Selasa, 13 Januari 2026

Ketika Sejarah Jadi Pamflet

 



Catatan populer tentang beberapa “cerita besar” Reformasi yang sering diulang, dan mengapa perlu dicek ulang

Ada dua cara orang memperlakukan sejarah Gereja: sebagai arsip atau sebagai amunisi. Yang pertama mengajak kita membaca, menimbang, lalu diam sejenak. Yang kedua mengajak kita memilih kubu, lalu berteriak.

Tulisan ini memilih cara pertama. Bukan untuk membela siapa pun dengan emosi, tetapi untuk menata ulang beberapa narasi yang sejak abad ke-16 sering dipakai dalam polemik Protestan–Katolik. Biarkan pembaca menilai.


1) “Gereja melarang Alkitab” — sering diulang, jarang dibuktikan

Ini salah satu slogan favorit pamflet. Faktanya, sepanjang sejarah memang ada pembatasan tertentu di beberapa tempat (misalnya soal edisi yang buruk, terjemahan liar, atau penggunaan tanpa bimbingan), tetapi itu berbeda dari klaim bahwa “Gereja melarang Alkitab”.

Bahkan sebelum Reformasi, ada dorongan agar umat membaca Kitab Suci dengan hormat dan bimbingan. Yang sering terjadi dalam polemik: sebuah teks satir anti-papalisme atau tulisan provokatif diangkat seolah dokumen resmi Gereja. Dari situ lahirlah legenda yang lebih kuat daripada dokumen.

Pelajaran praktis: kalau ada “dokumen Vatikan” yang bunyinya terlalu kartun—biasanya memang kartun.


2) “Gereja menambah tujuh kitab di Trente” — lebih tepat: Protestan yang mengurangi

Konsili Trente (abad ke-16) tidak “menambahkan” kitab seenaknya. Ia menegaskan kanon yang sudah dipakai luas dalam Gereja Barat sejak abad-abad awal, sejalan dengan tradisi patristik (misalnya Agustinus dan keputusan sinode-sinode kuno).

Yang jarang disadari: Alkitab pra-Reformasi (termasuk edisi besar seperti Alkitab Gutenberg) memuat kitab-kitab yang kemudian disebut “deuterokanonika”. Bahkan banyak Alkitab Protestan awal masih mencantumkannya—yang kemudian makin lama makin disisihkan, sampai akhirnya hilang dari banyak edisi populer.

Pelajaran praktis: pertanyaan yang lebih jujur bukan “siapa menambah?”, melainkan “sejak kapan hilang dari sebagian edisi?”


3) “Indulgensi = jual tiket surga” — penyalahgunaan ada, tapi doktrin karikatur

Sejarah mencatat adanya oknum pengkhotbah indulgensi yang berlebihan dan memalukan. Itu nyata. Tetapi doktrin resmi Gereja tidak mengajarkan “dosa bisa dibeli” tanpa pertobatan. Bahkan dalam kontroversi awal, ada indikasi bahwa sebagian tuduhan populer adalah pembesaran, bukan laporan rapi.

Di titik ini, dua hal bisa benar sekaligus:

  • ada praktik yang kacau di lapangan,

  • dan ada propaganda yang mengubah kekacauan lokal menjadi “ajaran Gereja”.

Pelajaran praktis: skandal nyata tidak otomatis membenarkan ringkasan teologis yang palsu.


4) “Luther memaku 95 tesis” — mungkin, tapi tidak setegas poster peringatan

Kisah “pemakuan 95 tesis di pintu gereja” sangat sinematik. Masalahnya: bukti dokumenter sezaman tidak setegas mitosnya. Cerita itu dipopulerkan kuat setelah Luther wafat, terutama lewat narasi pihak dekatnya.

Yang lebih aman secara historis: Luther memang mengajukan tesis untuk debat akademik. Apakah itu benar-benar dipaku di pintu? Mungkin saja. Tetapi kalau kepastian historisnya samar, menjadikannya “tanggal lahir Protestanisme” adalah langkah ideologis, bukan kesimpulan arsip.

Pelajaran praktis: sejarah kadang membosankan—dan justru di situlah ia jujur.


5) “Ini hanya simbol” — perpecahan besar soal Ekaristi juga menyentuh urusan terjemahan

Kontroversi Ekaristi bukan hanya soal rasa religius; itu soal makna kata. Ada kisah tentang penerjemahan “ini adalah Tubuh-Ku” menjadi “ini melambangkan Tubuh-Ku” dalam beberapa edisi awal yang dipakai di wilayah Reformasi tertentu. Yang menarik: bahkan tokoh Reformasi lain (seperti Luther) mengecam keras perubahan itu.

Lalu terjadi hal yang khas dalam sejarah: sekali sebuah ide menyebar dan mengakar, koreksi teks pun tidak otomatis memulihkan keyakinan lama. Bekas pisau pada kayu tetap ada.

Pelajaran praktis: perdebatan teologi sering berawal dari detail kecil—kata “adalah” bisa memisahkan dunia.


6) “Gereja musuh sains” — narasi yang lahir dari banyak lapisan, bukan satu kejadian

Kisah Copernicus sering dijadikan panggung: “lihat, Gereja anti-ilmu.” Padahal penerbitan karya Copernicus sendiri punya cerita editorial yang rumit, dan sikap berbagai pihak (Katolik maupun Protestan) tidak seragam.

Yang sering hilang: abad-abad itu dipenuhi ketegangan antara penemuan ilmiah, tafsir Kitab Suci, dan politik institusi. Menyederhanakan semuanya menjadi “Gereja vs sains” adalah gaya pamflet, bukan gaya sejarah.

Pelajaran praktis: kalau sebuah narasi terlalu rapi, biasanya ia hasil editor ideologis.


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Yang terjadi adalah hal manusiawi: ketika konflik besar meletus, pihak-pihak yang bertarung tidak hanya berdebat teologi—mereka juga membangun cerita. Sebagian cerita lahir dari fakta, sebagian lahir dari pembesaran, sebagian dari fitnah, sebagian dari kesalahpahaman yang dibiarkan karena “berguna”.

Kita tidak perlu memutihkan masa lalu siapa pun. Tetapi kita juga tidak perlu menelan legenda hanya karena sudah diulang 500 tahun.

