Senin, 05 Januari 2026

Raijua: Debur, Doa, dan Diam

 




Setiap perjalanan dimulai dengan ketidaktahuan—bukan hanya tentang tempat yang akan dikunjungi, tetapi tentang apa yang akan berubah dalam diri kita. Saat Romo Guido mengajak ikut ke Raijua, aku tak menyangka bahwa pulau kecil di ujung timur ini akan membuka ruang-ruang dalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak sedang mencari tempat wisata, bukan pula pelarian spiritual. Aku hanya ingin tahu: apakah iman bisa terasa di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, di mana laut lebih fasih bicara daripada manusia?

Langkahkan kaki dan rasakan aroma asin garam yang menyambut saat Anda tiba di dek perahu. Aroma itu menyeruak, memenuhi hidung dengan keintiman yang sama sekali baru. Motor perahu bergetar lembut, berpadu dengan suara laut yang menyanyi di kejauhan. Seiring perahu melaju di atas ombak, suara motor yang berirama konstan menjadi teman setia, menggambarkan perjalanan yang penuh makna. Sosok Raijua menyembul di cakrawala, menanti tanpa hiruk-pikuk. Pulau itu tidak menunggu siapa pun. Ia sudah ada, keras dan tenang, jauh sebelum aku menyebut namanya. Berukuran hanya 58 kilometer persegi, Raijua terletak di ujung barat pulau Sabu, tetapi bagiku ia berada di tepi kesabaran manusia, di hadapan laut Sawu yang tak pernah sepenuhnya jinak. Laut yang mengitari Raijua dikenal dengan arusnya yang kuat, menciptakan tantangan bagi siapa pun yang mencoba mengukurnya.

Aku baru mengenal Raijua setelah berada di Sabu. Dari sanalah perjalanan dimulai. Kami naik perahu motor kecil: aku, frater Egi, Romo Guido, dan penumpang lain, mahasiswa yang pulang libur kuliah, wajah-wajah muda yang rindu rumah. Perahu penuh, laut terbuka. Di tengah perjalanan, suara motor perahu terus-menerus mengingatkan kami akan keterhubungan dengan laut, seperti denyut jantung yang terus memompa kehidupan di tubuh ini. Kami menyusur Pantai Sabu Barat. Hujan turun sebentar, sekadar mengingatkan bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berkuasa atas lintasan yang dipilihnya. Beberapa mabuk, beberapa tertawa pahit. 'Apa mungkin kita akan kembali dengan rindu yang sama?' bisik salah satu mahasiswa, menatap laut yang bergejolak. Sebuah senyum kecil muncul di antara kerumunan, mencoba menenangkan perut yang mengaduk.

Saat memasuki Selat Raijua, arus berubah bergelora. Nahkoda memutar haluan, membaca gelombang seperti membaca riwayat hidup, tidak dilawan, hanya disiasati. 'Selalu ada jalan bagi yang bersabar,' katanya mengangguk pelan. Dermaga Raijua muncul pelan, seperti keputusan yang akhirnya diambil setelah ragu panjang. 'Welcome to Raijua,' katanya singkat. Laut menjawab dengan debur.

Di dermaga, Pak Tom menunggu. Senyumnya bukan sambutan basa-basi, melainkan wajah yang mengenali kelelahan perjalanan. "Air keras hari ini," katanya singkat, sembari mengangkat tas. Tangan kasarnya memindahkan beban dengan ketenangan yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama berdamai dengan laut. Sepanjang jalan, ia bercerita pelan—tentang anaknya yang merantau ke Kupang, tentang kekhawatirannya pada musim gelombang tinggi. "Tapi laut juga sahabat," katanya, "ia galak kalau dilawan, tapi lembut kalau didengar."

Ia memindahkan tas kami dari perahu ke jembatan kayu, pekerjaan kecil yang menentukan kelancaran banyak hal. Saat ia meletakkan tas terakhir, suara motor perahu yang berhenti seperti tanda bagi kami bahwa perjalanan baru di daratan akan dimulai, menjaga ritme dari laut ke darat. Ia mengusap perlahan sisa percikan air laut dengan ujung kausnya, memastikan tidak ada yang tertinggal basah. Dalam tindakan sederhana ini terpantul nilai-nilai komunitas—perhatian dan kepedulian, bagaimana setiap sentuhan kecil dapat meringankan bebannya yang lebih besar.

Aku dibonceng motor menuju rumahnya di kompleks SMP Negeri 1 Raijua, tempat beberapa keluarga guru tinggal. Rumah itu teduh, berlindung di bawah kanopi beringin besar. Di depannya, bale-bale kayu berjajar, tempat orang duduk, berbagi kabar, dan mengendapkan lelah. Sore itu kami beristirahat, berbasa-basi tentang perjalanan yang melintasi  Selat Raijua. Malamnya, setelah rekoleksi dan ibadat tobat, ikan bakar Raijua tersaji. Rasanya sederhana, asin, dan jujur, seperti pulau ini.

24 Desember pagi, Pak Tom mengajakku ke Gua Maria. Udara sejuk menahan langkah kami di antara bebatuan dan beringin yang rindang. Sepanjang jalan, bayangan pergerakan motor perahu sering mengingatkan kami pada harmoni yang sama yang kami rasakan dengan alam di Raijua. Gua Maria adalah tempat suci bagi penduduk Raijua, simbol perlindungan dan harapan yang sudah ada sejak generasi nenek moyang mereka. Memahami arti pentingnya, ziarah ke Gua ini membawa kedamaian tersendiri, menautkan kami dengan cerita-cerita lama tentang pengorbanan dan kesetiaan. Dari sana kami ke kolam penangkaran: bandeng di satu kolam, kura-kura di kolam lain. Air tenang, hidup dirawat. Siang hari kami kembali, bersiap untuk Misa Natal. Umat sekitar seratus orang hadir, datang dengan pakaian sederhana, dan wajah-wajah yang mengenal kekurangan tapi tidak asing dengan harap. Natal di Raijua tidak mencari kemewahan, ia mencari makna.

25 Desember kami menyusuri jalan berbatu menuju Raijua Atas. Di tengah sabana berdiri sebuah gereja bercat kuning, tegar menghadapi angin. Umat di sana lebih banyak. Sepanjang perjalanan, ritme angin menjalin melodi dengan suara mesin perahu yang tersimpan dalam benak, seperti gumaman konstan yang pernah menemani awal perjalanan kami di atas laut. Banyak di antara mereka dibaptis dewasa, konvert dari kepercayaan asli Raijua. Di sebelah gereja, ada sekelompok orang yang terlibat dalam ritual tradisional, mengenakan busana adat, dan bernyanyi dalam bahasa leluhur, suara mereka hilang di antara angin sabana.

