
Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, film dokumenter advokasi tentang tanah adat, ekologi, dan ketidakadilan struktural telah menjadi genre yang populer, terutama di kalangan kelas menengah urban yang haus akan konten moral. Film seperti Pesta Babi dipuji sebagai "alarm moral", "suara bagi yang tak bersuara", dan "karya yang membangunkan kesadaran publik". Kritik terhadap film semacam itu, jika ada, biasanya berhenti pada tuduhan yang sudah menjadi konsensus: bahwa film tersebut terlalu hitam-putih, terlalu reduktif, terlalu propagandis. Ini adalah kritik yang aman. Ia tidak mengancam siapa pun, termasuk penontonnya sendiri.
Esai ini ingin melangkah lebih jauh—ke wilayah yang tidak nyaman. Saya tidak akan bertanya apakah film itu benar atau salah dalam faktanya. Saya akan bertanya: Siapa yang diuntungkan ketika penderitaan masyarakat adat difilmkan, diedarkan, dan dikonsumsi sebagai tontonan moral? Jawabannya mungkin mengejutkan: bukan hanya masyarakat adat. Bahkan, dalam banyak hal, masyarakat adat bisa menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan—sementara pihak lain, termasuk pembuat film dan penonton, menuai keuntungan simbolik yang signifikan.
Ini adalah kritik atas ekonomi politik kemartiran. Saya akan membongkar tiga mekanisme: ekstraksi simbolik, paternalisme korban murni, dan katarsis murah. Pada akhirnya, saya akan sampai pada pertanyaan yang paling tabu: Apakah menonton film seperti ini membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, atau hanya membuat Anda merasa lebih baik?
Dalam beberapa tahun terakhir, film dokumenter advokasi tentang tanah adat, ekologi, dan ketidakadilan struktural telah menjadi genre yang populer, terutama di kalangan kelas menengah urban yang haus akan konten moral. Film seperti Pesta Babi dipuji sebagai "alarm moral", "suara bagi yang tak bersuara", dan "karya yang membangunkan kesadaran publik". Kritik terhadap film semacam itu, jika ada, biasanya berhenti pada tuduhan yang sudah menjadi konsensus: bahwa film tersebut terlalu hitam-putih, terlalu reduktif, terlalu propagandis. Ini adalah kritik yang aman. Ia tidak mengancam siapa pun, termasuk penontonnya sendiri.
Esai ini ingin melangkah lebih jauh—ke wilayah yang tidak nyaman. Saya tidak akan bertanya apakah film itu benar atau salah dalam faktanya. Saya akan bertanya: Siapa yang diuntungkan ketika penderitaan masyarakat adat difilmkan, diedarkan, dan dikonsumsi sebagai tontonan moral? Jawabannya mungkin mengejutkan: bukan hanya masyarakat adat. Bahkan, dalam banyak hal, masyarakat adat bisa menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan—sementara pihak lain, termasuk pembuat film dan penonton, menuai keuntungan simbolik yang signifikan.
Ini adalah kritik atas ekonomi politik kemartiran. Saya akan membongkar tiga mekanisme: ekstraksi simbolik, paternalisme korban murni, dan katarsis murah. Pada akhirnya, saya akan sampai pada pertanyaan yang paling tabu: Apakah menonton film seperti ini membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, atau hanya membuat Anda merasa lebih baik?
1. Ekstraksi Simbolik—Ketika Kamera Menjadi Alat Eksploitasi
1.1. Persamaan Struktural antara Ekstraksi Tanah dan Ekstraksi Citra
Kritik terhadap negara dan pengusaha selalu tajam: mereka mengekstrak nilai surplus dari tanah dan tenaga kerja masyarakat adat. Tanah diambil, hutan ditebang, sumber daya dieksploitasi. Masyarakat adat kehilangan ruang hidup, sementara negara mendapat PDB dan pengusaha mendapat keuntungan.
Tapi mari kita lihat film dokumenter advokasi dengan kacamata yang sama. Apa yang dilakukan oleh kamera? Kamera mendatangi masyarakat adat, merekam air mata mereka, merekam luka mereka, merekam kemarahan mereka. Lalu rekaman itu diedit, diberi narasi dramatis, diberi musik yang menyayat hati, dan dikemas menjadi sebuah produk. Produk ini dijual—melalui tiket bioskop, platform streaming, festival film, atau donasi yang masuk ke lembaga produksi. Pembuat film mendapatkan kapital budaya: nama mereka dikenal, mereka diundang sebagai pembicara, mereka mendapat penghargaan. Penonton mendapatkan kapital moral: mereka merasa telah "menyaksikan ketidakadilan" dan dengan demikian merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna.