Sejarah, kalau dibaca dengan sabar, mirip liturgi: ia menuntut disiplin, bukan adrenalin. Dan pada akhirnya, kebenaran tidak butuh volume suara. Ia butuh arsip, akal sehat, dan hati yang tidak takut diperiksa.

Minggu, 11 Januari 2026

Lukas 1:28 dan κεχαριτωμένη — Apa yang Sebenarnya Dikatakan Teks Yunani

 



Teks Yunani Lukas 1:28 berbunyi:

χαῖρε, κεχαριτωμένη, ὁ Κύριος μετὰ σοῦ
(Chaire, kecharitōmenē, ho Kyrios meta sou)

Biasanya diterjemahkan:
“Hail, full of grace, the Lord is with you.”

Terjemahan ini baik, tetapi secara teknis belum sepenuhnya menampung kekayaan makna gramatikal Yunani.

Mari kita bedah secara presisi.

1. Analisis Kosakata Yunani

  • χαῖρε (chaire)
    Imperatif dari chairo: bersukacitalah, rejoicelah, salam hormat. Lebih dari sekadar “halo”.

  • χάρις (charis)
    Akar kata: rahmat, anugerah ilahi, pemberian Allah yang efektif.

  • χαριτόω (charitoō)
    Kata kerja kausatif: menjadikan seseorang berada dalam keadaan rahmat. Bukan sekadar “menerima simpati”, tetapi diubah statusnya oleh anugerah.

  • κε-
    Penanda perfect tense dalam Yunani: tindakan yang telah selesai di masa lampau dan hasilnya masih berlaku sekarang.

  • -μένη (-menē)
    Akhiran participle pasif feminin: subjek menerima tindakan dari pihak lain.

Gabungan ini menghasilkan satu bentuk yang sangat spesifik:

κεχαριτωμένη (kecharitōmenē)
= dia yang telah dibuat berada dalam keadaan rahmat secara sempurna dan tetap berada di dalamnya.

Pelakunya bukan Maria.
Pelakunya adalah Allah sendiri.

Maka secara literal, sapaan malaikat berarti:

“Salam, engkau yang telah dan tetap berada dalam keadaan rahmat ilahi yang sempurna.”

Terjemahan Katolik “full of grace” tidak salah—tetapi justru terlalu sederhana dibandingkan makna gramatikal aslinya.


2. Kesaksian Terjemahan Awal Alkitab (Pra-Reformasi & Reformasi)

Terjemahan Inggris paling awal tidak merasa perlu “melunakkan” makna ini:

  • Wycliffe Bible (1380/1395):
    “Heile, ful of grace.”

  • Tyndale Bible (1534):
    “Hayle full of grace.”

Menariknya, terjemahan “highly favoured” baru menjadi populer belakangan, terutama dalam tradisi Protestan modern—bukan karena tuntutan teks Yunani, melainkan karena kehati-hatian teologis.


3. Komentar Protestan tentang kecharitōmenē

Komentar Protestan berikut mengakui fakta linguistik penting:

“Highly favored” renders kecharitomene (from charitoo)… Mary is ‘highly favored’ because she is the recipient of God’s grace.”
(Leifeld & Pao, Expositor’s Bible Commentary)

Komentar ini dengan jujur mengakui:

  • charitoō = tindakan Allah

  • Maria = penerima rahmat

  • paralel dengan Efesus 1:6

Namun kemudian ditarik ke arah minimalis:

Rahmat ini sama dengan rahmat yang diterima semua orang percaya, tanpa implikasi khusus pada kondisi batin Maria.

Masalahnya: gramatika tidak mendukung reduksi ini.


4. Perbandingan dengan Efesus 1:4–6

Efesus 1:6 memakai kata kerja yang sama (ἐχαρίτωσεν – echaritōsen), tetapi:

  • Bentuk aorist, bukan perfect

  • Konteks: proses keselamatan yang menuju kekudusan

  • Tujuan: “supaya kita kudus dan tak bercela”

Sedangkan pada Maria:

  • Perfect passive participle

  • Keadaan sudah tuntas, bukan sedang berlangsung

  • Status, bukan sekadar janji masa depan

Dengan kata lain:

Apa yang Efesus katakan akan dikerjakan Allah dalam diri umat-Nya, Lukas menyatakan telah dikerjakan Allah dalam diri Maria.

Bukan karena jasa Maria,
melainkan karena panggilan uniknya.


5. Makna Teologis dari Bentuk Perfect Passive

Bentuk κεχαριτωμένη menyatakan:

  1. Tindakan terjadi di masa lampau
    Bukan dimulai saat malaikat berbicara.

  2. Keadaan itu berlanjut hingga saat ini
    Maria sedang berada dalam kondisi tersebut ketika disapa.

  3. Tindakan itu berasal dari Allah
    Maria tidak “mencapai” rahmat; ia dibentuk oleh rahmat.

Maka ketika malaikat berkata:

“Salam, κεχαριτωμένη”

Artinya:

“Apa yang akan kusampaikan kepadamu tidak memulai rahmat ini. Aku hanya menyingkapkan apa yang Allah telah kerjakan dalam dirimu.”

Rahmat itu mencakup:

  • Pemilihan sebagai Bunda Sang Putra

  • Pemurnian batin yang sesuai dengan panggilan itu

Bejana untuk Allah tidak dipinjam dalam keadaan rusak.


6. Nama, Identitas, dan Tradisi Biblis

Sebagaimana dijelaskan dalam refleksi Katolik:

Dalam budaya Ibrani, nama bukan label sementara, melainkan penyingkap identitas dan panggilan permanen.

  • Abram → Abraham

  • Sarai → Sarah

  • Yakub → Israel

Dalam Lukas 1:28, malaikat tidak menyebut “Maria”, melainkan menggantinya dengan:

κεχαριτωμένη

Ini bukan sapaan biasa.
Ini penyingkapan identitas.

St. Lukas dengan sadar memakai perfect passive participle sebagai “nama teologis” Maria.


Kesimpulan Jernih

  • κεχαριτωμένη bukan sekadar “disukai”

  • Bukan pula rahmat generik yang netral

  • Melainkan keadaan rahmat yang telah disempurnakan oleh Allah dan tetap berlaku

Apa yang akan Allah kerjakan secara penuh dalam umat-Nya pada akhir zaman,
Ia kerjakan lebih dahulu dalam Maria,
karena rahmat unik itu menyertai panggilan unik:
mengandung Sang Kudus itu sendiri.