Melihat mereka, aku tersadar akan keputusan berat yang diambil umat untuk meninggalkan tradisi ini demi iman baru. Iman datang kepada mereka bukan sebagai warisan, melainkan sebagai keputusan. Aku bertanya-tanya apa yang sesungguhnya hilang dan apa yang diperoleh ketika tradisi lama bertemu dengan kepercayaan baru. Di titik pertemuan antara yang lama dan yang baru, muncul pertanyaan yang menggugah perasaan: apakah kebahagiaan baru bisa dibandingkan dengan kehilangan tradisi lama?

Seorang ibu tua duduk tak jauh dari gereja, mengenakan kain tenun dengan motif adat. Ia tidak ikut misa, hanya menonton dari kejauhan. "Saya belum bisa masuk gereja," katanya lirih saat ditanya. "Tapi saya titip doa." Kalimat itu membekas. Seakan ada jembatan yang belum selesai dibangun, dan setiap langkah iman adalah batu yang diletakkan satu per satu dengan hati-hati.

Usai misa, kami mengunjungi salah satu umat. Kelapa muda disuguhkan. Kami duduk lesehan di tikar, di sebuah pondok tepat di mulut pantai. Ombak memecah berdebur di hadapan kami, mengingatkan kembali pada aroma asin yang pertama kali menyambut kami di dek perahu. Damai tidak selalu lahir dari keheningan, kadang ia tumbuh dari kebisingan yang diterima.

Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tambur, yang oleh orang-orang disebut Karang Kepala Burung. Deretan karang hitam berdiri menantang laut Sawu. Dan sebagaimana perahu yang kami gunakan berhasil menyeberangi arus yang kuat, berdiri di Bukit Tambur menawarkan pandangan yang menaklukan dari atas, mencerminkan ketahanan di tengah ombak. Dari satu sisi puncaknya menyerupai tambur, dari sisi lain kepala burung. Vegetasi jarang, kambing-kambing berebut hijau. Panas terik menggigit. Ada saung untuk berteduh, tetapi matahari tetap menang. Kami kembali ke rumah seorang umat, makan siang, mendengar cerita tentang Raijua—tentang musim, tentang laut, tentang bertahan—lalu pulang.

26 Desember misa bersama Raijua Atas dan Bawah dirayakan di Gua Maria Male Menggi. Udara adem, doa mengalir pelan. Setelah misa, suara motor perahu yang sudah menjadi bagian dari perjalanan mulai menghilang, mengisyaratkan akhir dari perjalanan yang telah mengajarkan banyak hal. Siang hari kami makan bersama. Pukul tiga, dengan perahu carteran, kami kembali ke Sabu melalui Pelabuhan Rakyat Mehara, Lobohede. Angin laut menyapu wajah, membawa aroma asin yang menempel di lidah, seolah mengunci rasa Raijua dalam ingatan. Saat perahu kembali berlayar, ada sekejap perasaan enggan yang menyeruak, sebuah gumam sunyi yang ditinggalkan debur ombak. Kami dijemput Romo Kanis dan Pak Matias. Hari itu berakhir dengan istirahat, sebuah jeda yang diperlukan agar ingatan tidak tercecer.

27 Desember kami mengunjungi Pak Tadeus di Perema bersama kelompok penenun ibu-ibu. Motor angin memecah kesunyian pagi, seolah menyiapkan kami untuk menerima kebijaksanaan yang berbeda. Ia menjelaskan proses tenun ikat Sabu: benang yang dipilih, warna yang ditakar, waktu yang diminta. Ia juga menunjukkan cara mengenakan kain sarung. Di sela-sela itu mengalir cerita tentang sejarah dan budaya Hawu. Saat melihat pewarna meresap perlahan ke dalam helai benang, aku tersadarkan bahwa ketahanan dan iman ibarat pewarna itu sendiri, meresap seiring waktu dengan kesabaran. Aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku, ia sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Skyber. Patung Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab berdiri membingkai reruntuhan bangunan Belanda, seperti tangga yang menjulang dan menara bak air yang seakan menantang waktu. Benteng-benteng batu tua itu seolah berbicara tentang kisah ketahanan Raijua, menggema dari masa lalu, seperti karang yang tak goyah di hadapan gelombang. Sore menutup hari. Malamnya, diskusi iman Katolik bersama umat berlangsung hangat. Jagung bose tersaji. Obrolan berlanjut dengan Pater Franz Lackner. Lalu pulang.

Raijua tidak meninggalkan janji, hanya bekas. Bau laut menempel di pakaian dan ingatan. Pulau kecil itu mengajarkan bahwa iman, seperti karang, tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketahanan berdiri di hadapan gelombang, hari demi hari, tanpa banyak kata.

Kini, setelah aroma asin perlahan lenyap dari pakaian, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang tempat yang kutuju, tapi tentang ruang-ruang dalam diri yang akhirnya bisa kudengar. Iman bukan lagi sesuatu yang diwariskan atau diajarkan, tapi dialami—dengan debur laut, dengan angin sabana, dengan tangan Pak Tom, dan dengan bisikan ibu tua yang menitip doa.

Apa yang kubawa pulang? Mungkin bukan jawaban. Tapi aku tahu, saat ombak kembali bergulung dalam pikiranku, akan ada satu nama yang muncul pelan: Raijua. Bukan sebagai tempat, tapi sebagai cara baru melihat dunia.