Pertanyaan tabu: Apa bedanya secara struktural antara pengusaha yang mengambil tanah dan pembuat film yang mengambil citra penderitaan? Keduanya adalah bentuk ekstraksi. Keduanya mengambil sesuatu dari masyarakat adat tanpa memberi kendali penuh. Keduanya mengubah sesuatu yang bernilai (tanah; luka) menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar yang berbeda. Perbedaannya hanya pada objek yang diekstrak: material versus simbolik. Namun bagi masyarakat adat, perbedaan itu mungkin tidak terlalu berarti jika pada akhirnya nasib material mereka tidak berubah setelah film selesai diputar.
1.1. Persamaan Struktural antara Ekstraksi Tanah dan Ekstraksi Citra
Kritik terhadap negara dan pengusaha selalu tajam: mereka mengekstrak nilai surplus dari tanah dan tenaga kerja masyarakat adat. Tanah diambil, hutan ditebang, sumber daya dieksploitasi. Masyarakat adat kehilangan ruang hidup, sementara negara mendapat PDB dan pengusaha mendapat keuntungan.
Tapi mari kita lihat film dokumenter advokasi dengan kacamata yang sama. Apa yang dilakukan oleh kamera? Kamera mendatangi masyarakat adat, merekam air mata mereka, merekam luka mereka, merekam kemarahan mereka. Lalu rekaman itu diedit, diberi narasi dramatis, diberi musik yang menyayat hati, dan dikemas menjadi sebuah produk. Produk ini dijual—melalui tiket bioskop, platform streaming, festival film, atau donasi yang masuk ke lembaga produksi. Pembuat film mendapatkan kapital budaya: nama mereka dikenal, mereka diundang sebagai pembicara, mereka mendapat penghargaan. Penonton mendapatkan kapital moral: mereka merasa telah "menyaksikan ketidakadilan" dan dengan demikian merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna.
Pertanyaan tabu: Apa bedanya secara struktural antara pengusaha yang mengambil tanah dan pembuat film yang mengambil citra penderitaan? Keduanya adalah bentuk ekstraksi. Keduanya mengambil sesuatu dari masyarakat adat tanpa memberi kendali penuh. Keduanya mengubah sesuatu yang bernilai (tanah; luka) menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar yang berbeda. Perbedaannya hanya pada objek yang diekstrak: material versus simbolik. Namun bagi masyarakat adat, perbedaan itu mungkin tidak terlalu berarti jika pada akhirnya nasib material mereka tidak berubah setelah film selesai diputar.
1.2. Kontrak Tidak Seimbang: Siapa yang Memegang Kendali?
Dalam ekstraksi material, pengusaha memiliki kuasa karena modal. Dalam ekstraksi simbolik, pembuat film memiliki kuasa karena akses ke alat produksi makna. Masyarakat adat, dalam kedua kasus, berada di posisi yang lemah. Apakah mereka bisa mengedit film? Apakah mereka bisa memveto adegan yang membuat mereka malu atau rentan secara politis? Apakah mereka mendapat bagi hasil dari tiket bioskop? Apakah mereka bisa mengubah narasi jika mereka merasa direpresentasikan secara tidak adil?
Jawabannya hampir selalu: tidak. Masyarakat adat adalah objek yang difilmkan, bukan subjek yang memproduksi film. Mereka diundang untuk "bercerita", tetapi cerita itu kemudian diambil alih, diedit, dan dibingkai oleh logika naratif yang berasal dari luar komunitas mereka. Dalam banyak kasus, mereka baru melihat hasil akhirnya setelah film tayang—dan pada saat itu, tidak ada yang bisa diubah.
Inilah bentuk kekerasan simbolik yang halus: masyarakat adat dieksploitasi dua kali. Pertama oleh negara dan pengusaha yang mengambil tanah mereka. Kedua oleh pembuat film dan penonton yang mengambil citra penderitaan mereka. Yang pertama bersifat fisik, yang kedua bersifat simbolik. Namun keduanya sama-sama mengambil tanpa memberi kendali. Dan ironisnya, yang kedua sering kali dibungkus dengan bahasa "pembelaan" dan "solidaritas", sehingga lebih sulit dikritik.