Bukan romantika Katolik.
Bukan spekulasi devosional.
Ini tata bahasa Yunani Perjanjian Baru—dibaca apa adanya, tanpa rasa takut pada konsekuensi teologisnya.

Senin, 05 Januari 2026

Iman dan Akal Sehat: Otoritas Gereja Sah


Iman Tidak Buta: Otoritas dan Akal dalam Struktur Pengetahuan Manusia

Tuduhan bahwa iman Katolik menuntut “percaya buta” sesungguhnya lahir dari kesalahpahaman filosofis tentang bagaimana manusia mengetahui sesuatu. Tuduhan ini mengandaikan bahwa satu-satunya bentuk pengetahuan yang sah adalah pengetahuan otonom, individual, dan sepenuhnya mandiri. Padahal, secara filosofis, pengetahuan manusia selalu bersifat relasional dan bertahap.

Baik dalam ilmu pengetahuan, sejarah, hukum, maupun etika, manusia tidak pernah memulai dari nol. Kita selalu berdiri di atas kesaksian, tradisi, dan otoritas yang lebih dahulu mengetahui. Menuntut iman religius harus sepenuhnya bebas dari otoritas justru berarti menuntut sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam bentuk pengetahuan manusia mana pun.

Di titik inilah pemikiran Agustinus dari Hippo dan John Henry Newman menjadi relevan secara filosofis, bukan sekadar teologis. Mereka tidak berbicara pertama-tama sebagai dogmatis, melainkan sebagai pengamat jujur tentang cara kerja akal manusia.
Auctoritas dan Ratio: Dua Prinsip Epistemologis, Bukan Lawan

Dalam kerangka filosofis klasik, ratio (akal budi) bukanlah mesin yang bekerja dalam ruang hampa. Akal selalu membutuhkan:


data (apa yang diketahui),


kepercayaan awal (apa yang diterima sebelum dipahami),


dan arah normatif (ke mana pengetahuan itu harus menuju).

Di sinilah auctoritas berperan. Secara filosofis, otoritas bukanlah kekerasan terhadap akal, melainkan kondisi kemungkinan bagi pengetahuan yang stabil. Otoritas menyediakan titik pijak awal agar akal tidak terus-menerus terjebak dalam skeptisisme.

Agustinus menyadari bahwa tuntutan “mengerti dulu baru percaya” bersifat self-defeating. Bahkan untuk mengerti sesuatu, manusia harus lebih dahulu mempercayai:


guru bahasa,


sejarawan,


saksi peristiwa,


atau komunitas ilmiah.

Dengan demikian, prinsipnya—“percaya sementara sampai akal menegaskan atau otoritas membimbing”—bukanlah kompromi lemah, melainkan struktur rasional dari pembelajaran manusia itu sendiri.
Otoritas sebagai Jawaban atas Keterbatasan Historis Akal

Secara epistemologis, iman Kristiani berhadapan dengan fakta yang tidak dapat diverifikasi langsung oleh akal individual:


peristiwa masa lampau (wahyu, kebangkitan),


konsensus doktrinal lintas generasi,


kontinuitas makna teks suci.

Akal manusia, jika jujur, harus mengakui keterbatasannya dalam mengakses fakta-fakta tersebut secara langsung. Maka muncul pertanyaan filosofis yang tak terhindarkan:
otoritas macam apa yang layak dipercaya?

Jawaban Agustinus bersifat realistis, bukan ideologis. Ia menunjuk pada suatu komunitas yang:


tidak bergantung pada satu wilayah,


tidak terputus oleh zaman,


tidak berubah-ubah menurut selera lokal,


dan mampu mempertahankan identitas ajarannya di tengah konflik sejarah.

Ungkapan securus iudicat orbis terrarum bukanlah seruan mayoritarianisme, melainkan argumen epistemologis tentang kredibilitas kesaksian universal. Dalam filsafat pengetahuan, kesaksian yang luas, konsisten, dan lintas budaya memiliki bobot rasional lebih tinggi dibanding klaim individual atau sektarian.
Newman dan Kritik atas Rasionalisme Gerejawi

Newman melangkah lebih jauh dengan membedah ilusi modern bahwa kebenaran iman dapat dijamin hanya dengan:


teks tertulis (Kitab Suci),


atau rekonstruksi sejarah awal.

Secara filosofis, ini adalah bentuk rasionalisme reduksionis: seolah-olah kebenaran iman dapat diperas habis oleh metode historis-kritis. Newman menunjukkan bahwa pendekatan ini gagal memahami bagaimana manusia sungguh-sungguh memberikan persetujuan eksistensial terhadap kebenaran.

Distingsinya antara inference dan assent sangat penting secara filosofis:


Inference adalah kesimpulan logis.


Assent adalah keterlibatan seluruh pribadi—akal, kehendak, dan nurani.

Banyak orang berhenti di inference dan menyebut dirinya “objektif”. Newman justru melihat di situ kegagalan antropologis: manusia bukan hanya makhluk penalar, tetapi makhluk yang harus mengambil sikap terhadap kebenaran.
Hati Nurani: Antara Otonomi dan Kebenaran Objektif

Dalam filsafat moral, hati nurani sering disalahpahami sebagai sumber kebenaran, padahal secara klasik ia adalah saksi kebenaran. Newman mengikuti garis Agustinus dan Thomas Aquinas: hati nurani adalah partisipasi manusia dalam hukum ilahi, bukan legislator moral otonom.

Masalah filosofis muncul ketika hati nurani dipisahkan dari kebenaran objektif. Nurani yang tidak dibentuk akan berubah menjadi:


preferensi pribadi,


justifikasi diri,


atau bahkan rasionalisasi dosa.

Di sinilah Magisterium Gereja memiliki fungsi epistemik dan etis: bukan menindas nurani, tetapi membentuknya agar tetap terarah pada kebenaran. Secara filosofis, ini sejalan dengan pandangan bahwa kebebasan tanpa kebenaran bukanlah kebebasan, melainkan kebingungan.
Sintesis Katolik: Realisme Epistemologis

Kesimpulan filosofis dari seluruh argumen ini sederhana namun tajam:
iman Katolik berdiri di atas realisme epistemologis.

