mencurigai otoritas, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah tanpa otoritas manusia sungguh menjadi lebih bebas? Ataukah ia hanya berpindah dari satu otoritas yang kelihatan kepada seribu otoritas tersembunyi: algoritma, opini viral, ideologi, emosi massa, dan guru-guru digital yang tidak punya akar?
Gereja membutuhkan batu karang bukan karena umat Katolik lemah berpikir, tetapi karena kebenaran perlu dijaga dari pembusukan. Iman membutuhkan rumah, bukan sekadar tenda opini. Tradisi membutuhkan tubuh, bukan sekadar kenangan. Kitab Suci membutuhkan Gereja yang membacanya dalam kesinambungan iman para rasul, bukan sebagai teks yatim piatu yang diseret ke sana kemari oleh setiap penafsir.
Wewenang Paus, dalam terang sejarah, bukanlah kecelakaan politik abad pertengahan. Ia adalah perkembangan organik dari mandat Petrus, yang sejak awal tampak dalam kehidupan Gereja: Roma menegur Korintus, Roma dihormati Ignatius, Roma dijadikan rujukan Irenaeus, Roma melindungi Atanasius, Roma berbicara melalui Leo di Kalsedon.
Di tengah badai, kapal membutuhkan jangkar. Di tengah perpecahan, Gereja membutuhkan prinsip kesatuan. Di tengah banjir tafsir, iman membutuhkan batu karang. Itulah makna terdalam pelayanan Petrus: bukan menggantikan Kristus, tetapi menjaga kawanan Kristus tetap berada dalam satu iman, satu tubuh, satu pengharapan.

0 komentar:
Posting Komentar