2. Paternalisme Korban Murni—Penghapusan Agen Moral
2.1. Mengapa Film Membutuhkan Korban yang Sempurna?
Film dokumenter advokasi tidak bisa berjalan tanpa figur korban yang layak dikasihani. Korban itu harus murni: tidak boleh bersalah, tidak boleh korup, tidak boleh membuat keputusan yang keliru, tidak boleh memiliki konflik internal dengan sesama masyarakat adat. Mengapa? Karena begitu korban memiliki kompleksitas moral, narasi hitam-putih akan runtuh. Penonton akan mulai bertanya: "Apakah mereka juga bersalah? Apakah mereka juga melakukan kesalahan?" Dan pertanyaan itu akan mengganggu efek emosional yang ingin dicapai.
Oleh karena itu, film seperti Pesta Babi secara sistematis menghilangkan agensi moral masyarakat adat. Mereka hanya boleh menjadi penerima penderitaan, bukan pelaku tindakan yang kontroversial. Mereka hanya boleh menangis, bukan marah secara salah arah. Mereka hanya boleh menjadi objek, bukan subjek yang kompleks.
2.2. Penghinaan Terselubung: Korban yang Tidak Mampu Berbuat Salah
Ini adalah bentuk paternalisme yang paling halus sekaligus paling destruktif. Dengan menyembunyikan semua aspek masyarakat adat yang tidak sesuai dengan narasi korban murni, film secara implisit mengatakan: "Mereka terlalu lemah untuk dihakimi. Mereka hanya layak dikasihani, tidak layak dihormati sebagai mitra diskusi yang kritis."
Padahal, masyarakat adat yang sesungguhnya memiliki agensi penuh. Mereka bisa mengambil keputusan yang salah. Mereka bisa bersekutu dengan pengusaha tertentu. Mereka bisa memiliki hierarki internal yang tidak adil. Mereka bisa korup. Mereka bisa menjadi pelaku kekerasan terhadap kelompok lain. Dengan kata lain, mereka adalah manusia biasa, bukan dewa-dewi kesucian. Dan justru dalam kemanusiaan biasa itulah martabat mereka terletak: mereka setara secara moral dengan siapa pun, termasuk penonton kelas menengah urban.
Dengan menyembunyikan kompleksitas itu, film justru merendahkan masyarakat adat. Ia mengatakan: "Kamu tidak cukup dewasa untuk ditampilkan apa adanya. Kamu perlu dilindungi dari sorotan kritis. Kami dari kota akan memutuskan representasi mana yang baik untukmu." Ini adalah kolonialisme advokasi versi baru: orang kota yang berpendidikan tinggi menentukan narasi tentang orang desa yang "primitif" namun "suci".
2.3. Masyarakat Adat sebagai Alat, Bukan Tujuan
Lebih jauh lagi, dalam logika industri penderitaan, masyarakat adat bukanlah tujuan dari film—mereka adalah alat. Alat untuk membangkitkan emosi penonton. Alat untuk membangun reputasi sineas. Alat untuk menggalang donasi. Alat untuk memenangkan penghargaan di festival film. Buktinya: setelah film selesai dan penghargaan diterima, apakah ada perubahan struktural yang sungguh-sungguh terjadi di tanah adat? Seringkali tidak. Yang terjadi adalah: masyarakat adat tetap dalam penderitaan yang sama, sementara pembuat film naik panggung, penonton pulang dengan perasaan lega, dan semua orang melanjutkan hidup.
Inilah kekejaman yang paling tersembunyi: penderitaan difilmkan agar bisa diabaikan dengan lebih nyaman. Karena setelah difilmkan, penderitaan itu menjadi "sudah diketahui publik", menjadi "sudah disuarakan", menjadi "sudah mendapatkan perhatian". Dan dengan status itu, tuntutan untuk bertindak secara konkret menjadi berkurang, bukan bertambah.
3. Katarsis Murah—Mengapa Penonton Adalah Konsumen Moral
3.1. Perasaan sebagai Pengganti Aksi
Penonton film dokumenter advokasi, terutama di kalangan kelas menengah urban, adalah konsumen moral yang ulung. Mereka membeli tiket, duduk di kursi bioskop yang nyaman, menonton penderitaan orang lain dari jarak aman, menangis di bagian yang menyayat hati, merasa marah pada pemerintah dan pengusaha, lalu bertepuk tangan saat film usai. Kemudian mereka pulang, menulis status di media sosial, membagikan poster film, dan merasa telah "melakukan sesuatu".
Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Mereka mengonsumsi penderitaan sebagai komoditas. Sama seperti mereka mengonsumsi kopi atau pakaian, mereka mengonsumsi air mata masyarakat adat untuk memenuhi kebutuhan afektif mereka: kebutuhan untuk merasa peduli, kebutuhan untuk merasa berada di pihak yang benar, kebutuhan untuk merasa berbeda dari "mereka yang tidak peduli".
Inilah yang saya sebut katarsis murah. Dalam tragedi Yunani kuno, katarsis adalah pembersihan emosi yang diikuti oleh tindakan—penonton dibersihkan agar bisa kembali ke polis dengan kesadaran baru. Dalam film dokumenter modern, katarsis justru menjadi pengganti tindakan. Setelah menangis, penonton merasa cukup. Mereka tidak perlu lagi turun ke jalan, tidak perlu lagi mengadvokasi perubahan UU, tidak perlu lagi mengubah gaya hidup mereka. Cukup dengan menonton dan merasa, mereka sudah menyelesaikan "kewajiban moral" mereka.
3.2. Negara dan Kapital Tidak Takut pada Air Mata
Ini adalah kebenaran yang paling pahit: negara dan pengusaha tidak takut pada film seperti Pesta Babi. Mereka tidak takut pada air mata penonton di bioskop. Mereka tidak takut pada status media sosial yang marah. Mereka tidak takut pada petisi online yang ditandatangani ribuan orang. Mengapa? Karena semua itu tidak mengancam profit mereka.
Yang ditakuti oleh negara dan pengusaha adalah: pemogokan massal, pemboikotan ekonomi yang terorganisir, tekanan hukum yang berhasil, perubahan regulasi yang sungguh-sungguh mengikat, dan aksi langsung yang mengganggu rantai pasok mereka. Film dokumenter advokasi, dengan segala intensitas emosionalnya, tidak menghasilkan hal-hal itu. Ia hanya menghasilkan perasaan. Dan perasaan, selama tidak diterjemahkan ke dalam kekuatan kolektif yang terorganisir, adalah aman—bahkan berguna bagi status quo.
Seorang pejabat negara yang sinis mungkin berkata: "Biarkan mereka menonton film dan marah-marah di media sosial. Besok mereka tetap membayar pajak dan tetap tidak ikut demo." Seorang pengusaha yang sinis mungkin berkata: "Biarkan mereka merasa peduli. Produk kita tetap laku." Film seperti Pesta Babi adalah katup pengaman revolusi: ia memberi ruang bagi emosi publik untuk dilepaskan dengan cara yang tidak mengancam struktur kekuasaan.
3.3. Penonton sebagai Munafik: Antara Air Mata dan Gaya Hidup
Ujian terakhir untuk penonton: Apakah Anda bersedia kehilangan kenyamanan? Apakah Anda bersedia membayar pajak lebih tinggi untuk redistribusi tanah? Apakah Anda bersedia mendukung kebijakan yang membatasi investasi demi perlindungan ekologis—meskipun itu berarti harga barang naik? Apakah Anda bersedia memboikot produk-produk perusahaan yang terlibat dalam konflik agraria? Apakah Anda bersedia turun ke jalan dan berhadapan dengan aparat?
Jika jawabannya tidak, maka air mata Anda untuk masyarakat adat adalah air mata palsu. Anda tidak benar-benar peduli; Anda hanya ingin merasa peduli. Dan film dokumenter advokasi adalah industri yang melayani kebutuhan Anda akan perasaan itu. Anda membayar untuk merasa menjadi orang baik. Dan setelah merasa cukup, Anda kembali ke hidup Anda yang nyaman, tanpa perubahan apa pun.
4. Personalisme Radikal—Kritik yang Berbalik ke Diri Sendiri
4.1. Tidak Ada yang Bebas dari Kritik
Personalisme yang konsisten tidak berhenti mengkritik pemerintah dan pengusaha. Ia juga mengkritik pembuat film, aktivis, dan penonton—termasuk saya yang menulis esai ini, dan Anda yang membacanya. Setiap pribadi memiliki tanggung jawab moral yang tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Oleh karena itu, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut, dan saya menuntut jawaban yang jujur—bukan dari orang lain, tetapi dari diri sendiri:
Kepada pembuat film: Apakah Anda memberi masyarakat adat kendali penuh atas representasi mereka? Apakah mereka bisa mengedit? Apakah mereka bisa memveto? Apakah Anda membagi keuntungan finansial? Jika tidak, apakah Anda berbeda secara moral dari pengusaha yang mengekstrak tanah mereka?
