Ketika Om Sius Berfilsafat dengan Metafisika Datar
Om Sius membuka panggung dengan suara yang sangat percaya
diri. Ia datang bukan sekadar membawa Alkitab, tetapi juga membawa metafisika,
epistemologi, aksiologi, Aristoteles, Aquinas, Plato, Van Til, bahkan sesekali
aroma ruang kuliah filsafat yang dipaksakan masuk ke studio YouTube. Ia merasa
sedang melakukan operasi intelektual terhadap “kanker” Katolik. Ia menyebut
Mariologi sebagai “dongeng”, “nonsense”, “bullshit”, “unintelligible”, dan
“tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis”.
Masalahnya, setelah pisau bedahnya diperiksa, ternyata yang
ia pegang bukan pisau metafisika klasik. Itu lebih mirip cutter biblicism
modern: tajam untuk mengiris permukaan, tetapi terlalu pendek untuk membedah
organisme hidup Tradisi.
Om Sius tidak kekurangan kata filsafat. Ia kekurangan
kedalaman ontologis.
Ia menyebut metafisika, tetapi metafisikanya datar. Ia
menyebut epistemologi, tetapi epistemologinya sudah dikunci oleh sola scriptura
Reformed. Ia menyebut “intelligible” dan “unintelligible”, tetapi dalam
praktiknya yang ia maksud sederhana saja: yang cocok dengan sistemnya disebut
rasional; yang tidak cocok disebut dongeng.
Begitulah cara kerja pengadilan kecil yang mengira dirinya
mahkamah universal.
1. Om Sius Tidak Mulai dari Nol
Hal pertama yang harus ditegaskan: Om Sius tidak memulai
pembicaraan dari titik netral. Ia tidak datang sebagai pengamat kosong yang
hanya bertanya dengan polos, “apa benar ajaran Katolik?” Ia datang membawa satu
paket lengkap: sola scriptura, presuposisi Reformed, kecurigaan terhadap
Tradisi, dan metode Van Tilian.
Ia sendiri mengatakan bahwa ia memakai metode Van Tilian. Ia
juga menjelaskan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi yang menilai filsafat,
teologi, iman, praktik, dan segala sesuatu. Baik. Itu jujur. Tetapi
konsekuensinya juga harus jujur: ia tidak sedang menilai Katolik dari tempat
netral. Ia sedang mengadili Katolik dari kursi hakim Reformed.
Maka ketika ia berkata, “mana dasar Alkitabnya?”, pertanyaan
itu bukan pertanyaan polos. Itu pertanyaan yang sudah mengandung eklesiologi
Protestan. Itu bukan sekadar pertanyaan metodologis. Itu sudah merupakan vonis
awal.
Katolik tidak pernah berkata bahwa iman apostolik hanya
hidup dalam teks Kitab Suci yang berdiri sendiri seperti dokumen yatim piatu.
Katolik mengimani Kitab Suci dalam Tradisi hidup Gereja, dibaca dalam liturgi,
dijaga Magisterium, dan dihayati oleh sensus fidelium. Om Sius menolak kerangka
itu, lalu menyebut hasil bacaan Katolik sebagai “dongeng”.
Ini seperti orang menolak peta, kompas, dan sejarah
perjalanan, lalu mengejek peziarah karena tidak sampai di tujuan menurut rute
Google Maps pribadinya.
2. Fallacy Pertama: False Dilemma antara Ayat Eksplisit
dan Dongeng
Pola dasar Om Sius sangat mudah dikenali:
Kalau tidak ada ayat eksplisit tentang Maria Assumpta, maka
itu dongeng.
Ini tampak sederhana. Justru terlalu sederhana. Di situlah
masalahnya.
Ia menciptakan pilihan palsu: antara eksplisit dalam Alkitab
atau dongeng. Padahal dalam teologi Katolik ada kategori lain: doktrin dapat
dikenali melalui harmoni Kitab Suci, Tradisi Apostolik, liturgi, sensus
fidelium, refleksi teologis, dan keputusan Magisterium.