Ia menolak:


fideisme (iman tanpa akal),


rasionalisme (akal tanpa iman),


dan otoritarianisme buta (otoritas tanpa nurani).

Sebaliknya, Gereja mengakui kondisi manusia apa adanya:
makhluk rasional yang terbatas, historis, rentan salah, namun diarahkan pada kebenaran.

Dalam perspektif ini, otoritas Gereja bukan penjara intelektual, melainkan struktur penopang agar pencarian kebenaran tidak runtuh oleh subjektivisme. Iman Katolik mengajak manusia untuk berpikir sejauh mungkin—lalu, ketika akal mencapai batasnya, berserah bukan karena lemah, tetapi karena jujur.

Itulah iman yang tidak buta, melainkan rendah hati secara filosofis dan berani secara eksistensial.

Raijua: Debur, Doa, dan Diam

 




Setiap perjalanan dimulai dengan ketidaktahuan—bukan hanya tentang tempat yang akan dikunjungi, tetapi tentang apa yang akan berubah dalam diri kita. Saat Romo Guido mengajak ikut ke Raijua, aku tak menyangka bahwa pulau kecil di ujung timur ini akan membuka ruang-ruang dalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak sedang mencari tempat wisata, bukan pula pelarian spiritual. Aku hanya ingin tahu: apakah iman bisa terasa di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, di mana laut lebih fasih bicara daripada manusia?

Langkahkan kaki dan rasakan aroma asin garam yang menyambut saat Anda tiba di dek perahu. Aroma itu menyeruak, memenuhi hidung dengan keintiman yang sama sekali baru. Motor perahu bergetar lembut, berpadu dengan suara laut yang menyanyi di kejauhan. Seiring perahu melaju di atas ombak, suara motor yang berirama konstan menjadi teman setia, menggambarkan perjalanan yang penuh makna. Sosok Raijua menyembul di cakrawala, menanti tanpa hiruk-pikuk. Pulau itu tidak menunggu siapa pun. Ia sudah ada, keras dan tenang, jauh sebelum aku menyebut namanya. Berukuran hanya 58 kilometer persegi, Raijua terletak di ujung barat pulau Sabu, tetapi bagiku ia berada di tepi kesabaran manusia, di hadapan laut Sawu yang tak pernah sepenuhnya jinak. Laut yang mengitari Raijua dikenal dengan arusnya yang kuat, menciptakan tantangan bagi siapa pun yang mencoba mengukurnya.

Aku baru mengenal Raijua setelah berada di Sabu. Dari sanalah perjalanan dimulai. Kami naik perahu motor kecil: aku, frater Egi, Romo Guido, dan penumpang lain, mahasiswa yang pulang libur kuliah, wajah-wajah muda yang rindu rumah. Perahu penuh, laut terbuka. Di tengah perjalanan, suara motor perahu terus-menerus mengingatkan kami akan keterhubungan dengan laut, seperti denyut jantung yang terus memompa kehidupan di tubuh ini. Kami menyusur Pantai Sabu Barat. Hujan turun sebentar, sekadar mengingatkan bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berkuasa atas lintasan yang dipilihnya. Beberapa mabuk, beberapa tertawa pahit. 'Apa mungkin kita akan kembali dengan rindu yang sama?' bisik salah satu mahasiswa, menatap laut yang bergejolak. Sebuah senyum kecil muncul di antara kerumunan, mencoba menenangkan perut yang mengaduk.

Saat memasuki Selat Raijua, arus berubah bergelora. Nahkoda memutar haluan, membaca gelombang seperti membaca riwayat hidup, tidak dilawan, hanya disiasati. 'Selalu ada jalan bagi yang bersabar,' katanya mengangguk pelan. Dermaga Raijua muncul pelan, seperti keputusan yang akhirnya diambil setelah ragu panjang. 'Welcome to Raijua,' katanya singkat. Laut menjawab dengan debur.

Di dermaga, Pak Tom menunggu. Senyumnya bukan sambutan basa-basi, melainkan wajah yang mengenali kelelahan perjalanan. "Air keras hari ini," katanya singkat, sembari mengangkat tas. Tangan kasarnya memindahkan beban dengan ketenangan yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama berdamai dengan laut. Sepanjang jalan, ia bercerita pelan—tentang anaknya yang merantau ke Kupang, tentang kekhawatirannya pada musim gelombang tinggi. "Tapi laut juga sahabat," katanya, "ia galak kalau dilawan, tapi lembut kalau didengar."

Ia memindahkan tas kami dari perahu ke jembatan kayu, pekerjaan kecil yang menentukan kelancaran banyak hal. Saat ia meletakkan tas terakhir, suara motor perahu yang berhenti seperti tanda bagi kami bahwa perjalanan baru di daratan akan dimulai, menjaga ritme dari laut ke darat. Ia mengusap perlahan sisa percikan air laut dengan ujung kausnya, memastikan tidak ada yang tertinggal basah. Dalam tindakan sederhana ini terpantul nilai-nilai komunitas—perhatian dan kepedulian, bagaimana setiap sentuhan kecil dapat meringankan bebannya yang lebih besar.

Aku dibonceng motor menuju rumahnya di kompleks SMP Negeri 1 Raijua, tempat beberapa keluarga guru tinggal. Rumah itu teduh, berlindung di bawah kanopi beringin besar. Di depannya, bale-bale kayu berjajar, tempat orang duduk, berbagi kabar, dan mengendapkan lelah. Sore itu kami beristirahat, berbasa-basi tentang perjalanan yang melintasi  Selat Raijua. Malamnya, setelah rekoleksi dan ibadat tobat, ikan bakar Raijua tersaji. Rasanya sederhana, asin, dan jujur, seperti pulau ini.

