Kamis, 30 Juli 2026

MENGAPA PROTESTANTISME TERPECAH MENJADI BANYAK DENOMINASI?

 


Pertanyaan ini sering dijawab terlalu sederhana: “Karena manusia memang berbeda-beda.” Jawaban itu terdengar ramah, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Dalam katekese ini, saya akan menunjukkan bahwa penyebab utama perpecahan Protestan menjadi banyak denominasi justru terletak pada perubahan struktur otoritas penafsiran dalam kehidupan Gereja. Perbedaan manusia dapat menjelaskan variasi kebiasaan, bahasa liturgi, atau corak spiritualitas. Namun perbedaan manusia saja tidak cukup menjelaskan mengapa komunitas-komunitas Kristen bisa saling bertentangan mengenai baptisan, keselamatan, Ekaristi, predestinasi, karunia Roh, struktur Gereja, bahkan mengenai apakah suatu ajaran termasuk kebenaran iman atau kesesatan.

Masalah utamanya bukan sekadar perbedaan kepribadian. Sebelum Reformasi, otoritas untuk menafsirkan Kitab Suci dan menentukan ajaran dijalankan oleh hirarki Gereja, terutama melalui konsili ekumenis dan kepemimpinan Paus. Otoritas ini berfungsi sebagai penuntun bersama yang mengikat seluruh umat Kristen dalam hal iman dan moral. Masalahnya adalah hilangnya otoritas penafsir yang mengikat seluruh Gereja.

Reformasi Dimulai dengan Protes, Lalu Melahirkan Protes Baru

Reformasi Protestan abad ke-16 tidak dimulai sebagai satu gerakan tunggal dengan satu teologi yang seragam. Martin Luther, Huldrych Zwingli, Yohanes Calvin, kaum Anabaptis, dan kelompok-kelompok Reformasi lainnya sama-sama menolak otoritas tertentu dalam Gereja Katolik, tetapi mereka tidak otomatis sepakat satu sama lain.

Luther dan Zwingli, misalnya, berbeda tajam mengenai Perjamuan Tuhan. Keduanya membaca Kitab Suci. Keduanya mengaku tunduk kepada Firman Allah. Keduanya menolak otoritas final Paus. Namun ketika sampai pada perkataan Kristus, “Inilah tubuh-Ku,” mereka menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Di sinilah persoalan mendasar muncul. Setelah otoritas Gereja yang kelihatan ditolak, siapa yang berhak memberikan keputusan terakhir?

Jawabannya pada praktiknya adalah: penafsir masing-masing.

Memang tidak semua orang Protestan akan berkata, “Saya adalah otoritas tertinggi.” Mereka biasanya mengatakan bahwa Kitab Sucilah otoritas tertinggi. Namun Kitab Suci tidak turun dari langit sambil membawa catatan kaki yang menyelesaikan setiap perselisihan. Kitab Suci selalu dibaca, ditafsirkan, diajarkan, dan diterapkan oleh manusia.

Karena itu, pertanyaan yang sebenarnya bukan hanya, “Apakah Kitab Suci berotoritas?” Gereja Katolik juga menjawab: tentu saja. Pertanyaan yang lebih menentukan ialah:

Siapa yang memiliki kewenangan untuk menafsirkan Kitab Suci secara definitif ketika para penafsir yang sama-sama mengaku dibimbing Roh Kudus saling bertentangan?

Sola Scriptura Tidak Menghapus Otoritas; Ia Memecahkannya

Sola Scriptura sering dipahami sebagai prinsip bahwa hanya Kitab Suci yang merupakan norma infalibel bagi iman Kristen. Kedengarannya sederhana. Akan tetapi, prinsip itu menciptakan persoalan praktis: Kitab Suci harus ditafsirkan, sedangkan penafsirnya tidak dianggap infalibel. Perlu diakui bahwa beberapa tradisi Protestan berusaha menghadapi tantangan ini dengan membentuk pengakuan iman, sinode, atau konsili untuk menjaga ajaran dan menavigasi perbedaan tafsir. Mekanisme-mekanisme tersebut bertujuan menjadi pagar penuntun dalam memahami Kitab Suci, meskipun tidak dianggap setara dengan otoritas Gereja universal. Di sisi lain, sebagian kalangan Protestan membela keabsahan model ini dengan alasan bahwa kesatuan yang sejati bukan terutama keseragaman organisasional, melainkan kesetiaan kepada Injil. Bagi mereka, Roh Kudus diyakini terus membimbing Gereja melalui konsensus jemaat, para penatua, atau komunitas pengakuan iman. Ada pula argumen bahwa keragaman penafsiran justru memperkaya pemahaman iman dan menjadi sarana bagi koreksi satu sama lain di bawah terang Kitab Suci. Dengan demikian, mereka melihat mekanisme otoritas lokal dan regional sebagai bentuk akuntabilitas yang sah menurut Alkitab.