Tetapi kategori ini sejak awal tidak diberi tempat oleh Om
Sius. Bukan karena kategori itu sudah dibantah, tetapi karena sejak awal ia
tidak mengakui yurisdiksinya. Maka yang terjadi bukan debat antara dua argumen,
melainkan satu sistem sedang memaksa sistem lain memakai paspornya.
Yang lebih lucu, Om Sius sendiri mengakui bahwa tidak semua
ajaran harus tertulis secara literal. Ia mengatakan ada doktrin yang diperoleh
by implication, seperti Trinitas dan dua kodrat Kristus. Nah, di sini pintu
belakang mulai terbuka.
Untuk Trinitas, implikasi boleh.
Untuk dua kodrat Kristus, sintesis boleh.
Untuk doktrin Reformed, inferensi boleh.
Tetapi untuk Assumptio Mariae, tiba-tiba harus ada narasi
eksplisit: “Maria diangkat ke surga.”
Ini bukan metodologi. Ini bea cukai doktrinal. Barang milik
sendiri lewat jalur hijau. Barang Katolik dibongkar sampai baut terakhir.
Kalau pola ini diterapkan secara konsisten, Om Sius akan
kesulitan dengan banyak hal yang ia sendiri pertahankan. Mana ayat yang
berbunyi: “Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi”? Mana ayat yang
menyajikan daftar 27 kitab Perjanjian Baru? Mana ayat yang menyatakan sola
scriptura sebagai satu-satunya otoritas final iman?
Kalau jawaban Protestan adalah “itu disimpulkan dari
keseluruhan Kitab Suci”, maka jangan marah kalau Katolik berkata: dogma juga
dapat dikenali dalam harmoni wahyu yang hidup dalam Gereja.
3. Fallacy Kedua: Special Pleading tentang “Semua Manusia
Berdosa”
Om Sius memakai silogisme yang ia kira tidak mungkin runtuh:
Semua manusia berdosa.
Maria manusia.
Maka Maria berdosa.
Rapi. Sederhana. Cocok untuk papan tulis kelas logika dasar.
Tetapi logika dasar sering menjadi berbahaya ketika dipakai
untuk misteri rahmat tanpa metafisika yang memadai.
Om Sius sendiri menerima satu pengecualian: Yesus Kristus.
Ia berkata Kristus adalah manusia sejati, tetapi unik karena pribadi-Nya adalah
Logos dan kodrat manusia-Nya bersatu dengan kodrat ilahi. Maka Kristus tidak
berdosa.
Baik. Jadi ternyata proposisi “semua manusia berdosa” tidak
dipakai sebagai universal absolut tanpa pengecualian. Ada pengecualian.
Persoalannya menjadi: siapa yang boleh menjadi pengecualian dan atas dasar apa?
Di sinilah special pleading bekerja. // Special pleading
adalah sesat pikir ketika seseorang membuat aturan umum, tetapi memberi
pengecualian khusus untuk posisinya sendiri tanpa alasan yang setara atau
konsisten.
Pengecualian Kristus diterima karena sistem Reformed
membutuhkannya. Tetapi ketika Katolik berbicara tentang Maria sebagai penerima
rahmat preventif Kristus, Om Sius langsung menolak. Padahal Katolik tidak
mengatakan Maria tanpa dosa oleh kekuatan dirinya sendiri. Katolik mengatakan
Maria diselamatkan oleh Kristus secara lebih luhur: bukan dibersihkan setelah
jatuh, tetapi dicegah dari jatuh oleh rahmat Kristus.
Jadi persoalannya bukan: apakah Maria menyelamatkan dirinya
sendiri? Tidak.
Persoalannya adalah: apakah Allah dapat menerapkan buah
penebusan Kristus secara preventif kepada Maria?
Dalam metafisika Katolik, jawabannya: dapat.
Dalam metafisika datar Om Sius, jawabannya: tidak boleh,
karena sistemnya tidak mengizinkan. Maka ia menyebutnya “dongeng”.
Begitulah cara murah mengalahkan lawan: kunci pintu, lalu
tertawakan orang yang tidak bisa masuk.