24 Desember pagi, Pak Tom mengajakku ke Gua Maria. Udara sejuk menahan langkah kami di antara bebatuan dan beringin yang rindang. Sepanjang jalan, bayangan pergerakan motor perahu sering mengingatkan kami pada harmoni yang sama yang kami rasakan dengan alam di Raijua. Gua Maria adalah tempat suci bagi penduduk Raijua, simbol perlindungan dan harapan yang sudah ada sejak generasi nenek moyang mereka. Memahami arti pentingnya, ziarah ke Gua ini membawa kedamaian tersendiri, menautkan kami dengan cerita-cerita lama tentang pengorbanan dan kesetiaan. Dari sana kami ke kolam penangkaran: bandeng di satu kolam, kura-kura di kolam lain. Air tenang, hidup dirawat. Siang hari kami kembali, bersiap untuk Misa Natal. Umat sekitar seratus orang hadir, datang dengan pakaian sederhana, dan wajah-wajah yang mengenal kekurangan tapi tidak asing dengan harap. Natal di Raijua tidak mencari kemewahan, ia mencari makna.

25 Desember kami menyusuri jalan berbatu menuju Raijua Atas. Di tengah sabana berdiri sebuah gereja bercat kuning, tegar menghadapi angin. Umat di sana lebih banyak. Sepanjang perjalanan, ritme angin menjalin melodi dengan suara mesin perahu yang tersimpan dalam benak, seperti gumaman konstan yang pernah menemani awal perjalanan kami di atas laut. Banyak di antara mereka dibaptis dewasa, konvert dari kepercayaan asli Raijua. Di sebelah gereja, ada sekelompok orang yang terlibat dalam ritual tradisional, mengenakan busana adat, dan bernyanyi dalam bahasa leluhur, suara mereka hilang di antara angin sabana.

Melihat mereka, aku tersadar akan keputusan berat yang diambil umat untuk meninggalkan tradisi ini demi iman baru. Iman datang kepada mereka bukan sebagai warisan, melainkan sebagai keputusan. Aku bertanya-tanya apa yang sesungguhnya hilang dan apa yang diperoleh ketika tradisi lama bertemu dengan kepercayaan baru. Di titik pertemuan antara yang lama dan yang baru, muncul pertanyaan yang menggugah perasaan: apakah kebahagiaan baru bisa dibandingkan dengan kehilangan tradisi lama?

Seorang ibu tua duduk tak jauh dari gereja, mengenakan kain tenun dengan motif adat. Ia tidak ikut misa, hanya menonton dari kejauhan. "Saya belum bisa masuk gereja," katanya lirih saat ditanya. "Tapi saya titip doa." Kalimat itu membekas. Seakan ada jembatan yang belum selesai dibangun, dan setiap langkah iman adalah batu yang diletakkan satu per satu dengan hati-hati.

Usai misa, kami mengunjungi salah satu umat. Kelapa muda disuguhkan. Kami duduk lesehan di tikar, di sebuah pondok tepat di mulut pantai. Ombak memecah berdebur di hadapan kami, mengingatkan kembali pada aroma asin yang pertama kali menyambut kami di dek perahu. Damai tidak selalu lahir dari keheningan, kadang ia tumbuh dari kebisingan yang diterima.

Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tambur, yang oleh orang-orang disebut Karang Kepala Burung. Deretan karang hitam berdiri menantang laut Sawu. Dan sebagaimana perahu yang kami gunakan berhasil menyeberangi arus yang kuat, berdiri di Bukit Tambur menawarkan pandangan yang menaklukan dari atas, mencerminkan ketahanan di tengah ombak. Dari satu sisi puncaknya menyerupai tambur, dari sisi lain kepala burung. Vegetasi jarang, kambing-kambing berebut hijau. Panas terik menggigit. Ada saung untuk berteduh, tetapi matahari tetap menang. Kami kembali ke rumah seorang umat, makan siang, mendengar cerita tentang Raijua—tentang musim, tentang laut, tentang bertahan—lalu pulang.

26 Desember misa bersama Raijua Atas dan Bawah dirayakan di Gua Maria Male Menggi. Udara adem, doa mengalir pelan. Setelah misa, suara motor perahu yang sudah menjadi bagian dari perjalanan mulai menghilang, mengisyaratkan akhir dari perjalanan yang telah mengajarkan banyak hal. Siang hari kami makan bersama. Pukul tiga, dengan perahu carteran, kami kembali ke Sabu melalui Pelabuhan Rakyat Mehara, Lobohede. Angin laut menyapu wajah, membawa aroma asin yang menempel di lidah, seolah mengunci rasa Raijua dalam ingatan. Saat perahu kembali berlayar, ada sekejap perasaan enggan yang menyeruak, sebuah gumam sunyi yang ditinggalkan debur ombak. Kami dijemput Romo Kanis dan Pak Matias. Hari itu berakhir dengan istirahat, sebuah jeda yang diperlukan agar ingatan tidak tercecer.

27 Desember kami mengunjungi Pak Tadeus di Perema bersama kelompok penenun ibu-ibu. Motor angin memecah kesunyian pagi, seolah menyiapkan kami untuk menerima kebijaksanaan yang berbeda. Ia menjelaskan proses tenun ikat Sabu: benang yang dipilih, warna yang ditakar, waktu yang diminta. Ia juga menunjukkan cara mengenakan kain sarung. Di sela-sela itu mengalir cerita tentang sejarah dan budaya Hawu. Saat melihat pewarna meresap perlahan ke dalam helai benang, aku tersadarkan bahwa ketahanan dan iman ibarat pewarna itu sendiri, meresap seiring waktu dengan kesabaran. Aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku, ia sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Skyber. Patung Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab berdiri membingkai reruntuhan bangunan Belanda, seperti tangga yang menjulang dan menara bak air yang seakan menantang waktu. Benteng-benteng batu tua itu seolah berbicara tentang kisah ketahanan Raijua, menggema dari masa lalu, seperti karang yang tak goyah di hadapan gelombang. Sore menutup hari. Malamnya, diskusi iman Katolik bersama umat berlangsung hangat. Jagung bose tersaji. Obrolan berlanjut dengan Pater Franz Lackner. Lalu pulang.

Raijua tidak meninggalkan janji, hanya bekas. Bau laut menempel di pakaian dan ingatan. Pulau kecil itu mengajarkan bahwa iman, seperti karang, tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketahanan berdiri di hadapan gelombang, hari demi hari, tanpa banyak kata.

Kini, setelah aroma asin perlahan lenyap dari pakaian, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang tempat yang kutuju, tapi tentang ruang-ruang dalam diri yang akhirnya bisa kudengar. Iman bukan lagi sesuatu yang diwariskan atau diajarkan, tapi dialami—dengan debur laut, dengan angin sabana, dengan tangan Pak Tom, dan dengan bisikan ibu tua yang menitip doa.

