(Sebuah Catatan Allegro tentang Luka, Logika, dan Liturgi)
1. Dua Tradisi yang Mengerti Arti “Suci”
Katolik dan Islam punya satu hal yang sulit dimengerti oleh
dunia modern: rasa kagum terhadap yang sakral.
Keduanya tahu bahwa Tuhan tidak bisa dijinakkan oleh opini pribadi.
Dalam Katolik, itu tampak dalam liturgi, ritus, dan penghormatan terhadap
hierarki Gereja.
Dalam Islam, itu tampak dalam disiplin salat, adzan, dan penghormatan terhadap
Nabi.
Mereka berdua hidup dalam dunia simbol dan ketaatan. Maka
ketika Katolik berbicara tentang misteri, Islam mengangguk pelan—bukan karena
sepakat dalam isi, tapi karena paham nadanya.
Protestan di sisi lain sering datang dengan kalkulator di tangan: “Apakah itu
tertulis di Alkitab?”
Begitu misteri dijawab dengan spreadsheet, musik iman pun kehilangan nadanya.
2. Luka yang Bukan dari Luar, tapi dari Dalam
Dengan Islam, Gereja punya sejarah perang salib dan damai
diplomatik. Luka fisik, darah yang bisa berhenti mengalir.
Dengan Protestan, luka itu batin—karena Reformasi bukan perang antar agama,
tapi perpecahan dalam satu rumah.
Luther tidak datang dari luar tembok Roma, tapi dari biara Katolik sendiri.
Jadi setiap kali Katolik bicara dengan Protestan, ia seperti berbicara dengan
adik yang minggat sambil menuduh ibunya kafir.
Tak heran kalau dialognya cepat berubah jadi debat warisan: siapa pewaris sah
Injil yang sebenarnya?
3. Soal Otoritas dan Akal
Katolik dan Islam sama-sama punya rasa komunal:
kebenaran tak lahir dari interpretasi pribadi, tapi dari tradisi yang dijaga.
Islam punya sanad dan ijma’ ulama; Katolik punya Magisterium dan Konsili.
Keduanya percaya bahwa iman itu diwariskan, bukan dikarang.
Protestan, terutama Reformed, berdiri di sisi seberang:
“Alkitab saja cukup.”
Namun tanpa otoritas tafsir bersama, muncul ribuan tafsir berbeda.
Ironinya, Sola Scriptura menghasilkan multi-scriptura.
Katolik dan Islam menatap bingung: bagaimana mungkin Tuhan yang esa
menghasilkan tiga puluh ribu gereja yang berbeda nama?
4. Moralitas dalam Dunia yang Melupakan Tuhan
Di tengah dunia yang haus kebebasan tapi kehilangan makna,
Katolik dan Islam berdiri di barisan yang sama.
Keduanya menolak aborsi, relativisme moral, dan ide bahwa gender bisa diganti
seperti nama pengguna di media sosial.
Keduanya masih memegang teguh bahwa manusia bukan algoritma biologis, melainkan
makhluk yang suci.
Jadi jangan heran kalau imam Katolik dan ulama bisa duduk
satu meja membahas krisis moral dunia,
sementara saudara Protestan sibuk menuduh Roma sebagai “Babel besar” lewat
video YouTube.
5. Protestan Ilmiah vs. Protestan Emosional
Ada dua jenis Protestan: yang akademis dan yang algoritmis.
Yang pertama membaca Aquinas diam-diam; yang kedua menonton khotbah
anti-Katolik dengan volume maksimal.
Yang pertama bisa berdialog; yang kedua hidup dari kebencian karena itu
satu-satunya bahan bakar teologi mereka.
Katolik tidak marah—sudah 500 tahun terbiasa disalahpahami.
Ia hanya tersenyum, menyalakan lilin, dan mendoakan semoga mereka yang membenci
Maria suatu hari menyadari bahwa Yesus sendiri lahir melalui rahimnya.
Epilog: Rumah yang Tak Pernah Tertutup
Akhirnya, hubungan Katolik-Islam dan Katolik-Protestan
memperlihatkan satu hal: kedekatan bukan selalu soal kesamaan ajaran, tapi
kesamaan sikap terhadap misteri.
Yang satu berlutut di hadapan Allah, yang lain berdiri di atas tafsirnya
sendiri.
Dan Gereja?
Ia tetap membuka pintu.
Bagi Muslim yang mencari cahaya, dan bagi Protestan yang tersesat dalam
bayang-bayang reformasi yang tak selesai.
Karena di tengah semua perdebatan itu, suara Kristus masih bergema lembut:
“Ut unum sint” — semoga mereka semua menjadi satu.
Nada allegro menuntut kita tersenyum bahkan saat
membicarakan luka. Gereja sudah terlalu tua untuk dendam, tapi masih muda untuk
terus mencintai.

0 komentar:
Posting Komentar