4. Fallacy Ketiga: Straw Man atas Immaculata
Salah satu reductio favorit Om Sius berbunyi begini: kalau
Maria harus dikandung tanpa dosa supaya Yesus kudus, mengapa bukan ibu Maria?
Mengapa bukan nenek Maria? Mengapa bukan Adam dan Hawa saja?
Terdengar tajam. Padahal sasarannya salah.
Katolik tidak mengajarkan bahwa Yesus membutuhkan rantai
biologis steril supaya tidak “tertular” dosa dari Maria. Dosa asal bukan virus
genetik yang menempel di darah seperti penyakit laboratorium. Immaculata bukan
teori sterilisasi biologis garis keturunan Yesus.
Immaculata adalah privilese rahmat. Maria dipersiapkan oleh
Allah karena perannya yang unik sebagai Theotokos, Bunda Sang Logos yang
menjelma. Ini bukan soal Allah terpaksa melakukan sesuatu karena kebutuhan
mekanis. Ini soal kepantasan teologis dalam tata rahmat.
Om Sius mengubah argumen Katolik dari:
Allah secara bebas mempersiapkan Maria oleh rahmat Kristus
karena misi uniknya dalam sejarah keselamatan,
menjadi:
Allah wajib membersihkan Maria secara biologis supaya Yesus
tidak terkena dosa.
Setelah itu, ia menyerang versi kedua. Ia menang melawan
boneka jerami yang ia buat sendiri. Tepuk tangan boleh, tetapi kemenangan itu
terjadi di panggung yang ia bangun sendiri, bukan di arena doktrin Katolik yang
sebenarnya.
Ini bukan reductio ad absurdum. Ini reductio ad karikaturam.
5. Fallacy Keempat: Category Mistake terhadap Dogma
Om Sius sangat bersemangat ketika membahas makam Maria. Ia
bertanya: bagaimana arkeologi membuktikan bahwa dua makam itu benar makam
Maria? Mengapa ada dua makam? Kalau tidak ada jenazah, bisa saja jenazahnya
dipindahkan. Bisa saja makam aslinya di tempat lain. Bisa saja dua makam itu
bukan makam Maria.
Sebagai kritik terhadap argumen arkeologis yang berdiri
sendirian, beberapa poin ini memang sah. Tidak ada orang waras yang mengatakan
bahwa absennya jenazah di dua lokasi otomatis, sendirian, dan secara matematis
membuktikan Assumptio.
Tetapi di situlah letak masalahnya: dogma Assumptio tidak
pernah didefinisikan Gereja sebagai kesimpulan arkeologis dari dua makam
kosong.
Assumptio adalah dogma iman. Ia berdiri dalam horizon
Tradisi Gereja, liturgi, sensus fidelium, refleksi teologis tentang Maria,
relasi Maria dengan Kristus, dan eskatologi tubuh. Argumen historis atau
arkeologis dapat menjadi konteks pendukung, tetapi bukan fondasi tunggal.
Om Sius melakukan category mistake. Ia memperlakukan dogma
iman sebagai tesis forensik. Ia memperlakukan Tradisi sebagai rumor. Ia
memperlakukan liturgi sebagai dekorasi. Ia memperlakukan sensus fidelium
sebagai emosi kolektif. Ia memperlakukan misteri sebagai laporan polisi.
Hasilnya mudah ditebak: dogma Katolik tampak lemah karena
dipaksa hadir di pengadilan yang salah.
Ini seperti menguji puisi dengan timbangan beras. Kalau
tidak keluar angka kilogram, lalu disimpulkan puisi itu tidak ada.
6. Fallacy Kelima: Poisoning the Well
Om Sius bukan hanya berargumen. Ia memberi racun pada sumur
sebelum orang minum.
Sejak awal ia memakai kata-kata seperti “dongeng”,
“nonsense”, “bullshit”, “omong kosong”, “tidak akademis”, “tidak rasional”,
“tidak ilmiah”. Ini bukan sekadar bumbu retorik. Ini teknik pengondisian emosi.