Akibatnya, setiap komunitas membentuk sistem otoritasnya sendiri. Ada sinode, majelis, pendeta senior, pengakuan iman, sekolah teologi, dan tradisi denominasi. Semua itu sebenarnya menjalankan fungsi magisterial: menentukan tafsiran yang dianggap benar dan menolak tafsiran yang dianggap salah.

Dengan kata lain, Protestantisme tidak benar-benar menghapus magisterium. Ia hanya memecah magisterium menjadi banyak magisterium kecil.

Seorang anggota gereja mungkin berkata, “Kami hanya mengikuti Alkitab.” Namun ketika ia ditanya mengapa baptisan bayi benar atau salah, mengapa predestinasi harus dipahami secara Calvinis atau Arminian, atau apakah bahasa roh wajib menjadi tanda baptisan Roh Kudus, jawabannya hampir selalu berasal dari tradisi penafsiran tertentu.

Ada tradisi Lutheran, Reformed, Anglikan, Baptis, Metodis, Adventis, Pentakostal, Injili, dan berbagai cabang lain. Masing-masing membaca Alkitab melalui kerangka teologis yang diwariskan oleh komunitasnya.

Jadi persoalannya bukan “Kitab Suci melawan tradisi.” Tidak ada pembacaan Kitab Suci yang benar-benar tanpa tradisi. Persoalannya adalah: tradisi mana, berasal dari mana, dan siapa yang berwenang mengujinya?

Perpecahan Menjadi Konsekuensi Struktural

Tidak semua denominasi muncul karena kesombongan atau niat buruk. Banyak komunitas Protestan lahir dari kerinduan tulus untuk hidup sesuai Injil. Selain motivasi rohani dan teologis, faktor-faktor historis seperti konteks politik dan budaya juga memiliki peranan besar dalam terbentuknya denominasi-denominasi baru. Misalnya, hubungan antara gereja dan negara di Eropa Barat sering kali menyebabkan komunitas reformasi berkembang menjadi struktur independen, terutama ketika penguasa lokal atau kerajaan mengambil posisi dalam mendukung atau menentang sebuah gerakan gereja. Dalam beberapa kasus, konflik politik seperti Perang Tiga Puluh Tahun atau tekanan dari penguasa terhadap minoritas agama mendorong terbentuknya identitas dan organisasi gereja yang terpisah. Di Inggris, budaya dan struktur sosial yang khas memberikan ruang bagi tumbuhnya gerakan-gerakan seperti Metodis dan Kongregasionalis. Faktor-faktor sosial seperti perbedaan kelas, kebangkitan nasionalisme, dan perkembangan teknologi cetak juga memperkuat munculnya berbagai kelompok. Gerakan Metodis yang dirintis oleh John dan Charles Wesley, misalnya, muncul dari kerinduan yang mendalam untuk pembaruan rohani di lingkungan Gereja Inggris. Martin Luther sendiri, di awal Reformasi, didorong oleh hati nurani dan cinta akan Kitab Suci, bukan keinginan untuk memecah belah Gereja. Tokoh-tokoh seperti William Wilberforce dan para penggerak abolisi perbudakan di Inggris, yang berasal dari kalangan Protestan, juga menunjukkan ketulusan iman Kristen dalam membela martabat manusia. Banyak pula tokoh Protestan yang sungguh mencintai Kristus dan Kitab Suci.

Namun ketulusan tidak otomatis menghasilkan kesatuan doktrinal.