Selasa, 30 Desember 2025

Martin Luther



Seorang biarawan Augustinian yang kalah bergulat dengan nurani, lalu mengubah krisis pribadi menjadi doktrin universal. Dari sel biara ke Eropa—efek domino tak terkendali.
Disputation on the Power and Efficacy of Indulgences (95 Tesis, 1517)

Isi kerasnya: indulgensi diserang.
Roasting: Luther benar soal korupsi praktik, tapi keliru menyimpulkan sistemnya. Seperti melihat dokter palsu lalu menyimpulkan bahwa kedokteran itu sendiri sesat. Masalah disiplin diubah jadi krisis ontologi Gereja.
Address to the Christian Nobility of the German Nation

Isi kerasnya: Paus tidak istimewa, semua orang Kristen setara.
Roasting: ini teologi versi pamflet politik. Ketika argumen kalah di Roma, Luther pindah panggung ke bangsawan Jerman. Gereja diseret ke meja parlemen. Sakramen kalah oleh suara mayoritas.
The Babylonian Captivity of the Church

Isi kerasnya: tujuh sakramen dipreteli jadi dua.
Roasting: pisau cukur Ockham dipakai bukan untuk merapikan, tapi menyembelih. Tradisi 1.500 tahun disapu bersih karena tidak cocok dengan skema psikologis iman Luther. Ontologi dikorbankan demi pengalaman batin.
The Freedom of a Christian

Isi kerasnya: iman membenarkan, kasih menyusul.
Roasting: indah secara retoris, berbahaya secara sistemik. Iman dijadikan saklar ON/OFF keselamatan. Etika berubah jadi aksesori. Gereja diperas jadi ruang motivasi spiritual.
On the Bondage of the Will

Isi kerasnya: kehendak bebas manusia mati total.
Roasting: ini teologi pesimisme antropologis. Manusia direduksi jadi boneka rusak, Allah jadi operator tunggal. Ironis: menolak filsafat, tapi jatuh ke determinisme paling kasar. Agustinus diseret, tapi Aquinas dikubur hidup-hidup.
Commentary on Galatians

Isi kerasnya: sola fide dimatangkan.
Roasting: satu surat Paulus dijadikan kunci pas universal. Seluruh Kitab Suci dipaksa tunduk pada Galatia. Yang tidak cocok? Disebut “jerami”. Metode tafsir berubah jadi seleksi ideologis.
Luther's Small Catechism

Isi kerasnya: iman disederhanakan untuk rakyat.
Roasting: niat pastoral, hasil teologis minimalis. Kompleksitas iman dikemas seperti brosur. Mudah diajarkan, mudah dipelintir. Dari sini lahir generasi yakin, tapi dangkal.
Luther's Large Catechism

Isi kerasnya: versi panjang untuk pengajar.
Roasting: tetap saja berputar di poros yang sama: iman subjektif, otoritas cair. Guru diberi teks, tapi tanpa fondasi metafisik yang stabil. Tinggal tunggu pecahannya.
Prefaces to the Bible

Isi kerasnya: Kitab Suci ditafsirkan lewat iman versi Luther.
Roasting: ini bukan sola scriptura, ini sola Luther. Kanon dihakimi oleh rasa cocok teologis. Wahyu dipersempit oleh preferensi pribadi.
On the Jews and Their Lies

Isi kerasnya: pamflet penuh kebencian.
Roasting: inilah akhir tragis teologi tanpa rem Tradisi. Ketika otoritas eksternal dibuang, emosi pribadi naik tahta. Reformasi berakhir sebagai amarah tua yang busuk.
Kesimpulan Tanpa Gula

Luther bukan membangun Gereja baru, ia meledakkan fondasi lama lalu berharap Roh Kudus membereskan puing-puingnya. Yang tersisa bukan kesatuan, tapi pasar tafsir. Semua merasa benar. Tak ada hakim terakhir. Semua imam. Semua paus. Semua bingung.

Katolik berdosa? Ya, sering.
Tapi Luther tidak menyembuhkan tubuh—ia memenggal kepala karena pusing.

Itu bukan reformasi.
Itu amputasi teologis.

Jumat, 19 Desember 2025

Sakramen dan Luka Metafisik Sola Scriptura

Ketika Realitas Direduksi Menjadi Instruksi

Masalah sakramen dalam Protestanisme bukan pertama-tama masalah sejarah, apalagi liturgi. Itu hanya gejala. Akar persoalannya jauh lebih dalam: krisis metafisika.
Lebih tepat: ketidakmampuan untuk berpikir secara sakramental tentang realitas.

Tradisi Reformed berbicara seolah-olah sakramen hanyalah “perintah yang harus ditaati”. Bahasa yang dipakai adalah bahasa hukum dan instruksi: Yesus memerintahkan, maka kita lakukan. Titik.
Tetapi di sini, realitas direduksi menjadi perintah, dan rahmat direduksi menjadi pengingat psikologis.

Dalam metafisika klasik—yang dihidupi Gereja sejak para Bapa hingga Thomas Aquinas—sakramen bukan sekadar “tindakan simbolik”, melainkan modus kehadiran rahmat dalam tatanan keberadaan. Sakramen adalah tanda yang menyebabkan apa yang ditandainya (signum efficax). Artinya: rahmat bukan sekadar dikenang, tetapi diaktualkan dalam realitas materi.

Di sinilah benturan terjadi.
1. Nominalisme: Akar Tak Terucap dari Dua Sakramen

Protestan jarang menyebutnya, tetapi teologi sakramen mereka berdiri di atas tanah nominalisme: pandangan bahwa makna tidak melekat secara objektif dalam realitas, melainkan diberikan oleh kehendak atau penetapan eksternal.

Jika tanda tidak memiliki daya ontologis, maka:


air baptisan tidak sungguh-sungguh membersihkan,
roti dan anggur tidak sungguh-sungguh menghadirkan,
penumpangan tangan tidak sungguh-sungguh mengubah status ontologis seseorang.

Yang tersisa hanyalah ketaatan formal dan keyakinan subjektif.

Dalam kerangka ini, sakramen hanya mungkin dua, karena hanya dua yang secara eksplisit diperintahkan Yesus. Bukan karena realitas membatasinya, tetapi karena teologi tidak sanggup melihat rahmat bekerja di luar instruksi verbal langsung.

Ini bukan kesetiaan pada Alkitab. Ini ketakutan metafisik terhadap materi.

2. Sakramentalitas Realitas: Dunia Tidak Netral

Gereja Katolik—bersama tradisi patristik dan skolastik—memulai dari asumsi metafisik yang berlawanan:
realitas diciptakan sebagai partisipasi dalam kebaikan Allah.

Materi bukan penghalang rahmat, melainkan medium rahmat.
Tubuh bukan beban, melainkan tempat keselamatan bekerja.
Tindakan lahiriah bukan aksesori, melainkan ekspresi kausal dari rahmat ilahi.

Dari sini, sakramen bukan “daftar perintah”, tetapi struktur ontologis Gereja sebagai Tubuh Kristus.