Sebelum pendengar menilai argumen Katolik, mereka sudah
diberi tahu bahwa ajaran itu bodoh. Sebelum Tradisi Katolik diperiksa, ia sudah
disebut dongeng. Sebelum simbol Katolik dipahami, ia sudah dicurigai sebagai
hampir berhala.
Ini efektif untuk panggung apologetika. Tetapi secara
akademik, ini murahan.
Kalau suatu argumen kuat, ia tidak perlu terlebih dahulu
menurunkan martabat lawannya menjadi “dongeng”. Ia cukup menunjukkan struktur
salahnya. Tetapi Om Sius berkali-kali perlu menyebut “dongeng”, seolah-olah
kata itu adalah palu yang bisa menggantikan pembuktian.
Kadang orang mengulang satu label bukan karena ia sudah
membuktikan sesuatu, tetapi karena ia ingin pendengar lupa bahwa pembuktiannya
belum selesai.
7. Fallacy Keenam: Equivocation tentang Simbol
Om Sius berkata bahwa simbol itu penting kalau ada esensi
penting di baliknya. Ia menerima baptisan dan perjamuan kudus sebagai simbol.
Ia menerima pernikahan sebagai simbol hubungan Kristus dan Gereja. Tetapi ia
menolak patung Maria, cium patung, dan devosi Katolik karena menurutnya tidak
ada esensi penting di baliknya.
Di sinilah masalahnya: ia memakai kata “simbol” dalam
pengertian yang terlalu sempit.
Dalam kerangka Protestan minimalis, simbol sering dipahami
sebagai penunjuk eksternal, pengingat, atau representasi mental. Tetapi dalam
metafisika Katolik, tanda religius tidak bekerja hanya sebagai label. Tanda
dapat mengarahkan jiwa, membentuk afeksi, mendidik tubuh, menghubungkan memori
Gereja, dan secara analogis membuka partisipasi pada realitas yang ditandakan.
Patung bukan Allah. Ciuman bukan penyembahan. Berlutut tidak
otomatis latria. Dalam teologi Katolik, makna tindakan ditentukan oleh objek
formal, intensi, konteks liturgis, dan distingsi antara latria, dulia, serta
hyperdulia.
Tetapi metafisika datar Om Sius berhenti pada permukaan.
Ia melihat patung, lalu berkata: benda.
Ia melihat ciuman, lalu bertanya: untuk apa?
Ia melihat lutut bertekuk, lalu mencium aroma berhala.
Itu bukan kedalaman metafisika. Itu kepanikan ikonoklastik
yang diberi jas filsafat.
Seorang anak mencium foto ibunya bukan karena ia menyembah
kertas. Seorang prajurit mencium bendera bukan karena ia menyembah kain.
Seorang Katolik mencium salib bukan karena ia menyembah kayu. Simbol tidak
berhenti pada materialitasnya. Simbol hidup dalam relasi intensional.
Tetapi di dunia Om Sius, cincin kawin mungkin hanya logam,
air mata hanya cairan, dan kaca patri hanya pasir yang diolah.
Itulah metafisika datar: dunia kehilangan kedalaman, lalu
merasa telah menjadi rasional.
8. Metafisika Datar: Nama Asli dari Masalahnya
Sekarang kita masuk ke pusat perkara.
Metafisika datar adalah cara membaca iman tanpa partisipasi,
tanpa analogi, tanpa sakramentalitas, tanpa hierarki makna, tanpa tubuh mistik
Gereja.
Dalam metafisika datar:
Patung hanya benda.
Ciuman hanya gestur.
Tradisi hanya tambahan sejarah.
Dogma hanya proposisi yang harus punya ayat eksplisit.
Gereja hanya komunitas pembaca Alkitab.
Maria hanya manusia biasa yang harus masuk kategori “semua manusia berdosa”.
Liturgi hanya ekspresi manusia.
Sensus fidelium hanya perasaan kolektif.
Magisterium hanya klaim kekuasaan.
Metafisika Katolik berbeda. Ia bersifat inkarnasional,
analogis, partisipatif, dan sakramental.
Katolik percaya bahwa Allah tidak takut menyentuh materi.