Apa yang kubawa pulang? Mungkin bukan jawaban. Tapi aku tahu, saat ombak kembali bergulung dalam pikiranku, akan ada satu nama yang muncul pelan: Raijua. Bukan sebagai tempat, tapi sebagai cara baru melihat dunia.

Selasa, 30 Desember 2025

Martin Luther



Seorang biarawan Augustinian yang kalah bergulat dengan nurani, lalu mengubah krisis pribadi menjadi doktrin universal. Dari sel biara ke Eropa—efek domino tak terkendali.
Disputation on the Power and Efficacy of Indulgences (95 Tesis, 1517)

Isi kerasnya: indulgensi diserang.
Roasting: Luther benar soal korupsi praktik, tapi keliru menyimpulkan sistemnya. Seperti melihat dokter palsu lalu menyimpulkan bahwa kedokteran itu sendiri sesat. Masalah disiplin diubah jadi krisis ontologi Gereja.
Address to the Christian Nobility of the German Nation

Isi kerasnya: Paus tidak istimewa, semua orang Kristen setara.
Roasting: ini teologi versi pamflet politik. Ketika argumen kalah di Roma, Luther pindah panggung ke bangsawan Jerman. Gereja diseret ke meja parlemen. Sakramen kalah oleh suara mayoritas.
The Babylonian Captivity of the Church

Isi kerasnya: tujuh sakramen dipreteli jadi dua.
Roasting: pisau cukur Ockham dipakai bukan untuk merapikan, tapi menyembelih. Tradisi 1.500 tahun disapu bersih karena tidak cocok dengan skema psikologis iman Luther. Ontologi dikorbankan demi pengalaman batin.
The Freedom of a Christian

Isi kerasnya: iman membenarkan, kasih menyusul.
Roasting: indah secara retoris, berbahaya secara sistemik. Iman dijadikan saklar ON/OFF keselamatan. Etika berubah jadi aksesori. Gereja diperas jadi ruang motivasi spiritual.
On the Bondage of the Will

Isi kerasnya: kehendak bebas manusia mati total.
Roasting: ini teologi pesimisme antropologis. Manusia direduksi jadi boneka rusak, Allah jadi operator tunggal. Ironis: menolak filsafat, tapi jatuh ke determinisme paling kasar. Agustinus diseret, tapi Aquinas dikubur hidup-hidup.
Commentary on Galatians

Isi kerasnya: sola fide dimatangkan.
Roasting: satu surat Paulus dijadikan kunci pas universal. Seluruh Kitab Suci dipaksa tunduk pada Galatia. Yang tidak cocok? Disebut “jerami”. Metode tafsir berubah jadi seleksi ideologis.
Luther's Small Catechism

Isi kerasnya: iman disederhanakan untuk rakyat.
Roasting: niat pastoral, hasil teologis minimalis. Kompleksitas iman dikemas seperti brosur. Mudah diajarkan, mudah dipelintir. Dari sini lahir generasi yakin, tapi dangkal.
Luther's Large Catechism

Isi kerasnya: versi panjang untuk pengajar.
Roasting: tetap saja berputar di poros yang sama: iman subjektif, otoritas cair. Guru diberi teks, tapi tanpa fondasi metafisik yang stabil. Tinggal tunggu pecahannya.
Prefaces to the Bible

Isi kerasnya: Kitab Suci ditafsirkan lewat iman versi Luther.
Roasting: ini bukan sola scriptura, ini sola Luther. Kanon dihakimi oleh rasa cocok teologis. Wahyu dipersempit oleh preferensi pribadi.
On the Jews and Their Lies

Isi kerasnya: pamflet penuh kebencian.
Roasting: inilah akhir tragis teologi tanpa rem Tradisi. Ketika otoritas eksternal dibuang, emosi pribadi naik tahta. Reformasi berakhir sebagai amarah tua yang busuk.
Kesimpulan Tanpa Gula

Luther bukan membangun Gereja baru, ia meledakkan fondasi lama lalu berharap Roh Kudus membereskan puing-puingnya. Yang tersisa bukan kesatuan, tapi pasar tafsir. Semua merasa benar. Tak ada hakim terakhir. Semua imam. Semua paus. Semua bingung.

Katolik berdosa? Ya, sering.
Tapi Luther tidak menyembuhkan tubuh—ia memenggal kepala karena pusing.

Itu bukan reformasi.
Itu amputasi teologis.

Jumat, 19 Desember 2025

Sakramen dan Luka Metafisik Sola Scriptura

Ketika Realitas Direduksi Menjadi Instruksi

Masalah sakramen dalam Protestanisme bukan pertama-tama masalah sejarah, apalagi liturgi. Itu hanya gejala. Akar persoalannya jauh lebih dalam: krisis metafisika.
Lebih tepat: ketidakmampuan untuk berpikir secara sakramental tentang realitas.

Tradisi Reformed berbicara seolah-olah sakramen hanyalah “perintah yang harus ditaati”. Bahasa yang dipakai adalah bahasa hukum dan instruksi: Yesus memerintahkan, maka kita lakukan. Titik.
Tetapi di sini, realitas direduksi menjadi perintah, dan rahmat direduksi menjadi pengingat psikologis.

Dalam metafisika klasik—yang dihidupi Gereja sejak para Bapa hingga Thomas Aquinas—sakramen bukan sekadar “tindakan simbolik”, melainkan modus kehadiran rahmat dalam tatanan keberadaan. Sakramen adalah tanda yang menyebabkan apa yang ditandainya (signum efficax). Artinya: rahmat bukan sekadar dikenang, tetapi diaktualkan dalam realitas materi.

Di sinilah benturan terjadi.
1. Nominalisme: Akar Tak Terucap dari Dua Sakramen

Protestan jarang menyebutnya, tetapi teologi sakramen mereka berdiri di atas tanah nominalisme: pandangan bahwa makna tidak melekat secara objektif dalam realitas, melainkan diberikan oleh kehendak atau penetapan eksternal.

Jika tanda tidak memiliki daya ontologis, maka:


air baptisan tidak sungguh-sungguh membersihkan,
roti dan anggur tidak sungguh-sungguh menghadirkan,
penumpangan tangan tidak sungguh-sungguh mengubah status ontologis seseorang.