Maka tidak mengherankan jika:

perkawinan dipahami sebagai sakramen: karena cinta manusiawi sungguh mengambil bagian dalam misteri Kristus–Gereja;
tahbisan dipahami sebagai sakramen: karena otoritas gerejawi bukan delegasi administratif, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus;

pengakuan dosa dipahami sebagai sakramen: karena rekonsiliasi bukan sekadar perubahan status hukum, tetapi pemulihan relasi ontologis dengan Tubuh Kristus.

Protestan menolak ini bukan karena ayatnya kurang, tetapi karena kerangka metafisiknya tidak mampu menampungnya.

3. Perintah vs Partisipasi: Kesalahan Kategori

Ketika Protestan berkata, “Yesus hanya memerintahkan dua,” mereka tanpa sadar melakukan kesalahan kategori metafisik.

Kristus tidak datang terutama sebagai legislator yang membagikan daftar ritual. Ia datang sebagai Logos yang menjadi daging, yang mengubah cara realitas bekerja.
Inkarnasi bukan pengumuman hukum, melainkan peristiwa ontologis.

Dalam terang Inkarnasi:

penumpangan tangan bukan sekadar simbol, tetapi transmisi misi;

pengurapan bukan sekadar doa, tetapi tindakan penyembuhan ontologis;

cuci kaki bukan sekadar teladan moral, tetapi tanda partisipasi dalam persekutuan Kristus.

Membatasi sakramen pada “yang diperintahkan secara eksplisit” berarti memperlakukan Kristus seperti Musa baru yang hanya memberi hukum, bukan sebagai Tuhan yang mengonfigurasi realitas.

4. Gereja sebagai Tubuh atau Sekadar Perkumpulan?

Di balik penolakan terhadap tujuh sakramen, ada pertanyaan metafisik yang lebih tajam:
apa itu Gereja?

Jika Gereja hanyalah perkumpulan orang percaya, maka:

rahmat bersifat individual,

otoritas bersifat fungsional,

sakramen hanyalah simbol kesepakatan.

Tetapi jika Gereja adalah Tubuh Kristus yang sungguh-sungguh, maka:

rahmat mengalir melalui struktur tubuh,

tindakan Gereja memiliki daya ontologis,

sakramen adalah “organ-organ” kehidupan ilahi.

Protestan ingin mempertahankan bahasa Tubuh Kristus, tetapi menolak implikasi ontologisnya. Ini seperti menyebut tubuh hidup, tetapi menolak aliran darah.

5. Mengapa Sola Scriptura Gagal Menjawab Pertanyaan Sakramen

Masalah sakramen tidak bisa diselesaikan hanya dengan kutip-mengutip ayat, karena sakramen adalah soal bagaimana rahmat hadir dalam realitas, bukan sekadar apa yang tertulis.

Sola Scriptura gagal di sini karena:

ia menolak Tradisi sebagai locus realitas,

ia memisahkan teks dari komunitas ontologis Gereja,

ia mengganti metafisika partisipasi dengan epistemologi kepastian pribadi.

Akibatnya, sakramen menyusut, Gereja menipis, dan rahmat menguap menjadi keyakinan batin.
Penutup: Angin Timor dan Realitas yang Tidak Bisa Disederhanakan

Di tanah Timor, orang tahu: batu, air, minyak, sentuhan tangan—semuanya membawa makna yang lebih dari sekadar fungsi. Dunia tidak bisu. Ia berbicara.

Teologi Katolik tidak “menambah” sakramen. Ia menolak mereduksi realitas.
Ia bersikeras bahwa Allah bekerja bukan hanya lewat kata, tetapi lewat keberadaan.

Sola Scriptura, ketika dilepaskan dari metafisika inkarnasional, berakhir pada iman yang tipis: benar secara slogan, rapuh secara ontologis.

Dan di hadapan realitas—seperti di hadapan angin Timor—
yang tipis selalu tersingkir.

Kamis, 11 Desember 2025

Ketika Misteri Dipreteli Menjadi Molekul: Nominalisme dan Runtuhnya Mariologi

Mariologi tidak pernah runtuh tiba-tiba. Ia tidak roboh karena satu ayat, satu konsili, atau satu doktrin. Ia runtuh perlahan, seperti gereja tua yang gentengnya mulai rontok satu per satu setelah fondasi filosofisnya digergaji.

Dan gergaji itu bernama nominalisme.

Banyak orang Protestan modern mengira mariologi runtuh karena “tidak alkitabiah.” Kenyataannya jauh lebih dalam—dan lebih tua. Sejak nominalisme menguasai cara berpikir Barat, seluruh lanskap teologi berubah: misteri tidak lagi dibaca sebagai kenyataan, tetapi sebagai metafora; simbol tidak lagi dipahami sebagai realitas, tetapi sebagai dekorasi; Maria tidak lagi dilihat sebagai Tabut Perjanjian Baru, tetapi hanya sebagai perempuan Yahudi biasa yang kebetulan dipakai Tuhan.

Ini bukan soal ayat.
Ini soal cara memandang dunia.


1. Apa yang dimatikan nominalisme?

Nominalisme menolak universal.
Tidak ada “kekudusan” yang melekat pada realitas.
Tidak ada makna objektif di balik simbol.
Tidak ada bentuk (form) yang mengatur ciptaan.
Yang ada hanyalah nama, kategori, dan benda.

Bagi tradisi Kristiani awal—dan seluruh Gereja sampai abad ke-14—realitas tidak datar.

• Tubuh bukan hanya materi; ada forma.
• Rahim bukan hanya organ; ada makna simbolik.
• Tabut, Pintu Tertutup, Taman Termeterai—semuanya menunjuk ke sesuatu yang benar-benar ada.

Nominalisme memotong seluruh dimensi itu.
Dunia spiritual menjadi bidang kata, bukan bidang realitas.

Dan ketika Anda menembak metafisika, mariologi adalah korban pertama yang jatuh.


2. Mengapa Maria tak mungkin bertahan dalam dunia nominalis?

Karena mariologi berdiri di atas tiga tiang:

  1. Makna simbolik tubuh.
    Maria = Tabut Perjanjian Baru; rahimnya = ruang kudus; tubuhnya = ikon Gereja.

  2. Kesatuan bentuk dan rahmat.
    Dalam teologi patristik, rahmat sungguh mengubah realitas, bukan hanya mendeklarasikannya.