Ketika suatu kelompok yakin bahwa tafsir denominasi induknya salah, sementara tidak ada otoritas universal yang dapat memberikan keputusan mengikat, jalan yang tersedia biasanya hanya beberapa: tetap tinggal sambil berkonflik, berkompromi, atau keluar dan mendirikan komunitas baru.

Maka pola perpecahannya mudah dipahami:

  1. Muncul perbedaan penafsiran.
  2. Setiap pihak mengklaim dasar Kitab Suci.
  3. Tidak ada hakim doktrinal yang diakui bersama.
  4. Perselisihan tidak dapat diselesaikan secara final.
  5. Kelompok baru terbentuk.

Kemudian kelompok baru itu dapat mengalami perselisihan yang sama. Proses tersebut berulang dari generasi ke generasi.

Karena itu, banyaknya denominasi bukan kecelakaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan prinsip Reformasi. Ia merupakan akibat yang dapat diperkirakan ketika otoritas penafsiran universal digantikan oleh penilaian komunitas-komunitas lokal.

Apakah Katolik Tidak Memiliki Perbedaan?

Tentu saja umat Katolik dapat berbeda pendapat. Para teolog Katolik berdebat mengenai banyak hal. Ada berbagai tarekat, ritus, spiritualitas, mazhab teologi, dan pendekatan pastoral.

Namun perbedaan internal tidak sama dengan perpecahan denominasi. Perlu diakui pula bahwa sejarah Gereja Katolik juga mengenal peristiwa perpecahan besar, seperti Skisma Timur-Barat pada tahun 1054 dan perpecahan dengan Gereja-Gereja Timur lainnya di berbagai masa. Namun, setelah peristiwa-peristiwa tersebut, yang terbentuk adalah komunitas-komunitas gerejawi yang sama-sama mengklaim kesinambungan apostolik dan mempertahankan struktur sakramental yang serupa, tidak seperti pola perpecahan Protestan yang melahirkan banyak denominasi tanpa kesatuan struktur dan pengakuan otoritas sentral.

Dalam Gereja Katolik terdapat ruang luas bagi perbedaan selama perbedaan itu tidak menyangkal dogma yang telah ditetapkan. Seorang Dominikan dan Fransiskan dapat berdebat tentang cara menjelaskan rahmat. Seorang Thomis dan personalis dapat memakai kerangka filsafat yang berbeda. Gereja-Gereja Katolik Timur memiliki liturgi dan disiplin yang berbeda dari Gereja Latin.

Meskipun demikian, semuanya berada dalam persekutuan sakramental yang sama, mengakui iman yang sama, dan tunduk pada struktur otoritas gerejawi yang sama.

Kesatuan Katolik bukan keseragaman mekanis. Kesatuan itu lebih menyerupai tubuh: banyak anggota, banyak fungsi, tetapi satu prinsip kehidupan.

Sebaliknya, denominasi-denominasi yang tidak saling berada dalam persekutuan penuh bukan hanya memiliki variasi. Mereka memiliki altar yang berbeda, struktur kepemimpinan yang berbeda, pengakuan iman yang berbeda, dan kadang-kadang ajaran keselamatan yang saling meniadakan.

“Yang Penting Sama-Sama Percaya Yesus”

Kalimat ini terdengar damai, tetapi terlalu kabur. Siapakah Yesus? Bagaimana manusia diselamatkan oleh-Nya? Apakah baptisan sungguh melahirkan kembali atau hanya simbol? Apakah Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi atau hanya dikenang? Dapatkah keselamatan hilang? Apakah iman saja cukup? Apakah orang mati dapat didoakan?

Semua kelompok dapat mengatakan, “Kami percaya Yesus,” sambil memberikan jawaban yang bertentangan mengenai ajaran-Nya.

Kristus tidak hanya memanggil manusia untuk menyebut nama-Nya. Ia memanggil para murid untuk tinggal dalam ajaran-Nya. Kebenaran Kristen bukan slogan paling kecil yang masih dapat disepakati semua pihak. Kebenaran adalah keseluruhan iman yang dipercayakan Kristus kepada para rasul.

