Seorang biarawan Augustinian yang kalah bergulat dengan nurani, lalu mengubah krisis pribadi menjadi doktrin universal. Dari sel biara ke Eropa—efek domino tak terkendali.
Disputation on the Power and Efficacy of Indulgences (95 Tesis, 1517)
Isi kerasnya: indulgensi diserang.
Roasting: Luther benar soal korupsi praktik, tapi keliru menyimpulkan sistemnya. Seperti melihat dokter palsu lalu menyimpulkan bahwa kedokteran itu sendiri sesat. Masalah disiplin diubah jadi krisis ontologi Gereja.
Address to the Christian Nobility of the German Nation
Isi kerasnya: Paus tidak istimewa, semua orang Kristen setara.
Roasting: ini teologi versi pamflet politik. Ketika argumen kalah di Roma, Luther pindah panggung ke bangsawan Jerman. Gereja diseret ke meja parlemen. Sakramen kalah oleh suara mayoritas.
The Babylonian Captivity of the Church
Isi kerasnya: tujuh sakramen dipreteli jadi dua.
Roasting: pisau cukur Ockham dipakai bukan untuk merapikan, tapi menyembelih. Tradisi 1.500 tahun disapu bersih karena tidak cocok dengan skema psikologis iman Luther. Ontologi dikorbankan demi pengalaman batin.
The Freedom of a Christian
Isi kerasnya: iman membenarkan, kasih menyusul.
Roasting: indah secara retoris, berbahaya secara sistemik. Iman dijadikan saklar ON/OFF keselamatan. Etika berubah jadi aksesori. Gereja diperas jadi ruang motivasi spiritual.
On the Bondage of the Will
Isi kerasnya: kehendak bebas manusia mati total.
Roasting: ini teologi pesimisme antropologis. Manusia direduksi jadi boneka rusak, Allah jadi operator tunggal. Ironis: menolak filsafat, tapi jatuh ke determinisme paling kasar. Agustinus diseret, tapi Aquinas dikubur hidup-hidup.
Commentary on Galatians
Isi kerasnya: sola fide dimatangkan.
Roasting: satu surat Paulus dijadikan kunci pas universal. Seluruh Kitab Suci dipaksa tunduk pada Galatia. Yang tidak cocok? Disebut “jerami”. Metode tafsir berubah jadi seleksi ideologis.
Luther's Small Catechism
Isi kerasnya: iman disederhanakan untuk rakyat.
Roasting: niat pastoral, hasil teologis minimalis. Kompleksitas iman dikemas seperti brosur. Mudah diajarkan, mudah dipelintir. Dari sini lahir generasi yakin, tapi dangkal.
Luther's Large Catechism
Isi kerasnya: versi panjang untuk pengajar.
Roasting: tetap saja berputar di poros yang sama: iman subjektif, otoritas cair. Guru diberi teks, tapi tanpa fondasi metafisik yang stabil. Tinggal tunggu pecahannya.
Prefaces to the Bible
Isi kerasnya: Kitab Suci ditafsirkan lewat iman versi Luther.
Roasting: ini bukan sola scriptura, ini sola Luther. Kanon dihakimi oleh rasa cocok teologis. Wahyu dipersempit oleh preferensi pribadi.
On the Jews and Their Lies
Isi kerasnya: pamflet penuh kebencian.
Roasting: inilah akhir tragis teologi tanpa rem Tradisi. Ketika otoritas eksternal dibuang, emosi pribadi naik tahta. Reformasi berakhir sebagai amarah tua yang busuk.
Kesimpulan Tanpa Gula
Luther bukan membangun Gereja baru, ia meledakkan fondasi lama lalu berharap Roh Kudus membereskan puing-puingnya. Yang tersisa bukan kesatuan, tapi pasar tafsir. Semua merasa benar. Tak ada hakim terakhir. Semua imam. Semua paus. Semua bingung.
Katolik berdosa? Ya, sering.
Tapi Luther tidak menyembuhkan tubuh—ia memenggal kepala karena pusing.
Itu bukan reformasi.
Itu amputasi teologis.