  3. Kosmologi Kristologis.
    Inkarnasi adalah peristiwa kosmik, bukan sekadar peristiwa biologis.

Semua ini hancur ketika:

• tubuh direduksi menjadi fisiologi,
• rahmat direduksi menjadi “status hukum”,
• simbol direduksi menjadi kiasan.

Maria tidak bisa bertahan di dunia yang menolak simbol dan bentuk. Ia kehilangan seluruh medan teologis tempat ia hidup sebagai pribadi teologis, bukan hanya tokoh historis.


3. Mariologi hilang bukan karena Protestan menolak Maria—tetapi karena mereka mewarisi Ockham

Ini bagian yang sering tidak diakui.

Para Reformator awal masih menerima mariologi dasar:
• theotokos,
• keperawanan tetap,
• Maria sebagai model Gereja.

Tetapi universitas tempat mereka belajar—Erfurt, Wittenberg, Paris—sudah dibanjiri nominalisme.

Apa efeknya?

3.1. Sakramentalitas melemah

Jika simbol tidak memiliki realitas, maka rahim Maria tidak lagi tabernakel.
Ekaristi pun perlahan diperlakukan simbolis.
Setiap tindakan ilahi dilihat bukan sebagai transformasi, tetapi deklarasi.

3.2. Tipologi mati

Dalam dunia patristik, Yehezkiel 44:2 bukan syair indah, tetapi struktur teologis:

“Pintu itu tetap tertutup… hanya Tuhan yang masuk, dan tetap tertutup bagi yang lain.”

Nominalisme mengubahnya menjadi metafora yang tidak punya konsekuensi ontologis.

3.3. Rahmat kehilangan dimensi ontologis

Dalam teologi kuno, rahmat mengubah (transformatif).
Dalam nominalisme, rahmat cukup dideklarasikan (forensik).

Jika rahmat tidak mengubah realitas, Maria tidak lagi dipahami sebagai realitas yang diubah oleh Allah menjadi ruang kesucian. Ia hanya dipilih, bukan ditransformasi.


4. Keruntuhan bertahap: dari virginitas sampai peran Maria dalam Gereja

Mariologi runtuh tidak sekaligus. Ada tahapannya.

Tahap 1: runtuhnya simbol rahim

Tanpa metafisika, konsep “perawan melahirkan tanpa rusak” jadi omong kosong biologis.
Padahal Gereja awal tidak memahaminya secara medis, tapi secara teologis:
Inkarnasi tidak mencemari; Ia menyucikan.

Tahap 2: runtuhnya keperawanan tetap

Bukan karena ayat, tapi karena dunia nominalis tidak mengenal konsep “tubuh sebagai tanda.”
Jika tubuh hanyalah materi, maka keperawanan hanyalah selaput dara.
Padahal bagi patristik, itu ikon identitas Maria sebagai ruang kudus Allah.

Tahap 3: runtuhnya gelar Maria

Theotokos masih diterima karena itu menyangkut Yesus.
Tetapi Maria sebagai Ratu Surga, Tabut Perjanjian Baru, Bunda Gereja—semua hilang karena:

• tidak ada realitas ontologis dalam simbol,
• gelar-gelar itu dianggap puisi, bukan metafisika.

Tahap 4: runtuhnya devosi

Kalau Maria bukan realitas teologis, mengapa mendoakannya?
Ia beralih dari “ikon Gereja” menjadi “tokoh sejarah”.


5. Mengapa Gereja Katolik tetap mempertahankan Mariologi?

Karena Katolik mempertahankan metafisika, bukan sekadar tradisi.

Apa bedanya?

Dalam metafisika realis:

• simbol memiliki realitas,
• rahmat mengubah,
• tubuh memuat makna,
• sejarah disinari pola Logos.

Maria bertahan karena ia bukan dekorasi.
Ia bagian dari struktur Kristologi.

Tanpa Maria:

• Inkarnasi kehilangan ruang kosmiknya,
• Gereja kehilangan ikonnya,
• tubuh kehilangan teologinya,
• sakramentalitas kehilangan fondasinya.

Nominalisme tak mampu mempertahankan satu pun dari ini.


6. Kesimpulan: untuk menyelamatkan Maria, kita harus menyelamatkan metafisika

Keruntuhan mariologi bukan masalah devosi.
Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: runtuhnya pandangan dunia sakramental.

Selama teologi berpikir seperti dunia Ockham—
bahwa realitas hanya potongan benda, bukan jaringan makna—
Maria tak pernah mendapat tempat.

Sebab Maria bukan teori. Ia ikon.
Ia hidup dalam dunia di mana simbol lebih dalam dari kata,
dan makna lebih nyata dari nama.

Ketika metafisika dipulihkan, Maria kembali muncul—
bukan sebagai saingan Kristus,
tetapi sebagai ruang tempat Ia masuk ke dunia.

Bagi Gereja kuno, misteri ini bukan fiksi.
Ini struktur kosmos.
Dan selama kosmos masih ditempati oleh Logos,
Maria tidak mungkin hilang.

ROMA DALAM CAHAYA PAULUS Membongkar Mitos "Pembajakan Istilah Katolik Abad ke-11"

 

Ada narasi yang belakangan ini berkeliaran seperti asap tipis yang coba menyelimuti sejarah: bahwa Gereja Roma hanyalah jemaat kecil biasa selama seribu tahun pertama, bahwa istilah Katolik tidak pernah memiliki kaitan khusus dengan Roma, dan bahwa semuanya baru “dibajak” pada abad ke-11 lewat Diktatus Papae.

Kisah ini terdengar dramatis, tetapi drama bukan sejarah.
Dan sejarah bukan benda yang bisa dicetak ulang sesuai emosi teologis.

Artikel ini menelusuri ulang jejak para rasul dan para Bapa Gereja—bukan dengan romantisisme, melainkan dengan ketegasan.
Kita mulai dari satu nama yang tidak dapat diperdebatkan siapa pun: Paulus.


1. Ketika Paulus Menulis ke Roma: Jejak Primasi Sebelum Dokumen Apa Pun Ada

Paulus bukan Paus. Ia bukan konsili. Ia tidak punya kepentingan institusional.
Ia hanya punya satu hal: kejujuran seorang rasul.

Dan kepada gereja mana ia menulis surat terpanjang, terdalam, dan paling matang?
Bukan Korintus, tempat ia tinggal lama.
Bukan Efesus, pusat misinya.
Bukan Antiokia, basis awal gerakan Kristen.