Sabda menjadi daging. Air menjadi tanda kelahiran baru. Roti menjadi Tubuh
Kristus. Anggur menjadi Darah Kristus. Minyak menjadi tanda pengurapan. Tangan
rasul menyalurkan pelayanan. Tubuh para martir menjadi saksi. Ikon mengarahkan
mata kepada realitas surgawi. Maria menjadi rahim tempat Sang Logos mengambil
daging.
Dalam dunia Katolik, materi tidak otomatis menjadi ancaman.
Materi dapat menjadi jalan.
Dalam dunia Om Sius, terlalu banyak mediasi segera
dicurigai.
Itulah sebabnya Mariologi terasa berbahaya bagi Reformed.
Bukan karena Maria menutupi Kristus, tetapi karena Maria membongkar sempitnya
teologi yang takut pada partisipasi. Maria menunjukkan bahwa rahmat tidak hanya
mendeklarasikan manusia benar dari luar, tetapi juga mengubah, mempersiapkan,
menguduskan, dan memuliakan manusia dari dalam.
Maria adalah skandal bagi metafisika datar karena dalam
dirinya tubuh, rahmat, sejarah, keibuan, Gereja, dan eskatologi bertemu.
Om Sius ingin semua itu turun menjadi pertanyaan: “mana
ayatnya?”
Pertanyaan itu penting. Tetapi kalau hanya itu yang
dimiliki, orang akan masuk katedral dengan meteran tukang dan menyimpulkan
bahwa cahaya kaca patri tidak berguna karena tidak bisa dipakai mengukur
panjang bangku.
9. Om Sius dan Pisau Ateis yang Dipinjam
Ada ironi yang perlu disebut dengan dingin.
Om Sius bukan ateis. Ia percaya Kristus, Alkitab, Trinitas,
dan doktrin Reformed. Tetapi ketika menyerang Katolik, pola argumentasinya
sering mirip dengan pola ateis ketika menyerang Kekristenan.
Ateis berkata: agama itu dongeng.
Om Sius berkata: Assumptio itu dongeng.
Ateis berkata: mukjizat itu nonsense.
Om Sius berkata: Immaculata itu nonsense.
Ateis berkata: tidak ada bukti empiris.
Om Sius berkata: tidak ada bukti Alkitab eksplisit.
Ateis berkata: Gereja mengarang dogma.
Om Sius berkata: Roma membangun dongeng Mariologi.
Ateis berkata: roti Ekaristi hanya roti.
Om Sius berkata: patung hanya benda, cium patung itu untuk apa?
Sekali lagi, ini bukan menyamakan iman Om Sius dengan
ateisme. Itu tidak adil. Tetapi pola reduksinya serupa. Yang tidak cocok dengan
tribunal sendiri dianggap tidak rasional. Yang tidak lolos dari standar
pembuktian sendiri disebut dongeng. Yang tidak muat di dalam sistem sendiri
disebut unintelligible.
Ateis memakai positivisme sekuler. Om Sius memakai
positivisme biblis. Bedanya ada pada kitab sucinya, tetapi struktur
penyempitannya mirip.
Pisau yang ia pakai untuk mengiris Mariologi Katolik adalah
pisau yang sama yang sering dipakai ateis untuk mengiris Kekristenan: “mana
bukti?”, “mana eksplisitnya?”, “itu konstruksi komunitas”, “itu mitos”, “itu
tidak rasional”.
Hari ini pisau itu diarahkan kepada Maria. Besok, jika
dipegang orang lain, pisau itu bisa diarahkan kepada Trinitas, Inkarnasi,
Kebangkitan, bahkan kanon Kitab Suci.
Karena itu Om Sius harus berhati-hati. Tidak semua senjata
yang tampak tajam aman dipakai di rumah sendiri.
10. Mengapa Reformed Menolak Mariologi?
Pada titik ini kita melihat alasan terdalam mengapa teologi
Reformed menolak Mariologi Katolik. Bukan pertama-tama karena Maria. Maria
hanya titik padat dari seluruh Katolisisme.