Karena itu, kesatuan yang dikehendaki Kristus tidak dapat direduksi menjadi keramahan antarorganisasi. Dalam doa-Nya, Kristus memohon agar para murid menjadi satu supaya dunia percaya. Kesatuan Gereja memiliki dimensi kelihatan, doktrinal, sakramental, dan apostolik.

Gereja Mendahului Perjanjian Baru

Kadang-kadang orang berbicara seolah-olah mula-mula terdapat sebuah Alkitab lengkap, kemudian orang-orang Kristen berkumpul dan membentuk Gereja. Sejarah justru menunjukkan arah sebaliknya.

Kristus membentuk komunitas para rasul. Para rasul memberitakan Injil, membaptis, merayakan pemecahan roti, menetapkan para penatua, menyelesaikan perselisihan, dan meneruskan ajaran. Kitab-kitab Perjanjian Baru kemudian lahir di dalam kehidupan Gereja apostolik tersebut.

Gereja tidak berada di atas Firman Allah sebagai penguasa yang bebas mengubah wahyu. Namun Gereja juga bukan perkumpulan pembaca yang baru muncul setelah Alkitab selesai dicetak. Gereja adalah komunitas yang menerima, memelihara, mewartakan, dan menafsirkan wahyu apostolik.

Dalam Kisah Para Rasul 15, perselisihan besar mengenai sunat tidak diselesaikan dengan setiap jemaat membaca surat-surat secara pribadi. Para rasul dan penatua berkumpul, berunding, mengambil keputusan, kemudian menyampaikan keputusan itu kepada jemaat-jemaat sebagai sesuatu yang mengikat: “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”

Itulah pola Gereja apostolik: Kitab Suci, Tradisi apostolik, dan otoritas pengajaran tidak dipertentangkan, melainkan bekerja dalam kesatuan.

Persoalan Bilangan

Sering terdengar klaim bahwa ada “puluhan ribu denominasi Protestan.” Angka seperti itu harus digunakan dengan hati-hati. Studi-sudi akademik memperkirakan jumlah denominasi Protestan secara global berkisar antara 20.000 hingga lebih dari 40.000, menurut data World Christian Encyclopedia (edisi ketiga, 2019) dan Pew Research Center. Namun, perlu dicatat beberapa perhitungan memasukkan organisasi gerejawi yang sama di negara berbeda sebagai denominasi terpisah. Karena itu, angka tersebut tidak selalu berarti terdapat puluhan ribu sistem teologi yang sepenuhnya berbeda.

Namun mengoreksi angka tidak menghapus persoalan.

Entah jumlahnya ratusan, ribuan, atau lebih, kenyataan perpecahan tetap ada. Lutheran bukan Baptis. Baptis bukan Presbiterian. Presbiterian bukan Pentakostal. Di dalam kelompok-kelompok itu sendiri masih terdapat cabang konservatif, liberal, karismatik, nonkarismatik, Calvinis, Arminian, dan independen.

Jadi apologetika Katolik tidak perlu bergantung pada angka bombastis. Argumen yang lebih kuat ialah fakta bahwa prinsip otoritas yang terfragmentasi terus menghasilkan komunitas-komunitas yang tidak dapat memberikan keputusan bersama mengenai perkara iman.

Bukan Alasan untuk Menghina

Banyaknya denominasi tidak boleh dijadikan alasan untuk menghina pribadi-pribadi Protestan. Umat Katolik harus mampu membedakan kritik terhadap suatu sistem dari penilaian terhadap ketulusan seseorang. Selain itu, sangat penting untuk mengakui bahwa di tengah perbedaan, telah dan terus berlangsung banyak upaya ekumenis antara Katolik dan Protestan, baik dalam dialog teologis maupun kerja sama sosial. Misalnya, dokumen "Joint Declaration on the Doctrine of Justification" (1999) antara Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Sedunia menandai terobosan penting karena kedua belah pihak mencapai pengakuan bersama tentang inti ajaran pembenaran. Dialog resmi antara Katolik dan Anglikan melalui Anglican-Roman Catholic International Commission (ARCIC) juga menghasilkan sejumlah dokumen bersama yang memperdalam pemahaman dan kesepahaman tentang Ekaristi, kepemimpinan gerejawi, dan aspek-aspek iman lain. Di tingkat nasional dan lokal, berbagai dewan dan komisi ekumenis telah terbentuk, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Dewan Gereja-Gereja Sedunia, yang berkontribusi pada dialog dan aksi sosial bersama, misalnya dalam bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, atau aksi solidaritas bagi korban bencana alam. Meskipun perbedaan tetap ada dan beberapa tantangan belum terselesaikan, upaya-upaya ini menunjukkan bahwa panggilan untuk kesatuan masih hidup dan patut didukung oleh seluruh umat kristiani.