Tetapi Roma.

1.1. “Imanmu diberitakan di seluruh dunia”

Roma 1:8 adalah deklarasi yang tidak pernah diberikan kepada jemaat lain:

“Imanmu diberitakan di seluruh dunia.”

Ini bukan pujian sopan.
Ini pengakuan bahwa Roma sudah menjadi gereja acuan dalam kekristenan abad pertama.

Tidak ada teori abad ke-11 yang dapat menghapus realitas ini.

1.2. Roma sebagai poros misioner

Paulus merencanakan perjalanan besarnya dari Yerusalem → Roma → Spanyol (Roma 15:23–29).
Roma bukan titik singgah; Roma adalah pangkalan apostolik menuju dunia Barat.

Itu bukan “status administratif”—itu strategi misi global.

Roma sudah memainkan peran universal jauh sebelum ada istilah Vatikan, apalagi Diktatus Papae.


2. Para Bapa Gereja Mengamini Apa yang Paulus Lihat

Gereja awal tidak menunggu abad pertengahan untuk mengenal peran Roma.
Kesaksian mereka nyata, keras, dan konsisten.

2.1. Klemens Roma (±96 M) – Gereja Roma Mengadili Gereja Lain

Ketika jemaat Korintus kacau, siapa yang turun tangan?
Bukan Yohanes.
Bukan Antiokia.
Bukan Efesus.

Tetapi Roma.

Dan ia menulis dengan nada otoritas:

“Jika ada yang tidak menaati apa yang dikatakan Allah melalui kami…”
(1 Clement 59–63)

Ini bukan “surat saran”.
Ini intervensi apostolik.

Jika Roma hanyalah gereja biasa, tindakan ini tidak dapat dijelaskan.

2.2. Ignatius dari Antiokia (110 M): Roma “memimpin dalam kasih”

Ignatius menyebut gereja Roma:

“yang memimpin dalam kasih”
(prokathemenē tēs agapēs)

Ungkapan ini dalam konteks gereja kuno berarti posisi kehormatan dan rujukan doktrinal.
Ini dua abad sebelum istilah Katolik menjadi formula liturgis.

2.3. Irenaeus (180 M): Semua Gereja Harus Sepakat dengan Roma

Inilah nuklir sejarah yang sengaja tidak dikutip para polemis:

“Kepada Gereja ini (Roma) haruslah setiap Gereja bersepakat, karena asal-usulnya yang lebih utama.”
(Against Heresies 3.3.2)

Bukan interpretasi Katolik.
Bukan propaganda abad pertengahan.
Ini tulisan seorang Bapa Gereja yang berdebat melawan bidat pada abad ke-2.

Roma adalah standar ortodoksi sejak abad itu.

Bagaimana mungkin Diktatus Papae (1075) dianggap sebagai “tanggal lahir primasi” jika dokumen abad 2 sudah mengatakannya?

2.4. Cyprianus (251 M): Roma adalah Takhta Petrus

Cyprianus menyebut Roma sebagai:

“takhta Petrus, sumber kesatuan gereja.”

Bahkan dalam perselisihan besar tentang baptisan bidat, Cyprianus tidak pernah menggugat posisi unik Roma.

Ini tiga abad sebelum Nicea, delapan abad sebelum skisma Timur–Barat.


3. Lalu Apa Peran Kata “Katolik”?

Argumen populer mengatakan:

“Istilah Katolik hanya berarti universal; Roma membajak kata itu belakangan.”

Benar setengah.
Dan setengah kebenaran sering menjadi pisau kecil yang menyayat integritas sejarah.

Istilah katholikē ekklēsia pada awalnya berarti “universal”.
Tetapi sejak abad ke-2, istilah itu menjadi tanda gereja yang benar, satu, dan apostolik, berbeda dari kelompok bidat.

Perhatikan Cyril dari Yerusalem (abad 4):

“Jika engkau ke kota lain, jangan tanya di mana gereja, tetapi di mana Gereja Katolik.”

Di sini kata “Katolik” bukan konsep netral.
Ini nama khas, identitas komunitas apostolik yang sah.
Dan komunitas itu bersekutu dengan Roma sebagai pusatnya.

Dengan kata lain:
Perkembangan makna terjadi secara organik, seperti bibit yang tumbuh menjadi pohon.

Para Bapa Gereja tidak pernah memisahkan “Katolik” dari jaringan kesatuan yang berporos di Roma.


4. Mengapa Diktatus Papae Tidak Bisa Menjadi “Tanggal Lahir Pembajakan”

Diktatus Papae (1075) bukanlah:

  • deklarasi dogmatis,

  • penciptaan primasi,

  • pengambilalihan istilah Katolik.

Ia hanyalah penyusunan hukum yang merapikan apa yang sudah menjadi praktik dan keyakinan selama seribu tahun.

Seperti EYD 1972 bagi bahasa Indonesia—penertiban, bukan penciptaan.

Justru jika primasi Roma baru “dibuat” pada abad 11, maka tidak dapat dijelaskan:

  • 1 Clement yang mengadili Korintus (96 M)

  • Ignatius yang mengakui kepemimpinan Roma (110 M)

  • Irenaeus yang mewajibkan keselarasan dengan Roma (180 M)

  • Sardika yang memberi hak banding ke Roma (343 M)

  • Agustinus yang berkata “Roma telah berbicara, perkara selesai” (430 M)

Tidak ada fenomena sejarah yang dapat dihapus begitu saja karena teori polemis menghendaki demikian.


5. Sejarah Itu Pohon, Bukan Benda Mati

Kekristenan tidak membeku di tahun 110.
Ia tumbuh.
Dan perkembangan bukan korupsi; ia adalah keunggulan organisme hidup.

Roma memang tidak selalu memiliki bentuk primasi yang sama.
Tetapi inti perannya terlihat sejak Perjanjian Baru—dari Paulus sendiri.

Sebuah gereja:

  • yang imannya tersiar ke seluruh dunia,

  • yang menjadi pangkalan misi apostolik,

  • yang menerima surat teologi terbesar Paulus,

  • yang dianggap referensi kesatuan sejak abad pertama.

Roma bukan “pencuri istilah Katolik.”
Roma adalah tempat istilah itu menemukan pusat gravitasinya.