Yang tersisa hanyalah ketaatan formal dan keyakinan subjektif.

Dalam kerangka ini, sakramen hanya mungkin dua, karena hanya dua yang secara eksplisit diperintahkan Yesus. Bukan karena realitas membatasinya, tetapi karena teologi tidak sanggup melihat rahmat bekerja di luar instruksi verbal langsung.

Ini bukan kesetiaan pada Alkitab. Ini ketakutan metafisik terhadap materi.

2. Sakramentalitas Realitas: Dunia Tidak Netral

Gereja Katolik—bersama tradisi patristik dan skolastik—memulai dari asumsi metafisik yang berlawanan:
realitas diciptakan sebagai partisipasi dalam kebaikan Allah.

Materi bukan penghalang rahmat, melainkan medium rahmat.
Tubuh bukan beban, melainkan tempat keselamatan bekerja.
Tindakan lahiriah bukan aksesori, melainkan ekspresi kausal dari rahmat ilahi.

Dari sini, sakramen bukan “daftar perintah”, tetapi struktur ontologis Gereja sebagai Tubuh Kristus.

Maka tidak mengherankan jika:

perkawinan dipahami sebagai sakramen: karena cinta manusiawi sungguh mengambil bagian dalam misteri Kristus–Gereja;
tahbisan dipahami sebagai sakramen: karena otoritas gerejawi bukan delegasi administratif, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus;

pengakuan dosa dipahami sebagai sakramen: karena rekonsiliasi bukan sekadar perubahan status hukum, tetapi pemulihan relasi ontologis dengan Tubuh Kristus.

Protestan menolak ini bukan karena ayatnya kurang, tetapi karena kerangka metafisiknya tidak mampu menampungnya.

3. Perintah vs Partisipasi: Kesalahan Kategori

Ketika Protestan berkata, “Yesus hanya memerintahkan dua,” mereka tanpa sadar melakukan kesalahan kategori metafisik.

Kristus tidak datang terutama sebagai legislator yang membagikan daftar ritual. Ia datang sebagai Logos yang menjadi daging, yang mengubah cara realitas bekerja.
Inkarnasi bukan pengumuman hukum, melainkan peristiwa ontologis.

Dalam terang Inkarnasi:

penumpangan tangan bukan sekadar simbol, tetapi transmisi misi;

pengurapan bukan sekadar doa, tetapi tindakan penyembuhan ontologis;

cuci kaki bukan sekadar teladan moral, tetapi tanda partisipasi dalam persekutuan Kristus.

Membatasi sakramen pada “yang diperintahkan secara eksplisit” berarti memperlakukan Kristus seperti Musa baru yang hanya memberi hukum, bukan sebagai Tuhan yang mengonfigurasi realitas.

4. Gereja sebagai Tubuh atau Sekadar Perkumpulan?

Di balik penolakan terhadap tujuh sakramen, ada pertanyaan metafisik yang lebih tajam:
apa itu Gereja?

Jika Gereja hanyalah perkumpulan orang percaya, maka:

rahmat bersifat individual,

otoritas bersifat fungsional,

sakramen hanyalah simbol kesepakatan.

Tetapi jika Gereja adalah Tubuh Kristus yang sungguh-sungguh, maka:

rahmat mengalir melalui struktur tubuh,

tindakan Gereja memiliki daya ontologis,

sakramen adalah “organ-organ” kehidupan ilahi.

Protestan ingin mempertahankan bahasa Tubuh Kristus, tetapi menolak implikasi ontologisnya. Ini seperti menyebut tubuh hidup, tetapi menolak aliran darah.

5. Mengapa Sola Scriptura Gagal Menjawab Pertanyaan Sakramen

Masalah sakramen tidak bisa diselesaikan hanya dengan kutip-mengutip ayat, karena sakramen adalah soal bagaimana rahmat hadir dalam realitas, bukan sekadar apa yang tertulis.

Sola Scriptura gagal di sini karena:

ia menolak Tradisi sebagai locus realitas,

ia memisahkan teks dari komunitas ontologis Gereja,

ia mengganti metafisika partisipasi dengan epistemologi kepastian pribadi.

Akibatnya, sakramen menyusut, Gereja menipis, dan rahmat menguap menjadi keyakinan batin.
Penutup: Angin Timor dan Realitas yang Tidak Bisa Disederhanakan

Di tanah Timor, orang tahu: batu, air, minyak, sentuhan tangan—semuanya membawa makna yang lebih dari sekadar fungsi. Dunia tidak bisu. Ia berbicara.

Teologi Katolik tidak “menambah” sakramen. Ia menolak mereduksi realitas.
Ia bersikeras bahwa Allah bekerja bukan hanya lewat kata, tetapi lewat keberadaan.

Sola Scriptura, ketika dilepaskan dari metafisika inkarnasional, berakhir pada iman yang tipis: benar secara slogan, rapuh secara ontologis.

Dan di hadapan realitas—seperti di hadapan angin Timor—
yang tipis selalu tersingkir.

Kamis, 11 Desember 2025

Ketika Misteri Dipreteli Menjadi Molekul: Nominalisme dan Runtuhnya Mariologi

Mariologi tidak pernah runtuh tiba-tiba. Ia tidak roboh karena satu ayat, satu konsili, atau satu doktrin. Ia runtuh perlahan, seperti gereja tua yang gentengnya mulai rontok satu per satu setelah fondasi filosofisnya digergaji.

Dan gergaji itu bernama nominalisme.

Banyak orang Protestan modern mengira mariologi runtuh karena “tidak alkitabiah.” Kenyataannya jauh lebih dalam—dan lebih tua. Sejak nominalisme menguasai cara berpikir Barat, seluruh lanskap teologi berubah: misteri tidak lagi dibaca sebagai kenyataan, tetapi sebagai metafora; simbol tidak lagi dipahami sebagai realitas, tetapi sebagai dekorasi; Maria tidak lagi dilihat sebagai Tabut Perjanjian Baru, tetapi hanya sebagai perempuan Yahudi biasa yang kebetulan dipakai Tuhan.

Ini bukan soal ayat.
Ini soal cara memandang dunia.