Rahmat Allah bekerja melampaui batas-batas yang tampak. Banyak saudara Protestan mencintai Kristus, membaca Kitab Suci dengan tekun, hidup saleh, dan memberi kesaksian yang kadang-kadang justru mempermalukan umat Katolik yang malas menjalankan imannya.

Namun penghargaan kepada pribadi tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap masalah teologis. Kasih tanpa kebenaran menjadi sentimentalitas. Kebenaran tanpa kasih menjadi kesombongan.

Dialog yang jujur harus berani mengatakan bahwa perpecahan Gereja bukan keadaan ideal yang boleh dirayakan sebagai “keanekaragaman.” Perbedaan karunia dapat memperkaya Gereja. Akan tetapi, pertentangan doktrin dan putusnya persekutuan sakramental merupakan luka pada Tubuh Kristus.

Kembali kepada Pertanyaan Otoritas

Pada akhirnya, perdebatan Katolik dan Protestan tidak selesai hanya dengan saling melempar ayat. Persoalan terdalamnya adalah otoritas.

Apakah Kristus meninggalkan sebuah buku untuk ditafsirkan secara mandiri oleh komunitas-komunitas yang kemudian muncul? Ataukah Ia mendirikan Gereja apostolik, memberikan kepadanya tugas mengajar, menguduskan, dan menggembalakan, serta menjanjikan penyertaan-Nya sampai akhir zaman?

Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa setiap ucapan pemimpin gerejawi pasti benar. Ia juga tidak mengajarkan bahwa para uskup tanpa syarat kebal dari dosa atau kekeliruan. Yang diimani ialah bahwa Kristus tidak membiarkan seluruh Gereja-Nya secara definitif mengikat umat pada kesesatan dalam perkara iman dan moral.

Tanpa jaminan semacam itu, orang Kristen akhirnya berada dalam labirin penafsiran. Ia harus memilih gereja berdasarkan penilaiannya sendiri, lalu memilih pengkhotbah yang dianggap paling alkitabiah, kemudian meninggalkannya apabila tafsirnya tidak lagi sesuai.

Pada saat itu, hati nurani pribadi tidak lagi hanya menerima kebenaran. Ia secara praktis menjadi pengadilan terakhir bagi kebenaran.

Penutup: Kristus Tidak Mendirikan Pasar Denominasi

Banyaknya denominasi Protestan lahir dari gabungan faktor sejarah, politik, budaya, ambisi manusia, kebangunan rohani, dan perbedaan penafsiran. Namun di bawah semua faktor itu terdapat persoalan struktural: penolakan terhadap otoritas pengajaran Gereja yang universal dan mengikat.

Ketika setiap kelompok membawa Alkitab yang sama tetapi memiliki hakim penafsiran sendiri, perpecahan bukan kejutan. Ia adalah panen dari benih yang telah ditanam.

Kristus tidak mendirikan pasar rohani tempat setiap orang memilih doktrin seperti memilih barang dari rak. Ia mendirikan Gereja, memberikan iman kepada para rasul, dan menghendaki agar kawanan-Nya tetap satu.

Karena itu, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya, “Di gereja mana saya merasa nyaman?” Pertanyaannya jauh lebih tajam:

Di manakah Gereja yang memiliki kesinambungan dengan para rasul, kesatuan iman, kesatuan sakramen, dan otoritas yang tidak diciptakan oleh setiap generasi untuk dirinya sendiri?

Kenyamanan dapat berubah. Selera dapat berpindah. Pengkhotbah datang dan pergi. Namun kebenaran tidak lahir dari pilihan kita.

Kitalah yang harus kembali kepadanya.

 

0 komentar:

Posting Komentar