6. Penutup: Mengembalikan Sejarah ke Tempatnya

Sejarah bukan barang yang disusun ulang agar cocok dengan agenda anti-Katolik.
Sejarah adalah urat kayu tua yang tetap terlihat meskipun dipernis berkali-kali.

Mereka yang menyerang Katolik sering mencoba meratakan pohon itu menjadi tunggul kecil tanpa akar.
Tetapi akar itu terlalu tua—tertanam dalam kata-kata Paulus sendiri.

Roma mungkin telah berubah bentuk.
Tetapi bayangannya sudah menjulang sejak abad pertama.

Menolak primasi Roma adalah satu hal;
menulis ulang sejarah adalah hal lain.

Yang pertama adalah perbedaan teologis.
Yang kedua adalah permainan imajinasi.

Dan permainan itu tidak bertahan lama ketika cahaya sejarah dinyalakan.

Kamis, 13 November 2025

PROTESTANTISME: DARI BIDAT KLASIK HINGGA TANTANGAN OIKUMENE MODERN

 



Mengurai Sejarah, Menimbang Doktrin, Meneguhkan Iman Katolik

Protestantisme lahir dari gejolak internal Barat abad ke-16, tetapi jejaknya terus bergema dalam sejarah Gereja. Untuk memahami relasi Katolik–Protestan hari ini, persoalan doktrin, sejarah, dan makna “bidat” mesti disusun kembali dengan kepala dingin dan hati jernih.


1. Asal-usul dan Ajaran Pokok Protestantisme

Protestantisme muncul dari keberatan Martin Luther terhadap praktik indulgensi pada 1517. Namun, keberatan pastoral itu segera berubah menjadi revolusi doktrinal. Di sinilah lahir panca sola, lima slogan teologis yang menjadi jantung Protestantisme:

Sola Scriptura – hanya Kitab Suci sebagai sumber doktrin, menolak peran Magisterium.
Sola Fide – pembenaran hanya oleh iman, bukan oleh iman yang bekerja melalui kasih.
Sola Gratia – keselamatan murni oleh rahmat, tanpa partisipasi manusia dalam karya rahmat.
Solus Christus – keselamatan hanya oleh Kristus, dipahami sering kali tanpa struktur sakramental Gereja.
Soli Deo Gloria – seluruh karya keselamatan demi kemuliaan Allah.

Kelima prinsip ini menjadi landasan beragam sekte Protestan. Doktrin tersebut membentuk spiritualitas yang menolak otoritas Gereja universal dan membuka pintu bagi penilaian pribadi dalam menafsir Kitab Suci. Tidak mengherankan, dari satu Luther kini lahir ribuan denominasi.

Reformator memang memperingatkan bahaya tafsir pribadi; namun struktur teologinya sendiri—tanpa Magisterium—justru melahirkan mitos “tiap orang bisa jadi Paus bagi dirinya sendiri”.


2. Protestantisme sebagai Bidat dalam Klasifikasi Tradisional Gereja

Konsili Trente (1545–1563) menanggapi ajaran panca sola sebagai penyimpangan serius dari iman apostolik. Secara teologis klasik, Protestantisme masuk dalam kategori bidat, karena:

  1. Menyangkal otoritas Gereja sebagai penafsir otentik Kitab Suci.

  2. Mengganti soteriologi Katolik yang sakramental dan partisipatif dengan sempel iman saja.

  3. Menciptakan pecahan-pecahan gerejawi tanpa garis suksesi apostolik yang valid.

Bidat, dalam tradisi Patristik, berarti pertinacia—keras kepala menolak ajaran yang diwariskan Gereja yang satu. Dalam pengertian itu, para reformator secara sadar memutus diri dari Gereja Latin, dan oleh karenanya dibidatkan.


3. Dari Konsili Trente ke Abad ke-20: Apakah Protestan Itu Masih “Bidat”?

Inilah wilayah yang sering disalahpahami. Gereja Katolik tidak pernah mengatakan bahwa ajaran-ajaran Protestan benar. Namun, Gereja menyadari bahwa kondisi historis dan psikologis umat Protestan masa kini berbeda dari para pemisah abad ke-16.

Kardinal Joseph Ratzinger (kelak Paus Benediktus XVI) menegaskan secara sangat tajam:

“Kategori ‘bidat’ yang dulu dipakai sudah tidak ada nilainya. … Perpecahan lama berubah sifatnya. Mereka yang hidup dalam Protestantisme hari ini tidak dapat dianggap sebagai pelaku pertinacia bidat.”

Akar pemikirannya sederhana dan sehat:
orang Protestan masa kini lahir dalam komunitas itu, tidak berniat melawan Gereja, dan sering hidup dalam iman yang sungguh. Perpecahan itu tetap menyakitkan, tetapi tidak identik dengan dosa kesengajaan pemisahan.

Oleh karena itu, Protestantisme hari ini:

• Tidak disebut lagi “bidat” dalam pengertian moral-spiritual;
• Namun ajaran-ajarannya tetap dinilai keliru, tidak lengkap, atau bertentangan dengan iman apostolik;
• Dan sekaligus, banyak unsur positif—cinta Kitab Suci, devosi pribadi, cinta Yesus—yang disadari Gereja sebagai karunia Roh yang bekerja di luar batas kelihatan.

Di sinilah Gereja mengembangkan oikumene, bukan relativisme.


4. Arah Apologetik Katolik: Tegas, Jujur, dan Terbuka

Sikap apologetik Katolik hari ini menggabungkan tiga hal yang harus berjalan bersamaan:

Pertama: Kesetiaan pada kebenaran historis-dogmatis.

Protestantisme tetap memutus garis apostolik, mengubah struktur sakramental, dan membangun doktrin berdasarkan sola scriptura—sebuah prinsip yang menghancurkan dirinya sendiri.

Kedua: Pengakuan akan karya Roh dalam diri umat Protestan.

Kesalehan pribadi tidak otomatis menjamin kesempurnaan doktrin. Namun rahmat Allah tidak dibatasi oleh skisma yang terjadi berabad-abad lalu.

Ketiga: Dorongan untuk kembali kepada kesatuan Gereja.

Oikumene bukan kompromi dogma, melainkan panggilan menuju “kesatuan yang dikehendaki Kristus”, bukan kesatuan semu yang lahir dari perasaan.


5. Kesimpulan Apologetik

Protestantisme berawal sebagai bidat. Ajarannya tetap tidak sejalan dengan iman Katolik. Namun umat Protestan masa kini bukan bidat secara moral, melainkan saudara terpisah yang mewarisi luka sejarah.