Kepada aktivis yang menggunakan film sebagai alat advokasi: Apakah Anda mengubah tontonan menjadi organisasi? Apakah Anda membangun kekuatan kolektif, atau hanya menggalang donasi dan tanda tangan petisi? Apakah Anda lebih sibuk membuat konten atau membangun basis?
Kepada penonton: Apakah Anda mengubah cara Anda mengonsumsi, bekerja, dan berpolitik setelah menonton film? Apakah Anda mengurangi jejak ekologis Anda? Apakah Anda mendukung kandidat politik yang sungguh-sungguh pro-rakyat? Apakah Anda bersedia keluar dari zona nyaman? Jika tidak, apa bedanya Anda dengan mereka yang tidak menonton film sama sekali?
Dan kepada diri saya sendiri: Apakah esai ini juga merupakan bentuk ekstraksi simbolik? Apakah saya menulis tentang penderitaan orang lain untuk membangun reputasi saya sebagai kritikus yang tajam? Apakah saya juga mengambil keuntungan dari luka masyarakat adat dengan menjadikannya bahan tulisan? Apakah saya juga hanya menghasilkan katarsis murah bagi pembaca yang merasa puas setelah membaca kritik ini tanpa mengubah apa pun?
Tidak ada jawaban yang mudah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini harus tetap diajukan, karena tanpa pertanyaan itu, kritik kita hanya menjadi gaya bicara belaka—tanpa konsekuensi, tanpa transformasi.
Kesimpulan: Dari Menonton ke Bertindak
Esai ini tidak bertujuan melarang orang menonton film dokumenter advokasi. Ia juga tidak bertujuan merendahkan niat baik para pembuat film yang mungkin sungguh-sungguh peduli. Tujuan esai ini adalah memecah ilusi bahwa menonton setara dengan bertindak, bahwa merasa setara dengan mengubah, bahwa mengonsumsi penderitaan sebagai tontonan sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang berpihak.
Kebenaran yang tidak nyaman adalah: tidak ada katarsis yang membebaskan tanpa pengorbanan nyata. Jika Anda tidak kehilangan sesuatu—waktu, uang, kenyamanan, hubungan, keamanan—maka Anda belum bertindak. Anda hanya menonton. Dan menonton, betapa pun intensnya secara emosional, tetaplah menonton.
Film seperti Pesta Babi bisa menjadi pintu masuk. Tapi pintu masuk bukanlah tujuan. Jika setelah menonton Anda hanya pulang dan melanjutkan hidup, maka Anda adalah bagian dari masalah yang sama yang Anda kutuk dalam film. Anda mengkonsumsi penderitaan seperti komoditas. Anda adalah konsumen moral, bukan agen perubahan.
Kritik terhadap film dokumenter advokasi harus berakhir pada pertanyaan yang paling pribadi, paling tidak nyaman, paling tidak bisa dijawab dengan retorika: Apa yang telah Anda korbankan untuk keadilan yang Anda klaim bela? Jika jawabannya "tidak ada" atau "hampir tidak ada", maka mulailah dari sana. Karena keadilan tidak lahir dari kursi bioskop. Ia lahir dari jalanan yang panas, dari ruang sidang yang melelahkan, dari boikot yang merugikan, dari politik yang kotor, dan dari hidup yang sungguh-sungguh dipertaruhkan.
Atau, dengan kata yang lebih singkat: Berhentilah menonton penderitaan. Mulailah menderita bersama mereka. Hanya dengan begitu kata "solidaritas" tidak lagi menjadi omong kosong.
Bacaan:
Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press, 1994.
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Continuum, 1970.
Han, Byung-Chul. The Transparency Society. Stanford University Press, 2015.
Mounier, Emmanuel. Personalism. University of Notre Dame Press, 1952.
Spivak, Gayatri Chakravorty. "Can the Subaltern Speak?" dalam Marxism and the Interpretation of Culture, Macmillan, 1988.
Catatan akhir: Esai ini sengaja ditulis dengan nada yang mengganggu, bahkan ofensif bagi sebagian pembaca. Itu disengaja. Karena jika Anda merasa nyaman membaca esai tentang penderitaan orang lain, ada yang salah dengan cara Anda membaca. Ketidaknyamanan adalah awal dari transformasi. Selamat tidak nyaman.
0 komentar:
Posting Komentar