Dalam Maria, Reformed berhadapan dengan semua hal yang tidak
disukainya:
Tradisi yang tidak bisa direduksi menjadi biblicism.
Rahmat yang tidak hanya forensik, tetapi transformatif.
Tubuh yang tidak dianggap gangguan, tetapi medan keselamatan.
Simbol yang bukan sekadar label, tetapi jendela analogis.
Gereja yang bukan sekadar komunitas pembaca Alkitab, tetapi tubuh mistik
Kristus.
Kekudusan yang bukan hanya status hukum, tetapi partisipasi nyata dalam
kehidupan Allah.
Maria ditolak karena terlalu Katolik.
Ia membawa rahim Gereja, logika Inkarnasi, metafisika
partisipasi, dan sakramentalitas rahmat. Ia bukan pesaing Kristus. Ia adalah
buah paling indah dari karya Kristus.
Tetapi dalam pola pikir kompetitif Reformed, kemuliaan Maria
tampak mengurangi kemuliaan Kristus. Padahal dalam metafisika Katolik,
kemuliaan para kudus adalah pantulan kemuliaan Kristus. Matahari tidak menjadi
miskin karena jendela memantulkan cahaya.
11. Masalah Om Sius Bukan Kurang Cerdas, Tetapi Kurang
Dalam
Harus adil: Om Sius bukan orang bodoh. Ia mampu menyusun
argumen, memainkan retorika, mengutip nama filsuf, dan membangun tekanan
apologetik. Ia tahu cara membuat pendengar merasa bahwa Katolik sedang
dipermalukan.
Tetapi kecerdasan logis belum tentu sama dengan kedalaman
metafisik.
Ia bisa bertanya “apa esensinya?”, tetapi gagal membaca
forma tindakan devosional.
Ia bisa menyebut epistemologi, tetapi tidak sadar bahwa presuposisi
Reformed-nya sendiri sedang bekerja.
Ia bisa mengkritik data historis, tetapi memperlakukan dogma sebagai hipotesis
arkeologis.
Ia bisa menyebut simbol, tetapi memahaminya sebagai label datar.
Ia bisa berkata “Alkitab menghakimi segala sesuatu”, tetapi tidak menjelaskan
bagaimana prinsip itu sendiri dibuktikan tanpa Tradisi atau lingkaran
hermeneutis.
Ia tidak kekurangan keberanian. Ia kekurangan arsitektur.
Yang ia sebut “nonsense” sering kali bukan tidak masuk akal
pada dirinya. Itu hanya tidak masuk ke dalam ruangan sempit yang ia bangun
sendiri.
12. Penutup: Senter Reformed di Dalam Katedral Katolik
Om Sius merasa sedang membongkar dongeng Katolik. Padahal
yang terbongkar adalah metafisika datarnya sendiri.
Ia melihat patung, tetapi tidak melihat tanda.
Ia melihat ciuman, tetapi tidak melihat kasih.
Ia melihat Maria, tetapi tidak melihat Gereja.
Ia melihat dogma, tetapi tidak melihat pertumbuhan organik wahyu.
Ia melihat Tradisi, tetapi tidak melihat memori hidup tubuh Kristus.
Ia melihat simbol, tetapi tidak melihat cahaya.
Ia masuk ke dalam katedral Katolik dengan senter Reformed
kecil di tangan. Lalu ketika senter itu tidak mampu menerangi lengkungan gotik,
kaca patri, altar, ikon, dupa, dan kedalaman ruang, ia menyimpulkan bahwa
bangunan itu gelap.
Bukan katedralnya yang gelap, Om Sius.
Sentermu terlalu kecil.
Dan mungkin, sebelum menyebut seluruh Mariologi sebagai
“dongeng”, perlu diperiksa dulu jangan-jangan yang dongeng adalah klaim bahwa
metode Reformed-mu netral, universal, dan cukup untuk mengadili seluruh
kekayaan iman apostolik.
Sebab kadang yang paling sulit dilihat bukan kesalahan
lawan.
Yang paling sulit dilihat adalah datarnya lantai tempat kita
berdiri.