1. Apa yang dimatikan nominalisme?

Nominalisme menolak universal.
Tidak ada “kekudusan” yang melekat pada realitas.
Tidak ada makna objektif di balik simbol.
Tidak ada bentuk (form) yang mengatur ciptaan.
Yang ada hanyalah nama, kategori, dan benda.

Bagi tradisi Kristiani awal—dan seluruh Gereja sampai abad ke-14—realitas tidak datar.

• Tubuh bukan hanya materi; ada forma.
• Rahim bukan hanya organ; ada makna simbolik.
• Tabut, Pintu Tertutup, Taman Termeterai—semuanya menunjuk ke sesuatu yang benar-benar ada.

Nominalisme memotong seluruh dimensi itu.
Dunia spiritual menjadi bidang kata, bukan bidang realitas.

Dan ketika Anda menembak metafisika, mariologi adalah korban pertama yang jatuh.


2. Mengapa Maria tak mungkin bertahan dalam dunia nominalis?

Karena mariologi berdiri di atas tiga tiang:

  1. Makna simbolik tubuh.
    Maria = Tabut Perjanjian Baru; rahimnya = ruang kudus; tubuhnya = ikon Gereja.

  2. Kesatuan bentuk dan rahmat.
    Dalam teologi patristik, rahmat sungguh mengubah realitas, bukan hanya mendeklarasikannya.

  3. Kosmologi Kristologis.
    Inkarnasi adalah peristiwa kosmik, bukan sekadar peristiwa biologis.

Semua ini hancur ketika:

• tubuh direduksi menjadi fisiologi,
• rahmat direduksi menjadi “status hukum”,
• simbol direduksi menjadi kiasan.

Maria tidak bisa bertahan di dunia yang menolak simbol dan bentuk. Ia kehilangan seluruh medan teologis tempat ia hidup sebagai pribadi teologis, bukan hanya tokoh historis.


3. Mariologi hilang bukan karena Protestan menolak Maria—tetapi karena mereka mewarisi Ockham

Ini bagian yang sering tidak diakui.

Para Reformator awal masih menerima mariologi dasar:
• theotokos,
• keperawanan tetap,
• Maria sebagai model Gereja.

Tetapi universitas tempat mereka belajar—Erfurt, Wittenberg, Paris—sudah dibanjiri nominalisme.

Apa efeknya?

3.1. Sakramentalitas melemah

Jika simbol tidak memiliki realitas, maka rahim Maria tidak lagi tabernakel.
Ekaristi pun perlahan diperlakukan simbolis.
Setiap tindakan ilahi dilihat bukan sebagai transformasi, tetapi deklarasi.

3.2. Tipologi mati

Dalam dunia patristik, Yehezkiel 44:2 bukan syair indah, tetapi struktur teologis:

“Pintu itu tetap tertutup… hanya Tuhan yang masuk, dan tetap tertutup bagi yang lain.”

Nominalisme mengubahnya menjadi metafora yang tidak punya konsekuensi ontologis.

3.3. Rahmat kehilangan dimensi ontologis

Dalam teologi kuno, rahmat mengubah (transformatif).
Dalam nominalisme, rahmat cukup dideklarasikan (forensik).

Jika rahmat tidak mengubah realitas, Maria tidak lagi dipahami sebagai realitas yang diubah oleh Allah menjadi ruang kesucian. Ia hanya dipilih, bukan ditransformasi.


4. Keruntuhan bertahap: dari virginitas sampai peran Maria dalam Gereja

Mariologi runtuh tidak sekaligus. Ada tahapannya.

Tahap 1: runtuhnya simbol rahim

Tanpa metafisika, konsep “perawan melahirkan tanpa rusak” jadi omong kosong biologis.
Padahal Gereja awal tidak memahaminya secara medis, tapi secara teologis:
Inkarnasi tidak mencemari; Ia menyucikan.

Tahap 2: runtuhnya keperawanan tetap

Bukan karena ayat, tapi karena dunia nominalis tidak mengenal konsep “tubuh sebagai tanda.”
Jika tubuh hanyalah materi, maka keperawanan hanyalah selaput dara.
Padahal bagi patristik, itu ikon identitas Maria sebagai ruang kudus Allah.

Tahap 3: runtuhnya gelar Maria

Theotokos masih diterima karena itu menyangkut Yesus.
Tetapi Maria sebagai Ratu Surga, Tabut Perjanjian Baru, Bunda Gereja—semua hilang karena:

• tidak ada realitas ontologis dalam simbol,
• gelar-gelar itu dianggap puisi, bukan metafisika.

Tahap 4: runtuhnya devosi

Kalau Maria bukan realitas teologis, mengapa mendoakannya?
Ia beralih dari “ikon Gereja” menjadi “tokoh sejarah”.


5. Mengapa Gereja Katolik tetap mempertahankan Mariologi?

Karena Katolik mempertahankan metafisika, bukan sekadar tradisi.

Apa bedanya?

Dalam metafisika realis:

• simbol memiliki realitas,
• rahmat mengubah,
• tubuh memuat makna,
• sejarah disinari pola Logos.

Maria bertahan karena ia bukan dekorasi.
Ia bagian dari struktur Kristologi.

Tanpa Maria:

• Inkarnasi kehilangan ruang kosmiknya,
• Gereja kehilangan ikonnya,
• tubuh kehilangan teologinya,
• sakramentalitas kehilangan fondasinya.

Nominalisme tak mampu mempertahankan satu pun dari ini.


6. Kesimpulan: untuk menyelamatkan Maria, kita harus menyelamatkan metafisika

Keruntuhan mariologi bukan masalah devosi.
Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: runtuhnya pandangan dunia sakramental.

Selama teologi berpikir seperti dunia Ockham—
bahwa realitas hanya potongan benda, bukan jaringan makna—
Maria tak pernah mendapat tempat.

Sebab Maria bukan teori. Ia ikon.
Ia hidup dalam dunia di mana simbol lebih dalam dari kata,
dan makna lebih nyata dari nama.

Ketika metafisika dipulihkan, Maria kembali muncul—
bukan sebagai saingan Kristus,
tetapi sebagai ruang tempat Ia masuk ke dunia.

Bagi Gereja kuno, misteri ini bukan fiksi.
Ini struktur kosmos.
Dan selama kosmos masih ditempati oleh Logos,
Maria tidak mungkin hilang.