Tugas apologetik bukan mencaci sejarah, tetapi menyembuhkan. Gereja memanggil semua umat terpisah untuk menemukan kembali rumah yang lama: Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik—yang berdiri sebelum Reformasi, bertahan sesudahnya, dan akan tetap berdiri ketika dunia ini padam.

Jejak masa lalu tetap diingat, tetapi masa depan mesti diolah dengan kesetiaan dan keberanian. Dari sinilah dialog yang jujur dapat bertunas menjadi kesatuan.

PROTESTAN DAN KRISIS MISI: MENGAPA SASARANNYA HANYA KATOLIK YANG MALAS?

 

Jejak sejarah selalu jujur, meski manusia sering menutupinya dengan retorika bising. Ketika ditelaah tanpa kabut sentimental, tampak bahwa banyak ekspansi Protestanisme bukanlah misi lintas-iman, melainkan kanibalisasi internal terhadap umat Katolik yang lelah, kurang diajar, atau tidak lagi merasa dipeluk komunitasnya. Fenomena ini bukan sekadar perilaku gerejawi; ini adalah gejala teologis.

Mari kita bedah.


1. Krisis Teologi Misi dalam Doktrin Protestan

Misi sejati lahir dari sakramen, bukan dari slogan. Gereja Katolik mengikat misi pada tiga simpul: Ekaristi, kesatuan apostolik, dan universalisme (katholikos). Protestan kehilangan ketiganya ketika memutus diri dari pusat sakramental.

Tanpa sakramentalitas, misi berubah menjadi persuasi verbal: sekadar meyakinkan orang untuk “percaya seperti saya”. Karena itu objek paling mudah adalah:

• orang yang sudah percaya Kristus
• orang yang sudah punya Alkitab
• orang yang sudah punya struktur moral Kristiani

Dengan kata lain: yang mereka cari adalah umat Katolik yang goyah, bukan bangsa-bangsa.

Mereka jarang melangkah ke wilayah Islam, Hindu, Buddha, atau tradisi adat karena di sana diperlukan fondasi ontologis yang mereka tak punya. Krisis metafisika selalu melumpuhkan misi.


2. Evangelisasi yang Reduksionis: Kata-Kata Gantikan Inkarnasi

Protestanisme lahir dari perang kata, bukan dari inkarnasi liturgis. Akibatnya, seluruh sistem pastoral mereka mengandalkan:

• pidato
• debat
• retorika
• pengalaman emosional

Bukan kesatuan sakramental gereja purba.

Metode seperti ini hanya efektif kepada mereka yang sudah punya kategori Kristen dasar—yakni umat Katolik. Tetapi ia lumpuh total ketika berhadapan dengan orang yang worldview-nya tidak Kristiani.

Menginjili orang yang sama sekali asing terhadap Kristus memerlukan:

• ritus
• sakramen
• liturgi
• simbol
• komunitas hidup
• formasi stabil

Ini dunia yang tak dapat digarap oleh model Protestan yang cair dan fragmentaris.


3. Sasaran Empuk: Katolik yang Malas

Ada rantai sederhana yang selalu terbukti:

Katolik tanpa katekese → Identitas kabur → Iman redup → Mudah digoda retorika Protestan.

Protestanisme hidup dari celah-celah yang Gereja Katolik biarkan kosong. Maka yang mereka cari bukan “orang berdosa yang belum mengenal Injil”, melainkan:

• umat paroki yang jarang ikut misa
• orang muda yang tak pernah diajar apologetika
• keluarga yang liturginya mati
• orang yang lebih kenal media sosial daripada sakramen

Ini bukan misi; ini predasi internal.

Mereka memakai istilah “menemukan Injil yang murni”, padahal yang terjadi hanyalah seseorang yang tak pernah diajar menemukan retorika baru yang terasa segar.


4. Minim Konversi Lintas-Agama: Dua Alasan Teologis

Ada dua alasan mendasar mengapa Protestan hampir tidak menyentuh agama-agama besar lain.

A. Mereka tidak punya konsep Gereja universal

Tanpa kesatuan apostolik, mereka hanya mengajak orang masuk ke denominasi tertentu—yang besok bisa pecah lagi.
Orang Muslim atau Hindu melihat ini dan berkata: “Untuk apa masuk ke sesuatu yang bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri?”

B. Tidak ada imajinasi sakramental

Umat dari tradisi religius besar hidup dari simbol, ritus, dan wibawa. Protestan menawarkan:

• kotbah
• lagu
• kelas Alkitab
• pertemuan doa

Ia tampak miskin bagi agama besar yang punya ritus megah dan identitas mapan.
Di hadapan Islam yang punya syariah dan otoritas tunggal Al-Qur’an, Protestan tampak seperti kerumunan pendapat manusia.

Karena itu mereka memilih “target yang sudah jadi”: Katolik yang sedang tidur.


5. Protestanisme yang Subur adalah Gejala Katolik yang Lalai

Ini diagnosis yang sering dihindari:

Protestanisme tidak kuat. Katolik yang lemah.

Setiap kali ada paroki tanpa katekese, tanpa komunitas hidup, tanpa kehangatan—di situlah Protestan muncul.
Setiap kali iman umat hanya ritual tanpa pengajaran—di situlah Protestan memanen.

Protestan bukan pemenang; mereka hanya memungut serpihan dari meja kita ketika kita lupa memberi makan rumah sendiri.


6. Kesimpulan: Protestanisme Tidak Misi, Tetapi Migrasi

Jika dirangkum, fenomenanya seperti ini:

• Mereka tidak mengkonversi non-Kristen.
• Mereka tidak menantang agama-agama kuat.
• Mereka tidak berakar pada tradisi apostolik.
• Mereka tidak mampu membangun komunitas lintas budaya seperti Gereja Katolik.
• Yang mereka lakukan adalah memindahkan Katolik yang tidak terurus.

Ini bukan pertumbuhan rohani; ini perpindahan administrasi.

Selama Katolik melupakan pendidikan iman, Protestan akan terus hidup sebagai bayang-bayang kita sendiri.

Dan di sanalah Gereja mesti kembali berdiri tegak—bukan melawan mereka, tetapi membangunkan rumahnya sendiri. Dengan itu, hutan kembali hijau, dan tidak ada lagi ruang bagi perampok yang hidup dari kebun yang tak dijaga.